BAB III PROSES PEMILIHAN KEPALA DESA DAN PERTARUNGAN
3.6. Bentuk Pertarungan Primodialisme Marga dalam Pemilihan Kepala Desa
3.6.3. Marga Pasaribu Mengadakan Acara Pemberangkatan Bagi Calonnya 53
Sejarah pemilihan kepala desa yang dianut oleh marga lokal yaitu mengadakan acara pemilihan langsung dengan calon yang berasal dari marga lokal yaitu marga Pasaribu. Pada tahun-tahun sebelum 2004, calon yang dinaikkan untuk menjadi kepala desa belum ada ditentukan oleh marga Pasaribu. Pada masa itu siapa yang merasa dirinya mampu menjabat sebagai kepala desa dapat mencalonkan dirinya sebagai kepala desa. Sehingga sering kali terjadi konflik diantara sesama marga Pasaribu
yang merupakan masih bernenek moyang yang sama. Sehingga pada tahun 2006 diadakan pesta besar-besaran oleh marga Pasaribu dengan misi tidak akan ada lagi perpecahn diantara sesama marga Pasaribu karena pencalonan kepala desa ini. Sehinsgga dibuat kesimpulan cara pencalonan kepala desa dibuat secara bergilir menurut garis keturanan marga Pasaribu itu.
Pada tahun 2009 pencalonan dengan cara bergilir mulai dilaksanakan, dan mulai saat itu konflik tidak terjadi lagi sesama mereka sampai dengan pencalonan kepala desa tahap berikutnya. Namun, ada sidikit yang berbeda pada pemilihan kepala desa pada tahun 2015, yaitu calon yang mendaftarkan diri ke Komisi Pemilihan Umum ada yang berasal dari marga lain. Maka, mulai saat itu marga Pasaribu memilih tim sukses dan mata-mata untuk melihat siapa-siapa saja tim sukses dari marga lain yang berani membantah aturan yang dibuat oleh leluhur mereka.
3.7 Perbandingan Jumlah Suara dalam Pemilihan Kepala Desa Garoga Sibargot Tahun 2015
Tabel 7
Perbandingan Suara Kepala Desa Garoga Sibargot
No Nama calon Jumlah suara (orang) 1. Pintoruli Pasaribu 1076
2. Marlan Tambunan 323
Jumlah 1399
Sumber : Data KPPS Garoga Sibargot
Berdasarkan data yang diperoleh dari KPPS Garoga Sibargot bahwa jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT) pada pemilihan kepala desa pada tahun 2015 adalah sebanyak 1445 orang. Jumlah pemilih yang hadir pada pemilihan kepala desa pada saat itu adalah sebanyak 1413 orang, suara sah yang didapat sebanyak 1399 suara, dan jumlah suara yang batal adalah sebanyak 14 suara. Hal yang menyebabkan batalnya suara pemilih adalah ada yang mencoblos dua calon dan ada yang mencoblos diantara calon 1 dan calon 2.
Jumlah penduduk yang tercatat sebagai Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang tidak hadir pada saat pemilihan kepala desa tahun 2015 adalah sebanyak 32 orang. Jumlah daftar pemilih yang tidak hadir pada pemilihan kepala desa pada saat itu dikarenakan karena ada yang berada diluar daerah Desa Garoga Sibargot, seperti mahasiswa yang berada diluar daerah.
Perbandingan suara yang didapat oleh marga Pasaribu dibandingkan dengan calon marga Tambunan sangat berbeda jauh yaitu 1039 suara dibanding dengan 323 suara. Dari hasil perbandingan tersebut dapat disimpulkan bahwa kekuatan hubungan kekerabatan sangat berhubungan erat dalam pemilihan kepala desa Garoga Sibargot sehingga dimenangkan oleh marga Pasaribu.
BAB IV
PENGARUH PERTARUNGAN PRIMORDIALISME MARGA TERHADAP KEHIDUPAN MASYARAKAT DESA GAROGA
SIBARGOT
4.1. Orang-Orang yang Menjabat di Pemerintahan Desa Garoga Sibargot Pertarungan primordialisme marga di Desa Garoga Sibargot berpengaruh terhadap kedudukan/jabatan pemerintahan desa. Hal tersebut telihat ketika pemilihan kepala desa dimenangkan oleh orang yang bermarga Pasaribu. Setelah kemenangan tersebut disahkan oleh lembaga KPU, maka kekuasaan dan kendali pemerintahan desa bersifat mutlak.
Artinya kepala desa terpilih akan memberikan hak dan kewenangan terhadap orang-orang/pendukungnya untuk menempati beberapa jabatan seperti: sekertaris desa, kepala dusun, kaur umum, kaur pembangunan dan kaur pemerintahan.
Pemilihan kepala Desa Garoga Sibargot tahun 2015 yang diikuti oleh dua calon yakni, Pintoruli Pasaribu dan Marlan Tambunan. Marga Pasaribu dan marga Tambunan bertarung dan saling menunjukkan kekuatan hubungun kekerabatan masing-masing. Artinya, marga dalam hal ini menjadi salah satu sarana politik. Latar belakang sejarah marga dan sejarah pembentukan Desa Garoga Sibargot yang tidak terlepas dari peran marga Pasaribu berhasil menyatukan dukungan dari seluruh marga
Pasaribu dan kerabatnya. Oleh karena itu Pintoruli Pasaribu berhasil memenangkan pemilihan tersebut.
Jabatan-jabatan pemerintah Desa Garoga Sibargot setelah pemilihan kepala desa tahun 2015. Jabatan kepala desa dipegang oleh Pintoruli Pasaribu.
Tabel 8
Struktur Pemerintahan Desa Garoga Sibargot Periode 2015-2019
No Nama Jabatan
1 Josua M. Pasaribu Sekretaris Desa 2 Hendra Pasaribu Kepala Urusan Umum
3 Lambok Simanjuntak Kepala Urusan Pembangunan 4 Dedi Jehan Sormin Kepala Urusan Pemerintahan 5 Taat Pasaribu Kepala Dusun Bulu Payung 6 Henri Pasaribu Kepala Dusun Sibargot 7 Irjon Hasibuan Kepala Dusun Aek Korsik 8 Saut Ritonga Kepala Dusun Pagaran Padang
Sumber: Dokumen Desa Garoga Sibargot Tahun 2017
Tabel diatas menunjukkan adanya dominasi jabatan- jabatan perintahan desa oleh marga Pasaribu. Apabila kita perhatikan terdapat marga-marga lain seperti: Simanjuntak, Sormin, dan Ritonga, namun mereka adalah kerabat marga Pasaribu. kerabat dalam hal ini didasarkan pada marga istri seperti Lambok Simanjuntak, Dedi Hehan Sormin, dan Saut Ritonga memiliki istri bermarga Pasaribu. Begitu juga dengan Irjon hasibuan yang ibunya bermarga Pasaribu.
Berikut ini adalah wawancara saya dengan Bapak Pintoruli Pasaribu yang saya temui di rumahnya.
Gambar 3 : Bapak Pintoruli Pasaribu
“Namanjabat di kantor desa dihutaon godang marga Pasaribu alana marga Pasaribu do donganhu tikki pemilihan naujui, marga naasing ipe namanjabat ai keluarga sian marga Pasaribu doi sude ( yang menjabat di kantor desa banyak dari marga Pasaribu karena pada masa pemilihan waktu itu marga Pasaribunya yang mendukung saya, marga lain yang menjabat itu juga merupakan keluarga dari marga Pasaribu juga)”
Hasil wawancara diatas memberikan informasi yang sangat penting terkait adanya pengaruh pertarungan primordialisme marga dalam pemilihan kepala Desa Garoga Sibargot terhadap latar belakang orang-orang yang menjabat di kantor pemerintahan desa. Jabatan kepala desa yang dijabat marga Pasaribu menunjukkan rasa primordialnya dengan
menempatkan orang-orang yang tergolong kelompok marganya dalam pemerintahan desa.
4.2 Tingkat Perekonomian Masyarakat Desa Garoga Sibargot
Perekonomian suatu daerah meningkatkan atau mempercepat laju pertumbuhan ekonomi di daerahnya. Sumber perekonomian masyarakat Desa Garoga Sibargot sebagian besar berasal dari pertanian. Hal ini sangat terlihat dari segi pendapatan masyarakat Garoga Sibargot masih dibawah rata-rata. Sumber daya modal yang dimiliki oleh masyarakat disana menjadi penghalang berkembangnya perekonomian di sektor pertanian. Sebagian besar petani Desa Garoga Sibargot membeli pupuk dengan cara bayar pada saat panen dikarenakan karena tidak memiliki modal. Namun tidak semua masyarakat petani yang ada disana dipercayai oleh para toke-toke pemilik modal. Pemilik modal memberikan bahan-bahan pertanian seperti pupuk, bibit, maupun racun untuk rumput kepada petani yang menjadi langganannya.
Sebagian besar perekonomian masyarakat petani Garoga Sibargot sangat bergantung kepada pemilik-pemilik modal disana. Hubungan antara petani dengan pemilik modal Desa Garoga Sibargot berdasarkan kekerabatan berlatarbelakang marga mereka masing-masing. Tetapi ada juga hubungan kekerabatan antara petani dengan pemilik modal berdasarkan karena kedekatan dalam hubungan sehari-hari. Karena kekurangan modal para petani Garoga Sibargot pada saat panen telah tiba membuat mereka banyak yang langsung menjual semua hasil tani mereka
ke toke-toke yang ada disana seperti padi. Ketersediaan bahan pangan yang berkurang dikarenakan langsung menjual hasil panen, membuat sebagian masyarakat petani mengharapkan bantuan pemerintah berupa beras miskin (raskin).
Bantuan dari pemerintah pusat ke daerah pasti melaui camat dan dilanjutkan kepada kepala desa kemudian disalurkan kepada masyarakat.
Bantuan raskin ini ditujukan kepada masyarakat miskin atau kurang mampu. Namun, karena terjadinya pertarungan marga pada pemilihan kepala desa pada tahun 2015 yang lalu, membuat terjadinya kerenggangan diantara masyarakat Garoga Sibargot maupun antara kepala desa dengan anggota masyarakatnya. Terjadinya pertarungan primordialisme ini juga membuat kepala desa terpilih lebih memperhatikan marga Pasaribu dibandingkan dengan marga-marga lain terlebih yang memihak pada saingannya pada pemilihan kepala desa tahun lalu.
Pembagian raskin yang diberikan oleh pemerintah kepada masyarakat miskin menjadi kurang efektif, karena kepala desa lebih mengutamakan kepada anggota masyarakat yang bermarga Pasaribu, dan juga marga lain yang memilihnya. Padahal dari segi ekonomi, kehidupan marga Pasaribu yang diutamakan oleh kepala desa tersebut lebih berada dibandingkan dengan masyarakat yang memilih marga Tambunan pada saat pemilihan.
Maka dalam hal ini pertarungan primordialisme marga pada pemilihan kepala desa di Garoga Sibargot mengakibatkan banyak hal dalam
kehidupan masyarakat seperti penyaluran sumbangan perekonomian yang diberikan oleh pemerintah.
Salah satu hasil wawancara saya dengan masyarakat Desa Garoga Sibargot tentang pengaruh pertarungan primordialisme terhadap kehidupan mereka. Informan saya adalah Bapak Sahat Sinurat :
Gambar 4 : Bapak Sahat Sinurat
“ Alani pemilihan narahai gabe taridama dibantuan ni pamaretta, akka pengurusan surat-surat, maccam mai. Heama marcerita dongan tuau, imada naeng mangido boras raskin, alana imana dg mamillit kepala desa i narahai gabe dibaen ma alusna, akka naung terdaftar hian do asa boi manjalo boras i.(
karena pemilihan waktu lalu terlihatlah pengaruhnya di bagian bantuan pemerintah, pegurusan surat-surat, masih banyak lagi.
Pernahlah ada seseorang yang cerita, dia mau minta beras raskin, karena pada pemilihan kemaren dia tidak memilih kepala desa tersebut, dia tidak dikasih raskin dan mengatakan bahwa yang berhak mendapat raskin tersebut adalah orang-oran yang telah terdaftar kian)”
Pada wawancara ini, dapat ditarik kesimpulan bahwa karena adanya pertarungan pada pemilihan kepala di Desa Garoga Sibargot. Masyarakat yang dulunya pada pemilihan kepala desa tidak memilih kepala desa yang sekarang, kepala desa tersebut membalaskan dendamnya dengan tidak memperdulikan orang yang tidak berpihak kepadanya. Padahal yang kita ketahui tentang pertarungan harus ada yang kalah dan harus ada juga yang menang.
4.3 Interaksi Sosial Masyarakat Desa Garoga Sibargot
Pertarungan primordialisme marga dalam pemilihan kepala Desa Garoga Sibargot ternyata berdampak hingga kepada interaksi masyarakat desa dalam kehidupan sehari-hari. Kekuatan hubungan kekerabatan berdasarkan marga pada masyarakat desa itu sangat kuat. Calon kepala desa hanya dua, tetapi karena status marga yang berbeda maka ujung-ujunya sampai kepada kehidupan masyarakat biasa. Hal itu memang tidak dapat dihindari terlebih dalam kehidupan orang batak yang tinggal di desa yang tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan bersama dan kedekatan hubungan melalui identitas marga.
Pemilihan kepala desa yang diikuti dua calon dengan marga yang berbeda menyebabkan timbulnya perang politik. Sebenarnya yang berkempetisi dan bersaing menjadi kepala desa adalah marga Tambunan dan Pasaribu, namun pada kenyataannya telah terjadi pertarungan identitas marga. Artinya seluruh marga Tambunan beserta dengan
kerabat-kerabatnya dan seluruh marga Pasaribu beserta kerabat-kerabat-kerabatnya bersama-sama menujukkan kekuatan marganya masing-masing. Dalam pemilihan tersebut marga Tambunan berusaha merebut kekuasan dalam pemerintahan desa dari marga Pasaribu sebagai marga yang pada hakikatnya berpengaruh di Desa Garoga Sibargot.
Interaksi sosial masyarakat Desa Garoga Sibargot berubah total setelah terjadi pemilihan kepala desa. Kehidupan masyarakat desa yang dulunya nyaman dan rukun antara kelompok-kelompok marga yang berbeda sekarang telah hilang.
Sistem kehidupannya sudah menjadi seperti sistem kehidupan masyarakat kota, yang bertetangga saling menunjukkan kemampuan dirinya dan terjadi diskomunikasi. Kehidupan masyarakat desa yang kental dengan adat serta hubungan komunikasi yang baik tidak lagi tercermin dalam kehidupan masyarakat Desa Garoga Sibargot. Berikut ini adalah sebuah penuturan seorang warga desa yang saya kutip dan saya rasa penting untuk melengkapi data penelitian ini. Namun warga tersebut tidak ingin identitasnya disebutkan, beliau takut nanti ada yang merasa tidak terima dengan pernyataan-pernyataan yang disampaikannya.
“Parngoluon di desa on dang bagak be songon naujui.
Sude i holan alani pemilihan kepala desa nalewat. Dang adong be hasadaon diakka hadameon. Namartetangga pe dang bagak be komunikasina apalagi namarsahuta. Alai akka jolma on ma naso sadar. Ikkon marsaing sehat do asa denggan attong, on daong. Dua halak do nacalon alai sude jolma dihuta on gabe dua kubuma. Pastina kubu ni marga Tambunan dohot kubu ni marga Pasaribu dang be boi juppang. Molo nipikkiran sebenarnya sama-sama
salah do akka prinsip ni jolma on. Marga Pasaribu rohana ikkon halaki ma nian toru gabe kepala desa di huta on. Hape sasittongna dang boi songoni attong, molo pe adong marga nalain gabe calon kepala desa, ikkon terima do marga Pasaribu. (kehidupan masyarakat desa ini tidak lagi seperti yang dulu. Semua itu karena pemilihan kepala desa yang kamarin. Kasatuan dan kedamaian sudah tidak ada lagi. Kehidupan bertetangga tidak terjalin dengan baik, apalagi kehidupan dengan masyarakat satu desa. Terkadang orang-orang di desa ini tidak sadar. Harusnya persaingan sehatlah yang baik.
Dua orang yang menjadi calon kepala desa tetapi seluruh masyarakat desa ini terpecah menjadi dua kubu. Kubu marga Tambunan dan kubu marga Pasaribu pasti bertentangan. Kalau dipikir-pikir prinsip orang-orang di desa ini salah. Marga Pasaribu mengkehendaki harus mereka selalu menjadi kepala desa. Hal seperti itu tentunya tidak boleh, mereka harus terima kalau ada calon dari marga lain.”
4.4 Interaksi Budaya Masyarakat Desa Garoga Sibargot
Interaksi yang baik diantara anggota masyarakat akan menciptakan sebuah jalinan kekerabatan yang baik juga. Dalam kehidupan masyarakat Batak Toba interaksi hal yang penting dalam setiap ada kegiatan yang formal maupun nonformal akan melibatkan interaksi antara pihak yang berkepentingan dengan masyarakat luas. Interaksi yang terjadi misalnya interaksi sosial maupun budaya.
Interaksi budaya masyarakat Garoga Sibargotakan terlihat pada saat ada acara adat perkawinan dan pesta saur matua. Namun setelah tejadi pertarungan politik yaitu pertarungan pada pemilihan kepala desa interaksi budaya di Desa Garoga Sibargot mengalami perubahan. Dimana pada masa sebelum terjadinya pertarungan antara marga Pasaribu dengan marga
Tambunan pada waktu pemilihan kepala desa tahun 2015 yang lalu, setiap ada acara adat disetiap anggota masyarakat Garoga Sibargot natua-tua nihuta beserta marga Pasaribu selalu menghadiri pesta tersebut. Tapi setelah terjadinya pertarungan tersebut setiap ada pesta adat yang dibuat oleh pihak yang memilih marga Tambunan natua-tua nihuta yang berasal dari marga Pasaribu hanya sebagian saja yang menghadirinya begitu juga marga Pasaribu yang ada di Desa Garoga Sibargot.
Perubahan yang terjadi akibat pertarungan primordialisme tersebut terus berlanjut sehingga membuat keakuran diantara masyarakat menjadi berkurang. Hasil wawancara dengan ibu Romasta Simatupang sebagi informan yang berasal dari keluarga marga Tambunan menyatakan :
Gambar 5 : Ibu Romasta Simatupang
Najolo sebelum pemilihanon bere, denggando iba tu sude akka marga Pasaribu na adong dihutaon alai alani pemilihan nataon 2015 i gabe maralo maiba. Alana homajo marpikir leleng dihutaon lalap holan marga Pasaribu calon kepala desa, asa tabaen jo perubahan. Asa tabereng jo muse hasadaon ni marga Pasaribu mangalo au”. Alana naung songoni didok imana tuau ba huolohon ma, alana mulai sian namarsahit tulangmu nahinan sampe tu namate godangdo dibantu imana iba. Pas pemilihan narahai alana dang adong olo mambagihon lappet on pas pemilihan narahai gabe auma mambagi. Alani i gabe sogo hian do pamerengan ni marga dialusi imana do nian au, olo akkang. Dung saema pemilihan roma dabah adong marga Pasaribu dijumpangi ma anakku, talu do bah calon munai ateh ninnama alai songonna mangasangi. Baru hubege muse adong hata ni Pasaribu dang boi ninna au pajongjong adat dihuta on dohot dang ro marga Pasaribu molo pas adong ulaon diau. Alai pas pesta ni anakku nabulan 5 mai gabe dang piga be ro natua-tua sian marga Pasaribu (Dulu sebelum pemilihan baiknya hubunganku dengan marga Pasaribu yang ada dikampung ini, tapi setelah pemilihan itu jadi ada perselisihan. Kamu lah dulu berfikir apabila ada kawanmu yang mau naik jadi kepala desa pasti kamu mendukungnya. Tapi sebelum pemilihan saya pernah berkata kepada Pak Sanggam(Marlan Tambunan) apakah kamu sudah memikirkan ini? Karena kita pendatangnya disini. Dia pun berkata “sudah ka, lagian kita sudah lama disini. Hanya marga Pasaribu terus yang menjadi kepala desa disini, kita buat dulu perubahan. Biar kita lihat juga kekompakan marga Pasaribu mengalahkan saya”.
Karena dia berkata seperti itu, saya pun berkata baiklah kalau begitu, karena mulai dari pamanmu sakit sampai meninggal dunia dia banyak memberikan bantuan kepada saya. Karena kemarin pada saat pemilihan tidak ada yang mau membagikan lempat, terpaksa saya jadi turun tangan.
Karena hal itu, marga Pasaribu menjadi benci kepada saya.
Setelah penghitungan suara selesai dan dimenangkan oleh marga Pasaribu, saya langsung berkata kepada Marlan Tambunan “ kamu sudah melihat seperti apa kekompakan marga Pasaribu pada pemilihan ini kan, jadi gausah buat keributan karena kamu kemaren berkata seperti itunya kepada saya”. Setelah pemilihan selesai datanglah seorang dari marga Pasaribu medatangi anak saya dan berkata “ kalah kan calon kalian itu ” dengan logat bahasa mengundang keributan. Baru setelah kejadian itu, saya mendengar kabar bahwa saya tidak bisa mengadakan pesta dikampung ini dan mara Pasaribu pun tida akan datang ke acara yang saya buat. Perkataan itu memang tidak terbukti sepenuhnya pada saat acara pernikahan anakku, tapi natua-tua dari marga Pasaribu hanya sebagian yang datang ke pesta itu dan marga Pasaribu yang ada disini pun sedikit yang datang menghadiri pestanya.)
Dari hasil wawancara diatas dengan salah satu informan dari marga Tambunan mengatakan bahwa karena pertarungan primordialisme marga pada saat pemilihan kepala desa tahun 2015 lalu mengakibatkan interaksi kebudayaan banyak mengalami perubahan. Dimana orang-orang ynag tidak memilih calon kepala desa dari marga Pasaribuakan mendapatkan serangan dan ancaman dalam kehidupan sehari-hari. Pengaruh pertarungan tersebut menjadikan konflik diantara warga masyarakat Garoga Sibargot seperti pada saat melaksanakan pesta adat pernikahanan yang dimana pesta adat itu tidak terlepas dari kehidupan sehari-hari mereka.
Primordialisme merupakan hal yang paling tering dilihat pada saat terjadinya pertarungan politik diberbagai wilayah terlebih didaerah pedesaan. Karena kelompok lokal marga yang jumlahnya paling banyak akan selalu mempunyai power (kekuatan atau kekuasan) dibangdingkan
dengan marga pendatang ataupun yang jumlahnya lebih sedikit.
Kelompok marga lokal biasanya bebas melakukan apa saja dikampungnya sendiri, contohya seperti apabila seseorang membuat kesalahan yang merupakan anggota kelompok marga lokal maka dia akan dimaafkan begitu saja. Begitu juga sebaliknya, apabila seseorang yang merupakan orang pendatang ke wilayah tersebut melakukan kesalahan maka dia akan diberi hukuman oleh pemilik desa tersebut yaitu marga lokal bahkan akan diberi sangsi seperti diusir dari desa tersebut.
4.5 Kepemilikan Tanah
Status kepemilikan tanah menjadi bukti tertulis yang mendapat pengakuan hukum. Keseluruhan hak atas tanah dibukukan dalam bentuk sertifikat yang dikeluarkan oleh Badan Pertanahan Nasional (BPN).
Pemilikan tanah diawali dengan menduduki suatu wilayah oleh suatu masyarakat adat yang kemudian disebut tanah komunal ( tanah milik bersama). Di wilayah pedesaan, tanah diaukui oleh hukum adat tidak tertulis baik berdasarkan hubungan keturunan dan wilayah. Pemilikan tanah adat dalam suatu wilayah dimiliki oleh orang yang pertama ke wilayah tersebut.
Kepemilikan tanah di Desa Garoga Sibargot merupakan hak tanah yang dimiliki oleh penguasa yaitu marga Pasaribu karena marga inilah yang pertama datang ke wilayah itu pada zaman penjajahan Belanda.
Seiring dengan perkembangan zaman orang-orang berdatangan ke Desa
Garoga Sibargot dengan berbagai kepentingan masing-masing, terutama dalam kepentingan pekerjaan.
Status kepemilikan lahan di Desa Garoga Sibargot terbagi dalam tiga bagian yaitu milik rakyat, milik desa dan milik pemerintah. Dengan luas sebagai berikut:
Milik rakyat : 840 Ha
Milik desa : 150,25 Ha
Milik pemerintah : 209,25 Ha
Luas lahan kepemilikan tanah yang dimiliki oleh rakyat jauh berbeda dengan luas tanah yang dimiliki desa dan pemerintah. Dari angka diatas menunjukkan bahwa luas tanah dimiliki oleh rakyat. Namun rakyat yang dimaksud dalam angka merupakan milik penguasa tanah ulayat yaitu marga Pasaribu. Masyarakat pendatang yang tinggal di desa tersebut membeli tanah dari marga Pasaribu untuk dibangun rumah untuk tinggal mereka. Karena sebagian besar masyarakat Desa Garoga Sibargot adalah petani maka tanah lebih banyak digunakan untuk lahan pertanian, seperti lahan pertanian jagung, padi, cabe, karet, dan sebagainya. Lahan pertanian yang digunakan oleh masyarakat Garoga Sibargot belum sepenuhnya mempunyai surat-surat melainkan hanya kepemilikan secara turun temurun saja dan merupakan milik dari penguasa di desa itu.
Setelah terjadinya pertarungan primordialisme marga pada pemilihan kepala desa yang baru terjadi pada tahun 2015, terjadi pertentangan
diantara marga Pasaribu dengan marga Tambunan dan juga marga yang tidak mendukungnya. Dan karena kejadian tersebut marga Pasaribu mengadakan rapat untuk menarik semua lahan yang dipakai oleh
diantara marga Pasaribu dengan marga Tambunan dan juga marga yang tidak mendukungnya. Dan karena kejadian tersebut marga Pasaribu mengadakan rapat untuk menarik semua lahan yang dipakai oleh