• Tidak ada hasil yang ditemukan

SPESIFIKASI SISTEM PROTEKSI KEBAKARAN

KEBAKARAN PASIF

7.1.3 Koridor dan Jalan Keluar

Koridor dan jalur keluar harus dilengkapi dengan tanda yang menunjukkan arah dan lokasi pintu keluar (Gambar 7.3.). Tanda 'EXIT' atau 'KELUAR' dengan anak panah menunjukkan arah menuju pintu keluar atau tangga kebakaran/darurat, dan harus di-tempatkan pada setiap lokasi di mana pintu keluar terdekat tidak dapat langsung terlihat.

Tanda 'EXIT' harus dapat dilihat dengan jelas, diberi lampu yang menyala pada kondisi darurat, dengan kuat cahaya tidak kurang dari 50 lux dan luas tanda minimum 155 cm2 serta ketinggian huruf tidak kurang dari 15 cm (tebal huruf minimum 2 cm.).

7.1.4 Kompartemen

Kompartemen merupakan konsep yang penting dalam usaha penyelamatan manusia dalam menghadapi bahaya kebakaran. Gagasan dasarnya adalah menahan dan membatasi penjalaran api agar dapat melindungi penghuni atau pengguna bangunan dan barang-barang dalam bangunan untuk tidak secara langsung bersentuhan dengan sumber api. Pada bangunan tinggi, di mana mengevakuasi seluruh orang dalam gedung dengan cepat adalah suatu hal yang mustahil, kompartemen dapat menyediakan penampungan sementara bagi penghuni atau pengguna bangunan untuk menunggu sampai api di-padamkan atau jalur menuju pintu keluar sudah aman (Gambar 7.4.).

Gambar 7.4: Kompartemen untuk Tuna Daksa 7.1.5 Evakuasi Darurat

Beberapa syarat yang perlu dipenuhi oleh pintu keluar (Gambar 7.3), di antaranya adalah:

a. Tangga Darurat/Tangga Kebakaran

Pada saat terjadinya kebakaran atau kondisi darurat, terutama pada bangunan tinggi, tangga kedap api/asap merupakan tempat yang paling aman dan hams bebas dari gas panas dan beracun. Ruang tangga yang bertekanan (presurized stair well) diaktifkan secara otomatis pada saat kebakaran (Gambar 7.5.) Pengisian ruang tangga dengan udara segar benekanan positif akan mencegah menjalarnya asap dari lokasi yang terbakar ke dalam ruang tangga. Tekanan udara dalam ruang tangga tidak boleh melampaui batas aman, karena jika tekanan udara dalam ruang tangga terlalu tinggi, justru akan menye-babkan pintu tangga sulit/tidak dapat dibuka. Pada gedung yang

sangat tinggi perlu ditempatkan beberapa kipas udara (blower) untuk memastikan bahwa udara segar yang masuk ke dalam ruang tangga jauh dari kemungkinan masuknya asap. Di samping itu, bangunan yang sangat tinggi perlu dilengkapi dengan lif kebakaran (Gambar 7.6.)

Gambar 7.6: Tangga dan Lif Kebakaran b. Evakuasi Darurat pada Bangunan Tinggi

Dengan makin banyaknya ancaman bahaya teror pada bangunan tinggi, perlulah dicari upaya untuk dapat mengevakuasi 5.000 orang dalam waktu kurang dari 30 menit tanpa menggunakan tangga atau lif.

Suatu sistem yang dikembangkan baru-baru ini di Amerika Serikat merupakan fasilitas evakuasi sebagai upaya yang terakhir jika orang terperangkap pada bangunan tinggi. Teknologi ini bergantung pada tahanan udara dinamik. Pada saat evakuasi darurat, di mana tangga dan lif tidak lagi berfungsi, maka penghuni/pengguna bangunan akan menggunakan sejenis sabuk pengaman yang dikaitkan pada gulungan kabel. Begitu gulungan ini terkunci pada sistem inti, yang merupakan perangkat kipas udara yang kokoh dan diangkur pada bangunan, maka orang dapat melompat dan mendarat di tanah dengan selamat (Gambar 7.7.). Tahanan dari bilah baling-baling kipas udara akan

berputar pada saat gulungan kabel terurai pada kecepatan di bawah 3,7 meter/detik.

Gambar 7.7: Sistem Evakuasi Darurat

Sistem inti yang terlihat pada Gambar 7.7. ini terdiri riari Unas nrlara dengan empat bilah baling-baling yang lebarnya 30 cm. di mana ujung yang satu terkunci pada sumbu gulungan. Rangka utama ini dilengkapi dengan landasan luncur yang menjorok sekitar 30 cm. keluar bukaan jendela atau balkon. Orang dengan berat sekitar 45 kilogram akan mendarat pada kecepatan 2,4, sampai 2,7 meter/detik, sama dengan kecepatan orang yang melompat dari ketinggian kursi. Setiap orang memiliki gulungannya masing-masing dan akan terlepas dengan sendirinya begitu orang tersebut tiba di tanah, sehingga gulungan kabel dapat digunakan oleh orang berikutnya.

Evakuasi darurat lain yang dapat digunakan adalah menggunakan semacam kantong peluncur (chute system) yang ditempatkan pada ruang tangga (Gambar 7.8.). Dengan adanya sistem ini, orang dapat memilih untuk keluar bangunan melalui tangga darurat atau menggunakan kantong peluncur. Chute system ini dapat digunakan dengan aman oleh orang cacat untuk mencapai lantai dasar dengan aman dan cepat.

Gambar 7.8: Chute System 7.1.6 Pengendalian Asap

Asap menjalar akibat perbedaan tekanan yang disebabkan oleh adanya perbedaan suhu ruangan. Pada bangunan tinggi, perambatan asap juga disebabkan oleh dampak timbunan asap yang mencari jalan keluar dan dapat tersedot melalui lubang vertikal yang ada, seperti ruang tangga. ruang luncur lif, ruang saluran vertikal (shaft) atau atrium. Perambatan ini dapat pula terjadi melalui saluran tata udara yang ada dalam bangunan. Pengalaman menunjukkan bahwa ruang yang luas, seperti pusat perbelanjaan, mal, bioskop dan ruang pertemuan/konvensi. berpeluang untuk menghasilkan timbunan asap dan panas pada waktu terjadinya kebakaran. Pada situasi seperti ini. asap dapat menjalar secara horizontal, menghalangi petugas pemadam kebakaran dan menyebabkan terjadinya panas lebih awal sebelum api menjalar ke tempat itu. Asap panas dapat menimbulkan titik api baru dan mensurangi efektivitas sistem sprinkler. Untuk mencegah terjadinya penjalaran asap secara horizontal, dalam gedung perlu dipasang tirai penghalang asap (Gambar 7.9.).

Gambar 7.9: Tirai Penghalang Asap

Mengalirkan asap dari dalam gedung akan mengurangi bahaya bagi petugas pemadam kebakaran dan akan mempercepat pencarian sumber api. Pengeluaran asap melalui atap akan menyebabkan terjadinya pertukaran udara lebih dingin yang berasal dari luar yang masuk dari lantai yang lebih rendah. Masuknya udara segar ini akan menyebabkan api bertambah besar (merupakan tambahan pasokan oksigen). Hal ini tentunya bukan sesuatu hal yang dilematis, karena pertimbangan utamanya adalah mengurangi jumlah asap dalam bangunan dan memungkinkan petugas pemadam kebakaran untuk dapat melihat dengan lebih jelas, sehingga mengetahui dengan pasti permasalahan yang dihadapi. Adanya pengaliran asap memungkinkan petugas pemadam kebakaran untuk mengendalikan api tanpa mengalami kesulitan pandangan. Di samping itu, bekerja pada kondisi yang lebih dingin tanpa menggunakan alat bantu pernapasan akan lebih memudahkan pekerjaan pemadaman api.

Beberapa media yang dapat digunakan untuk mengendalikan asap sangat tergantung dari fungsi dan luas bangunan, di antaranya:

a. Jendela, pintu, dinding/partisi dan lain-lain yang dapat dibuka sebanding dengan luas lantai.

b. Saluran ventilasi udara yang merupakan sistem pengendalian asap otomatis. Sistem ini dapat berupa bagian dari sistem tata udara atau ventilasi dengan peralatan mekanis (exhaust fan atau blower) sebagaimana terlihat pada Gambar 7.10.

Gambar 7.10: Pengendalian Asap pada Bangunan Tinggi

c. Ventilasi di atap gedung dapat secara permanen terbuka atau dibuka dengan alat bantu tertentu atau terbuka secara otomatis. (Gambar 7.11.).

d. Sistem penyedotan asap melalui saluran kipas udara di atas bangunan.

Gambar 7.11: Ventilasi Atap Bangunan

Sebelum tahun 1982. atrium dilarang pada bangunan tinggi, karena atrium dikuatirkan dapat menjadi 'cerobong asap' bagi penjalaran api dan asap ke seluruh bangunan. Tetapi sekarang banyak bangunan tinggi mempunyai atrium di dalamnya. Hal ini diijinkan dengan memperthnbangkan hal-hal sebagaimana yang terlihat pada Gambar 7.12. Di samping itu, terdapat tambahan persyaratan yang perlu diperhatikan. yaitu:

a. Pintu keluar yang berada pada sekeliling atrium harus menggunakan pintu tahan api.

b. Bangunan dengan fungsi hotel, apartemen dan asrama hanya boleh mempunyai atrium maksimal 110 m2 dan dilengkapi dengan pintu keluar yang tidak menuju atrium.

Gambar 7.12: Dimensi Minimum Atrium

c. Adanya pemisahan vertikal, sehingga lubang atrium maksimal terbuka setinggi tiga lantai.

d. Pemisahan vertikal ini berlaku pula bagi ruang pertemuan dengan kapasitas 300 orang atau lebih dan perkantoran yang berada di bawah apartemen, hotel, atau asrama.

e. Mesanin dibuat dengan bahan yang tahan api sekurang-kurangnya dua jam. f. Ruangan yang bersebelahan dengan mesanin dibuat dengan bahan tahan

api sekurang-kurangnya satu jam.

g. Jarak dan lantai dasar ke lantai mesanin sekurang-kurangnya adalah 2,2 meter,

h. Mesanin tidak boleh terdiri dari dua lantai.

i. 10% dari luas mesanin dapat ditutup (misalnya untuk kamar kecil, ruang utilitas dan kompartemen).

j. Ruang mesanin yang tertutup harus mempunyai dua pintu keluar. k. Jarak tempuh antar pintu keluar maksimum adalah 35 meter.

Berikutnya diperlihatkan beberapa tipikal tangga kedap asap, baik yang menggunakan ventilasi alamiah (Gambar 7.13.a. dan Gambar 7.13.b.) maupun menggunakan ventilasi mekanik (Gambar 7.13.c.)

Pengendalian asap dapat dilakukan dengan beberapa cara: a. Dengan jendela dan pintu yang dapat dibuka (Sistem 'A') b. Terintegrasi dengan sistem tata udara (Sistem 'B')

c. Menggunakan ventilasi atap (Sistem 'C')

d. Penghisapan asap melalui saluran udara buang (exhaust fan) di atas bangunan (sistem 'D').

7.2. PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN BAHAYA KEBAKARAN AKTIF