PERTARUNGAN PRIMORDIALISME MARGA PADA PEMILIHAN KEPALA DESA
(Studi Etnografi Mengenai Pemilihan kepala Desa di Desa Garoga Sibargot, Kecamatan Garoga, Kabupaten Tapanuli Utara)
SKRIPSI
Diajukan Guna Memenuhi Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Sosial dalam Bidang Antropologi Sosial
Oleh:
BISUK MARROHA PASARIBU 130905064
DEPARTEMEN ANTROPOLOGI SOSIAL FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2018
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
HALAMAN PERSETUJUAN Skripsi ini disetujui untuk dipertahankan oleh :
Nama : Bisuk Marroha Pasaribu NIM : 130905064
Departemen : Antropologi Sosial
Judul : Pertarungan Primordialisme Marga Pada Pemilihan Kepala Desa ( Studi Etnografi Mengenai Pemilihan Kepala Desa di Desa
Garoga Sibargot Kecamatan Garoga Kabupaten tapanuli Utara ) Medan, Maret 2018
Pembimbing Skripsi Ketua Departemen
Dra. Rytha Tambunan M.Si Dr. Fikarwin Zuska
NIP. 196308291990032001 NIP. 196212201989031005
Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara
Dr. Muryanto Amin, S.Sos, M.Si NIP. 19740930200501100
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
PERNYATAAN ORIGINALITAS
PERTARUNGAN PRIMORDIALISME PADA PEMILIHAN KEPALA DESA (Studi Etnografi Mengenai Pemilihan Kepala Desa di Desa Garoga Sibargot,
Kecamatan Garoga, Kabupaten Tapanuli Utara)
SKRIPSI
Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan disuatu perguruan tinggi dan sepanjang sepengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebut dalam daftar pustaka.
Apabila dikemudian hari terbukti lain atau tidak seperti yang saya nyatakan ini, saya bersedia diproses secara hukum dan siap menanggalkan gelar kesarjanaan saya.
Medan, Maret 2018 Penulis,
Bisuk Marroha Pasaribu
ABSTRAK
BISUK MARROHA PASARIBU(130905064)2018.Pertarungan Primordialisme Marga Pada Pemilihan Kepala Desa(Studi Etnografi mengenai Pemilihan Kepala Desa di Desa Garoga Sibargot). Skripsi ini terdiri dari 5 Bab, 80 Halaman, 8 Tabel, dan 5 Gambar
Primordialisme adalah sebuah pandangan atau paham yang memegang teguh hal hal yang dibawa sejak kecil, baik mengenai tradisi, adat istiadat, kepercayaan maupun segala sesuatu yang ada didalam lingkungan pertamanya. Primordialisme merupakan salah satu faktor yang sering menjadi alat dalam pertarungan politik di berbagai wilayah di Indonesia. Begitu juga halnya di daerah Garoga Sibargot,
primordialisme marga menjadi hal yang tidak pernah terlepas dalam setiap pemilihan kepala desa. Sejarah pemerintahan kepala desa Garoga Sibargot menunjukkan
besarnya pengaruh marga lokal dalam pemenangan calon kepala desa. Begitu juga apabila dilihat dari segi aparat desa yang ada, marga lokal selalu mendudukinya.
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui berapa besar pengaruh marga dalam pemilihan kepala desa Garoga Sibargot dan bangaimana proses pertarungan primoerdialisme itu terjadi.
Penelitian ini menggunakan metode etnografi dengan pendekatan kualitatif.
Adapun teknik yang digunakan dalam pengumpulan data yaitu dengan melakukan pengamatan, wawancara dan data dokumen dari berbagai instansi. Pengamatan ini mengungkap bentuk interaksi antar masyarakat yaitu interaksi antar marga Pasaribu dengan marga pendatang ke desa itu. Wawancara dilakukan untuk mengetahui bagaimana perspektif masyarakat terhadap pengaruh pertarungan primordialisme marga pada pemilihan kepala desa dalm kehidupan sehari-hari masyarakat Garoga Sibargot. Kemudian data dokumen yang diperoleh dari instansi merupakan data pendukung mengenai kependudukan desa Garoga Sibargot.
Hasil penelitian ini menggambarkan tentang pertarungan marga dalam pemilihan kepala desa dan akibat pertarungan tersebut dalam kehidupan masyarakat desa Garoga Sibargot. Jabatan kepala desa yang didominasi oleh marga Pasaribu sudah menjadi warisan turun-temurun. Aspek-aspek kehidupan yang mencerminkan primordialisme marga yakni kelompok marga Pasaribu sebagai kelompok marga paling banyak, jabatan-jabatan dalam aparat desa didominasi oleh Marga Pasaribu dan marga lain yang merupakan keluarga dari marga Pasaribu. Faktor yang
menyebabkan warisan itu masih terjaga adalah nilai kekerabatan yang kuat diantara marga Pasaribu
Kata-kata Kunci : Primordialisme, Marga, Warisan, Kekerabatan.
UCAPAN TERIMA KASIH
Puji dan syukur saya sampaikan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat dan karunia-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan penelitian penulisan skripsi saya yang berjudul “PERTARUNGAN PRIMORDIALISME MARGA PADA PEMILIHAN KEPALA DESA (Studi Etnografi Mengenai Pemilihan Kepala Desa di Desa Garoga Sibargot, Kecamatan Garoga, Kabupaten Tapanuli Utara)”. Penelitian ini dilakukan sebagai salah satu syarat dalam pencapaian gelar kesarjanaan
Antropologi Sosial pada Departemen Antropologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara. Pada kesempatan ini, saya ingin menyampaikan rasa terima kasih kepada keluarga saya yang senantiasa membesarkan, mendidik dan menjadi sumber materil maupun segi moril, serta tetap memotivasi saya selama berada dibangku sekolah hingga perkuliahan. Kepada orangtua saya yaitu: Bapak Pangihutan Pasaribu dan Ibu Masnurida Tambunan serta saudara/i saya : Rusmita Pasaribu, Novensi Pasaribu, Dikky Pasaribu, Santiara Pasaribu, dan Bintang Pasaribu.
Saya juga menyampaikan rasa terima kasih kepada Ibu Dra.Rytha Tambunan M.Si selaku Dosen Pembimbing atas waktu dan ketulusannya dalam membimbing saya mulai dari pengajuan judul, penyusunan proposal hingga skripsi ini berhasil diselesaikan. Semoga Tuhan memberikan umur yang panjang, kesehatan, dan rezeki kepada Ibu agar tetap mampu memberikan pendidikan dan pengajaran bagi
mahasiswa/i.
Ucapan terima kasih juga saya sampaikan kepada Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik beserta jajarannya, Kepada Ketua Departemen Antropologi Bapak Dr. Fikarwin Zuska dan Bapak Agustrisno, M.SP selaku Sekretaris Departemen
Antropologi yang selalu memberikan dukungan dan motivasi selama perkuliahan dan juga dalam penulisan skripsi ini. Secara umum saya juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh dosen yang pernah mengajar, dan memotivasi dalam studi
perkuliahan.
Kepada informan-informan saya saat berada di lapangan penelitian yakni abangda Pintor Uli Pasaribu selaku kepala desa, abangda Josua Pasaribu selaku sekretaris desa, abangda Monang Pasaribu selaku ketua adat marga Pasaribu, Ibu Romasta Simatupang selaku informan dari marga Tambunan, dan banyak lagi masyarakat Garoga Sibargot, saya mengucapkan banyak terima kasih karena atas kejasamanya penelitian lapangan saya dapat berjalan lancar. Karena tanpa dukungan mereka data skripsi yang saya perlukan tidak akan dapat secara maksimal.
Pada kesempatan ini, saya juga mengucapkan terima kasih kepada teman-teman mahasiswa/i Antropologi FISIP USU angkatan 2013, atas pengalaman, cerita yang tak pernah terlupakan selama masa perkuliahan, terkhusus kepada Alberto Tamba, Firman Sitohang, Saut Damanik, Danri Saragih, Humindo Simanjuntak, Daniel Batubara, Bukhari Reindra Dinata, Sandi Sinaga, Fadlun Nisa Chan, Erika Sitompul, Yesika Tamba, Devi Damanik, Kartince Sinaga, Dewantara Bangun, Ucok Pargaulan Lubis, Dedek Setiawan dankerabat-kerabat lain yang tidakbisasayasebutkansatu per satu. Semoga kesuksesan berpihak kepada kita dikemudian hari.
Begitu juga kepada Abang/Kakak senior antara lain: Erikson Silaban,Jupentus Pardosi, Bill Tancer Situmorang,Dapot Silalahi, saya sampaikan terima kasih untuk bantuan dan juga motivasinya. Begitu juga kepada Adek Stambuk yang senantiasa
mengingatkan dan mensupport saya dalam penyelesaian skripsi ini, saya sampaikan terima kasih juga.
Saya juga sangat berterima kasih kepada kawan spesial saya Mea Agratia Tampubolon yang telah banyak memberikan bantuan berupa tenaga maupun materil serta dukungan dan motivasi kepada saya. Saya juga tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada kawan-kawan saya, Sangkot Panjaitan, Dertus Siregar, Junedi Silalahi, Oky Anggara Silalahi, Daniel Sinaga, Juara Sinaga, Joko Sitanggang, Suang Lumban Tobing, Andi Santoni Pasaribu, Asnita Simanullang, Mia Simanullang. Atas
dorongan dan motivasi kalian saya ucapkan terima kasih dan semoga nanti kita dapat meraih kesuksesan. Terima kasih juga buat teman-teman yang lain, dan semua pihak yang telah memberikan bantuannya selama penyelesaian skripsi ini.
Medan, Maret 2018 Penulis
Bisuk Marroha Pasaribu
RIWAYAT SINGKAT PENULIS
Bisuk Marroha Pasaribu lahir pada tanggal 10 desember 1993 di desa Garoga Sibargot.
Menyelesaikan pendidikan dasar di SD Negeri 173215 Garoga Sibargot pada tahun 2007, Sekolah Menengah Pertama di SMP Negeri 1 Garoga pada tahun 2010 dan menyelesaikan Sekolah Menengah Atas di SMA Swasta SISINGAMANGARAJA XII Garoga pada tahun 2013. Kemudian
melanjutkan pendidikan pada tahun 2013 ke jenjang Perguruan Tinggi Negeri Universitas Sumatera Utara melalui jalur masuk SBMPTN(Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri) dengan program studi
Antropologi Sosial.
Email penulis : [email protected]
Berbagai kegiatan yang dilaksanakan selama masa studi, antara lain:
Mengikuti kegiatan Penyambutan Mahasiswa Baru pada Agustus 2013 di FISIP (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik).
Mengikuti kegiatan Inisiasi Antropologi Sosial pada November 2013 di Parapat Danau Toba.
Melakukan kegiatan riset penelitian pasar tradisional, mata kuliah MPA I
(Metode Penelitian Antropologi I) pada September 2014 di Pasar Tradisional Sukaramai, Medan.
Anggota aksi Dana pada Penyambutan Mahasiswa Baru (PMB) Antropologi FISIP USU pada tahun 2016.
Melakukan Pelatihan „’Training of Facilitator‟‟ (TOF) angkatan VII oleh Departemen Antropologi Sosial Universitas Sumatera Utara di Taman Wisata Armaya Berastagi pada tanggal 9-10 Januari 2016.
Mengikuti PKL-TBM (Praktek Kerja Lapangan-Tinggal Bersama Masyarakat) di Kelurahan Tanjung Mulia Kecamatan Medan Deli Kota Medan pada bulan September-Oktober 2016.
KATA PENGANTAR
Puji dan Syukur penulis sampaikan kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul “PERTARUNGAN PRIMORDIALISME MARGA PADA
PEMILIHAN KEPALA DESA (Studi Etnografi Mengenai Pemilihan Kepala Desa di Desa Garoga Sibargot) dengan baik. Penulisan skripsi ini merupakan salah satu syarat memperoleh gelar sarjana sosial (S.1) dalam bidang Antropologi Sosial Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
Skripsi ini berisikan kajian primordialisme marga sebagai hal yang utama dalam pertarungan pemilihan kepala desa di dea Garoga Sibargot. Pertarungan ini baru terjadi pada pemilihan kepala desa pada tahun 2015, dimana sebelumnya pertar ungan marga belum pernah ada dikarenakan calon kepala desa Garoga Sibargot berasal dari marga yang sama. Desa ini didominasi oleh marga Pasaribu sehingga loyalitas mereka lebih tinggi dibandingkan dengan marga-marga lain. Bahasa pengantar yang digunakan adalah bahasa batak Toba.
Dengan tulisan ini penulis menyimpulkan bahwa primordialisme marga tidak terlepas dari kehidupan sehari-hari masyarakat Garoga Sibargot. Menjunjung tinggi nilai persaudaraan diantara marga Pasaribu membuat mereka tidak terpecah belah oleh masyarakat pendatang kesana, walaupun ada sebagian itu merupakan hanya mencari kepentingan semata saja. Disatu sisi eratnya rasa persaudaraan diantara mereka mendorong solidnya hubungan dalam kehidupan sehari-hari, namun disisi lain primordialisme ini sangat merugikan bagi masyarakat pendatang yang ada disana
karena selain bebas untuk mengeluarkan aspirasi mereka, pembangunan disana pun akan terhambat karena calon dari marga Pasaribu belum tentu memiliki kreativitas dibanding marga-marga yang datang ke daerah itu. Akibat primordialisme ini membuat masyarakat marga lain yang ada disana termarjjinalkan oleh marga Pasaribu.
Dalam penulisan skripsi ini, penulis menyadari bahwa masih banyak
kekurangan. Oleh karena itu dengan tangan terbuka penulis akan menerima kritik dan masukan yang bermanfaat dalam penyempurnaan tulisan ini. Semoga tulisan ini dapat berguna bagi penulis secara khusus dan juga bagi para pembaca secara umum.
Atas dukungan dan motivasi dari seluruh pihak terkait dalam penulisan dan penyelesaian skripsi ini saya ucapkan terima kasih.
Medan, Maret 2018
Penulis,
Bisuk Marroha Pasaribu
DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN ...
LEMBAR PERSETUJUAN ...
PERNYATAAN ORIGINALITAS ... i
ABSTRAK ... ii
UCAPAN TERIMA KASIH ... iii
RIWAYAT HIDUP ... vi
KATA PENGANTAR ... viii
DAFTAR ISI ... x
DAFTAR GAMBAR DAN TABEL ... xiii
Bab I Pendahuluan 1.1. Latar Belakang Masalah ... 1
1.2. Tinjauan Pustaka ... 5
1.2.1. Pengertian Primordialisme ... 5
1.2.2. Etnik Batak Toba ... 8
1.2.3. Kekerabatan ... 9
1.3. Rumusan Masalah ... 10
1.4. Tujuan Penelitian ... 10
1.5. Manfaat Penelitian ... 11
1.5.1. Manfaat Teoritis ... 11
1.5.2. Manfaat Praktis ... 11
1.6. Metodologi Penelitian ... 11
1.6.1. Lokasi Penelitian ... 11
1.6.2. Metode Penelitian ... 12
1.7. Pengalaman Penelitan ... 14
BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 2.1. Sejarah Desa Garoga Sibargot ... 19
2.2. Letak dan Keadaan Garoga Sibargot ... 20
2.3. Asal Muasal Marga Pasaribu di Desa Garoga Sibargot... 22
2.4. Sejarah Pemerintahan Desa Garoga Sibargot ... 24
2.5. Persebaran Marga Pasaribu di Desa Garoga Sibargot ... 25
2.6. Daftar Kontestan Pilkades Tahun 2005 dan 2010 ... 27
2.7. Penduduk dan Beberapa Aspeknya ... 28
2.7.1. Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin ... 28
2.7.2. Jumlah Penduduk Menurut Agama ... 29
2.7.3. Persebaran Marga Pasaribu dan Marga Tambunan ... 30
2.8. Kehidupan Ekonomi Garoga Sibargot ... 31
2.9. Organisasi Sosial Desa Garoga Sibargot ... 31
2.9.1. Organisasi Semarga ... 31
2.9.2. Serikat Tolong Menolong ... 32
2.9.3. Organisasi Kepemudaan ... 34
2.10. Potensi Wilayah Desa Garoga Sibargot ... 34
2.11. Sarana dan Prasarana Desa Garoga Sibargot ... 35
2.11.1. Sarana Kesehatan ... 35
2.11.2. Sarana Air Bersih ... 36
2.11.3. Sarana Pendidikan ... 36
2.11.4. Sarana Ibadah... 38
2.11.5. Sarana Transportasi ... 38
BAB III PROSES PEMILIHAN KEPALA DESA DAN PERTARUNGAN PRIMORDIALISME MARGA DI DESA GAROGA SIBARGOT 3.1. Proses Formal Pencalonan Kepala Desa Garoga Sibargot ... 40
3.1.1. Memenuhi Kriteria Calon Kepala Desa Secara Umum ... 40
3.1.2. Melengkapi Berkas Dan Mendaftar Ke KPU ... 41
3.1.3. Melaksanakan Kampanye ... 41
3.2. Tahapan Pencalonan Pada Marga Pasaribu dan Marga Tambunan ... 42
3.2.1. Tahapan Pada Marga Pasaribu... 42
3.2.2. Tahapan Pada Marga Tambunan ... 43
3.3. Bentuk-Bentuk Pelaksanaan Kampanye Yang Dilakukan Calon Kepala Desa Garoga Sibargot ... 44
3.3.1. Kampanye dari Rumah ke Rumah ... 44
3.3.2. Kampanye di Warung Kopi ... 45
3.4. Lembaga Yang Berpengaruh Dalam Pemilihan KepalaDesa ... 46
3.4.1. Organisasi Semarga/Punguan Marga ... 46
3.4.2. Serikat Tolong Menolong ... 48
3.4.3. Kelompok Pemuda ... 49
3.5. Jaringan Kekerabatan Calon-Calon Kepala Desa Tahun 2015-2019 ... 49
3.6. Bentuk Pertarungan Primodialisme Marga dalam Pemilihan Kepala Desa Garoga Sibargot ... 50
3.6.1. Mendatangani Kerabat Semarga dan Kerabat Dekat ... 50
3.6.2. Marga Tambunan Membuat Acara Makan Bersama Dirumah Calon Kepala Desanya ... 52
3.6.3. Marga Pasaribu Mengadakan Acara Pemberangkatan Bagi Calonnya 53 3.7. Perbandingan Suara dalam Pemilihan Kepala Desa Garoga Sibargot tahun 2015 ... 54
BAB IV PENGARUH PERTARUNGAN PRIMORDIALISME MARGA TERHADAP KEHIDUPAN MASYARAKAT DESA GAROGA SIBARGOT 4.1. Orang-Orang yang Menjabat di Pemerintah Desa Garoga Sibargot ... 55
4.2. Tingkat Perekonomian Masyarakat Desa Garoga Sibargot ... 57
4.3. Interaksi Sosial Masyarakat Desa Garoga Sibargot... 60
4.4. Interaksi Budaya Masyarakat Desa Garoga Sibargot ... 62
4.5. Kepemilikan Tanah Desa Garoga Sibargot ... 65
4.6. Konflik Marga Pasaribu dengan Marga Tambunan... 68
BAB V PENUTUP 5.1. Kesimpulan ... 69
5.2. Kritik ... 74
5.3. Saran ... 76
GLOSARIUM ... 77
DAFTAR INFORMAN ... 78
DAFTAR PUSTAKA ... 79
DARTAR GAMBAR DAN TABEL
DARTAR GAMBAR
Gambar 1 : Peta Wilayah Tapanuli Utara ... 12
Gambar 2 : Bapak Manuppak Pasaribu... 47
Gambar 3 : Bapak Pintoruli Pasaribu ... 56
Gambar 4 : Bapak Sahat Sinurat ... 59
Gambar 5 : Ibu Romasta Simatupang ... 63
DAFTAR TABEL Tabel 1 : Daftar Nama-Nama Kepala Desa Garoga Sibargot ... 24
Tabel 2 : Daftar Kontestan Pilkades Tahun 2005 dan 2010 ... 27
Tabel 3 : Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin ... 29
Tabel 4 : Jumlah Penduduk Berdasarkan Agama ... 29
Tabel 5 : Perbandingan Jumlah Marga Pasaribu dan Marga Tambunan ... 30
Tabel 6 : Sarana Pendidikan di Desa Garoga Sibargot ... 38
Tabel 7 : Perbandingan Suara Kepala Desa GAroga Sibargot... 54
Tabel 8 : Struktur Pemerintahan Desa Garoga Sibargot Periode 2015-2019 ... 56
BAB I PENDAHULUAN
1.7. Latar Belakang Masalah
Dalam kehidupan bermasyarakat, politik primordialisme tidak jarang menjadi sebuah ranah pertarungan dalam pencapaian kekuasaan.
Potensi pertarungan politik primordialisme biasanya terjadi karena fenomena etnisitas, kedaerahan, kesultanan dan adat dalam panggung politik (Haboddin, 2015:2). Pertarungan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat yang berbasis primordialisme menimbulkan munculnya perpecahan sehingga mengakibatkan kehidupan masyarakat akan cenderung individualis ataupun hanya memikirkan kepentingan kelompok sendiri.
Masyarakat Batak Toba adalah masyarakat yang berbudaya dan memiliki hubungan kekerabatan yang sangat kuat. Kekuatan hubungan kekerabatan tersebut dilatarbelakangi oleh identitas marga. Marga yang dimiliki seseorang merupakan warisan ataupun didasarkan pada hubungan patrilineal yang terdapat dalam sistem keturunan masyarakat Batak Toba.
Hubungan kekerabatan dibentuk oleh identitas marga yang juga dibarengi dengan silsilah atau urutan nomor dalam satu kelompok marga. Hubungan kekerabatan yang dimiliki oleh seseorang atau sekelompok orang banyak dimanfaatkan di pedesaan dalam pertarungan untuk mencapai jabatan kepala desa.
Setiap desa pasti mempunyai perangkat desa seperti pemimpin desa atau sering juga disebut kepala desa. Untuk menjabat sebagai kepala desa pastinya harus dengan diadakannya pemilihan kepala desa. Dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum (Pemilu) ditegaskan bahwa pemilu dilaksanakan berdasarkan asas langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil.
Penduduk Desa Garoga Sibargot lebih banyak dari marga Pasaribu, oleh karena itu marga Pasaribu selalu menjadi pemenang suara pada pemilihan kepala desa. Berdasarkan pengamatan terhadap jabatan kepala desa Garoga pada periode-periode sebelumnya menyatakan bahwa marga Pasaribu selalu menduduki posisi tersebut. Berdasarkan pemilihan kepala desa pada tahun-tahun sebelumnya juga bahwa kandidat yang menjadi calon kepala desa berasal dari marga Pasaribu saja karena sudah menjadi kesepakatan dari para leluhur sebelumnya.
Seiring berjalannya waktu, marga menjadi sesuatu yang sangat penting dan hal itu menjadi kekuatan yang ampuh dalam pemilihan khususnya pemilihan kepala desa. Sikap sebagian masyarakat Indonesia yang masih primordial dan cenderung ke daerahan tentu akan memberikan pengaruh dalam pemilihan kepala desa. Seperti dua sisi mata koin yang tidak dapat dipisahkan itulah politik dan adat budaya dimana kedua aspek tersebut berkaitan sehingga terjadi proses mutualisme yang menimbulkan fenomena saling menguntungkan antara kedua belah pihak bila terjadi proses interaksi.
Pemilihan kepala desa tersebut menimbulkan adanya pertarungan marga. Identitas marga menjadi aspek kepentingan politis dalam pemilihan kepala desa tersebut. Sebagai salah satu marga Batak Toba dengan jumlah terbanyak di Desa Garoga Sibargot, Punguan (perkumpulan) marga Pasaribu yang berada disana dapat dipastikan memiliki posisi strategis dalam setiap pemilihan kepala desa. Namun, dilain sisi marga tersebut memiliki kekhawatiran terjadinya pergeseran kekuasaan khususnya dalam pemerintahan desa.
Latar belakang sejarah desa yang tidak lepas dari perjuangan marga Pasaribu dalam membentuk wilayah tersebut menjadi sebuah desa.
Hal inilah yang menjadi tantangan besar bagi marga-marga lain untuk menjadi kepala desa. Latar belakang sejarah pembentukan desa sepertinya menjadikan sistem pemerintahan desa di Garoga Sibargot layaknya pemerintahan keraton atau dinasti dimana jabatan pemerintahan desa tersebut sifatnya bergulir, artinya mereka menghendaki jabatan kepala desa harus selalu diisi oleh orang yang bermarga Pasaribu.
Hubungan kekerabatan diantara seluruh marga Pasaribu di Desa Garoga Sibargot yang didasarkan pada identitas marga dan hubungan darah membuat adanya sistem kesatuan yang padu. Kekuasan dan kepentingan kelompok marga tersebut menjadi sesuatu hal yang utama.
Mereka menjadi berkuasa atas wilayah daerah dan pemerintahan desa tersebut. Orang-orang yang bermarga lain yang tinggal di daerah itu menjadi merasa tersisihkan. Kepentingan dan kebebasan mereka
terkekang oleh hubungan kekerabatan marga Pasaribu yang sangat kuat dan mendominasi daerah itu.
Pada pemilihan kepala desa tahun 2015 lalu, marga Pasaribu bersaing dengan marga pendatang yaitu marga Tambunan. Namun, pada akhirnya calon dari marga Pasaribu yang memenangkan pemilihan kepala tersebut dengan mendapatkan suara terbanyak dan mengalahkan calon dari marga Tambunan. Kemenangan ini terjadi dikarenakan masyarakat Desa Garoga Sibargot lebih banyak yang berasal dari marga Pasaribu. Munculnya kembali fenomena etnis pada peristiwa politik yaitu pemilihan kepala desa disana membuat punguan marga Pasaribu terlibat langsung dalam mengkontruksikan harapan dan keinginannya untuk merebut kekuasaan politik.
Hal tersebut tidak dapat dilepaskan dari arus demokrasi dan desentralisasi yang begitu cepat bergulir di Desa Garoga Sibargot sehingga kehidupan politik ikut diwarnai oleh konfigurasi politik primordialisme marga Pasaribu dalam konstelasi demokrasi. Hal inilah yang menarik untuk diamati, karena setiap kandidat calon kepala desa berasal dari marga yang berbeda. Keinginan marga Tambunan menjadi kepala desa di Garoga Sibargot menjadi sebuah tantangan bagi kesatuan dan kekuatan hubungan marga Pasaribu. Marga Pasaribu pasti merasa tertantang dan takut apabila kekuasaan pemerintah desa dimiliki oleh marga Tambunan.
Pertarungan primordialisme marga dalam pemilihan kepala desa di Garoga Sibargot yang terjadi antara marga Pasaribu dengan marga Tambunan menjadi sebuah hal yang sangat menarik untuk diteliti lebih dalam lagi. Pola hubungan kekuatan marga menjadi objek kajian yang lebih mengarah kepada persfektif antropologinya. Marga yang dimasksudkan menjadi sebuah ranah alat politik dalam pencapaian kepentingan penguasa. Kekuatan hubungan kekerabatan yang didasarkan pada marga dan hubungan darah akan menjadi objek yang sangat perlu diteliti dalam pertarungan pemilihan Kepala Desa Garoga Sibargot.
Jabatan kepala desa yang selalu diisi oleh marga Pasaribu dalam beberapa periode jabatan juga menjadi salah satu latar belakang munculnya keinginan untuk mencari tahu dan meneliti lebih jauh lagi tentang hubungan dan kekuatan kekerabatan diantara marga-marga yang terdapat di Desa Garoga Sibargot.
1.8. Tinjauan pustaka
1.8.1. Pengertian Primordialisme
Primordialisme menurut kamus besar bahasa indonesia adalah sebuah pandangan atau paham yang memegang teguh hal hal yang dibawa sejak kecil, baik mengenai tradisi, adat istiadat, kepercayaan maupun segala sesuatu yang ada didalam lingkungan pertamanya.
Smith (dalam Jhon T. Ishiyama 2013:183) mengidentifikasi berbagai variasi primordialisme yaitu primordialisme esensialis dan
primordialisme kekerabatan. Primordialisme esensialis mengatakan bahwa etnisitas adalah fatka biologi alamiah, dan oleh etnisitas mendahului masyarakat manusia. Dipihak lain primordialis kekerabatan mengemukakan bahwa kelompok etnis adalah perluasan komunitas kekerabatan berdasarkan hubungan darah. Maka seringkali primordialisme esensialis dan primordialisme kekerabatan ini menjadi alat yang utama dalam pertarungan politik atau lebih fokusnya pada pemilihan kepala desa.
Di Desa Garoga Sibargot fakta biologi alamiah atau yang disebut juga sejarah ini berhubungan erat dengan politik yaitu pemilihan kepala desa.
Karena marga Pasaribu merupakan orang yang pertama kali datang ke Desa Garoga Sibargot, makanya desa itu disebut juga desa marga Pasaribu. Desa Garoga Sibargot setiap 5 tahun sekali diadakan pemilihan kepala desa, dan calon kepala desa tersebut merupakan calon yang berasal dari marga Pasaribu saja. Itulah sejarah yang diteruskan marga Pasaribu hingga saat ini, apabila ada calon yang berasal dari marga lain, otomatis marga tersebut tidak akan bisa menang karena primordial marga Pasaribu masih kuat dan desa tersebut masih kental dengan adat leluhurnya.
Haboddin (2015:3) mengatakan bahwa primordialisme diartikan sebagai perasaan yang lahir dari yang dianggap ada dalam kehidupan sosial, sebagian besar hubungan langsung dan hubungan keluarga, tetapi juga meliputi keanggotaan dalam lingkup keagamaan tertentu, bahasa tertentu, dialek tertentu serta kebiasaan-kebiasaan sosial.
1. Jenis-jenis primordialisme:
a. Primordialisme suku
Primordialisme suku ialah seseorang yang terikat dengan sukunya sendiri dari pada suku yang lain. Suku bangsa adalah golongan sosial yang askriptif berdasarkan atas keturunan dan tempat asalnya. Kesukubangsaan bersifat primordial, yang pertama didapat dan menempel pada diri seseorang sejak masa kanak-kanaknya. (Parsudi Suparlan,2003)
b. Primordialisme agama
Primordialisme agama adalah seseorang yang mempercayai atau yang berpegang teguh pada agamanya sendiri dan cenderung fanatik. Misalnya, seseorang hanya mengakui agama nya saja dan tidak menganggap adanya agama lain selain agama tersebut.
c. Primordialisme kedaerahan
Primordislisme ini adalah seseorang yang terikat dengan daerahnya sendiri dibanding dengan daerah lainnya. Sentimen kedaerahan yang bernuansa primordial yang belebihan akan mengancam perpecahan persatuan kesatuan nasional.
2. Primordialisme dapat terjadi karena :
a. Adanya sesuatu yang dianggap istimewa dalam suatu kelompok, seperti agama, budaya dan suku.
b. Adanya sesuatu sikap untuk mempertahankan keutuhan suatu kelompok dari ancaman luar.
c. Adanya nilai yang berkaitan dengan sistem keyakinan, seperti nilai-nilai agama.
3. Dampak Perbedaan Sosial Primordialisme
Primordialisme merupakan faktor penting untuk memperkuat ikatan kelompok kebudayaan yang bersangkutan ketika ada ancaman dari luar kelompok kebudayaan tersebut. Namun, di sisi lain primordialisme dipandang sangat negatif karena mengganggu kelangsungan hidup suatu bangsa. Primordialisme sering dianggap bersifat primitif, regresif, dan merusak. Bahkan, primordialisme akan menghambat modernisasi, proses pembangunan dan merusak integrasi nasional. Akibat kuatnya primordialisme akan dapat memicu potensi konflik antara kebudayaan suku-suku bangsa yang ada.1
Dampak yang terlihat di Desa Garoga Sibargot karena primordial marga tersebut sangat mirip dengan kutipan diatas karena pemimpin di Desa Garoga Sibargot dipilih bukan karena pintar ataupun terampilnya disuatu bidang melainkan karena sejarah yang diteruskan oleh marga Pasaribu, sehingga proses pembangunan sering kali terhambat karena kepala desa di Desa Garoga Sibargot tersebut kurang pandai mengajukan apa saja yang harus dikembangkan atau dibutuhkan oleh masyarakat Desa Garoga Sibargot kepada pemerintah pusat.
1(http://yufifakhiraa98.blogspot.co.id/2017/04/primordialisme.html), diakses pada 12 september 2017
1.8.2. Etnik Batak Toba
Etnik Batak Toba merupakan salah satu etnik yang terdapat di sumatera utara khususnya di daerah Tapanuli. Etnik Batak berdomisili di daerah pegunungan Bukit Barisan dan sekitaran Danau Toba. Sub-Etnik Batak awalnya terdiri atas Batak Toba, Batak Karo, Batak Pakpak, Batak Mandailing, Batak Simalungun, dan Batak Angkola.
Namun beberapa diantara Sub-Etnik Batak ini tidak ingin lagi disebut dengan Orang Batak. Misalnya orang Batak Karo tidak lagi mengaku sebagai orang Batak. Mereka lebih senang dikategorikan sebagai orang Karo. Begitu juga dengan yang lainnya seperti Batak Pakpak yang lebih senang disebut orang Pakpak.
Etnik Batak yang berdomisili di bagian selatan lebih dominan beragama muslim. Hal ini disebabkan oleh adanya pengaruh yang kuat dari etnik Minangkabau yang terdapat di Sumatera Barat yang melakukan invasi ke daerah Tapanuli Selatan. Peristiwa itu terjadi ketika perang Padri sekitar tahun 1820-1837. Oleh karena itulah sampai saat ini Sub-Etnik Batak seperti Angkola dan Mandailing lebih dominan beragama muslim.
Masyarakat Toba adalah masyarakat marga2, sehingga dalam kehidupannya tidak dapat meninggalkan keterlibatan marga. Dalam masyarakat Toba, norma umum dipakai untuk keperluan umum, namun keperluan adat menggunakan norma dan adat istiadat. Dalam masyarakat Toba terdapat marga yang diikuti susunan silsilah orang
2Marga adalah identitas yang dimiiki etnik Toba.
Toba yang disebut Tarombo3 (silsilah). Hubungan sosial kemasyarakatan orang Toba tidak dapat berjalan tanpa marga dan tarombo (silsilah). Marga dan tarombo memudahkan hubungan sosial antara orang Toba dimana pun berada.
Marga yang dimiliki oleh etnik Toba merupakan suatu identitas sangat berguna dalam kehidupan setiap anggota etniknya. Etnik Toba merupakan kelompok etnik yang mengikuti garis keturunan ayah (Patrilineal). Oleh sebab itu, marga dari bapak/ayah otomatis akan diwariskan atau diturunkan kepada anak-anaknya.
Sebagian besar marga pada etnik Toba memiliki nomor yang menunjukkan seseorang itu keturunan keberapa dalam urutan marganya. Tatanan kehidupan masyarakat Toba ditentukan oleh Dalihan Na Tolu4, yaitu Somba Marhula-hula, Manat Mardongan Tubu, Elek Marboru.
Pedoman hidup orang Toba tersebut ternyata menjadi objek dalam pengklasifikasian orang Toba dalam kehidupan adat. Marga seseorang dalam kehidupan adat Toba bisa saja lebih dari satu, artinya dapat bersikap sebagai Hula-Hula, Dongan Tubu, dan Boru, karena tanpa pernikahan antar marga maka dalihan natolu tidak akan ada. Dengan timbulnya kelompok tersebut, terciptalah struktur sosial masyarakat yang baku, dimana ketiga kelompok tersebut bergerak, berhubungan selaras, seimbang dan teguh dalam suatu tatanan masyarakat.
3Tarombo adalah urutan keturunan atau silsilah marga pada etnik Toba.
4Dalihan Na Tolu artinya tungku berkaki tiga, ketiga kaki tungku melambangkan pengakuan atas adanya pembagian masyarakat Batak dalam tiga kelompok utama. Pembagian inilah yang menjadi struktur kemasyarakatan bagi orang-orang Batak Toba.
1.8.3. Kekerabatan
Sistem kekerabatan orang Batak Toba adalah patrilineal. Menurut garis keturunan ayah, orang batak menyebut anggota marganya dengan sebutan dongan sabutuha (marga yang lahir dari rahim yang sama). Sistem kekerabatan patrilineal itulah yang menjadi tulang punggung masyarakat Batak Toba, dan laki-laki itulah yang membentuk kelompok kekerabatan dan perempuan menciptakan hubungan besan karena ia harus kawin dengan laki-laki dari kelompok patrilineal yang lain (vergouwen,1929). Misalnya, marga Pasaribu mempunyai hubungan kekerabatan dengan marga Lubis, Sipahutar, Malau, Sagala, Manik, Limbong, karena mereka berasal dari rahim yang sama, dan marga Pasaribu itu akan menjalin hubungan kekerabatan dengan marga lain karena adanya perkawinan antara saudara perempuan nya dengan marga lain tersebut. Dan begitu juga sebaliknya, pihak dari marga Pasaribu akan mempunyai hubungan kekerabatan dengan marga lain karena menikahi saudara perempuan dari pihak marga lain tersebut.
1.9. Rumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi pada latar belakang penelitian di atas, penulis merumuskan permasalahan penelitian yaitu “Bagaimana proses pertarungan primordialisme marga pada pemilihan kepala desa di Garoga Sibargot? “
1.10. Tujuan Penelitian
Sejalan dengan perumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini ingin mengetahui pertarungan primordialisme marga pada pemilihan kepala di Desa Garoga Sibargot, Kecamatan Garoga, Kabupaten Tapanuli Utara. Penelitian ini juga bertujuan untuk memenuhi kewajiban sebagai seorang mahasiswa yang hendak menyelesaikan program studi sarjana.
Disamping itu juga bertujuan untuk pengembangan pengetahuan dan kemampuan penulis dalam melakukan observasi serta menganalisis data lapangan.
1.5. Manfaat Penelitian 1.5.1. Manfaat Teoritis
1. Berguna untuk memperkaya ilmu politik dan menambah pengetahuan khususnya terkait marga pada pemilihan kepala desa di Desa Garoga Sibargot.
2. Menunjukan secara ilmiah mengenai keterkaitan marga Pasaribu dalam pemilihan kepala desa.
1.5.2. Manfaat Praktis
1. Penelitian ini dapat memberikan pengetahuan kepada masyarakat terkait pengaruh Punguan Batak dalam hal ini Punguan marga Pasaribu terhadap pemilihan kepala desa.
2. Memberikan informasi bahwa adat budaya Indonesia, dalam hal ini suku Batak harus tetap dijaga dan dilestarikan keutuhannya di tengah era globalisasi.
1.6. Metodologi Penelitian 1.6.1. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Garoga, Kabupaten Tapanuli Utara yang berpusat di Desa Garoga Sibargot. Alasan pemilihan daerah tersebut sebagai lokasi penelitian adalah peneliti ingin mengetahui lebih dalam tentang kekompakan marga Pasaribu dalam pemilihan kepala desa di Garoga Sibargot.
Gambar 1 : Peta Wilayah Tapanuli Utara
Jarak dari kota Medan ke Garoga sekitar 332 km dan dapat ditempuh dengan bus selama 12 jam. Selain pusat administrasi, desa ini juga sebagai pusat pasar, pusat pendidikan, pusat kesehatan, dan juga pusat aktivitas lainnya.
1.6.2. Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode etnografi5, yaitu bertujuan untuk menjelaskan secara terperinci bagaimana primordialisme marga dalam pemilihan kepala desa di Desa Garoga Sibargot. Penelitian ini memberikan gambaran bagaimana proses pertarungan marga dalam pemilihan kepala desa yang terjadi dalam beberapa tahun belakangan ini.
Dalam penelitian pertarungan primordialisme marga dalam pemilihan kepala desa di Garoga Sibargot Kecamatan Garoga Kabupaten Tapanuli Utara ini, saya menggunakan beberapa cara dalam menghimpun dan mengumpul data, antara lain:
a) Metode Observasi
Peneliti melakukan pengumpulan data dengan cara melakukan pencatatan secara cermat dan sistematik. Cara pengumpulan data yang dialamai oleh penulis bukanlah mudah karena penelitian ini merupakan sebauh pertarungan diantara marga yang baru terjadi 2 tahun yang lalu.
Metode yang digunakan peneliti adalah metode observasi yang dilakukan dengan mengamati secara langsung bagaimana pertarungan
5Metode Etnografi merupakan suatu strategi pencapaian dalam mendeskripsikan tentang fenomena-fenomena sosial budaya.
primordialisme marga dalam pemilihan kepala desa di Garoga Sibargot Kecamatan Garoga Kabupaten Tapanuli Utara.
Dalam metode ini penulis melakukan pengamatan terhadap pertarungan marga, seperti bagaimana marga Tambunan dan marga Pasaribu yang ada disana mencari pendukung untuk calon yang akan dicalonkannya yaitu untuk mengamati dan mengetahui apa saja strategi yang dijalankan supaya memenangkan pertarungan tersebut. Dalam metode ini peneliti bukan hanya melakukan pengamatan menggunakan panca indra saja tetapi juga akan mencatat dan mendokumentasikan (merekam atau mengambil foto) hal-hal penting yang berhubungan dengan judul penelitian.
b) Metode wawancara
Tujuan peneliti melakukan metode ini adalah untuk menggali informasi terkait judul penelitian. Dengan cara seperti ini maka peneliti akan meyimpulkan bagaimana kebenaran isu yang dimunculkan dalam masalah penelitian serta memastikan kebenaran teori. Selain melakukan observasi, peneliti melakukan wawancara6 dengan marga-marga mengenai bagaimana pendapat mereka tentang pertarungan primordialisme marga, hal yang dirasakan dengan kejadian tersebut, serta efek yang terjadi karena pertarungan primordialisme marga tersebut.
6Wawancara merupakan suatu proses memperoleh keterangan atau data untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara si peneliti dengan objek penelitian.
Selain wawancara dengan marga Tambunan dan Pasaribu tersebut, peneliti melakukan wawancara mendalam dengan masyarakat yang berada di Desa Garoga Sibargot, seperti wawancara dengan beberapa tokoh-tokoh adat dan juga organisasi kepemudaan yang ada di Desa Garoga Sibargot.
Waktu yang dibutuhkan oleh peneliti dalam menyelesaikan penelitian ini berkisar 2 bulan, yaitu pertengahan bulan Desember 2017 sampai akhir bulan Januari 2018.
c) Dokumen
Disamping melakukan pengamatan langsung, saya juga telah mengutip data berupa dokumen-dokumen dari beberapa instansi terkait. Sebagian besar data penelitian ini saya kutip dari dokumen tahunan Kantor Kepala Desa Garoga Sibargot.
1.7. Pengalaman Penelitian
Waktu yang penulis habiskan dalam menyelesaikan penelitian ini tentu tidaklah sedikit. Dimulai dari pengajuan judul, penulisan proposal, penelitian lapangan sampai penulisan skripsi ini. Oleh karena itu, kesabaran penulis sungguh diuji ketika menghadapi Dosen Pembimbing, Ketua Jurusan, Pegawai Administrasi serta dalam menghadapi masyarakat ketika penelitian berlangsung. Dengan demikian saya beranggapan bahwa penelitian ini merupakan sebuah ajang pendewasaan diri.
Dalam menjalani bimbingan dengan Ibu Dra. Rytha Tambunan M,Si selaku dosen pembimbing saya, saya cukup senang dan banyak bersabar.
Karena saya menyadari bahwa bukan hanya saya yang harus diurus, maka saya juga tidak terlalu memaksakan diri untuk bimbingan terus-menerus dengan beliau. Kesibukan beliau dikampus dan diluar kampus membuat saya enggan untukuntuk terus menemuinya. Walau terkadang rasa enggan tersebut membuat saya dimarahi.
Waktu penulisan proposal hingga penulisan hasil penelitian inimemang hampir 12 bulan. Waktu yang sekian banyaknya habis sesungguhnya bukan karena sulitnya menghadapi atau karena diperlama Dosen Pembimbing. Pada saat judul saya di acc oleh ketua jurusan, saya tidak langsung mengerjakan proposal penelitian saya karena masih ada 6 mata kuliah saya yang harus diselesaikan pada semester akhir. Pada bulan juni, kaki saya hampir patah karena bermain sepakbola dikampung kelahiran saya yaitu Desa Garoga Sibargot. Setelah kejadian tersebut, semangat saya untuk mengerjakan skripsi ini menjadi berkurang, karena dalam benak saya hanya berfikir ”untuk apa saya siapkan skripsi kalau kaki patah” rasa itulah yang menjadikan skripsi ini lama diselesaikan.
Setelah kaki saya mulai sembuh, pada akhir bulan agustus saya mulai mengerjakan proposal penelitian. Dalam pengerjaan proposal penelitian ini saya diajarkan untuk bersabar dan banyak bertanya tentang apa yang tidak saya ketahui kepada dosen pembimbing. Saya juga membutuhkan waktu yang lama untuk menyelesaikan proposal yaitu sekitar 2 bulan lebih. Selama dua bulan tersebut proposal saya revisi sampai 5 kali.
Setelah proposal penelitian saya di acc oleh pembimbing saya
menyerahkan proposal itu ke jurusan antropologi dengan maksud untuk mendapat surat lapangan penelitian. Karena surat penelitian tidak langsung keluar, saya memutuskan untuk penelitian tanpa dilengkapi dengan surat lapangan. Setelah saya sampai dilapangan penelitian, saya langsung menjumpai kepala desa untuk memberi tahu bahwa inginmmelakukan penelitian, karena daerah penelitian tersebut merupakan kampung halaman penulis sendiri. Saya langsung dikasi izin oleh kepala desa untuk melakukan penelitian di desa tersebut yaitu Garoga Sibargot.
Pengalaman ketika berada di lapangan penelitian cukup menarik dan cukup bersabar. Awal pertama saya ke lapangan tidak langsung untuk melakukan wawancara kepada masyarakat yang ada di desa tersebut melainkan hanya berbincang-bincang saja. Namun, bagi sebagian yang mengenal saya, mereka langsung bertanya kepada saya dengan bahasa toba” bah, dang naung wisuda ho tahe (bah, bukannya sudah wisuda kau)“
dengan pertanyaan itu, saya pun langsung menjawab tahun ini lah. Cara yang saya lakukan ini adalah salah satu cara saya untuk mengembangkan rapport kepada mereka. Saya yang mengerti dan mampu menggunakan bahasa Batak Toba membuat interakasi dengan masyarakat dan informan cukup mudah. Mengerti sedikit tentang marga dan partuturan merupakan modal ketika menghadapi masyarakat.
Setelah beberapa hari hanya melakukan perbincang-bincangan dengan masyarakat, saya mulai maksud dan tujuan saya datang ke desa itu.
Setelah saya berjumpa dengan berbagai informan, saya langsung bertanya
tentang pemilihan kepala desa pada tahun 2015 yang lalu. Bagi informan yang berasal dari marga Pasaribu langsung menjawab pertanyaan saya sesuai dengan apa yang saya tanyakan. Tetapi bagi informan yang berasal dari marga-marga yang lain mereka enggan memberikan jawaban kepada saya. Saya pun disitu tidak memaksakan mereka untuk menjawabnya, dan saya berfikir untuk melajutkannya esok harinya.
Beberapa hari setelah menjumpai informan dari marga-marga yang lain, saya memberitahukan kepada mereka bahwa tujuan saya menanyakan hal tersebut untuk keperluan data skripsi saya. Dengan susah payah saya memastikan bahwa wawancara diantara kami akan saya jaga kerahasiaannya mereka kemudian mau memberikan jawaban sesuai data yang saya butuhkan. Kemudian saya melanjutkan perjalanan untuk mencari informan yang lain, karena saya mencari informan dihari kerja sehingga informan yang saya butuhkan pun tidak bisa saya jumpai karena mayoritas informan saya bekerja sebagai petani. Saya pun melanjutkan penelitian saya dihari libur yaitu hari minggu.
Setelah menjumpai informan dari kalangan masyarakat biasa, kemudian saya melanjutkan untuk wawancara dengan berbagai aparat desa, natua-tua nihuta (orang yang dituakan) maupun calon kepala desa terpilih dan juga calon kepala desa yang kalah. Pertama saya menjumpai natua-tua nihuta yang bermarga Pasaribu yaitu Monang Pasaribu, karena beliau sudah kenal dengan saya dan kami masih saudara dekat, saya langsung membertahunya tentang tujuan saya menjumpainya. Setelah
berbincang-bincang dengannya, saya pun diajak masuk ke rumahnya untuk melanjutkan wawancara kami. Sebelum melanjutkan perbincangan kami, abang itu menawarkan saya untuk minum kopi atau teh manis, perbincangan kami pun ditemani dengan minum kopi hangat. Disana beliau banyak bercerita kepada saya tentang mulai terbentuknya desa Garoga, datangnya marga Pasaribu ke desa itu sampai sejarah kepemimpinan marga Pasaribu di desa itu. Setelah saya mendapatkan data yang saya butuhkan dari abang itu, saya pun kemudian pamit untuk pulang karena tidak ingin juga mengganggu banyak waktunya.
Kemudian di hari berikutnya saya melanjutkan wawancara dengan natua-tua nihuta dari marga lain dan juga calon kepala desa terpilih maupun calon kepala desa yang kalah. Namun, kejanggalan muncul pada saat menjumpai calon kepala desa yang kalah yaitu Marlan Tambunan.
Pada saat itu, beliau tidak begitu respon kepada saya, tapi setelah saya memberitahukan maksud saya melakukan wawancara dengannya dia mulai merespon saya dan mengajak berbicara di dalam rumahnya. Tapi walaupun beliau mau saya wawancarai, beliau terus bilang saya bahwa data ini rahasia dan jangan sampai bocor kepada marga Pasaribu sebagai marga lokal di desa itu.
Proses pengumpulan data saya lanjutkan ke berbagai instansi pemerintahan Kecamatan Garoga dan aparat desa yaitu kantor kepala desa, kantor camat, serta sekretaris desa. Karena kebetulan saya merupakan warga Desa Garoga Sibargot data yang saya minta untuk
keperluan skripsi saya tidak dipersulit oleh pemerintah maupun aparat desa disana.
Setelah semua data yang saya butuhkan terkumpul, maka saya mencoba menganalisisnya. Data-data yang saya peroleh dari lapangan ataupun dari sumber-sumber tertulis saya gabungkan. Penulisan skripsi ini menurut saya bukanlah hal yang sulit untuk dilakukan, tetapi kesabaran dan ketelitian sungguh sangat dituntut. Penulisan skripsi ini tentu tidak lepas dari iringan doa yang selalu saya sampaikan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar tetap memberikan kesehatan serta kesabaran hingga skripsi terselesaikan.
BAB II
GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
2.1. Sejarah Desa Garoga Sibargot
Pada masa penjajahan Belanda wilayah Keresidenan Tapanuli yang berpusat di Padang Sidimpuan dan Sibolga, dimana Belanda membagi pemerintahan dengan sebutan “nagari”, salah satu diantaranya
“nagari garoga”. Selanjutnya nagari garoga membagi wilayah pemerintahan menurut wilayah desa, yang disebut Huta (desa), salah satu diantaranya adalah Desa Garoga Sibargot.
Desa Garoga Sibargot sudah ada sejak jaman penjajahan Belanda, dimana desa ini didirikan oleh tokoh masyarakat sekaligus pemilik Desa Garoga Sibargot yaitu marga Pasaribu sampai kepada keturunannya. Di dalam desa ini terdapat tujuh dusun yaitu; dusun Bulu Payung, dusun Sibargot, dusun Aek Horsik, dusun Pagaran Padang, dusun Natumingka, dusun Pasar Garoga, dusun Parluasan. Semua dusun tersebut dibawah naungan Garoga Sibargot.
Pada masa itu, yang menjalankan roda pemerintahan adalah tokoh masyarakat yang dipilih oleh masyarakat sebagai kepala kampung yang hingga tahun ke tahun berganti. Perkembangan Desa Garoga Sibargot, secara demografi sangat pesat, dimana populasi penduduk semakin berkembang, khususnya marga Pasaribu dan ditambah anak rantau marga- marga lain yang datang ke desa tersebut.
Sebelum datangnya agama ke daerah Garoga, para leluhur mereka menyembah Mula Jadi Nabolon dengan cara membuat sebuah gubuk- gubuk kecil, pada umumnya gubuk-gubuk itu berada di bawah pohon beringin (dalam bahasa Batak Toba disebut hau hariara). Masyarakat Garoga menggunakan gubuk tersebut untuk meminta pertolongan kepada Mula Jadi Nabolon. Namun, seiring berjalannya waktu, agama datang ke Garoga Sibargot yaitu agama Islam dan Kristen.
Pada waktu itu, masyarakat Garoga Sibargot terlebih marga Pasaribu memasuki agama tersebut, sebagian masuk ke Islam dan sebagian lagi masuk Kristen. Karena pada waktu itu mereka tidak tahu apa itu agama Islam dan apa itu agama Kristen, mereka hanya masuk ke dalam agama tersebut hanya untuk ingin tahun saja. Gereja yang pertama kali masuk ke Kecamatan Garoga adalah greja HKBP, oleh karena itu penduduk desa itu lebih banyak yang beragama Kristen daripada yang beragama Islam.7
2.2. Letak dan Keadaan Garoga Sibargot
Kabupaten Tapanuli Utara secara geografis terletak di antara 1020‟- 2041‟ Lintang Utara dan 98005' – 99016' Bujur Timur dan berbatasan dengan Kabupaten Labuhan Batu di sebelah timur, Kabupaten Humbang Hasundutan dan Tapanuli Tengah di sebelah barat, Kabupaten Toba Samosir disebelah utara, dan di sebelah selatan berbatasan dengan
7Wawancara dengan Monang Pasaribu, salah satu ketua adat dari marga Pasaribu (20 desember 2017)
Kabupaten Tapanuli Selatan. Kabupaten ini memiliki 15 kecamatan, dengan luas 160.360 ha atau 3,11 % dari luas wilayah Provinsi Sumatera Utara. Salah satu kecamatan yang terluas adalah Kecamatan Garoga.8 Kecamatan Garoga Terletak 300 meter di atas permukaan laut (dpl) dengan luas wilayah kecamatan mencapai 567,58 Km2 dengan jumlah penduduk 15.906 jiwa.
Kecamatan ini berjarak ± 77 Km dari kantor Bupati Tapanuli Utara dengan waktu tempuh ± 3 jam. Untuk menuju ibukota kabupaten Tapanuli Utara, masyarakat kecamatan Garoga harus melalui 2 kecamatan yaitukecamatan Pangaribuan dan kecamatan Sipahutar. Kecamatan Garoga terdiri dari 13 nagori atau desa.
Adapun nagori atau desa tersebut adalah Desa Garoga Sibargot, Desa Gonting Garoga, Desa Sibalanga, Desa Parmanuhan, Desa Parsosoran, Desa Gonting Salak, Desa Lontung Jae I, Desa Lontung Jae II, Desa Parinsoran, Desa Sibaganding, Desa Padang Siandomang, Desa Sirpang Bolon, dan Desa Aek Tangga.
Penelitian terfokus di Desa Garoga Sibargot. Desa ini merupakan salah satu desa yang ada di Kecamatan Garoga, Kabupaten Tapanuli Utara, Provinsi Sumatera Utara. Desa ini memiliki luas wilayah 6.000 Ha atau 74,25 Km2. Jarak dari kota Medan ke Garoga Sibargot sebagai pusat pemerintahan kecamatan Garoga sekitar 332 km dan dapat ditempuh dengan bus selama 12 jam. Selain pusat administrasi, Desa Garoga Sibargot juga sebagai pusat pasar, pusat pendidikan, pusat kesehatan, dan
8Sumber: Badan Pusat Statistik Kabupaten Tapanuli Utara tahun 2012
juga pusat aktivitas lainnya. Desa Garoga Sibargot mempunyai tujuh dusun dan luas wilayahnya masing-masing, yaitu:
1. Dusun Bulu Payung : 9,88 Km2 2. Dusun Sibargot : 8,93 Km2 3. Dusun Aek Korsik : 8,55 Km2 4. Dusun Pagaran Padang : 9,64 Km2 5. Dusun Natumingka : 12,37 Km2 6. Dusun Pasar Garoga : 12,99 Km2 7. Dusun Parluasan : 11,89 Km2
Desa Garoga Sibargot masuk dalam wilayah Kecamatan Garoga Kabupaten Tapanuli Utara yang terletak di kota kecamatan. Desa ini mempunyai batas-batas wilayah sebagai berikut :
1. Sebelah utara berbatasan dengan Desa Gotting Garoga.
2. Sebelah selatan berbatasan dengan Desa Batu Bolon.
3. Sebelah timur berbatasan dengan Desa Lontung Jae I.
4. Sebelah barat berbatasan dengan Desa Aek Tangga.
2.3. Asal Muasal Marga Pasaribu di Desa Garoga Sibargot
Sejarah marga Pasaribu di Desa Garoga Sibargot belum ada dari sumber-sumber tertulis yang menyatakan asal muasal marga Pasaribu di desa tersebut, tapi asal muasal ini diketahui dari pemimpin adat yang berasal dari marga Pasaribu. Marga Pasaribu yang bernama Maruhum Bosar Pasaribu sebelumnya tinggal di tempat mertuanya marga
Simatupang yaitu di Parsoburan. Setiap pada saat istrinya mau melahirkan, dia selalu menginginkan perempuan saja yang akan lahir itu, dan ternyata yang lahir adalah bayi laki-laki, setelah mendengar perkataannya itu mertuanya mengatakan kepada dia “ kenapa seperti itu perkataanmu? ”, dia pun menjawab mertuanya “ kalaupun laki-laki yang akan lahir itu, kami tetap menjadi boru dikampung ini”. Kemudian setelah itu, Maruhum Bosar pergi ke Desa Gonting Salak, setelah itu dia pergi ke Desa Lobu Julu atau yang sekarang disebut Desa Gonting Garoga.
Kemudian Maruhum Bosar menikah dengan 5 perempuan dan memiliki 9 anak. Setelah Maruhum Bosar meninggal dunia terdapat perselisihan diantara anak-anaknya yaitu antara anak pertama dengan anak Maruhun yang delapan tersebut, karena perselisihan tersebut anak yang delapan ini pindah ke suatu daerah yang berada di Desa Garoga yaitu Lobu harambir.
Setelah bertempat tinggal disana, masyarakatnya banyak terserang penyakit menular. Karena penyakit itu kemudian mereka memutuskan untuk meninggalkan tempat tersebut dan mencari tempat baru masing- masing. Tujuh keturunan memilih pindah ke Desa Garoga yang sekarang disebut dusun Pasar Garoga, dan yang satu keturunan lagi pindah ke Desa Pangorian9. Sehingga masyarakat Garoga Sibargot lebih banyak yang bermarga Pasaribu dibandingkan dengan marga lain, dan Desa Garoga Sibargot sering juga dikatakan dengan sebutan Huta ni Pasaribu (Pasaribulah yang punya desa). Sehingga mulai terbentuknya Desa
9Wawancara dengan Monang Pasaribu pada tanggal 20 desember 2017
Garoga Sibargot yang menjadi pemimpin atau kepala desa berasal dari marga Pasaribu.
Marga Pasaribu juga memiliki motto dari turun-temurun yaitu
“Huta hutai mandapot raja huta, jabu jabui mandapot jabu bona ( desa yang dibangun adalah milik pemuka desa, rumah yang didukuki adalah miliknya juga)” Sehingga motto inilah yang dianut oleh marga Pasaribu sampai saat ini, karena mereka merupakan marga lokal di Desa Garoga Sibargot.
Desa Garoga Sibargot berkecamatan ke kecamatan Pangaribuan, tapi karena jalan menuju kecamatan Pangaribuan masih rusak parah dan payah dilalui oleh masyarakat, masyarakat Garoga membeli atau belanja sembako ke pasar Borbor yang berada di Parsoburan. Seiring berkembangnya waktu, karena kedekatan ketua adat Garoga dengan pimpinan Hindia Belanda, pada tahun 1968 ketua adat Garoga membuat proposal untuk pengajuan desa GarogaSibargot untuk menjadi sebuah Kecamatan supaya dapat berdikari sendiri. Pada tanggal 23 maret 1969 Garoga terlaksana menjadi sebuah kecamatan yaitu kecamatan Garoga.
2.4. Sejarah Pemerintahan Desa
Nama-nama kepala desa mulai terbentuk Desa Garoga Sibargot:
Tabel 1
Daftar Nama-Nama Kepala Desa Garoga Sibargot N
o Per iod e
Nama Kepala
Desa Keterangan
1 Bahalbatu Pasaribu Selama – Tahun
2
-1982 Arab Pasaribu Selama – Tahun
3
1982-1999 Juara Pasaribu Selama 16
Tahun 4
1999-2004 Wasinton Pasaribu Selama 5 Tahun 5
2004-2009 Monang Pasaribu Selama 5 Tahun
6
2009-2015 Demar Pasaribu Selama 5 Tahun
7
2015-2021 Pintoruli Pasaribu Selama 5 Tahun Sumber: Data Kepala Desa Garoga Sibarot Tahun 2017
Pada awal pembentukan pemerintahan Desa Garoga Sibargot yaitu pada tahun 1960 kepala desa dipilih berdasarkan pemilihan suara terbanyak. Pada tahun itu, yang menjadi calon kepala desa hanya dari marga Pasaribu. Pemilihan pada saat itu tidak pernah ada konflik diantara marga Pasaribu karena jabatan kepala desa dipilih dengan adanya kesepakatan antara calon yaitu sebelum diadakan pemilihan, sudah ada janji diantara mereka yaitu bahwa siapa yang menang dalam pemilihan itu dan siapa yang kalah tidak akan ada rasa dendam sehingga marga Pasaribu tetap akur. Orang yang dicalonkan menjadi calon kepala desa adalah orang yang dianggap mampu menjadi pemimpin diantara marga Pasaribu.
Tapi, setelah pemilihan kepala desa pada tahun 2004 terjadi konflik diantara marga Pasaribu tersebut. Karena pada pemilihan kepala desa pada
tahun 2004 yang mencalonkan kepala desa adalah adik kandung dari kepala desa tahun sebelumnya yaitu Wasinton Pasaribu.
Kelompok keluarga dari keturunan marga Pasaribu yang ada di desa itu mulai tidak terima dengan cara seperti itu lagi, karena mereka juga menganggap dirinya mampu untuk menjadi pemimpin di desa tersebut. Sehingga terjadi persaingan antara Monang Pasaribu yang merupakan adik kandung dari kepala desa tahun sebelumnya bersaing dengan Bisa Pasaribu yang mrupakan keturunan dari kelompok keturunan marga Pasaribu yang ada di Desa Garoga Sibargot.
Kemudian setelah selesai pemilihan dan penghitungan suara telah selesai dihitung, dan yang memenangkan pemilihan itu adalah Monang Pasaribu konflik diantara mereka pun mulai memanas. Pada saat itu juga mulailah terjadi konflik diantara marga Pasaribu yang ada di desa itu.
Setelah kejadian tersebut Pasaribu menjadi dua bagian, satu bagian dari calon yang menang dan satu lagi bagian dari calon yang kalah.
Konflik itu sangat terlihat pada saat adanya acara adat pernikahan dan pesta saur matua.10 Pada saat ada pesta pernikahan di keluarga Monang Pasaribu itu, marga Pasaribu dari bagian calon yang kalah banyak yang tidak menghadirinya. Hal ini sangat berbeda pada periode sebelumnya, dimana apabila ada kegiatan adat dan kegiatan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari marga Pasaribu selalu bersama-sama menghadirinya.
10Saur matua adalah orang batak yang meninggal dunia dan semua anaknya sudah menikah.
Namun, pada tahun 2006 diadakanlah pesta besar-besaran di Desa Garoga Sibargot berupa syukuran untuk mempersatukan kembali keakuran marga Pasaribu dan mulai saat itu dibuat lah perjanjian tentang kepala desa yaitu setiap 5 tahun sekali diadakannya pemilihan kepala desa, dimana calon dibuat bergilir dari setiap keluarga Pasaribu berdasarkan tingkat keturunan dan kesepakatan itu masih berlaku sampai sekarang ini.
2.5. Persebaran Marga Pasaribu di Desa Garoga Sibargot
Marga Pasaribu yang ada di Garoga Sibargot merupakan keturunan dari Maruhum Bosar Pasaribu yang bertempat tinggal di Desa Lobu Harambir yang sekarang namanya menjadi Desa Gonting Garoga yang mempunyai 9 keturunan, dan 7 keturunannya berpindah ke Desa Garoga Sibargot. Dalam bahasa Batak dikatakan Oppu (keturunan). Tujuh (7) Oppu yang berpindah ke Desa Garoga Sibargot yaitu:
Mulai terbentuknya Desa Garoga Sibargot yang menduduki jabatan pemerintahan desa atau disebut juga kepala desa selalu diduduki oleh keturunan marga Pasaribu. Namun, pada saat pemilihan kepala desa pada tahun 2005 terjadi konflik diantara marga Pasaribu sehingga jalinan hubungan kekeluargaan menjadi terganggu. Karena kejadian tersebut, pada tahun 2006 marga Pasaribu mengadakan pertemuan besar supaya konflik tersebut tidak terus berlanjut.
Perpecahan tersebut yang dikarenakan oleh pemilihan kepala desa sehingga pada pertemuan pada tahun 2006 itu dibuat keputusan bahwa pada pemilihan kepala desa pada tahun berikutnya dibuat bergilir.
Tahapan penggiliran diawali dari keturunan yang tertua sampai kepada keturunan yang paling muda, seperti : keturunan Ja Bosar Pasaribu, Ja Tua Pasaribu, Pardomuan Pasaribu, Ja Tunggal Pasaribu, dan selanjutnya pada
MARUHUM BOSAR PASARIBU
1.JA BOSAR PASARIBU
2.JA TUA PASARIBU
3.PARDOMUAN PASARIBU
4.JA TUNGGAL PASARIBU
5.TONGKU MUDA PASARIBU
6.GALIONG PASARIBU
7.PERIS PASARIBU
keturunan berikutnya. Kesepakatan yang dibuat pada tahun 2006 tersebut terlaksana pada pemilihan kepala desa pada tahun 2010, yang diduduki oleh keturunan darri oppu Ja Bosar Pasaribu yaitu Demar Pasaribu.
2.6. Daftar Kontestan Pilkades Tahun 2005 dan 2010 Tabel 2
Daftar Kontestan Kepala Desa Garoga Sibargot No Daftar Kontestan Kepala Desa Garoga Sibargot 1. Periode 2005-2010 1. Monang Pasaribu
2. Bisa Pasaribu 2. Periode 2010-2015 1. Demar Pasaribu
2. Iwan Pasaribu
Sumber : Dokumentasi Kepala Desa tahun 2017
Berdasarkan tabel kontestan kepala desa Garoga Sibargot diatas dapat diketahui bahwa yang naik untuk menjadi calon kepala desa Garoga Sibargot dua perioe terakhir adalah berasal dari marga Pasaribu saja. Akan tetapi pemilihan kepala desa pada tahun 2005 yang lalu terdapat konflik diantara marga Pasaribu karena Monang Pasaribu yang merupakan adik kandung dari kepala desa periode 2000-2005 mencalonkan kembali dan memenangkan pemilihan kepala desa terjadilah perpecahan diantara marga Pasaribu. Namun, pada tahun 2006 marga Pasaribu membuat kesepakatan bahwa mulai pemilihan kepala desa tahun 2010 akan dibuat bergilir dari marga Pasaribu.
Pemilihan pada tahun 2010 program atau kesepakatan itu mulai dijalankan oleh marga Pasaribu, walaupun ada dua calon yang didaftarkan ke KPU hanya merupakan persyaratan semata saja. Pada periode itu yang dinaikkan menjadi kepala desa adalah Demar Pasaribu, dan Iwan Pasaribu hanya persyaratannya saja.
2.7. Penduduk dan Beberapa Aspeknya
Penduduk Desa Garoga Sibargot berasal dari berbagai daerah yang berbeda-beda, dimana mayoritas punduduk yang paling dominan berasal dari suku Batak Tobasehingga tradisi-tradisi musyawarah untuk mufakat, gotong royong dan kearifan lokal yang lain sudah dilakukan oleh masyarakat sejak adanya Desa Garoga Sibargot dan hal tersebut secara efektif dapat menghindari adanya benturan-benturan antar kelompok masyarakat.
2.7.1 Penduduk Menurut Jenis Kelamin
Kepadatan penduduk dan tingkat penyebaran disuatu wilayah akan mempengaruhi tingkat kehidupan penduduk itu sendiri, karena kondisi fisik dan lingkungan tempat pemukiman menetukan dalam pembentukan jiwa dan watak seseorang. Pengembangan wilayah dengan memperhatikan tata ruang bagi suatu daerah sangat diperlukan guna menigkatkan kemampuan suatu daerah dalam memacu perekonomian disuatu daerah tersebut. Untuk mengetahui kepadatan penduduk di Garoga Sibargot dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 3
Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin (Dalam Satuan Jiwa)
N O
Jenis Kelamin Jumlah
1 Laki-laki 1653
2 Perempuan 1568
Jumlah 3287
Sumber : Data Kepala Desa Garoga Sibargot 2017
Berdasarkan tabel di atas jumlah penduduk masyarakat Desa Garoga Sibargot berjumlah 3287 jiwa. Jumlah laki-laki sebanyak 1653 jiwa sedangkan jumlah perempuan 1568 jiwa, dan jumlah tersebut hampir seimbang.
2.7.2 Jumlah Penduduk Menurut Agama
Setiap orang memiliki kebebasan dan hak untuk memeluk agama dan kepercayaan menurut dirinya sendiri. Kebebasan untuk memeluk agama dan kepercayaan telah dijamin oleh negara sehingga setiap orang bebas untuk menentukan agama yang akan dianutnya. Hal ini juga dirasakan oleh masyarakat Garoga Sibargot. Untuk mengetahui agama yang dianut oleh masyarakat Desa Garoga Sibargot dapat dilihat pada tabel berikut
Tabel 4
Jumlah Penduduk Menurut Agama (Dalam Satuan Jiwa)
No Agama Jumlah
1 Islam 675
2 Kristen 2612
Jumlah 3287
Sumber : Data Kepala Desa Garoga Sibargot 2017
Berdasarkan tabel di atas masyarakat Desa Garoga Sibargot hanya memiliki dua agama saja yaitu Islam dan Kristen. Masyarakat desa itu mayoritas menganut agama Kristen dengan jumlah 2612 jiwa sedangkan yang menganut agama Islam hanya 675 jiwa saja. Dari data diatas dengan jumlah yang menganut agama Kristen telah terlihat jelas yang mendominasi daerah Garoga Sibargot adalah suku Batak Toba.
2.7.3 Persebaran Marga Pasaribu dan Marga Tambunan di Desa Garoga Sibargot
Tabel 5
Perbandingan Jumlah Marga Pasaribu dan Marga Tambunan (Dalam Satuan KK)
N0 NAMA DUSUN
JUMLAH MARGA PASARIBU
MARGA TAMBUNAN
MARGA LAIN 1 Pasar
Garoga
147 80 10 57
2 Parluasan 125 25 8 92
3 Natumingk 109 26 11 72
4 Bulu Payung
120 50 2 68
5 Aek Horsik 34 10 2 22
6 Pagaran Padang
40 4 - 36
7 Sibargot 50 20 - 30
JUMLAH 725 215 33 477
Berdasarkan data kepala desa diatas dapat diketahui bahwa jumlah marga Pasaribu sebanyak 215 kk, dan marga Tambunan sebanyak 33 kk, dan jumlah marga-marga lain selain marga Pasaribu dan marga Tambunan sebanyak 477 kk. Dari jumlah kepala keluarga yang ada di Desa Garoga
Sibargot yaitu 725 kk, marga Pasaribu berkisar 30% dan marga Tambunan hanya berkisar 5% saja dan marga lainnya berkisar 65%. Apabila kita melihat dari jumlah marga Pasaribu dibandingkan dengan marga Tambunan, marga Pasaribu lebih memiliki peluang yang besar dibandigkan marga Tambunan.
Selain marga Pasaribu sebagai marga lokal dan jumlah terbanyak dibandingkan marga Tambunan di Desa Garoga Sibargot, marga pasaribu juga lebih banyak memiliki kerabat dibandingkan dengan marga Tambunan. Marga-marga lain yang ada di Desa Garoga Sibargot lebih banyak memiliki hubungan kekerabatan berdasarkan Dalihan Na Tolu dengan marga Pasaribu, seperti ; hubungan kekerabatan boru marga Pasaribu, hubungan kekerabatan hula-hula marga Pasaribu, dan juga dongan tubu marga Pasaribu.
Sehingga apabila kita melihat dari segi banyaknya hubungan kekerabatan yang dimiliki oleh marga Pasaribu dan marga Tambunan, marga Pasaribu dapat
dipastikan memenangkan pertarungan pemilihan kepala desa tahun 2015 yang lalu.
2.8. Kehidupan Ekonomi Desa Garoga Sibargot
Kehidupan masyarakat Desa Garoga Sibargot jika diperhatikan dari sektor perekonomian tentu sangat majemuk. Kondisi ekonomi masyarakat Desa Garoga Sibargot secara kasat mata terlihat jelas
perbedaannya antara rumah tangga yang berkategori miskin, sangat miskin, sedang dan kaya. Hal ini disebabkan karena mata pencahariannya di sektor-sektor usaha yang berbeda-beda pula, sebagian besar di sektor non formal seperti buruh bangunan, buruh tani, petani, petani sawah, perkebunan karet dan sebagian kecil di sektor formal seperti PNS, honorer, guru, tenaga medis dll.
2.9. Organisasi Sosial Desa Garoga Sibargot 2.9.1. Organisasi Semarga
Pembentukan organisasi ini merupakan suatu bentuk persatuan dan kesatuan marga pada Orang Batak Toba. Organisasi ini pada dasarnya bertujuan untuk melakukan penguatan identitas marga tertentu dan berusaha untuk membantu setiap anggota semarga yang kurang mampu.
Peranan yang paling penting organisasi semarga ini adalah menghimpun seluruh anggota masayarakat yang memiliki marga yang sama. Selain itu hubungan kekeluargaan yang berdasarkan marga seperti boru, bere, dan ibebere akan tergabung dalam organisasi semarga ini. Organisasi semarga yang terdapat di Garoga Sibargot antara lain: Sutan Sotembalon (Pasaribu), Silahisabungan, Siraja Sonang, Aritonang boru bere, dll.
Organisasi semarga yang dimiliki di masyarakat di Desa Garoga Sibargot dapat berpengaruh terhadap terjadinya penguatan identitas marga. Karena organisasi ini merupakan sebuah cerminan atas rasa cinta terhadap marga sendiri. Nilai-nilai kekerabatan yang dijunjung tinggi