BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Dalam Undang-undang Dasar 1945, pasal 18, ayat 1 dikatakan bahwa, Negara
Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah –daerah provinsi, dari daerah provinsi itu
dibagi atas daerah kabupaten dan kota, yang tiap-tiap provinsi, kabupaten dan kota itu
mempunyai pemerintahan daerah yang diatur dengan undang-undang. Dari pengertian
Undang-undang tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa desa merupakan bagian dari
pemerintahan daerah.
Peraturan perundang-undangan terakhir yang mengatur mengenai desa adalah
Undang-undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Desa memang tidak diatur
dalam suatu undang-undang tersendiri, karena sesuai amanat UUD 1945 secara eksplisit tidak
disebutkan kedudukan pemerintahan desa dalam susunan sistem pemerintahan Negara
Kesatuan Republik Indonesia. Namun demikian, perlu dicermati bahwa dengan
diberlakukannya UU No. 32 tahun 2004 tersebut membawa konsekuensi desa menjadi
terdesentralisasi dan memiliki hak otonom berdasarkan asal-usul dan adat istiadat untuk
mengatur rumah tangganya sendiri dan bertanggungjawab terhadap Bupati atau Walikota.1 Secara historis desa merupakan embrio bagi terbentuknya masyarakat politik dan
pemerintahan di Indonesia. Jauh sebelum negara – bangsa ini terbentuk, entitas sosial sejenis
desa atau masyarakat adat dan lain sebagainya, telah menjadi institusi sosial yang mempunyai
posisi sangat penting. Mereka ini merupakan institusi yang otonom dengan tradisi, adat
1
▸ Baca selengkapnya: apa itu sulang sulang pahompu
(2)istiadat dan hukumnya sendiri yang mengakar kuat, serta relatif mandiri dari campur tangan
entitas kekuasaan dari luar2
Desa merupakan kesatuan masyarakat hukum yang memiliki kewenangan untuk
mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat berdasarkan asal usul dan adat
istiadat setempat yang diakui dalam pemerintahan nasional dan berada di daerah kabupaten.
Desa juga memiliki kekuasaan untuk menyelenggarakan pemerintahannya sendiri dalam
ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) .
3
Pemerintahan desa, dalam Peraturan Pemerintah No. 72 tahun 2005 tentang Desa,
pasal 1 ayat (6) menyebutkan bahwa Pemerintahan Desa adalah penyelenggaraan urusan
pemerintahan oleh Pemerintah Desa dan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) dalam
mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat yang diakui dan dihormati dalam
sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dengan demikian, dalam
penyelenggaraan pemerintahan desa ada 2 institusi yang mengendalikannya, yaitu Pemerintah
Desa dan Badan Permusyawaratan Desa (BPD).
.Penyelenggaraan pemerintahan desa
harus sesuai dengan Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 pasal 202 tentang pemerintahan
daerah.
Dijelaskan juga dalam Peraturan Pemerintah No. 72 Tahun 2005, bahwa yang
dimaksud dengan Pemerintah Desa atau yang disebut dengan nama lain adalah Kepala Desa
dan Perangkat Desa sebagai unsur penyelenggara pemerintahan desa. Badan
Permusyawaratan Desa (BPD) atau yang disebut dengan nama lain adalah lembaga yang
merupakan perwujudan demokrasi dalam penyelenggaraan pemerintahan desa sebagai unsur
penyelenggara pemerintahan desa.
Pemerintahan desa dipimpin oleh seorang kepala desa. Kepala Desa adalah seorang
tokoh di desa yang memenuhi berbagai persyaratan dan berhasil memenangkan Pemilihan
2
Purwo Santoso. 2003. Pembaharuan Desa Secara Partisipatif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Hal. 36
3
Kepala Desa. Kepala Desa dipilih oleh rakyat desa yang telah memiliki hak memilih dan
dipilih secara langsung. Syarat dan tata cara pemilihannya diatur dalam peraturan daerah
yang berpedoman pada Peraturan Pemerintah No. 72 Tahun 2005 pasal 51 ayat 1 Kepala
Desa Terpilih dilantik oleh Bupati/Walikota paling lama 15 (lima belas) hari terhitung
tanggal penerbitan keputusan Bupati/Walikota.
Pemilihan kepala desa merupakan pesta rakyat, dimana pemilihan kepala desa dapat
diartikan sebagai suatu kesempatan untuk menampilkan orang-orang yang dapat melindungi
kepentingan masyarakat desa.4 Masyarakat desa memiliki kesempatan untuk memilih secara langsung siapa yang akan menjadi pemimpin di desanya. Pemilihan Kepala Desa tidak lepas
dari partisipasi politik masyarakat desa. Partisipasi politik pada hakikatnya sebagai ukuran
untuk mengetahui kualitas kemampuan warga negara dalam menginterpretasikan sejumlah
simbol kekuasaan (kebijaksanaan dalam mensejahterakan masyarakat sekaligus
langkah-langkahnya) ke dalam simbol-simbol pribadi. Atau dengan perkataan lain, partisipasi politik
adalah proses memformulasikan ulang simbol-simbol komunikasi berdasarkan tingkat
rujukan yang dimiliki baik secara pribadi maupun secara kelompok (individual reference,
social references) yang berwujud dalam aktivitas sikap dan perilaku5
Pemilihan Kepala Desa pada umumnya mendapat campur tangan dari berbagai pihak
yang memiliki kepentingan. Demikian halnya dengan pemilihan Kepala Desa Belang Malum,
Kecamatan Sidikalang, Kabupaten Dairi yang berlangsung pada bulan April tahun 2011.
Salah satu pihak yang berperan dalam pemilihan kepala desa di Desa Belang Malum adalah
Lembaga Adat Pakpak Dairi, dalam hal ini Sulang Silima Marga Angkat. .
Lembaga adat dapat diartikan sebagai suatu bentuk organisasi adat yang tersusun
relatif tetap atas pola-pola kelakuan, peranan-peranan, dan relasi-relasi yang terarah dan
mengikat individu, mempunyai otoritas formal dan sanksi hukum adat guna tercapainya
4
Duta Sosialismanto. 2001. Hegemoni Negara. Yogyakarta: Lapera Pustaka Utama. Hal. 191
5
kebutuhan-kebutuhan dasar. Atau dalam pengertian lain lembaga adat adalah suatu organisasi
kemasyarakatan adat yang dibentuk oleh suatu masyarakat hukum adat tertentu mempunyai
wilayah tertentu dan harta kekayaan sendiri serta berhak dan berwenang untuk mengatur dan
mengurus serta menyelesaikan hal-hal yang berkaitan dengan adat6
Sulang Silima Marga Angkat adalah salah satu dari tiga Lembaga Adat Pakpak yang
ada di Kecamatan Sidikalang bersama Sulang Silima Marga Ujung, dan Sulang Silima Marga
Bintang. Ketiga lembaga adat tersebut merupakan pemegang hak ulayat di Kecamatan
Sidikalang, Kabupaten Dairi. Desa Belang Malum merupakan daerah kekuasaan Marga
Angkat. Desa Belang Malum menjadi tempat berdirinya Tugu Sulang Silima Marga Angkat
dan merupakan tempat sekretariat Sulang Silima Marga Angkat. Sebagian besar masyarakat
di Desa Belang Malum diluar Marga Angkat hanya berhak memakai dan mengolah tanah dan
tanah tersebut sewaktu-waktu bisa dicabut hak pakainya oleh Lembaga Adat Sulang Silima
Marga Angkat.
.
Sulang Silima Marga Angkat sebagai pemangku adat dan pemegang hak ulayat di
Desa Belang Malum menjadi modal yang kuat untuk memainkan peran dalam proses
pemilihan Kepala Desa Belang Malum. Pada Pemilihan Kepala Desa Belang Malum tahun
2011 terdapat ada dua calon Kepala Desa yakni Sahat Hutauruk dan St. Elom Simanungkalit.
Sehat Hutauruk merupakan Kepala desa Belang Malum periode 2006-2011 yang
mencalonkan diri kembali menjadi kepala desa untuk yang kedua kalinya. St. Esrom
Simanungkalit merupakan Sekertaris Desa Belang Malum periode 2006-2011. St. Esrom
Simanungkalit merupakan calon kepala desa yang didukung oleh Sulang Silima Marga
Angkat.
Sulang Silima Marga Angkat menilai bahwa Sehat Hutauruk sebagai kepala desa di
Desa Belang Malum periode 2006-2011 banyak melakukan peyimpangan yang melanggar
6
aturan Hukum Adat Pakpak. Penyelenggaraan pemerintahan desa oleh Sehat Hutauruk
selama menjabat sebagai kepala desa dinilai jauh dari apa yang dijanjikannya ketika akan
dipilih tahun 2006. Sulang Silima Marga Angkat tidak ingin kalau Sehat Hutauruk kembali
menjabat sebagai Kepala Desa Belang Malum. Untuk mencegah Sehat hutauruk terpilih
kembali maka Sulang Silima Marga Angkat memainkan peran dalam pemilihan Kepala Desa
Belang Malum tahun 2011.
Berdasarkan uraian diatas penulis tertarik untuk meneliti bagaimana peranan Sulang
Silima Marga Angkat dalam proses pemilihan Kepala Desa Belang Malum, Kecamatan
Sidikalang, Kabupaten Dairi. Dengan demikian penulis memberi judul penelitian ini dengan
“Peranan Lembaga Adat Pakpak Dairi Sulang Silima Marga Angkat dalam pemilihan Kepala
Desa Belang Malum, Kecamatan Sidikalang, Kabupaten Dairi tahun 2011.”
1.2 Rumusan Masalah
Pemilihan kepala desa pada umumnya mendapat campur tangan dari beberapa pihak
yang memiliki kepentingan. Demikian halnya dengan pemilihan Kepala Desa Belang Malum.
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan, ada aktivitas politik yang
dilakukan Sulang Silima Marga Angkat selaku lembaga adat yang memiliki kuasa atas hak
milik tanah ulayat di Desa Belang Malum dalam pemilihan kepala desa tahun 2011. Aktivitas
yang dilakukan Sulang Silima Marga Angkat dalam pemilihan kepala desa berdampak pada
hasil dari pemilihan kepala desa tersebut, dimana pemenang pemilihan merupakan calon yang
sesuai dengan harapan lembaga adat tersebut.
Maka berdasarkan pemaparan diatas, yang menjadi rumusan masalah dari penelitian
ini adalah: “Bagaimana peranan Sulang Silima Marga Angkat dalam pemilihan Kepala
Adapun yang menjadi alasan penulis untuk meneliti peranan Sulang Silima Marga
Angkat dalam pemilihan Kepala Desa Belang Malum tahun 2011 adalah:
1. Sulang Silima Marga Angkat selalu mendapat perhatian khusus dari setiap calon
kepala desa di Desa Belang Malum.
2. Peranan Sulang Silima Marga Angkat berdampak pada hasil pemilihan Kepala Desa
Belang Malum.
3. Sulang Silima Marga Angkat selalu berperan dalam setiap pemilihan Kepala Desa
Belang Malum.
1.3 Batasan Masalah
Agar penelitian terfokus pada permasalahan, akan lebih baik jika dibuat pembatasan
masalahnya. Adapun batasan masalah yang ingin diteliti dalam penelitian ini adalah :
1. Sulang Silima Marga Angkat merupakan salah satu dari tiga Lembaga Adat
Pakpak yang ada di Kecamatan Sidikalang bersama Sulang Silima Marga Ujung,
dan Sulang Silima Marga Bintang. Sulang Silima Marga Angkat merupakan
pemegang kuasa atas hak milik tanah ulayat yang ada di Desa Belang Malum.
2. Pemilihan kepala desa merupakan pesta rakyat, dimana pemilihan kepala desa
dapat diartikan sebagai suatu kesempatan untuk menampilkan orang-orang yang
dapat melindungi kepentingan masyarakat desa7
7
Duta Sosialismanto. 2001. Hegemoni Negara. Yogyakarta: Lapera Pustaka Utama. Hal. 191
. Kepala Desa dipilih oleh rakyat
desa yang telah memiliki hak memilih dan dipilih secara langsung. Syarat dan tata
cara pemilihannya diatur dalam peraturan daerah yang berpedoman pada
Peraturan Pemerintah No. 72 Tahun 2005 pasal 51 ayat 1 Kepala Desa Terpilih
penerbitan keputusan Bupati/Walikota. Penelitian ini terbatas pada pemilihan
Kepala Desa Belang Malum tahun 2011.
1.4 Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini antara lain:
1. Mendeskripsikan profil Desa Belang Malum dan Sulang Silima Marga Angkat.
2. Mendeskripsikan peran Sulang Silima Marga Angkat dalam pemilihan Kepala
Desa Belang Malum, Kecamatan Sidikalang, Kabupaten Dairi tahun 2011.
1.5 Manfaat Penelitian
Setiap penelitian diharapkan mampu memberikan manfaat, khususnya untuk
perkembangan ilmu pengetahuan. Maka manfaat yang diharapkan dari penelitian ini antara
lain:
1. Manfaat akademik
Penelitian ini bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan untuk
memperkaya analisis teori di bidang ilmu sosial dan ilmu politik, khususnya
dalam studi politik lokal.
2. Manfaat keilmuan
Penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan rujukan bagi peneliti yang lain untuk
memahami politik di tingkat desa.
3. Manfaat praktis
Penelitian ini bermanfaat sebagai masukan yang berguna bagi pengambil
1.6 Kerangka Teori
Sebelum melakukan penelitian lebih lanjut, seorang penulis perlu menyusun kerangka
teori sebagai landasan berfikir umtuk menggambarkan dari segi mana peneliti menyoroti
masalah yang telah dipilih8. Hal ini menjadi penting karena disamping sebagai landasan berfikir, kerangka teori akan digunakan sebagai pisau analisis dalam mengkaji masalah yang
telah dipaparkan diatas. Menurut Masri Singarimbun, teori adalah serangkaian asumsi,
konsep, konstruksi, dan defenisi untuk menerangkan suatu fenomena sosial secara sistematis
dengan cara merumuskan hubungan antar kosep9. Teori yang digunakan dalam penelitian adalah teori kekuasaan, teori budaya politik, dan teori partisipasi poitik
1.6.1 Kekuasaan
Kekuasaan adalah kemampuan seseorang atau suatu kelompok untuk mempengaruhi
seseorang atau kelompok lain, sesuai dengan keinginan para pelaku10
Kekuasaan biasanya berbentuk hubungan dalam arti bahwa ada satu pihak yang
memerintah dan ada pihak yang diperintah satu pihak yang memberi perintah, satu pihak
yang mematuhi perintah dari yang memerintah. Tidak ada persamaan martabat, hirarki hadir
sebagai aturan utama, selalu yang satu lebih tinggi daripada yang lain dan selalu ada unsur
paksaan dalam hubungan kekuasaan. Paksaan tidak selalu perlu dipakai secara gamblang,
tetapi adanya kemungkinan paksaan itu dipakai, sering sudah cukup.
. Konsep kekuasaan erat
sekali hubungnnya dengan konsep kepemimpinan. Dengan kekuasaan pimpinan memperoleh
alat untuk mempengaruhi pengikutnya.
Kekuasaaan merupakan suatu kondisi yang memunculkan dua pemahaman pertama
pemahaman tentang orang yang memperoleh kekuasaan dan kedua pemahaman tentang orang
yang dikuasai atau tunduk pada kekuasaan. Pemahaman sentral yang berkenaan dengan ini
8
Hadari Nawawi. 1987. Metodologi Penelitian Sosial. Yogyakarta: Gajah Mada University Press. Hal. 40
9
Masri Singarimbun dan Sofyan Effendi. 1955. Metode Penelitian Survey. Jakarta: LP3ES. Hal. 37
10
berkisar pada sumber kekuasaan sebagai legitimasi atas kekuasaan itu pada satu sisi dan
kemauan seseorang untuk tunduk pada kekuasaan yang maknanya adalah pembatasan dan
bahkan menerima tekanan pada sisi lain.
Legitimasi sebagai dasar berfungsinya kekuasaan bisa bermacam macam, di dalam
perspektif lebih teknis rincian dari sumber kekuasaan khususnya secara formal administrartif
ada 6 sebagai berikut :
1. Kekuasaan balas jasa (reward power) yaitu kekuasaan yang legitimasinya bersumber dari
sejumlah balas jasa yang bersifat positif (uang perlindungan, perkembangan karir, janji
positif dan sebagainya) yang diberikan kepada pihak penerima guna melaksanakan
perintah ataub persyaratan lain. Faktor ketundukan seseorang pada kekuasaan dimotivisir
oleh hal itu dengan harapan jika telah melakukan sesuatu akan memperoleh seperti yang
dijanjikan11
2. Kekuasaan paksaan ( coercive power ) berasal dari perkiraan yang dirasakan orang
bahwa hukuman (dipecat, ditegur) akan diterima jika mereka tidak melaksanakan
perintah pimpinan. Kekuasaan menjadi suatu motivasi yang bersifat refresif terhadap
kejiwaan seseorang untuk tunduk pada kekuasaan pimpinan itu dan melakukan seperti
apa yang dikehendaki. Jika tidak paksaan yang diperkirakan akan dijatuhkan .
12
3. Kekuasaan legitimasi (legitimate power ), yaitu kekuasaan yang berkembang atas dasar
dan berangkat dari nilai nilai intern yang mengemuka dari dan sering bersifat
konvensional bahwa seorang pimpinan mempunyai hak sah untuk mempengaruhi
bawahannya. Sementara itu pada sisi lain seorang mempunyai kewajiban untuk
menerima pengaruh tersebut karena seorang lainnya ditentukan sebagai pimpinannya
atau petinggi sementara dirinya seorang bawahan. Legitimasi demikian bisa diperoleh
atas dasar aturan formal tetapi bisa juga bersumber pada kekuasaan yang muncul karena .
11
Samsul Wahidin. 2007. Dimensi Kekuasaan Negara Indonesia. Yogjakarta: Pustaka pelajar. Hal 3
12
kekuatan alamiah dan kekuatan akses dalam pergaulan bersama yang mendudukkan
seseorang beruntung memperoleh legitimasi suatu kekuasaan13
4. Kekuasaan pengendalian atas informasi, kekuasaan ini ada dan berasal dari kelebihan
atas suatu pengetahuan dimana orang lain tidak mempunyai. Cara ini digunakan dengan
pemberian atau penahanan informasi yang dibutuhkan oleh orang lain yang mau tidak
mau tunduk (secara terbatas) pada kekuasaan pemilik informasi. Pemilik informasi dapat
mengatur segala sesuatu yang berkenaan denga peredaran informasi, atas legitimasi
kekuasaan yang dimiliki
.
14
5. Kekuasaan panutan (referent power ), kekuasaan ini muncul di dasarkan atas pemahaman
secara kultural dari orang orang dengan yang berstatus sebagai pemimpin. Masyarakat
menjadikan pemimpin tersebut sebagai panutan atau simbol dari perilaku mereka. Aspek
kultural yang biasanya muncul dari pemahaman religiusitas direfleksikan pada kharisma
pribadi, keberanian, sifat simpatik dan sifat sifat lain yang tidak ada pada kebanyakan
orang. Hal ini menjadikan orang lain tunduk pada kekuasaannya .
15
6. Kekuasaan keahlian (expert power), kekuasaan ini ada dan merupakan hasil dari tempaan
yang lama dan muncul karena suatu keahlian atau ilmu pengetahuan. Kelebihan ini
menjadikan seorang menjadi winasis dan secara alamiah berkedudukan sebagai
pemimpin dalam bidang keahliannya itu. Sang pemimpin bisa merefleksikan kekuasaan
dalam batas-batas keahliannya itu dan secara terbatas pula orang tunduk pada kekuasaan
yang bersumber dari keahlian yang dimiliki karena adanya kepentingan terhadap
keahlian sang pemimpin.
.
16
Sumber kekuasaan dapat berupa kedudukan, kekayaan, atau kepercayaan. Cakupan
kekuasaan menunjuk pada kegiatan, perilaku, serta sikap dan keputusan-keputusan yang
menjadi objek dari kekuasaan. Istilah wilayah kekuasaan menjawab pertanyaan siapa-siapa
saja yang dikuasai oleh orang atau kelompok yang berkuasa, jadi menunjuk pada pelaku,
kelompok organisasi atau kolektivitas yang kena kekuasaan.
Dalam suatu hubungan kekuasaan (power relationship) selalu ada satu pihak yang
lebih kuat dari pihak lain. jadi, selalu ada hubungan tidak seimbang atau simetris.
Ketidakseimbangan ini sering menimbulkan ketergantungan (dependency); dan lebih timpang
hubungan ini, lebih besar pula sifat ketergantungannya. Hal ini oleh generasi pemikir dekade
20-an sering disebut sebagai dominasi, hegemoni, atau penundukan17
Konsep yang selau dibahas bersama dengan kekuasaan adalah pengaruh. Pada
umumnya masyarakat berpendapat bahwa kekuasaan dapat mengadakan sanksi dan pengaruh.
Namun dalam forum diskusi ilmiah sering dipertanyakan apakah kekuasaan dan pengaruh
merupakan dua konsep yang berbeda, dan apakah satu diantaranya merupakan konsep pokok,
dan yang lainnya bentuk khususnya.
.
Pengaruh biasanya tidak merupakan satu-satunya faktor yang menentukan perilaku
seseorang, dan sering bersaing dengan faktor lain. Bagi pelaku yang dipengaruhi masih
terbuka alternatif lain untuk bertindak. Akan tetapi, sekalipun pengaruh sering kurang efektif
dibandingkan dengan kekuasaan, ia kadang-kadang mengandung unsur psikologis dan
menyentuh hati, dan karena itu sering kali cukup berhasil18.
1.6.2 Budaya Politik
Budaya politik merupakan bagian dari kebudayaan masyarakat dengan ciri-ciri yang
lebih khas. Istilah budaya politik meliputi masalah legitimasi, pengaturan kekuasaan, proses
pembuatan kebijakan pemerintah, kegiatan partai-partai politik, perilaku aparat negara, serta
gejolak masyarakat terhadap kekuasaan yang memerintah. Budaya politik terdiri dari
17
Miriam Budiardjo. 2008. Dasar-Dasar Ilmu Politik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Hal. 62-63
18
serangkaian keyakinan, simbol-simbol dan nilai-nilai yang melatar belakangi situasi dimana
suatu peristiwa politik terjadi.
Almond dan Verba mendefinisikan budaya politik sebagai suatu sikap orientasi yang
khas warga negara terhadap sistem politik dan aneka ragam bagiannya, dan sikap terhadap
peranan warga negara yang ada di dalam sistem itu. Dengan kata lain, bagaimana distribusi
pola-pola orientasi khusus menuju tujuan politik diantara masyarakat bangsa itu. Lebih jauh
mereka menyatakan, bahwa warga negara senantiasa mengidentifikasikan diri mereka dengan
simbol-simbol dan lembaga kenegaraan berdasarkan orientasi yang mereka miliki.19
Kebudayaan politik suatu bangsa adalah merupakan distribusi pola-pola orientasi
khusus menuju tujuan politik diantara masyarakat bangsa itu. Orientasi itu mengacu pada
aspek-aspek dan obyek yang dibakukan serta hubungan antar keduanya, termasuk:20
1. Orientasi Kognitif : pengetahuan tentang dan kepercayaan pada politik, peranan dan
segala kewajibannya, serta input, dan outputnya.
2. Orientasi afektif : perasaan terhadap sistem politik; peranannya, para aktor dan
penampilannya.
3. Orientasi evaluatif : keputusan dan pendapat tentang obyek-obyek politik yang secara
tipikal melibatkan kombinasi standar nilai dan kriteria dengan informasi dan perasaan.
Berdasarkan sikap terhadap tradisi dan perubahan, budaya politik terdiri atas 2 jenis
yaitu budaya politik yang memiliki sikap mental absolut dan budaya politik yang memiliki
sikap mental akomodatif.
a. Budaya politik yang memiliki sikap mental absolut adalah budaya politik yang memiliki
nilai-nilai dan kepercayaan yang. dianggap selalu sempurna dan tak dapat diubah lagi.
Usaha yang diperlukan adalah intensifikasi dari kepercayaan, bukan kebaikan. Pola pikir
19
Gabriel A. Almond dan Sidney Verba. 1990. Budaya Politik. Penerjemah: Sahat Simamora. Jakarta: Bumi Aksara. Hal. 14
20
demikian hanya memberikan perhatian pada apa yang selaras dengan mentalnya dan
menolak atau menyerang hal-hal yang baru atau yang berlainan (bertentangan). Budaya
politik yang bernada absolut bisa tumbuh dari tradisi, jarang bersifat kritis terhadap tradisi,
malah hanya berusaha memelihara kemurnian tradisi. Maka, tradisi selalu dipertahankan
dengan segala kebaikan dan keburukan. Kesetiaan yang absolut terhadap tradisi tidak
memungkinkan pertumbuhan unsur baru.21
b. Budaya politik yang memiliki sikap mental akomodatif adalah budaya politik dengan
struktur mental yang terbuka dan bersedia menerima apa saja yang dianggap berharga. Ia
dapat melepaskan ikatan tradisi, kritis terhadap diri sendiri, dan bersedia menilai kembali
tradisi berdasarkan perkembangan masa kini.22
Berdasarkan penjelasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa tipe absolut dari
budaya politik sering menganggap perubahan sebagai sesuatu yang membahayakan. Tiap
perkembangan baru dianggap sebagai suatu tantangan yang berbahaya dan harus
dikendalikan. Perubahan dianggap sebagai penyimpangan. Sedangkan, tipe akomodatif dari
budaya politik melihat bahwa perubahan hanya sebagai salah satu masalah untuk dipikirkan.
Perubahan mendorong usaha perbaikan dan pemecahan yang lebih sempurna.
Berdasarkan orientasi politiknya, budaya politik juga memiliki jenis. Dalam realitas yang
ditemukan, budaya politik memiliki beberapa variasi. Berdasarkan orientasi politik yang
dicirikan dan karakter-karakter dalam budaya politik, maka setiap sistem politik akan
memiliki budaya politik yang berbeda. Perbedaan ini terwujud dalam tipe-tipe yang ada
dalam budaya politik yang setiap tipe memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Dari realitas
budaya politik yang berkembang di dalam masyarakat, Gabriel Almond mengklasifikasikan
budaya politik kedalam 3 jenis yaitu budaya politik parokial, budaya politik kaula, dan
budaya politik partisipan.
21Ibid. Hal. 18 22
Kebudayaan politik parokial (parochial political culture) yaitu tingkat partisipasi
politiknya sangat rendah, yang disebabkan faktor kognitif (misalnya tingkat pendidikan
relatif rendah). Menyangkut budaya yang terbatas pada wilayah atau lingkup yang kecil,
sempit misalnya yang bersifat provincial. Karena wilayah yang terbatas acapkali pelaku
politik sering memainkan peranannya seiring dengan deferensiasi, maka tidak terdapat
peranan politik yang bersifat khas dan berdiri sendiri. Yang menonjol dalam budaya politik
adalah kesadaran anggota masyarakat akan adanya pusat kewenangan dan kekuasaan politik
dalam masyarakat23
Kebudayaan politik kaula (subyak political culture) merupakan masyarakat yang
memiliki pengetahuan dan pemahaman yang relatif baik untuk unsur pengetahuan umum
mengenai sistem politik dan output politik tetapi rendah dalam pengetahuan mengenai input
sistem politik serta partisipasi politik yang pasif. Mereka menganggap dirinya tidak berdaya
mempengaruhi atau mengubah sistem dan oleh karena itu menyerah saja kepada segala
kebijakan dan keputusan para pemegang jabatan .
24
Kebudayaan politik partisipan, yaitu masyarakat dengan pengetahuan dan pemahaman
yang tinggi mengenai semua unsur di atas dan memiliki tingkat partisipasi politik yang aktif.
Masyarakat dakam tipe budaya ini memiliki sikap yang kritis untuk memberi penilaian
terhadap sistem politik dan hampir pada semua aspek kekuasaan .
25
Mengenai kebudayaan politik dan konstektualitas fungsi analisanya Almond dan
Verba menyatakan bahwa hubungan antara sikap-sikap dan motivasi individu yang
mempunyai ciri-ciri tersendiri yang membentuk sistem-sistem politik dan karakter politik
serta penampilan sistem politik dapat dilacak secara sistematis melalui konsep budaya politik.
Pendekatan budaya politik dapat digunakan untuk mengkaji kebudayaan politik dalam
lingkup komunitas tertentu.
1.6.3 Partisipasi Politik
Pelaksanaan partisipasi dari warga negara/masyarakat dalam salah satu contoh
keputusan yang dibuat oleh pemerintah yakni pemilihan umum di tingkat pusat dan di tingkat
desa disebut pemilihan kepala desa. Pemilihan kepala desa tidak akan berjalan lancar apabila
tidak ada partisipasi politik dari masyarakat desa. Partisipasi politik adalah kegiatan
seseorang atau kelompok orang untuk ikut serta secara aktif dalam kehidupan politik, yaitu
dengan jalan memilih pemimpin negara baik secara langsung atau tidak langsung dan
mempengaruhi kebijakan pemerintah (public policy). Kegiatan ini mencakup tindakan seperti
memberikan suara dalam pemilihan umum, mengadiri rapat umum, menjadi anggota suatu
partai atau kelompok kepentingan, mengadakan hubungan dengan pejabat pemerintah atau
anggota perlemen, dan sebagainya.26
Defenisi partisipasi politik menurut Inu Kencana Syafii dalam bukunya yang berjudul
Sistem Pemerintahan Indonesia, yaitu partisipasi politik adalah kegiatan warga negara sipil
yang bertujuan mempengaruhi keputusan oleh pemerintah27
26
Budiardjo, Miriam. 2008. Dasar-Dasr Ilmu Politik. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Hal. 368
. Menurut Soemarsono dalam
bukunya yang berjudul Komunikasi Politik, partisipasi politik pada hakikatnya sebagai
ukuran untuk mengetahui kualitas kemampuan warga negara dalam menginterpretasikan
sejumlah simbol kekuasaan (kebijaksanaan dalam mensejahterakan masyarakat sekaligus
langkah-langkahnya) kedalam simbol-simbol pribadi. Atau dengan perkataan lain, partisipasi
politik adalah proses memformulasikan ulang simbol-simbol komunikasi berdasarkan tingkat
27
rujukan baik secara pribadi maupun secara kelompok (individual reference, social
references) yang berwujud dalam aktivitas sikap dan perilaku28
Sementara menurut Rafael Raga Maran dalam bukunya yang berjudul Pengantar
Sosisologi Politik bahwa partisipasi politik sebagai usaha yang terorganisir oleh para warga
negara untuk memilih pemimpin mereka dan mempengaruhi bentuk dan jalannya
kebijaksanaan umum. Usaha ini dilakukan berdasarkan kesadaran akan tanggung jawab
mereka terhadap kehidupan bersama sebagai suatu bangsa dalam suatu negara. Dalam hal ini,
partisipasi politik berbeda dengan mobilisasi politik, yaitu usaha pengerahan massa oleh
golongan elite politik untuk mendukung kepentingan-kepentingannya .
29
Sedangkan menurut Mochtar Mas’oed dan Colin Mac Andrew dalam bukunya yang
berjudul Perbandingan Sistem Politik, paling tidak terdapat lima hal yang menyebabkan
timbulnya gerakan ke arah partisipasi lebih luas dalam proses politik ini antara lain: .
1. Modernisasi, komersialisasi pertanian, industrialisasi, urbanisasi yang meningkat,
penyebaran kepandaian baca tulis, perbaikan pendidikan, dan pengembangan media
komunikasi massa. Ketika penduduk kota baru yang buruh, pedagang mempengaruhi
nasib mereka sendiri, mereka makin banyak menuntut untuk ikut dalam kekuasaan
politik30
2. Perubahan-perubahan Struktur Kelas Sosial, begitu bentuk suatu kelas pekerja baru dan
kelas menengah yang meluas dan berubah selama prosesindustrialisasi dan modernisasi,
masalah tentang siapa yang berhak berpartisipasi dalam pembuatan keputusan politik
menjadi penting dan mengakibatkan perubahan-perubahan dalam pola partisipasi politik .
31
3. Pengaruh kaum Intelektual dan Komunikasi massa modern; kaum intelektual, sarjana,
filsuf, pengarang dan wartawan sering mengemukakan ide-ide seperti egalitarisme dan .
28
Soemarsono. Op. Cit.
29
Rafael Raga Maran. 2001. Pengantar Sosiologi Politik. Jakarta: Rineka Cipta. Hal. 147
30
Masoed Mochtar dan Colin Mac Andrews, 1997. Perbandingan Sistem Politik, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Hal. 42
31
nasioalisame kepeda masyarakat umum untuk membangkitkan tuntutan akan partisipasi
massa yang luas dalam pembuatan keputusan politik32
4. Konflik di antara Kelompok-Kelompok pemimpin politik; kalau timbul kompetisi
memperebutkan kekuasaan, strategi yang biasa digunakan oleh kelompok-kelompok yang
saling berhadapan adalah mencari dukungan rakyat .
33
5. Keterlibatan pemerintah yang meluas dalam urusan sosial ekonomi dan kebudayaan;
perluasan kegiatan pemerintah dalam bidang-bidang kebijaksanaan baru biasanya berarti
bahwa konsekuensi tindakan-tindakan pemerintahan menjadi semakin menyusup ke segala
segi kehidupan sehari-hari rakyat. Tanpa hak-hak sah atas partisipasi politik,
individu-individu betul-betul tidak berdaya menghadapi dan dengan mudah dapat dipengaruhi oleh
tindakantindakan pemerintah yang mungkin dapat ruang lingkup aktivitas pemerintah
sering merangsang timbulnya tuntutan-tuntutan yang terorganisir akan kesempatan untuk
ikut serta dalam pembuatan keputusan politik
.
34
Para ahli sosiologi politik telah merumuskan berbagai macam tipologi partisipasi
politik. Huntington dan Nelson (1994: 16-17) menemukan bentuk-bentuk partisipasi politik
yang meliputi:
.
1. Kegiatan pemilihan, mencakup suara, juga sumbangan untuk kampanye, bekerja dalam
suatu pemilihan, mencari dukungan bagi seorang calon, atau setiap tindakan yang
bertujuan memengaruhi hasil proses pemilihan35
2. Lobbying, mencakup upaya perorangan atau kelompok untuk menghubungi pejabat
pemerintah dan pemimpin politik dengan maksud memengaruhi keputusan mereka
mengenai persoalan yang menyangkut sejumlah besar orang. Seperti, kegiatan yang .
ditujukan untuk menimbulkan dukungan bagi atau oposisi terhadap suatu usul legislatif
atau keputusan administratif tertentu36
3. Kegiatan orientasi menyangkut partisipasi sebagai anggota atau pejabat dalam suatu
organiosasi yang tujuannya yang utama dan eksplisit adalah memengaruhhi pengambilan
keputusan pemerintah
.
37
4. Mencari koneksi (contacting) merupakan tindakan perorangan yang ditujukan terhadap
pejabat pemerintah yang biasanya dengan maksud memperoleh manfaat bagi hanya satu
orang atau segelintir orang .
38
5. Tindak kekerasan (violence) juga dapat merupakan suatu bentuk partisipasi politik, dan
untuk analisia ada manfaatnya untuk mendefenisikannya sebagai satu kategori tersendiri;
artinya sebagai upaya untuk memengaruhi pengambilan keputusan pemerintah dengan
jalan menimbulkan kerugian fisik terhadap orang atau harta benda .
39
Di negara-negara demokrasi konsep partisipasi politik bertolak dari paham bahwa
kedaulatan ada di tangan rakyat, yang dilaksanakan melalui kegiatan bersama untuk
menetapkan tujuan-tujuan serta masa depan masyarakat itu dan untuk menentukan
orang-orang yang akan memegang tampuk pimpinan. Anggota masyarakat yang berpartisipasi
dalam proses politik, misalnya melalui pemberian suara atau kegiatan lain, terdorong oleh
keyakinan bahwa melalui kegiatan bersama itu kepentingan mereka akan tersalur atau
sekurang-kurangnya akan diperhatikan. Masyarakat sedikit banyak dapat memengaruhi
tindakan dari mereka yang berwenang untuk membuat keputusan yang mengikat. Dengan
kata lain, kegiatan mereka mempunyai efek politik.
.
40
Dalam masyarakat primitif, dimana politik cenderung erat terintegrasi dengan
masyarakat pada umumnya, partisipasi condong tinggi dan mungkin sulit untuk
membedakannya dari kegiatan yang lain. Akan tetapi, dalam masyarakat berkembang, karena
adanya kombinasi dari institusi dan pengaruh modern dan tradisional, partisipasi mungkin
dibatasi oleh faktor-faktor seperti tingkatan melek huruf dan masalah umum dari komunikasi.
1.7 Metodologi Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Metode penelitian kualitatif
adalah metode penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi yang alamiah, (sebagai
lawannya adalah eksperimen) dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci, teknik
pengumpulan data dilakukan secara trianggulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif,
dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada generalisasi41.
1.7.1 Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Moh. Nasir dalam
bukunya yang berjudul Metode Penelitian Sosial mengatakan bahwa metode penelitian
kualitatif deskriptif adalah suatu metode dalam meneliti status kelompok manusia, suatu
objek, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran ataupun suatu kelas peristiwa pada masa
sekarang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membuat deskriptif, gambaran / lukisan
secara sistematis, faktual dan akurat mengenai faktor-faktor, sifat-sifatserta hubungan antara
fenomena yang diselidiki42
Pengertian lain dari penelitian kualitatif deskriptif menurut Soehartono adalah bahwa
penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran tentang suatu masyarakat atau tentang
suatu kelompok orang tertentu atau gambaran tentang suatu gejala atau hubungan antara dua
gejala atau lebih
.
43
41
Prof. Dr. Sugiono. 2005. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: CV. Alfabeta. Hal. 1
. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini bertujuan untuk
42
Moh Nazir. 1999. Metode Penelitian Sosial. Jakarta: Ghalia Indonesia. Hal. 63
43
memberikan gambaran mengenai peranan Sulang Silima Marga Angkat dalam pemilihan
Kepala Desa Belang Malum, Kecamatan Sidikalang, Kabupaten Dairi.
1.7.2 Lokasi Penelitian
Lokasi yang dipilih menjadi tempat penelitian adalah Desa Belang Malum,
Kecamatan Sidikalang, Kabupaten Dairi. Pemilihan lokasi penelitian tersebut dikarenakan
Desa Belang Malum desa selalu mendapat campur tangan dari Lembaga Adat Sulang Silima
Marga Angkat ketika mengadakan pemilihan kepala desa. Desa Belang Malum merupakan
salah satu desa tertua yang menjadi wilayah kekuasaan Sulang Silima Marga Angkat. Desa
Belang Malum juga merupakan desa tempat berdirinya tugu Sulang Silima Marga Angkat
sebagai sekretariat Marga Angkat Kabupaten Dairi.
1.7.3 Teknik Pengumpulan Data
Data yang diperoleh dalam penelitian ini adalah berupa data kualitatif sebagai berikut:
1. Data Primer, yang diperoleh melalui wawancara secara langsung kepada narasumber yaitu
masyarakat Desa Belang Malum, Kecamatan Sidikalang, Kabupaten Dairi dan juga
pengurus Lembaga Adat Sulang Silima Marga Angkat Kabupaten Dairi, dimana
pertanyaan yang diajukan bersifat terbuka tergantung pada objek lapangan.
Adapun narasumber yang akan diwawancarai untuk mendapatkan data dan informasi
yang berkaitan dengan penelitian ini antara lain:
a. Ketua Sulang Silima Marga Angkat se-Indonesia, Abdul Angkat SH.
b. Kepala desa terpilih St. Elom Simanungkalit.
c. Calon Kepala desa tahun 2011, Sahat Hutauruk.
e. Anggota Sulang Silima Marga Angkat sekaligus panitia pemilihan Kepala Desa Belang
Malum tahun 2011, Ucok Angkat.
f. Ketua panitia pemilihan Kepala Desa Belang malum tahun 2011, Bangun Samosir
2. Data Sekunder, yang diperoleh melalui penelitian kepustakaan, yaitu dengan
mengumpulkan data-data yang relevan dengan masalah penelitian seperti melalui buku,
koran dan dokumen.
1.7.4 Teknik Analisa Data
Analisis data kualitatif adalah bersifat induktif, yaitu suatu analisis berdasarkan data
yang diperoleh, selanjutnya dikembangkan menjadi hipotesis. Maka teknik analisis data yang
dilakukan dalam penelitian ini adalah mencari dan menyusun secara sistematis data yang
diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi, dengan cara
mengorganisasikan data ke dalam kategori, ,menjabarkan ke dalam unit-unit, melakukan
sintesa, menyusun kedalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari, dan
membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami diri sendiri dan orang lain44.
1.8 Sistematika Penulisan
Untuk mendapatkan suatu gambaran yang jelas dan untuk mempermudah isi, maka
penelitian ini dibagi ke dalam 4 (empat) bab, yaitu:
BAB I : PENDAHULUAN
Dalam bab ini berisikan mengenai Latar Belakang Masalah, Rumusan dan Pembatasan
Masalah, Tujuan dan Manfaat Penelitian, Kerangka Teori, Metodologi Penelitian dan
Sistematika Penulisan.
BAB II : PROFIL DESA BELANG MALUM DAN SULANG SILIMA MARGA ANGKAT
44
Bab ini akan menguraikan tentang gambaran umum tentang deskriptif lokasi penelitian
seperti profil Desa Belang Malum, dan gambaran umum Lembaga Adat Sulang Silima Marga
Angkat.
BAB III : PERANAN SULANG SILIMA MARGA ANGKAT DALAM PEMILIHAN
KEPALA DESA BELANG MALUM
Bab ini akan memuat hasil dari penelitian yang dilakukan oleh penulis mengenai peranan
lembaga adat Sulang Silima Marga Angkat dalam pemilihan Kepala Desa Belang Malum
tahun 2011.
BAB IV : PENUTUP