BAB III METODE PENELITIAN
3.5. Interpretasi Data
Intrerpretasi data merupakan hasil kegiatan analisis dengan permasalahan penelitian untuk menemukan makna yang ada dalam permasalahan. Intrepretasi data dimulai dari menelaah seluruh data yang tersedia yang didapat melalui observasi, wawancara, dan juga dokumentasi. Setalah itu, data akan dipelajari menggunakan teori yang cocok untuk digunakan dan diinterpretasikan secara kualitatif untuk menganalisis permasalahan tersebut.
Kemudian data-data tersebut akan diukur,diatur, diurutkan, dikelompokkan ke dalam kategori, pola atau uraian tertentu dan diperoleh hasil atau kesimpulan yang baik dan sampai pada hasil akhir yaitu laporan.
Setelah data tersebut sudah terkumpul dan dibaca, maka langkah selanjutnya adalah mereduksi data dengan cara abstraksi. Abstraksi merupakan rangkuman terperinci yang merujuk atau berisi pada semua isi penelitian yang ada.
3.6 Jadwal Kegiatan
Agar berjalannya penelitian ini, maka dengan itu peneliti membuat jadwal kegiatan agar tersusun dan terlaksana dengan baik, adapun jadwal ketiatan tersebut sebagai berikut;
28
Tabel 3.1
Jadwal Kegiatan Penelitian No
Kegiatan
Bulan Ke………
1 2 3 4 5 6 7 8
1 Pra Observasi
2 ACC Judul Penelitian 3 Penyusunan Proposal 4 Seminar Desain Penelitian 5 Revisi Proposal Penelitian 6 Penelitian Lapangan
7 Pengumpulan Dan Interpretasi Data 8 Bimbingan
9 Penulisan Laporan Akhir
10 Seminar Hasil Dan Sidang Meja Hijau
29 BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian
4.1.1 Deskripsi Kota Binjai
Gambar 4.1 Peta Kota Binjai
Sumber : Data Peta 2020 Binjai Kota
Kota Binjai adalah salah satu kota (dahulu daerah tingkat II berstatus kotamadya) dalam wilayah provinsi Sumatra Utara, Indonesia. Binjai terletak 22 km di sebelah barat ibukota provinsi Sumatra Utara, Medan. Sebelum berstatus kotamadya, Binjai adalah ibu kota Kabupaten Langkat yang kemudian dipindahkan ke Stabat. Binjai berbatasan langsung dengan Kabupaten Langkat di sebelah barat dan utara serta Kabupaten Deli Serdang di sebelah timur dan selatan. Binjai merupakan salah satu daerah dalam proyek pembangunan Mebidang yang meliputi kawasan Medan, Binjai dan Deli Serdang. Saat ini, Binjai dan Medan dihubungkan oleh jalan raya Lintas Sumatra yang menghubungkan antara Medan dan Banda Aceh. Lebih jelasnya lagi batas wilayah kota binjai dari bagian Utara ada Kabupaten Langkat dan Kabupate Deli Serdang. Kemudian di bagian Timur ada Kabupaten Deli
30
Serdang. Dibagian Selatan ada Kabupaten Langkat dan Deli Serdang. Dan terakhir di bagian Barat ada Kabupatem Langkat.
Uniknya Kota Binjai Sejak lama dikenal dengan julukan Kota rambutan, dikarenakan buah rambutan binjai sangat terkenal menjadikan komoditas unggul bagi kota binjai sendiri.
Kota Binjai sendiri terbagi dalam lima kecamatan, mulai dari Binjai Barat, Binjai Kota, Binjai Selatan, Binjai Timur dan terakhir Binjai Utara. Tetapi setiap Kecamatan memiliki kelurahan yang berbeda pula.
Pada Tahun 1945 (saat revolusi) sebagai kepala pemerintahan Binjai adalah RM.Ibnu dan pada 29 Oktober 1945 T. Amir Hamzah diangkat menjadi Residen Langkat oleh Komite Nasional dan pada masa pendudukan Belanda 1947 Binjai berada di bawah Asisten Residen J. Bunger dan RM. Ibnu sebagai Wakil Walikota Binjai pada tahun 1948–1950 pemerintahan Kota Binjai dipegang oleh ASC Moree. Tahun 1950–1956 Binjai menjadi Kota Administratif Kabupaten Langkat dan sebagai Walikota adalah OK. Salamuddin kemudian T. Ubaidullah Tahun 1953–1956. Berdasarkan Undang-Undang Darurat No. 9 Tahun 1956 Kota Binjai menjadi otonom Kotapraja dengan Walikota pertama S.S. Parumuhan. Dalam perkembangannya Kota Binjai sebagai salah satu Daerah Tingkat II di Provinsi Sumatera Utara telah membenahi dirinya dengan melakukan pemekaran wilayahnya. Semenjak ditetapkan Peraturan Pemerintah No.10 Tahun 1986 wilayah Kota daerah Kota Binjai telah diperluas menjadi 90,23 Km2 dengan 5 wilayah kecamatan yang terdiri dari 11 desa dan 19 kelurahan. Setelah diadakan pemecahan desa dan kelurahan pada tahun 1993 maka jumlah desa menjadi 17 dan kelurahan 20. Perubahan ini berdasarkan keputusan Gubernur Sumatera Utara Nomor 140-1395/SK/1993 tanggal 3 Juni 1993 tentang Pembentukan 6 desa persiapan dan 1 kelurahan persiapan di Kota Binjai. Berdasarkan SK Gubernur Sumatera Utara No.146/2624/SK/ 1996 tanggal 7 Agustus 1996, 17 desa menjadi kelurahan. Hal ini diperjelas sebagai berikut:
31
Ketinggian rata-rata adalah 28 meter di atas permukaan laut dan berjarak hanya sekitar 8KM dari Kota Medan. Dalam peraturan Walikota binjai Nomor 21 Tahun 2019 tentang
32
penjabaran perubahan anggaran pendapatan dan belanja daerah tahun anggaran 2019, mencantumkan mengenai keberadaan Kota Binjai sebagai berikut:
1. Undang-undang darurat Nomor 9 Tahun Tahun 1956 tentang pembentukan Daerah Otonomi kota-kota kecil Dalam Lingkungan Daerah Provinsi Sumatera Utara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1956 Nomor 60, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 1092);
2. Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1986 tentang Perubahan Batas Wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II Binjai, Kabupaten Daerah Tingkat II Deli Serdang (Lembaga Negara Republik Indonesia Tahun 1986 Nomor 11 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3322).
4.2 Pemerintah Kota Binjai Dalam Aspek Pelayanan Kesehatan
Pemerintah Kota Binjai dalam aspek pelayanan kesehatan memiliki peraturan yang sudah disusun sedemikian rupa dalam peraturan pemerintah Walikota Binjai Nomor 38 Tahun 2017 tentang Tugas Dan Fungsi Bagian Kesatu UPTD Puskesmas Pasal 7
1. UPTD Puskesmas mempunyai tugas melaksanakan kebijakan kesehatan untuk mencapai tujuan Pembangunan Kesehatan di wilayah kerjanya dalam rangka mendukung terwujudnya Kecamatan sehat.
2. Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1), UPTD Puskesmas mempunyai fungsi:
a. Penyelenggaraan UKM tingkat pertama di wilayah kerjanya; dan b. Penyelenggaraan UKP tingkat pertama di wilayah kerjanya.
3. Dalam menyelenggarakan fungsi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a, UPTD Puskesmas berwenang untuk:
a. Melaksanakan perencanaan berdasarkan analisis masalah kesehatan masyarakat dan analisis kebutuhan pelayanan yang diperlukan;
33
b. Melaksanakan advokasi dan sosialisasi kebijakan kesehatan;
c. Melaksanakan komunikasi, informasi, edukasi dan pemberdayaan masyarakat dalam bidang kesehatan;
d. Menggerakkan masyarakat untuk mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah kesehatan pada setiap tingkat perkembangan masyarakat yang bekerjasama dengan sektor lain terkait;
e. Melaksanakan pembinaan teknis terhadap jaringan pelayanan dan upaya kesehatan berbasis masyarakat;
f. Melaksanakan peningkatan kompetensi sumber daya manusia Puskesmas;
g. Memantau pelaksanaan pembangunan agar berwawasan kesehatan;
Melaksanakan pencatatan, pelaporan dan evaluasi terhadap akses, mutu dan cakupan Pelayanan Kesehatan; dan
h. Memberikan rekomendasi terkait masalah kesehatan masyarakat, termasuk dukungan terhadap sistem kewaspadaan dini dan respon penanggulangan penyakit.
4. Dalam menyelenggarakan fungsi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b, UPTD Puskesmas berwenang untuk:
a. Menyelenggarakan Pelayanan Kesehatan dasar secara komprehensif, berkesinambungan dan bermutu;
b. Menyelenggarakan Pelayanan Kesehatan yang mengutamakan upaya promotif dan preventif;
c. Menyelenggarakan Pelayanan Kesehatan yang berorientasi pada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat;
d. Menyelenggarakan Pelayanan Kesehatan yang mengutamakan keamanan dan keselamatan pasien, petugas dan pengunjung;
34
e. Menyelenggarakan Pelayanan Kesehatan dengan prinsip koordinatif dan kerjasama inter dan antar profesi;
f. Melaksanakan rekam medis;
g. Melaksanakan pencatatan, pelaporan dan evaluasi terhadap mutu dan akses Pelayanan Kesehatan; \
h. Melaksanakan peningkatan kompetensi Tenaga Kesehatan;
i. Mengkoordinasikan dan melaksanakan pembinaan fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama di wilayah kerjanya; dan
j. Melaksanakan penapisan rujukan sesuai dengan indikasi medis dan Sistem Rujukan.
4.2.1 Visi Dan Misi Dinas Kesehatan Kota Binjai
Kemudian daripada itu, untuk lebih memperkuat dan meyakinan peneliti juga mencantumkan visi dan misi mengenai pelayanan kesehatan pada pemerintahan Kota Binjai sebagai berikut;
A. Visi Dinas Kesehatan Kota Binjai:
“Masyarakat yang sehat dan maju dalam kemandirian, kesetaraan, dan keadilan”.
B. Misi Dinas Kesehatan Kota Binjai:
1. Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, melalui pemberdayaan masyarakat (swasta dan masyarakat madani).
2. Melindungi kesehatan masyarakat dengan jaminan tersedia upaya kesehatan yang paripurna, merata, bermutu dan berkeadilan.
3. Menjamin ketersediaan dan pemerataan sumberdaya kesehatan 4. Menciptakan tata kelola kepemerintahan yang baik.
Disamping itu dari segi sarana kesehatan yang langsung dikelola oleh Dinas Kesehatan, sarana kesehatan lain, baik pemerintah maupun swasta memberikan pelayanan
35
kepada masyarakat di Kota Binjai. Adapun sarana kesehatan yang beroperasi di daerah Dinas Kesehatan Kota Binjai pada tahun 2017 : Rumah sakit Umum/Swasta 2 Buah, puskesmas 6 buah, puskesmas pembantu 13 buah, poliklinik / BPU 7 buah, klinik bersalin 7 buah, poliklinik induk 1 buah, apotek 10 Buah.
Adanya berbagai masalah kesehatan yang ada di Kota Binjai, dengan sikap pemerintah melakukan berbagai macam kebijakan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dalam mendapatkan aspek penting ysitu fasilitas kesehatan. Oleh karena itu dalam perkembangannya pemerintahan Kota Binjai terus meningkatkan berbagai fasilitas pelayanan kesehatan dengan baik. Hal ini guna mewujudkan visi dan misi pemerintah dalam menciptakan masyarakat yang sehat. Peneliti melihat dengan jelas bahwa pemerintahan di Kota Binjai sangat memperhatikan kesehatan untuk masyarakatnya, sudah jelas tertera di atas yang telah di cantumkan oleh peneliti mengenai visi dan misi dari Dinas Kesehatan Kota Binjai.
4.3 Profil Informal 4.3.1 Informan I
Nama : Dina Dwi Yanti
Jenis Kelamin : Perempuan
Usia : 20 Tahun
Agama : Islam
Suku : Jawa
Pendidikan Terakakhir : SMA
Pekerjaan : Mahasiswa
Alamat : JL.G.Bendahara. Lk.1 Kel.Pujidadi Kec.Binjai Selatan No. 174 Kota Binjai.
36
Dina dwi yanti yang bisasa di sapa dengan nama Dina merupakan seorang mahasiswa yang memilki riwayat penyakit asam lambung angkut. Dina sendiri saat ini sedang duduk di bangku perkuliahan semester 6 (enam) dengan jurusan antropologi sosial Universitas Malikul Saleh di lokhsemawe. Dina sendiri memiliki penyakit lambung angkut bermula pada saat Sekolah Menengah Atas (SMA) tepatnya pada tahun 2016. Beliau mengatakan bahwa penyakit lambung akut yang dideritanya setelah melakukan pengobatan tradisional engkong sudah tidak pernah kambuh lagi, padahal sebelumnya dina sendiri sering sekali masuk rumah sakit akibat asam lambung akut yang dideritanya tersebut, tentu rutinitas itu membuat pikiran dan perasaanya ketakutan dengan penyakitanya ditambah lagi dengan minum obat khusus dari dokter yang menjadi sebuah kebiasaan unutk menghilangkan rasa nyeri. Namun pihak rumah sakit lah yang mengetahui bahwa dina memiliki riwayat penyakit lambung akut tersebut. Awal mula Dina memutuskan untuk datang berobat di pengobatan tradisional engkong sendiri, beliau mendapatkan informasi dari salah satu saudaranya yang juga mengidap penyakit yang juga cukup serius, dan saudaranya tersebut menyarankan dina untuk mencoba datang ke pengobatan tradisional engkong untuk mengobati penyakit yang di deritanya. Seketika peneliti menanyakan menganai apakah pengobatan tradisional ini menjadi pilihan pertama untuk mengatasi pengakitnya? Informan menjawab bahwa tentu tidak, karena dina sadar bahwa dia adalah seorang mahasiswa yang dimana punya pemikiran yang lebih percaya terhadap pengobatan medis dibanding dengan pengobatan tradisional sendiri. Dan menurut belai juga pengobatan medis lebih ada kepastian dan nyata contohnya seperti responden dan lainnya, dan memang nyatanya ketika kambuh awalnya dina di bawa ke rumah sakit bukan di bawa langsung ke pengobatan tradisonal. Nah barulah setelah ada beberapa proses pengobatan medis dan akhirnya datang ke pengobatan tradisional dengan beberapa orang yang meyakinan gitu. Dan ketika bebrapa bulan menjalankan pengobatan dengan rutin yaitu sebanyak satu kali dalam seminggu dan akhirnya sekarang sudah tidak pernah kumat
37
lagi penyakit dina. Pengobatan tradisional yang di jalankan Dina sendiri yaitu terapi dan nada beberapa saran dari engkong yaitu :
1. Pertama pisang kapok di potong-potong menjadi beberapa bagian 2. Kemudian di siram menggunakan air garam
3. Di diam kan selama satu malam dan di minum setiap pagi hari,
Tidak hanya itu dina juga menyabarkan informasi kepada tetangga dan sanak keluarganya untuk mencoba pengobatan tradisional engkong tersebut, karena menurutnya hal baik harus terus di sebar agar banyak orang bisa sembuh dengan penyakit yang di deritanya dan arena setiap orang pasti ingin sehat dan hidup normal.
4.3.2 Informan II
Nama : Bama Misem
Jenis Kelamin : Perempuan
Usia : 66 Tahhun
Agama : Islam
Suku : Jawa
Pendidikan Terakhir : SMA
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Alamat : Dusun Bandarejo Kabupaten Langkat
Ibu Misem, adalah salah satu pasien dari engkong yang mana beliau mengidap penyakit patah kaki, ibu misem mengatakan bahwa sebelum ia datang berobat ke pengobatan tradisional engkong, beliau juga di tindak oleh pengobatan medis atau datang dan di rujuk ke rumah sakit. Awal mula dari penyakit ibu misen sendiri ialah beliau jatuh dan terpeleset, pada saat menjalani pengobatan awalnya pihak rumah sakit melakukan ronsen terlebih dahulu kemudian dokter menyarankan agar kaki beliau yang patah di semen, dan ibu misem sendiri tidak bisa banyak melakukan aktivitas dikarenakan patah kaki yang ia derita di semen/di
38
gifsun oleh dokter. Tetapi sebelumnya ibu misem juga mengatakan bahwa sebelum beliau di rujuk ke rumah sakit, belau di bawa ke dukun patah terdekat, dikarenkan waktu itu kondisinya mereka sedang berada di luar kota dan sedang liburan keluarga, akhirnya di bawa ke dukun patah terdekat untuk sedikit meghilankan kekhawatiran dirinya dan anak-anaknya, setelah sampai di rumah baru keesokan harinya ibu misem di ruju ke rumah sakit. Kemudian, ibu misem yang tidak tahan dengan keadaan tersebut, yang dimana kakinya di semen oleh dokter agar patah tulang yang di alaminya segera pulih akhirnya banyak mengeluh kepada anak-anaknya, bahwa keadaan tersebut sangat menyiksa dirinya. Kemudian, salah satu anaknya yang bernama Sri Wati menyarankan untuk mencoba datang ke pengobatan tradisional engkong, beliau adalah ibu kandung dari Dina Dwi Yanti yaitu informan pertama yang mengalami penyakit asam lambung akut. Ibu Sri berbicara kepada ibunya yaitu ibu Misem bahwa anaknya yang mengidap penyakit asam lambung bisa sangat membaik ketika mencoba pengobatan tradisional engkong dan ketika sudah di beri tahu akhirnya ibu Misem menyetujui tawaran dari anaknya tersebut untuk mencoba pengobatan tradisional engkong.
Kemudian, dengan rutin satu kali dalam seminggu dia melakukan terapi pengobatan tradisional engkong dalam tiga kali peremuan saja ibu Misem saat ini sudah bisa berjalan seperti biasa, beliau mengatakan jauh lebih sehat dan sudah tidak terlalu sering mengalami rasa nyeri lagi. Ibu Misem sendiri proses penyembuhan di pengobatan tradisional Engkong hanya menggunakan terapi saja, dan diberikan minyak kusuk dari Engkong nya sendiri, ibu Misem juga memiliki alasan yang kuat mengapa ia mau di ajak datang ke pegobatan Engkong dikarenakan beliau ingin segera sembuh dan tidak merasakan nyeri lagi, karena menurutnya diumur belau yang sudah tidak muda lagi mengalami patah kaki sangat lah tersiksa.
Kemudian, informan menanyakan mengenai berapa biaya yang sudah di habiskan dalam pengobatan engkong sendiri? Ibu misem mengatakan bahwa tidak ada patokan yang di berikan oleh engkong terhadap semua pasien-pasien nya. Hanya saja ketika kita ingin berobat
39
ada beberapa syarat atau yang harus di bawa seperti, korek kayu dan rokok. Barang tersebut menandakan sebagai tanda pengenal atau buah tangan dari pasien untuk engkong dalam proses pengobatan. Ibu misem sendiri merasakan puas datang berobat ke pengobatan engkong dan ibu misem juga menyebarkan berita ini kepada temen-teman, tentangganya yang mempunya riwayat penyakit untuk mencoba datang ke pengobatan engkong, dengan mengatakan bahwa dirinya sudah sembuh karena berobat ke engkong.
4.3.3 Informan III
Nama : Wisnu
Jenis Kelamin : Laki-laki
Usia : 16 Tahhun
Agama : Islam
Suku : Jawa
Pendidikan Terakhir : Sekolah Dasar
Pekerjaan : tidak Bekerja
Alamat : Dusun Candi Roso Kec. Sei Bingai kabupaten langkat Wisnu adalah seorang remaja yang putus sekolah dikarenakan penyakit yang di deritanya, penyakit yang di serita wisnu sendiri ialah asam lambung, akan tetapi bukan asam lambung biasa, asam lambung ini mengakibatkan wisnu menjadi seorang yang linglung dan seolah tidak mengenali orang sekitarnya bahkan dirinya sendiri, maka dari itu infoman melakukan wawancara kepada ibu wisnu mengenai penyakit dari wisnu sendiri. Penyakit yang di derita wisnu awal mulanya adalah asam lambung biasa pada saat di liat dari gejala-gejala yang di keluarkan oleh wisnu, dan sudah di cek ke dokter juga sama kata dokter wisnu terkena asam lambung. Akan tetapi dengan berjalannya waktu, semakin hari sikap dan perilaku wisnu mulai berubah, suka bengong, dan marah tiba-tiba ketika dia mulai tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri. Bahkan sebelum datang ke pengobatan engkong sudah
40
banyak pengobatan tradisional lainnya yang di datangi bahkan ada yang mengatakan bahwa wisnu kemasukan roh halus makanya sikapnya seperti itu, tetapi ketika menjadi pengobatan tidak ada peningkatan sama sekali. Dan akhirnya ketika ada saudara saya yang menyarankan untuk mencoba datang berobat ke pengobatan tradisional engkong akhirnya banyak kemajuan. Wisnu sendiri rutin satu minggu sekali untuk datang dan melakukan terapi ke pengobatan engkong, wisnu dinyatakan sembuh ketika sudah datang tiga belas kali melakukan pengobatan terapi engkong. Banyak perubahan dan perkembangan yang terjadi di diri wisnu, dimana wisnu sudah bisa meminta tolong dan memanggil ibunya. Tidak hanya itu ibunya wisnu juga sangat terbantu semenjak percaya dan yakin kepada pengobatan engkong Karena wisnu sangat susah untuk minun obat, sedangkan di pengobatan engkong wisnu hanya mendapatkan pengobatan terapi saja. Ibu wisnu juga mengeluh mengenai jangka waktu proses penyembuhan yang sangat lama ketika menjalan pengobatan di rumah sakit, tidak hanya itu beban biaya resep obat di rumah sakit juga sangat mahal sehingga memberatkan orangtua wisnu untuk membiayainya. Sedangkan dengan engkong tidak di patokan biaya pengobatannya sehingga sangat membantu dalam perjalanan pengobatan penyembuhan wisnu sendiri. Tidak hanya itu ibu wisnu juga menyebarkan berita tersebut kepada saudara, teman, dan tetangganya untuk datang berobat ke pengobatan tradisional engkong, dikarenan beliau juga ingin mereka-mereka yang memiliki riwayat penyakit juga dapat merasakan sembuh, karena sehat itu mahal. Dan harapan ibu misem untuk pengobatan tradisional di Indonesia lebih di perhatikan, dikarena banyak juga masyarakat yang cocok menggunakan jasa pengobatan tradisional sendiri.
4.3.4 Informan IV
Nama : Dinda Cantika
Jenis Kelamin : Perempuan
Usia : 12 tahun
41
Agama : Islam
Suku : Jawa
Pendidikan Terakakhir : Sekolah Dasar
Pekerjaan : Pelajar
Alamat : Desa Implesmen Kuwala Mencirim
Dinda adalah anak yang terlahir premature, namun kecerdasan dinda sama dengan anak pada umumnya, kekurangan dinda sendiri hanya celat dalam berbicara dan ada urat syaraf yang rusak sehingga dinda kesulitan untuk berjalan. Awal mula dinda kesulitan berjalan pada saat hari dimana dinda dilahirkan dia kejang hebat sehingga menyebabkan beberapa urat syaraf dinda putus dan akhirnya dinda kesulitan unutk berjalan. Banyak sudah pengobatan yang sudah dijalani oleh dinda, mulai dari pengobatan medis yang bisa dikatakan bahwa tingkatannya rendah sampai dengan tingkat kecanggihannya tinggi. Namun, tidak banyak kemajuan dari dinda untuk bisa bejalan, dan bukan hanya itu saja banyak juga pengobatan sejenis terapi yang sudah di lakukan untuk pengobatan dinda sendiri, orang tua dinda tidak pernah menyerah untuk mencari dimana pengobatan terbaik untuk anaknya. Pada akhirnya ibu dinda mendapatkan informasi dari temannya untuk mencoba pengobatan tradisional engkong, temennya yang memberikan informasi mengatakan bahwa sanak saudaranya sudah ada yang sembuh setelah datang dan berobat ke pengobatan engkong.
Akhirnya orangtua dinda melakukan diskusi kepada dinda untuk mengajak mencoba pengobatan engkong. Setelah lima kali pengobatan berjalan dengan satu kali dalam seminggu pengobatan rutin di lakukan, sedikit banyak ada kemajuan yang di dapat dari dinda, dinda sudah bisa berdiri sendiri meskipun dengan cara meraba bantuan dari dinding atau benda di sekitarnya. Tetapi orangtua dinda sadar, penyakit anak ini adalah penyakit bawaan dari lahir yang mana sangat susah untuk bisa sembuh total, orangtua dinda juga sadar bahwa sebelumnya sudah banyak mencoba pengobatan dimana saja baik itu secara medis maupun
42
secara tradisional Sehingga, ketika ada kemajuan dimana dinda bisa mulai berdiri sendiri setelah datang ke pengobatan engkong orangtua dinda sudah sangat bersyukur atas kemajuan yang ada pada diri dinda. Penyakit bawaan putus syaraf motorik yang di alami oleh dinda sagatlah susah untuk disembuhkan sehingga orangtua sangat wajar ketika dinda tidak bisa sembuh total dan bisa berjalan seperti anak pada umumnya. Ibu dinda juga memberitahukan tetangganya mengenai pengobatan tradisional engkong dimana sangat baik dan banyak orang yang sembuh ketika berobat ke sana. Tidak hanya itu, banyak pertimbangan besar mengapa orangtua dinda memilih pengobatan tradisional dikarenakan tidak banyak efek samping yang didapat dari obat-obatan medis, jika dipilih pengobatan modern dengan jangka waktu yang lama obat-obatan tersebut menimbulkan efek samping yang berbahaya. Hal ini menjadi tolak ukur tersendiri bagi orangtua dina dengan memilih pengobatan tradisional yang notabene hanya menggunakan terapi saja. Dan akhirnya orangtua dinda memutuskan berhenti melakukan pengobatan dimana pun, namum sampai saat ini kepuasan dari pengobatan tradisional masih menjadi pegangan dari orangtua dinda dan salah satunya pengobatan tradisional engkong tersebut.
4.3.5 Informan V
Nama : Nuriati
Jenis Kelamin : Perempuan
Usia : 50 Tahun
Agama : Islam
Suku : Jawa
Pendidikan Terakhir : SD (Sekolah Dasar)
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Alamat : JL.G. karang Kel. Binjai Estate Kec.Binjai Selatan Kota Binjai
43
Penyakit yang di derita oleh ibu nuriati awalnya ialah batu karang , rumah sakit atau
Penyakit yang di derita oleh ibu nuriati awalnya ialah batu karang , rumah sakit atau