BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN
3.9. Jadwal Penelitian
No Kegiatan
Bulan
I-III IV-VI VII-X X-VI XVII
1 Persiapan √
2 Pengumpulan Data √ √ √ √ √
3 Pengolahan data √ √ √
4 Penyusunan laporan √ √ √
5 Seminar hasil √
3.10. Biaya Penelitian
a. Pengumpulan data Rp 2.000.000,-
b. Pembuatan proposal Rp 2.000.000,-
c. Seminar proposal Rp 2.500.000,-
d. Pelaksanaan Rp 6.500.000,-
e. Pembuatan laporan penelitian Rp 2.000.000,- f. Tim pendukung penelitian Rp 2.000.000,- g. Seminar hasil penelitian Rp 3.000.000,-
Rp 20.000.000,-
BAB 4
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil Penelitian
Penelitian ini dilakukan di RS Haji Adam Malik Medan dalam kurun waktu 17 bulan dimulai pada tanggal 1 januari 2015 sampai dengan 31 mei 2016. Adapun subjek penelitian adalah sebanyak 41 orang penderita kanker paru bukan sel kecil yang ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, gambaran foto toraks dan pemeriksaan CT scan toraks dengan kontras yang kemudian dilakukan pemeriksaan sitologi maupun histopatologi melalui tindakan bronkoskopi untuk mendapatkan sediaan sel yang nantinya akan menentukan jenis kanker paru.
Seluruh sampel akan dilakukan pemeriksaan darah sebelum kemoterapi pertama sekali (sebelum bulan pertama kemoterapi) dan pada akhir kemoterapi bulan ke-4 atau bulan ke-6, pemeriksaan darah yang akan dilakukan berupa pemeriksaan faal hemostasis dan tumor marker kanker paru jenis sel kanker bukan sel kecil yaitu PT, INR, APTT, TT, D-dimer dan NSE, Cyfra 21-1, CEA.
Hasil penelitian dianalisis dengan perangkat lunak, data akan dilakukan uji normalitas terlebih dahulu kemudian akan dilakukan uji komparatif data sebelum kemoterapi dan setelah kemoterapi selanjutnya data akan dilakukan uji korelasi.
Dengan uji diatas akan diketahui apakah data-data diatas memiliki asosiasi ataupun hubungan dan seberapa kuat hubungan masing-masing variabel.
4.1.1. Karakteristik Subjek Penelitian
Total jumlah sampel studi pada pasien ini adalah 41 orang, berdasarkan jenis kelamin, sampel laki-laki lebih banyak dari perempuan yaitu sebanyak 35 orang (85,4%) laki-laki dibanding dengan 6 orang wanita (14,6%). Usia rata-rata sampel adalah 56,7 tahun, dimana tidak ada sampel dengan usia dibawah 40 tahun, 29 orang (70,7%) dengan usia 40 sampai dengan 60 tahun, dan 12 pasien (29,3%) dengan usia diatas 60 tahun Dari penelitian ini diperoleh 25 % dari seluruh sampel kanker berjenis sel skuamous dan 75% sisanya adalah adeno karsinoma, dengan stage I-II berjumlah 3 (7,3%) orang, stage III berjumlah 15 (36,6%) orang, dan stage IV dengan 23 (56,1%) orang.
Terdapat 35 orang (85,5%) sebelumnya pernah merokok dan, 6 orang (14,6%) tidak pernah merokok, dengan Indeks Brinkman sedang berjumlah 3(7,3%) orang dan Indeks Brinkman berat berjumlah 32 (78,1%) orang. Jenis rokok yang terbanyak adalah rokok kretek pada 36 ( 87,8%) orang. Jenis kemoterapi yang dipakai pada penelitian ini adalah kemoterapi lini pertama dengan platinum based therapy dengan Gembitabin dan Karboplatin pada 27 orang (65,9%) pasien, dengan Paklitaksel dan Karboplatin pada 10 orang (24,4%) pasien, dan dengan Vinorelbin dan Karboplatin pada 4 orang (9,8%) pasien.
Setelah kemoterapi pasien dilakukan follow up dalam waktu 1 bulan setelah kemoterapi dan 12 bulan setelah kemoterapi. Dimana dari follow-up 1 bulan diperoleh 2 (4,9%) pasien tanpa keluhan, 14 (34,1%) pasien dengan keluhan berupa disabilitas motorik dan sisanya 25 pasien (61,0%) meninggal dunia. Pada follow-up 1
tahun setelah kemoterapi diperoleh 2 (4,9%) orang tanpa keluhan, 3 orang pasien (7,3%) dengan disabilitas motorik, dan sisanya 36 (87,8%) pasien meninggal dunia.
Tampak pada tabel 4.1.
Tabel 4.1. Distribusi Frekuensi pasien berdasarkan karakteristik
Kategori n %
Karsinoma sel skuamous
31
Tidak pernah merokok Jenis Rokok
Gemsitabin dan Karboplatin
Paklitaksel dan Karboplatin
Vinorelbin dan Karboplatin
27
Follow up pasien 1 bulan post Follow up pasien 12 bulan post
kemoterapi
Dari pemeriksaan parameter hemostasis sebelum kemoterapi diperoleh nilai rata-rata PT pasien adalah 13.59 (min 10,5:max 19,5), nilai rata-rata INR pasien adalah 0.98 (min 0,77; max 1,49), nilai rata-rata APTT pasien adalah 30,51 (min 24,70; max 37,50), nilai rata-rata TT pasien adalah 14,55 (min 11.9; max 24,5), nilai rata-rata D-dimer pasien adalah 714,73 (min 100; max 4995), nilai rata-rata CEA pasien adalah 42,11 (min 0,84; max 803,9), nilai rata-rata Cifra 21.1 pasien adalah 20,01 (min 1,34; max 150,8), nilai rata-rata NSE pasien adalah 33,96 (min 9,01; max 189,9).
Dari pemeriksaan hemostasis parameter setelah kemoterapi di peroleh nilai rata-rata PT pasien adalah 16,63 (min 10,0: max 80.0), nilai rata-rata INR pasien adalah 1,19 (min 0,72; max 6,00), nilai rata-rata APTT pasien adalah 30,98 (min 16.50; max 44,30), nilai rata-rata TT pasien adalah 15,43 (min 12,4; max 29,8), nilai rata-rata D-dimer pasien adalah 584,82 (min 100; max 2800), nilai rata-rata CEA pasien adalah 24,83 (min 0,61; max 207,00), nilai rata-rata Cifra21.1 pasien adalah
19,84 (min 0,50; max 138,73), nilai rata-rata NSE pasien adalah 35,67 (min 6,40;
max 147,50). Tampak pada tabel 4.2
Tabel 4.2. Distribusi Sampel Sebelum dan Sesudah Kemoterapi Minimum Maximum Mean
PT 10.50 19.50 13.59
INR 0.77 1.49 0.98
APTT 24.70 37.50 30.51
TT 11.90 24.50 14.55
Sebelum D-dimer 100.00 4995.00 714.73
CEA 0.84 802.90 42.11
Cifra21.1 1.34 150.80 20.01
NSE 9.01 189.90 33.96
PT 10.00 80.00 16.63
INR 0.72 6.00 1.19
APTT 16.50 44.30 30.98
TT 12.40 29.80 15.43
Sesudah D-dimer 100.00 2800.00 584.82
CEA 0.61 207.00 24.83
Cifra21.1 0.50 138.73 19.84
NSE 6.40 147.50 35.67
4.1.2 Uji Normalitas
Sebelum dilakukan uji korelasi, sampel harus di uji dengan uji normalitas data.
Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah data yang diambil dalam
penelitian berasal dari populasi yang berdistribusi normal atau tidak. Model regresi yang baik adalah yang datanya berdistribusi normal atau mendekati normal
Tabel 4.3. Uji Normalitas
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Dari uji One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test diperoleh nilai test distribusi variabel faal hemostasis dan serum tumor marker adalah tidak normal. Dimana pada test ini diperoleh PT dengan nilai p 0.15, INR dengan nilai p 0.01, APTT dengan nilai p 0.20 D-dimer dengan Nilai P 0.00, TT dengan Nilai P 0.00, CEA dengan Nilai p 0.00, Cyfra 21-1 dengan Nilai P 0.00, NSE dengan nilai p 0.10 berada pada nilai P <
0.05 yang memberikan kesimpulan bahwa variabel-variabel tersebut tidak berdistribusi normal. Dari hasil ini maka dapat disimpulkan data pada penelitian ini tidak berdistribusi normal.
4.1.3. Distribusi Sampel Pre Kemoterapi dan Post Kemoterapi.
Pada penelitian ini diperoleh data dengan dua kali pengambilan sampel darah, pertama pemeriksaan dilakukan sebelum pasien mendapatkan kemoterapi dan yang kedua adalah sesudah pasien menjalani 4 siklus atau 6 siklus kemoterapi. Pada penilaian pada penilaian terhadap parameter hemostasis adalah PT, INR, APTT, TT
PT INR APTT D-dimer TT CEA Cyfra
21-1 NSE Nilai p 0.15 0.01 0.20 0.00 0.00 0.00 0.00 0.10
dan D-dimer, dan penilaian pada nilai serum marker kanker paru adalah CEA, Cyfra 21-1 dan NSE.
Dari pemeriksaan parameter hemostasis sebelum kemoterapi diperoleh nilai rata-rata PT pasien adalah 13,3, nilai rata-rata INR pasien adalah 0.96, nilai rata-rata APTT pasien adalah 30.3, nilai rata-rata TT pasien adalah 14.56, nilai rata-rata D-dimer pasien adalah 763.6, nilai rata-rata CEA pasien adalah 62.66, nilai rata-rata Cyfra 21-1 pasien adalah 29.51, nilai rata-rata NSE pasien adalah 27.90.
Gambar 4.1. Perbandingan Nilai Parameter Hemostasis dan Serum Tumor Marker sebelum dan sesudah kemoterapi.
Dari pemeriksaan hemostasis parameter setelah kemoterapi di peroleh nilai rata-rata PT pasien adalah 14.9, nilai rata-rata INR pasien adalah 1.06, nilai rata-rata APTT pasien adalah 30.6, nilai rata-rata TT pasien adalah 15.4, nilai rata-rata D-dimer pasien adalah 721.6, nilai rata-rata CEA pasien adalah 30.56, nilai rata-rata
0 100 200 300 400 500 600 700 800 900
sebelum kemoterapi sesudah kemoterapi
Cyfra 21-1 pasien adalah 19.2, nilai rata-rata NSE pasien adalah 19.84, perbandingan nilai parameter hemostasis dan serum tumor marker dapat dilihat pada gambar 4.1.
4.1.4. Perbedaan Nilai Parameter Hemostsasis dan Tumor Marker Sebelum dan Sesudah Kemoterapi
Untuk mengetahui apakah ada perbedaan yang terjadi pada variabel sebelum kemoterapi dengan variabel sesudah kemoterapi maka variabel ini dapat dilakukan uji beda. Dalam penelitian ini dilakukan uji beda yang dilakukan pada faal hemostsasis dan tumor marker sebagai variabel dependent terhadap kemoterapi sebagai variabel independent adalah ujimann whitney.
Dari Uji Mann Whitney dibawah diperoleh nilai P pada PT terhadap kemoterapi adalah 0.019, nilai p pada INR terhadap kemoterapi adalah 0.026, nilai p pada APTT terhadap kemoterapi adalah 0.827, nilai p pada TT terhadap kemoterapi adalah 0.284, nilai P pada D-dimer terhadap kemoterapi adalah 0.044, nilai p pada CEA terhadap kemoterapi adalah 0.853, nilai p pada Cyfra 21.1 terhadap kemoterapi adalah 0.697, dan nilai p pada NSE terhadap kemoterapi adalah 0.025.
Tabel 4.4. Perbedaan Nilai parameter Hemostsasis dan Tumor Marker Sebelum dan Sesudah Kemoterapi
PT INR APTT TT D-dimer CEA Cyfra
21-1 NSE Nilai p 0.019 0.026 0.827 0.284 0.044 0.853 0.697 0.025 Uji Mann Whitney
Dari hasil diatas diketahui masing-masing variabel dependent PT, INR, D-dimer dan NSE memiliki nilai p terhadap kemoterapi dibawah 0.05 yang memberikan informasi bahwa terdapat perbedaan yang signifikan dari nilai masing-masing variabel dependen sebelum melakukan kemoterapi dengan nilai sesudah melakukan kemoterapi, variabel dependent APTT. TT, CEA, Cyfra 21-1 memiliki nilai p pada terhadap kemoterapi diatas 0.05 yang memberikan informasi bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan dari nilai masing-masing variabel dependen sebelum melakukan kemoterapi dengan nilai sesudah melakukan kemoterapi.
4.1.5. Korelasi antara Nilai Parameter Hemostasis terhadap Tumor Marker pada Pasien Kanker Paru Bukan Sel Kecil dengan Kemoterapi
Pada akhirnya dalam menilai adakah korelasi antara nilai parameter hemostasis sesudah kemoterapi dan nilai tumor marker sesudah kemoterapi dilakukan Uji Korelasi Spearman. Uji ini dilakukan dengan cara menguji korelasi 1 (satu) variabel parameter hemostasis dengan nilai tumor marker satu persatu sampai ditemukan nilai korelasi pada seluruh sampel yang dinilai.
Dari uji korelasi spearman diperoleh bahwa nilai koefisien korelasi variabel faal hemostasis PT terhadap CEA adalah - 0.233 nilai p 0.143. Nilai koefisien korelasi variabel faal hemostasis PT terhadap NSE adalah -0,298 dengan nilai p 0.059. Nilai koefisien korelasi variabel faal hemostasis PT terhadap Cyfra 21-1 adalah -0,480 dengan nilai p 0.789.
Nilai koefisien korelasi variabel faal hemostasis INR terhadap CEA adalah -0,237 dengan nilai p 0.136. Nilai koefisien korelasi variabel faal hemostasis INR terhadap NSE adalah -0,228 dengan nilai p 0.152. Nilai koefisien korelasi variabel faal hemostasis INR terhadap Cyfra 21-1 adalah 0,010 dengan nilai p 0.951.
Tabel 4.5. Korelasi antara Nilai Parameter Hemostasis terhadap Tumor Marker pada Pasien Kanker Paru Bukan Sel Kecil dengan Kemoterapi
CEA NSE Cyfra 21-1
Nilai koefisien korelasi variabel faal hemostasis APTT terhadap CEA adalah -0,195 dengan nilai p 0.221. Nilai koefisien korelasi variabel faal hemostasis APTT terhadap NSE adalah - 0.135 dengan nilai p 0.401. Nilai koefisien korelasi variabel faal hemostasis APTT terhadap Cyfra 21-1 adalah 0.138dengan nilai p 0.391.
Nilai koefisien korelasi variabel faal hemostasis TT terhadap CEA adalah -0,069 dengan nilai p 0.669. Nilai koefisien korelasi variabel faal hemostasis TT
terhadap NSE adalah -0.027 dengan nilai p 0.865. Nilai koefisien korelasi variabel faal hemostasis TT terhadap Cyfra 21-1 adalah 0.270dengan nilai p 0.088.
Nilai koefisien korelasi variabel faal hemostasis D-dimer terhadap CEA adalah -0,178 dengan nilai p 0,264. Nilai koefisien korelasi variabel faal hemostasis D-dimer terhadap NSE adalah -0.047 dengan nilai p 0.769. Nilai koefisien korelasi variabel faal hemostasis D-dimer terhadap Cyfra 21-1 adalah -0.048 dengan nilai p 0.766.
4.2. Pembahasan Penelitian
Pada penelitian ini ditemukan dari 41 sampel dengan tumor paru di RSUP HAM yang menjalani kemoterapi 85 % berjenis kelamin laki-laki dan memiliki usia rata-rata ± 57 tahun. Hal ini sesuai dengan beberapa literatur dan penelitian sebelumnya yang menyebutkan prevalensi tumor paru juga lebih tinggi pada laki-laki dan memiliki rata-rata usia diatas 40 tahun. (Faruk Tas et al, 2012). PDPI menyebutkan pada pertengahan tahun 1990-an adenokarsinoma menjadi tipe histologi kanker paru yang paling banyak pada laki-laki di Amerika Serikat. (Pdpi,2011).
Pada penelitian ini diperoleh jenis sel kanker adenokarsinoma mencapai 75%
dari seluruh sampel, dan 25 % lainnya adalah kanker jenis sel skuamous. Hal ini sesuai dengan beberapa literatur dan penelitian sebelumnya juga melaporkan jenis kanker paru terbanyak adalah adenokarsinoma. (Berna Komurcuoglu et al, 2011).
PDPI juga menyebutkan prevalensi jenis kanker sel adeno lebih tinggi dari sel skuamous. (Pdpi 2011). Pada penelitian ini juga diperoleh bahwa jenis rokok
terbanyak yang dihisap pasien adalah kretek dengan isapan dalam, disebutkan bahwa rokok kretek memiliki kandungan cengkeh, tar dan nikotin yang lebih tinggi dari rokok putih, dan kebanyakan rokok kretek belum memiliki filter. Dengan kandungan senyawa yang lebih banyak dan kebiasaan merokok dengan isapan dalam, maka kecendrungan mendapatkan keganasan paru pada bagian bronkus bagian perifer seperti adenokarsinoma semakin besar.
Dari follow-up 1 bulan pertama setelah kemoterapi diperoleh 2 (4,9%) pasien tanpa keluhan, 14 (34,1%) pasien dengan keluhan berupa disabilitas motorik dan sisanya 25 pasien (61,0%) meninggal dunia. Pada follow-up 1 tahun setelah kemoterapi diperoleh 2 (4,9%) orang tanpa keluhan, 3 orang pasien (7,3%) dengan disabilitas motorik, dan sisanya 36 (87,8%) pasien meninggal dunia. berdasarkan data diatas diperoleh 1-year survival rate adalah 12,2 % Dalam sebuah penelitian yang dilakukan Salah Abbasi dan Ahmed Badheed di jordania menyebutkan pasien kanker paru bukan sel kecilyang tidak diobati memiliki 1-year survival rate sebesar 10%, dengan kemoterapi angka ini meningkat menjadi 19-32%. Hasil yang berbeda ini disebabkan karena pada penelitian tersebut pasien yang diikutkan pada peneliatian tersebut datang dengan stage yang lebih rendah dan jenis obat kemoterapi yang digunakan yang terbanyak adalah docetaxel + platinum based dan docetaxel monoterapi. (Salah Abbasi dan Ahmed Badheed, 2010)
Pada penelitian ini, disebutkan PT, INR, D-dimer dan NSE memiliki perbedaan yang signifikan antara nilai sebelum kemoterapi dibandingkan dengan nilai variabel ini setelah kemoterapi (nilai p < 0.05), dan tidak adanya perbedaan nilai yang
signifikan pada nilai sebelum dan sesudah kemoterapi pada variabel APTT, TT, CEA dan Cyfra 21-1 (nilai p > 0.05). Sebuah penelitian yang dilakukan di Turki menyebutkan nilai faal hemostasis PT, INR, APTT meningkat pada pasien kanker paru yang jenis kelamin laki-laki dibandingkan dengan kelamin wanita, tetapi nilai ini tidak berlaku pada nilai serum D-dimer. (Faruk Tas et al, 2012)
Pada penelitian ini diperoleh korelasi antara PT dengan tumor marker memberikan hubungan terbalik yang lemah pada nilai CEA, NSE dan hubungan yang moderat pada Cyfra 21-1 dengan nilai p yang tidak signifikan, hal ini menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang nyata antara nilai PT dengan nilai tumor marker pasien sebelum dan sesudah kemoterapi. Hasil ini sesuai dengan penelitian oleh Faruk tas pada pasien dengan kanker yang menjalani kemoterapi menyebutkan PT akan memanjang pada keadaan stadium lanjut (Faruk Tas et al,2012) dan sebagai respon kemoterapi serum tumor marker akan menurun.(R Molina et al, 2003)
Korelasi antara INR dengan tumor marker memberikan hubungan terbalik yang lemah pada nilai CEA, NSE, Cyfra 21-1 dengan nilai p yang tidak signifikan, hal ini menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang nyata antara nilai INR dengan nilai tumor marker pasien sebelum dan sesudah kemoterapi. Hasil ini sesuai dengan penelitian oleh Faruk tas pada pasien dengan kanker yang menjalani kemoterapi menyebutkan INR akan memanjang pada keadaan stadium lanjut dan sebagai respon kemoterapi serum tumor marker akan menurun. (Faruk Tas et al, 2012), dan penelitian di Amerika Serikat juga menyebutkan INR meningkat setelah pemberian
kemoterapi lini pertama pada pasien-pasien kanker payudara. (Anthony Letai and David J Kuter, 1999)
Pada penelitian ini diperoleh korelasi antara APTT dengan tumor marker memberikan hubungan terbalik yang lemah pada nilai CEA, dan NSE dengan nilai p yang tidak signifikan, hal ini menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang nyata antara nilai APTT dengan nilai tumor marker pasien sebelum dan sesudah kemoterapi. Hasil ini sesuai dengan penelitian sebelumya pada pasien dengan kanker yang menjalani kemoterapi menyebutkan APTT akan memanjang pada keadaan stadium lanjut (Faruk Tas et al, 2012, Slavica kvolik, 2010) dan sebagai respon kemoterapi serum tumor marker akan menurun.(R Molina et al, 2003)
Korelasi APTT dengan Cyfra 21-1 memberikan hubungan lurus yang lemah dengan nilai p yang tidak signifikan hal ini dimungkinkan karena diketahui bahwa Cyfra 21-1 adalah marker yang kuat terhadap kanker paru tetapi marker ini tidak memiliki nilai korelasi yang kuat pada salah satu jenis histologi kanker paru, tetapi ada penelitian lain menyebutkan marker ini memiliki korelasi pada jenis histologi karsinoma sel skuamous. Pada penelitian ini disebutkan bahwa jenis karsinoma skuamous sel cukup sedikit. (R Molina et al, 2003, P.P. Mumbarkar et al, 2006)
Pada penelitian ini diperoleh korelasi antara TT dengan tumor marker memberikan hubungan terbalik yang kurang berarti pada nilai CEA, dan NSE, dengan nilai p yang tidak signifikan, hal ini menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang nyata antara nilai TT dengan nilai tumor marker pasien sebelum dan sesudah kemoterapi. Hasil ini sesuai dengan penelitian sebelumnya pada pasien dengan
kanker yang menjalani kemoterapi menyebutkan TT akan memanjang pada keadaan stadium lanjut dan sebagai respon kemoterapi serum tumor marker akan menurun.
(Faruk Tas et al, 2012)
Korelasi TT dengan Cyfra 21-1 memberikan hubungan lurus yang lemah dengan nilai p yang tidak signifikan dimana diketahui bahwa Cyfra 21-1 adalah marker yang kuat terhadap kanker paru tetapi marker ini tidak memiliki nilai korelasi yang kuat pada salah satu jenis histologi kanker paru, tetapi ada penelitian lain menyebutkan marker ini memiliki korelasi pada jenis histologi karsinoma sel skuamous. Pada penelitian ini disebutkan bahwa jenis karsinoma skuamous sel cukup sedikit. (R Molina et al, 2003, P.P. Mumbarkar et al, 2006)
Pada penelitian ini diperoleh korelasi antara D-dimer dengan tumor marker memberikan hubungan terbalik yang lemah pada nilai CEA, dan hubungan yang kurang berarti dengan NSE, Cyfra 21-1 dengan nilai p yang tidak signifikan, hal ini menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang nyata antara nilai D-dimer dengan nilai tumor marker pasien sebelum dan sesudah kemoterapi. Hasil ini sesuai dengan penelitian di Turki pada pasien dengan kanker yang menjalani kemoterapi menyebutkan D-dimer akan memanjang pada keadaan stadium lanjut dan bila ditemukannya adanya tanda-tanda metastasis (Berna Komurcuoglu et al, 2011) dan sebagai respon kemoterapi serum tumor marker akan menurun. (R Molina et al, 2003).
Pasien kanker yang menjalani kemoterapi akan beresiko meningkatnya kejadian koagulasi 16%,dan komplikasi tromboemboli akan meningkat pada 3 bulan pertama kemoterapi. (Paolo Prandoni et al, 2005) Beberapa literatur juga menyebutkan bahwa kemoterapi akan memperpanjang PT, APTT dan meningkatkan D-dimer setelah kemoterapi dan membaik setelah 7 hari dan kembali seperti sebelum terapi 2 bulan setelah siklus kemoterapi selesai. Penurunan sintesa antikoagulan oleh hati dan penurunan fibronolisis oleh beberapa jaringan dapat terjadi selama kemoterapi.
(Slavica kvolik, 2010).
CEA, Cyfra 21-1, NSE telah lama digunakan untuk mengevaluasi terapi pada kanker paru bukan sel kecil. Sebuah penelitian di china tahun 2011 oleh Hongbing Liu dan kolega menyebutkan serum CEA akan secara signifikan berkurang setelah dua siklus kemoterapi pada pasien dengan kanker paru bukan sel kecil. CEA dan NSE memiliki korelasi yang lemah terhadap jenis kanker adenokarsinoma tetapi tidak dengan Cyfra 21-1, walau ada beberapa penelitian menyebutkan Cyfra 21-1 berkorelasi lemah dengan karsinoma sel skuamous. (Hobgbing Liu, 2011)
Melihat respon variabel ini terhadap kemoterapi dapat disimpulkan adanya hubungan terbalik pada kedua variabel ini dan hal ini juga ditemukan pada penelitian ini. Dapat dimungkinkan nilai salah satu variabel dapat memprediksi nilai dari variabel lainnya, hal ini dapat membantu para klinisi dalam menangani pasien kanker paru bukan sel kecil di berbagai rumah sakit termasuk rumah sakit yang belum memadai pemeriksaan penunjangnya dalam menilai prognostik pasien
BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan
Karakteristik 41 pasien kanker paru bukan sel kecil yang dilakukan kemoterapi di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan
1. Jenis Kelamin terbanyak adalah laki laki sebanyak 35 orang (85,4%)
2. Usia rata-rata sampel adalah 56,7 tahun, dimana 29 orang (70,7%) dengan usia 40 sampai dengan 60 tahun,
3. Jenis Histologi terbanyak adalah adalah adeno karsinoma dengan 31 orang (75%).
4. Tiga puluh lima orang (85,5%) adalah perokok.
5. Jenis kemoterapi terbanyak yang digunakan adalah kemoterapi lini pertama dengan platinum based therapy dengan Gemsitabin dan Karboplatin pada 27 orang (65,9%).
6. Dari follow-up 1 bulan diperoleh 2 (4,9%) pasien tanpa keluhan, 14 (34,1%) pasien dengan keluhan berupa disabilitas motorik dan sisanya 25 pasien (61,0%) meninggal dunia. Pada follow-up 1 tahun setelah kemoterapi diperoleh 2 (4,9%) orang tanpa keluhan, 3 orang pasien (7,3%) dengan disabilitas motorik, dan sisanya 36 (87,8%) pasien meninggal dunia.
7. Tidak terdapat perbedaan yang signifikan dari nilai parameter hemostasis dan serum tumor marker sebelum dan sesudah kemoterapi siklus 4 atau 6. Tetapi
ada peningkatan nilai PT, INR, APTT, TT, NSE sebelum dan sesudah kemoterapi siklus 4 atau 6.
8. Terdapat korelasi negatif yang tidak bermakna pada nilai faal hemostasis dan serum tumor marker.
9. Hasil yang berbeda terlihat antara APTT dengan Cyfra 21-1 dan TT dengan Cyfra 21-1 dan NSE dimana terdapat korelasi positif yang bermakna.
5.2. Saran.
Masih dibutuhkan penelitian baru yang mampu menjelaskan korelasi parameter hemostasis terhadap tumor marker berdasarkan jenis kelamin, usia, jenis histologi sel dan jenis kemoterapi.
DAFTAR PUSTAKA
A. A. Ponomaryova et al, 2011 Molecular Genetic Markers in Diagnosis of Lung Cancer, Institute of Oncology, Siberian Branch, Russian Academy of Medical Sciences, Tomsk, 634001 Russia, ISSN 0026_8933, Molecular Biology, 2011, Vol. 45, No. 2, pp. 175–189.
A. Falanga et al, 2013, Coagulation and cancer: biological and clinical aspects, Jurnal of Thrombosis and Haemostasis,II,Itali, 2013, 223-233.
Andrew, D Blann, et al, 2011, Arterial and Venous Thrombosis in Cancer Patients, Cardiology Research and Practice, 2ulation and Anticoagulation.
Annie Young et al, 2012, Thrombosis and cancer, Department of Haematology, University Hospital, Clifford Bridge Road, Coventry CV2 2DX, UK.
NATURE REVIEWS | Clinical Oncology, Volume 9 | August 2012.
Anthony Letai and David J Kuter, 1999, Cancer, Coagulation and anticoagulation, Hematology Oncology Departement, Boston, USA.
Berna Komurcuoglu et al, 2011, prognostic value of plasma D-dimer levels in lung carcinoma, Tumori 97, Turki, 2011, 743-748
Bo Jin et al, 2010, The Value of Tumor Markers in Evaluating Chemotherapy Response and Prognosis in Chinese Patients with Advanced Non-Small Cell Lung Cancer, Department of Pulmonary Medicine, Shanghai Chest Hospital, Shanghai Jiaotong University, Shanghai, China, Chemotherapy 2010;56:417–42
Buku ajar Penyakit Dalam FK UI, 2006, Dasar-dasar Hemostasis dan Thrombosis pada kanker, Jakarta.
Dangfan Yu et al, 2013, Prognostic Value of Tumor Markers, NSE, CA125 and SCC,in Operable NSCLC Patients Department of Nuclear Medicine, Zhejiang Provincial Corps Hospital, Chinese People‟s ArmedPolice Force, Jiaxing 314000, China Int. J. Mol. Sci.
D. Ferrigno et al, 1994, Serum tumour markers in lung cancer: history, biology and clinical applications Dept of Nuclear Medicine, S. Croce General Hospital, Cuneo, Italy. Eur Respir J, 1994, 7, 186–197,
Ebru Unsal et al, 2003, Prognostic pnificance of hemostatic parameters in patients
Ebru Unsal et al, 2003, Prognostic pnificance of hemostatic parameters in patients