• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERKEMBANGAN PERBANKAN DAERAH

3.2. INTERMEDIASI PERBANKAN

Kegiatan intermediasi perbankan selama triwulan I-2011 dan triwulan II-2011 mengalami peningkatan yang tercermin dari adanya kenaikan loan to deposit ratio dari 81,27% menjadi 83,60%. Kenaikan kredit investasi berperan besar dalam peningkatan

loan to deposit ratio. Ekspektasi masyarakat akan kondisi perekonomian yang semakin

membaik berpengaruh positif terhadap dunia usaha di Sumut.

3.2.1. Penghimpunan Dana Masyarakat

Penghimpunan DPK Sumut hingga triwulan II-2011 mencapai Rp115,99 triliun, meningkat 3,01% dibandingkan triwulan sebelumnya atau meningkat 18,51% dibandingkan triwulan II-2010 walaupun dengan tingkat pertumbuhan yang relatif stabil. Dilihat secara terpisah, penghimpunan DPK oleh bank umum konvensional tercatat sebesar Rp112,83 triliun atau tumbuh sebesar 2,97% (qtq) dan 17,94%

(yoy).

Grafik 3. 1 Perkembangan DPK Sumut

Sumber: LBU, diolah

Ditinjau dari strukturnya, DPK perbankan di Sumatera Utara masih tetap didominasi oleh tabungan sebesar 40,93% dari total DPK dengan nilai Rp47,47 triliun, diikuti deposito 40,48% (Rp46,95 triliun) dan giro 18,60% (Rp21,57 triliun).

Grafik 3. 2 Struktur DPK Sumut

Sumber: LBU, diolah

Namun bila dilihat dari pertumbuhannya, giro mengalami pertumbuhan paling tinggi pada triwulan II-2011 yaitu sebesar 6,41% (qtq), diikuti oleh tabungan yang tumbuh sebesar 3,35% dan deposito tumbuh paling rendah sebesar 1,19%. Sementara itu, dilihat dari rata-rata suku bunga selama triwulan I-2011 hingga triwulan II-2011 suku bunga tabungan mengalami penurunan dari 2,56% menjadi 2,55% dan suku bunga deposito menurun dari 6,49% menjadi 6,34%, sedangkan suku bunga giro mengalami kenaikan dari 1,89% menjadi 2,01%.

3.2.2. Penyaluran Kredit

Pada triwulan II-2011 kredit perbankan di Sumatera Utara tumbuh 5,96% (qtq) hingga mencapai Rp96,97 triliun. Dengan pertumbuhan yang positif pada triwulan ini maka secara tahunan pertumbuhan kredit menjadi 20,16% yang diperkirakan sebagai dampak pertumbuhan ekonomi regional. Pertumbuhan kredit yang relatif lebih baik pada triwulan II-2011 terutama didorong oleh peningkatan kredit investasi sebesar 9,22% (qtq).

Grafik 3. 3 Perkembangan Penyaluran Kredit Sumut

Pertumbuhan kredit investasi yang relatif lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kredit modal kerja dan kredit konsumsi pada triwulan II-2011 relatif tidak merubah struktur kredit Sumatera Utara yang didominasi kredit modal kerja sebesar Rp49,30 triliun (50,84%), diikuti oleh kredit konsumsi dan kredit investasi masing-masing sebesar Rp27,45 triliun (28,31%) dan Rp20,22 triliun (20,85%).

Grafik 3. 4 Struktur Kredit Sumut

Sumber: LBU, diolah

Komposisi penyaluran kredit menurut sektor ekonomi pada triwulan II-2011 relatif sama dengan triwulan sebelumnya, dengan dominasi sektor perdagangan, hotel dan restoran, sektor industri pengolahan dan sektor pertanian dengan porsi masing-masing sebesar 22,89%, 21,72% dan 11,54%. Jika dibandingkan dengan posisi triwulan I-2011, pangsa sektor perdagangan, restoran dan hotel menurun dari 23,14% menjadi 22,89%. Positifnya pertumbuhan perekonomian regional, diperkirakan akan semakin mendorong peningkatan kegiatan sektor perdagangan, hotel dan restoran, yang diikuti dengan kenaikan penyaluran kredit di sektor ini.

Grafik 3. 5 Perkembangan Kredit dan Pangsanya menurut Sektor Ekonomi

3.2.3. Kredit UMKM

Jumlah kredit UMKM pada triwulan II-2011 mengalami peningkatan sebesar 9,29%

(qtq) hingga mencapai jumlah sebesar Rp25,97 triliun. Sementara secara tahunan

kredit UMKM mengalami penurunan pertumbuhan sebesar 19,35%.

Grafik 3. 6 Perkembangan Kredit UMKM Sumut

Sumber : LBU, diolah

Struktur kredit UMKM didominasi oleh kredit menengah yang nilainya mencapai Rp10,88 triliun atau 41,89% dari total kredit UMKM. Sementara itu kredit kecil nilainya mencapai Rp10,77 triliun atau 41,47% dari total kredit UMKM dan kredit mikro sebesar Rp4,32 triliun atau 16,63% dari total kredit UMKM. Porsi ini sama dengan posisi triwulan sebelumnya dimana kredit menengah masih mendominasi struktur kredit UMKM dengan pangsa 41,89%.

Grafik 3. 7 Struktur Kredit UMKM Sumut

Berdasarkan jenis penggunaannya, struktur kredit mikro, kecil dan menengah didominasi oleh kredit modal kerja. Kredit mikro yang digunakan untuk modal kerja sebesar Rp3,24 triliun (89,19% dari total kredit mikro), dan kredit mikro yang ditujukan untuk investasi sebesar Rp392,33 miliar (10,81% dari total kredit mikro).

Grafik 3. 8 Struktur Kredit Mikro, Kecil, dan Menengah

Sumber: Sumber : LBU, diolah

Kredit kecil yang digunakan untuk konsumsi sebesar Rp146,63 miliar atau 1,64% dari total kredit kecil. Kredit kecil yang digunakan untuk modal kerja sebesar Rp6,87 triliun (76,92% dari total kredit kecil). Kredit kecil yang ditujukan untuk investasi sebesar Rp1,91 triliun (21,44% dari total kredit kecil).

Kredit menengah yang digunakan untuk modal kerja sebesar Rp8,23 triliun atau 77,02% dari total kredit menengah dan kredit menengah yang ditujukan untuk investasi sebesar Rp2,47 triliun (22,98% dari total kredit menengah).

Grafik 3. 9 Perkembangan Kredit UMKM menurut Sektor Ekonomi

Sumber: LBU, diolah

Ditinjau dari sisi sektoral, kredit UMKM didominasi oleh sektor perdagangan, hotel, dan restoran yang pada triwulan laporan mencapai Rp10,85 triliun atau 46,57% dari total kredit UMKM, diikuti oleh sektor industri pengolahan dengan total kredit Rp3,03 triliun (13%).

3.3. STABILITAS SISTEM PERBANKAN 3.3.1. Risiko Kredit

Non Performing Loans (NPL) secara gross pada triwulan II-2011 tercatat sebesar

2,86%, menurun dari triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 2,97%. NPL perbankan Sumatera Utara yang selalu berada di bawah batas aman sejak tahun 2008 menunjukkan risiko kredit perbankan di Sumatera Utara yang relatif stabil meskipun terdapat pelambatan ekonomi regional di paruh pertama 2009 sebagai dampak krisis keuangan global.

Grafik 3. 10 NPL Gross

Sumber: LBU, diolah

Komposisi NPL masih relatif tetap, di mana kredit investasi masih mencatat rasio NPL tertinggi yaitu sebesar 4,55%, sedangkan kredit modal kerja dan kredit konsumsi masing-masing tercatat 4,03% dan 1,95%.

Secara sektoral NPL gross tertinggi pada triwulan II-2011 dialami oleh debitur sektor pertambangan dengan NPL tercatat sebesar 25,29% naik pesat dari triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 15,25%, diikuti oleh sektor konstruksi yang tercatat sebesar 9,87% naik dari triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 9,17%. Namun demikian enam sektor lainnya yang memiliki pangsa 71,82% dari total kredit justru mengalami penurunan NPL sehingga mampu menekan total NPL turun menjadi 3,59%. Sementara itu, pada triwulan laporan NPL net tercatat sebesar 1,35%, menurun dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 1,38%.

3.3.2. Risiko Likuiditas

Dilihat dari cash ratio yang relatif stabil di atas 3%, perbankan Sumut memiliki likuiditas yang cukup untuk memenuhi kewajibannya. Pada triwulan II-2011 cash

ratio ini tercatat sebesar 5,45% meningkat dari triwulan sebelumnya yang tercatat

Grafik 3. 11 Cash Ratio

Sumber: LBU, diolah

3.3.3. Risiko Pasar

Pada triwulan II-2011 terdapat kecenderungan pertumbuhan long aset dalam jangka panjang yang diindikasikan karena peningkatan permintaan kredit seiring dengan menurunnya tingkat suku bunga kredit. Dibandingkan triwulan sebelumnya, pada triwulan II-2011 suku bunga perbankan yang mengalami peningkatan yaitu giro dari 1,89% menjadi 2,01%. Sementara suku bunga tabungan dan deposito menurun masing-masing dari 2,56% menjadi 2,55% dan dari 6,49% menjadi 6,34%.

Dengan profil maturitas perbankan di Sumatera Utara tersebut, kecenderungan penurunan suku bunga ini diperkirakan akan menurunkan risiko pasar perbankan Sumatera Utara dari aspek pergerakan suku bunga karena berpotensi meningkatkan

net interest margin bank.

Grafik 3.12 Pergerakan suku bunga perbankan

Dokumen terkait