• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV Hasil Penelitian dan Pembahasan

4.2 Pemerintah Kota Binjai Dalam Aspek Pelayanan Kesehatan

4.2.1 Visi dan Misi Dinas Kesehatan Kota Binjai

Kemudian daripada itu, untuk lebih memperkuat dan meyakinan peneliti juga mencantumkan visi dan misi mengenai pelayanan kesehatan pada pemerintahan Kota Binjai sebagai berikut;

A. Visi Dinas Kesehatan Kota Binjai:

“Masyarakat yang sehat dan maju dalam kemandirian, kesetaraan, dan keadilan”.

B. Misi Dinas Kesehatan Kota Binjai:

1. Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, melalui pemberdayaan masyarakat (swasta dan masyarakat madani).

2. Melindungi kesehatan masyarakat dengan jaminan tersedia upaya kesehatan yang paripurna, merata, bermutu dan berkeadilan.

3. Menjamin ketersediaan dan pemerataan sumberdaya kesehatan 4. Menciptakan tata kelola kepemerintahan yang baik.

Disamping itu dari segi sarana kesehatan yang langsung dikelola oleh Dinas Kesehatan, sarana kesehatan lain, baik pemerintah maupun swasta memberikan pelayanan

35

kepada masyarakat di Kota Binjai. Adapun sarana kesehatan yang beroperasi di daerah Dinas Kesehatan Kota Binjai pada tahun 2017 : Rumah sakit Umum/Swasta 2 Buah, puskesmas 6 buah, puskesmas pembantu 13 buah, poliklinik / BPU 7 buah, klinik bersalin 7 buah, poliklinik induk 1 buah, apotek 10 Buah.

Adanya berbagai masalah kesehatan yang ada di Kota Binjai, dengan sikap pemerintah melakukan berbagai macam kebijakan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dalam mendapatkan aspek penting ysitu fasilitas kesehatan. Oleh karena itu dalam perkembangannya pemerintahan Kota Binjai terus meningkatkan berbagai fasilitas pelayanan kesehatan dengan baik. Hal ini guna mewujudkan visi dan misi pemerintah dalam menciptakan masyarakat yang sehat. Peneliti melihat dengan jelas bahwa pemerintahan di Kota Binjai sangat memperhatikan kesehatan untuk masyarakatnya, sudah jelas tertera di atas yang telah di cantumkan oleh peneliti mengenai visi dan misi dari Dinas Kesehatan Kota Binjai.

4.3 Profil Informal 4.3.1 Informan I

Nama : Dina Dwi Yanti

Jenis Kelamin : Perempuan

Usia : 20 Tahun

Agama : Islam

Suku : Jawa

Pendidikan Terakakhir : SMA

Pekerjaan : Mahasiswa

Alamat : JL.G.Bendahara. Lk.1 Kel.Pujidadi Kec.Binjai Selatan No. 174 Kota Binjai.

36

Dina dwi yanti yang bisasa di sapa dengan nama Dina merupakan seorang mahasiswa yang memilki riwayat penyakit asam lambung angkut. Dina sendiri saat ini sedang duduk di bangku perkuliahan semester 6 (enam) dengan jurusan antropologi sosial Universitas Malikul Saleh di lokhsemawe. Dina sendiri memiliki penyakit lambung angkut bermula pada saat Sekolah Menengah Atas (SMA) tepatnya pada tahun 2016. Beliau mengatakan bahwa penyakit lambung akut yang dideritanya setelah melakukan pengobatan tradisional engkong sudah tidak pernah kambuh lagi, padahal sebelumnya dina sendiri sering sekali masuk rumah sakit akibat asam lambung akut yang dideritanya tersebut, tentu rutinitas itu membuat pikiran dan perasaanya ketakutan dengan penyakitanya ditambah lagi dengan minum obat khusus dari dokter yang menjadi sebuah kebiasaan unutk menghilangkan rasa nyeri. Namun pihak rumah sakit lah yang mengetahui bahwa dina memiliki riwayat penyakit lambung akut tersebut. Awal mula Dina memutuskan untuk datang berobat di pengobatan tradisional engkong sendiri, beliau mendapatkan informasi dari salah satu saudaranya yang juga mengidap penyakit yang juga cukup serius, dan saudaranya tersebut menyarankan dina untuk mencoba datang ke pengobatan tradisional engkong untuk mengobati penyakit yang di deritanya. Seketika peneliti menanyakan menganai apakah pengobatan tradisional ini menjadi pilihan pertama untuk mengatasi pengakitnya? Informan menjawab bahwa tentu tidak, karena dina sadar bahwa dia adalah seorang mahasiswa yang dimana punya pemikiran yang lebih percaya terhadap pengobatan medis dibanding dengan pengobatan tradisional sendiri. Dan menurut belai juga pengobatan medis lebih ada kepastian dan nyata contohnya seperti responden dan lainnya, dan memang nyatanya ketika kambuh awalnya dina di bawa ke rumah sakit bukan di bawa langsung ke pengobatan tradisonal. Nah barulah setelah ada beberapa proses pengobatan medis dan akhirnya datang ke pengobatan tradisional dengan beberapa orang yang meyakinan gitu. Dan ketika bebrapa bulan menjalankan pengobatan dengan rutin yaitu sebanyak satu kali dalam seminggu dan akhirnya sekarang sudah tidak pernah kumat

37

lagi penyakit dina. Pengobatan tradisional yang di jalankan Dina sendiri yaitu terapi dan nada beberapa saran dari engkong yaitu :

1. Pertama pisang kapok di potong-potong menjadi beberapa bagian 2. Kemudian di siram menggunakan air garam

3. Di diam kan selama satu malam dan di minum setiap pagi hari,

Tidak hanya itu dina juga menyabarkan informasi kepada tetangga dan sanak keluarganya untuk mencoba pengobatan tradisional engkong tersebut, karena menurutnya hal baik harus terus di sebar agar banyak orang bisa sembuh dengan penyakit yang di deritanya dan arena setiap orang pasti ingin sehat dan hidup normal.

4.3.2 Informan II

Nama : Bama Misem

Jenis Kelamin : Perempuan

Usia : 66 Tahhun

Agama : Islam

Suku : Jawa

Pendidikan Terakhir : SMA

Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga

Alamat : Dusun Bandarejo Kabupaten Langkat

Ibu Misem, adalah salah satu pasien dari engkong yang mana beliau mengidap penyakit patah kaki, ibu misem mengatakan bahwa sebelum ia datang berobat ke pengobatan tradisional engkong, beliau juga di tindak oleh pengobatan medis atau datang dan di rujuk ke rumah sakit. Awal mula dari penyakit ibu misen sendiri ialah beliau jatuh dan terpeleset, pada saat menjalani pengobatan awalnya pihak rumah sakit melakukan ronsen terlebih dahulu kemudian dokter menyarankan agar kaki beliau yang patah di semen, dan ibu misem sendiri tidak bisa banyak melakukan aktivitas dikarenakan patah kaki yang ia derita di semen/di

38

gifsun oleh dokter. Tetapi sebelumnya ibu misem juga mengatakan bahwa sebelum beliau di rujuk ke rumah sakit, belau di bawa ke dukun patah terdekat, dikarenkan waktu itu kondisinya mereka sedang berada di luar kota dan sedang liburan keluarga, akhirnya di bawa ke dukun patah terdekat untuk sedikit meghilankan kekhawatiran dirinya dan anak-anaknya, setelah sampai di rumah baru keesokan harinya ibu misem di ruju ke rumah sakit. Kemudian, ibu misem yang tidak tahan dengan keadaan tersebut, yang dimana kakinya di semen oleh dokter agar patah tulang yang di alaminya segera pulih akhirnya banyak mengeluh kepada anak-anaknya, bahwa keadaan tersebut sangat menyiksa dirinya. Kemudian, salah satu anaknya yang bernama Sri Wati menyarankan untuk mencoba datang ke pengobatan tradisional engkong, beliau adalah ibu kandung dari Dina Dwi Yanti yaitu informan pertama yang mengalami penyakit asam lambung akut. Ibu Sri berbicara kepada ibunya yaitu ibu Misem bahwa anaknya yang mengidap penyakit asam lambung bisa sangat membaik ketika mencoba pengobatan tradisional engkong dan ketika sudah di beri tahu akhirnya ibu Misem menyetujui tawaran dari anaknya tersebut untuk mencoba pengobatan tradisional engkong.

Kemudian, dengan rutin satu kali dalam seminggu dia melakukan terapi pengobatan tradisional engkong dalam tiga kali peremuan saja ibu Misem saat ini sudah bisa berjalan seperti biasa, beliau mengatakan jauh lebih sehat dan sudah tidak terlalu sering mengalami rasa nyeri lagi. Ibu Misem sendiri proses penyembuhan di pengobatan tradisional Engkong hanya menggunakan terapi saja, dan diberikan minyak kusuk dari Engkong nya sendiri, ibu Misem juga memiliki alasan yang kuat mengapa ia mau di ajak datang ke pegobatan Engkong dikarenakan beliau ingin segera sembuh dan tidak merasakan nyeri lagi, karena menurutnya diumur belau yang sudah tidak muda lagi mengalami patah kaki sangat lah tersiksa.

Kemudian, informan menanyakan mengenai berapa biaya yang sudah di habiskan dalam pengobatan engkong sendiri? Ibu misem mengatakan bahwa tidak ada patokan yang di berikan oleh engkong terhadap semua pasien-pasien nya. Hanya saja ketika kita ingin berobat

39

ada beberapa syarat atau yang harus di bawa seperti, korek kayu dan rokok. Barang tersebut menandakan sebagai tanda pengenal atau buah tangan dari pasien untuk engkong dalam proses pengobatan. Ibu misem sendiri merasakan puas datang berobat ke pengobatan engkong dan ibu misem juga menyebarkan berita ini kepada temen-teman, tentangganya yang mempunya riwayat penyakit untuk mencoba datang ke pengobatan engkong, dengan mengatakan bahwa dirinya sudah sembuh karena berobat ke engkong.

4.3.3 Informan III

Nama : Wisnu

Jenis Kelamin : Laki-laki

Usia : 16 Tahhun

Agama : Islam

Suku : Jawa

Pendidikan Terakhir : Sekolah Dasar

Pekerjaan : tidak Bekerja

Alamat : Dusun Candi Roso Kec. Sei Bingai kabupaten langkat Wisnu adalah seorang remaja yang putus sekolah dikarenakan penyakit yang di deritanya, penyakit yang di serita wisnu sendiri ialah asam lambung, akan tetapi bukan asam lambung biasa, asam lambung ini mengakibatkan wisnu menjadi seorang yang linglung dan seolah tidak mengenali orang sekitarnya bahkan dirinya sendiri, maka dari itu infoman melakukan wawancara kepada ibu wisnu mengenai penyakit dari wisnu sendiri. Penyakit yang di derita wisnu awal mulanya adalah asam lambung biasa pada saat di liat dari gejala-gejala yang di keluarkan oleh wisnu, dan sudah di cek ke dokter juga sama kata dokter wisnu terkena asam lambung. Akan tetapi dengan berjalannya waktu, semakin hari sikap dan perilaku wisnu mulai berubah, suka bengong, dan marah tiba-tiba ketika dia mulai tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri. Bahkan sebelum datang ke pengobatan engkong sudah

40

banyak pengobatan tradisional lainnya yang di datangi bahkan ada yang mengatakan bahwa wisnu kemasukan roh halus makanya sikapnya seperti itu, tetapi ketika menjadi pengobatan tidak ada peningkatan sama sekali. Dan akhirnya ketika ada saudara saya yang menyarankan untuk mencoba datang berobat ke pengobatan tradisional engkong akhirnya banyak kemajuan. Wisnu sendiri rutin satu minggu sekali untuk datang dan melakukan terapi ke pengobatan engkong, wisnu dinyatakan sembuh ketika sudah datang tiga belas kali melakukan pengobatan terapi engkong. Banyak perubahan dan perkembangan yang terjadi di diri wisnu, dimana wisnu sudah bisa meminta tolong dan memanggil ibunya. Tidak hanya itu ibunya wisnu juga sangat terbantu semenjak percaya dan yakin kepada pengobatan engkong Karena wisnu sangat susah untuk minun obat, sedangkan di pengobatan engkong wisnu hanya mendapatkan pengobatan terapi saja. Ibu wisnu juga mengeluh mengenai jangka waktu proses penyembuhan yang sangat lama ketika menjalan pengobatan di rumah sakit, tidak hanya itu beban biaya resep obat di rumah sakit juga sangat mahal sehingga memberatkan orangtua wisnu untuk membiayainya. Sedangkan dengan engkong tidak di patokan biaya pengobatannya sehingga sangat membantu dalam perjalanan pengobatan penyembuhan wisnu sendiri. Tidak hanya itu ibu wisnu juga menyebarkan berita tersebut kepada saudara, teman, dan tetangganya untuk datang berobat ke pengobatan tradisional engkong, dikarenan beliau juga ingin mereka-mereka yang memiliki riwayat penyakit juga dapat merasakan sembuh, karena sehat itu mahal. Dan harapan ibu misem untuk pengobatan tradisional di Indonesia lebih di perhatikan, dikarena banyak juga masyarakat yang cocok menggunakan jasa pengobatan tradisional sendiri.

4.3.4 Informan IV

Nama : Dinda Cantika

Jenis Kelamin : Perempuan

Usia : 12 tahun

41

Agama : Islam

Suku : Jawa

Pendidikan Terakakhir : Sekolah Dasar

Pekerjaan : Pelajar

Alamat : Desa Implesmen Kuwala Mencirim

Dinda adalah anak yang terlahir premature, namun kecerdasan dinda sama dengan anak pada umumnya, kekurangan dinda sendiri hanya celat dalam berbicara dan ada urat syaraf yang rusak sehingga dinda kesulitan untuk berjalan. Awal mula dinda kesulitan berjalan pada saat hari dimana dinda dilahirkan dia kejang hebat sehingga menyebabkan beberapa urat syaraf dinda putus dan akhirnya dinda kesulitan unutk berjalan. Banyak sudah pengobatan yang sudah dijalani oleh dinda, mulai dari pengobatan medis yang bisa dikatakan bahwa tingkatannya rendah sampai dengan tingkat kecanggihannya tinggi. Namun, tidak banyak kemajuan dari dinda untuk bisa bejalan, dan bukan hanya itu saja banyak juga pengobatan sejenis terapi yang sudah di lakukan untuk pengobatan dinda sendiri, orang tua dinda tidak pernah menyerah untuk mencari dimana pengobatan terbaik untuk anaknya. Pada akhirnya ibu dinda mendapatkan informasi dari temannya untuk mencoba pengobatan tradisional engkong, temennya yang memberikan informasi mengatakan bahwa sanak saudaranya sudah ada yang sembuh setelah datang dan berobat ke pengobatan engkong.

Akhirnya orangtua dinda melakukan diskusi kepada dinda untuk mengajak mencoba pengobatan engkong. Setelah lima kali pengobatan berjalan dengan satu kali dalam seminggu pengobatan rutin di lakukan, sedikit banyak ada kemajuan yang di dapat dari dinda, dinda sudah bisa berdiri sendiri meskipun dengan cara meraba bantuan dari dinding atau benda di sekitarnya. Tetapi orangtua dinda sadar, penyakit anak ini adalah penyakit bawaan dari lahir yang mana sangat susah untuk bisa sembuh total, orangtua dinda juga sadar bahwa sebelumnya sudah banyak mencoba pengobatan dimana saja baik itu secara medis maupun

42

secara tradisional Sehingga, ketika ada kemajuan dimana dinda bisa mulai berdiri sendiri setelah datang ke pengobatan engkong orangtua dinda sudah sangat bersyukur atas kemajuan yang ada pada diri dinda. Penyakit bawaan putus syaraf motorik yang di alami oleh dinda sagatlah susah untuk disembuhkan sehingga orangtua sangat wajar ketika dinda tidak bisa sembuh total dan bisa berjalan seperti anak pada umumnya. Ibu dinda juga memberitahukan tetangganya mengenai pengobatan tradisional engkong dimana sangat baik dan banyak orang yang sembuh ketika berobat ke sana. Tidak hanya itu, banyak pertimbangan besar mengapa orangtua dinda memilih pengobatan tradisional dikarenakan tidak banyak efek samping yang didapat dari obat-obatan medis, jika dipilih pengobatan modern dengan jangka waktu yang lama obat-obatan tersebut menimbulkan efek samping yang berbahaya. Hal ini menjadi tolak ukur tersendiri bagi orangtua dina dengan memilih pengobatan tradisional yang notabene hanya menggunakan terapi saja. Dan akhirnya orangtua dinda memutuskan berhenti melakukan pengobatan dimana pun, namum sampai saat ini kepuasan dari pengobatan tradisional masih menjadi pegangan dari orangtua dinda dan salah satunya pengobatan tradisional engkong tersebut.

4.3.5 Informan V

Nama : Nuriati

Jenis Kelamin : Perempuan

Usia : 50 Tahun

Agama : Islam

Suku : Jawa

Pendidikan Terakhir : SD (Sekolah Dasar)

Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga

Alamat : JL.G. karang Kel. Binjai Estate Kec.Binjai Selatan Kota Binjai

43

Penyakit yang di derita oleh ibu nuriati awalnya ialah batu karang , rumah sakit atau pengobatan medis menyatakan penyakitnya adalah batu karang, awal pengecekan hanya di lakukan di klinik saja, kemudian dilakukanlah pengobatan jalan yang mana pasien hanya minum obat resep dari dokter yang ketika rasa sakit yang ia rasakan tiba-tiba mulai muncul.

Dokter mengatakan bahwa penyakit batu karang yang ia derita disebebkan oleh menahan buang air kecil yang terlalu sering dilakukan oleh beliau. Setelah tidak banyak kemajuan yang dirasakan Ketika beliau menjalankan pengobatan medis, akhirnya ibu nuriati Memutuskan untuk mencoba datang ke pengobatan tradisional, yang mana ketika ia pergi ke pengobatan tradisional disarankan oleh anak menantunya, dan yang saya ketahui anak menantu ibu nuriati adalah sanak saudara dari informan kunci dari penelitian kali ini.

Sehingga dapat dikatakan bahwa informasi yang di dapat dari ibu nuriati dengan tidak disadari adalah jaringan sosial yang sudah di lakukan oleh anak menantunya tersebut.

Ibu nuriati mengatakan bahwa perjalanan pengobatannya pertama kali ia datang ke rumah sakit untuk memeriksakan rasa sakit yang ia alami secara mendadak. Kemudia ia juga sempat datang ke pengobatan tradisional lainnya, setelah tidak ada kemajuan di pengobatan tradisional yang pertama kemudian ia mendapatkan informasi di pengobatan tradisional yang kedua yaitu pengobatan tradiaional engkong. Kemudian waktu pertama kali ibu nuriati datang ke pengobatan engkong ia langsung mendapatakan banyak perubahan, dan ibu nuriati juga mengatakan bahwa ketika mengontrol kedua kalinya sudah merasakan sembuh total dari penyakitnya yaitu batu ginjal. Ibu nuriati juga cerita bahwa ketika pengobatan pertama dilakukan ia langsung lancar buang air kecil dan bahkan berkali-kali melakukan buang air kecil. Dan ibu nuriati juga mengatakan kepuasan di pengobatan tradisional engkong, dan tidak hanya berhenti disitu saja ibu nuriati dan keluarganya juga memberikan informasi ke sanak sudara, teman dan dan lainnya. Ibu nuriati juga mengatakan engkong tidak mematokan harga dalam peroses pengobatanya, baik itu dari kalangan ekonomi menengaah ke atas

44

maupu menengah ke bawah semua di sama ratakan oleh enkong sendiri. Semua atas dasar keikhlasan dari engkong selaku yang melakukan pengobatan tersebut. Tidak lupa juga, ibu nuriati melanjutkan perkataannya bahwa ada tanda pengenal yang di bawa unuk engkong, yaitu rokok dan juga korek kayu. Hal ini guna untuk perkenalan dari pasien kepada engkong sendiri yang mana ibu nuriati mengatakan ”supaya kesannya tidak sombong saja kok”, dan para pasien engkong sendiri termasuk ibu nuriati tidak keberatan apa yang sudah di terapkan dari pengobatan engkong tersebut, dengan senang hati mereka melakukan hal terseut dan yang paling terpenting mereka mengharapkan kesembuhan dari pengobatan tradisional engkong ini.

Ibu nuriati sendiri tergolong dalam keluarga yang perekonomiannya di tengah-tengah, atau bisa dikatakan stabil maka dengan tidak keberatan mereka datang ke pengobatan tradisional secara sadar dan tidak adanya paksaan, niat yang paling utama ibu nuriati ke pengobatan tradisional ialah benar adanya hanya untuk kesebuhan dari penyakit yang di deritanya pada saat itu. Setelah pengobatan secara rutin rudah selesai dilakukan dan ibu nuriati sudah dikatakan semung oleh engkong, dengan lancer ibu nuriati mengatakan bahwa penyakitnya tidak perah kambuh lagi, beliau benar-benar nyaman dengan pembawaan badannya tersebut. Dan tentunya ibu nuriati berterima kasih kepada anak menantunya yang telah memberikan informasi terkait pengobatan tradisional ini.

4.3.6 Informan VI

Nama : Suryani

Jenis Kelamin : Perempuan

Usia : 63 Tahun

Agama : Islam

Suku : Melayu

Pendidikan Terakhir : SMP (Sekolah Menengah Pertama)

45

Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga

Alamat : Jalan. Gunung Bendahara Lk.II Kota Binjai

Ibu suryani, atau bisa sering di sapa dengan nek yani, beliau memiliki riwayat penyakit stroke, awalnya hanya stroke ringan biasa, sampai pada suatu ketika nek yani mengalami stroke yang mulai serius yang mengakibatkan nek yani susah untuk berdiri dan berjalan seperti sedia kala. Nek yani sudah melakukan kontrol dan terapi ke dokter dalam proses penyembuhan penyakitnya, akan tetapi tidak hanya itu saja usaha nek yani untuk sembuh dari penyakit stroke tersebut, nek yani juga mencari beberapa tempat pengobatan tradisional lainya. Bertanya kesana-kemari untuk menemukan tempat pengobatan yang bisa membuat penyakit strokenya sedikit agak ringan.

Usaha yang dilakukan nek yani untuk sembuh sangat gigih, pihak keluarga nek yani juga terus memberikan semangat kepada nek yani untuk terus semangat dalam melawan penyakitnya itu. Berbulan-bulan nek yani tidak bisa berjalan, nek yani berjalan di bantu dengan kursi roda maupun tongkat. Kemudian pihak keluarga mendapatakan informasi dari salah satu temannya yang mana bentuk dari pengobatan tradisional tersebut mengarah kepada bentuk terapi dan spesifiksinya seperti kusuk pada bagian-bagian tertentu yang menjadi fokus pada sakit tersebut. Pengobatan tradisional tersebut adalah pengobatan engkong, akhirnya anak dari nek yani membujuk nek yani untuk mencoba pengobatan tersebut. Pertama kali nek yani melakukan percobaan pengobatan tradisional engkong nek yani juga melakukan hal yang sama dengan pasien-pasien yang lainnya, nek yani membawa buah tangan yang mana itu sudah menjadi ciri khas dari pengobatan engkong seolah sebuah simbol, nilai/norma yang sudah diberlakukan sejak engkong bisa mengobati pasien-pasiennya yang sakit. Awal pengobatan nak yani kepada engkong nek yani langsung merasakan perubahannya, nek yani langsung bisa berdiri sendiri dari kursi roda dan berdiri tanpa di bantu tongkat yang biasa nek yani gunakan untuk jalan. Akhirnya karena nek yani merasakan puas terhadap pengobatan

46

engkong, nek yani dan keluarga memutuskan untuk terus menggunakan jasa engkong untuk penyembuhan penyakit strokenya nek yani.

Dalam perjalanan pengobatan, nek yani melakukan kontrol sebanyak dua belas kali untuk bisa berjalan secara normal, selama pengobatan berlangsung nek yani memberhentikan pengobatannya di tempat yang lain dan nek yani hanya fokus pada satu pengobatan tradisional yaitu engkong. Nek yani juga berkata bahwa nek yani merasakan sangat puas melakukan pengobatan kepada engkong dan secara sadar nek yani menyear luaskan dimana ia bisa sembuh dan berjalan. Maka, dengan tidak sadar nek yani juga sudah melakukan jaringan sosial terkait adanya pengobatan tradisonal engkong, nek yani melakukan promosi dengan cara mulut ke mulut kepada orang-orang terdekatnya, seperti tetangg, kerabat dan lainnya.

Ketika nek yani merasakan puas setelah melakukan pengobatan tradisional engkong, dan juga penyakitnya nek yani membaik, nek yani mengatakan ia tidak segan untuk memberikan bayaran yang lumayan kepada engkong, meskipun sebenarnya engkong tidak mematokkan terkait dengan bayaran. Maka, repositas diantara mereka telah terbangun secara

Ketika nek yani merasakan puas setelah melakukan pengobatan tradisional engkong, dan juga penyakitnya nek yani membaik, nek yani mengatakan ia tidak segan untuk memberikan bayaran yang lumayan kepada engkong, meskipun sebenarnya engkong tidak mematokkan terkait dengan bayaran. Maka, repositas diantara mereka telah terbangun secara