• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bab I Pendahuluan

1.6. Metodologi Penelitian

1.6.2. Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode etnografi5, yaitu bertujuan untuk menjelaskan secara terperinci bagaimana primordialisme marga dalam pemilihan kepala desa di Desa Garoga Sibargot. Penelitian ini memberikan gambaran bagaimana proses pertarungan marga dalam pemilihan kepala desa yang terjadi dalam beberapa tahun belakangan ini.

Dalam penelitian pertarungan primordialisme marga dalam pemilihan kepala desa di Garoga Sibargot Kecamatan Garoga Kabupaten Tapanuli Utara ini, saya menggunakan beberapa cara dalam menghimpun dan mengumpul data, antara lain:

a) Metode Observasi

Peneliti melakukan pengumpulan data dengan cara melakukan pencatatan secara cermat dan sistematik. Cara pengumpulan data yang dialamai oleh penulis bukanlah mudah karena penelitian ini merupakan sebauh pertarungan diantara marga yang baru terjadi 2 tahun yang lalu.

Metode yang digunakan peneliti adalah metode observasi yang dilakukan dengan mengamati secara langsung bagaimana pertarungan

5Metode Etnografi merupakan suatu strategi pencapaian dalam mendeskripsikan tentang fenomena-fenomena sosial budaya.

primordialisme marga dalam pemilihan kepala desa di Garoga Sibargot Kecamatan Garoga Kabupaten Tapanuli Utara.

Dalam metode ini penulis melakukan pengamatan terhadap pertarungan marga, seperti bagaimana marga Tambunan dan marga Pasaribu yang ada disana mencari pendukung untuk calon yang akan dicalonkannya yaitu untuk mengamati dan mengetahui apa saja strategi yang dijalankan supaya memenangkan pertarungan tersebut. Dalam metode ini peneliti bukan hanya melakukan pengamatan menggunakan panca indra saja tetapi juga akan mencatat dan mendokumentasikan (merekam atau mengambil foto) hal-hal penting yang berhubungan dengan judul penelitian.

b) Metode wawancara

Tujuan peneliti melakukan metode ini adalah untuk menggali informasi terkait judul penelitian. Dengan cara seperti ini maka peneliti akan meyimpulkan bagaimana kebenaran isu yang dimunculkan dalam masalah penelitian serta memastikan kebenaran teori. Selain melakukan observasi, peneliti melakukan wawancara6 dengan marga-marga mengenai bagaimana pendapat mereka tentang pertarungan primordialisme marga, hal yang dirasakan dengan kejadian tersebut, serta efek yang terjadi karena pertarungan primordialisme marga tersebut.

6Wawancara merupakan suatu proses memperoleh keterangan atau data untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara si peneliti dengan objek penelitian.

Selain wawancara dengan marga Tambunan dan Pasaribu tersebut, peneliti melakukan wawancara mendalam dengan masyarakat yang berada di Desa Garoga Sibargot, seperti wawancara dengan beberapa tokoh-tokoh adat dan juga organisasi kepemudaan yang ada di Desa Garoga Sibargot.

Waktu yang dibutuhkan oleh peneliti dalam menyelesaikan penelitian ini berkisar 2 bulan, yaitu pertengahan bulan Desember 2017 sampai akhir bulan Januari 2018.

c) Dokumen

Disamping melakukan pengamatan langsung, saya juga telah mengutip data berupa dokumen-dokumen dari beberapa instansi terkait. Sebagian besar data penelitian ini saya kutip dari dokumen tahunan Kantor Kepala Desa Garoga Sibargot.

1.7. Pengalaman Penelitian

Waktu yang penulis habiskan dalam menyelesaikan penelitian ini tentu tidaklah sedikit. Dimulai dari pengajuan judul, penulisan proposal, penelitian lapangan sampai penulisan skripsi ini. Oleh karena itu, kesabaran penulis sungguh diuji ketika menghadapi Dosen Pembimbing, Ketua Jurusan, Pegawai Administrasi serta dalam menghadapi masyarakat ketika penelitian berlangsung. Dengan demikian saya beranggapan bahwa penelitian ini merupakan sebuah ajang pendewasaan diri.

Dalam menjalani bimbingan dengan Ibu Dra. Rytha Tambunan M,Si selaku dosen pembimbing saya, saya cukup senang dan banyak bersabar.

Karena saya menyadari bahwa bukan hanya saya yang harus diurus, maka saya juga tidak terlalu memaksakan diri untuk bimbingan terus-menerus dengan beliau. Kesibukan beliau dikampus dan diluar kampus membuat saya enggan untukuntuk terus menemuinya. Walau terkadang rasa enggan tersebut membuat saya dimarahi.

Waktu penulisan proposal hingga penulisan hasil penelitian inimemang hampir 12 bulan. Waktu yang sekian banyaknya habis sesungguhnya bukan karena sulitnya menghadapi atau karena diperlama Dosen Pembimbing. Pada saat judul saya di acc oleh ketua jurusan, saya tidak langsung mengerjakan proposal penelitian saya karena masih ada 6 mata kuliah saya yang harus diselesaikan pada semester akhir. Pada bulan juni, kaki saya hampir patah karena bermain sepakbola dikampung kelahiran saya yaitu Desa Garoga Sibargot. Setelah kejadian tersebut, semangat saya untuk mengerjakan skripsi ini menjadi berkurang, karena dalam benak saya hanya berfikir ”untuk apa saya siapkan skripsi kalau kaki patah” rasa itulah yang menjadikan skripsi ini lama diselesaikan.

Setelah kaki saya mulai sembuh, pada akhir bulan agustus saya mulai mengerjakan proposal penelitian. Dalam pengerjaan proposal penelitian ini saya diajarkan untuk bersabar dan banyak bertanya tentang apa yang tidak saya ketahui kepada dosen pembimbing. Saya juga membutuhkan waktu yang lama untuk menyelesaikan proposal yaitu sekitar 2 bulan lebih. Selama dua bulan tersebut proposal saya revisi sampai 5 kali.

Setelah proposal penelitian saya di acc oleh pembimbing saya

menyerahkan proposal itu ke jurusan antropologi dengan maksud untuk mendapat surat lapangan penelitian. Karena surat penelitian tidak langsung keluar, saya memutuskan untuk penelitian tanpa dilengkapi dengan surat lapangan. Setelah saya sampai dilapangan penelitian, saya langsung menjumpai kepala desa untuk memberi tahu bahwa inginmmelakukan penelitian, karena daerah penelitian tersebut merupakan kampung halaman penulis sendiri. Saya langsung dikasi izin oleh kepala desa untuk melakukan penelitian di desa tersebut yaitu Garoga Sibargot.

Pengalaman ketika berada di lapangan penelitian cukup menarik dan cukup bersabar. Awal pertama saya ke lapangan tidak langsung untuk melakukan wawancara kepada masyarakat yang ada di desa tersebut melainkan hanya berbincang-bincang saja. Namun, bagi sebagian yang mengenal saya, mereka langsung bertanya kepada saya dengan bahasa toba” bah, dang naung wisuda ho tahe (bah, bukannya sudah wisuda kau)“

dengan pertanyaan itu, saya pun langsung menjawab tahun ini lah. Cara yang saya lakukan ini adalah salah satu cara saya untuk mengembangkan rapport kepada mereka. Saya yang mengerti dan mampu menggunakan bahasa Batak Toba membuat interakasi dengan masyarakat dan informan cukup mudah. Mengerti sedikit tentang marga dan partuturan merupakan modal ketika menghadapi masyarakat.

Setelah beberapa hari hanya melakukan perbincang-bincangan dengan masyarakat, saya mulai maksud dan tujuan saya datang ke desa itu.

Setelah saya berjumpa dengan berbagai informan, saya langsung bertanya

tentang pemilihan kepala desa pada tahun 2015 yang lalu. Bagi informan yang berasal dari marga Pasaribu langsung menjawab pertanyaan saya sesuai dengan apa yang saya tanyakan. Tetapi bagi informan yang berasal dari marga-marga yang lain mereka enggan memberikan jawaban kepada saya. Saya pun disitu tidak memaksakan mereka untuk menjawabnya, dan saya berfikir untuk melajutkannya esok harinya.

Beberapa hari setelah menjumpai informan dari marga-marga yang lain, saya memberitahukan kepada mereka bahwa tujuan saya menanyakan hal tersebut untuk keperluan data skripsi saya. Dengan susah payah saya memastikan bahwa wawancara diantara kami akan saya jaga kerahasiaannya mereka kemudian mau memberikan jawaban sesuai data yang saya butuhkan. Kemudian saya melanjutkan perjalanan untuk mencari informan yang lain, karena saya mencari informan dihari kerja sehingga informan yang saya butuhkan pun tidak bisa saya jumpai karena mayoritas informan saya bekerja sebagai petani. Saya pun melanjutkan penelitian saya dihari libur yaitu hari minggu.

Setelah menjumpai informan dari kalangan masyarakat biasa, kemudian saya melanjutkan untuk wawancara dengan berbagai aparat desa, natua-tua nihuta (orang yang dituakan) maupun calon kepala desa terpilih dan juga calon kepala desa yang kalah. Pertama saya menjumpai natua-tua nihuta yang bermarga Pasaribu yaitu Monang Pasaribu, karena beliau sudah kenal dengan saya dan kami masih saudara dekat, saya langsung membertahunya tentang tujuan saya menjumpainya. Setelah

berbincang-bincang dengannya, saya pun diajak masuk ke rumahnya untuk melanjutkan wawancara kami. Sebelum melanjutkan perbincangan kami, abang itu menawarkan saya untuk minum kopi atau teh manis, perbincangan kami pun ditemani dengan minum kopi hangat. Disana beliau banyak bercerita kepada saya tentang mulai terbentuknya desa Garoga, datangnya marga Pasaribu ke desa itu sampai sejarah kepemimpinan marga Pasaribu di desa itu. Setelah saya mendapatkan data yang saya butuhkan dari abang itu, saya pun kemudian pamit untuk pulang karena tidak ingin juga mengganggu banyak waktunya.

Kemudian di hari berikutnya saya melanjutkan wawancara dengan natua-tua nihuta dari marga lain dan juga calon kepala desa terpilih maupun calon kepala desa yang kalah. Namun, kejanggalan muncul pada saat menjumpai calon kepala desa yang kalah yaitu Marlan Tambunan.

Pada saat itu, beliau tidak begitu respon kepada saya, tapi setelah saya memberitahukan maksud saya melakukan wawancara dengannya dia mulai merespon saya dan mengajak berbicara di dalam rumahnya. Tapi walaupun beliau mau saya wawancarai, beliau terus bilang saya bahwa data ini rahasia dan jangan sampai bocor kepada marga Pasaribu sebagai marga lokal di desa itu.

Proses pengumpulan data saya lanjutkan ke berbagai instansi pemerintahan Kecamatan Garoga dan aparat desa yaitu kantor kepala desa, kantor camat, serta sekretaris desa. Karena kebetulan saya merupakan warga Desa Garoga Sibargot data yang saya minta untuk

keperluan skripsi saya tidak dipersulit oleh pemerintah maupun aparat desa disana.

Setelah semua data yang saya butuhkan terkumpul, maka saya mencoba menganalisisnya. Data-data yang saya peroleh dari lapangan ataupun dari sumber-sumber tertulis saya gabungkan. Penulisan skripsi ini menurut saya bukanlah hal yang sulit untuk dilakukan, tetapi kesabaran dan ketelitian sungguh sangat dituntut. Penulisan skripsi ini tentu tidak lepas dari iringan doa yang selalu saya sampaikan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar tetap memberikan kesehatan serta kesabaran hingga skripsi terselesaikan.

BAB II

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

2.1. Sejarah Desa Garoga Sibargot

Pada masa penjajahan Belanda wilayah Keresidenan Tapanuli yang berpusat di Padang Sidimpuan dan Sibolga, dimana Belanda membagi pemerintahan dengan sebutan “nagari”, salah satu diantaranya

“nagari garoga”. Selanjutnya nagari garoga membagi wilayah pemerintahan menurut wilayah desa, yang disebut Huta (desa), salah satu diantaranya adalah Desa Garoga Sibargot.

Desa Garoga Sibargot sudah ada sejak jaman penjajahan Belanda, dimana desa ini didirikan oleh tokoh masyarakat sekaligus pemilik Desa Garoga Sibargot yaitu marga Pasaribu sampai kepada keturunannya. Di dalam desa ini terdapat tujuh dusun yaitu; dusun Bulu Payung, dusun Sibargot, dusun Aek Horsik, dusun Pagaran Padang, dusun Natumingka, dusun Pasar Garoga, dusun Parluasan. Semua dusun tersebut dibawah naungan Garoga Sibargot.

Pada masa itu, yang menjalankan roda pemerintahan adalah tokoh masyarakat yang dipilih oleh masyarakat sebagai kepala kampung yang hingga tahun ke tahun berganti. Perkembangan Desa Garoga Sibargot, secara demografi sangat pesat, dimana populasi penduduk semakin berkembang, khususnya marga Pasaribu dan ditambah anak rantau marga-marga lain yang datang ke desa tersebut.

Sebelum datangnya agama ke daerah Garoga, para leluhur mereka menyembah Mula Jadi Nabolon dengan cara membuat sebuah gubuk-gubuk kecil, pada umumnya gubuk-gubuk-gubuk-gubuk itu berada di bawah pohon beringin (dalam bahasa Batak Toba disebut hau hariara). Masyarakat Garoga menggunakan gubuk tersebut untuk meminta pertolongan kepada Mula Jadi Nabolon. Namun, seiring berjalannya waktu, agama datang ke Garoga Sibargot yaitu agama Islam dan Kristen.

Pada waktu itu, masyarakat Garoga Sibargot terlebih marga Pasaribu memasuki agama tersebut, sebagian masuk ke Islam dan sebagian lagi masuk Kristen. Karena pada waktu itu mereka tidak tahu apa itu agama Islam dan apa itu agama Kristen, mereka hanya masuk ke dalam agama tersebut hanya untuk ingin tahun saja. Gereja yang pertama kali masuk ke Kecamatan Garoga adalah greja HKBP, oleh karena itu penduduk desa itu lebih banyak yang beragama Kristen daripada yang beragama Islam.7

2.2. Letak dan Keadaan Garoga Sibargot

Kabupaten Tapanuli Utara secara geografis terletak di antara 1020- 2041‟ Lintang Utara dan 98005' – 99016' Bujur Timur dan berbatasan dengan Kabupaten Labuhan Batu di sebelah timur, Kabupaten Humbang Hasundutan dan Tapanuli Tengah di sebelah barat, Kabupaten Toba Samosir disebelah utara, dan di sebelah selatan berbatasan dengan

7Wawancara dengan Monang Pasaribu, salah satu ketua adat dari marga Pasaribu (20 desember 2017)

Kabupaten Tapanuli Selatan. Kabupaten ini memiliki 15 kecamatan, dengan luas 160.360 ha atau 3,11 % dari luas wilayah Provinsi Sumatera Utara. Salah satu kecamatan yang terluas adalah Kecamatan Garoga.8 Kecamatan Garoga Terletak 300 meter di atas permukaan laut (dpl) dengan luas wilayah kecamatan mencapai 567,58 Km2 dengan jumlah penduduk 15.906 jiwa.

Kecamatan ini berjarak ± 77 Km dari kantor Bupati Tapanuli Utara dengan waktu tempuh ± 3 jam. Untuk menuju ibukota kabupaten Tapanuli Utara, masyarakat kecamatan Garoga harus melalui 2 kecamatan yaitukecamatan Pangaribuan dan kecamatan Sipahutar. Kecamatan Garoga terdiri dari 13 nagori atau desa.

Adapun nagori atau desa tersebut adalah Desa Garoga Sibargot, Desa Gonting Garoga, Desa Sibalanga, Desa Parmanuhan, Desa Parsosoran, Desa Gonting Salak, Desa Lontung Jae I, Desa Lontung Jae II, Desa Parinsoran, Desa Sibaganding, Desa Padang Siandomang, Desa Sirpang Bolon, dan Desa Aek Tangga.

Penelitian terfokus di Desa Garoga Sibargot. Desa ini merupakan salah satu desa yang ada di Kecamatan Garoga, Kabupaten Tapanuli Utara, Provinsi Sumatera Utara. Desa ini memiliki luas wilayah 6.000 Ha atau 74,25 Km2. Jarak dari kota Medan ke Garoga Sibargot sebagai pusat pemerintahan kecamatan Garoga sekitar 332 km dan dapat ditempuh dengan bus selama 12 jam. Selain pusat administrasi, Desa Garoga Sibargot juga sebagai pusat pasar, pusat pendidikan, pusat kesehatan, dan

8Sumber: Badan Pusat Statistik Kabupaten Tapanuli Utara tahun 2012

juga pusat aktivitas lainnya. Desa Garoga Sibargot mempunyai tujuh dusun dan luas wilayahnya masing-masing, yaitu:

1. Dusun Bulu Payung : 9,88 Km2 2. Dusun Sibargot : 8,93 Km2 3. Dusun Aek Korsik : 8,55 Km2 4. Dusun Pagaran Padang : 9,64 Km2 5. Dusun Natumingka : 12,37 Km2 6. Dusun Pasar Garoga : 12,99 Km2 7. Dusun Parluasan : 11,89 Km2

Desa Garoga Sibargot masuk dalam wilayah Kecamatan Garoga Kabupaten Tapanuli Utara yang terletak di kota kecamatan. Desa ini mempunyai batas-batas wilayah sebagai berikut :

1. Sebelah utara berbatasan dengan Desa Gotting Garoga.

2. Sebelah selatan berbatasan dengan Desa Batu Bolon.

3. Sebelah timur berbatasan dengan Desa Lontung Jae I.

4. Sebelah barat berbatasan dengan Desa Aek Tangga.

2.3. Asal Muasal Marga Pasaribu di Desa Garoga Sibargot

Sejarah marga Pasaribu di Desa Garoga Sibargot belum ada dari sumber-sumber tertulis yang menyatakan asal muasal marga Pasaribu di desa tersebut, tapi asal muasal ini diketahui dari pemimpin adat yang berasal dari marga Pasaribu. Marga Pasaribu yang bernama Maruhum Bosar Pasaribu sebelumnya tinggal di tempat mertuanya marga

Simatupang yaitu di Parsoburan. Setiap pada saat istrinya mau melahirkan, dia selalu menginginkan perempuan saja yang akan lahir itu, dan ternyata yang lahir adalah bayi laki-laki, setelah mendengar perkataannya itu mertuanya mengatakan kepada dia “ kenapa seperti itu perkataanmu? ”, dia pun menjawab mertuanya “ kalaupun laki-laki yang akan lahir itu, kami tetap menjadi boru dikampung ini”. Kemudian setelah itu, Maruhum Bosar pergi ke Desa Gonting Salak, setelah itu dia pergi ke Desa Lobu Julu atau yang sekarang disebut Desa Gonting Garoga.

Kemudian Maruhum Bosar menikah dengan 5 perempuan dan memiliki 9 anak. Setelah Maruhum Bosar meninggal dunia terdapat perselisihan diantara anak-anaknya yaitu antara anak pertama dengan anak Maruhun yang delapan tersebut, karena perselisihan tersebut anak yang delapan ini pindah ke suatu daerah yang berada di Desa Garoga yaitu Lobu harambir.

Setelah bertempat tinggal disana, masyarakatnya banyak terserang penyakit menular. Karena penyakit itu kemudian mereka memutuskan untuk meninggalkan tempat tersebut dan mencari tempat baru masing-masing. Tujuh keturunan memilih pindah ke Desa Garoga yang sekarang disebut dusun Pasar Garoga, dan yang satu keturunan lagi pindah ke Desa Pangorian9. Sehingga masyarakat Garoga Sibargot lebih banyak yang bermarga Pasaribu dibandingkan dengan marga lain, dan Desa Garoga Sibargot sering juga dikatakan dengan sebutan Huta ni Pasaribu (Pasaribulah yang punya desa). Sehingga mulai terbentuknya Desa

9Wawancara dengan Monang Pasaribu pada tanggal 20 desember 2017

Garoga Sibargot yang menjadi pemimpin atau kepala desa berasal dari marga Pasaribu.

Marga Pasaribu juga memiliki motto dari turun-temurun yaitu

“Huta hutai mandapot raja huta, jabu jabui mandapot jabu bona ( desa yang dibangun adalah milik pemuka desa, rumah yang didukuki adalah miliknya juga)” Sehingga motto inilah yang dianut oleh marga Pasaribu sampai saat ini, karena mereka merupakan marga lokal di Desa Garoga Sibargot.

Desa Garoga Sibargot berkecamatan ke kecamatan Pangaribuan, tapi karena jalan menuju kecamatan Pangaribuan masih rusak parah dan payah dilalui oleh masyarakat, masyarakat Garoga membeli atau belanja sembako ke pasar Borbor yang berada di Parsoburan. Seiring berkembangnya waktu, karena kedekatan ketua adat Garoga dengan pimpinan Hindia Belanda, pada tahun 1968 ketua adat Garoga membuat proposal untuk pengajuan desa GarogaSibargot untuk menjadi sebuah Kecamatan supaya dapat berdikari sendiri. Pada tanggal 23 maret 1969 Garoga terlaksana menjadi sebuah kecamatan yaitu kecamatan Garoga.

2.4. Sejarah Pemerintahan Desa

Nama-nama kepala desa mulai terbentuk Desa Garoga Sibargot:

Tabel 1

Daftar Nama-Nama Kepala Desa Garoga Sibargot N

-1982 Arab Pasaribu Selama – Tahun

3

1982-1999 Juara Pasaribu Selama 16

Tahun 4

1999-2004 Wasinton Pasaribu Selama 5 Tahun 5

2004-2009 Monang Pasaribu Selama 5 Tahun

6

2009-2015 Demar Pasaribu Selama 5 Tahun

7

2015-2021 Pintoruli Pasaribu Selama 5 Tahun Sumber: Data Kepala Desa Garoga Sibarot Tahun 2017

Pada awal pembentukan pemerintahan Desa Garoga Sibargot yaitu pada tahun 1960 kepala desa dipilih berdasarkan pemilihan suara terbanyak. Pada tahun itu, yang menjadi calon kepala desa hanya dari marga Pasaribu. Pemilihan pada saat itu tidak pernah ada konflik diantara marga Pasaribu karena jabatan kepala desa dipilih dengan adanya kesepakatan antara calon yaitu sebelum diadakan pemilihan, sudah ada janji diantara mereka yaitu bahwa siapa yang menang dalam pemilihan itu dan siapa yang kalah tidak akan ada rasa dendam sehingga marga Pasaribu tetap akur. Orang yang dicalonkan menjadi calon kepala desa adalah orang yang dianggap mampu menjadi pemimpin diantara marga Pasaribu.

Tapi, setelah pemilihan kepala desa pada tahun 2004 terjadi konflik diantara marga Pasaribu tersebut. Karena pada pemilihan kepala desa pada

tahun 2004 yang mencalonkan kepala desa adalah adik kandung dari kepala desa tahun sebelumnya yaitu Wasinton Pasaribu.

Kelompok keluarga dari keturunan marga Pasaribu yang ada di desa itu mulai tidak terima dengan cara seperti itu lagi, karena mereka juga menganggap dirinya mampu untuk menjadi pemimpin di desa tersebut. Sehingga terjadi persaingan antara Monang Pasaribu yang merupakan adik kandung dari kepala desa tahun sebelumnya bersaing dengan Bisa Pasaribu yang mrupakan keturunan dari kelompok keturunan marga Pasaribu yang ada di Desa Garoga Sibargot.

Kemudian setelah selesai pemilihan dan penghitungan suara telah selesai dihitung, dan yang memenangkan pemilihan itu adalah Monang Pasaribu konflik diantara mereka pun mulai memanas. Pada saat itu juga mulailah terjadi konflik diantara marga Pasaribu yang ada di desa itu.

Setelah kejadian tersebut Pasaribu menjadi dua bagian, satu bagian dari calon yang menang dan satu lagi bagian dari calon yang kalah.

Konflik itu sangat terlihat pada saat adanya acara adat pernikahan dan pesta saur matua.10 Pada saat ada pesta pernikahan di keluarga Monang Pasaribu itu, marga Pasaribu dari bagian calon yang kalah banyak yang tidak menghadirinya. Hal ini sangat berbeda pada periode sebelumnya, dimana apabila ada kegiatan adat dan kegiatan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari marga Pasaribu selalu bersama-sama menghadirinya.

10Saur matua adalah orang batak yang meninggal dunia dan semua anaknya sudah menikah.

Namun, pada tahun 2006 diadakanlah pesta besar-besaran di Desa Garoga Sibargot berupa syukuran untuk mempersatukan kembali keakuran marga Pasaribu dan mulai saat itu dibuat lah perjanjian tentang kepala desa yaitu setiap 5 tahun sekali diadakannya pemilihan kepala desa, dimana calon dibuat bergilir dari setiap keluarga Pasaribu berdasarkan tingkat keturunan dan kesepakatan itu masih berlaku sampai sekarang ini.

2.5. Persebaran Marga Pasaribu di Desa Garoga Sibargot

Marga Pasaribu yang ada di Garoga Sibargot merupakan keturunan dari Maruhum Bosar Pasaribu yang bertempat tinggal di Desa Lobu Harambir yang sekarang namanya menjadi Desa Gonting Garoga yang mempunyai 9 keturunan, dan 7 keturunannya berpindah ke Desa Garoga Sibargot. Dalam bahasa Batak dikatakan Oppu (keturunan). Tujuh (7) Oppu yang berpindah ke Desa Garoga Sibargot yaitu:

Mulai terbentuknya Desa Garoga Sibargot yang menduduki jabatan pemerintahan desa atau disebut juga kepala desa selalu diduduki oleh keturunan marga Pasaribu. Namun, pada saat pemilihan kepala desa pada tahun 2005 terjadi konflik diantara marga Pasaribu sehingga jalinan hubungan kekeluargaan menjadi terganggu. Karena kejadian tersebut, pada tahun 2006 marga Pasaribu mengadakan pertemuan besar supaya konflik tersebut tidak terus berlanjut.

Perpecahan tersebut yang dikarenakan oleh pemilihan kepala desa

Perpecahan tersebut yang dikarenakan oleh pemilihan kepala desa