• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN - Peranan Lembaga Adat Pakpak Dairi Sulang Silima Marga Angkat Dalam Pemilihan Kepala Desa Belang Malum Tahun 2011

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN - Peranan Lembaga Adat Pakpak Dairi Sulang Silima Marga Angkat Dalam Pemilihan Kepala Desa Belang Malum Tahun 2011"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Dalam Undang-undang Dasar 1945, pasal 18, ayat 1 dikatakan bahwa, Negara

Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah –daerah provinsi, dari daerah provinsi itu

dibagi atas daerah kabupaten dan kota, yang tiap-tiap provinsi, kabupaten dan kota itu

mempunyai pemerintahan daerah yang diatur dengan undang-undang. Dari pengertian

Undang-undang tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa desa merupakan bagian dari

pemerintahan daerah.

Peraturan perundang-undangan terakhir yang mengatur mengenai desa adalah

Undang-undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Desa memang tidak diatur

dalam suatu undang-undang tersendiri, karena sesuai amanat UUD 1945 secara eksplisit tidak

disebutkan kedudukan pemerintahan desa dalam susunan sistem pemerintahan Negara

Kesatuan Republik Indonesia. Namun demikian, perlu dicermati bahwa dengan

diberlakukannya UU No. 32 tahun 2004 tersebut membawa konsekuensi desa menjadi

terdesentralisasi dan memiliki hak otonom berdasarkan asal-usul dan adat istiadat untuk

mengatur rumah tangganya sendiri dan bertanggungjawab terhadap Bupati atau Walikota.1 Secara historis desa merupakan embrio bagi terbentuknya masyarakat politik dan

pemerintahan di Indonesia. Jauh sebelum negara – bangsa ini terbentuk, entitas sosial sejenis

desa atau masyarakat adat dan lain sebagainya, telah menjadi institusi sosial yang mempunyai

posisi sangat penting. Mereka ini merupakan institusi yang otonom dengan tradisi, adat

1

▸ Baca selengkapnya: apa itu sulang sulang pahompu

(2)

istiadat dan hukumnya sendiri yang mengakar kuat, serta relatif mandiri dari campur tangan

entitas kekuasaan dari luar2

Desa merupakan kesatuan masyarakat hukum yang memiliki kewenangan untuk

mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat berdasarkan asal usul dan adat

istiadat setempat yang diakui dalam pemerintahan nasional dan berada di daerah kabupaten.

Desa juga memiliki kekuasaan untuk menyelenggarakan pemerintahannya sendiri dalam

ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) .

3

Pemerintahan desa, dalam Peraturan Pemerintah No. 72 tahun 2005 tentang Desa,

pasal 1 ayat (6) menyebutkan bahwa Pemerintahan Desa adalah penyelenggaraan urusan

pemerintahan oleh Pemerintah Desa dan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) dalam

mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat yang diakui dan dihormati dalam

sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dengan demikian, dalam

penyelenggaraan pemerintahan desa ada 2 institusi yang mengendalikannya, yaitu Pemerintah

Desa dan Badan Permusyawaratan Desa (BPD).

.Penyelenggaraan pemerintahan desa

harus sesuai dengan Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 pasal 202 tentang pemerintahan

daerah.

Dijelaskan juga dalam Peraturan Pemerintah No. 72 Tahun 2005, bahwa yang

dimaksud dengan Pemerintah Desa atau yang disebut dengan nama lain adalah Kepala Desa

dan Perangkat Desa sebagai unsur penyelenggara pemerintahan desa. Badan

Permusyawaratan Desa (BPD) atau yang disebut dengan nama lain adalah lembaga yang

merupakan perwujudan demokrasi dalam penyelenggaraan pemerintahan desa sebagai unsur

penyelenggara pemerintahan desa.

Pemerintahan desa dipimpin oleh seorang kepala desa. Kepala Desa adalah seorang

tokoh di desa yang memenuhi berbagai persyaratan dan berhasil memenangkan Pemilihan

2

Purwo Santoso. 2003. Pembaharuan Desa Secara Partisipatif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Hal. 36

3

(3)

Kepala Desa. Kepala Desa dipilih oleh rakyat desa yang telah memiliki hak memilih dan

dipilih secara langsung. Syarat dan tata cara pemilihannya diatur dalam peraturan daerah

yang berpedoman pada Peraturan Pemerintah No. 72 Tahun 2005 pasal 51 ayat 1 Kepala

Desa Terpilih dilantik oleh Bupati/Walikota paling lama 15 (lima belas) hari terhitung

tanggal penerbitan keputusan Bupati/Walikota.

Pemilihan kepala desa merupakan pesta rakyat, dimana pemilihan kepala desa dapat

diartikan sebagai suatu kesempatan untuk menampilkan orang-orang yang dapat melindungi

kepentingan masyarakat desa.4 Masyarakat desa memiliki kesempatan untuk memilih secara langsung siapa yang akan menjadi pemimpin di desanya. Pemilihan Kepala Desa tidak lepas

dari partisipasi politik masyarakat desa. Partisipasi politik pada hakikatnya sebagai ukuran

untuk mengetahui kualitas kemampuan warga negara dalam menginterpretasikan sejumlah

simbol kekuasaan (kebijaksanaan dalam mensejahterakan masyarakat sekaligus

langkah-langkahnya) ke dalam simbol-simbol pribadi. Atau dengan perkataan lain, partisipasi politik

adalah proses memformulasikan ulang simbol-simbol komunikasi berdasarkan tingkat

rujukan yang dimiliki baik secara pribadi maupun secara kelompok (individual reference,

social references) yang berwujud dalam aktivitas sikap dan perilaku5

Pemilihan Kepala Desa pada umumnya mendapat campur tangan dari berbagai pihak

yang memiliki kepentingan. Demikian halnya dengan pemilihan Kepala Desa Belang Malum,

Kecamatan Sidikalang, Kabupaten Dairi yang berlangsung pada bulan April tahun 2011.

Salah satu pihak yang berperan dalam pemilihan kepala desa di Desa Belang Malum adalah

Lembaga Adat Pakpak Dairi, dalam hal ini Sulang Silima Marga Angkat. .

Lembaga adat dapat diartikan sebagai suatu bentuk organisasi adat yang tersusun

relatif tetap atas pola-pola kelakuan, peranan-peranan, dan relasi-relasi yang terarah dan

mengikat individu, mempunyai otoritas formal dan sanksi hukum adat guna tercapainya

4

Duta Sosialismanto. 2001. Hegemoni Negara. Yogyakarta: Lapera Pustaka Utama. Hal. 191

5

(4)

kebutuhan-kebutuhan dasar. Atau dalam pengertian lain lembaga adat adalah suatu organisasi

kemasyarakatan adat yang dibentuk oleh suatu masyarakat hukum adat tertentu mempunyai

wilayah tertentu dan harta kekayaan sendiri serta berhak dan berwenang untuk mengatur dan

mengurus serta menyelesaikan hal-hal yang berkaitan dengan adat6

Sulang Silima Marga Angkat adalah salah satu dari tiga Lembaga Adat Pakpak yang

ada di Kecamatan Sidikalang bersama Sulang Silima Marga Ujung, dan Sulang Silima Marga

Bintang. Ketiga lembaga adat tersebut merupakan pemegang hak ulayat di Kecamatan

Sidikalang, Kabupaten Dairi. Desa Belang Malum merupakan daerah kekuasaan Marga

Angkat. Desa Belang Malum menjadi tempat berdirinya Tugu Sulang Silima Marga Angkat

dan merupakan tempat sekretariat Sulang Silima Marga Angkat. Sebagian besar masyarakat

di Desa Belang Malum diluar Marga Angkat hanya berhak memakai dan mengolah tanah dan

tanah tersebut sewaktu-waktu bisa dicabut hak pakainya oleh Lembaga Adat Sulang Silima

Marga Angkat.

.

Sulang Silima Marga Angkat sebagai pemangku adat dan pemegang hak ulayat di

Desa Belang Malum menjadi modal yang kuat untuk memainkan peran dalam proses

pemilihan Kepala Desa Belang Malum. Pada Pemilihan Kepala Desa Belang Malum tahun

2011 terdapat ada dua calon Kepala Desa yakni Sahat Hutauruk dan St. Elom Simanungkalit.

Sehat Hutauruk merupakan Kepala desa Belang Malum periode 2006-2011 yang

mencalonkan diri kembali menjadi kepala desa untuk yang kedua kalinya. St. Esrom

Simanungkalit merupakan Sekertaris Desa Belang Malum periode 2006-2011. St. Esrom

Simanungkalit merupakan calon kepala desa yang didukung oleh Sulang Silima Marga

Angkat.

Sulang Silima Marga Angkat menilai bahwa Sehat Hutauruk sebagai kepala desa di

Desa Belang Malum periode 2006-2011 banyak melakukan peyimpangan yang melanggar

6

(5)

aturan Hukum Adat Pakpak. Penyelenggaraan pemerintahan desa oleh Sehat Hutauruk

selama menjabat sebagai kepala desa dinilai jauh dari apa yang dijanjikannya ketika akan

dipilih tahun 2006. Sulang Silima Marga Angkat tidak ingin kalau Sehat Hutauruk kembali

menjabat sebagai Kepala Desa Belang Malum. Untuk mencegah Sehat hutauruk terpilih

kembali maka Sulang Silima Marga Angkat memainkan peran dalam pemilihan Kepala Desa

Belang Malum tahun 2011.

Berdasarkan uraian diatas penulis tertarik untuk meneliti bagaimana peranan Sulang

Silima Marga Angkat dalam proses pemilihan Kepala Desa Belang Malum, Kecamatan

Sidikalang, Kabupaten Dairi. Dengan demikian penulis memberi judul penelitian ini dengan

Peranan Lembaga Adat Pakpak Dairi Sulang Silima Marga Angkat dalam pemilihan Kepala

Desa Belang Malum, Kecamatan Sidikalang, Kabupaten Dairi tahun 2011.

1.2 Rumusan Masalah

Pemilihan kepala desa pada umumnya mendapat campur tangan dari beberapa pihak

yang memiliki kepentingan. Demikian halnya dengan pemilihan Kepala Desa Belang Malum.

Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan, ada aktivitas politik yang

dilakukan Sulang Silima Marga Angkat selaku lembaga adat yang memiliki kuasa atas hak

milik tanah ulayat di Desa Belang Malum dalam pemilihan kepala desa tahun 2011. Aktivitas

yang dilakukan Sulang Silima Marga Angkat dalam pemilihan kepala desa berdampak pada

hasil dari pemilihan kepala desa tersebut, dimana pemenang pemilihan merupakan calon yang

sesuai dengan harapan lembaga adat tersebut.

Maka berdasarkan pemaparan diatas, yang menjadi rumusan masalah dari penelitian

ini adalah: “Bagaimana peranan Sulang Silima Marga Angkat dalam pemilihan Kepala

(6)

Adapun yang menjadi alasan penulis untuk meneliti peranan Sulang Silima Marga

Angkat dalam pemilihan Kepala Desa Belang Malum tahun 2011 adalah:

1. Sulang Silima Marga Angkat selalu mendapat perhatian khusus dari setiap calon

kepala desa di Desa Belang Malum.

2. Peranan Sulang Silima Marga Angkat berdampak pada hasil pemilihan Kepala Desa

Belang Malum.

3. Sulang Silima Marga Angkat selalu berperan dalam setiap pemilihan Kepala Desa

Belang Malum.

1.3 Batasan Masalah

Agar penelitian terfokus pada permasalahan, akan lebih baik jika dibuat pembatasan

masalahnya. Adapun batasan masalah yang ingin diteliti dalam penelitian ini adalah :

1. Sulang Silima Marga Angkat merupakan salah satu dari tiga Lembaga Adat

Pakpak yang ada di Kecamatan Sidikalang bersama Sulang Silima Marga Ujung,

dan Sulang Silima Marga Bintang. Sulang Silima Marga Angkat merupakan

pemegang kuasa atas hak milik tanah ulayat yang ada di Desa Belang Malum.

2. Pemilihan kepala desa merupakan pesta rakyat, dimana pemilihan kepala desa

dapat diartikan sebagai suatu kesempatan untuk menampilkan orang-orang yang

dapat melindungi kepentingan masyarakat desa7

7

Duta Sosialismanto. 2001. Hegemoni Negara. Yogyakarta: Lapera Pustaka Utama. Hal. 191

. Kepala Desa dipilih oleh rakyat

desa yang telah memiliki hak memilih dan dipilih secara langsung. Syarat dan tata

cara pemilihannya diatur dalam peraturan daerah yang berpedoman pada

Peraturan Pemerintah No. 72 Tahun 2005 pasal 51 ayat 1 Kepala Desa Terpilih

(7)

penerbitan keputusan Bupati/Walikota. Penelitian ini terbatas pada pemilihan

Kepala Desa Belang Malum tahun 2011.

1.4 Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini antara lain:

1. Mendeskripsikan profil Desa Belang Malum dan Sulang Silima Marga Angkat.

2. Mendeskripsikan peran Sulang Silima Marga Angkat dalam pemilihan Kepala

Desa Belang Malum, Kecamatan Sidikalang, Kabupaten Dairi tahun 2011.

1.5 Manfaat Penelitian

Setiap penelitian diharapkan mampu memberikan manfaat, khususnya untuk

perkembangan ilmu pengetahuan. Maka manfaat yang diharapkan dari penelitian ini antara

lain:

1. Manfaat akademik

Penelitian ini bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan untuk

memperkaya analisis teori di bidang ilmu sosial dan ilmu politik, khususnya

dalam studi politik lokal.

2. Manfaat keilmuan

Penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan rujukan bagi peneliti yang lain untuk

memahami politik di tingkat desa.

3. Manfaat praktis

Penelitian ini bermanfaat sebagai masukan yang berguna bagi pengambil

(8)

1.6 Kerangka Teori

Sebelum melakukan penelitian lebih lanjut, seorang penulis perlu menyusun kerangka

teori sebagai landasan berfikir umtuk menggambarkan dari segi mana peneliti menyoroti

masalah yang telah dipilih8. Hal ini menjadi penting karena disamping sebagai landasan berfikir, kerangka teori akan digunakan sebagai pisau analisis dalam mengkaji masalah yang

telah dipaparkan diatas. Menurut Masri Singarimbun, teori adalah serangkaian asumsi,

konsep, konstruksi, dan defenisi untuk menerangkan suatu fenomena sosial secara sistematis

dengan cara merumuskan hubungan antar kosep9. Teori yang digunakan dalam penelitian adalah teori kekuasaan, teori budaya politik, dan teori partisipasi poitik

1.6.1 Kekuasaan

Kekuasaan adalah kemampuan seseorang atau suatu kelompok untuk mempengaruhi

seseorang atau kelompok lain, sesuai dengan keinginan para pelaku10

Kekuasaan biasanya berbentuk hubungan dalam arti bahwa ada satu pihak yang

memerintah dan ada pihak yang diperintah satu pihak yang memberi perintah, satu pihak

yang mematuhi perintah dari yang memerintah. Tidak ada persamaan martabat, hirarki hadir

sebagai aturan utama, selalu yang satu lebih tinggi daripada yang lain dan selalu ada unsur

paksaan dalam hubungan kekuasaan. Paksaan tidak selalu perlu dipakai secara gamblang,

tetapi adanya kemungkinan paksaan itu dipakai, sering sudah cukup.

. Konsep kekuasaan erat

sekali hubungnnya dengan konsep kepemimpinan. Dengan kekuasaan pimpinan memperoleh

alat untuk mempengaruhi pengikutnya.

Kekuasaaan merupakan suatu kondisi yang memunculkan dua pemahaman pertama

pemahaman tentang orang yang memperoleh kekuasaan dan kedua pemahaman tentang orang

yang dikuasai atau tunduk pada kekuasaan. Pemahaman sentral yang berkenaan dengan ini

8

Hadari Nawawi. 1987. Metodologi Penelitian Sosial. Yogyakarta: Gajah Mada University Press. Hal. 40

9

Masri Singarimbun dan Sofyan Effendi. 1955. Metode Penelitian Survey. Jakarta: LP3ES. Hal. 37

10

(9)

berkisar pada sumber kekuasaan sebagai legitimasi atas kekuasaan itu pada satu sisi dan

kemauan seseorang untuk tunduk pada kekuasaan yang maknanya adalah pembatasan dan

bahkan menerima tekanan pada sisi lain.

Legitimasi sebagai dasar berfungsinya kekuasaan bisa bermacam macam, di dalam

perspektif lebih teknis rincian dari sumber kekuasaan khususnya secara formal administrartif

ada 6 sebagai berikut :

1. Kekuasaan balas jasa (reward power) yaitu kekuasaan yang legitimasinya bersumber dari

sejumlah balas jasa yang bersifat positif (uang perlindungan, perkembangan karir, janji

positif dan sebagainya) yang diberikan kepada pihak penerima guna melaksanakan

perintah ataub persyaratan lain. Faktor ketundukan seseorang pada kekuasaan dimotivisir

oleh hal itu dengan harapan jika telah melakukan sesuatu akan memperoleh seperti yang

dijanjikan11

2. Kekuasaan paksaan ( coercive power ) berasal dari perkiraan yang dirasakan orang

bahwa hukuman (dipecat, ditegur) akan diterima jika mereka tidak melaksanakan

perintah pimpinan. Kekuasaan menjadi suatu motivasi yang bersifat refresif terhadap

kejiwaan seseorang untuk tunduk pada kekuasaan pimpinan itu dan melakukan seperti

apa yang dikehendaki. Jika tidak paksaan yang diperkirakan akan dijatuhkan .

12

3. Kekuasaan legitimasi (legitimate power ), yaitu kekuasaan yang berkembang atas dasar

dan berangkat dari nilai nilai intern yang mengemuka dari dan sering bersifat

konvensional bahwa seorang pimpinan mempunyai hak sah untuk mempengaruhi

bawahannya. Sementara itu pada sisi lain seorang mempunyai kewajiban untuk

menerima pengaruh tersebut karena seorang lainnya ditentukan sebagai pimpinannya

atau petinggi sementara dirinya seorang bawahan. Legitimasi demikian bisa diperoleh

atas dasar aturan formal tetapi bisa juga bersumber pada kekuasaan yang muncul karena .

11

Samsul Wahidin. 2007. Dimensi Kekuasaan Negara Indonesia. Yogjakarta: Pustaka pelajar. Hal 3

12

(10)

kekuatan alamiah dan kekuatan akses dalam pergaulan bersama yang mendudukkan

seseorang beruntung memperoleh legitimasi suatu kekuasaan13

4. Kekuasaan pengendalian atas informasi, kekuasaan ini ada dan berasal dari kelebihan

atas suatu pengetahuan dimana orang lain tidak mempunyai. Cara ini digunakan dengan

pemberian atau penahanan informasi yang dibutuhkan oleh orang lain yang mau tidak

mau tunduk (secara terbatas) pada kekuasaan pemilik informasi. Pemilik informasi dapat

mengatur segala sesuatu yang berkenaan denga peredaran informasi, atas legitimasi

kekuasaan yang dimiliki

.

14

5. Kekuasaan panutan (referent power ), kekuasaan ini muncul di dasarkan atas pemahaman

secara kultural dari orang orang dengan yang berstatus sebagai pemimpin. Masyarakat

menjadikan pemimpin tersebut sebagai panutan atau simbol dari perilaku mereka. Aspek

kultural yang biasanya muncul dari pemahaman religiusitas direfleksikan pada kharisma

pribadi, keberanian, sifat simpatik dan sifat sifat lain yang tidak ada pada kebanyakan

orang. Hal ini menjadikan orang lain tunduk pada kekuasaannya .

15

6. Kekuasaan keahlian (expert power), kekuasaan ini ada dan merupakan hasil dari tempaan

yang lama dan muncul karena suatu keahlian atau ilmu pengetahuan. Kelebihan ini

menjadikan seorang menjadi winasis dan secara alamiah berkedudukan sebagai

pemimpin dalam bidang keahliannya itu. Sang pemimpin bisa merefleksikan kekuasaan

dalam batas-batas keahliannya itu dan secara terbatas pula orang tunduk pada kekuasaan

yang bersumber dari keahlian yang dimiliki karena adanya kepentingan terhadap

keahlian sang pemimpin.

.

16

Sumber kekuasaan dapat berupa kedudukan, kekayaan, atau kepercayaan. Cakupan

kekuasaan menunjuk pada kegiatan, perilaku, serta sikap dan keputusan-keputusan yang

(11)

menjadi objek dari kekuasaan. Istilah wilayah kekuasaan menjawab pertanyaan siapa-siapa

saja yang dikuasai oleh orang atau kelompok yang berkuasa, jadi menunjuk pada pelaku,

kelompok organisasi atau kolektivitas yang kena kekuasaan.

Dalam suatu hubungan kekuasaan (power relationship) selalu ada satu pihak yang

lebih kuat dari pihak lain. jadi, selalu ada hubungan tidak seimbang atau simetris.

Ketidakseimbangan ini sering menimbulkan ketergantungan (dependency); dan lebih timpang

hubungan ini, lebih besar pula sifat ketergantungannya. Hal ini oleh generasi pemikir dekade

20-an sering disebut sebagai dominasi, hegemoni, atau penundukan17

Konsep yang selau dibahas bersama dengan kekuasaan adalah pengaruh. Pada

umumnya masyarakat berpendapat bahwa kekuasaan dapat mengadakan sanksi dan pengaruh.

Namun dalam forum diskusi ilmiah sering dipertanyakan apakah kekuasaan dan pengaruh

merupakan dua konsep yang berbeda, dan apakah satu diantaranya merupakan konsep pokok,

dan yang lainnya bentuk khususnya.

.

Pengaruh biasanya tidak merupakan satu-satunya faktor yang menentukan perilaku

seseorang, dan sering bersaing dengan faktor lain. Bagi pelaku yang dipengaruhi masih

terbuka alternatif lain untuk bertindak. Akan tetapi, sekalipun pengaruh sering kurang efektif

dibandingkan dengan kekuasaan, ia kadang-kadang mengandung unsur psikologis dan

menyentuh hati, dan karena itu sering kali cukup berhasil18.

1.6.2 Budaya Politik

Budaya politik merupakan bagian dari kebudayaan masyarakat dengan ciri-ciri yang

lebih khas. Istilah budaya politik meliputi masalah legitimasi, pengaturan kekuasaan, proses

pembuatan kebijakan pemerintah, kegiatan partai-partai politik, perilaku aparat negara, serta

gejolak masyarakat terhadap kekuasaan yang memerintah. Budaya politik terdiri dari

17

Miriam Budiardjo. 2008. Dasar-Dasar Ilmu Politik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Hal. 62-63

18

(12)

serangkaian keyakinan, simbol-simbol dan nilai-nilai yang melatar belakangi situasi dimana

suatu peristiwa politik terjadi.

Almond dan Verba mendefinisikan budaya politik sebagai suatu sikap orientasi yang

khas warga negara terhadap sistem politik dan aneka ragam bagiannya, dan sikap terhadap

peranan warga negara yang ada di dalam sistem itu. Dengan kata lain, bagaimana distribusi

pola-pola orientasi khusus menuju tujuan politik diantara masyarakat bangsa itu. Lebih jauh

mereka menyatakan, bahwa warga negara senantiasa mengidentifikasikan diri mereka dengan

simbol-simbol dan lembaga kenegaraan berdasarkan orientasi yang mereka miliki.19

Kebudayaan politik suatu bangsa adalah merupakan distribusi pola-pola orientasi

khusus menuju tujuan politik diantara masyarakat bangsa itu. Orientasi itu mengacu pada

aspek-aspek dan obyek yang dibakukan serta hubungan antar keduanya, termasuk:20

1. Orientasi Kognitif : pengetahuan tentang dan kepercayaan pada politik, peranan dan

segala kewajibannya, serta input, dan outputnya.

2. Orientasi afektif : perasaan terhadap sistem politik; peranannya, para aktor dan

penampilannya.

3. Orientasi evaluatif : keputusan dan pendapat tentang obyek-obyek politik yang secara

tipikal melibatkan kombinasi standar nilai dan kriteria dengan informasi dan perasaan.

Berdasarkan sikap terhadap tradisi dan perubahan, budaya politik terdiri atas 2 jenis

yaitu budaya politik yang memiliki sikap mental absolut dan budaya politik yang memiliki

sikap mental akomodatif.

a. Budaya politik yang memiliki sikap mental absolut adalah budaya politik yang memiliki

nilai-nilai dan kepercayaan yang. dianggap selalu sempurna dan tak dapat diubah lagi.

Usaha yang diperlukan adalah intensifikasi dari kepercayaan, bukan kebaikan. Pola pikir

19

Gabriel A. Almond dan Sidney Verba. 1990. Budaya Politik. Penerjemah: Sahat Simamora. Jakarta: Bumi Aksara. Hal. 14

20

(13)

demikian hanya memberikan perhatian pada apa yang selaras dengan mentalnya dan

menolak atau menyerang hal-hal yang baru atau yang berlainan (bertentangan). Budaya

politik yang bernada absolut bisa tumbuh dari tradisi, jarang bersifat kritis terhadap tradisi,

malah hanya berusaha memelihara kemurnian tradisi. Maka, tradisi selalu dipertahankan

dengan segala kebaikan dan keburukan. Kesetiaan yang absolut terhadap tradisi tidak

memungkinkan pertumbuhan unsur baru.21

b. Budaya politik yang memiliki sikap mental akomodatif adalah budaya politik dengan

struktur mental yang terbuka dan bersedia menerima apa saja yang dianggap berharga. Ia

dapat melepaskan ikatan tradisi, kritis terhadap diri sendiri, dan bersedia menilai kembali

tradisi berdasarkan perkembangan masa kini.22

Berdasarkan penjelasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa tipe absolut dari

budaya politik sering menganggap perubahan sebagai sesuatu yang membahayakan. Tiap

perkembangan baru dianggap sebagai suatu tantangan yang berbahaya dan harus

dikendalikan. Perubahan dianggap sebagai penyimpangan. Sedangkan, tipe akomodatif dari

budaya politik melihat bahwa perubahan hanya sebagai salah satu masalah untuk dipikirkan.

Perubahan mendorong usaha perbaikan dan pemecahan yang lebih sempurna.

Berdasarkan orientasi politiknya, budaya politik juga memiliki jenis. Dalam realitas yang

ditemukan, budaya politik memiliki beberapa variasi. Berdasarkan orientasi politik yang

dicirikan dan karakter-karakter dalam budaya politik, maka setiap sistem politik akan

memiliki budaya politik yang berbeda. Perbedaan ini terwujud dalam tipe-tipe yang ada

dalam budaya politik yang setiap tipe memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Dari realitas

budaya politik yang berkembang di dalam masyarakat, Gabriel Almond mengklasifikasikan

budaya politik kedalam 3 jenis yaitu budaya politik parokial, budaya politik kaula, dan

budaya politik partisipan.

21Ibid. Hal. 18 22

(14)

Kebudayaan politik parokial (parochial political culture) yaitu tingkat partisipasi

politiknya sangat rendah, yang disebabkan faktor kognitif (misalnya tingkat pendidikan

relatif rendah). Menyangkut budaya yang terbatas pada wilayah atau lingkup yang kecil,

sempit misalnya yang bersifat provincial. Karena wilayah yang terbatas acapkali pelaku

politik sering memainkan peranannya seiring dengan deferensiasi, maka tidak terdapat

peranan politik yang bersifat khas dan berdiri sendiri. Yang menonjol dalam budaya politik

adalah kesadaran anggota masyarakat akan adanya pusat kewenangan dan kekuasaan politik

dalam masyarakat23

Kebudayaan politik kaula (subyak political culture) merupakan masyarakat yang

memiliki pengetahuan dan pemahaman yang relatif baik untuk unsur pengetahuan umum

mengenai sistem politik dan output politik tetapi rendah dalam pengetahuan mengenai input

sistem politik serta partisipasi politik yang pasif. Mereka menganggap dirinya tidak berdaya

mempengaruhi atau mengubah sistem dan oleh karena itu menyerah saja kepada segala

kebijakan dan keputusan para pemegang jabatan .

24

Kebudayaan politik partisipan, yaitu masyarakat dengan pengetahuan dan pemahaman

yang tinggi mengenai semua unsur di atas dan memiliki tingkat partisipasi politik yang aktif.

Masyarakat dakam tipe budaya ini memiliki sikap yang kritis untuk memberi penilaian

terhadap sistem politik dan hampir pada semua aspek kekuasaan .

25

Mengenai kebudayaan politik dan konstektualitas fungsi analisanya Almond dan

Verba menyatakan bahwa hubungan antara sikap-sikap dan motivasi individu yang

mempunyai ciri-ciri tersendiri yang membentuk sistem-sistem politik dan karakter politik

serta penampilan sistem politik dapat dilacak secara sistematis melalui konsep budaya politik.

(15)

Pendekatan budaya politik dapat digunakan untuk mengkaji kebudayaan politik dalam

lingkup komunitas tertentu.

1.6.3 Partisipasi Politik

Pelaksanaan partisipasi dari warga negara/masyarakat dalam salah satu contoh

keputusan yang dibuat oleh pemerintah yakni pemilihan umum di tingkat pusat dan di tingkat

desa disebut pemilihan kepala desa. Pemilihan kepala desa tidak akan berjalan lancar apabila

tidak ada partisipasi politik dari masyarakat desa. Partisipasi politik adalah kegiatan

seseorang atau kelompok orang untuk ikut serta secara aktif dalam kehidupan politik, yaitu

dengan jalan memilih pemimpin negara baik secara langsung atau tidak langsung dan

mempengaruhi kebijakan pemerintah (public policy). Kegiatan ini mencakup tindakan seperti

memberikan suara dalam pemilihan umum, mengadiri rapat umum, menjadi anggota suatu

partai atau kelompok kepentingan, mengadakan hubungan dengan pejabat pemerintah atau

anggota perlemen, dan sebagainya.26

Defenisi partisipasi politik menurut Inu Kencana Syafii dalam bukunya yang berjudul

Sistem Pemerintahan Indonesia, yaitu partisipasi politik adalah kegiatan warga negara sipil

yang bertujuan mempengaruhi keputusan oleh pemerintah27

26

Budiardjo, Miriam. 2008. Dasar-Dasr Ilmu Politik. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Hal. 368

. Menurut Soemarsono dalam

bukunya yang berjudul Komunikasi Politik, partisipasi politik pada hakikatnya sebagai

ukuran untuk mengetahui kualitas kemampuan warga negara dalam menginterpretasikan

sejumlah simbol kekuasaan (kebijaksanaan dalam mensejahterakan masyarakat sekaligus

langkah-langkahnya) kedalam simbol-simbol pribadi. Atau dengan perkataan lain, partisipasi

politik adalah proses memformulasikan ulang simbol-simbol komunikasi berdasarkan tingkat

27

(16)

rujukan baik secara pribadi maupun secara kelompok (individual reference, social

references) yang berwujud dalam aktivitas sikap dan perilaku28

Sementara menurut Rafael Raga Maran dalam bukunya yang berjudul Pengantar

Sosisologi Politik bahwa partisipasi politik sebagai usaha yang terorganisir oleh para warga

negara untuk memilih pemimpin mereka dan mempengaruhi bentuk dan jalannya

kebijaksanaan umum. Usaha ini dilakukan berdasarkan kesadaran akan tanggung jawab

mereka terhadap kehidupan bersama sebagai suatu bangsa dalam suatu negara. Dalam hal ini,

partisipasi politik berbeda dengan mobilisasi politik, yaitu usaha pengerahan massa oleh

golongan elite politik untuk mendukung kepentingan-kepentingannya .

29

Sedangkan menurut Mochtar Mas’oed dan Colin Mac Andrew dalam bukunya yang

berjudul Perbandingan Sistem Politik, paling tidak terdapat lima hal yang menyebabkan

timbulnya gerakan ke arah partisipasi lebih luas dalam proses politik ini antara lain: .

1. Modernisasi, komersialisasi pertanian, industrialisasi, urbanisasi yang meningkat,

penyebaran kepandaian baca tulis, perbaikan pendidikan, dan pengembangan media

komunikasi massa. Ketika penduduk kota baru yang buruh, pedagang mempengaruhi

nasib mereka sendiri, mereka makin banyak menuntut untuk ikut dalam kekuasaan

politik30

2. Perubahan-perubahan Struktur Kelas Sosial, begitu bentuk suatu kelas pekerja baru dan

kelas menengah yang meluas dan berubah selama prosesindustrialisasi dan modernisasi,

masalah tentang siapa yang berhak berpartisipasi dalam pembuatan keputusan politik

menjadi penting dan mengakibatkan perubahan-perubahan dalam pola partisipasi politik .

31

3. Pengaruh kaum Intelektual dan Komunikasi massa modern; kaum intelektual, sarjana,

filsuf, pengarang dan wartawan sering mengemukakan ide-ide seperti egalitarisme dan .

28

Soemarsono. Op. Cit.

29

Rafael Raga Maran. 2001. Pengantar Sosiologi Politik. Jakarta: Rineka Cipta. Hal. 147

30

Masoed Mochtar dan Colin Mac Andrews, 1997. Perbandingan Sistem Politik, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Hal. 42

31

(17)

nasioalisame kepeda masyarakat umum untuk membangkitkan tuntutan akan partisipasi

massa yang luas dalam pembuatan keputusan politik32

4. Konflik di antara Kelompok-Kelompok pemimpin politik; kalau timbul kompetisi

memperebutkan kekuasaan, strategi yang biasa digunakan oleh kelompok-kelompok yang

saling berhadapan adalah mencari dukungan rakyat .

33

5. Keterlibatan pemerintah yang meluas dalam urusan sosial ekonomi dan kebudayaan;

perluasan kegiatan pemerintah dalam bidang-bidang kebijaksanaan baru biasanya berarti

bahwa konsekuensi tindakan-tindakan pemerintahan menjadi semakin menyusup ke segala

segi kehidupan sehari-hari rakyat. Tanpa hak-hak sah atas partisipasi politik,

individu-individu betul-betul tidak berdaya menghadapi dan dengan mudah dapat dipengaruhi oleh

tindakantindakan pemerintah yang mungkin dapat ruang lingkup aktivitas pemerintah

sering merangsang timbulnya tuntutan-tuntutan yang terorganisir akan kesempatan untuk

ikut serta dalam pembuatan keputusan politik

.

34

Para ahli sosiologi politik telah merumuskan berbagai macam tipologi partisipasi

politik. Huntington dan Nelson (1994: 16-17) menemukan bentuk-bentuk partisipasi politik

yang meliputi:

.

1. Kegiatan pemilihan, mencakup suara, juga sumbangan untuk kampanye, bekerja dalam

suatu pemilihan, mencari dukungan bagi seorang calon, atau setiap tindakan yang

bertujuan memengaruhi hasil proses pemilihan35

2. Lobbying, mencakup upaya perorangan atau kelompok untuk menghubungi pejabat

pemerintah dan pemimpin politik dengan maksud memengaruhi keputusan mereka

mengenai persoalan yang menyangkut sejumlah besar orang. Seperti, kegiatan yang .

(18)

ditujukan untuk menimbulkan dukungan bagi atau oposisi terhadap suatu usul legislatif

atau keputusan administratif tertentu36

3. Kegiatan orientasi menyangkut partisipasi sebagai anggota atau pejabat dalam suatu

organiosasi yang tujuannya yang utama dan eksplisit adalah memengaruhhi pengambilan

keputusan pemerintah

.

37

4. Mencari koneksi (contacting) merupakan tindakan perorangan yang ditujukan terhadap

pejabat pemerintah yang biasanya dengan maksud memperoleh manfaat bagi hanya satu

orang atau segelintir orang .

38

5. Tindak kekerasan (violence) juga dapat merupakan suatu bentuk partisipasi politik, dan

untuk analisia ada manfaatnya untuk mendefenisikannya sebagai satu kategori tersendiri;

artinya sebagai upaya untuk memengaruhi pengambilan keputusan pemerintah dengan

jalan menimbulkan kerugian fisik terhadap orang atau harta benda .

39

Di negara-negara demokrasi konsep partisipasi politik bertolak dari paham bahwa

kedaulatan ada di tangan rakyat, yang dilaksanakan melalui kegiatan bersama untuk

menetapkan tujuan-tujuan serta masa depan masyarakat itu dan untuk menentukan

orang-orang yang akan memegang tampuk pimpinan. Anggota masyarakat yang berpartisipasi

dalam proses politik, misalnya melalui pemberian suara atau kegiatan lain, terdorong oleh

keyakinan bahwa melalui kegiatan bersama itu kepentingan mereka akan tersalur atau

sekurang-kurangnya akan diperhatikan. Masyarakat sedikit banyak dapat memengaruhi

tindakan dari mereka yang berwenang untuk membuat keputusan yang mengikat. Dengan

kata lain, kegiatan mereka mempunyai efek politik.

.

40

Dalam masyarakat primitif, dimana politik cenderung erat terintegrasi dengan

masyarakat pada umumnya, partisipasi condong tinggi dan mungkin sulit untuk

(19)

membedakannya dari kegiatan yang lain. Akan tetapi, dalam masyarakat berkembang, karena

adanya kombinasi dari institusi dan pengaruh modern dan tradisional, partisipasi mungkin

dibatasi oleh faktor-faktor seperti tingkatan melek huruf dan masalah umum dari komunikasi.

1.7 Metodologi Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Metode penelitian kualitatif

adalah metode penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi yang alamiah, (sebagai

lawannya adalah eksperimen) dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci, teknik

pengumpulan data dilakukan secara trianggulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif,

dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada generalisasi41.

1.7.1 Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Moh. Nasir dalam

bukunya yang berjudul Metode Penelitian Sosial mengatakan bahwa metode penelitian

kualitatif deskriptif adalah suatu metode dalam meneliti status kelompok manusia, suatu

objek, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran ataupun suatu kelas peristiwa pada masa

sekarang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membuat deskriptif, gambaran / lukisan

secara sistematis, faktual dan akurat mengenai faktor-faktor, sifat-sifatserta hubungan antara

fenomena yang diselidiki42

Pengertian lain dari penelitian kualitatif deskriptif menurut Soehartono adalah bahwa

penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran tentang suatu masyarakat atau tentang

suatu kelompok orang tertentu atau gambaran tentang suatu gejala atau hubungan antara dua

gejala atau lebih

.

43

41

Prof. Dr. Sugiono. 2005. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: CV. Alfabeta. Hal. 1

. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini bertujuan untuk

42

Moh Nazir. 1999. Metode Penelitian Sosial. Jakarta: Ghalia Indonesia. Hal. 63

43

(20)

memberikan gambaran mengenai peranan Sulang Silima Marga Angkat dalam pemilihan

Kepala Desa Belang Malum, Kecamatan Sidikalang, Kabupaten Dairi.

1.7.2 Lokasi Penelitian

Lokasi yang dipilih menjadi tempat penelitian adalah Desa Belang Malum,

Kecamatan Sidikalang, Kabupaten Dairi. Pemilihan lokasi penelitian tersebut dikarenakan

Desa Belang Malum desa selalu mendapat campur tangan dari Lembaga Adat Sulang Silima

Marga Angkat ketika mengadakan pemilihan kepala desa. Desa Belang Malum merupakan

salah satu desa tertua yang menjadi wilayah kekuasaan Sulang Silima Marga Angkat. Desa

Belang Malum juga merupakan desa tempat berdirinya tugu Sulang Silima Marga Angkat

sebagai sekretariat Marga Angkat Kabupaten Dairi.

1.7.3 Teknik Pengumpulan Data

Data yang diperoleh dalam penelitian ini adalah berupa data kualitatif sebagai berikut:

1. Data Primer, yang diperoleh melalui wawancara secara langsung kepada narasumber yaitu

masyarakat Desa Belang Malum, Kecamatan Sidikalang, Kabupaten Dairi dan juga

pengurus Lembaga Adat Sulang Silima Marga Angkat Kabupaten Dairi, dimana

pertanyaan yang diajukan bersifat terbuka tergantung pada objek lapangan.

Adapun narasumber yang akan diwawancarai untuk mendapatkan data dan informasi

yang berkaitan dengan penelitian ini antara lain:

a. Ketua Sulang Silima Marga Angkat se-Indonesia, Abdul Angkat SH.

b. Kepala desa terpilih St. Elom Simanungkalit.

c. Calon Kepala desa tahun 2011, Sahat Hutauruk.

(21)

e. Anggota Sulang Silima Marga Angkat sekaligus panitia pemilihan Kepala Desa Belang

Malum tahun 2011, Ucok Angkat.

f. Ketua panitia pemilihan Kepala Desa Belang malum tahun 2011, Bangun Samosir

2. Data Sekunder, yang diperoleh melalui penelitian kepustakaan, yaitu dengan

mengumpulkan data-data yang relevan dengan masalah penelitian seperti melalui buku,

koran dan dokumen.

1.7.4 Teknik Analisa Data

Analisis data kualitatif adalah bersifat induktif, yaitu suatu analisis berdasarkan data

yang diperoleh, selanjutnya dikembangkan menjadi hipotesis. Maka teknik analisis data yang

dilakukan dalam penelitian ini adalah mencari dan menyusun secara sistematis data yang

diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi, dengan cara

mengorganisasikan data ke dalam kategori, ,menjabarkan ke dalam unit-unit, melakukan

sintesa, menyusun kedalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari, dan

membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami diri sendiri dan orang lain44.

1.8 Sistematika Penulisan

Untuk mendapatkan suatu gambaran yang jelas dan untuk mempermudah isi, maka

penelitian ini dibagi ke dalam 4 (empat) bab, yaitu:

BAB I : PENDAHULUAN

Dalam bab ini berisikan mengenai Latar Belakang Masalah, Rumusan dan Pembatasan

Masalah, Tujuan dan Manfaat Penelitian, Kerangka Teori, Metodologi Penelitian dan

Sistematika Penulisan.

BAB II : PROFIL DESA BELANG MALUM DAN SULANG SILIMA MARGA ANGKAT

44

(22)

Bab ini akan menguraikan tentang gambaran umum tentang deskriptif lokasi penelitian

seperti profil Desa Belang Malum, dan gambaran umum Lembaga Adat Sulang Silima Marga

Angkat.

BAB III : PERANAN SULANG SILIMA MARGA ANGKAT DALAM PEMILIHAN

KEPALA DESA BELANG MALUM

Bab ini akan memuat hasil dari penelitian yang dilakukan oleh penulis mengenai peranan

lembaga adat Sulang Silima Marga Angkat dalam pemilihan Kepala Desa Belang Malum

tahun 2011.

BAB IV : PENUTUP

Referensi

Dokumen terkait

20 Urusan Wajib Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum, Adm KeuDa, Perangkat Daerah, Kepegawaian Organisasi :

IIRS launched pilot project and started EDUSAT satellite based distance learning outreach program on Remote Sensing and Geoinformatics to address the needs of Users who

Batang Merangin Pembinaan dan fasilitasi kegiatan sosial

Accordingly, a multi- institutional initiative called 'Map the Neighbourhood in Uttarakhand' (MANU) was conceptualised with the main objective of collecting

Masuknya udara dalam aliran akan memperbesar volume aliran, yang mana hal ini dapat menyebabkan aliran melimpas di atas dinding samping saluran luneur atau bangunan pelimpah..

menunjukkan sikap yang kurang baik terhadap SADARI dengan mengatakan bahwa SADARI itu tidak penting untuk dilakukan pada masa remaja.Berdasarkan uraian tersebut maka peneliti

Sebenernya penyebabnya adalah PANAS (over heat) jadi usahakan laptop anda sedingin mungkin waktu main game, Laptop berbeda dengan PC, kipas laptop lebih kecil dan komponennya

Pengertian perjanjian kerja menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (burgerlijke Wetbook) terkesan hanya sepihak saja, yaitu hanya buruh/pekerja yang mengikatkan diri