BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.6. Peran Tumor Marker dalam Deteksi Awal Kanker Paru
2.6.1. Peran Tumor Marker Dalam Diagnostik
Beberapa penelitian melaporkan nilai prognosis dari satu atau beberapa tumor marker dalam hubungannya terhadap keadaan klinis dan parameter laboratorium.
Walaupun demikian, membandingkan penelitian ini cukup sulit karena: a) beragamnya jenis populasi yang dipakai ( stadium awal dan akhir bercampur, begitu juga dengan jenis histologi), b) mengunakan analisa univariat atau multivariate, c) gagal membandingkan parameter tunggal dalam menentukan parameter diagnostik, terutama status klinis, d) gagal dalam menentukan bagaimana memaksimalkan level cut off yang dipilih dan kadang mengunakan metode yang berbeda dalam memilih nilai cut off investigasi. Hal ini menjadi keinginan yang tinggi dalam mengindentifikasi tumor marker yang paling baik dalam hal membandingkan faktor
diagnostik yang potensial pada pasien. (Petra Stieber et al, 2006: D. Ferrigno et al,1994)
Dari semua tumor marker yang mengevaluasi KPKBSK, Cyfra 21-1 menjadi marker yang memiliki nilai prognostik pada pasien ini, baik pasien dengan stadium awal yang operatif maupun pasien dengan stadium lanjut. (D. Ferrigno et al,1994;
Kostas D.Hatzakis et al,2002)
Perawatan post operatif, efekasi kontrol terapi dan pendeteksian rekurensi penyakit adalah indikasi pemeriksaan tumor marker dalam menentukan kanker paru.Perawatan post bedah, kecepatan dan kelengkapan penurunan nilai dari tumor marker yang menunjukkan outcome lebih lanjut dari pasien. Setelah peningkatan jangka pendek yang segera setelah terapi intervensi, berdasarkan pelepasan marker yang berasal dari kerusakan post operatif dan dari jaringan tumor, penurunan marker ini tergantung waktu paruh marker biologi (half life) dan sel tumor sisa. Pada disfungsi ginjal dan renal dapat memperpanjang waktu paruh dari tumor marker, lamanya klirens marker dan/atau stabilnya nilai tumor marker mengindikasikan adanya sisa tumor sel dan memprediksikan rekurensi tumor. (Petra Stieber et al, 2006; Bo jin et al, 2010)
Kontrol dari terapi sistemik. Ketika mengamati efekasi kemoterapi dan radioterapi dengan tumor marker, penurunan sebagian sering berkorelasi dengan respon terapi dimana peningkatan atau penurunan berhubungan dengan progresivitas penyakit. Pada KPKBSK, Cyfra 21-1 memiliki nilai korelasi yang paling baik terhadap tumor. Untuk mendeteksi progresivitas penyakit marker ini memiliki
sensitivitas 52% dan spesifisitas 100%, tetapi korelasi terhadap remisi cukup rendah.
Perubahan awal Cyfra 21-1 setelah kemoterapi siklus pertama telah dilaporkan memiliki nilai prediktif yang baik. (Petra Stieber et al, 2006; Bo jin et al, 2010)
Tumor marker sebelum dan sesudah kemoterapi dapat menolong klinisi dalam mengevaluasi respon klinis, pemilihan terapi lanjutan dan prognosis penyakit, terutama pada pasien yang sulit dinilai melalui radiologi. Meningkatnya nilai tumor marker mengindikasikan progresifnya penyakit dan sebagai terapi lanjutan ,regimen kemoterapi harus diganti. (Petra Stieber et al, 2006; Bo jin et al, 2010)
2.6.2. Deteksi dari rekurensi penyakit
Pada pengawasan post terapi keadaan tumor marker adalah indikator yang sensitif pada rekurensi penyakit, dimana nilai marker ini di bandingkan dengan gambaran x-ray. Pada KPKBSK, Cyfra 21-1 memberikan sensitivitas 79% yang lebih lanjut meningkat menjadi 100% pada pasien post operasi level Cyfra 21-1 >3.3 μg/L waktu paruh antara 2 sampai 5 bulan. (Petra Stieber et al, 2006, Ljiljana Vasic,2007)) 2.6.3. Pertimbangan atas kegunaan tumor marker:
Tumor marker tunggal, seperti Cyfra 21-1, CEA, NSE sebaiknya tidak
digunakan dalam keperluan skrining baik pada populasi yang tanpa gejala atau pada populasi resiko tinggi ( misalnya pada perokok)
Berdasarkan pada jenis histology, penentuan Cyfra 21-1, CEA, NSE berguna pada kanker paru terutama pada terapi awal, dimana tidak ada jenis histologi
yang diperoleh sebelum operasi, pada penilaian dari tumor marker ini cukup penting menentukan jenis mana yang paling meningkat
Mem follow-up asimptomatik pasien setelah terapi awal dari kanker paru cukup
kontroversial. Serial tumor marker dapat membantu dalam menilai keberhasilan pengangkatan tumor dan menunjukkan tanda-tanda rekurensi.
CEA dan Cyfra 21-1 dapat dihitung selama terapi sistemik pada KPKBSK dan
NSE pada KPKSK dalam menilai respon terapi dan menilai progresivitas penyakit. Walau penelitian yang lebih lanjut masih diperlukan
Perhatian yang hati-hati terhadap sampel yang diperiksa sangat diperlukan.
Karena setiap tumor marker memiliki perlakuan yang berbeda-beda sebelum pemeriksaan.
Pemeriksaan serial sebaiknya dilakukan dan dengan alat tes yang sama, dimana hasil ini dapat dijadikan laporan laboratorium yang baik pada rekam medis pasien.
(Dangfang yu et al, 2013; Bo jin et al, 2010) 2.6.4. Interpretasi Tumor Marker
Objektif dari tes ini adalah untuk mendeteksi Cytokeratins Cyfra 21-1, Neuron Spesific Enolase (NSE) dan Carcino Embryonic antigen (CEA) pada serum pasien dengan tumor paru dan kemampuan memprediksi prognostik pasien terhadap tipe histologi tumor paru dan dan stadium patologinya.
Cyfra 21-1, fragment dari citokeratin 19, nilai normal <3,3ng/mL, meningkat
pada beberapa penyakit akut dan kronis dan juga pada efusi pleura (<7ng/mL), dan penyakit hati.
Implikasi klinik : utuk menilai keganasan epiteal, mesitelioma, lymphoma dan sarkoma
Neuron Spesific Enolase (NSE), gamma dimer dari enolase enzim, nilai
normal <25mg, meningkat pada penyakit hati dan paru, pendarahan cerebral Implikasi klinik : untuk menilai KPKSK, tumor carcinoid, neuro blastoma, wilms tumor.
Carcino Embryonic antigen (CEA), salah satu jenis glycoprotein, nilai normal
<5ng/mL, meningkat pada 5 % perokok, beberapa tumor jinak (<15ng/mL) Implikasi klinik : untuk menilai keganasan epiteal pada keganasan pada saluran cerna dan paru. (Petra Stieber et al, 2006; Bo jin et al, 2010)
2.7. Hubungan Faal Hemostasus dan Tumor Marker pada Kemoterapi
Kebanyakan agen kemoterapi akan menyebabkan ketidakseimbangan aktifitas koagulasi oleh karena agen kemoterapi yang menginduksikan kerusakan endotelial sel kanker dan menurunkan sintesis faktor-faktor koagulasi pada hati dan juga adanya disfungsi dari platelet. (Slavica Kvolik, 2010)
Peningkatan apoptosis pada endotel sel kanker selama kemoterapi adalah faktor prokoagulasi yang kuat, mempercepat aktifasi platelet, dan perlengketan mikrotrombosis pada jaringan tumor. Aktifasi koagulasi intertumoral dan oklusi
mikrovaskular terjadi pada agen kemoterapi dengan cisplatin based kemoterapi.
(Slavica Kvolik, 2010). Disebutkan juga peningkatan dari nilai faal hemostasis berhubungan dengan keadaan kanker paru yang telah lanjut.
Pada pengawasan post terapi keadaan tumor marker adalah indikator yang sensitif pada rekurensi penyakit, dimana nilai marker ini di bandingkan dengan gambaran x-ray. Ketika mengamati efekasi kemoterapi dan radioterapi dengan tumor marker, penurunan sebagian sering berkorelasi dengan respon terapi dimana peningkatan atau penurunan berhubungan dengan progresivitas penyakit Cyfra 21-1 menjadi marker yang memiliki nilai prognostik pada pasien ini, baik pasien dengan stadium awal yang operatif maupun pasien dengan stadium lanjut
Belum ada penelitian yang mengambarkan secara nyata hubungan antara kedua nilai variabel tersebut diatas. Wakaupun demikian dari data diatas dimana pada keadaan penyakit yang sudah lanjut didapati nilai faal hemostasis dan tumor marker meningkat sehingga dimungkinkan adanya hubungan antara kedua variabel tersebut dalam hal prognostik pasien setelah kemoterapi
2.8. Pemeriksaan Penyaring Untuk Fungsi Hemostasis Dan Tumor Marker Kelainan hemostasis dengan pendarahan abnormal dapat merupakan: kelainan pembuluh darah, trombositopenia, dan kelainan koagulasi. Sejumlah pemeriksaan sederhana dapat dikerjakan untuk menilai fungsi trombosit, pembuluh darah, serta komponen koagulasi dalam hemostasis. (Pedoman Interpretasi Data Klinik, 2011)
Pemeriksaan penyaring ini meliputi pemeriksaan darah lengkap (complete blood count, CBC), evaluasi darah apus, waktu perdarahan, waktu prothrombin (
prothrombin time, PT) activated partial thromboplastin time (aPTT), agregasi trombosit. (Pedoman Interpretasi Data Klinik, 2011)
Pemeriksaan penyaring sistem koagulasi. Pemeriksaan penyaring meliputi penilaian jalur intrinsik dan ekstrinsik dari sistem koagulasi dan perubahan dari fibrinogen menjadi fibrin.
Trombosit (platelet),Trombosit adalah elemen terkecil dalam pembuluh darah.
Trombosit diaktivasi setelah kontak dengan permukaan dinding endotelia.
Trombosit terbentuk dalam sumsum tulang. Masa hidup trombosit sekitar 7,5 hari. Sebesar 2/3 dari seluruh trombosit terdapat disirkulasi dan 1/3 nya terdapat di limfa.
Waktu prothrombin (PT) mengukur faktor.VII,X,V, prothrombin dan
fibrinogen. Nilai normal 10-14 detik. Nilai PT sering diekspresikan sebagai INR( international normalized ratio) Prothrombin atau faktor II adalah sebuah protein plasma yang dihasilkan oleh hati. Prothrombin disintesis oleh hati dan merupakan prekursor tidak aktif dalam proses pembekuan. Prothrombin dikonversi menjadi thrombin oleh tromboplastin yang diperlukan untuk membentuk bekuan darah. Uji masa prothrombin (prothrombin time, PT) untuk menilai kemampuan faktor koagulasi jalur ekstrinsik: faktor VII (prokonvertin) dan jalur bersama, yaitu: faktor I (fibrinogen), faktor II (prothrombin), faktor V (proakselerin), faktor X (faktorStuart). Perubahan faktor V dan VII akan memperpanjang PT selama 2 detik atau 10% dari nilai normal.
aPTT mengukur faktor.VIII, IX,XI dan XII, selain faktor.V,X, prothrombin
dan fibrinogen. Nilai normal aPTT antara 30-40 detik.Perpanjangan dari PT dan aPTT yang disebabkan karena defisiensi faktorkoagulasi dapat dikoreksi dengan penambahan plasma normal kedalam plasma yang diperiksa. Apabila tidak dapat dikoreksi atau hanya sebagian terkoreksi, dicurigai kemungkinan adanya inhibitor koagulan.
Waktu thrombin (thrombin time, TT) cukup sensitif untuk menilai defisiensi
fibrinogen atau adanya hambatan terhadap thrombin. Nilai normal antara 14-16 detik.
D-dimer adalah degradasi terkecil dari produk yang dihasilkan dari aktivasi
proteolitik plasmin, dan indicator sensitif pada aktivitas fibrinolitik. (Berna Komurcuoglu et al,2011: Pedoman Interpretasi Data Klinik, 2011)
2.8.1. Interpretasi Faal Hemostasis
Thrombosis, Nilai normal : 170 – 380. 103/mm3 SI : 170 – 380. 109/L
Implikasi klinik:
o Trombositosis berhubungan dengan kanker, splenektomi, polisitemia vera trauma, sirosis, myelogeneus, stres dan arthritis reumatoid.
o Trombositopenia berhubungan dengan idiopatik trombositopenia purpura (ITP), anemia hemolitik, aplastik, dan pernisiosa. Leukimia, multiple myeloma dan multipledysplasia syndrome.
o Obat seperti heparin, kinin, antineoplastik, penisilin, asam valproat dapat menyebabkan trombositopenia.
o Penurunan trombosit di bawah 20.000 berkaitan dengan perdarahan spontan dalam jangka waktu yang lama, peningkatan waktu perdarahan petekia/ekimosis.
o Asam valproat menurunkan jumlah platelet tergantung dosis.
o Aspirin dan AINS lebih mempengaruhi fungsi platelet daripada jumlah platelet.
Waktu prothrombin (PT), Nilai normal: 10 – 15 detik (dapat bervariasi
secara bermakna antar laboratorium) Implikasi klinik:
o Nilai meningkat pada defisiensi faktor tromboplastin ekstrinsik, defi siensi vit.K, DIC (disseminated intravascular coagulation), hemorrhragia pada bayi baru lahir, penyakit hati, obstruksi bilier, absorpsi lemak yang buruk, lupus, intoksikasi salisilat. Obat yang perlu diwaspadai: antikoagulan (warfarin, heparin)
Nilai menurun apabila konsumsi vit.K meningkat. (aPTT (activated Partial
Thromboplastin Time)Nilai normal : 21 – 45 detik (dapat bervariasi antar laboratorium)
Implikasi klinik:
o Meningkat pada penyakit von Willebrand, hemofilia, penyakit hati, defisiensi vitamin K, DIC. Obat yang perlu diwaspadai: heparin, streptokinase, urokinase, warfarin)
o Menurun pada DIC sangat awal, hemorrhagia akut, kanker meluas (kecuali mengenai hati)
Waktu Thrombin (Thrombin Time/TT),Nilai normal : dalam rentang 3
detik dari nilai kontrol (nilai kontrol: 16-24 detik), bervariasi antar laboratorium.
Implikasi klinik:
Meningkat pada DIC, fibrinolisis, hipofibrinogenemia, multiple mieloma,uremia, penyakit hati yang parah. Obat yang perlu diwaspadai:
heparin, low-molecular-weight heparin/LMWH, urokinase, streptokinase,asparaginase. 60% kasus DIC menunjukkan TT meningkat.
PemeriksaanTT kurang sensitif dan spesifik untuk DIC dibandingkan pemeriksaan lain Menurun pada hiperfibrinogenemia, hematokrit >55%.
D – Dimer, Nilai normal: Negatif atau < 0,5 mcg /mL atau < 0,5 mg/L
SIPeningkatan palsu: pada kondisi titer reumatoid faktor yang tinggi, adanyatumor marker (penanda) CA-125, terapi estrogen dan kehamilan normal.
Implikasi klinik:
o Meningkat pada DIC, DVT, Emboli paru, gagal hati atau gagal ginjal, kehamilantrimester akhir, preeklamsia, infark miokard, keganasan, inflamasi, infeksiparah, pembedahan dan trauma. (Pedoman Interpretasi Data Klinik, 2011)
2.9. Kerangka Teori
Menilai tanda koagulasi darah dan kemungkinan terapi tumor yang kurang efektif atau rekurensi tumor
Hiperkoagulasi terjadi pada pasien kanker paru. Dimana Platelet, PT, aPTT, TT dan D-dimer mengalami peningkatan.
Bila Platelet, PT, aPTT, TT dan D-dimer t dapat digunakan dalam penilaian hipokoagulasi yang biasanya diikuti perbaikan klinis pada pasien post hiperkoagulasi.
Tumor marker membantu klinisi dalam menegakkan diagnosa kanker paru, kemampuan memprediksi prognostik pasien terhadap tipe histologi tumor paru
dan dan stadium
patologinya. Dimana NSE, CEA, CYFRA 21-1 dapat memonitor kemajuan post terapi pada KPKSK dan
2.10. Kerangka Konsep
(Post Kemoterapi) Penilaian RECIST
Penilaian Klinis Pasien Pemilihan terapi
Penilaian Klinis Pasien
BAB 3
METODOLOGI PENELITIAN
3.1. Rancangan Penelitian
Penelitian ini merupakan studi analitik dengan desain one group pretest-posttest untuk mengetahui perbedaan nilai faal pendarahan dan tumor marker pada pasien kanker paru bukan sel kecil yang menjalani kemoterapi dan menilai ada atau tidaknya hubungan antara faal pendarahan dan tumor marker pada pasien kanker paru bukan sel kecil dengan kemoterapi dan seberapa kuat tingkat korelasi keduanya.
3.2. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan di Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi, RSUP. H. Adam Malik Medan. Penelitian dilakukan selama kurun waktu 17 bulan dimulai sejak 1 januari 2015 sampai 31 Mei 2016.
3.3. Populasi, Sampel dan Besar Sampel
3.3.1. Populasi Penelitian
Populasi penelitian ini adalah semua pasien yang telah terdiagnosa dengan kanker paru kanker paru bukan sel kecil di RSUP H. Adam Malik Medan berdasarkan hasil sitologi dan histopatologi jaringan. Tipe
tumor dibagi kedalam grup berdasarkan sistem TNM edisi ke-7 tahun 2007.
3.3.2. Sampel Penelitian
Sampel adalah pasien yang telah terdiagnosa dengan kanker paru bukan sel kecil di RSUP H. Adam Malik Medan yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi pada kurun waktu 1 januari 2015 sampai 31 Mei 2016 dan dilakukan kemoterapi, tiap-tiap pasien akan di follow-up selama selama kemoterapi. Semua pasien yang diikutkan dalam penelitian wajib membaca dan mengerti serta menandatangai inform consent.
3.3.3. Besar Sampel Besar sampel
[ α β [
] ]
Keterangan :
n : Jumlah sampel yang akan diperiksa α : Kesalahan tipe I (0,05)
Z α : 1,96
β : Kesalahan tipe II (0,1) Z β : 1,282
r : Perkiraan koefisien korelasi (0,5)
[ [
] ]
Maka diperoleh besar sampel : 37 orang,
Dari perhitungan sampel diatas jumlah besar sampel adalah 36, dengah memperhitungkan kasus yang drop outsebesar 10%, maka ditetapkan jumlah sampel adalah :
Ndo= N = 37 = 41
(1-do) (1-0,1)
Berdasarkan perhitungan besar sampel diatas, besar sampel yang dibutuhkan sebesar 41 pasien
3.4. Kriteria Inklusi dan Eksklusi 3.4.1. Kriteria Inklusi:
Pasien memiliki hasil patologi anatomi berupa sitologi maupun
Histopatologi yang diperoleh dari bronkoskopi, aspirasi jarum halus transtorakal maupun open biopsy.
Pasien dengan performa status dibawah 2 kategori WHO dan faal hati dan faal ginjal yang baik.
Pasien direncanakan kemoterapi dengan platinum based medicine
3.4.2. Kriteria eksklusi :
Pasien dengan kelainan hematologi, dan sedang mengunakan obat antikoagulan oral maupun injeksi.
Riwayat Operasi.
Riwayat Radioterapi.
Riwayat Diabetes dan Hipertensi.
Menderita kelumpuhan.
3.5. Defenisi Operasional
No Variabel Defenisi Klasifikasi Lampir
an 2 Usia Umur pasien kanker paru saat datang
pertama sekali berobat ke IGD
Jenis histologi sel berdasarkan hasil sitologi maupun histopatologi 4 Stage Kanker Tingkat keparahan kanker paru. 1. stage I-II
2. stage III 3. stage IV
I, no 16
5 Riwayat Merokok
Faktor kebiasaan host (pasien) dalam hal merokok. Dinilai saat pasien
Tingkat kebiasaan merokok 1. ringan 2. sedang 3. berat
I, no 9
7 Jenis rokok Jenis rokok dalam kebiasaan host 1. kretek 2. putih 3. campuran
I, no 9
8 Jenis Kemoteapi
Pilihan terapi kombinasi platinum based yang dipakai dalam menangani pasien kanker paru
9 Alamat Tempat tinggal pasien 1.dekat rumah sakit RSUP HAM dirasakan pasien selama menderita penyakit kanker paru
5. lainnya 11 Riwayat
penyakit paru sebelumnya
Keluhan pernapasan dan penyakit paru yang pernah diderita pasien sebelum terdiagnosa dengan kanker paru dengan kontras yang telah dilakukan ke pasien dalam hal penegakkan
13 Bronkoskopi Tindakan invasif dalam menilai saluran napas mengunakan alat bronkoskopi serat optik yang diindikasikan dalam menilai diagnostik pasien dengan kanker paru
Marker darah dalam menilai tingkat koagulasi darah
Marker darah dalam,menilai kemajuan dan prognostik pasien kanker paru dengan terapi diperoleh setelah menjalani pemeriksaan penunjang berupa imaging, bronkoskopi dan pemeriksaan sitologi dan histopatologi
Diagnosa akhir I, no 17
3.6. Identifikasi Variabel a. Jenis kelamin b. Umur
c. Pekerjaan d. Pendidikan e. Status gizi f. Gejala klinis
g. Foto thoraks dan CT Scan h. Sitologi dan Histopatologi i. Darah lengkap
j. Faal Hemostasis dan D-dimer k. Tumor marker
3.7. Pengolahan Data.
3.7.1. Sumber Data
Data diperoleh melalui pemeriksaan laboratorium terhadap responden atau sampel penelitian yang telah mendapatkan informasi penelitian dan telah menandatangani inform consent. Dimana semua informasi yang diberikan ke pasien berupa informasi lisan dan pasien harus betul-betul mengerti tentang tujuan dari penelitian ini.
3.7.2. Teknik Pengumpulan Data
Data pasien yang dikumpulkan berupa data pribadi berupa nama, umur, pekerjaan,dll.
Diagosis kanker paru bukan sel kecil ditegakkan berdasarkan keluhan,
pemeriksaan fisik, foto thorak, CT Scan dengan Kontras, Bronkoskopi, TTNA, Open Biopsy. Kemudian hasil diatas dikonfirmasi dengan hasil sitologi dan histopatologi jaringan.
Pasien direncanakan mendapatkan kemoterapi lini pertama. Prosedur
pemeriksaan awal seperti perhitugan status performa, faal hati dan faal ginjal, faal hemostasis dan tumor marker dilakukan setiap 7 hari sebelum dilakukan kemoterapi dimana 1 siklus kemoterapi dilakukan selama 21 hari.
Selanjutnya pengambilan sampel dilakukan setelah 4 siklus kemoterapi
(bulan ke-4) ataupun setelah akhir siklus kemoterapi lini pertama (bulan ke-6)
Serum pasien diambil dengan mengunakan spuit 3cc. Sampel darah
disimpan dengan menggunakan tabung berisi antikoagulan Sitras. Dan dilakukan pemeriksaan faal hemostasis dan tumor marker mengunakan alat Cobas e 601 dan ECLIA dan dikaliberasi setiap 5 tahun.
Hasil pemeriksaan faal hemostasis D-dimer dan Tumor Marker akan
dicatat dan dianalisa berdasarkan diagosa, stadium tumor dan status klinis pasien.
3.7.3. Analisa Data
Data yang berhasil dikumpulkan, diolah dan dianalisis dengan
menggunakan program komputer menggunakan perangkat lunak statistik.
Data akan dianalisa secara deskriptif untuk melihat distribusi frekuensi variabel, selanjutnya diilakukan analisa data dengan uji beda untuk mengalisa variabel faal hemostasis dan tumor marker sebelum dan sesudah kemoterapi. Untuk menilai hubungan faal hemostasis dengan tumor marker pada pasien kanker paru bukan sel kecil dengan kemoterapi dan seberapa kuat tingkat hubungan keduanya diigunakan uji korelasi.
3.8. Kerangka Operasional
KANKER PARU
DarahRutin PT APTT
TT
TUMOR MARKERS
D-dimer SIKLUS 4/6
KEMOTERAPI/TARGET TERAPI
KEMOTERAPI LINI PERTAMA
SEBELUM KEMOTERAPI/TARGET
TERAPI
MENILAI PROGNOSA PASIEN
3.9. Jadwal Penelitian
No Kegiatan
Bulan
I-III IV-VI VII-X X-VI XVII
1 Persiapan √
2 Pengumpulan Data √ √ √ √ √
3 Pengolahan data √ √ √
4 Penyusunan laporan √ √ √
5 Seminar hasil √
3.10. Biaya Penelitian
a. Pengumpulan data Rp 2.000.000,-
b. Pembuatan proposal Rp 2.000.000,-
c. Seminar proposal Rp 2.500.000,-
d. Pelaksanaan Rp 6.500.000,-
e. Pembuatan laporan penelitian Rp 2.000.000,- f. Tim pendukung penelitian Rp 2.000.000,- g. Seminar hasil penelitian Rp 3.000.000,-
Rp 20.000.000,-
BAB 4
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil Penelitian
Penelitian ini dilakukan di RS Haji Adam Malik Medan dalam kurun waktu 17 bulan dimulai pada tanggal 1 januari 2015 sampai dengan 31 mei 2016. Adapun subjek penelitian adalah sebanyak 41 orang penderita kanker paru bukan sel kecil yang ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, gambaran foto toraks dan pemeriksaan CT scan toraks dengan kontras yang kemudian dilakukan pemeriksaan sitologi maupun histopatologi melalui tindakan bronkoskopi untuk mendapatkan sediaan sel yang nantinya akan menentukan jenis kanker paru.
Seluruh sampel akan dilakukan pemeriksaan darah sebelum kemoterapi pertama sekali (sebelum bulan pertama kemoterapi) dan pada akhir kemoterapi bulan ke-4 atau bulan ke-6, pemeriksaan darah yang akan dilakukan berupa pemeriksaan faal hemostasis dan tumor marker kanker paru jenis sel kanker bukan sel kecil yaitu PT, INR, APTT, TT, D-dimer dan NSE, Cyfra 21-1, CEA.
Hasil penelitian dianalisis dengan perangkat lunak, data akan dilakukan uji normalitas terlebih dahulu kemudian akan dilakukan uji komparatif data sebelum kemoterapi dan setelah kemoterapi selanjutnya data akan dilakukan uji korelasi.
Dengan uji diatas akan diketahui apakah data-data diatas memiliki asosiasi ataupun hubungan dan seberapa kuat hubungan masing-masing variabel.
4.1.1. Karakteristik Subjek Penelitian
Total jumlah sampel studi pada pasien ini adalah 41 orang, berdasarkan jenis kelamin, sampel laki-laki lebih banyak dari perempuan yaitu sebanyak 35 orang (85,4%) laki-laki dibanding dengan 6 orang wanita (14,6%). Usia rata-rata sampel adalah 56,7 tahun, dimana tidak ada sampel dengan usia dibawah 40 tahun, 29 orang (70,7%) dengan usia 40 sampai dengan 60 tahun, dan 12 pasien (29,3%) dengan usia diatas 60 tahun Dari penelitian ini diperoleh 25 % dari seluruh sampel kanker berjenis sel skuamous dan 75% sisanya adalah adeno karsinoma, dengan stage I-II berjumlah 3 (7,3%) orang, stage III berjumlah 15 (36,6%) orang, dan stage IV dengan 23 (56,1%) orang.
Terdapat 35 orang (85,5%) sebelumnya pernah merokok dan, 6 orang (14,6%) tidak pernah merokok, dengan Indeks Brinkman sedang berjumlah 3(7,3%) orang dan Indeks Brinkman berat berjumlah 32 (78,1%) orang. Jenis rokok yang terbanyak adalah rokok kretek pada 36 ( 87,8%) orang. Jenis kemoterapi yang dipakai pada penelitian ini adalah kemoterapi lini pertama dengan platinum based therapy dengan Gembitabin dan Karboplatin pada 27 orang (65,9%) pasien, dengan Paklitaksel dan Karboplatin pada 10 orang (24,4%) pasien, dan dengan Vinorelbin dan Karboplatin pada 4 orang (9,8%) pasien.
Setelah kemoterapi pasien dilakukan follow up dalam waktu 1 bulan setelah kemoterapi dan 12 bulan setelah kemoterapi. Dimana dari follow-up 1 bulan diperoleh 2 (4,9%) pasien tanpa keluhan, 14 (34,1%) pasien dengan keluhan berupa disabilitas motorik dan sisanya 25 pasien (61,0%) meninggal dunia. Pada follow-up 1
tahun setelah kemoterapi diperoleh 2 (4,9%) orang tanpa keluhan, 3 orang pasien (7,3%) dengan disabilitas motorik, dan sisanya 36 (87,8%) pasien meninggal dunia.
Tampak pada tabel 4.1.
Tabel 4.1. Distribusi Frekuensi pasien berdasarkan karakteristik
Kategori n %
Karsinoma sel skuamous
31
Tidak pernah merokok Jenis Rokok
Gemsitabin dan Karboplatin
Paklitaksel dan Karboplatin
Vinorelbin dan Karboplatin
27
Follow up pasien 1 bulan post Follow up pasien 12 bulan post
kemoterapi
Dari pemeriksaan parameter hemostasis sebelum kemoterapi diperoleh nilai rata-rata PT pasien adalah 13.59 (min 10,5:max 19,5), nilai rata-rata INR pasien adalah 0.98 (min 0,77; max 1,49), nilai rata-rata APTT pasien adalah 30,51 (min 24,70; max 37,50), nilai rata-rata TT pasien adalah 14,55 (min 11.9; max 24,5), nilai rata-rata D-dimer pasien adalah 714,73 (min 100; max 4995), nilai rata-rata CEA pasien adalah 42,11 (min 0,84; max 803,9), nilai rata-rata Cifra 21.1 pasien adalah 20,01 (min 1,34; max 150,8), nilai rata-rata NSE pasien adalah 33,96 (min 9,01; max 189,9).
Dari pemeriksaan hemostasis parameter setelah kemoterapi di peroleh nilai rata-rata PT pasien adalah 16,63 (min 10,0: max 80.0), nilai rata-rata INR pasien adalah 1,19 (min 0,72; max 6,00), nilai rata-rata APTT pasien adalah 30,98 (min 16.50; max 44,30), nilai rata-rata TT pasien adalah 15,43 (min 12,4; max 29,8), nilai rata-rata D-dimer pasien adalah 584,82 (min 100; max 2800), nilai rata-rata CEA pasien adalah 24,83 (min 0,61; max 207,00), nilai rata-rata Cifra21.1 pasien adalah
19,84 (min 0,50; max 138,73), nilai rata-rata NSE pasien adalah 35,67 (min 6,40;
max 147,50). Tampak pada tabel 4.2
max 147,50). Tampak pada tabel 4.2