Tulungagung.”
Tentu saja jenis dan kualitasnya benar-benar dipilih yang nomor satu. Ini, tegas Kholip, bukan melulu soal bis- nis melainkan sudah menyangkut nama baik Blitar sebagai penghasil belim- bing. Buah yang kaya vitamin C itu di- beli dari petani paling murah Rp 5.000 per kg, dan bisa mencapai Rp 10.000 bila pasar lagi ramai. “Dalam sebulan saya bisa kirim 600 peti ke berbagai kota di Jawa, atau kira-kira 10 ton,” aku Kholip yang mengantongi omzet penjualan Rp 150 juta setiap bulan.
Sehari-hari dia dibantu 15 kar- yawan yang seluruhnya warga sekitar. Beberapa di antara mereka perempuan berusia lanjut (lansia). Sebagai ketua UPPKS (Usaha Peningkatan Pendapat- an Keluarga Sejahtera) Vita Sari dan ketua AKU (Asosiasi Kelompok UPPKS) Kota Blitar, Kholip berkeinginan
menjadikan lansia sebagai pribadi yang tangguh dan produktif. Dengan sistem kerja borongan, para lansia itu dalam seminggu mengantongi peng- hasilan Rp 100 ribu – Rp 150 ribu.
“Tapi kalau pas lagi ramai bisa da- pat sampai Rp 300 ribu. Kerjanya tidak berat, cuma membungkus belimbing dengan plastik. Paling dua atau tiga jam sudah kelar, mau dikerjakan di rumah juga bisa,” ucap sosok yang pernah menjadi TKW di Taiwan ini.
LAHIRKAN VITASARI
Namanya juga bisnis; sekali waktu pasang, lain kali surut. Musim hujan dan musim mangga adalah kabar buruk bagi para pelaku bisnis belim- bing. Saat itu harga anjlok drastis, mulai tingkat petani sampai konsumen akhir. “Dalam setahun belimbing panen empat kali, dan satu kali di anta- ranya harga pasti anjlok. Paling sering pas musim mangga,” beber Kholip.
Muncul pertanyaan, kalau produk berlimpah tapi harganya murah, lalu
hendak ’dibuang’ ke mana? Toh, per- empuan murah senyum ini tak kekuran- gan akal. Usai mengikuti sejumlah pel atihan yang diadakan Dinas Koperasi & UMKM serta Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Blitar, tahun 2013 Kholip mulai memproduksi sirup dan dodol belimbing.
Menyusul kemudian minuman sari buah belimbing, permen, serta kenyal kenyus. Yang terakhir itu adalah cemilan berbahan irisan buah belimbing yang rasanya mirip kurma. Proses pembuatan kenyal kenyus tidaklah rumit. Belimbing matang cukup diiris kecil-kecil, lantas direbut dengan air gula sekitar 1,5 jam. “Lalu ditiris selama semalam, setelah itu dijemur di bawah matahari langsung selama tiga hari,” jelas Kholip tentang cemilan kreasinya yang banyak disukai kalangan pejabat di Blitar itu.
Sedangkan sirup dan sari buah dibuat dari perasan buah belimbing. Dibanding produk sejenis yang lain, ja- min Kholip, penganan buatannya lebih ’asli’. Misalnya sirup dan sari buah, murni dibuat dari air perasan belim- bing. “Tidak ada tambahan air, walau
setetes pun,” tandasnya. Aneka makanan dan minuman dengan label Vitasari itu sudah tenar di wilayah Blitar dan sekitarnya. Semen- tara ini Kholip hanya menjualnya di dua tempat, yakni Kawasan Agrowisata Belimbing Karangsari dan di rumah- nya. Sesekali dia juga melayani pesan- an dari luar kota, antara lain Surabaya dan Pasuruan.
“Untuk pesanan dalam jumlah ba- nyak dari luar kota, kami belum bisa me- layani. Soalnya sehari-hari sudah repot mengurus pengiriman belimbing ke luar kota,” aku Kholip yang kerap mengikuti pameran produk UKM, antara lain di Bojonegoro, Tuban, Kediri, Surabaya, Probolinggo, hingga Bangkalan.
Ke depan dia ingin Vitasari makin berkembang, dan bukan sekadar ’pelengkap’ bisnis pengepul belim- bing yang menjadikannya mapan se- cara ekonomi. Harga yang relatif murah menjadi nilai lebih produk-produk Vita Sari. Sirup per botol dibanderol Rp 15 ribu, minuman sari buah Rp 25 per dus (isi 32 gelas), dodol per dus kecil Rp 5 ribu, dus besar Rp 15 ribu, sedangkan kenyal kenyus Rp 15 ribu per bungkus isi 3,5 ons.
Kholip pun berterima kasih digan- deng Semen Indonesia menjadi salah satu mitra binaan. Pinjaman modal yang didapat dari SMI sungguh berarti untuk memperlancar roda usahanya. Di sisi lain, dia ingin merasakan riuhnya suasana pameran yang melibatkan seluruh mitra binaan SMI.
Tak ada niat mengurus Hak Paten? “Pernah, tapi untuk nama Vita Sari ternyata sudah dipakai orang Pas- uruan. Jadi mau tidak mau harus ganti nama, rencana saya pakai Vita Bling. Atau mungkin digabung, Vita Sari-Vita Bling,” pungkas Kholip yang sering menjadi instruktur pengolahan makanan-minuman berbahan belim- bing ke berbagai daerah. (lin/SG)
MITRA
Vtasari
Owner :
Tri Kholipah
Produk :
Aneka produk olahan buah belimbing
Rumah :
Jl Rambutan 86, Karangsari, Kota Blitar
Jumlah Pekerja: 15 orang
Omzet :
Rp 150 juta per bulan
Gabung Semen Indonesia:
Tahun 2015
MITRA
E
mpat tahun menjadi karyawan adalah masa-masa penuh ke- prihatinan bagi Anwar. Ketika itu, tahun 1999 hingga 2003, bayarannya cuma Rp 150 ribu per minggu. Tapi dia tidak patah arang. Baginya, kerja bukan semata untuk mencari uang. Ilmu dan pengalaman yang didapat jauh lebih berharga dari segalanya.Tahun 2003, dengan tekad baja, modal pengalaman dan dana Rp 15 juta, ia memutuskan untuk mandiri. Anwar pun membuka usaha pengu- pasan kepiting rajungan. Modal yang dimiliki saat itu hanya cukup untuk me- nyewa rumah tempat usaha dan mem- beli peralatan pengupas kepiting.
Meski mulanya terasa sulit dan penuh liku, namun semua dijalaninya dengan hati sabar. Jatuh bangun pun dialaminya sejak usahanya itu berdiri, terutama dari segi permodalan, tapi Anwar tak surut langkah. “Sejak awal saya sudah berniat untuk bikin usaha sendiri. Saya tahu mengawali usaha itu tidak mudah, tapi saya tidak mau mundur,” katanya.
Usaha keras dan doa tak kenal henti membuat usaha Anwar pelan- pelan mulai maju. Permintaan da- ging kepiting rajungan yang menjadi bahan baku ekspor ke Amerika Serikat semakin bertambah. Anwar yang dulunya hanya mengolah hingga 100 kg kepiting per hari, kini semakin kesu-
litan memenuhi permintaan pemesan. Seorang rekan menyarankan agar Anwar menambah modal serta meningkatkan produksinya. “Saran itu saya turuti. Semula saya meman- faatkan kredit bank, tapi kok merasa tidak nyaman. Akhirnya saya menga- jukan permohonan bantuan modal usaha dari PT Semen Tonasa senilai Rp 15 juta. Alhamdulillah dikabulkan,” sambung Anwar yang menanfaatkan bantuan modal itu untuk membeli kepiting rajungan dari nelayan.
Usahanya pun semakin berkem- bang. Jika sebelumnya hanya mengo- lah 100 kg kepiting per hari, sekarang melonjak jadi 200 kg sampai 500 kg, dengan pengiriman ke Parepare