BAB IV Hasil Penelitian dan Pembahasan
4.4 Gambaran Pengobatan Tradisional Engkong
4.5.1 Jaringan Mikro
Jaringan Mikro Sebagai makhluk sosial, manusia hidup bersama dengan orang lain.
Oleh sebab itu, seorang anak manusia selalu ingin melakukan interaksi sosial dengan manusia lainnya. Interaksi sosial antar individu tersebut menjelma menjadi suatu hubungan sosial yang bila terjadi secara terus menerus bisa menghasilkan suatu jaringan sosial di antara mereka. Dalam hidupnya manusia (individu) selalu ingin melakukan interaksi sosial dengan individu lainnya. Interaksi antar individu tersebut menjalin suatu hubungan sosial. Hubungan sosial selalu berjalan terus menerus antar individu menghasilkan suatau jaringan sosial diantara mereka. Jaringan sosial antar individu atau antar pribadi dikenal sebagai jaringan (sosial) mikro merupakan bentuk jaringan yang selalu ditemukan dalam kehidupan kita sehari-hari. Pada bagian ini jaringan mikro dapat kita pahami bahwa masyarakat yang
66
memutuskan untuk yakin dan datang ke pengobatan tradisional. Kemudian secara sadar masyarakat atau pasiennya para engkong, melakukan interaksi terhadap sesama pasiennya, baik itu pada saat di lokasi perobatan maupun ketika para pasien melalukan jaringan terhadap orang-orang sekitarnya baik sanak saudara maupun tetangganya. Maka, hal tersebut yang dikatakan jaringan makro terhadapat pengobatan tradisional itu sendiri dan juga hal tersebut adalah kegiatan yang sangat gampang kemudian selalu ditemukan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.
5.5.2 Jaringan Meso
Jaringan Meso dalam berinteraksi sosial dengan orang lain, pada umumnya, orang melakukan dalam suatu konteks sosial, biasanya dalam satu kelompok. Hubungan yang dibangun para aktor dan atau didalam kelompok sehingga terbentuk suatu ikatan maka dapat disebut sebagai jaringan sosial pada tingkat meso. Dalam berinteraksi sosial dengan orang lain, pada umumnya orang melakukannya dalam suatu konteks sosial, biasanya dalam suatu kelompok. Jaringan sosial pada tingkat meso ini dapat di temui dalam berbagai kelompok yang kita masuki atau memiliki seperti ikatan atau alumni, paguyuban, ikatan profesi, dan sebagainya. Seperti halnya mikro, tingkatan meso juga bersifat sebagai pelicin, jembatan dan sebagai perekat.
“Jaringan sosial yang di maksud kali ini ialah, bagaiamana pasien-pasien yang sudah datang ke pengobatan engkong terus melakukan penyebaran jaringan ke orang-orang yang menurut mereka membutuhkan pengobatan tersebut. Engkong yang telah memberikan semaksimal mungkin tenaga untuk membuat pasiennya sembuh, dan para pasien engkong yang puas dengan hasil pengobatan tersebut. Hal ini yang menjadikan kuatnya jaringan yang ditiulkan engkong kepada para pasiennya dan terus berjaringan ke orang-orang yang membutuhkan pengobatan ini. “
67 Bagan 4.2 Fungsi Jaringan
Hubungan yang telah dia bangun diantara engkong dan sekelompok pasien membuat berbagai bentuk jaringan sosial yang saling menguntungkan diantara keduanya. Secara umum pelicin dimaksud mempermudah dan memperlancar keberlangsungan sesuatu kegiatan yang akan terjadi dan dalam jangka panjang. Dengan jelas bahwa kegunaan pelicin ialah membantu meyebarkan informasi ke masyarakat lainnya, dan mempermudah gerak engkong sebagai pelaku terapi mendapatkan pasien agar kegiatannya sebagai orang yang menyembuhkan berlaku sampai waktu yang tidak di tentukan.
Jaringan sosial berperan penting dalam menjembatani engkong dan sekelompok pasien untuk bisa memberikan kepercayaan terhadap pengobatan tradisional yang dilakukan engkong. Kata menjembatani disini diartikan sebagai bentuk membantu diantara kedua pihak antara engkong dan pasien-pasiennya. Mulai dari engkong yang memberikan bukti bahwa banyak pasien yang sembuh ketika melakukan terapi padanya, kemudian pasien sembuh tersebut merasakan puas dan percaya bahwa ketika ia menyebarkan informasi yang orang sekitarnya pasien sembuh tersebut sudah memiliki bukti yang kuat, yaitu dirinya sendiri.
“Pada bentuk ini dapat dimenerti bahwa adanya jaringan sosial pada kelompok pasien memberikan fakta-fakta yang akurat untuk hal yag dimaksud ialah pelican bagi sesama kelompok pasien yang menyebarkan jaringan tersebut. Hal inialah yang kemudian menjadikan jembatan diantara pasien satu dengan pasien lainnya untuk para calon pasien yang sudah mendapatkan informasi dari salah seorang pasien yang sudah mencoba pengobatan tradisional engkong”
“ hal yang saya lakukan adalah menawarkan orang-orang sekitar saya untuk mencoba pengobatan tradisional terapi engkong, dan saya
Jaringan ;
Pelicin Menjembatani
68
mengatakan bahwa saya pernah duduk di kursi roda tetapi sekarang saya bisa pulih dan berjalan seperti sedia kala.” (wawancara dengan Danu Maulana).
4.6 Kepercayaan
Kepercayaan ketika dilihat secara umum atau bisa dikatakan dengan definisi kepercayaan ialah, bagaimana individu maupun kelompok memiliki hubungan satu sama lain yang nantinya akan menimbulkan sebuah kepercayaan, dikarenakan kepercayaan ini ialah sebuah pondasi ketika masyarakat ingin memulai suatu hubungan terhadap aspek apapun itu.
Kepercayaan dibangun dengan adanya cara pembuktian dari salah satu pihak, yang mana kedua belah pihak nantinya akan sama-sama diuntungkan, khususnya di dalam pengobatan tradisional ini. Ketika engkong melakukan terapi untuk pasiennya maka harus ada jaminan yang di dapat oleh pasiennya, dan engkong juga begitu mendapatkan imbalan dari kelebihannya tersebut dalam menyembuhkan penyakit pada pasiennya.
“Hubungan yang dijalin antara pelaku pengobatan dengan paseian dalam melakukan kegiatan penymbuhannya butuh sebuah bukti yang nantinya akan menjadikan sebuah kepercayaan untuk para pasiennya. Kepercayaan tercipta dikarenakan sebuah proses yang terjadinya sebuah bukti yang sudah dilakukan oleh engkong itu sendiri.“
Sekarang pada era modern, masyarakat tidak seluruhnya bisa langsung percaya terhadap pengobatan medis yang berdasarkan ilmiah. Para setiap golongan di masyarakat memilki percaya terhadap pengobatan medis dan alternatif memiliki pandangan yang berbeda terhadap keduanya. Dalam kenyataannya pada saat ini, perkembangan praktik-praktik pengobatan medis modern baik yang dikelola oleh dari lembaga pemerintah maupun pihak swasta selalu diiringi dengan perkembangan praktik-praktik pengobatan tradisional. Hal tersebut ditunjukkan dengan adanya pengobatan tradisional yang masih tetap hidup dan menjadi model pengobatan alternatif dalam masyarakat (Sumirat dkk, 2015).Masyarakat saat ini dihadapkan pada dunia modern yang menuntut kerasionalan dalam berbagai aspek, termasuk kesehatan. Kenyataannya, masih banyak praktik-praktik pengobatan alternatif yang dijalankan hanya dengan dasar pengalaman, bukan ilmiah, tentu hal ini tak dapat
69
dipertanggungjawabkan dan membahayakan pasien. Mayer (1995) mendefinisikan kepercayaan adalah kemauan seseorang untuk peka terhadap tindakan orang lain berdasarkan pada harapan bahwa orang lain akan melakukan tindakan tertentu pada orang yang mempercayainya, tanpa tergantung pada kemampuannya untuk mengawasi dan mengendalikannya. Mayer menjelaskan konsep ini bahwa orang yang dipercaya memiliki kemauan dan kepekaan pada harapan orang lain yang meyakini bahwa tindakannya berperan sangat penting
Kepercayaan juga terdapat ikatan antar simpul (orang/kelompok) yang dihubungkan dengan media (hubungan sosial). Hubungan sosial ini diikatkan dengan kepercayaan.
Kepercayaan itu dipertahankan oleh norma yang mengikat kedua belah pihak. Menjadi dasar terjalinnya hubungan-hubungan antar individu tanpa dilatarbelakangi rasa saling curiga.
Selanjutnya, semangat kerja sama akan mendorong integrasi sosial yang tinggi. Diantaraya dalam kepercayaan ialah :
1. Kejujuran : diangkat dari kepercayaan yang timbul diantara pasien kepada engkong maka bentuk kejujuran dalam praktek pengobatan engkong yang dilakukan secara transparan membuat ada sebuah hakikat yaitu jujur kepada para pasien, hal ini yang menjadi salah satu faktor pendukung untuk engkong selaku temat pengobatan tradisional itu sendiri.
2. Kooperatif : adanya tindakan yang dilakukan dari lawan kelompok, membuat refleksi kekuatan diantara para pasien untuk saling bekerja sama dikarenakan adaya saling percaya anatara enkong dan pasiennya. Adanya pemahaman satu sama lain berdarkan kebutuhan dan aspirasi, baik dari pihak engkong maupun kelompok pasien.
3. Bersikap normal : sikap ini yang seharusnya menjadi acuan, dikarenakan perlakuan yang dilakukan oleh engkong kepada pasiennya tidak ada yang di beda-bedakan, menjadikan perilaku bersikap normal dapat diterima oleh kelompok pasien. Dalam
70
sikap normal dikuatkan dengan adanya sikap simetris, egaliter dan juga sama rata dengan semua pasien.
4.7 Resiprositas
Dalam kelompok maupun individu, resiprositas adalah sebuah bentuk pertukaran, adanya timbal balik dari hubungan masyarakat, sehingga memunculkan keterkaitan diantara kedua belah pihak. Polanyi (1998), menurutnya resiprositas adalah pertukaran timbah balik yang dilakukan masyarakat secara individu atau antar kelompok dalam lingkungan sosial ynag tercipta. Memperjelas akan adanya resiprositas dalam pengobatan tradisional engkong, berikut beberapa contoh ini yang dapat disandingkan :
4.7.1 Sosial
Modal sosial dalam klaster memiliki peran yang besar dalam memfasilitasi proses transaksi di antara para pengusaha, membantu para pengusaha untuk menguasai modal ekonomi, dan memungkinkan institusi yang ada bekerja dengan baik dalam memberikan layanan kepada para pengusaha. Pengalamannya menjadi bagian kelompok sosial yang didominasi membuat perjalanan intelektualnya sampai pada keputusan melibatkan diri ke dalam gerakan politik dan alternatif pada dekade 1990-an. Awal keterlibatannya ke dalam dunia politik sebenarnya dimulai pada tahun 1984 dan 1988, Bourdieu menjadi anggota komite yang dibentuk pemerintah sosialis di bawah Francois Mitterand untuk mengkaji ulang kurikulum dan sistem pendidikan di Prancis. Namun keterlibatannya tidak lama. Pada 1993, dia menerbitkan buku The Weight of the World yang mengungkapkan penderitaan sosial di Perancis yang diakibatkan kebijakan neoliberal yang diadopsi pemerintah sosialis di sana.
Beruntun, dia menulis serangkaian buku dengan tema yang sama (Grenfell: 2008).
Bourdieu berargumen, mustahil memahami dunia sosial tanpa mengetahui peran modal dalam segala bentuknya dan tidak sekedar dalam satu bentuk yang diakui oleh teori ekonomi. Pada awalnya ia mengadopsi modal budaya untuk menjelaskan timpangnya prestasi
71
akademik anak-anak dari kelas sosial yang berlainan dan dari kelompok yang berbeda dalam kelas sosial. Dengan menjalankan strategi investasi budaya di dalam keluarga, beberapa kelompok sosial mampu memastikan anak-anak mereka akan mendapatkan hasil optimal dari pendidikan. Dalam beberapa hal, ia berargumen bahwa transmisi modal budaya merepresentasikan bentuk paling efektif transmisi modal budaya melalui warisan, karena sebagian besar hal tersembunyi dan dengan demikian tidak kurang siap dikendalikan.
“Pada hakitnya sosial yang dikatakan oleh Bourdieu ialah, ketika di masyarakat apa yang lebih terlihat pada pemilihan keputusan oleh kelompok masyarakat itu sendiri. Biasa kita lihat dari salah satu pasien, yang beliau juga salah satu masyarakat di kota binjai yang melakukan pengobata tradisional sebagai salah satu pilihan untuk menyembuhkan penyakit.”
“Danu sebagai sumber pertama yang di wawancarai oleh peneliti dalam mengetahui seberapa besar beliau memilih pengobatan tradisional sebagai alat bantu untuk menyembuhkan penyakitnya, danu mengatakan bahwa beliau sudah cukup lelah menggunakan pengobatan modern dikarenakan banyaknya obat yang harus di konsumsi setiap harinya. Danu juga berikir bahwa efek samping yang akan diterimanya nanti di kemudian hari akan banyak akibat. Maka alasan utamanya dalam memilih pengobatan tradisional ialah agar mendapatkan kesembuhan yang lebih maksimal dari pengobatan-pengpbatan sebelumnya.”
“meski faktanya danu harus melewatui banyak percobataan pengobatan baik itu modern ataupu tradisonal sendiri.”
4.7.2 Ekonomi
Pada bagian ini, modal ekonomi yang dimaksud ialah, bagimana memanfaatkan jaringan sosial yang sudah tertera adanya, sebagai alat untuk memperluas jaringan ke para calon pasien engkong nantinya. Konsep modal meskipun merupakan khazanah ilmu ekonomi dipakai oleh Bourdieu karena beberapa cirinya yang mampu menjelaskan hubungan kekuasaan (Bourdieu, 1995) yaitu pertama, modal terakumulasi melalui investasi; kedua, modal bisa diberikan kepada yang lain melalui warisan; ketiga, modal dapat memberi keuntungan sesuai dengan kesempatan yang dimiliki oleh pemiliknya untuk mengoperasikan penempatannya.
72
Modal ekonomi dan modal simbolik sebenarnya dapat saling dipertukarkan (Bourdieu, 1995). Konversi modal ekonomi ke modal simbolik, hanya dapat berlangsung terus menerus dengan keterlibatan seluruh kelompok (Bourdieu, 1995). Pertukaran modal ini dapat dilihat misalnya pada pertukaran pemberian. Pertukaran pemberian dan semua upaya simbolik lainnya seperti pesta, upacara, kunjungan dan perkawinan bertujuan mengubah hubungan berkepentingan menjadi hubungan resiprosita1. Walaupun pertukaran pemberian tidak sama dengan barter maupun hutang, pemberian disini dimaksudkan sebagai pemberian balasan.
“Dalam modal ekonomi peneliti mendapatkan informasi bahwa diantara dua pilihan yang dilakukan pasien dari pilihan untuk menggunakan jasa pengobatan modern dengan pengobatan tradisional, dua pilihan yang menimbulkan biaya admisnistrasi diantaranya para pasien mangatakan bahwa pengobatan modern lebih banyak mengeluarkan biaya dari pada pengobatan tradisional.”
“Pengobatan tradisional engkong, engkong sendiri tidak mematokan harga dalam proses pengobatan pada para pasiennya, tidak ada perbedaan diantara para pasien baik itu pasien yang memilki perekonomian menengah ke atas ataupun menengah ke bawah.”(Informan oleh engkong pada 2020)”.
“Engkong: saya tidak pernah memberikan patokan untuk harga dalam pengobatan terapi pijat ini, dan juga saya tidak memilih kalangan manapun untuk berobat kepada saya, semua saya layani dengan sama dan tidak ada yang saya beda-bedakan diantara keduanya.”
“Ibu Suwarsih : saya melakukan terapi pada engkong hanya satu kali, dan alhamdullilah langsung ada kemajuan sembuh, dan untuk masalah pembayaran tidak ada patokan yang diberikan kepada engkong, tetapi engkong melakukan maksimal kepada saya.
4.8 Nilai Dan Norma
Nilai yang ada pada pengobatan tradisional engkong. Pengobatan tradisional engkong sangat baik dalam proses terapi kusuk pada kelompok pasien, dan banyak hasil yang baik pula. Sampai saat ini pengobatan tradisional engkong masih menjadi salah satu pilihan kelompok pasien dalam mengobati penyakitnya. Penilaian yang timbul dari kelompok pasien untuk engkong akibat adanya perkembangan dari beberapa pasien yang mulai semuh dan
73
sembuh dalam proses pengobatan. Engkong sendiri memegang kejujuran yang dilakukan pada saat praktek pengobaan dimulai, transparansi yang dilakukan engkong disaksikan oleh semua orang yang datang untuk berobat padanya.
Norma/aturan yang berlaku di dalam pengobatan tradisional engkong sendiri ialah, adanya sebuah aturan yang harus disepakati diantara pasien kepada engkong. Adanya norma ini agar mencapai kesetabilan diantara engkong dan kelompok pasien dalam menjalankan pengobatannya hingga sembuh. Aturan yang terdapat pada engkong ialah menyepakati untuk membawa korek kayu dan satu bungkus rokok sebagai tanda perkenalan kepada engkong sendiri. Jika aturan tidak dipenuhi maka engkong menyatakan bahwa pasien tersebut sombong untuk dapat menjalan pengobatan ini, dan pasien tersebut sama saja tidak menghatgai engkong sebagai juru untuk menyembuhkan penyakitnya.
”Kegunaan adanya nilai dan norma, untuk mengarahkan kelompok pasien, agar sejalan dengan apa yang di mau oleh engkong. Hal sederhana namun artinya sangat bermakna bagi engkong sendiri. Dua hal yang sangat berpengaruh yaitu mengarahkan dan bermakna. Namun engkong tidak menitik beratkan atau tidak mewajibkan apa-apa yang menjadi syarakat ketika melakukan pengobatan tradisional engkong.
Maka, disini dapat dinilai ada kelemahan pada bagian nilai dan norma tersebut.”
4.9 Bentuk Modal Sosial Pasien Terhadap Pengobatan Tradisional
Berbicara mengenai modal sosial, Menurut Bourdieu modal sosial ini sejatinya merupakan hubungan sosial bernilai antar orang. Hal tersebut bisa dicontohkan sebagian masyarakat yang berinteraksi antar kelas dalam lapisan sosial masyarakat. Modal sosial yang dimiliki menyangkut institusi-institusi, norma, nilai, konvensi, konsep hidup, codes of condust, dan sejenisnya. Pola pengelolaan modal sosial yang menjadi bagian analisis adalah bernilai produktif bagi terciptanya kepaduan sosial (social cobesiveness). Kemudian kebermaknaan modal sosial tersebut hanya dalam konteks interaksi dengan dunia luar yang sewajarnya harus terlibat proses-proses negosiasi dan adaptasi.
74
Kunci dari konsep Modal Sosial pada World Bank (2014) menguraikan beberapa konsep kunci modal sosial. Yang pertama, modal sisa sebagai asosiasi horizontal, yang mana terdiri dari orang-orang ataupun sekelompok masyarakat dan di dalamnya terdiri dari norma-norma, jaringan yang mana hal tersebut ada dampaknya pada produktivitas dan kesejahteraan masyarakat. Modal sosial memfasilitasi koordinasi dan kerjasama. Namun modal sosial juga memiliki sisi buruk yang penting (Portes dan Landholt 1996), seperti masyarakat, kelompok atau jaringan yang terisolasi maupun kelompok yang berada di lintas yang bersebrangan dengan tujuan kepentingan kolektif masyarakat, seperti kartel narkoba, korupsi dan lain-lain, yang benar-benar dapat menghambat ekonomi dan pembangunan sosial.Yang kedua, modal sosial yang memasukkan asosiasi vertical maupun horizontal antara orang-orang, dan termasuk juga di dalamnya perilaku di dalam diantara organisasi-organisasi.Pandangan ini mengakui hubungan horizontal yang dibutuhkan masyarakat untuk memberikan identitas dan tujuan yang sama, tetapi juga menekankan pentingnya hubungan “bridging” yang dapat mengatasi elemen-elemen pemecah hubungan sosial (misalnya agama, etnis, status sosial ekonomi). Hubungan horizontal dapat menjadi dasar untuk mengejar keuntungan 21 sempit, dan dapat secara aktif menghalangi akses terhadap informasi dan sumber daya material yang seharusnya dapat amat sangat membantu bagi masyarakat, seperti akses terhadap kredit dan lain-lain.
“Pada bagian ini tidak ada perbedaan dianara aspek apapun, baik dari segi agama, etnis, status sosial maupun ekonomi. Semua pasien mempunyai misi dan harapan yang sama yakni kesembuhan dari sebuh penyakit.”
“Faktor pendorong lainnya dengan adanya konsep modal sosial menjadikan tidak ada perbedaan cara atau segi apapun dari engkong untuk para pasiennya, semua dilakukan dengan cara yang sama dan mendapatkan kesempatan yang sama pula untuk sembuh.”
Modal sosial merupakan sebuah konsep yang digunakan untuk mengukur sebuah kualitas hubungan dalam komunitas, organisasi dan masyarakat, salah satunya para pasien engkong. Modal sosial tidak diartikan dalam sebuah materi, akan tetapi modal sosial didapat
75
dari seseorang. Modal sosial lebih menekankan pada potensi yang ada dalam suatu kelompok dan antar kelompok. Kemudian dalam kelompok modal sosial akan menemukan bertahannya dan berfungsinya sebuah kelompok pada masyarakat. Hal ini ada secara natural timbul sebuah aspek-aspek penting di dalam modal sosial itu sendiri.
“Kepercayaan yang dimiliki oleh pasien enngkong telah timbul karena banyak aspek yang mendukung, mulai dari bagaimana engkong tidak mematokkan biaya ketika pengobatan berlangsung, kemudian tidak ada peraturan-peraturan tertentu ketika proses penyembuhan, dan tidak banyak syarat-syarat yang harus di penuhi oleh pasien kepada engkong sendiri, kemudian dengan hasil yang memuaskan juga kepercayaan itu timbul mengapa masyarakat yakin akan pengobatan tradisional engkong tersebut. Hal itulah yang menjadikan kepercayaan sangat di utamakan dalam penelitian kali ini, mengapa demikian? Hal tersebut bisa ada kaiatannya dengan kesehatan manusia, yang mana bisa menjadi tolal ukur ketika sebuah pengobatan tradisional dapat di percaya pasiennya. Dengan cara engkong yang sangat sederhana ketika melakukan kusuk terapi, hal yang fakta dilakukan oleh para pasiennya, maka itulah yang medukung orang-orang percaya kepada pengobatan engkong.
4.9.1 Modal Sosial Pada Pengguna Jasa Pengobatan Tradisional Engkong
Modal sosial merupakan konsep yang sangat penting dalam menunjang model pembangunan yakni manusia. Manusia merupakan subjek yang sangat berpengaruh terhadap apa-apa menentukan dan menggerakkan penyelenggaraan pembangunan masyarakat. Modal sosial merupakan kemampuan seseorang atau komunitas dalam memanfaatkan sumberdaya yang terdapat pada lingkungan masyarakat. Modal sosial menurut Coleman (1990) yakni merupakan akses yang sesungguhnya memiliki peranan secara ekonomi untuk meningkatkan kelangs ungan penghidupan masyarakat. Menurut Coleman di dalam modal sosial terdapat dua ikatan yang saling berhubungan yakni mengikat dan menjembatani.
“Modal sosial yang djalankan di dalam pengobatan tradisional engkong, memicu pada hubungan timbal balik dan rasa saling percaya diantara engkong dan pasiennya, jaringan sosial pengobatan tradisional engkong menimbulkan kinerja hasil yang baik dan sangat professional, kemudian sebaliknya pasien-pasien yang datang kepada engkong harus menerima norma yang berlaku dan saling sepakat diantara kedua belah pihak, untuk norma yang dimaksud ialah membawa korek kayu dan satu bungkus rokok yang ditetapkan sebagai engkong sebagai tanda perkenalan diantara engkong dan pasien, dan nilai sendiri diyakini agar menghasilkan
76
kesembuhan yang diinginkan para pasien. (Wawancara dengan engkong pada 2020)”
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan penggunaan obat tradisional pada masyarakat yang diwakili oleh masyarakat di Kota Binjai sebagai studi pendahuluan. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi data awal untuk mengambil langkah dalam peningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai pengobatan tradisional dan meningkatkan kepedulian masyarakat dalam menggunakan pengobatan medis maupun pengobatan tradisional yang berkualitas, aman, efektif, dan terpercaya. Banyak masyarakat yang menggunakan obat tradisional baik untuk pengobatan maupun perawatan, dengan kata lain juga termasuk dalam cara ataupun sering dikenal masyarakat denga pijat terapi engkong.
Dengan demikian, banyak yang harus diharapkan dari masyarakat agar lebih mengetahui keberadaaan dan manfaat dari pengobatan tradisional sendiri.
“Modal sosial dapat digunakan sebagai strategi meningkatan kualitas pada komunitas pengobatan tradisional dengan jumlah masyarakat yang percaya akan pengobatan tradisional. Dengan mengobati secara maksimal, maka akan ada hasil yang maksimal pula. Hal inilah yang menjadikan nama pengobatan tradisional di Inonesia mendapatkan pengaruh baik, dan juga mewakili pengobatan-pengobatan tradisional lainnya yang memiliki cara dan keunikan nya masing-masing dalam mengobati”
77
1 Kultural Nilai, norma masi berperan : Kepercayaan, Kemauan baik, Kehormatan; Aktif dan kreatif; Rasa memiliki komunitas;
1 Kultural Nilai, norma masi berperan : Kepercayaan, Kemauan baik, Kehormatan; Aktif dan kreatif; Rasa memiliki komunitas;