RANAH
Bila masing-masing pihak tidak ada yang mau mengalah, bisa-bisa acara pernikahan batal digelar.
“Dulu teman saya ada yang nyaris batal nikah karena nggak ada yang mau mengalah. Yang laki-laki anak sini, yang perempuan dari Gresik. Akhirnya, kedua keluarga luluh setelah tokoh agama turun tangan. Memediasi agar jangan sampai pernikahan batal karena ego pegang tradisi ini,” kisah Musli- han Karmaputra, warga Weru, Paciran, Lamongan.
Muslihan sendiri dulu juga dilamar sang pacar, Luluk Muslihah, yang kini menjadi istrinya. Mereka menikah ta- hun 2001 dan kini telah dikaruniai dua orang anak. Kebetulan Muslihan dan Luluk berasal dari daerah yang sama sehingga tidak ada masalah.
Proses lamaran waktu itu, ungkap Muslihan, sama seperti tradisi perni- kahan di daerah lain. Setelah pihak perempuan melamar, selanjutnya pihak laki-laki membalas kunjungan sambil memberikan jawaban. Tidak jarang pihak perempuan akan mende- sak melalui seorang utusan, saat pihak laki-laki tidak juga membalas lamaran.
Kedua keluarga selanjutnya menyepakati tanggal pernikahan. Dalam proses tersebut, tidak ada aturan khusus menyangkut seserahan. Misalnya, mempelai perempuan bisa dinikahi bila calon pengantin pria menyerahkan sejumlah barang atau uang dengan nilai nominal tertentu. Semua diserahkan kepada masing- masing mempelai, prinsipnya tidak memberatkan.
Dalam prosesi nikah, tradisi ini tetap mengacu pada ajaran Islam. Seluruh rukun nikah dipenuhi, termasuk pem- berian mahar dari pihak pengantin pria. “Hanya tradisi saat lamarannya saja yang mungkin berbeda dengan beberapa daerah lain di Indonesia. Tetapi prosesi pernikahannya tetap mengacu pada hukum Islam. Disertai dengan kelengka- pan rukun-rukunnya,” terang alumni Uni- versitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya yang kini berdinas di Kantor Depag Kabupaten Lamongan ini.
Setelah proses pernikahan, lanjut Muslihan, kedua mempelai akan berkunjung ke kerabat terdekat. Biasanya, saat kunjungan ini mereka membawa makanan. ““Kalau zaman dahulu memang masih membawa jodhang diangkut oleh empat orang,
tetapi sekarang sudah berubah. Barang bawaan makanan diangkut pikap,” kata Muslihan.
SEJARAH PANGERAN KEMBAR
Tradisi perempuan melamar laki-laki konon sudah terjadi turun temurun sejak masa pemerintahan Raden Panji Puspokusumo, penguasa Lamongan pada 1640 - 1665. Panji Puspokusumo sendiri tercatat sebagai keturunan ke-14 Prabu Hayam Wuruk, penguasa Majapahit.
Dalam kisahnya, Panji Puspokusumo memiliki dua anak kembar bernama Raden Panji Laras dan Raden Panji Liris. Kedua pangeran rupawan itu memiliki hobi menyabung ayam. Suatu hari keduanya mengikuti sabung ayam di daerah Wirosobo yang sekarang dike- nal dengan Kertosono, Nganjuk (sisi selatan Lamongan, red).
Ketampanan Panji Laras dan Panji Liris ternyata membius dua putri kembar raja Wirosobo, yakni Dewi Andansari dan Dewi Andanwangi. Kendati dianggap melanggar norma saat itu, Raja Wirosobo akhirnya melamar kedua putra kembar pe- nguasa Lamongan itu. Desakan dua putri kesayangan membuatnya berani melanggar norma.
Akan tetapi, Putri Andansari dan Andanwangi belum memeluk Islam sehingga Panji Laras dan Panji Liris tak serta merta menyetujui lamaran
tersebut. Terdorong keinginan untuk menyiarkan agama Islam, keduanya memberi syarat agar kedua putri tersebut membawa sendiri geduk (tempat air) dari batu sebagai perlam- bang untuk wudhu dan tikar dari batu untuk sajadah tempat salat. Kedua syarat tersebut harus dibawa sendiri dari Wirosobo menuju Lamongan.
Akan tetapi, ketika turun dari perahu tanpa sadar kain panjang Dewi Andansari dan Andanwangi tersingkap sehingga betisnya kelihatan. Betis kedua putrid Wirosobo tersebut dipe- nuhi rambut yang lebat dan hitam, sehingga membuat takut Panji Laras dan Panji Liris.
Dari sini muncul dua versi kelan- jutan cerita. Ada yang menyebut pernikahan kedua pasangan kem- bar itu tetap berlangsung, versi lain mengatakan batal karena mempelai laki-laki takut dengan calon pasangan- nya. Entah mana yang benar. Yang pasti, kisah perempuan melamar lelaki itu akhirnya jadi tradisi dan bertahan sampai sekarang.
Hanya saja, tak ada tambahan ce- rita bagaimana bila ada yang melang- gar tradisi tersebut. Apakah akan terkena bala atau bencana. “Mungkin saja ada. Tetapi, saya sih ngikuti tradisi saja. Nggak lebih,” tandas Muslihan yang tidak tahu persis kebenaran cerita sejarah tersebut, namun tidak berani melanggarnya. (ram/SG)
A
du ayam atau massaung manu adalah tradisi yang sudah lama melekat pada masyarakat Desa Biringere. Konon, budaya ini sudah ada sejak zaman kerajaan. Manu’ (Bugis) atau Jangang (Makassar) yang berarti ayam dan Massaung Manu yang berarti adu ayam merupakan kalima yang sangat lekat dalam kehidupan masyarakat Bugis Makassar.Pemerhati budaya Pangkep, M Farid W Makkulau yang turut hadir menyak- sikan sabung ayam tersebut menyebut- kan bahwa kultur Bugis Makassar kental dengan mitologi ayam. “Jika menda- patkan pembahasan yang berimbang maka kata ini bisa jadi sangat mewarnai perjalanan sejarah dan kebudayaan Sulawesi Selatan. Sebut saja misalnya, Raja Gowa XVI, I Mallombasi Daeng Mattawang Sultan Hasanuddin, digelari
“Haaantjes van het Oosten” yang berarti “Ayam Jantan dari Timur” dan lambang Universitas Hasanuddin ada- lah gambar ayam”, ujarnya.
Dijelaskan, masyarakat Bugis Makas- sar selain menjadikan ayam sebagai ternak peliharaan juga menjadikannya sebagai hewan aduan. Karena keakrab- an dengan ayam ini dengan senantiasa mereka memperhatikan tanda isik, bulu dan bunyi kokoknya. Malah, orang Bugis Makassar memiliki kepercayaan, irasat, alamat atau pertanda dari ayam.
Misalnya, bila ayam betina beradu di bawah kolong rumah, maka itu pertanda bahwa yang empunya rumah akan kedatangan tamu. Bila ayam betina berkotek di waktu malam, maka itu pertanda akan ada kerabat yang meninggal. Ayam ini disebut Manu’ Patula-tula’ dan karenanya mesti disem- belih dan tidak boleh dibiarkan bertelur