HASIL PENELITIAN
D. Interpretasi Hasil Penelitian
Hipotesis penelitian pertama yang menyatakan, “tidak terdapat perbedaan rata-rata kinerja petugas Satpol PP yang mengikuti model
pelatihan CBET dan yang mengikuti model pelatihan konvensional” tidak dapat diterima. Sehingga hipotesis yang diterima adalah hipotesis alternatif
yang menyatakan bahwa ”Rata-rata kinerja petugas Satpol PP yang mengikuti model pelatihan CBET lebih tinggi daripada petugas yang diberi
model pelatihan konvensional”, diterima dan teruji kebenarannya. Hal itu selanjutnya membuktikan bahwa kinerja petugas Satpol PP yang memiliki
motivasi kerja tinggi dan diberi model pelatihan CBET lebih tinggi daripada
petugas yang memiliki motivasi kerja rendah dan diberi model pelatihan
konvensional.
Hipotesis penelitian keempat yang menyatakan, ”Terdapat pengaruh interaksi antara model pelatihan dengan motivasi kerja terhadap kinerja
petugas Satpol PP”, diterima dan teruji kebenarannya. Hal itu selanjutnya membuktikan bahwa petugas yang mengikuti model pelatihan yang tidak
sama dan motivasi kerjanya juga berbeda, kinerja satu dengan lainnya
berbeda pula.
E. Pembahasan
Penelitian ini mengungkapkan bahwa Model Pelatihan dan motivasi
kerja secara signifikan mempengaruhi variasi kinerja petugas Satpol PP.
Kinerja petugas Satpol PP yang diberi Pelatihan CBET lebih tinggi dari pada
pada tabel 4.1 dan tabel 4.2, dari kedua tabel tersebut terlihat bahwa kinerja
petugas Satpol PP yang mengikuti pelatihan CBET memiliki variasi sebaran
skor pada 87,5 – 96,5 dan 114,5 – 123,5 (lihat tabel 4.1). Sebaran skor pada rentang ini merupakan sebaran skor yang tinggi jika dibandingkan dengan
sebaran skor kinerja petugas Satpol PP yang mengikuti pelatihan
konvensional yang sebagian besar berada pada rentangan skor 61,5 – 70 dan 70 78,5 (lihat tabel 4.2). dari perbedaan rentang skor ini dapat dikatakan
bahwa model pelatihan yang diberikan kepada petugas Satpol PP
memberikan dampak pada peningkatan skor kinerja petugas Satpol PP.
Kinerja petugas Satpol PP yang diberi pelatihan CBET lebih tinggi karena
dengan menggunakan pelatihan CBET seorang petugas satpol PP latih untuk
mampu mengerjakan tugas dan pekerjaan sesuai dengan standar yang telah
ditetapkan. Pelatihan ini dilaksanakan melalui proses pelatihan yang
bermakna dimana kompetensi di refleksikan kepada kebutuhan utama dalam
menjalankan tugas Satpol PP, sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.
Hasil pelatihan CBET berupa kinerja merupakan fokus dari hasil pelatihan
CBET. Model pelatihan CBET mengakui pengalaman belajar petugas satpol
PP sebelumnya, sehingga petugas satpol PP dalam pelatihan tidak dituntut
untuk mengikuti proses pelatihan sampai akhir akan tetapi jika petugas satpol
PP lulus mengikuti ujian kompetensi maka mereka memperoleh kelulusan.
CBET merupakan salah satu pendekatan dalam pengembangan
kompetensi sumber daya manusia yang berfokus pada hasil akhir (outcome).
CBET sangat fleksibel dalam proses kesempatan untuk memperoleh
karakteristik tersendiri, khususnya bila diterapkan untuk diakui secara
nasional. Hal ini berbeda dengan pendidikan dan pelatihan yang pada
umumnya dilakukan (tradisional) yang berfokus pada masukan (input), proses,
dan keluaran (output) yang sangat bervariasi dan bisa jadi tidak sesuai
dengan standar kebutuhan pekerjaan / tugas.
Tujuan CBET adalah agar peserta didik dan latih mampu mengerjakan
tugas dan pekerjaan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Secara
khusus, tujuan utama CBET adalah menghasilkan kompetensi dalam
menggunakan ketrampilan yang ditentukan untuk pencapaian standar pada
suatu kondisi yang telah ditetapkan dalam berbagai pekerjaan dan jabatan.
Aplikasi metode pelatihan CBET memerlukan perancangan yang matang dan
sesuai dengan kondisi dari peserta didik. Petugas satpol PP menjalankan
tugas yang begitu variatif dan memiliki resiko perkerjaan yang tinggi, dimana
petugas Satpol PP harus berhadapan dengan masyarakat, khususnya ketika
berhadapan dengan masyarakat yang melanggar ketetapan Pemerintah
Daerah Prov. DKI Jakarta. Di sisi lain petugas Satpol PP merupakan pelayan
masyarakat untuk menjaga ketertiban, maka seorang petugas Satpol PP
dituntut untuk dapat memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat.
Beban pekerjaan seorang petugas Satpol PP yang cukup tinggi ini tentunya
harus diimbangi dengan kemampuan kompetensi yang tinggi yang harus
dimiliki oleh seorang petugas Satpol PP. Kesadaran akan kebutuhan
kompetensi yang tinggi ini telah nampak pada petugas Satpol PP yang
yang mengikuti model pelatihan model CBET yang memiliki motivasi kerja
tinggi (lihat gambar 4.5).
Pelatihan konvensional berbeda dengan pelatihan CBET, dimana
kegiatan pelatihan yang lebih banyak menekankan pada input (masukan
berupa misalnya materi, kriteria peserta dan lain lain) dan proses serta produk
yang banyak variasi dalam upaya meningkatkan kinerja peserta. Model
pelatihan ini karena terlalu banyak variasi kadang-kadang output yang ingin
dicapai menjadi tidak terukur. Banyaknya variasi dari hasil (produk) yang
dicapai dalam pelatihan konvensional ini menyebabkan peserta pelatihan
kurang termotivasi untuk mengikuti pelatihan. Karena perbadaan pencapaian
hasil pelatihan pada setiap peserta pelatihan merupakan hal yang wajar,
sehingga peserta kurang termotivasi untuk meraih suatu kondisi tertentu
sebagai capaian hasil pelatihan. Hal inilah yang kemudian dapat berakibat
pada motivasi peserta pelatihan. Seperti terlihat pada tabel 4.7, bahwa
sebagian besar (55%) petugas satpol PP yang mengikuti pelatihan
konvensional yang memiliki motivasi kerja tinggi berada pada rentangan skor
terendah dalam rentangan skor motivasi tinggi.
Memperhatikan pelatihan model konvensional, kriteria keberhasilan
selalu ditentukan oleh pihak penyelenggara. Peserta latih hanya menjadi objek
pelatihan yang tidak dapat menentukan kehendak yang ingin dicapainya
sendiri sebagaimana dalam CBET.
Secara kualitatif dengan memperhatikan hasil analisis variasi dua arah
(Two-way ANOVA) pada Tabel 4.18 di atas khususnya nilai F hitung kekuatan
PP serta interaksi antar keduanya terhadap kinerja petugas satpol PP. Hal ini
dapat dipahami, mengingat motivasi dapat timbul dari dalam (intrinsik) dan
luar diri individu (ekstrinsik). Model pelatihan yang diberikan kepada anggota
Satpol PP merupakan suatu kondisi lingkungan yang dapat merangsang
motivasi ekstrinsik seorang petugas satpol PP. Pelatihan CBET merupakan
pelatihan yang lebih menekankan seseorang untuk menguasai bidang
kompentesi dalam tugas pekerjaannya. Sehingga, ketika seorang petugas
Satpol PP mengikuti pelatihan ini, ia akan termotivasi untuk dapat mengusai
kompetensi yang menjadi tuntutan dalam pekerjaannya. Hal ini yang
memungkinkan metode pelatihan CBET ini dapat merangsang petugas Satpol
PP untuk meningkatkan kinerjanya.