• Tidak ada hasil yang ditemukan

International Organization of Migrant (IOM) dan UNHCR

Berdasarkan perjanjiankerja sama antara pemerintah RI dengan IOM disebutkan tugas IOM antara lain membantu pemerintah dengan menyediakan bantuan terhadap imigran gelap yang statusnya belum jelas. Selain itu, juga menyediakan transportasi ke negara iain atau kembali ke negaranya. IOM membantu pemerintah dan UNHCR dalam prosesInterview terhadap status imigran gelap. Namun, tidak semua imigran gelap yang

berada di Indonesia ditangani IOM. Mereka yang mempunyai skill akan diprioritaskan untuk dicarikan negara ketiga. Masalah yang kemudian muncul adalah siapa yang akan menanggung biaya imigran gelap yang tidak mempunyaiskilllainnya. Juga mengenai ketiadaan negara ketiga yang mau menerima kehadiran mereka.

Persoalan imigran gelap yang dikaitkan dengan people smuggling

(penyelundupan manusia) tidak bisa dipisahkan dari International Organization for Imigration (IOM), UNHCR dan pemerintah setempat. Setelah menangkap imigran gelap, pihak kepolisian akan menghubungi IOM. Dalam pandangan IOM, mereka adalahirregular imigrantkarena yang berwenang menentukan status mereka adalah UNHCR. Persoalan awal yang muncul ketika proses penyerahan dari tangan polisi kelOM.

Proses itu bisa berlangsung cepat atau sebaliknya. Pihak kepolisian tentu berharap IOM segera menangani imigran gelap yang tertangkap karena keterlambatan berarti pembengkakan anggaran. Menurut Kadit Intel Polda Jatim,. Polda Jatim dan Kanwil imigrasi telah mengeluarkan Rp 20 juta selama menunggu kedatangan IOM. Namun, menurut salah seorang staf IOM Denpasar, keterlambatan itu disebabkan karena pihaknya sedang mengurusi imigran di NTT. IOM Denpasar mengatakan pihaknya terus menangani imigran yang ada di Indonesia dengan bekerja sama dengan aparat kepolisian setempat. Jumlah imigran gelap yang ditangani di beberapa daerah : Kupang (410 imigran), Situbondo (118), Mataram (12), Bima (15), Sumbawa Besar (11) dan Ambon (11).

Salah satu cara untuk menangani imigran gelap adalah dengan meng- gunakan UU No. 9 tahun 1992. Namun, kendala yang kerap terjadi, mereka tidak diakui di negara asalnya sedangkan negara lain menolaknya. Kadit Intel Polda Jatim mengatakan bahwa saat pertama kali menangani imigran gelap (1 Februari 2001) mestinya mereka dideportasi. Tapi mereka tidak mau dengan alasan takut dibunuh dan pemerintah mereka tidak mau menerima. Selama mereka berada di Indonesia tanpa status yang jelas (ditetapkan sebagai pengungsi oleh UNHCR atau ditangani IOM sebagai irregular imigration) akan merepotkan pemerintah. Selain masalah anggaran, juga dampak sosial yang melingkupinya seperti konflik dengan masyarakat sekitar.

Data Polda Bali menyebutkan ada 106 orang yang pernah ditangani. Mereka berasal dari Pakistan, Afghanistan, Iran, Saudi Arabia, Yordania, Irak dan Irlandia. Dari jumlah itu, 33 orang penanganannya telah diambil alih IOM dan UNHCR (33 orang) sedangkan 3 orang lainnya dideportasi. Imigran gelap yang ditolak masuk Bali, tidak diproses dan diserahkan ke Polres Lombok Timur sebanyak 70 orang. Operasi yang digelar itu tidak hanya untuk mendeteksi imigran gelap tetapi juga berkaitan dengan orang asing yang ijinnya sudahoverstay.Dari berbagai kasus yang ditangani itu, Polda Bali belum pernah mengungkapjaringan imigran gelap.

Masalah imigran gelap jika dibiarkan akan membebani pemerintah. Sebab, menurut Kemala Anggraini Ahwil, External Relations Officer Komisi Tinggi PBB untuk Urusan Pengungsi (UNHCR), hanya 35% imigran gelap yang ditangkap polisi yang memenuhi persyaratan sebagai pengungsi. Menurut Richard Danziger, Kepala Liaison Office International Organization Migrants mengatakan bahwa imigran ilegal adalah urusan pemerintah, bukan UNHCR.

Perburuoiuipwidikatpenyelundupmanusiajugadilakukandi Nusa Tenggara Tii mi Provinsi puling dekat ke Australia ini biasa digunakan jadi gerbang im nujiau!au Pasii di scbelah selatan Pulau

Rote. Selasa pekan lalu Polisib • )! ■ ’! Imei >erg <hkupulbtrmesintempel yang bertolak dari Probolinggo, Jawa

7imur,yungdisesaki 273 imigran diperairan Pulau Rote,

Mereka berniat menyeberang ke Pulau Pasir, Topi, impian mereka kandas, karena petugas Kepolisian Daerah (Polda) NTTIebih dulu menyergap mereka di Palape. Akhir-akhir ini Polda NTT memang rajin memblokade Rote dari serbuan imigran. Menurut keterangan Kapolda NTT, Brigadir JenderaiJacki Uly, ketika terpergok, kapal pengangkut imigran itu sempat mempercepat lajunya.Selama Wjamterjadikejar-mengejar,

Baru setelah polisi mengeluarkan tembakan peringatan, kapten kapal itu menyerah. Para imigran gelap kini dikumpulkan di Sekolah Polisi Negara (SPN) Kupang. Sebelumnya, di SPN Kupang telah diinapkan 243 pendatang gelap lain yang tertangkap 21 Oktober lalu. "Dari semua imigran di SPN, 15 di antaranya muka-muka lama," kata Jacki Uly. Salah satunya adalah Hasan All Abdullah, la pernah ditangkap Polda NTT, Julisilam, lalu dikirimke Jakarta.

Namun dari mulut Ali Abdullah inilah polisi memperoleh titik terang untuk membongkarjaringan sindikat pengirim orang tersebut. Kepada petugas, pria 42 tahun itu menuturkan, ia bisa kabur dari lokasi penampungan di Jakarta berkat bantuan temannya, salah satuanggota sindikat Amanullah Reejai, alias Gamber, yang asal Pakistan. Gamber, menurut Hasan Ali, punya hubungan dekat dengan pihak keamanan. Gamber konon telah lama diincar polisi. la punya andalan Muhammad Ali, warga Afghanistan, yang memiliki ernpat anak buah yang -:mengaturpengiriman imigran dari

Jawa Timur, Nusa Tenggara, dan Bali.

Sindikat-sindikat pengirim manusia ini banyak akal. Mereka punya banyak jalur untuk menyeberang ke Australia. Selain Rote, mereka misalnya bisa mencapai Australia lewat Pulau Sangeang, 71 kilometer timur laut Bima, Pulau vwa, Nusa Tenggara Barat. Pekan lalu, 170 imigran gelap ditemukan terdampar disana setelah mesin kapal pengangkut mereka rusak.

Menangkap tokoh utama sindikat ini tak mudah. Kepala Bagian Hubungan MasyarakatMarkas BesarPolri, BrigadirJendera!SalehSaaf, mengatakan bahvja pihaknya sudah membentuk tiga tim khusus yang dipimpin polisi berpangkat brigadir jenderal. Tiga tim itu diterjunkan ke sejumlah tempat penampungar untukmengintai orang- orang yang dicurigai sebagai bos sindikat,

Tapi, hingga pekan laiu itu, orang-orang yang dicurigai belum ode ycr,g diperiksa atau dikenai status tersangka. "Informasi mengenai adanya zrz-z bernamoAbu Quassey itu, misalnya,

masihperlu diteliticermat,"kato Sze- Szz; saat itu, Namun kemudian polisi berhasil menangkap Quassey dan Brigs z■ ;;.•Safuan. Agus diduga ikut mengawal para imigran itu dari sebuah pen a rz^-zz-di daerah Puncak, Jawa Barat hingga ke Lampung. Dari sanaiah oorz~