6. Komponen teknologi budidaya tanaman perkebunan sebagai perlakuan
6.1 Jambu mente
Areal jambu mente sampai tahun 1997 telah mencapai ± 466.000 ha dengan produksi ± 77.000 ton atau dengan produktivitas rata-rata ± 349 kg/ha (Ditjenbun., 1998).
Jambu mente merupakan komoditas andalan untuk propinsi di wilayah Indonesia Timur yang mempunyai kondisi alam yang cocok sebagai syarat tumbuh komoditas tersebut. Sampai tahun 1994 komoditas jambu mente menduduki rangking ke 3 setelah kakao dan kelapa sawit (Adauddin, 1996). Sembilan puluh delapan koma lima persen (98,5%) merupakan perkebunan rakyat, sedangkan perkebunan besar swasta hanya 1,5%.
Produksi gelondong jambu mente Indonesia masih sangat rendah dibandingkan dengan produksi gelondong jambu mente India, Zambia, Kenya dan Mozambique.
6.1.1. Teknologi budidaya
6.1.2. Perbanyakan tanaman
Perbanyakan dapat dilakukan secara generatif maupun vegetatif. Persyaratan untuk pohon induk yang baik adalah:
Tanaman memiliki tajuk yang menutup dan kompak berbentuk kerucut atau silindris dengan percabangan teratur dan persentase pembungaan yang tinggi.
Percabangan intensif, internod medium. Lebih banyak cabang lateral (>60%)
Stadia pembungaan dan pembuahan pendek ( 30-60 hari) Persentase bunga hermaprodit tinggi (>20 %)
Pembentukan buah tinggi, minimal 5 gelondong per rangkaian (8–10 g/gelondong) atau 112 – 125 gelondong/kg.
Benih yang digunakan adalah yang telah mencapai masak fisiologis dengan ciri-ciri sebagai berikut : (1) Buah semu sudah mulai membesar, (2) Terjadi perubahan warna sedikit, (3) Tercium munculnya aroma, bila buah semu sudah masak vigor gelondong menurun.
Setelah dipanen buah semu harus dipisahkan dari gelondongnya, ada yang mudah lepas ada yang agak sulit. Gelondong kemudian dijemur hingga kadar air turun sampai 7% dan dibungkus dengan kantong plastik. Untuk benih sebaiknya dipergunakan hasil panenan kedua karena benihnya lebih vigor (Hasanah et al. 1989).
(a) Perbanyakan generatif
Benih dapat disemai dalam bedengan atau dalam polibag. Benih sebelum disemai direndam selama 24 jam, kemudian disemai pada bedengan berukuran 1,5 m x 1,2 m sesuai dengan kebutuhan. Jarak tanam dalam bedengan 20 cm x 20 cm. Benih ditanam dengan posisi miring, bagian lekuk benih menghadap ke bawah dan pangkalnya menghadap ke atas sedikit dengan kedalaman 2-5 cm. Setelah itu bedengan ditutup dengan jerami atau alang-alang untuk mengurangi penguapan.
Benih mulai berkecambah pada hari ke 14 sampai hari ke 28. Suhu pembibitan sebaiknya berkisar 35oC. Kecambah yang dipilih yang tumbuh normal sampai hari ke 28, lewat hari ke 28 jangan dipakai (Lubis, 1994).
Selain pembibitan dalam bedengan bisa dipergunakan polybag yang biasa disiapkan untuk bibit sambungan. Pemupukan dengan pupuk kandang tidak dianjurkan karena memudahkan serangan Pythium sp dan Fursarium sp. Pupuk P (fosfor) yang diberikan sebanyak 3,5 g/polybag dapat memberikan pertumbuhan bibit yang baik dan lebih tahan terhadap penyakit. Penyiraman cukup diberikan sebanyak 40% dari kapasitas lapang.
(b) Perbanyakan vegetatif
Perbanyakan vegetatif yang paling banyak dipergunakan adalah penyambungan (grafting). Penyambungan dilakukan pada umur bibit ± 2 bulan. Dipilih entres(batang atas) dari tunas ototrop yang berdaun 4-6 lembar dan dibuang 2-4 lembar, diameter batang atas sama dengan diameter batang bawah. Batang bawah dipotong pada bagian atas 3-5 cm atau kurang lebih 10-20 cm dari permukaan tanah polybag, dibelah ± 1-1,5 cm. Entres diruncingkan/disayat kiri dan kanan sehingga terbentuk V. Entres diselipkan di antara celah batang bawah, diikat dengan tali rafia. Bibit sambungan dalam bedengan ditutup/disungkup dengan plastik serta disiram tiap hari. Setelah 30-40 hari sungkup dan tali pengikat dibuka dan bibit disimpan di tempat teduh dan satu bulan kemudian dipindah ke lapang (Lubis, 1994).
Klon-klon anjuran adalah S5, S8, S18, S21, S12, GS56, GS57, var lokal Muda (AR1, AR2, AR3, AR4), Madura (L3-3, M4-2), Wonogiri (C6-5), BK-02, Jepara (F2-8, F2-10), Pasuruan (AB293, AB180), B-02.
6.1.3. Penanaman di lapang
Untuk lahan dengan tingkat kemiringan 20% perlu dibuat teras dengan lebar 2 m. Lubang tanam dipersiapkan dengan ukuran 30 x 30 x 30 cm atau 50 x 50 x 50 cm pada tanah berliat tinggi. Lubang dibiarkan terbuka selama 1 bulan dan bibit dapat langsung ditanam pada awal musim hujan.
Selain bibit yang berasal dari benih atau bibit sambungan, benih juga dapat langsung ditanam di lapang dengan jarak tanam awal 6 x 6 m dengan populasi 276 pohon/ha. Pada umur 6-7 tahun dilakukan penjarangan 25%, dan pada umur 7-8 tahun dijarangkan lagi 50% sehingga akhirnya menjadi jarak tanam 12 x 12 m bujur sangkar dengan populasi 69 pohon/ha.
Bibit dalam pembibitan sebaiknya ditanam di lapang setelah berumur 3 – 4 bulan.
6.1.4. Penyiangan
Tanaman muda sangat peka terhadap gulma karena itu areal sampai jarak 2 m dari pangkal tanaman harus disiang bersih.
6.1.5. Pemupukan
Pupuk diberikan sesuai umur tanaman seperti tertera pada Tabel 1.
Tabel 17. Dosis dan macam pupuk untuk tanaman jambu mente (g/tan/tahun)
Umur (Tahun) Urea SP-36 KCl Keterangan < 1 1 – 2 2 – 3 3 – 4 4 200 400 800 1000 1400 360 360 540 560 1100 170 340 680 850 1200
Pupuk diberikan 2 kali, 50%
pada awal musim hujan dan 50% pada akhir musim hujan. Pupuk diberikan dalam alur dangkal pada baris proyeksi tajuk tanaman.
6.1.6. Pemangkasan
Pemangkasan dilakukan untuk membentuk tajuk yang baik dan memperbesar potensi produksi tanaman. Tunas ini, tunas/cabang yang tumbuh dari batang bawah, cabang kering, terserang
Pemangkasan dimulai dari umur 1 tahun dengan cara membuang percabangan sampai ketinggian 0,5 m dari permukaan tanah dan secara bertahap dilanjutkan sampai umur 2 tahun sehingga diperoleh batang utama yang bebas percabangan sampai pada ketinggian 1.5 m di atas permukaan tanah.
Tanaman yang telah berumur 5 tahun batang utamanya dipotong pada ketinggian 5 m agar semua percabangan dapat menerima radiasi surya yang cukup. Bidang potong harus disemprot dengan fungisida.
6.1.7. Pengendalian hama dan penyakit.
Hama utama jambu mente adalah pengisap pucuk (Helopeltis sp), penggerek daun (Acrocercops sp), dan perusak daun (Cricula sp)
Pengendalian secara hayati dilakukan dengan menyemprotkan jamur Beuvaria bassiana atau Spicaria sp. Penanaman tanaman mimba di sekitar kebun dapat membantu pengendalian hama pada tingkat awal. Insektisida sintetis dapat diberikan pada serangan berat.
6.1.8. Diversifikasi
Sebelum tajuk tanaman saling bersentuhan tanaman pangan/palawija dapat ditanam di antaranya. Tanaman sela sebaiknya yang pendek dan dapat dipanen pada awal musim kemarau. Jangan menanam tanaman sela yang merupakan inang bagi hama/penyakit jambu mente seperti mentimun, singkong, tomat, terong-terongan. Bahan organik/sisa-sisa tanaman sela dapat digunakan sebagai mulsa. Usaha ternak lebah di dalam kebun dapat meningkatkan produksi jambu mente.
6.1.9. Skala Usaha
(a) Agribisnis
Skala ekonomi SUT/keluarga adalah 3,75 ha, sedangkan skala ekonomi hamparan adalah 4-5 ha/KK. Bila sasaran pendapat per KK diperkirakan $ 2500/th, dan target produksi diperhitungkan menggunakan nomor harapan Balittro yaitu 750 kg/ha/th.
Alat pengkacip gelondong tradisional hanya mampu membelah gelondong sebanyak 30 kg/hari, 1 hari kerja dihitung 8 jam. Dari 30 kg gelondong dapat menghasilkan 7 kg kacang. Untuk satu unit pengolahan yang terdiri dari 100 kacip, memerlukan 100 x 30 kg = 300 kg gelondong/hari. Bila dalam 1 tahun dilakukan pengkacipan selama 200 hari, dalam 1 tahun memerlukan 200 x 3 = 600 ton bahan baku berupa gelondong.
Untuk mendapatkan 600 ton bahan baku diperlukan lahan seluas:
600 x 1000 x 1 ha = 800 ha, yang dapat dimiliki oleh sekitar 800 = 216 KK.
750 3.7
Sehingga 1 unit hamparan pangkajian (UHP) = 800 ha, sedangkan untuk unit pengkajian cukup seluas 10 ha dan untuk skala ekonomi usaha tani seluas 3,7 Ha.
Dalam memperhitungkan bibit siap salur, untuk benih diperhitungkan hanya sekitar 70% benih yang tumbuh sedangkan untuk bibit sambungan hanya sekitar 40% untuk menghindari bibit yang mati.
(b) Skala kecil
Tanpa memperhitungkan produktivitas, sebenarnya sebagai dasar produksi rata-rata nasional dengan jarak tanam 10 x 10 m dengan jumlah tanaman 100 tanaman/ha maupun jarak tanam 7 x 7 m dengan jumlah tanaman 200 tanaman/ha sudah menguntungkan. Dengan jumlah tanaman 100 pohon produksi yang diperoleh sekitar 350,52 kg sedangkan untuk jumlah 200 pohon produksinya mencapai 977,24 kg. Model pengembangan dapat dilakukan dengan model pemberian kredit berbantuan. Masa pengembalian pinjaman terjadi dalam waktu 6 tahun dan 8 tahun untuk tanaman 100 pohon dan 200 pohon (Sukartawi, 1996).
6.1.10. Perhitungan untuk penelitian dengan tanaman sela
Tanaman pokok jambu mente yang diamati sebanyak 4 pohon (7 x 7 m) dalam satu petak contoh. Jumlah petak contoh adalah 2 dan diambil secara acak.
Petak contoh dengan tanaman sela dihitung dengan cara sebagai berikut:
• Semua baris tanaman sela di antara 4 tanaman jambu mente ditambah dengan semua tanaman sela berjarak 3,5 m dari masing-masing tanaman pokok (dari kedua sisi).
• Sehingga luas petak contoh (tanaman pokok + sela) yang harus diamati = (7 + 3,5 + 3,5) x (7 + 3,5 + 3,5) = 196 m2.
Data yang harus diambil:
• Jumlah tanaman per petak contoh (tanaman pokok dan tanaman sela)
• Berat basah tanaman sela dari luasan 1 x 5 m tanaman sela kemudian dihitung produksi per hektar.
Produksi per hektar/tahun dihitung pada:
6.1.11. Tanaman sela
Rata-rata produksi tanaman sela (kg) x 10.000 m2
Luas petak contoh (m2) 1 ha
6.1.12. Tanaman pokok
Rata-rata produksi gelondong yang dipasarkan x 10.000 m2 Luas petak contoh (m2) 1 ha