• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jaringan Pipa Air Kotor dan Pipa Ventilasi

SPESIFIKASI SISTEM PLAMBING DAN POMPA MEKANIK

3.1 SISTEM PEMIPAAN PADA BANGUNAN TINGGI

3.1.2 Jaringan Pipa Air Kotor dan Pipa Ventilasi

Dalam praktek, gambar pemipaan biasanya menggunakan diagram isometrik, seperti yang terlihat dalam jaringan pemipaan air buangan, air kotor dan ventilasi (Gambar 8.10.). Penggunaan diagram isometrik dimaksudkan agar secara rinci kita dapat mengetahui jenis, jumlah dan ukuran pipa beserta alat penyambungnya.

Gambar 3.10: Diagram Isometrik Saluran Air Kotor dan Ventilasi

Untuk lebih menjelaskan bagaimana pipa-pipa pembuangan air kotor dan pipa ventilasi tersebut dihubungkan satu dengan lainnya, Gambar 3.11. memperlihatkan salah satu contoh aplikasi yang biasa dilakukan pada bangunan tinggi.

Gambar 3.11: Percabangan Jaringan Pipa Air Kotor dan Ventilasi Untuk menghindari masuknya udara yang baunya tak sedap, maka pada saluran pembuangan dipasang perangkap udara, berupa genangan air yang tenahan akibat adanya sekat perangkap (menggunakan konsep pipa bejana berhubungan). Perangkap udara dapat berbentuk pipa, tabung (Gambar 3.12.), bak kontrol (Gambar 3.13), atau leher angsa (Gambar 3.14). Perangkap udara ini juga dapat mencegah masuknya binatang kecil (kecoa, tikus, dll.) ke dalam ruangan melalui pipa.

Gambar 3.12: Perangkap Udara dan Tabung

Gambar 3.13: Bak Kontrol

Selanjuttnya, untuk air buangan atau air kotor yang mengandung lemak (air buangan dari dapur perlu digunakan perangkap minyak (grease trap) seperti yang terlihat pada Gambar 3.15. Dan untuk memudahkan perbaikan atau pembersihan saluran pipa, jika terjadi penyumbatan oleh benda-benda atau kotoran, pada saluran pembuangan disediakan lubang kontrol untuk pembersihan (clean out), yang dapat ditempatkan pada lantai atau berupa

sumbat pada ujung pipa (Gambar 3.16.).

Gambar 3.15: Perangkap Lemak

Untuk menghemat penggunaan pipa vertikal, lubang saluran pemipaan (plumbing shaft) untuk fiistribusi air bersih, air kotor. air buangan, dan pipa ventilasi biasanya diletakkan di dalam dinding di antara dua ruang WC yang bersebelahan (Gambar 3.17.)

Gambar 3.17: Tipikal Letak Lubang Saluran Pemipaan 3.1.3 Peralatan Pengolah Air Limbah

Pada bangunan rumah tinggal, air buangan/air kotor dibuang melalui septik tank dan selanjutnya dialirkan kembali ke dalam tanah melalui rembesan. Namun, pada bangunan tinggi, penggunaan septik tank dirasa kurang memadai, oleh karenanya uniumnya digunakan sistem pengolahan air limbah (SPT - Sewage Treatment Plant).

Pada dasarnya sistem pengolah limbah terdiri dari dua proses utama, yaitu proses mekanik, berupa penyaringan, pemisahan, dan pengendapan, serta proses biologi/kimia, berupa proses aktivitas bakteri yang memanfaatkan O2,

dari udara (aerob) dan proses netralisasi cairan dengan asam atau memasukkan bahan kimia untuk oksidasi, seperti aerasi dengan menggunakan molekul O2, proses pengolahan endapan aktif (activated sludge process), dan pemusnahan kuman (desinfection) dengan menggunakan kaporit (chlorine). Secara skematik, proses pengolahan limbah dapat dilihat pada Gambar 3.18.

Gambar 3.18: Skema Tipikal Sistem Pengolahan Limbah 3.1.4 Sampah

Corong pembuangan sampah dibuat serong ke bawah agar sampah yang dibuang dari atas tidak masuk ke lantai di bawahnya. Sampah akan mengisi bagian bak dan terdesak oleh sampah yang dibuang belakangan. Setelah penuh, sampah akan dipadatkan dan selanjutnya bak penampungan yang sudah penuh akan dibuang keluar bangunan dengan kendaraan (Gambar 3.19). Untuk mengurangi volume sampah yang dibuang, saluran sampah dilengkapi dengan alat pembakar sampah (incinerator), di mana sampah disalurkan melalui pengangkut sampah spiral ke dalam ruang pembakaran,

dan sampah yang dibuang berupa abu (Gambar 3.20). Penampungan sampah dengan alat pembakaran ini baik unruk sampah yang mengandung bakteri (seperti yang ada pada rumah sakit).

Gambar 3.19: Saluran Pembuangan Sampah 3.1.5 Sumur Resapan

a. Sumur Resapan Biasa

Sebagai salah satu upaya melestarikan air tanah, kita membuat sumur resapan yang berfungsi sebagai tempat untuk menampung dan menyimpan curahan air hujan, sehingga dapat menambah kandungan air tanah.

Berdasarkan Surat Keputusan Gubernur DKI Jakarta nomor 115 tahun 2001, sumur resapan dapat ditempatkan di areal pekarangan, pada

daerah yang tidak mudah longsoran/atau terjal, dan tidak dibuat pada lokasi timbunan sampah dan/atau tanah yang mengandung bahan pencemar. Oleh sebab itu, lokasi sumur resapan diharapkan sejauh mungkin dari resapan septik tank dan hanya boleh diisi oleh air hujan yang langsung tau melalui atap atau talang bangunan (Gambar 3.21).

Gambar 3.20: Alat Pembakaran Sampah b. Sumur Resapan Tirta sakti

Perbedaan yang mendasar antara sumur resapan yang umumnya dikenal (SRB - Sumur Resapan Biasa) dengan sumur resapan Tirta Sakti (SRTS) terletak pada optimasi dan pendayagunaannya, serta manfaat yang diperolehnya. SRTS merupakan sumur resapan yang dirancang berdasarkan kondisi setempat, sehingga model SRTS untuk penggunaan umum tidak dapat dibuat. Namun demikian, secara prinsip

SRTS mempunyai kesamaan dalam hal gagasan dasar dan proses kerjanya.

Gambar 3.21: Sumur Resapan Biasa

Pada SRB (Gambar 8.20.) yang dibuat secara benar, sumur hanya bertungsi pada musim penghujan, di mana pasokan air diperoleh dari curah hujan yang kemudian dialirkan ke lapisan tidak kedap air melalui sumur resapan. Pada musim kemarau, di mana tidak ada pasokan air hujan, lapisan yang tadinya terisi air akan kembali kosong, disebabkan karena penguapan dan/atau pemompaan sumur-sumur, sehingga akan mengakibatkan terjadinya rongga-rongga di dalam lapisan tidak kedap air dan berpotensi untuk diisi oleh air laut (intrusi atau kemungkinan terjadinya penurunan muka tanah, yang disebabkan oleh berkurangnya rongga-rongga di dalam tanah akibat tertekan oleh beban di atasnya, baik yang berasal dari bangunan maupun kendaraan.

Pada SRTS, di kala musim hujan, sebagaimana halnya SRB, pasokan air diperoleh dari air hujan. Mengingat SRTS mampu mengalirkan air hujan pada beberapa lapisan tanah di bawahnya, baik pada lapisan tidak kedap air, maupun lapisan akifer (aquifer), maka permukaan tanah terhindar dari genangan air yang diakibatkan oleh jenuhnya tanah permukaan dan/atau perkerasan. Pada musim kemarau, di mana pasokan air ke sumur resapan tidak ada/berkurang, maka untuk mengganti pasokan air hujan digunakan air limbah rumah tangga

(limbah domestik) yang sudah disaring (difilter). Proses filtrasi ini dilakukan dengan menggunakan kotak Tirta sakti, sebagai bagian integral dari SRTS. Dengan demikian SRTS dapat berfungsi sepanjang tahun, baik pada waktu musim hujan maupun musim kemarau, sehingga rongga-rongga dalam lapisan tanah yang tidak kedap air dan lapisan akifer selalu terisi pengganti air tanah (air tawar) yang hilang akibat pemompaan dan/atau penguapan.

Untuk menjamin agar air laut tidak mengisi rongga-rongga di dalam lapisan tanah tidak kedap air dan/atau lapisan akifer, rancangan SRTS yang dilengkapi dengan bak penampungan air tawar (yang telah difilter). Bak ini dimaksudkan agar dapat menampung sejumlah air dengan volume yang cukup besar sebelum mengalirkannya secara vertical melalui pipa yang diameternya jauh lebih lebih kecil dibandingkan dengan diameter bak penampung di atasnya. Hal ini dimaksudkan agar dihasilkan tekanan hidrostatik yang cukup tinggi pada lubang bukaan dan/atau ujung pipa yang berada pada lapisan tanah tidak kedap air dan/atau lapisan akifer di bawahnya. Tekanan ini diperoleh akibat gaya gravitasi yang berasal dari berat sendiri air dalam bak penampungan, yang besar tekanannya dapat dihitung dengan menggunakan rumus-rumus hidrolika. Akibat tekanan yang cukup besar tadi, maka tekanan air tawar ini akan berpengaruh hingga radius tertentu.

Mengingat rancangan SRTS mengacu pada kondisi setempat, maka untuk memperoleh pemanfaatan SRTS yang optimal diperlukan penyelidikan tanah (soil investigation tests). Dari hasil contoh tanah (boring log) dapat diketahui secara rinci jenis dan ketebalan lapisan tanah yang dibutuhkan untuk menentukan koefesien rembesan tanah (pada lapisan tidak kedap air) beserta kedalaman dan tebal lapisannya. Hal ini diperlukan untuk dapat menentukan kedalaman pipa yang perlu dipasang. dimensi pipa dan jumlah serta besaran lubang pada pipa Selanjutnya diperlukan data-data mengenai kebutuhan debit pasokan air, curah hujan rata-rata dan tingkat penguapan pada musim kemarau, untuk dapat menentukan volume bak penampungan. Kondisi limbah domestik, dalam hal ini yang sudah berupa grey water perlu dianalisis untuk menentukan rancangan kotak Tirta Sakti, baik dalam penentuan jumlah bilik, dimensi kotak dan bahan filter yang digunakan (Gambar

8.22). Kotak Tirta Sakti, seperti diuraikan sebelumnya, berfungsi sebagai tempat untuk menyaring air kotor/limbah rumah tangga (limbah domestik). Kotak ini terdiri dari beberapa sekat yang saling berhubungan dengan kapasitas kotak antara 15-20 m3. Pada kotak ini, akibat adanya reaksi dan proses un-aerob, terjadi akumulasi panas yang suhunya mencapai sekitar 50°C (thermophilic digestion). Pada suhu sekitar 50°C konsentrasi oksigen yang terlarut menjadi sangat rendah (5,6 ppm), dan dapat membunuh mahluk hidup, termasuk bakteri coli yang biasanya banyak terdapat dalam air limbah domestik.

Gambar 3.22: Sumur Resapan Tirta Sakti

Meskipun air hujan boleh secara langsung diserap ke dalam tanah, namun mengingat kota-kota besar yang penuh dengan kendaraan dan sampah berpotensi bagi pencemaran air hujan yang ada dalam selokan, maka aliran air hujan yang ada dalam selokan, jika hendak dialirkan ke dalam sumur resapan, perlu melalui proses penyaringan yang di-lakukan di dalam kotak Tirta Sakti, agar mutu air yang masuk ke dalam

tanah tidak tercemar. Pemeriksaan atas mutu air perlu dilakukan agar lapisan akifer tidak dicemari oleh unsur-unsur yang dapat menyebabkan terkontaminasinya sumber daya air. Pencemaran air pada lapisan akifer harus dihindarkan, mengingat kontaminasi air pada lapisan tanah ini dapat berdampak buruk di kemudian hari dan sangat sulit diperbaiki. Persyaratan mutu baku limbah cair didasarkan pada Surat Keputusan Gubemur Kepala Daerah Ibu Kota Jakarta No. 582 tahun 1995 (Baku Mutu Limbah Cair Industri/ Perusahaan/Badan) dan Peraturan Menteri Kependudukan dan Lingkungan Hidup No. 03/MENKLH/1991, sedang persyaratan air bersih yang digunakan adalah persyaratan yang dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan yang mengacu pada Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 416 tahun 1990 (Air Bersih). Pemeriksaan mutu air perlu dilakukan pada dua titik; pertama pada selokan sebelum air dialirkan ke dalam kotak Tirta Sakti (inlet), dan kedua pada bilik terakhir kotak Tirta Sakti (outlet) sebelum air tersebut dialirkan ke bak kedua, yang merupakan bak penampungan, sebelum air tersebut 'disuntikkan' ke dalam lapisan tidak kedap air dan/atau lapisan akifer.