KEPERCAYAAN DAN MODAL SOSIAL PASIEN DALAM PENGOBATAN TRADISIONAL ENGKONG DI KOTA BINJAI
SKIRPSI
Diajukan Guna Memenihi Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Fakultas Ilmu Sosial dan Politik
DISUSUN OLEH : RISKI INDRIANI
NIM: 160901017
PROGRAM STUDI SOSIOLOGI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2021
i
Kepercayaan Dan Modal Sosial Pasien Dalam Pengobatan Tradisional Engkong
Di Kota Binjai RISKI INDRIANI
ABSTRAK
Kesehatan merupakan indikator yang paling penting bagi setiap manusia, ketika seseorang dinyatakan sehat maka segala aktivitasnya akan terlaksana dengan baik. Maka sebaliknya, ketika seseorang dinyatakan sakit, hal ini yang akan menggerakan seseorang ataupun kelomok masyarakat untuk mencari cara dalam penyembuhan penyakit. Untuk itu keberadaan pengobatan tradisional ini merupakan sebuah pilihan masyarakat dalam mengambil tindakan untuk penyembuhan penyakit. Jika ditelaah pelayanan kesehatan di Indonesia sendiri menunjukan adanya perpaduan antara pengobatan modern dengan pengobatan tradisional dan sesuai dengan kode etik yang ada. Strategi modal sosial ketika dilihat dengan tindakan masyarakat yang memilih keputusan dalam melakukan penyembuhan penyakit. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui dan mengintepretasikan tentang bagaimana modal sosial berperan diantara kelompok pasien dan engkong. Disisi lain juga untuk menjelaskan bahwa tidak adanya paksaan seseorang untuk melakukan pengobatan tradisional. Metode yang digunakan dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara mendalam, dan studi literature yang relevan. Teori yang digunakan adalah teori modal sosial terdiri dari, jaringan sosial, nilai/norma, kepercayaan dan hubungan timbah balik (resiprositas). Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kontribusi kepercayaan dan modal sosial terhadap pasien berguna, dalam pengobatan tradisional engkong, dan juga dapat mempertahankan keberadaan pengobatan tradisional. Seperti jaringan yang berperan sebagai pelicin dan menjembatani diantara engkong kepada pasiennya, dan pasiennya melakukan penyebaran informasi. Nilai/norma adanya tata cara yang dubuat oleh engkong agar keberlangsungan pengobatan berjalan dengan baik. Kepercayaan yang mempermudah proses penyembuhan dikarenakan ada persetujuan diantara kedua belah pihak, mulai dari kejujuran, komperatif, dan bersikap normal pada kelompok pasien dan engkong. Hubungan timbal balik atau resiprositas, adanya bentuk pertukaran yang saling menguntungkan diantara pasien dan engkong dilihat dari sosial, ekonomi. Dengan adanya modal sosial pada pengobatan tradisional engkong di Kota Binjai, tentu akan mempermudah masyarakat untuk melakukan penyembuhan penyakit, dengan teknik kusuk terapi yang dilakukan engkong yang tidak banyak menghasilkan efek samping di kemudian hari. Akan tetapi dari keempat modal sosial tersebut terdapat modal sosial yang paling kuat pengaruhnya yaitu jaringan dan kepercayaan dan modal sosial yang lemah yaitu nilai dan norma.
Kata kunci : Modal Sosial, Pengobatan Tradisional, Kepercayaan Pasien
ii
The Patient's Trust And Social Capital Towards Traditional Medicine Engkong Binjai
RISKI INDRIANI
ABSTRACT
Health is the most important indicator for every human being. When a person is indicated healthy, all their activities will be carried out well. On the contrary, when someone is indicated sick, this will move a person or community to find ways to cure the disease. For this reason, the existence of traditional medicine is a community alternative to cure diseases. If one examines the health services in Indonesia, it shows that there is a combination of modern medicine with traditional one and is following the existing code of ethics. The social capital strategy when viewed by the actions of the community in choosing decisions to cure diseases. This research is conducted to identify and interpret how social capital plays a role between the patients and the engkong. On the other hand, this also explains that there is no coercion for someone to do traditional medicine. The research method is a descriptive qualitative approach. Data collection techniques are carried out by observation, in-depth interviews, and study of literature. The theory used is the theory of social capital consisting of social networks, values /norms, trust, and reciprocity. The results of this study conclude that the contribution of trust and social capital to patients is useful, in traditional medicine.
It can also maintain the existence of traditional medicine such as network playing role as a bridge between engkong and the patient, and the patient disseminates information. The values/norms of the procedures that are made by engkong so that the treatment runs well. Trust facilitates the healing process because there is an agreement between the two parties, starting from honesty, being comparative, and being normal in the patient and engkong. A reciprocal relationship or reciprocity is a form of mutually beneficial exchange between patients and people from a social and economic perspective. By the existence of social capital in the traditional Kangkong medicine in Binjai, it will certainly make it easier for the community to cure diseases, with the massage therapy technique performed by engkong which did not cause many side effects in the future. However, of the four social capitals, there is social capital with the strongest influence, called networks and trust. While weak social capital is called values and norms.
Keywords: Social Capital, Traditional Medicine, Patient Trust
iii
KATA PENGANTAR
Bismillahirahmanirohim,
Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkah dan karuniaNya, penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul
“Kepercayaan Dan Modal Sosial Pasien Terhadap Pengobatan Tradisional Engkong Di Kota Binjai”. Skripsi ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana sosial (S.Sos) pada Departemen Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sumatera Utara. Secara ringkas penelitian ini mendeskripsikan kontribusi kepercayaan dan modal sosial pasien dalam pengobatan tradisional Engkong pijat/kusuk terapi buang penyakit dan ramuan herbal.
Penulis menyadari bahwa tanpa dukungan banyak pihak skripsi ini tidak akan selesai. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh pihak yang telah membantu dengan sepenuh hati, baik berupa ide, semangat, doa bantuan moril sehingga skripsi ini dapat diselesaikan. Penulis juga tak hentinya mengucapkan terima kasih yang mendalam untuk kesempatan, waktu dan pikiran yang diluangkan oleh pihak-pihak yang telah membantu penyelesaian skripsi ini, yaitu kepada:
1. Dr. Harmona Daulay, M.Si selaku Ketua Program Studi Sosiologi.
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara. Penulis ucapkan terimakasih banyak atas ilmu pengetahuan hingga motivasi yang telah diberikan selama ini. Semoga Allah senantiasa memberikan kesehatan dan Panjang umur selalu kepada ibu dan keluarga.
iv
2. Drs, T, Ilham Saladin, MSP selaku Sekretaris Program Studi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara.Bapak Drs. T.
selaku dosen Penguji skripsi saya. Terima kasih atas saran dan masukan kepada penulis untuk menyempurnakan penulisan skripsi ini.
3. Ibu Dra. Linda Elida, M.Si sebagai Dosen Pembimbing penulis.
Terimakasih karena telah menjadi pembimbing yang sangat luar biasa dan menyenangkan dalam penulisan skripsi ini, dan telah bersedia meluangkan banyak waktu dan selalu sabar membimbing penulis selama penyelesaian skripsi, dan juga telah banyak mencurahkan ilmu, memberikan ide, kritikan, saran serta motivasi, penulis merasa sangat beruntung mendapat kesempatan menjadi anak bimbingan beliau.
4. Bapak Drs. Muba Simanihuruk, M.Si selaku dosen Pembimbing Akademik yang telah memberikan motivasi, saran, untuk dapat menyelesaikan kendala akademik secara baik demi tercapainya prestasi mahasiswa
5. Bapak Drs. Hendra Harahap M.Si., Ph.D selaku Dekan fisip usu, yang telah banyak membantu penulis dalam administrasi selama masa perkuliahan hingga akhir masa perkuliahan penulis.
6. Segenap seluruh Dosen Sosiologi yang telah memberikan ilmu yang bermanfaat selama penulis menjalankan studi di Departemen Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Sumatera Utara.
7. Staf Administrasi yaitu kak Ernita Yanti Siregar S.Sos, dan Bang Abel yang sudah banyak membantu administrasi penulis selama awal perkuliahan hingga akhir masa perkuliahan.
8. Terkhusus untuk kedua orang tua penulis, Bapak Sugiharto dan Ibu Suwarsih, yang penulis hormati dan banggakan atas segala jerih payah yang
v
dilakukan untuk kelancaran masa belajar sebagai mahasiswa, serta memberikan motivasi, nasihat, saran kepada penulis untuk menjadi pribadi yang terdidik.
9. Secara khusus dan istimewa untuk Abang dan kakak ipar penulis, Erwin Andrian, Hary Andrian, Sunarti dan Winiarti Dinasyah Putry, yang penulis sayangi dan banggakan atas segala perhatian dan dukungan moril kepada penulis selama pengerjaan skripsi ini.
10. Engkong selaku peran penting dalam pengobatan tradisional, masyarakat setempat, tempat praktik Engkong, para pasien, pemerintah Kota Binjai dan pihak swasta yang telah menjadi informan penulis, bersedia meluangkan waktu dan memberikan informasi kepada penulis untuk dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini.
11. Secara khusus untuk teman-teman senasib perjuangan, yang menemani setiap aktivitas penulis dalam proses perkuliahan baik diskusi, dan penelitian yang berkesan selama pendidikan Sosiologi yaitu Dinda Widi Artanti, Harisa Putri, Mitha Angelia Afy, Hendra Butar-Butar, Yulia Fransiska dan Aldary yang pernah menjadi kelompok kecil diskusi diawal hingga akhir perkuliahan untuk memotivasi penulis dalam menjalani masa perkuliahan.
12. Semua mahasiswa/i Sosiologi stambuk 2016 yang telah bersama-sama menjalani perkuliahan dari awal semester hingga saat ini, terus berproses dan mencapai cita-cita teman-teman, semoga sukses. Harapannya kita dapat bertemu kembali dalam waktu dan kesempatan yang lain.
13. Senior dan junior penulis, bang Rendy Oman Gara, Rahayu, khairani aisyah yang memberikan motivasi, semangat dan diskusi selama menjalani perkuliahan.
vi
14. Teman-teman Generasi Baru Indonesia komunitas penerima beasiswa Bank Indonesia angkatan 6 dan 7 yang telah banyak memberikan semangat untuk penulis, terhusus untuk ketua GenBi 7 USU yaitu, Yulia Ivanka yang telah berperoses bersama menjalankan kewajiban dan banyak menerima pembelajaran baru dalam dunia kepemimpinan dan tentunya saling dukung untuk pengerjaan sekripsi penulis.
15. Forum Komunitas Peneliti Muda Kota Medan, atas ilmu dan pengetahuan baru yangdiberikan kepada penulis untuk dapat mengerti dunia penelitian dan penulisan ilmiah, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu penulis mohon maaf apabila ada kesalahan kata atau penulisan dan memohon saran serta kritik yang bersifat membangun. Harapan penulis semoga skripsi ini bermanfaat bagi para pembaca.
Medan, 19 Oktober 2021 RISKI INDRIANI
NIM: 160901017
vii
DAFTAR ISI
Halaman
ABSTRAK ... i
ABSTRACT ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR ISI ... vii
DAFTAR TABEL ... ix
DAFTAR GAMBAR ... x
DAFTAR BAGAN ... xi
DAFTAR LAMPIRAN ... xii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Rumusan Masalah ... 8
1.3. Tujuan Penelitian ... 8
1.4. Manfaat Penelitian ... 8
1.5. Definisi Konsep ... 9
BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 12
2.1 Modal Sosial ... 12
2.1.1 Jaringan Sosial ... 14
2.1.2 Kepercayaan ... 16
2.1.3 Nilai dan Norma ... 17
2.1.4 Resiprositas ... 17
2.2 Penelitian Terdahulu ... 18
2.3 Kerangka Berfikir... 22
BAB III METODE PENELITIAN ... 23
3.1. Jenis Penelitian ... 23
3.2. Lokasi Penelitian ... 23
3.3. Unit Analisis Dan Informan ... 24
viii
3.4. Teknik Pengumpulan Data ... 25
3.5. Interpretasi Data ... 27
3.6 Jadwal Penelitian ... 27
BAB IV Hasil Penelitian dan Pembahasan ... 29
4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 29
4.1.1 Deskripsi Kota Binjai ... 29
4.2 Pemerintah Kota Binjai Dalam Aspek Pelayanan Kesehatan ... 32
4.2.1 Visi dan Misi Dinas Kesehatan Kota Binjai ... 34
4.3 Profil Informan ... 35
4.4 Gambaran Pengobatan Tradisional Engkong ... 56
4.5 Jaringan Sosial ... 61
4.5.1 Jaringan Mikro ... 65
4.5.2 Jaringan Meso ... 66
4.6 Kepercayaan ... 68
4.7 Resiprositas ... 70
4.7.1 Sosial ... 70
4.7.2 Ekonomi ... 71
4.8 Nilai dan Norma ... 72
4.9 Bentuk Modal Sosial Pasien Terhadap Pengobatan Tradisional ... 73
4.9.1 Modal Sosial Pada Pengguna Jasa Pengobatan Tradisional Engkong .. 75
4.9.2 Simbol ... 84
4.9.3 Budaya ... 86
BAB V PENUTUP ... 87
5.1 Kesimpulan ... 88
5.2 Saran ... 90
DAFTAR PUSTAKA ... 92
ix
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 1.1 Jumlah Pasien Pengobatan Engkong ... 4
Tabel 3.1 Jadwal Penelitian... 28
Tabel 4.1 Daftar Kecamatan dan Kelurahan Kota Binjai ... 31
Tabel 4.2 Profil Informan ... 53
Tabel 4.3 Analisis Kepercayaan dan Modal Sosial Pasien ... 54
Tabel 4.4 Jumlah Pasien Berdasarkan Jenis Kelamin ... 59
Tabel 4.5 Data Pasien Berdasarkan Jenis Pekerjaan ... 59
Tabel 4.6 Data Pasien Berdasarkan Agama ... 60
Tabel 4.7 Data Pasien Berdasarkan Suku ... 60
Tabel 4.8 Data Pasien Berdasarkan Pendapatan ... 61
Tabel 4.9 Dimensi Modal Sosial ... 77
x
DAFTAR GAMBAR
Halaman Gambar 2.1 Kerangka Berfikir ... 22
Gambar 4.1 Peta Kota Binjai ... 29
xi
DAFTAR BAGAN
Halaman Bagan 2.1 Kerangka Berfikir ... 23 Bagan 4.1 Model Modal Sosial ... 56 Bagan 4.2 Fungsi Jaringan ... 67
xii
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman Lampiran I Dokumentasi Penelitian... 95
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Dewasa ini seiring dengan perkembangan zaman, masyarakat akan sangat fokus untuk memilih cara penyembuhan penyakit, dikarenakan banyak hal yang menjadi pertimbangan ketika masyarakat disandarkan dengan obat-obat kimiawi dengan alasan obat kimiawi banyak menimbulkan efek samping di kemudian hari. Dapat dilihat ketika Menperin (Kementerian Perindustrian), mengatakan saat ini industri obat tradisional tengah diprioritaskan pengembangannya agar bisa menjadi sektor unggulan dalam memberikan kontribusi bagi pertumbuhan ekonomi nasional.
Demikian pula dalam bidang pelayanan kesehatan. Jika ditelaah pelayanan kesehatan di Indonesia menunjukkan adanya perpaduan antara pengobatan modern dengan pengobatan tradisional. Berdasakan pemeliharan keputusan tersebut, seseorang tenaga kesahan modern juga harus tetap menjunjung tinggi kode etik profesi, namun dalam proses layanan kesehatan perlu unuk memperhatikan keanekaragaman budaya, dengan tujuan untuk meningkatkan efektivitas layanan kesehatan (Momon Sudarma, 2008). Maka, hal tersebut diartikan bahwa harus adanya etika. Hal tersebut merupakan pedoman untuk melakukan apa yang seharusnya dilakukan para profesi guna untuk kebaikan dan perkembangan masyarakat.
Pengobatan tradisional merupakan salah satu dari tujuh belas macam penyelenggaraan upaya kesehatan yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. Kesehatan merupakan satu kebutuhan yang mendasar bagi masyarakat untuk keberlangsungan hidup manusia di samping kebutuhan lainnya seperti sandang, pangan, papan. Karena hakikatnya dalam keadaan sehat manusia dapat hidup, tumbuh berkembang, berkarya dan mengaplikasikan ide-ide yang dimiliki dengan baik. Maka dari itu untuk
2
mendapatkan kesehatan yang sempurna masyarakat mempunyai dua pilihan untuk cara pengobatan dengan pengobatan modern dan pengobatan alternatif.
Perkembangan dunia kesehatan semakin canggih dan pesat dengan adanya teknologi yang menyajikan berbagai cara untuk persoalan penyembuhan penyakit. Jenis Ramuan Obat Tradisional di Indonesia banyak ragamnya, engkong sendiri memakai ramuan obat-obatan dengan bahan-bahan herbal dari daun-daun alami, ubi-umbian yang masih tumbuh segar, dam berada di dalam tanah, kemudian menggunakan teknik terapi sebagai bentuk pijat pengobatan tradisional engkong sendiri. Cara pengobatan tersebut telah lama dilakukan. Ada yang asli dari warisan nenek moyang yang pada umumnya mendayagunakan kekuatan alam, daya manusia, ada pula yang berasal dari masa Hindu atau pengaruh India dan Cina. Secara garis besar Agoes A (1992), dalam seminar telah menetapkan jenis bahwa pengobatan tradisional dengan ramuan obat terdiri dari : Pengobatan tradisional dengan ramuan asli Indonesia, Pengobatan tradisional dengan ramuan Cina, Pengobatan tradisional dengan ramuan obat India. Pengertian Pengobatan tradisional adalah pengobatan dan atau perawatan dengan cara, obat, dan pengobatannya yang mengacu pada pengalaman dan keterampilan turun temurun dan diterapkan sesuai dengan norma yang berlaku dalam masyarakat.
Obat tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian atau campuran dari bahan tersebut secara turun- temurun telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman. Tidak hanya itu pengobatan tradisional juga bisa dilakukan secara teknik tentu yang memiliki pengalaman dalam hal teknik pengobatan tradisonal tersebut. Hal ini, tentu diikuti dengan era modern yang banyak sekali menemukan trobosan baru mengenai pengobatan tradisional, mulai dari ramuan, doa, kusuk dan lainnya. Dapat diperhitungkan bahwa setengah penduduk Indonesia masih menggunakan pengobatan tradisional.
3
Keberadaan pengobatan tradisional merupakan bukti sejarah dari upaya pelayanan kesehatan pada masa lalu. Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2007-2008, sebanyak 80% dari total populasi di benua Asia dan Afrika bergantung pada pengobatan tradisional. WHO juga telah mengakui pengobatan tradisional dapat mengobati berbagai jenis penyakit infeksi, penyakit akut, dan penyakit kronis. Pada Asia Tenggara. Dan selanjutnya pada tahun 2009 WHO mendorog negera-negara anggotanya untuk mengembangkan pelayanan kesehatan dalam pengobatan tradisional yang disesuaikan oleh wilayahnya masing-masing. Berdasarkan hasil survey (Sosial Ekonomi Nasional) tahun 2007. Dalam (Supardi dan Andi, 2010), memperlihatkan bahwa penduduk Indonesia yang mengeluh sakit dalam jangka waktu sebulan sebelum survey dilakukan, yaitu (30,8%) atau 299.463 orang, penduduk yang mengeluh sakit (65,025%) atau 195.123 orang, dan (28,1 %) atau 54, 904 orang yang menggunakan alternative pengobatan tradisional. Dari data-data di atas menunjukan bahwa pengobatan tradisional masih di gemari oleh masyarakat Indonesia dengan tingat penyembuhan yang berhasil dan membuat kepercayaan pada masyarakat.
Melalui Tawangmangu Declaration, pertemuan tersebut menghasilkan kesepakatan bersama antara negara-negara ASEAN untuk mengintergrasikan pengobatan tradisional ke dalam pengobatan konvensional pada tahun 2015. Sama halnya dengan keberadaan pengobatan tradisional Engkong, yaitu dengan cara “teknik terapi pijat buang penyakit” dan
“ramuan tradisional”. Hal ini dibuktikan dengan hasil observasi semantara yang dilakukan oleh peneliti kepada Engkong selaku pelaku pengobatan tradisional pijat terapi dan ramuan tradisional, mengenai jumlah pasien yang datang, hal ini ditunjukan pada tabel sebagai berikut:
4
Tabel 1.1 Jumlah Pasien pengobatan tradisional pijat terapi buang penyakit dan ramuan tradisional “Engkong”
Data Jumlah Pasien
Per hari Per minggu Per bulan Per tahun
>10 orang >80 orang >320 orang >3.840 orang Sumber: Hasil Penelitian, 2019
Dari data diatas menunjukan bahwa masih banyak masyarakat yang menggunakan jasa pengobatan tradisional terkhusus pada pengobatan tradisional pijit terapi penyembuhan penyakit oleh Engkong. Pengobatan modern dan tradisional adalah dua cara pengobatan yang pada dasarnya untuk penyembuhan penyakit. Masing-masing cara penyembuhan tersebut juga mempunyai keampuhan dan peminatnya. Tidak bisa di pungkiri untuk kemanjuran pengobatan tradisional dan pengesahan pemerintah menjadikan pengobatan tradisional sebagai media penyembuhan penyakit pada masyarakat. berbicara obat ataupun cara pengobatan tradisional, merupakan kearifan lokal dan cara terdahulu yang dipercaya oleh masyarakat dan masih dipakai keberadaannya dewasa ini. Pengobatan tradisional banyak terbagi dalam beberapa bagian cara pengobatan, salah satunya adalah berbentuk obat ramuan (rempah-rempah). Biasanya diolah secara tradisional, turun-temurun, berdasarkan resep nenek moyang adat-istiadat dan kepercayaan. Tetapi tidak lain juga dengan beberapa pengobatan yang berlangsung secara tindakan (kusuk, kusuk, dan sebaginya). Digencarkan bahwa pengobatan tradisional lebih mudah di jangkau masyarakat, baik dari sistem harga dan tingkat penyembuhannya.
Purnamaningrum (2010) telah melakukan studi tentang perilaku masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan menyatakan bahwa sikap memiliki hubungan yang signifikan antara sikap dengan perilaku mengobati. Pengetahuan tidak memiliki hubungan yang signifikan antara pengetahuan individu dengan perilaku mengobati. Pendidikan tidak mempunyai hubungan yang signifikan dengan perilaku mengobati. Pendapatan tidak
5
memiliki hubungan yang signifikan dengan perilaku mengobati. Terdapat hubungan antara asuransi kesehatan dengan perilaku mengobati. Rahayu (2012).
Gaol (2013) menyatakan bahwa perilaku pencarian pengobatan oleh individu dalam rumah tangga dipengaruhi oleh jumlah dan jenis sarana pelayanan kesehatan yang tersedia di sekitarnya. Oleh karena itu pada wilayah yang banyak tersedia sarana pelayanan kesehatan seperti puskesmas, rumah sakit pemerintah dan swasta, balai pengobatan serta praktek dokter, maka pilihan individu dalam rumah tangga semakin beragam untuk melakukan pencarian pengobatan. Semakin banyak sarana dan jumlah tenaga kesehatan maka tingkat pemanfaatan pelayanan kesehatan suatu masyarakat akan semakin bertambah.
Setiap masyarakat atau pasien membuat keputusan untuk memilih dan percaya pada pengobatan tradisional tentu bukanlah hal yang mudah bagi masyarakat, pasti diantaranya banyak pilihan-pilihan dan pembuktian yang pada akhirnya masyarakat memilih untuk menggunakan pengobatan tradisional tersebut, maka hal ini pasti ada interaksi dari khalayak satu dengan yang lainnya, memberikan berita dan informasi dari individu ke kelompok lainnya. Hal tersebut tentu masyarakat mempunyai hubungan interaksi sosial untuk mewujudkan sebuah jaringan sosial, adapun interaksi yang biasanya terjadi pada masyarakat dibagi menjadi dua yaitu, kontak sosial dan komunikasi. Interaksi ini disebut sebagai relasi sosial. Relasi sosial merupakan rangkaian dari interaksi yang sistematis dan sejalan antara dua orang atau lebih (Soekarno,2007 : 57).
Dari interaksi sosial yang dibangun masyarakat timbulah jaringan sosial diantaranya.
Jaringan sosial terbentuk karena adanya rasa saling tahu, saling menginformasikan, saling mengingatkan dan saling membantu satu sama lain untuk mengatasi sesuatu kepentingan di masyarakat. Dalam pengaplikasian dimasyarakat tentunya banyak kita ketahui mengenai bentuk-bentuk jaringan sosial, mulai dari jaringan sosial secara positif sampai negatif yang banyak kita jumpai di masyarakat. pada dasarnya masyarakat secara umum adalah
6
sekumpulan individu-individu yang hidup bersama, bekerja sama untuk memperoleh kepentingan bersama dan yang telah memiliki tatanan kehidupan, norma-norma, dan adat istiadat yang ditaati dalam lingkunganya.
Jaringan sosial adalah sebuah ranah yang ditetapkan sebagai hubungan antar individu dengan individu lainya (Bornes, 1954 dalam Koetjaraningrat, 1990). Beranjak pada (Granovetter dan Swedberg, 1992:9) mengartikan jaringan sosial sebagai suatu rangkaian hubungan yang teratur atau hubungan sosial yang sama antara individu-individu atau kelompok-kelompok. Apa yang terjadi dalam produksi, distribusi, dan konsumsi sangat banyak dipengaruhi oleh keterlekatan orang dalam hubungan sosial.
Mengemukaan bahwa seseorang mempunyai empat sistem yang membentuk, kesatuan aturan norma serta level variasi pengalaman, yang memungkinkan orang itu memantau secara berkesinambungan semua proses dalam peristiwa yang berkaitan dengan kesehatan. Keempat tersebut adalah sebuah informasi yang dapat dikelola oleh pasien yang mengkondisikan keadaan yang berkaitan dengan gejala-gejala penyakit ataupun perasaan sakit.
Mengenai pengobatan tradisional sendiri di binjai sudah menjadi trend dan kepercayaan masyarakat dalam mengambil keputusan untuk datang berobat dan mengharapkan kesembuhan di pengobatan Engkong tersebut. Bahkan pasien yang datang tidak lah hanya berdomisili di binjai saja bahkan sampai luar provinsi juga ada, salah satu pasien yang terdekat dari binjai ialah langkat, medan dan sekitarnya. Masyarakat yang datang pada pengobatan engkong sendiri juga berbagai macam penyakit dan alasan mengapa mereka memutuskan unuk datang dan berobat. Mulai dari penyakit patah tulang, rematik, asam lambung, rabun mata, dan lainnya Alasannya pun muncul dengan berbagai jenis, salah satunya ialah lebih aman tidak terkena obat-obatan kimia yang bagi pasien itu adalah yang buruk untuk tubuh ketika selalu di pergunakan secara terus-menerus. Hal ini tentunya
7
memunculkan sebuah kombinasi dalam masyarakat yakni sebuah kepercayaan (trust) dan jaringan.
Seketika jaringan tersebut mampu menjadi tombak bagi masyarakat untuk memecahkan masalah, maka akan muncul sebuah kepercayaan terhadap suatu kegiatan yang menguntungkan bagi pasien dan pelaku pengobatan tradisional tersebut tentunya. (Robet Putnam) megatakan bahwa ada dua hal dalam konsep dasar modal sosial, yakni adanya jaringan hubungan dengan norma-norma yang terkait. Dan keduanya saling mendukung untuk penguatan ekonomi dalam sisi keberhasilan kemudian keduanya saling mendukung.
Pada pengobatan “Engkong” ini, diminati dari berbagai kalangan, mulai dari ekonomi atas sampai rendah sekalipun, hal ini karenakan “Engkong” yang dikenal sebagai juru kusuk tidak pernah mematokan harga pada saat pengobatan berlangsung. ada tiga alasan penting bagi Putnam terkait dengan modal sosial, (1) Adanya jaringan sosial yang memungkinkan rasa saling percaya dalam anggota masyarakat. (2) Kepercayaan (truts), memiliki implikasi positif dalam kehidupan bermasyarakat. Hal ini dibuktikan dengan suatu kenyataan bagaimana keterkaitan orang-orang yang memiliki rasa saling percaya dalam suatu jaringan sosial memperkuat norma-norma dan mengarah untuk saling membantu. (3) Berbagai keberhasilan yang dicapai pada waktu sebelumnya akan menimbulkan kerjasama dan keberhasilan yang akan datang. Tak lupa putam menegaskan bahwa modal sosial dapat menjembatani kelompok-kelompok yang berbeda ideologi dan memperkuat kesepakatan tentang pentingnya pemberdayaan masyarakat.
Hal tersebut menjadi pendorong latar belakang untuk penulis, dalam mengkaji seberapa percayanya masyarakat menggunakan pengobatan tradisional dan bagaimana masyarakat menyebarkan berita mengenai pemanfaatan pengobatan tradisional“Engkong”.
Tentunya ketika seseorang mengambil keputusan untuk memilih suatu pengobatan banyak proses sampai pada akhirnya memutuskan untuk datang dan memakai pengobatan tersebut.
8
Kondisi ini yang membuat pengobatan tradisional mencari cara untuk dapat mempertahankan pelanggannya. Modal sosial adalah salah satu sumber yang dapat dimanfaatkan masyarakat untuk mempertahankan pengobatan tradisional. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Putnam bahwa modal sosial merupakan bagian dari kehidupan sosial, seperti jaringan, norma, dan kepercayaan. Modal sosial memungkinkan masyarakat untuk bertindak bersama-sama lebih efektif untuk mencapai tujuan kolektif. Modal sosial ini terbentuk dari kelompok pertemanan, kelompok pertemanan tersebut terjalin karena berasal dari daerah yang sama yaitu Kota Binjai, hal lain juga di buktikan dengan cara kekerabatan.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah pokok penelitian ini adalah :
Bagaimana kontribusi kepercayaan dan modal sosial pasien dalam pengobatan tradisional Engkong ?
1.3 Tujuan Masalah
Berdasarkan perumusan masalah diatas maka tujuan dari penelitian ini adalah :
Untuk mengetahui kontribusi kepercayaan dan modal sosial pasien dalam pengobatan tradisional Engkong pijat/kusuk terapi buang penyakit dan ramuan herbal.
1.4 Manfaat Penelitian
Dari hasil penelitian yang akan dilakukan di lapangan, peneliti dan pembaca bisa mengambil manfaat dari penelitian yang dilakukan baik manfaat teoritis maupun manfaat praktis, yaitu:
1. Manfaat Teoritis
Hasil dari penelitian ini diharapkan bermanfaat untuk memperkaya pengetahuan dan juga wawasan kajian ilmiah dalam pengembangan ilmu sosial khususnya Sosiologi Ekonomi
9
dan Pembangunan. Serta dapat memberikan kontribusi kepada pihak-pihak yang membutuhkan untuk dijadikan sebagai perbandingan penelitian selanjutnya.
2. Manfaat Praktis
Penelitian ini diharapkan dapat membantu mahasiswa untuk mengetahui bagaimana modal sosial masyarakat terhadap pengobatan tradisional sebagai jaringan sosial pada masyarakat. Secara praktis, hasil penelitian ini dapat memberikan informasi dan pengetahuan.
Sehingga diharapkan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat dan peneliti.
1.5 Definisi Konsep
Dalam penelitian ilmiah, defenisi konsep sangat diperlukan untuk mempermudah dan memfokuskan penelitian agar tidak menimbulkan kesalahpahaman pada konsep yang dipakai dalam penelitan. Adapun yang dipakai dalam defenisi konsep ini adalah sebagai berikut;
1.4.1 Kepercayaan
Kepercayaan merupakan sebuah tindakan dari seorang individu kepada individu atau kelompok lainnya, beranggapan bahwa sesuatu yang dipercayakan itu benar nyatanya. Hal tersebut menimbulkan titik balik diantara kedua individu atau kelompok tersebut.
Kepercayaan pasien menurut Mowen (2002:312) adalah semua pengetahuan yang dimiliki oleh pasien dan semua kesimpulan yang dibuat pasien tentang objek, atribut, dan manfaatnya.
Adapun arti dari kepercayaan ini sendiri hanya sebagai penguat dan pengarti dari teori modal sosial yang digunakan oleh peneliti.
1.4.2 Modal Sosial
Modal sosial adalah bagian-bagian dari organisasi sosial seperti, norma dan jaringan yang dapat meningkatkan efisiensi masyarakat dengan memfasilitasi tindakan-tindakan yang terkoordinasi. Modal sosial juga didefinisikan sebagai kapabilitas yang muncul dari kepercayaan umum di dalam sebuah masyarakat atau bagian-bagian tertentu dari masyarakat tersebut. Selain itu, konsep ini juga diartikan sebagai serangkaian nilai atau norma informal
10
yang dimiliki bersama di antara para anggota suatu kelompok yang memungkinkan terjalinnya kerjasama. Modal sosial bukanlah modal dalam arti biasa seperti harta kekayaan atau uang, tetapi lebih mengandung arti kiasan, namun merupakan aset atau modal nyata yang penting dalam hidup bermasyarakat. Menurut Hanifan, dalam modal sosial termasuk kemauan baik, rasa bersahabat, saling simpati, serta hubungan sosial dan kerjasama yang erat antara individu dan keluarga yang membentuk suatu kelompok sosial. Coleman berpendapat bahwa pengertian modal sosial ditentukan oleh fungsinya. Sekalipun sebenarnya terdapat banyak fungsi modal sosial tetapi ia mengatakan bahwa pada dasarnya semuanya memiliki dua unsur yang sama, yakni: pertama, (1) modal sosial mencakup sejumlah aspek dari struktur sosial, dan (2) modal sosial memberi kemudahan bagi orang untuk melakukan sesuatu dalam kerangka struktur sosial tersebut.
1.4.3 Pengobatan Tradisional
Pengobatan tradisional merupakan salah satu jenis dari pengobatan alternatif.
Pengobatan tradisional adalah pengobatan atau perawatan dengan cara dan obat yang mengacu pada pengalaman dan keterampilan turun-temurun secara empiris yang dapat dipertanggungjawabkan dan diterapkan sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat.
Pengobatan tradisional juga dibagi dalam beberapa pemanfaatan atau cara dalam pengobatannya sendiri dalam pembagiannya yaitu, pengobatan tradisional dalam bentuk racikan obat dan beberapan tindakan keterampilan mualai dari cara urut, cara berdoa dan lainnya. pengobatan tradisional ini terbagai menjadi beberapa cara penyembuhan tradisional atau traditional healing yang terdiri dari pijatan, kompres akupuntur dan sebagainya, kemudia selanjutnya secara obat tradisional atau traditional drugs yaitu dengan menggunakan obat-obatan yang tersedia dari alam sebagai obat untuk menyembuhkan.
11 1.4.4 Pijat Terapi
Pengobatan tradisional pijit terapi buang penyakit ini adalah pengobatan yang dilakukan menggunakan dua cara, yang pertama yakni dengan menggunakan pijat terapi, dan yang kedua menggunakan ramua-ramuan yang sudah di siapkan oleh juru pijit yaitu engkong sendiri. Adapun ramuan-ramuan tersebut yang berbentuk daun-daunan yang masih segar dan baru di petik dari pohonnya, contohya daun sirih, jahe, dan lainnya. Lain halnya dengan pengobatan tradisional yang lain, yang biasanya menggunakan ramuan herbal yang sudah di keringkan terlebih dahulu.
1.4.5 Engkong
Peran engkong adalah orang yang dipercaya masyarakat untuk melakukan pijit terapi buang penyakit, keahliannya dalam menyembuhkan penyakit diterima turun temurun dari budaya nenek moyangnya, ia mendapatkan keahlian tersebut sejak beliau berumur 11 tahun.
Kemudian beliau melakukan prakteknya dalam pijat terapi ini pada saat beliau menyelesaikan Sekolah Mengengah Atasnya.
12 BAB II
KAJIAN PUSTAKA 2.1 Modal Sosial
Modal sosial sebagai suatu nilai mutual (trust) kepercayaan antara anggota masyarakat dan masyarakat terhadap pemimpinnya. Modal sosial sebagai institusi sosial melibatkan jaringan (networks), norma-norma (norms) dan kepercayaan sosial (social trust) yang mendorong pada sebuah kolaborasi sosial untuk kepentingan bersama. Konsep modal sosial yang menjadi dasar berpikir peneliti untuk menganalisis masalah dalam penelitian terkait kepercayaan dan modal sosial pasien terhadap pengobatan tradisional engkong di Binjai. Konsep modal sosial ialah serangkaian nilai dan norma informal yang dimiliki bersama di antara para anggota suatu kelompok masyarakat yang memungkinkan terjalinnya kerjasama diantara mereka (Fukuyama, dalam Soetomo, 2007:86). Jika para anggota kelompok itu masing-masing mengharapkan bahwa anggota yang lain akan berperilaku jujur dan percaya, maka akan saling mempercayai. Dengan demikian kepercayaan adalah unsur yang paling utama untuk dapat mendorong seseorang dan percaya memakai jasa yang sudah di tawarkan. Tidak hanya itu tiga unsur utama dalam modal sosial adalah trust (kepercayaan), dapat mendorong seseorang untuk bekerjasama dengan orang lain untuk memunculkan aktivitas maupun tindakan bersama yang produktif.
Fukuyama (1997) mendefenisikan modal sosial adalah serangkaian nilai-nilai atau norma-norma informal yang dimiliki bersama di antara para anggota suatu kelompok masyarakat yang memungkinkan terjalinnya kerjasama di antara mereka
Bourdieu dan Wacquan (1992:119), mengatakan bahwa modal sosial adalah jumlah sumber daya, aktual atau maya yang berkumpul pada seorang individu atau kelompok karena memiliki jaringan tahan lama berupa hubungan timbal balik perkenalan dan pengakuan yang sedikit banyak terinstitusionalisasikan. Konsep modal sosial sendiri muncul ketika sebuah
13
pemikiran yang mengatakan bahwa anggota masyarakat tidak mungkin secara individu mengatasi berbagai masalah yang dihadapi, diperlukan adanya kebersamaan dan kerjasama yang baik dari segenap anggota masyarakat yang berkepentingan untuk mengatasi masalah tersebut. Peran penting dari modal sosial esensinya sama dengan bagaimana pembawaan masyarakat dalam pencapaian sebuah organisai. Jikalau dalam organisasi bisnis membutuhkan modal sosial berbentuk sinergi antara modal sosial dengan modal yang lainnya, maka ketika dalam masyarakat justru ditentukan oleh kekuatan jaringan antar individu dan kelompok. Beranjak dari hal tersebut tentu terbangun dalam masyarakat yaitu trust, sebuah kepercayaan yang dibangung oleh masyarakat dalam sebuah program yang notabenenya program tersebut berhasil.
Masyarakat pada dasarnya hanya mementingkan dirinya sendiri dengan berusaha untuk mensejahterakan material kehidupannya sendiri. Sebagai individu itulah yang menjadi kebenaran pada manusia. Individu-individu itu bertindak secara sengaja kearah suatu tujuan, dengan tujuan itu dan tindakan-tindakan itu dibentuk oleh nilai-nilai atau pilihan-pilihan (Ritzer,2012:759). Konsep modal sosial muncul dikarenakan adanya keresahan yang dihadapi masyarakat bahwa anggota masyarakat tidak mungkin dapat secara individu mengatasi berbagai masalah yang dihadapi. Maka, dengan adanya modal sosial terbentuk adanya kerjasama yang baik dari segenap anggota masyarakat yang memiliki kepentingan bersama untuk mengatasi permaalahan-permasalahan yang ada. (syahra,2003).
Modal sosial ini memudahkan pencapaian tujuan yang tidak dapat dicapai keberadaannya atau malah sebaliknya dapat dicapai tetapi dengan kerugian yang lebih tinggi.
Fukuyama (dalam Soetomo, 2007:8) juga melihat modal sosial yang didefinisikan sebagai rangkaian nilai dan norma informasi yang dimiliki bersama antara anggota dalam suatu kelompok masyarakat. Lebih lanjut trust adalah pengharapan yang muncul dari komunitas
14
yang berperilaku normal, jujur dan komperatif, berdasarkan norma yang dimiliki oleh masyarakat.
Dengan ini, tentu banyak yang ingin dicapai oleh sekelompok masyarakat untuk sebuah tujuannya. Tentu nantinya masyarakat akan terikat dengan nilai dan norma, yang dipegang sebagai acuan bersikap, bertindak dan bertingkah laku serta berhubungan dengan pihak lain.
2.1.1 Jaringan Sosial
Jaringan-jaringan kerjasama antar manusia terwujud dari infrastruktur dinamis dari modal sosial yang memfasilitasi terjadinya komunikasi dan interaksi yang memungkinkan tumbuhnya kepercayaan dan memperkuat kerjasama. Masyarakat yang sehat akan memiliki jaringan sosial yang kokoh pula yang dapat memperkuat perasaan kerjasama anggotanya dan mendapat manfaat dari partisipasinya (Putnam, 1995). Jaringan sosial adalah hubungan individu dengan individu lainnya yang memiliki subjektif, ada hubungan sesuatu yang berkaitan sebagai simpul atau ikatan. Dalam sebuah jaringan seorang individu yang dianggap aktor dilihat sebagai simpul, sedangkan ikatan merupakan hubungan antar aktor tersebut.
Terbangunnya hubungan sosial ini tentu diselipkan dengan adanya kepercayaan. Maka dari itu jaringan sosial dapat didefinisikan sebagai rangkaian hubungan yang memiliki ciri tersendiri, sebagai keseluruhannya ciri tersebut dapat digunakan untuk menginterpretasikan tingkah laku sosial dari individu-individu yang terkait. (Mitchell,1969; Damsar, 2019).
Menurut Putnam Siisia”inen (2002). Modal sosial adalah jaringan kerja dan norma asosiasi timbal balik yang memiliki nilai. Dalam masyarakat tersimpan sejumlah potensi dan kekuatan, yang mana bila diberdayakan secara baik dan memberikan kontribusi positif terhadap penyebaran pengobatan tradisional dengan baik. Modal sosial itu sendiri mengacu pada institusi, hubungan-hubungan dan norma yang membentuk kualitas dan kuantitas dari sebuah interaksi sosial.
15
Jaringan Sosial (Damsar, 2019) terbagi dalam bebrapa tingkatan yang dapat beroperasi dalam menganalisis permasalahan yang ada, adapun tingkatan tersebut sebagai berikut:
1. Jaringan Mikro
Sebagai manusia yang dianggap masyarakat sosial, tentu dapat diketahui manusia hidup berdampingan dengan orang lain, oleh karena itu individu selalu ingin melakukan interaksi dengan individu lainnya. Interaksi tersebut menjadi kokoh dalam hubungan sosial.
Maka, ketika hubungan tersebut dilakukan secara terus-menerus akan menghasilkan sebuah jaringan sosial diantaranya. Jaringan mikro terbagi menjadi tiga fungsi; (1). Sebagai pelican Fungsi pelican, jaringan sosial memberikan kemudahan untuk mengakses sumberdaya yang langka, (2). sebagai jembatan, jaringan sosial dalam tingkat jembatan dapat memudahkan antara satu pihak dengan pihak lainnya. (3). Sebagai perekat, fungsi yang terakhir jaringan sosial sebagai jaringan sosial antar dindividu memberikan tatanan dan makna pada kehidupan sosial.
2. Jaringan Meso
Ketika berinteraksi dengan orang lain biasanya seseorang melakukannya dengan konteks sosial, bisa dilakukan secara individu ataupun kelompok. Hubungan yang dibangun oleh seseorang di dalam kelompok hingga pada akhirnya terbentuk suatu ikatan. Sampai akhirnya dapat dikatakan sebagai jaringan sosial pada tingkat meso. Sama halnya seperti jaringan makro yang memiliki tiga fungsi, jaringan meso juga memiliki tiga fungsi, yaitu; 1) Sebagai pelican, fungsi pelicin sebagai alat untuk memudahkan anggota ataupun kelompok, untuk mendapatkan akses sumber daya langka tersebut. 2) Sebagai jembatan, fungsinya untuk daya hubung atau sebuah relasi yang dimiliki seseorang karena keanggotaannya sebagai kelompok untuk kehidupan sosial. 3) Fungsi perekat, sebagai entitas objektif yang
16
memberikan makna dalam kehidupan sosial, dalam tatanan tersebut setiap individu dapat direkat dalam kelompok.
3. Jaringan makro
Ketika sudah terjalinnya ikatan yang terbentuk menjadi sebuah simpul-simpul dari beberapa kelompok, maka terbentuklah jaringan makro. Dengan kata lain jaringan makro terbuat dari ikatan antara dua kelompok atau lebih.
2.1.2 Kepercayaan
Kepercayaan adalah harapan yang tumbuh dalam suatu masyarakat yang ditunjukkan oleh adanya perilaku jujur, teratur, dan kerjasama berdasarkan norma-norma yang dianut bersama (Fukuyama, 1995). Kepercayaan sosial yang tinggi dalam masyarakat cenderung memiliki aturan-aturan sosial bersifat positif dan pada akhirnya terbentuk hubungan- hubungan kerjasama yang baik pula (Cox, 1995). Trust (kepercayaan) dapat mendorong seseorang untuk bekerjasama dengan orang lain untuk memunculkan aktivitas ataupun tindakan bersama yang produktif. Trust merupakan produk dari norma-norma sosial kooperation yang sangat penting yang kemudian memunculkan modal sosial. (Fukuyama : 2002), menyebutkan trust sebagai harapan-harapan terhadap keteraturan, kejujuran, perilaku kooperatif yang muncul dari dalam sebuah komunitas yang didasarkan pada norma-norma yang dianut bersama anggota komunitas-komunitas itu. Trust merupakan produk dari norma- norma sosial koorporation yang menyebutkan trust sebagai harapan-harapan terhadap keteraturan, kejujuran, pada norma-norma yang dianut bersama. Trust (kepercayaan) dalam pengobatan tradisional engkong ini sangat diperlukan, tidak hanya antar pelaku pijat terapi namun antar masyarakat satu dengan yang lainnya juga dibutuhkan suatu kepercayaan karena dengan adanya kepercayaan ini maka akan terjalin suatu hubungan kerjasama yang baik.
Tidak ada kecurigaan antara sesama pelaku pijit terapi atau masyarakat lainnya.
17 2.1.3 Nilai Dan Norma
Norma-norma terdiri dari pemahaman, nilai, harapan dan tujuan yang diyakini dan dijalankan bersama oleh sekelompok orang. Norma-norma dapat terbentuk dari agama, panduan moral, maupun standar-standar sekuler seperti kode etik yang berupa pra-kondisi ataupun produk dari kepercayaan sosial. Robert W. Richey sebagaimana dikutip oleh T.
Sulistyono (1991: 15) membagi nilai menjadi tujuh macam, yaitu (1) nilai intelektual, (2) nilai personal dan fisik, (3) nilai kerja, (4) nilai penyesuaian, (5) nilai sosial, (6) nilai keindahan, dan (7) nilai rekreasi. Sementara itu Notonagoro membagai nilai menjadi tiga macam, yaitu :
1. Nilai material, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi unsur jasmani manusia.
2. Nilai vital, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi manusia untuk mengadakan kegiatan atau aktivitas
3. Nilai kerohanian, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi rohani manusia, yang meliputi : a. nilai kebenaran atau kenyataan-kenyataan yang bersumber pada unsur akal manusia (rasio, budi, cipta) b. nilai keindahan yang bersumber pada rasa manusia (perasaan, estetis) c. nilai kebaikan atau moral yang bersumber pada kehendak atau kemauan manusia (karsa, etis) d. nilai relegius yang merupakan nilai Ketuhanan, nilai kerohanian yang tertinggi dan mutlak.
Sedangkan norma adalah petunjuk tingkah laku yang harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan dalam hidup sehari-hari, berdasarkan suatu alasan (motivasi) tertentu dengan disertai sanksi. Sanksi adalah ancaman/akibat yang akan diterima apabila norma tidak dilakukan (Widjaja, 1985: 168).
2.1.4 Resiprositas (Hubungan timbal balik)
Resiprositas atau hubungan timbal balik yang dimaksudkan disini adalah kecenderungan saling tukar menukar kebaikan, tukar menukar kebaikan bisa berwujud
18
kepedulian sosial (solidaritas sosial), saling memperhatikan satu sama lain dan saling membantu. Hubungan timbal balik (resiprositas) ini terjadi karena didorong oleh norma dan nilai yang terinternalisasi dalam diri para pengusaha. Rasa kepedulian sosial, saling memperhatikan satu sama lain dan saling membantu yang terjalin antara satu dengan yang lainnya dengan orang lain memang sudah mengakar dalam kehidupan pergaulan mereka sehari-hari. Hubungan timbal balik dapat dijumpai dalam bentuk memberi, saling menerima dan saling membantu yang dapat muncul dari interaksi sosial (Soetomo, 2006: 87). Hubungan timbal balik ini terjadi karena didorong oleh norma dan nilai yang terinternalisasi dalam diri para pengusaha. Rasa kepedulian sosial, saling memperhatikan satu sama lain dan saling membantu yang terjalin antara keduanya.
Sikap dan perasaan kepedulian pedagang dapat kita lihat dari kehidupan sehari-hari mereka sebagai bagian dari kelompok atau warga masyarakat. Sebagai bagian dari suatu kelompok atau warga masyarakat mengakibatkan mereka untuk peduli terhadap apa yang terjadi disekelilingnya, misalnya terjadi musibah (sakit, kematian dan lain-lain), ataupun hal- hal yang berkaitan dengan perayaan (pernikahan, syukuran dan lain-lain), ada masyarakat yang tidak mampu atau masyarakat yang butuh bantuan, ada kegiatan-kegiatan (di perkumpulan, dilingkungan tempat tinggal).
2.2 Penelitian terdahulu
Adapun penelitian terdahulu yang terkait dengan kepercayaan pasian pada pengobatan tradisional, sebagai berikut;
1. Penelitian dari Cecep Eka Permana yang berjudul Masyarakat baduy dan pengobatan tradisional berbasis tanaman. Pada tahun 2009, dengan menggunakan metode deskriptif kuliatatif. Hasil dari penelitian tersebut, masyarakat baduy memilki pengartian sendiri mengenai sakit. Mereka mengatakan orang yang sakit ialah orang yang tidak bisa beraktivitas seperti biasanya atau bisa diartikan seperti aktivitas sehari-hari. Selain itu, seseorang
19
dikatakan sakit, apabila keadaan sakit dinyatakan oleh paraji (dukun) atau kokolot lembur (tetua kampung) barulah orang tersebut dinyatakan benar sakit. Dari pengertian tentang
“sakit” di atas, ada dua hal yang penting, yakni “jika tidak dapat sembuh sendiri” dan
“dinyatakan sakit oleh paraji atau kokolot”. Pada tata cara pengobatan masyarakat baduy mereka lebih kepada rempah-rempah dan memanfaatkan alam sekitar mereka untuk dijadikan racikan obat. Pengetahuan mengenai penyakit dan pengobatannya bagi masyarakat Baduy termasuk warisan tradisional yang diturunkan dari generasi ke generasi. Sejak kecil sebagian mereka telah diajarkan oleh orang tua mereka yang memiliki pengetahuan memanfaatkan tanaman-tanaman tertentu di sekitarnya untuk mengobati berbagai penyakit. Tanaman- tanaman tersebut banyak dan dapat diperoleh di hutan, sekitar ladang, atau sepanjang jalan menuju hutan atau ladang. Beberapa contoh tanaman yang biasa digunakan sehari-hari oleh masyarakat Baduy untuk mengobati penyakit ringan adalah: daun jambu biji untuk mengobati sakit perut, daun jampang pahit untuk mengobati luka, tanaman capeuk untuk menghilangkan pegal-pegal, daun harendong untuk mengobati sakit gigi, dan kulit pohon terep untuk menghilangkan gatal-gatal pada kulit. Maka sebenarnya, masyarakat badauy yang masih terkenal dengan ketradisionalannya baik berupa tindakan bagaimana mereka hidup bahkan sampai mengatasi kesehatan mereka, masih dalam bentuk tradisional.
Persamaan dan perbedaan dari penelitian mengenai pengobatan tradisional sendiri ialah. Yang pertama, pengobatan masyarakat baduy hanya menggunakan ramuan atau rempah-rempah yang memanfaatkan tanaman dari alam, kemudian masyarakat baduy hanya melestarikan budaya mereka kepada satu suku dengan ruang lingkup yang hanya sekiranya masyarakat baduy saja. Sedangkan pengobatan tradisional engkong lebih ke cara atau teknik dan pengobatan tradisional engkong tidak di batasi mulai dari usia, suku, maupun agama.
2. Penelitian dari Prof. Riza Buana Ph.d, Dr Iskandar Zulkarnain, M.Si, Dra Ria Manurung, M.Si, Devi Sihotang, S.Sos, dengan judul Pengobatan Namalo. Dalam Batak
20
Toba berarti 'orang pintar' atau 'dukun', penelitian ini dilakukan pada tahun 2015 dengan menggunakan metode kualitatif yang mana hal tersebut dilakukannya wawancara langsung.
Pengobatan namalo yaitu mereka yang memiliki kemampuan untuk menyembuhkan penyakit dengan menggunakan herbal. Namalo di masa lalu dikenal sebagai tabib yang menggunakan hal-hal mistis, spiritual dan herbal yang dimiliki oleh para leluhur. Setiap namalo memiliki kemampuan dan pengetahuan yang berbeda-beda dalam memberikan perawatan kepada pasien. Ada namalo yang melakukan pijat refleksi dan menggunakan herbal untuk pengobatan internal. Ada juga namalo yang menggunakan herbal untuk patah tulang ramuan.
Namalo yang tinggal di daerah sekitar Danau Toba, Provinsi Sumatera Utara, setelah masuknya agama Kristen di daerah Batak Toba pengobatan hanya dilakukan dengan menggunakan herbal. Komunitas Batak Toba memiliki buku medis yang berisi pengetahuan tentang cara menjalani hidup sehat dan juga digunakan sebagai referensi untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Buku ini diceritakan berasal dari Debata Mula Jadi Na Bolon, atau Sang Pencipta. Saat ini pengobatan tradisional suku Batak Toba mulai menunjukkan keterampilan pengobatan herbalis kembali dengan tidak melakukan meditasi ritual memanggil roh saat melakukan perawatan. Namun tetap saja keberadaannya masih ditolak oleh banyak orang Batak, terutama mereka yang beragama Kristen.
Namalo Tobing dan putranya memiliki kemampuan untuk menyembuhkan patah tulang. Kemampuan Namalo Tobing berasal dari nenek moyang informan dan diturunkan ke generasi berikutnya. Perawatan yang dilakukan oleh Namalo adalah perawatan tradisional menggunakan ramuan herbal. Namalo melakukan perawatan dengan mengurutkan bagian- bagian tubuh pasien yang mengalami patah tulang dan memanfaatkan herbal untuk membantu proses perawatan pasien tersebut. Salah satu pasien yang menerima perawatan dari namalo Tobing, Tn. Siahaan, menderita patah tulang di kakinya karena balok balok ketika bekerja di Malaysia. Ketika dibawa ke rumah sakit, kakinya tidak sembuh sampai akhirnya
21
pasien dan keluarganya memutuskan untuk kembali ke kota asal mereka dan memilih obat tradisional. Tahapan pengobatan yang dilakukan namalo Tobing pada pasien Siahaan adalah dengan melakukan refleksi pada kaki pasien untuk memperbaiki posisi tulang yang patah.
Dalam pengobatan namalo menggunakan campuran yang terdiri dari nasi menir, lada hitam, lengkuas, kincung, kunyit dan dicampur dengan babi gemuk, adulpak, santan kelapa, daun sirih dan air liur burung yang dapat mengembalikan patah tulang kaki burung dan dicampur dengan tanaman yang dibawa oleh burung ini ke dalam sarangnya. Semua bumbu masak dan dicampur.
Persamaan dan perbedaan antara penelitian Namalo dengan Engkong ialah persamaannya adalah bebrapa dari pengobatan Namalo ada yang menggunakan cara atau teknik sama halnya dengan pengobatan tradisional Engkong. Dari sisi penelitian, namalo mendalami teknik secara keseluruhan pengobatan tradisionl namalo tersebut dengan konsep pemberdayaan, sedangkan dalam penelitian Engkong peneliti pendalami pandangan sosiologi dengan teori modal sosial yang mana melihat sisi interaksi antar pasien, masyarakat sekitar dengan Engkong sampai menimbulkan suatu kepercayaan.
22 2.3 Kerangka Berpikir
Bagan 2.1 Kerangka Berfikir
Modal Sosial (Putnam)
\f
Trust
Norma/Nilai
Jaringan
Repositas
Pasien Sembuh
Pasien Sakit
Masyarakat Sekitar
E n g k o n g
Pasien Engkong Pasien
Sembuh Pasien Sakit
Pasien
Engkong
Kepercayaan Pasien Terhadap Pengobatan Tradisional Engkong
23 BAB III
METODELOGI PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif (Suyanto & Sutisna 2005:116). Pendekatan kualitatif adalah pendekatan untuk mengeksplorasi dan memahami makna yang dianggap berasal dari masalah sosial yang bersifat kemanusiaan oleh individu dan sejumlah kelompok orang. Dalam hal tersebut pendekatan kualititif sangat memperhatikan suatu proses, peristiwa, otentitas. Penelitian kualitatif biasanya terlibat dalam reaksi, interaksi, dan realitas yang akan ditelitinya. Maka peneliti akan menjalin interaksi yang lebih intens dengan responden ataupun obek penelitiannya.
Metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif tentu adalah metode yang digunakan pada umunya untuk mengetahui permasalaha di masyarakat. penelitian dan orang yang diteliti (informan) diharapan bersama-sama memberikan arah pada jalannya dan keberlangsungan penelitian tersebut. Dengan peneliti memilih untuk menggunakan penelitian deskriptif kualitatif hal tersebut harapan bagi peneliti agar bisa menggambarkan secara tepat mulai dari sifat-sifat, individu, keadaan, gejala dalam suatu kelompok tertentu di lokasi penelitian. (Idrus, 2009:24)
3.2 Lokasi Penelitian
Dalam penelitian ini, peneliti melakukan penelitian di Kelurahan Pujidadi Kecamatan Binjai Selatan Kota Binjai. Alasan peneliti mengambil lokasi tersebut dikarenkan banyaknya masyarakat Kota Binjai yang mulai antusias mengambil keputusan untuk melakukan perobatan dalam bentuk tradisional, dan lokasi ini juga tempat aktivitas pelaku pengobatan tradisional singgah untuk melakukan prakteknya.
24 3.3 Unit Analisis Dan Informan
3.3.1 Unit Analisis
Unit analisis adalah keseluruhan unsur yang menjadi fokus penelitian (Bungin 2008:266). Unit analisis ialah bagian yang diperhitungkan sebagai subjek penelitian. Dalam pengertian lain unit analisis merupakan satuan yang diteliti berupa individu, kelompok, benda atau suatu latar perstiwa sosial, dan sebagai sesuatu yang berkaitan dengan fokus atau komponen yang diteliti. Kegunaan unit analisis ini untuk menguji validitas dan reabilitas dalam penelitian agar tetap terjaga. Unit analisis ini dapat berupa penelitian dapat berupa inidividu, kelompok, organisasi, benda, wilayah tertentu sesuai dengan fokus permasalahan yang ada. Kemudian, dalam penelitian ini yang menjadi unit analisis penelitian adalah masyarakat yang memakai jasa pengobatan tradisional “Engkong” di Binjai.
3.3.2 Informan
Informan di dalam penelitian kualitatif berkaitan dengan bagaimana langkah yang ditempuh peneliti agar data dan informansi dapat diperoleh dengan baik. Informan merupakan sasaran atau subjek yang memahami permaalahan penelitian (Bungin, 2014:78).
Dalam penelitian ini terdapat dua jenia informan yakni informan kunci dan informan tambahan.
1. Informan Kunci
Adapun informan kunci yang menjadi kreteria peneliti ialah, masyarakat kota binjai yang melakukan pengobatan tradisional pada pengobatan “engkong”. Selain itu juga masyarakat yang datang dari luar kota binjai dan memiliki keinginan yang sama untuk melakukan pengobatan tradisional “Engkong”.
2. Informan Tambahan
Adapun yang menjadi informan tambahan dalam penelitian ini ialah pelaku pijit terapi buang penyakit itu sendiri, yang mana pelaku terapi sering dikenal dengan sebutan
25
“Engkong” oleh pasien yang datanng untuk berobat. Guna adanya informan tambahan untuk sedikit mengetahui bagaimana cara ataupun teknik dalam pelaksanaan pengobatan tersebut yang menjadikan masyarakat tertarik dan meletakkan kepercayaan pada pengobatan tradisional engkong.
3.4 Teknik Pengumpulan Data
Untuk memperoleh data atau informasi yang akurat dalam penelitian di lapangan, maka diperlukan alat pengumpulan data dengan tujuan untuk mendapatkan informasi yang dapat mejelaskan dan menggambarkan masalah dan kondisi, individu atau kelompok yang bersangkutan dengan penelitian (Usman, 2009). Dalam proses pengumpulan data, peneliti akan menggunakan beberapa teknik, agar mendapatkan kesesuaian peneliti dan mendapatkan fokus dan kebutuhan penelti dalam mengelola data dan informasi nantinya.
3.4.1 Data Primer
Data primer adalah sumber data yang diperolah langsung dari sumber asli dan tidak melalui media perantara, data primer berupa opini subjek atau orang secara individual maupun kelompok, hasil observasi dari bentuk benda ataupun sebuah kejadian.
1) Observasi
Metode yang diterapkan dalam penelitian ini adalah observasi, dimana metode observasi merupakan suatu pencatatan hasil penelitian yang bukan hanya sekedar mencatat tetapi juga ada pertimbangan yang kemudian mengadakan penelitian ke dalam suatu skala bertingkat menuju penelitian. Yang dilakukan pertama kali dalam pengumpulan data adalah pra-observasi. Teknik ini merupakan kegiatan yang pertama sekali dilakukan oleh peneliti, hal ini guna untuk mengetahui gambaran awal dari tema yang ingin diteliti. Kemudian, setelah melakukan pra-observasi dan observasi di lapangan, selanjutnya peneliti melakukan teknik pra penelitian. Adapun adalah teknik pra penelitian ada alat-alat yang dibutuhkan seperti, catatan, alat tulis, kamera, dan juga literature yang berhubungan dengan kajian
26
penelitian ini. Selanjutnya mempersiapkan berbagai perlengkapan yang dibutuhkan peneliti dalam melakukan teknik pengumpulan data, dan lanjut pada bagian wawancara.
2) Wawancara
Teknik wawancara dilakukan secara mendalam. Teknik wawancara adalah teknik yang dilakukan dengan percakapan bermaksud untuk mendapatkan informasi yang mendalam dan informasi yang dibutuhkan peneliti. Percakapan tersbut dilakukan oleh dua orang yaitu, pewawancara yang mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai yang memberikan jawaban atas pertanyaan yang diberi (Maleong, 2000). Tujuan wawancara dalam sebuah penelitian untuk mengumpulkan keterangan dari berbagai informasi kehidupan masyarakat serta berbagai hal yang menyangkut dengan data, yang didapat dari beberapa orang yang disebut sebagai informan.
Teknik wawancara juga dilakukan secara terstruktur, artinya peneliti telah menyiapkan draft pertanyaan untuk mempermudah peneliti ketika sedang melakukan wawancara dengan informan. Dipertanyakan dengan informan dengan terstruktur dan baik, dan upayakan untuk meminimalisir pertanyaan yang tidak perlu dipertanyakan.
3) Dokumentasi
Dalam penelitian ini, peneliti juga menggunakan teknik dokumentasi. Metode dokumentasi merupakan metode penelusuran data historis. Sebagian besar adalah data yang berbentuk surat-surat, catatan harian, laporan. Kemudian juga dalam dokumentasi diperoleh dari foto dan gambar mengenai masyarakat yang memakai jasa pengobatan tradisional Engkong di Kota Binjai. Metode dokumentasi yatu mencari data mengenai variable yang berupa catatan, transip, buku, surat kabar, majalah, agenda dan sebagainya. Pengumpulan data dengan cara dokumentasi merupakan suatu hal yang dilakukan oleh peneliti guna mengumpulkan data dari berbagai hal media yang membahas mengenai narasumber yang akan diteliti (Arikunto, 2009:231),
27 3.4.2. Data Sekunder
Data sekunder merupakan data yang diambil secara tidak langsung atau menggunakan media prantara, misalnya yaitu, buku-buku, jurnal, laporan peneliti yang berkaitan dengan topik penelitian yang dianggap relevan dan berhubungan dengan kebenaran masalah yang diteliti.
3.5 Interpretasi Data
Intrerpretasi data merupakan hasil kegiatan analisis dengan permasalahan penelitian untuk menemukan makna yang ada dalam permasalahan. Intrepretasi data dimulai dari menelaah seluruh data yang tersedia yang didapat melalui observasi, wawancara, dan juga dokumentasi. Setalah itu, data akan dipelajari menggunakan teori yang cocok untuk digunakan dan diinterpretasikan secara kualitatif untuk menganalisis permasalahan tersebut.
Kemudian data-data tersebut akan diukur,diatur, diurutkan, dikelompokkan ke dalam kategori, pola atau uraian tertentu dan diperoleh hasil atau kesimpulan yang baik dan sampai pada hasil akhir yaitu laporan.
Setelah data tersebut sudah terkumpul dan dibaca, maka langkah selanjutnya adalah mereduksi data dengan cara abstraksi. Abstraksi merupakan rangkuman terperinci yang merujuk atau berisi pada semua isi penelitian yang ada.
3.6 Jadwal Kegiatan
Agar berjalannya penelitian ini, maka dengan itu peneliti membuat jadwal kegiatan agar tersusun dan terlaksana dengan baik, adapun jadwal ketiatan tersebut sebagai berikut;
28
Tabel 3.1
Jadwal Kegiatan Penelitian No
Kegiatan
Bulan Ke………
1 2 3 4 5 6 7 8
1 Pra Observasi
2 ACC Judul Penelitian 3 Penyusunan Proposal 4 Seminar Desain Penelitian 5 Revisi Proposal Penelitian 6 Penelitian Lapangan
7 Pengumpulan Dan Interpretasi Data 8 Bimbingan
9 Penulisan Laporan Akhir
10 Seminar Hasil Dan Sidang Meja Hijau
29 BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian
4.1.1 Deskripsi Kota Binjai
Gambar 4.1 Peta Kota Binjai
Sumber : Data Peta 2020 Binjai Kota
Kota Binjai adalah salah satu kota (dahulu daerah tingkat II berstatus kotamadya) dalam wilayah provinsi Sumatra Utara, Indonesia. Binjai terletak 22 km di sebelah barat ibukota provinsi Sumatra Utara, Medan. Sebelum berstatus kotamadya, Binjai adalah ibu kota Kabupaten Langkat yang kemudian dipindahkan ke Stabat. Binjai berbatasan langsung dengan Kabupaten Langkat di sebelah barat dan utara serta Kabupaten Deli Serdang di sebelah timur dan selatan. Binjai merupakan salah satu daerah dalam proyek pembangunan Mebidang yang meliputi kawasan Medan, Binjai dan Deli Serdang. Saat ini, Binjai dan Medan dihubungkan oleh jalan raya Lintas Sumatra yang menghubungkan antara Medan dan Banda Aceh. Lebih jelasnya lagi batas wilayah kota binjai dari bagian Utara ada Kabupaten Langkat dan Kabupate Deli Serdang. Kemudian di bagian Timur ada Kabupaten Deli
30
Serdang. Dibagian Selatan ada Kabupaten Langkat dan Deli Serdang. Dan terakhir di bagian Barat ada Kabupatem Langkat.
Uniknya Kota Binjai Sejak lama dikenal dengan julukan Kota rambutan, dikarenakan buah rambutan binjai sangat terkenal menjadikan komoditas unggul bagi kota binjai sendiri.
Kota Binjai sendiri terbagi dalam lima kecamatan, mulai dari Binjai Barat, Binjai Kota, Binjai Selatan, Binjai Timur dan terakhir Binjai Utara. Tetapi setiap Kecamatan memiliki kelurahan yang berbeda pula.
Pada Tahun 1945 (saat revolusi) sebagai kepala pemerintahan Binjai adalah RM.Ibnu dan pada 29 Oktober 1945 T. Amir Hamzah diangkat menjadi Residen Langkat oleh Komite Nasional dan pada masa pendudukan Belanda 1947 Binjai berada di bawah Asisten Residen J. Bunger dan RM. Ibnu sebagai Wakil Walikota Binjai pada tahun 1948–1950 pemerintahan Kota Binjai dipegang oleh ASC Moree. Tahun 1950–1956 Binjai menjadi Kota Administratif Kabupaten Langkat dan sebagai Walikota adalah OK. Salamuddin kemudian T. Ubaidullah Tahun 1953–1956. Berdasarkan Undang-Undang Darurat No. 9 Tahun 1956 Kota Binjai menjadi otonom Kotapraja dengan Walikota pertama S.S. Parumuhan. Dalam perkembangannya Kota Binjai sebagai salah satu Daerah Tingkat II di Provinsi Sumatera Utara telah membenahi dirinya dengan melakukan pemekaran wilayahnya. Semenjak ditetapkan Peraturan Pemerintah No.10 Tahun 1986 wilayah Kota daerah Kota Binjai telah diperluas menjadi 90,23 Km2 dengan 5 wilayah kecamatan yang terdiri dari 11 desa dan 19 kelurahan. Setelah diadakan pemecahan desa dan kelurahan pada tahun 1993 maka jumlah desa menjadi 17 dan kelurahan 20. Perubahan ini berdasarkan keputusan Gubernur Sumatera Utara Nomor 140-1395/SK/1993 tanggal 3 Juni 1993 tentang Pembentukan 6 desa persiapan dan 1 kelurahan persiapan di Kota Binjai. Berdasarkan SK Gubernur Sumatera Utara No.146/2624/SK/ 1996 tanggal 7 Agustus 1996, 17 desa menjadi kelurahan. Hal ini diperjelas sebagai berikut: