PELATIHAN
PELAKSANA MADYA PERAWATAN
GEDUNG
(SITE SUPERVISOR OF BUILDING
MAINTENANCE)
2005
DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM
BADAN PEMBINAAN KONSTRUKSI DAN SUMBER DAYA MANUSIA
PUSAT PEMBINAAN KOMPETENSI DAN PELATIHAN KONSTRUKSI
KATA PENGANTAR
Salah satu modul pelatihan yang akan diberikan kepada peserta pelatihan Pelaksana Madya Perawatan Bangunan Gedung adalah mengenai Spesifikasi Utilitas Bangunan Gedung.
Penulisan dan penyusunan buku ini disesuaikan dengan posisi pelatihan, dimana Para Peserta Pelatihan Pelaksana Madya Perawatan Bangunan Gedung (Site Supervisor of Building Maintenance) ini bukanlah mereka yang masih awam dalam hal pekerjaan Perawatan Bangunan Gedung.
Kami menyadari bahwa modul ini masih jauh dari sempurna baik ditinjau dari segi materi sistematika penulisan maupun tata bahasanya. Untuk itu kami mengharapkan kritik dan saran dari para peserta dan pembaca semua, dalam rangka perbaikan dan penyempurnaan modul ini.
J a k a r t a , D e s e m b e r
2 0 0 5 P e n y u s u n
LEMBAR TUJUAN
MODUL PELATIHAN : Pelatihan Pelaksana Madya Perawatan Bangunan Gedung (Site Supervisor of Building Maintenance )
MODEL PELATIHAN : Lokakarya Terstruktur
TUJUAN UMUM PELATIHAN :
Mampu mengawasi pekerjaan perawatan bangunan gedung sesuai dengan metode dan prosedur yang dapat diterima, dinyatakan pada gambar teknik dan spesifikasi seperti pada dokumen kontrak dan perjanjian kerja.
TUJUAN KHUSUS PELATIHAN : Pada akhir pelatihan peserta mampu :
1. Menerapkan keselamatan dan kesehatan kerja.
2. Melaksanakan sesuai spesifikasi struktur bangunan gedung. 3. Melaksanakan sesuai spesifikasi arsitektur bangunan gedung. 4. Melaksanakan sesuai spesifikasi utilitas bangunan gedung. 5. Membuat alokasi waktu dan penjadwalan.
6. Membuat perhitungan rancangan anggaran biaya.
7. Mengawasi pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan dokumen kontrak. 8. Menggunakan teknologi bahan, bangunan dan konstruksi.
9. Menggunakan Komputer
10. Menjelaskan rekayasa bangunan.
11. Menggunakan perlengkapan dan metode kerja.
12. Melaksanakan manajemen pemeliharaan & perawatan bangunan gedung. 13. Melaksanakan manajemen supervisi lapangan & pelaporan.
NO. DAN JUDUL MODUL : SSBM – 04 SPESIFIKASI UTILITAS BANGUNAN GEDUNG
TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM (TIU)
Setelah mempelajari modul, peserta mampu melaksanakan sesuai spesifikasi utilitas bangunan gedung dan menerapkan prinsip perawatan dan pemeliharaan bangunan gedung sesuai ketentuan dokumen kontrak sebagai acuan dalam pelaksanaan pekerjaan perawatan bangunan gedung sesuai peraturan yang berlaku sehingga layak difungsikan.
TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS (TIK) Pada akhir pelatihan peserta mampu :
1. Membaca gambar Instalasi terpasang pada gedung
2. Melaksanakan sesuai spesifikasi sistem transportasi Vertikal yang ada dalam gedung
3. Melaksanakan sesuai spesifikasi sistem plumbing dan pompa mekanik
4. Melaksanakan sesuai spesifikasi dan sistem pengkondisian udara dan ventilasi yang ada dalam gedung
5. Melaksanakan sesuai spesifikasi sistem instalasi listrik dan penerangan yang ada 6. Melaksanakan sesuai spesifikasi sistem tata suara dan komunikasi yang ada dalam
gedung
7. Melaksanakan sesuai spesifikasi sistem proteksi kebakaran yang ada dalam gedung.
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR... i LEMBAR TUJUAN... ii DAFTAR ISI ... iv DESKRIPSI SINGKAT PENGEMBANGAN
MODUL PELATIHAN PELAKSANA MADYA PERAWATAN BANGUNAN GEDUNG (Site Supervision of
Building Maintenance)... vii DAFTAR MODUL... viii PANDUAN INSTRUKTUR ... ix BAB I GAMBAR UTILITAS BANGUNAN
GEDUNG 1.1 Penyajian Gambar I -1 1.2 Skala Gambar I -1 1.3 Tata Letak dan Kelengkapan
G a m b a r
I -2
BAB II SPESIFIKASI SISTEM
TRANSPORTASI VERTIKAL 2.1 Umum I I -1
2.2 Tata Letak Lift
I I -3 2.3 Perancangan Lift I I -7 2.3.1 Waktu Perjalanan Bolak
B a l i k ( T )
I I -8 2.3.2 Beban Puncak Lift ... II-10 2.3.3 Jumlah Lif... II-11 2.3.4 Kebutuhan Ruang
Lif ... II-14 BAB III SPESIFIKASI SISTEM PLAMBING
DAN POMPA MEKANIK
3.1 Sistem Pemipaan Pada
B a n g u n a n T i n g g i I I I -1
3.1.2 Jaringan Pipa Air Kotor d a n P i p a V e n t i l a s i I I I -7 3.1.3 Peralatan Pengolah Air
L i m b a h I
I I -1 1 3.1.4 Sampah ... III-12 3.1.5 Sumur Resapan... III-13 3.1.6 Integrasi Pemipaan... III-18 3.2 Perancangan Kebutuhan Air
B e r s i h I I I -1 8
3.2.1 Kebutuhan Keseharian ... III-18 3.2.2 Kebutuhan Boiler ... III-20 3.2.3 Kebutuhan Pencegahan d a n P e n g e
n d a l i a n K e b a k a r a n I I I -2 2
3.2.4 Kebutuhan Tata Udara... III-22
BAB IV SPESIFIKASI SISTEM
PENGKONDISIAN UDARA DAN VENTILASI
4.1 Mutu Udara Dalam Bangunan
I V
-1
4.2 Sistem Tata Udara
I V -5
4.3 Perancangan Tata Udara
I V -6
4.3.1 Beban Pendingin ... IV-7 4.3.2 Aplikasi Sistem Tata
U d a r a I V -1 0 4.3.3 Kebutuhan Ruangan ... IV-11 BAB V SPESIFIKASI SISTEM LISTRIK DAN
PENERANGAN
V -1 5.2 Lampu-Lampu Sebagai Sumber
C a h a y a V -4 5.2.1. Lampu-lampu pijar... V-4 5.2.2. Lampu-lampu pelepasan l i s t r i k V -7 5.2.3. Lampu-lampu pelepasan l i s t r i
k ( l a n j u t a n ) V -8 5.2.4. Efisiensi Lampu ... V-10 5.3 Sistim-Sistim Illuminasi V -1 1 5.3.1 Klasifikasi sistim i l l u m i n a s i
. V -1 1 5.3.2 Faktor-faktor p e r t i m b a n g a n i l l u m i n a s i . V
-1 3 5.4 Spesifikasi Illuminasi V -1 6 5.4.1 Beberapa kriteria ... V-16 5.4.2 Illuminasi Yang D i a n j u r k a n V -1 9 5.4.3 Kwalitas Warna ... V-21 5.4.4 Perimbangan Terhadap C a h a y a
A l a m i V -2 4 5.5 Standar Penerangan Buatan Di
D a l a m G e d u n g -G e d u n g V
-2 5 5.5.1. Ruang lingkup ... V-25 5.5.2. Pengertian-pengertian ... V-25 5.5.3. Prinsip-prinsip Umum ... V-25 5.5.4. Persyaratan Penerangan B u a t a n V -3 3 BAB VI SPESIFIKASI TATA SUARA DAN
KOMUNIKASI
BAB VII SPESIFIKASI SISTEM PROTEKSI KEBAKARAN
7.1 Sistem Pencegahan dan
P e n a n g g u
l a n g a n B a h a y a K e b a k a r a n P a s i f V I I -1
7.1.1 Pintu Keluar ... VII-2 7.1.3 Koridor dan Jalan Keluar ... VII-4 7.1.4 Kompartemen ... VII-5 7.1.5 Evakuasi Darurat ... VII-5 7.1.6 Pengendalian Asap... VII-9
7.2. Pencegahan Dan P e n a n g g u l a n g a n B a h a y a K e b a k a r a
n A k t i f V I I -1 4 7.2.1 Alat P e n g i n d e r a a n / P e r i n g
a t a n D i n i ( D e t e k t o r ) V I I -1 4
7.2.2 Hidran dan Selang
K e b a k a
r a n V I I -1 5 7.2.3 Sprinkler ... VII-18 7.2.4 Pasokan Air ... VII-21
RANGKUMAN DAFTAR PUSTAKA HAND OUT
DESKRIPSI SINGKAT PENGEMBANGAN MODUL PELATIHAN
PELAKSANA MADYA PERAWATAN BANGUNAN GEDUNG
(Site Supervision of Building Maintenance)
1. Kompetensi kerja yang disyaratkan untuk jabatan kerja Pelaksana Madya Perawatan Bangunan Gedung (Site Supervisor of Building Maintenance) dibakukan dalam Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) yang didalamnya telah ditetapkan unit-unit kerja sehingga dalam Pelatihan Pelaksana Madya Perawatan Bangunan Gedung (Site Supervisor of Building Maintenance) unit-unit tersebut menjadi Tujuan Khusus Pelatihan.
2. Standar Latihan Kerja (SLK) disusun berdasarkan analisis dari masing-masing Unit Kompetensi, Elemen Kompetensi dan Kriteria Unjuk Kerja yang menghasilkan kebutuhan pengetahuan, keterampilan dan sikap perilaku dari setiap Elemen Kompetensi yang dituangkan dalam bentuk suatu susunan kurikulum dan silabus pelatihan yang diperlukan untuk memenuhi tuntutan kompetensi tersebut.
3. Untuk mendukung tercapainya tujuan khusus pelatihan tersebut, maka berdasarkan Kurikulum dan Silabus yang ditetapkan dalam SLK, disusun seperangkat modul pelatihan (seperti tercantum dalam Daftar Modul) yang harus menjadi bahan pengajaran dalam pelatihanPelaksana Madya Perawatan Bangunan Gedung (Site Supervisor of Building Maintenance).
DAFTAR MODUL
Jabatan Kerja : Pelaksana Madya Perawatan Bangunan Gedung(Site Supervisor of Building Maintenance) Nomor
Modul Kode Judul Modul
1 SSBM – 01 Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) 2 SSBM – 02 Spesifikasi Struktur Bangunan Gedung 3 SSBM – 03 Spesifikasi Arsitektur Bangunan Gedung
4
SSBM – 04 Spesifikasi Utilitas Bangunan Gedung
5 SSBM – 05 Alokasi Waktu dan Penjadwalan
6 SSBM – 06 Perhitungan Rancangan Anggaran Biaya 7 SSBM – 07 Dokumen Kontrak
8 SSBM – 08 Teknologi Bahan, Bangunan & Konstruksi
9 SSBM – 09 Komputer
10 SSBM – 10 Rekayasa Bangunan
11 SSBM – 11 Perlengkapan dan Metode Kerja
12 SSBM – 12 Manajemen Pemeliharaan & Perawatan Bangunan Gedung
13 SSBM – 13 Manajemen Supervisi Lapangan dan Pelaporan 14 SSBM – 14 Pranata Pembangunan
PANDUAN INSTRUKTUR
A. BATASANNAMA PELATIHAN : PELATIHAN PELAKSANA MADYA PERAWATAN
BANGUNAN GEDUNG (SITE SUPERVISOR OF BUILDING MAINTENANCE)
KODE MODUL : SSBM - 04
JUDUL MODUL : SPESIFIKASI UTILITAS BANGUNAN GEDUNG
DESKRIPSI : Materi ini membahas pengetahuan Gambar instalasi
terpasang (as built drawings), Spesifikasi sistem transportasi vertikal, Spesifikasi sistem plambing dan pompa mekanik, Spesifikasi sistem pengkondisian udara dan ventilasi, Spesifikasi sistem listrik dan penerangan, Spesifikasi sistem tata suara dan komunikasi, Spesifikasi sistem proteksi kebakaran untuk pelatihan Pelaksana Madya Perawatan Bangunan Gedung (Site Supervisor of Building Maintenance).
TEMPAT KEGIATAN : Ruangan Kelas lengkap dengan fasilitasnya. WAKTU PEMBELAJARAN : 4 (Empat) Jam Pelajaran (JP) (1 JP = 45 Menit)
B. RENCANA PEMBELAJARAN
KEGIATAN INSTRUKTUR KEGIATAN PESERTA PENDUKUNG
1. Ceramah : Pembukaan/ Bab I, Pendahuluan
Menjelaskan tujuan instruksional umum(TIU) dan Tujuan
instruksional khusus (TIK) Menjelaskan maksud dan tujuan
spesifikasi utilitas bangunan gedung.
Menjelaskan pengertian spesifikasi utilitas bangunan gedung.
Waktu : 5 menit
Mengikuti penjelasan TIU dan
TIK dengan tekun dan aktif
Mengikuti penjelasan maksud
dan tujuan spesifikasi utilitas bangunan gedung.
Mengikuti penjelasan
pengertian spesifikasi utilitas bangunan gedung.
Mengajukan pertanyaan
apabila ada yang kurang jelas.
OHT
2. Ceramah : Bab II, Gambar instalasi terpasang (as built drawings)
Memberikan penjelasan, uraian atau-pun bahasan mengenai : Gambar instalasi terpasang (as built drawings).
Waktu : 25 menit
Mengikuti penjelasan, uraian
atau bahasan instruktur dengan tekun dan aktif.
Mengajukan pertanyaan
apabila ada yang kurang jelas.
OHT
3. Ceramah : Bab III, Spesifikasi sistem transportasi vertikal
Memberikan penjelasan, uraian atau-pun bahasan mengenai : Spesifikasi sistem transportasi vertikal.
Waktu : 25 menit
Mengikuti penjelasan, uraian
atau bahasan instruktur dengan tekun dan aktif.
Mengajukan pertanyaan
apabila ada yang kurang jelas.
OHT
4. Ceramah : Bab IV, Spesifikasi sistem plambing dan pompa mekanik
Memberikan penjelasan, uraian atau-pun bahasan mengenai : Spesifikasi sistem plambing dan pompa mekanik.
Waktu : 25 menit
Mengikuti penjelasan, uraian
atau bahasan instruktur dengan tekun dan aktif.
Mengajukan pertanyaan
apabila ada yang kurang jelas.
OHT
5. Ceramah : Bab V, Spesifikasi sistem pengkondisian udara dan ventilasi
Memberikan penjelasan, uraian
Mengikuti penjelasan, uraian
atau bahasan instruktur
atau-pun bahasan mengenai : Spesifikasi sistem pengkondisian udara dan ventilasi.
Waktu : 25 menit
dengan tekun dan aktif.
Mengajukan pertanyaan
apabila ada yang kurang jelas.
6. Ceramah : Bab VI, Spesifikasi sistem listrik dan penerangan
Memberikan penjelasan, uraian atau-pun bahasan mengenai : Spesifikasi sistem listrik dan penerangan.
Waktu : 25 menit
Mengikuti penjelasan, uraian
atau bahasan instruktur dengan tekun dan aktif.
Mengajukan pertanyaan
apabila ada yang kurang jelas.
OHT
7. Ceramah : Bab VII, Spesifikasi sistem tata suara dan komunikasi
Memberikan penjelasan, uraian atau-pun bahasan mengenai : Spesifikasi sistem tata suara dan komunikasi.
Waktu : 25 menit
Mengikuti penjelasan, uraian
atau bahasan instruktur dengan tekun dan aktif.
Mengajukan pertanyaan
apabila ada yang kurang jelas.
OHT
8. Ceramah : Bab VIII, Spesifikasi sistem proteksi kebakaran
Memberikan penjelasan, uraian atau-pun bahasan mengenai : Spesifikasi sistem proteksi kebakaran.
Waktu : 25 menit
Mengikuti penjelasan, uraian
atau bahasan instruktur dengan tekun dan aktif.
Mengajukan pertanyaan
apabila ada yang kurang jelas.
BAB I
GAMBAR INSTALASI TERPASANG
1.1. PENYAJIAN GAMBAR
a. Secara umum gambar harus dilengkapi dengan keterangan yang menggunakan Bahasa Indonesia.
b. Teknik menggambar harus benar dengan notasi yang baku (mis.: untuk sistem plambing, listrik, mekanikal, dll).
c. Skala mengikuti ketentuan yang umum, dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan.
d. Ukuran kertas A1 atau A0
1.2. SKALA GAMBAR
Skala gambar tergantung dari jenis struktur bangunan gedung, yang biasanya dibedakan antara untuk sistem plambing, listrik, tata udara, mekanikal, proteksi kebakaran, dan tata suara (lihat tabel 1)
Tabel 1.1: Skala Gambar
NO Jenis Gambar Denah/
Potongan Detail Keterangan KelengkapanGambar
1 Plambing 1 : 100
1 : 200
1 : 20 1 : 40
- Mutu Bahan
- As Horizontal dan Vertikal - Denah kunci
- Diameter Pipa
- Elevasi dan Kemringan - Jenis dan tata letak peralatan - Notasi fikstur 2 Mekanikal 1 : 100 1 : 200 1 : 20 1 : 40 - Mutu Bahan
- As Horizontal dan Vertikal - Denah Kunci
- Elevasi
- Jenis dan tata letak peralatan - Notasi tfikkstur 3 Listrik dan Penerangan 1 : 100 1 : 200 1 : 20 1 : 40 - Mutu Bahan - Ukuran kabel
- As Horizontal dan Vertikal - Denah Kunci
- Elevasi
- Jenis dan tata letak peralatan - Notasi fikstur
NO Jenis Gambar Denah/
Potongan Detail Keterangan KelengkapanGambar
4 Tata udara 1 : 100 1 : 200 1 : 20 1 : 40 - Mutu Bahan - Ukuranducting
- As Horizontal dan Vertikal - Denah Kunci
- Elevasi
- Jenis dan tata letak peralatan - Notasi fikstur 5 Proteksi Kebakaran 1 : 100 1 : 200 1 : 20 1 : 40 - Mutu Bahan - Ukuran pipa
- As Horizontal dan Vertikal - Denah Kunci
- Elevasi
- Jenis dan tata letak peralatan - Notasi fikstur 6 Transportasi Vertikal 1 : 100 1 : 200 1 : 20 1 : 40 - Mutu Bahan - Ukuran lif/eskalator/travelator - As Horizontal dan Vertikal - Denah Kunci
- Elevasi
- Jenis dan tata letak peralatan - Notasi fikstur
1.3. TATA LETAK DAN KELENGKAPAN GAMBAR
Gambar utilitas pada umumnya terdiri dari gambar instalasi terpasang (as
built drawings):
- Gambar sistem plambing
- Gambar sistem elektrikal dan elektronik - Gambar sistem mekanikal
- Gambar sistem tata udara
- Gambar sistem transportasi vertikal
Kelengkapan Gambar (bila diperlukan): - Isometrik Plambing (Gambar 1.1)
- Konsep Perencanaan Utilitas Bangunan - Analisa Perhitungan Mekanikal dan Elektrikal
BAB II
SPESIFIKASI SISTEM TRANSPORTASI VERTIKAL
2.1. UMUMPada abad ke-19, tambang dan katrol digunakan untuk mengangkut orang dan barang pada bangunan bertingkat. Peralatan ini digerakkan oleh tenaga air atau uap, yang selanjutnya berkembang dengan ditemukannya motor listrik. Pada tahun 1852 William Otis mendemonstrasikan lif untuk pertama kali dengan memperhatikan aspek-aspek keselamatan manusia dan gedung pencakar langit yang pertama menggunakan lif dengan mesin traksi yang diletakkan di puncak bangunan adalah gedung Woolworth yang dibangun di New York tahun 1914. Dewasa ini, terdapat dua jenis lif yang umum digunakan, yaitu jenis dengan motor penggerak (traction lift) dan jenis dengan dongkrak hidrolik (hydraulic lift). Untuk lif dengan motor penggerak. peletakan mesin dapat berada di atas ruang luncur (di penthouse) atau di basemen (di samping ruang luncur). Kedua jenis peletakan ini dapat terlihat pada Gambar 2.1. dan Gambar 2.2.
Kecepatan lif hidrolik antara 0,30 sampai 0,90 meter/detik dan kapasitas angkut maksimumnya 10 ton (dengan tuas tunggal) dan dapat mengangkut sampai dengan beban 50 ton (dengan tuas ganda).
Lif hidrolik ini mempunyai karakteristik:
a. Tidak mengakibatkan tambahan beban di puncak bangunan b. Hanya digunakan untuk kecepatan yang relatif rendah
c. Hanya digunakan untuk melayani lantai yang jumlahnya sedikit d. Ada kemungkinan bau minyak merebak ke dalam kereta lif e. Sangat baik untuk mensangkut beban" berat
f. Alas lantai kereta dapat berada pada level bangunan secara tepat g. Tidak membutuhkan beban pengimbang (counter weight)
h. Memmbulkan suara yang lebih berisik dibandingkan dengan lif yang digerakkan oleh motor traksi.
Gambar 2.2: Lif dengan Motor Traksi
Kecepatan lif dengan penggerak motor di atas adalah antara 2.5 sampai 9 meter/ detik. Lantai kereta lif mempunyai perbedaan sekitar 6 mm dengan permukaan lantai bangunan. Pergerakan lif tipe ini sangat halus dan sangat efisien dalam penggunaan energi listrik, namun harganya termasuk yang termahal dibandingkan sistem lif lainnya.
Lif dengan motor di bawah hanya dapat digunakan untuk melayani paling banyak delapan lantai dan biayanya sekitar 50% lebih mahal dibandingkan yang bermesin di atas. Di samping itu, kecepatannya juga terbatas (sekitar 1 meter/detik).
2.2. TATA LETAK LIFT
Ruang luncur lif ditentukan dari jumlah dan konfigurasi tata letak lif dengan jumlah maksimal empat buah dalam satu deretan.
Diagram pada Gambar 2.3. menunjukkan tata letak sekelompok lif yang baik dan alternatif lain yang masih dapat dilakukan. Perlu diingat bahwa semua hambatan yang dapat mengganggu arus lalu lintas perlu dihilangkan. Tata letak lain yang juga sering dijumpai adalah bentuk Cul-de-Sac (jalan buntu) dan melingkar (Gambar 2.4).
Gambar 2.4: Tata Letak Lif Cul de-Sac dan Malingkar
Untuk bangunan yang tingginya lebih dari 25 lantai, dianjurkan untuk membagi layanan lif dengan mengelompokkan lantai yang dilayani, konsep zona, di mana tiap zona dilayani oleh sejumlah lif tertentu.
Jika pembagian zona ini masih mengakibatkan jumlah lif tetap banyak. dapat digunakan sejumlah lif dengan pintu masuk (entrance) terpisah dan ditempatkan pada lantai transfer yang disebut "sky lobby', Sky lobby ini digunakan untuk tempat transfer dari zona yang lebih rendah ke zona di atasnya. Di samping itu, areal sky lobby ini dapat digunakan untuk tempat penampungan sementara pada kondisi darurat (kompartemen kebakaran) dan kebutuhan aktivitas lainnya, seperti ruang mekanikal elektrikal (mesin pengkondisian udara dan pompa air), bak penampungan air (reservoir), restoran. lobby hotel, ruang pengelola, ruang rapat, kolam renang. dan lain-lain.
Mengingat sky lobby memuat peralatan mekanik dan elektrik, maka secara struk-turai lantainya sangai kaku dan kukuii, nehingga menarnbah ketahanan bangunan terhadap gaya-gaya lateral yang diakibatkan oleh angin atau gempa burni.
Pada bangunan yang tinggi dan luas, jumlah lif yang diperlukan meningkat sebanding dengan jumlah lantai yang dilayani. Dengan demikian, jika mencapai suatu ketmggian tertentu. maka areal luas yang digunakan untuk menempatkan lif menjadi meningkat dan melebihi ketentuan ekonomis (di atas 20% luas lantai). Jadi. pada umumnya sebuah lif hanya melayani sekitar 12-15 lantai, agar tidak melampaui batas tunggu dan jumlah waktu perjalanan yang disyaratkan.
Jika hal tersebut dijumpai dalam suatu bangunan tinggi. maka ada beberapa hal yang dapat dilakukan:
a. Sejumlah lantai dibagi atas beberapa zona: group I melayani sejumlah lantai zona bawah, group II melayani sejumlah lantai zona tengah, dan group III
melayani sejumlah lantai zona atas. Dengan pembagian zona tersebut, beban lif menjadi berkurang. Namun pembagian zona tidak memberi dampak pada pengurangan luas inti, sebab ruang mesin lif tetap berada di lantai yang sama, yang letaknya di atas group III (di penthouse).
b. Untuk mengurangi luas inti, khususnya pada lantai-lantai bagian atas, gedung dibagi atas beberapa lobby yang ditempatkan pada lantai-lantai tertentu. Selanjutnya, lif dengan kapasitas besar dan berkecepatan tinggi melayani penumpang dari lobby utama di lantai dasar ke sky lobby, atau dari sky lobby yang satu ke sky lobby berikutnya. Dari sky lobby orang dapat pindah dengan menggunakan eskalator ke sejumlah lif yang melayani zona di atasnya (Gambar 2.5.).
Konsep ini memungkinkan dikuranginya ruang yang digunakan untuk lubang lif. sebab alur perjalanan lif tidak perlu setinggi bangunan. Penggunaan sky lobby ini memungkinkan bangunan berfungsi ganda: memuat apartemen atau hotel di bagian atas, perkantoran di bagian tengah, dan fasilitas perbelanjaan serta parkir di bagian bawah.
c. Jika penggunaan sky lobby belum juga dapat memenuhi ketentuan luas inti yang disyaratkan, maka dapat digunakan lifdouble decker (Gambar 2.6).
Pengaturan tata letak lif pada lobby yang dikaitkan dengan pembagian zona layanan lif dapat dilihat pada Gambar 2.7. Tiap zona lif biasanya melayani 10 - 15 lantai, dan 4 zona merupakan batas maksimum. Jika memerlukan zona lif lebih dari empat, maka harus digunakan sky lobby (minimum dua lantai), dan di atas sky lobby masih dimungkinkan untuk ditambah 2-3 lantai tambahan untuk ruang mekanik/elektrik.
Gambar 2.7: Tata Letak Lif pada Lobby dan Zona Layanan Lif
2.3. PERANCANGAN LIFT
Rancangan, instalasi, dan pemeliharaan untuk berbagai jenis peralatan lif sangat tergantung pada peraturan dan ketentuan daerah setempat. Di Indonesia rekomendasi penggunaan lif diberikan oleh Departemen Ketenagakerjaan, karena menyangkut kesehatan dan keselamatan kerja orang yang ada pada bangunan tersebut.
Ketentuan rancangan juga berkaitan dengan dimensi ruang mesin, akses yang diperlukan, pencahayaan dan ventilasi. Persyaratan dan peraturan mungkin berbeda antar daerah yang satu dengan yang lainnya. tetapi pada dasarnya menuntut disediakannya suatu sistem peralatan, baik yang manual maupun yang otomatis, sehingga lif dapat secara aman dioperasikan untuk kepentingan umum. Kapasitas atau daya angkut suatu sistem lif harus cocok dengan kebutuhan trans-portasi vertikal pada bangunan tertentu yang secara konsisten mengacu pada kriteria rancangan kualitas bangunan. Rancangan yang tepat dapat dilakukan
berdasarkan jumlah mesin, ukuran, dan kecepatannya. Meskipun demikian perhitungan perjalanan penumpang dilakukan berdasarkan anggapan yang diperoleh dari pengalaman atau pengamatan terdahulu.
Perhitungan harus dilakukan secara realistis terhadap kebutuhan sekarang dan per-kiraan di masa yang akan datang, mengingat sangat sulitnya kita melakukan modifikasi setelah sistem lif terpasang. Penyempumaan hanya mungkin dilakukan dengan mening-katkan sistem pengendalian, atau mungkin menambah kecepatan mesin lif. Secara ideal, lif dirancang untuk melayani beban puncak (peak atau rush hour).
2.3.1 Waktu Perjalanan Bolak Balik (T)
Waktu perjalanan bolak balik lif (Round Trip Time - RTT) adalah waktu yang dibutuhkan seseorang secara total, mulai dari masuk di lobby sampai ke lantai yang dituju. Untuk itu, perlu diperhitungkan dan dijumlahkan waktu yang diperlukan selama perjalanan tersebut:
a. Lif berhenti di lobby b. Pintu lif terbuka
c. Orang/Penumpang masuk ke dalam lif. d. Pintu lif tertutup
e. Lif bergerak sampai kecepatan maksimum
f. Lif melaju dalam kecepatan maksimum yang tetap g. Laju kecepatan lif menurun untuk berhenti
h. Pintu lif terbuka
i. Orang/Penumpang ke luar j. Pintu lif tertutup
Pada bangunan yang tidak begitu tinggi, sulit terjadi lif melaju dalam kecepatan maksimum yang tetap, karena sebelum mencapai kecepatan maksimum. laju kecepatan lif sudah menurun untuk berhenti di lantai tertentu. Buka tutup pintu lif merupakan bagian terbesar dari waktu yang diperlukan dalam RTT, karenanya akan lebih baik untuk menggunakan pintu dengan kecepatan buka-tutup yang tinggi atau menggunakan dua daun pintu.
Dari hal tersebut di atas, maka RTT untuk satu zona pelayanan, secara pendekatan terdiri dari:
b. Orang/Penumpang masuk dengan kecepatan 1,5 detik/orang. Jadi jika kapasitas lif adalah 'm'. maka dibutuhkan 1,5 m detik.
c. Pintu lif tertutup, membutuhkan waktu 2 detik.
d. Pintu lif membuka di setiap lantai, membutuhkan 2(n - 1) detik e. Orang/Penumpang ke luar di setiap lantai membutuhkan 1,5 m detik f. Pintu lif menutup di setiap lantai, membutuhkan 2(n - 2) detik
g. Perjalanan bolak balik
s n h( 1)
2
detik Maka jumlah waktu yang dibutuhkan:
detik s m s n s h T (2 4 )( 1) (3 4) Persamaan 2.1
di mana: h adalah jarak lantai ke lantai (m)
s adalah kecepatan rata-rata lif (m/detik) n adalah jumlah lantai yang dilayani lif m adalah daya angkut / kapasitas lif (orang)
Kecepatan lif untuk berbagai ketinggian bangunan dapat dilihat pada Tabel 2.1., sedangkan kapasitas lif dapat dilihat pada Tabel 2.2.
Tabel 2.1: Kecepatan Lif yang direkomendasi (m/det)
Jumlah Lantai Kecil Menengah Besar Lif Barang
Kantor 2 – 5 5 – 10 10 – 15 15 – 25 25 – 35 35 – 45 45 – 60 Diatas 60 1.25 2 2 2.5 -1.5 – 2 2 2 – 2.5 2.5 – 3.5 4 – 5 5 – 6 6 – 7 -2 2.5 2.5 – 3.5 3.5 5 6 7 – 8 9 1 1.5 2 2.5 2.5 3.5 4 4 Gedung Parkir 2 – 5 5 – 10 10 – 15 1.25 1 – 2 1.5 – 2.5 Hotel 2 – 6 6 – 12 12 – 20 20 – 25 25 – 30 30 – 40 40 – 50 0.5 – 1.5 1 – 2.5 2 – 2.5 2.5 – 3.5 3.5 – 4 3.5 – 5 5. – 6 1 1.5 2 2.5 2.5 3.5 4 Apartemen, Asrama/ Rumah Sakit 2 – 6 6 – 12 12 – 20 20 – 25 25 – 30 0.5 1 1.5 – 2.5 2 – 2.5 2.5 1 1 1 1.5 1.5
Tabel 2.2: Rekomendasi Kapasitas Lif (kg)
Jumlah Lantai Kecil Menengah Besar Lif Barang
Kantor Parkir Komersial Hotel Apartemen Rumah Sakit 1250/1500 1250 1600 1500 1000/1250 1000 1500/1600 1500 1600 1600 1250 1500 1600/2000 1600 2000 1600 1500 2000 2000/3200 -2000/4000 2000 -2000
Catatan: Kapasitas Lif (kg) 1000 1250 1500 1600 2000
Kapasitas Penumpang (Orang) 12
17 20 23 28
Meskipun kecepatan lif bisa mencapai 9 m/detik, pada umumnya penggunaan lif dibatasi pada kecepatan 7 m/detik, agar tidak mendekati kecepatan gravitasi bumi (9,8 m/detik). Hal ini dimaksudkan untuk menghindari rasa tidak nyaman (mual) bagi penumpang lif.
2.3.2 Beban Puncak Lift
Beban puncak lift dilakukan berdasarkan perhitungan empiris terhadap jumlah penghuni gedung yang harus dapat diangkat oleh lif yang tersedia dalam lima menit pada waktu tersibuk di bangunan tersebut.
Sebagai batasan, biasanya ditentukan dalam persentase (%) jumlah penghuni gedung, sebagaimana tertera dalam Tabel 2.3.
Tabel 2.3: Persentase Beban Puncak lif di Indonesia
Jenis Bangunan % x PenghuniBangunan Penghuni Bangunan (PB)Perkiraan
Kantor Apartemen Hotel 4 3 5 4 m2lantai netto/orang 3 m2lantai netto/orang 5 m2lantai netto/orang
Dua kriteria yang digunakan untuk mengukur kualitas kinerja lif: a. Waktu Tunggu (WT)
Waktu Tunggu (waiting interval) adalah waktu maksimum, yang diukur dalam detik, antara pemanggilan lif (ditekannya tombol lift) di lobby utama lantai dasar pada beban puncak dan datangnya lif (terbukanya pintu lif).
N T
WT Persamaan 2.2
dimana :N adalah jumlah lif.
Ketentuan perkiraan batas waktu tunggu tertera pada tabel berikut. Tabel 2.4: Waktu Tunggu yang ideal
Jenis Bangunan WT (detik)
Kantor/Rumah Sakit Apartemen Hotel Asrama Kampus 25 – 45 50 – 70 40 – 70 60 – 80 40 – 60 b. Kapasitas Daya Angkut (Handling Capacity – HC)
Kapasitas lif tergantung dari kapasitas muat lif dan frekuensi masul/keluarnya penumpang, yang diukur untuk jangka waktu lima menit waktu tersibuk bangunan itu.
Daya angkut suatu lif dalam lima menit ditentukan berdasarkan:
T N m T N m WT m HC 5.6. 5.60. . 300. . Persamaan 2.3
Dimana : m adalah daya angkut/kapasitas lif (75 kg/orang)
WT adalah waktu tunggu (detik)
N adalah jumlah lif
T adalah waktu perjalanan bolak balik lif (detik) 2.3.3 Jumlah Lif
a. Jumlah lift utuk Satu Zona Pelayanan (Single Zone Service)
Jika beban puncak lif dalam suatu bangunan dihitung berdasarkan perkiraan dari jumlah penghuni gedung (lihat tabel 2.3), maka beban puncak lif (BPL): PB n L L P
BPL ( bruto inti) Persamaan 2.4
Di mana : P adalah % beban puncak lif (lihat Tabel 2.3) Lbruto adalah luas bruto per lantai (m2)
Linti adalah luas inti bangunan (m2)
Lnetto adalah luas netto per orang
PB adalah perkiraan penghuni bangunan (Tabel 2.3) Jumlah lif yang dibutuhkan :
HC BPL
N Persamaan 2.5
dengan mensubstitusikan Persamaan 2.3 dan Persamaan 2.4 dalam Persamaan 2.5 maka diperoleh :
m PB T P L N netto 300 Persamaan 2.6
Sebagai perkiraan, jumlah lif untuk kantor adalah satu lif untuk tiap 5.000 m2 luas lantai bruto, dan tambahan satu lif barang untuk 5 – 6 lif
penumpang. Jumlah dan kapasitas lif untuk bangunan perkantoran dapat juga diperoleh dengan bantuan Tabel 2.5.
Untuk tabel 2.5 dapat digunakan dengan pertimbangan klasifikasi hotel, dan hal-hal sebagai berikut:
1) Untuk setiap 100 kamar perlu disediakan sati lift barang.
2) Untuk pelayanan yang memuaskan, setiap 75 kamar dilayani oleh satu lif. 3) Kapasitas lif yang digunakan minimal untuk 16 orang.
4) Lif yang digunakan harus mampu mengangkut barang bawaan tamu yang berat (koper atau meja saji makanan).
5) Ruang kamar tidak boleh berdekatan dengan ruang mesin lif.
Tabel 2.5: Perkiraan Jumlah dan Kapasitas Lif (Bangunan Perkantoran)
Lantai Yang Dilayani
Luas Lantai Bruto (x 100 m2)
4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 18 4c 5c 5d 6d 17 4b 4d 5c 5e 6d 16 3c 4c 5c 5d 6d 6e 15 3b 4b 4d 5c 5d 6d 6e 14 4b 4c 4d 5c 5d 6d 6e 13 3b 4b 4c 4d 4d 5d 5e 6d 6d 12 3b 3c 4b 4c 4d 4e 5d 5e 6d 6e 11 3b 3b 3c 4b 4c 4d 4e 5b 5d 5e 6d 6d 10 2e 3b 3c 4b 4c 4c 4d 5c 5d 6e 6c 6d 9 2c 2d 3b 3c 3d 4b 4b 4c 4d 4e 5c 5d 8 2a 2c 2d 3a 3b 3b 3c 3d 4b 4b 4c 4d 7 2a 2a 2b 2c 2e 3a 3b 3b 3c 3d 4b 6 2a 2a 2a 2a 2v 2c 2d 2e 3a 3b 5 1c 1c 2a 2a 2a 2a 2a 2a 2a 2b 4 1b 1b 1b 1c 1c 1c 1c 2 2a
Catatan: a = kapasitas lif 10 orang b = kapasitas lif 12 orang c = kapasitas lif 16 orang d = kapasitas lif 20 orang e = kapasitas lif 24 orang
Bangunan yang tingginya kurang dari empat lantai harus dilengkapi dengan minimal dua buah tangga, ramp, eskalator, atau lif untuk
penyandang tuna daksa.
Untuk luas lantai bruto > 25000 m2, perlu ada satu lif barang
Untuk apartemen, perlu diperhatikan :
1) Bagi setiap 300 unit perlu disediakan satu lif barang
2) Lif barang diperlukan jika blok hunian di mana pintu utama berada ditempatkan pada ketinggian dua lantai dari lantai dasar.
3) Kapasitas lif yang digunakan minimal untuk 12 orang. 4) Unit hunian tidak boleh berdekatan dengan ruang mesin lif.
b. Jumlah lift utuk Banyak Zona Pelayanan (Multi Zone Service) Perhitungan Jumlah Lif dilakukan untuk setiap zona pelayanan : 1) Perhitungan untuk zona 1 dengan n1lantai yang dilayani:
Waktu perjalanan bolak balik zona 1 (T1) adalah:
1 1 1 1 1 4 3 1 4 2 s m s n s h T ( )( ) ( ) Persamaan 2.7
di mana: h adalah jarak lantai ke lantai (m)
s1 adalah kecepatan rata-rata lif (m/detik) pada zona 1
n1 adalah jumlah lantai yang dilayani lif pada zona 1
m adalah daya angkut / kapasitas lif (orang) dan jumlah lif yang dibutuhkan pada zona 1 (N1) adalah
m PB T P n L N netto 300 1 1 1 Persamaan 2.8
dengan waktu tunggu di zona 1 (WT1) adalah:
1 1 1 N T WT Persamaan 2.9
2) Perhitungan untuk zona 2 dengan n2lantai yang dilayani:
Waktu perjalanan bolak balik zona 2 (T2) adalah:
2 2 2 2 2 1 1 4 3 1 4 2 1 2 s m s n s h s n h T ( )( )( ) ( ) Persamaan 2.10
di mana: h adalah jarak lantai ke lantai (m)
s2 adalah kecepatan rata-rata lif (m/detik) pada zona 2
n2 adalah jumlah lantai yang dilayani lif pada zona 2
m adalah daya angkut / kapasitas lif (orang) dan jumlah lif yang dibutuhkan pada zona 2 (N2) adalah
m PB T P n L N netto 300 2 2 2 Persamaan 2.11
dengan waktu tunggu di zona 2 (WT2) adalah:
2 2 2 N T WT Persamaan 2.12
Dengan pendekatan yang sama, dapat dihitung waktu perjalanan bolak balik (T), jumlah lif (N) dan waktu tunggu (WT) untuk bangunan dengan pembagian zona lebih dari dua (dengan maksimum empat zona).
c. Lif Ekspres
Bangunan yang menggunakan sku lobby, semestinya dilengkapi dengan lif ekspres yang melayani orang/penumpang dari loby utama ke sky lobby di atasnya, atau dari sky lobby yang satu ke sky lobby yang lainnya.
Waktu perjalanan bolak balik untuk mencapai sky lobby adalah :
e e e s n h m T (3 8)2 ( 2) Persamaan 2.13
di mana: h adalah jarak lantai ke lantai (m)
se adalah kecepatan rata-rata lif ekspres (m/detik)
ne adalah jumlah lantai yang dilalui lif ekspres
m adalah daya angkut / kapasitas lif ekspres (orang) dan jumlah lif ekspres yang dibutuhkan adalah
m PB T P n L N netto e e e 300 Persamaan 2.14
dengan waktu tunggu lif ekspres adalah:
e e e N T WT Persamaan 2.15 2.3.4 Kebutuhan Ruang Lif
a. Ruang Luncur Lif (Lift Shaft)
Secara umum kebutuhan ruang lif adalah:
1) Luas ruang luncur, antara 0,30 – 0,36 m2/orang.
2) Luas kereta lif(car lift), antara 0,18 – 0,22 m2/orang
Dalam rancangan biasa diambil nilai 0,20 m2/orang dengan jarak antar kereta kurang lebih 0,30 meter (Gambar 2.8).
Gambar 2.8: Dimensi Ruang Luncir Lif b. Ruang Lobby Lif
Jarak bebas koridor dan bukan lif dapat dilihat pada gambar 2.9.
Gambar 2.9: Dimensi dan Jarak Bebas Lobby Lif c. Dimensi Ruang Mesin Lif/Pit
Dimensi ruang mesin perlu disediakan untuk motor penggerak traksi yang ditempatkan tepat di atas ruang luncur lif, dan pit perlu disediakan di dasar ruang luncur menahan mendaratnya lif di lantai dasar (Gambar 2.10).
BAB III
SPESIFIKASI SISTEM PLAMBING DAN POMPA MEKANIK
3.1 SISTEM PEMIPAAN PADA BANGUNAN TINGGI
Instalasi pipa pada bangunan tinggi digunakan untuk mengalirkan air bersih (panas dan dingin), air es untuk keperluan tata udara, air untuk keperluan pencegahan dan penang-gulangan bahaya kebakaran, pembuangan air kotor, air buangan, air hujan, dan air limbah. Di samping itu, ada pula jaringan pipa untuk ventilasi dan saluran gas, dan di rumah sakit terdapat pula saluran oksigen.
Jenis pipa yang digunakan juga beragam jenisnya: air bersih dialirkan melalui pipa besi (steel pipe atau black pipe), pipa galvanis, pipa Poly Vinyl
Chloride (PVC) atau pipa tembaga (copper pipe). Pipa yang digunakan untuk
keperluan pencegahan dan penanggulangan bahaya kebakaran (hidran dan sprinkler), dituntut untuk mampu menahan tekanan tertentu.
Jaringan pipa diatur menurut arah vertikal (riser, down feed, atau stand pipe) yang disembunyikan dalam saluran di dalam tembok (shaft) sebagaimana terlihat pada Gambar 3.1, sedangkan pada arah horizontal, biasanya ditempatkan di atas langit-langit atau di lantai instalasi (lantai mekanik dan elektrik).
Untuk membedakan antara pipa yang satu dengan yang lainnya, maka pipa diberi warna dan diberi arah alirannya (Tabel 3.1.)
Tabel 3.1: Warna Pipa Air Bersih dan Air Kotor
Fungsi Pipa Warna Pipa
Air Bersih Air Buangan Air Limbah Air untuk Sprinkler
Biru Kuning
Coklat Merah
Gambar 3.1: Tipikal Saluran Pipa Air Bersih dan Air Kotor 3.1.1 Jaringan Pipa Air Bersih
Untuk memasok kebutuhan air bersih pada bangunan tinggi, biasanya digunakan pompa agar air dapat disalurkan ke tempat yang letaknya jauh dari permukaan tanah dan jika bangunannya sangat tinggi, maka Jaringan pemipaan dibagi atas beberapa zona.
Diagram distribusi air bersih (air dingin dan air panas), pasokan untuk kotak hidran dan menara pendingin, serta Jaringan air buangan untuk bangunan tinggi yang dibagi atas beberapa zona (zona utilitas biasanya melayani sekitar 15 lantai), diperlihatkan pada Gambar 3.2.
Kotak Hidran Kotak Hidran Kotak Hidran Kotak Hidran Kotak Hidran Kotak Hidran Kotak Hidran Kotak Hidran Kotak Hidran Pompa Tekan (PT) PendingainMenara Pompa Pompa Tangki Air Bawah Tanah Meter Air Pasokan Utama Air Buangan Tangki Air Tangki Air Tangki Air Pemanas Air (PA) PA PA AD = Air Dingin AP = Air Panas AB = Air Buangan AP AD AD AB AP AP AB AB ZONA 1 ZONA 2 ZONA 3 Lantai Dasar Lantai 15 Lantai 30 Lantai 45 NOTASI: PT Jaringan Sprinkler (JP) JP JP JP JP JP JP JP JP
Gambar 3.2: Skema Pemipaan untuk Bangunan Tinggi.
Pada umumnya terdapat dua sistem pasokan air bersih yaitu sistem pasokan ke atas (up feed), (baik dengan atau tanpa tangki penampung air), dan pasokan ke bawah (down feed).
Pada sistem pasokan ke atas (up feed) air bersih dialirkan dengan tekanan pompa (Gambar 3.3.a. dan gambar 3.3.b.), sedangkan pada pasokan ke bawah (down feed), pompa digunakan untuk mengisi tangki air di atas atap. Dengan menggunakan sakelar pelampung, pompa akan berhenti bekerja,
jika air dalam tangki sudah penuh dan selanjutnya air dialirkan dengan memanfaatkan gaya gravitasi (Gambar 3.3.c.). Pompa yang biasa digunakan untuk bangunan tinggi adalah pompa sentrifugal (Gambar 3.4.).
Gambar 3.3: Sistem Pasokan Air Bersih
Selanjutnya, air panas biasa dihasilkan oleh peralatan pemanas air, dari yang kapasitasnya kecil (Gambar 3.5.) sampai dengan yang kapasitasnya besar (Gambar 3.6.). Pemanas air ini ada yang menggunakan pembakaran gas, listrik, atau tenaga surya (Gambar 3.7).
Gambar 3.5: Pemanas Air Kapasitas Kecil
Gambar 3.6: Pemanas Air Kapasitas Besar
Pada bangunan yang membutuhkan pasokan air dengan mutu terjamin (bebas dari polutan) atau penggunaan air yang didaur ulang, seperti halnya pada keperluan untuk kolam renang, maka pasokan air perlu disaring melalui alat penyaring bertekanan (pressure filter) sebagaimana terlihat pada Gambar 3.8. Selanjutnya, pasokan air tersebut ditambahi kaporit untuk mematikan kuman-kuman yang ada melalui alat pemberi kaporit (Gambar 3.9.).
Gambar 3.8: Alat Penyaring Air Bertekanan
3.1.2 Jaringan Pipa Air Kotor dan Pipa Ventilasi
Dalam praktek, gambar pemipaan biasanya menggunakan diagram isometrik, seperti yang terlihat dalam jaringan pemipaan air buangan, air kotor dan ventilasi (Gambar 8.10.). Penggunaan diagram isometrik dimaksudkan agar secara rinci kita dapat mengetahui jenis, jumlah dan ukuran pipa beserta alat penyambungnya.
Gambar 3.10: Diagram Isometrik Saluran Air Kotor dan Ventilasi
Untuk lebih menjelaskan bagaimana pipa-pipa pembuangan air kotor dan pipa ventilasi tersebut dihubungkan satu dengan lainnya, Gambar 3.11. memperlihatkan salah satu contoh aplikasi yang biasa dilakukan pada bangunan tinggi.
Gambar 3.11: Percabangan Jaringan Pipa Air Kotor dan Ventilasi Untuk menghindari masuknya udara yang baunya tak sedap, maka pada saluran pembuangan dipasang perangkap udara, berupa genangan air yang tenahan akibat adanya sekat perangkap (menggunakan konsep pipa bejana berhubungan). Perangkap udara dapat berbentuk pipa, tabung (Gambar 3.12.), bak kontrol (Gambar 3.13), atau leher angsa (Gambar 3.14). Perangkap udara ini juga dapat mencegah masuknya binatang kecil (kecoa, tikus, dll.) ke dalam ruangan melalui pipa.
Gambar 3.12: Perangkap Udara dan Tabung
Gambar 3.13: Bak Kontrol
Selanjuttnya, untuk air buangan atau air kotor yang mengandung lemak (air buangan dari dapur perlu digunakan perangkap minyak (grease trap) seperti yang terlihat pada Gambar 3.15. Dan untuk memudahkan perbaikan atau pembersihan saluran pipa, jika terjadi penyumbatan oleh benda-benda atau kotoran, pada saluran pembuangan disediakan lubang kontrol untuk pembersihan (clean out), yang dapat ditempatkan pada lantai atau berupa sumbat pada ujung pipa (Gambar 3.16.).
Gambar 3.15: Perangkap Lemak
Untuk menghemat penggunaan pipa vertikal, lubang saluran pemipaan (plumbing shaft) untuk fiistribusi air bersih, air kotor. air buangan, dan pipa ventilasi biasanya diletakkan di dalam dinding di antara dua ruang WC yang bersebelahan (Gambar 3.17.)
Gambar 3.17: Tipikal Letak Lubang Saluran Pemipaan 3.1.3 Peralatan Pengolah Air Limbah
Pada bangunan rumah tinggal, air buangan/air kotor dibuang melalui septik tank dan selanjutnya dialirkan kembali ke dalam tanah melalui rembesan. Namun, pada bangunan tinggi, penggunaan septik tank dirasa kurang memadai, oleh karenanya uniumnya digunakan sistem pengolahan air limbah (SPT - Sewage Treatment Plant).
Pada dasarnya sistem pengolah limbah terdiri dari dua proses utama, yaitu proses mekanik, berupa penyaringan, pemisahan, dan pengendapan, serta proses biologi/kimia, berupa proses aktivitas bakteri yang memanfaatkan O2,
dari udara (aerob) dan proses netralisasi cairan dengan asam atau memasukkan bahan kimia untuk oksidasi, seperti aerasi dengan menggunakan molekul O2, proses pengolahan endapan aktif (activated sludge process), dan
pemusnahan kuman (desinfection) dengan menggunakan kaporit (chlorine). Secara skematik, proses pengolahan limbah dapat dilihat pada Gambar 3.18.
Gambar 3.18: Skema Tipikal Sistem Pengolahan Limbah 3.1.4 Sampah
Corong pembuangan sampah dibuat serong ke bawah agar sampah yang dibuang dari atas tidak masuk ke lantai di bawahnya. Sampah akan mengisi bagian bak dan terdesak oleh sampah yang dibuang belakangan. Setelah penuh, sampah akan dipadatkan dan selanjutnya bak penampungan yang sudah penuh akan dibuang keluar bangunan dengan kendaraan (Gambar 3.19). Untuk mengurangi volume sampah yang dibuang, saluran sampah dilengkapi dengan alat pembakar sampah (incinerator), di mana sampah disalurkan melalui pengangkut sampah spiral ke dalam ruang pembakaran,
dan sampah yang dibuang berupa abu (Gambar 3.20). Penampungan sampah dengan alat pembakaran ini baik unruk sampah yang mengandung bakteri (seperti yang ada pada rumah sakit).
Gambar 3.19: Saluran Pembuangan Sampah 3.1.5 Sumur Resapan
a. Sumur Resapan Biasa
Sebagai salah satu upaya melestarikan air tanah, kita membuat sumur resapan yang berfungsi sebagai tempat untuk menampung dan menyimpan curahan air hujan, sehingga dapat menambah kandungan air tanah.
Berdasarkan Surat Keputusan Gubernur DKI Jakarta nomor 115 tahun 2001, sumur resapan dapat ditempatkan di areal pekarangan, pada
daerah yang tidak mudah longsoran/atau terjal, dan tidak dibuat pada lokasi timbunan sampah dan/atau tanah yang mengandung bahan pencemar. Oleh sebab itu, lokasi sumur resapan diharapkan sejauh mungkin dari resapan septik tank dan hanya boleh diisi oleh air hujan yang langsung tau melalui atap atau talang bangunan (Gambar 3.21).
Gambar 3.20: Alat Pembakaran Sampah b. Sumur Resapan Tirta sakti
Perbedaan yang mendasar antara sumur resapan yang umumnya dikenal (SRB - Sumur Resapan Biasa) dengan sumur resapan Tirta Sakti (SRTS) terletak pada optimasi dan pendayagunaannya, serta manfaat yang diperolehnya. SRTS merupakan sumur resapan yang dirancang berdasarkan kondisi setempat, sehingga model SRTS untuk penggunaan umum tidak dapat dibuat. Namun demikian, secara prinsip
SRTS mempunyai kesamaan dalam hal gagasan dasar dan proses kerjanya.
Gambar 3.21: Sumur Resapan Biasa
Pada SRB (Gambar 8.20.) yang dibuat secara benar, sumur hanya bertungsi pada musim penghujan, di mana pasokan air diperoleh dari curah hujan yang kemudian dialirkan ke lapisan tidak kedap air melalui sumur resapan. Pada musim kemarau, di mana tidak ada pasokan air hujan, lapisan yang tadinya terisi air akan kembali kosong, disebabkan karena penguapan dan/atau pemompaan sumur-sumur, sehingga akan mengakibatkan terjadinya rongga-rongga di dalam lapisan tidak kedap air dan berpotensi untuk diisi oleh air laut (intrusi atau kemungkinan terjadinya penurunan muka tanah, yang disebabkan oleh berkurangnya rongga-rongga di dalam tanah akibat tertekan oleh beban di atasnya, baik yang berasal dari bangunan maupun kendaraan.
Pada SRTS, di kala musim hujan, sebagaimana halnya SRB, pasokan air diperoleh dari air hujan. Mengingat SRTS mampu mengalirkan air hujan pada beberapa lapisan tanah di bawahnya, baik pada lapisan tidak kedap air, maupun lapisan akifer (aquifer), maka permukaan tanah terhindar dari genangan air yang diakibatkan oleh jenuhnya tanah permukaan dan/atau perkerasan. Pada musim kemarau, di mana pasokan air ke sumur resapan tidak ada/berkurang, maka untuk mengganti pasokan air hujan digunakan air limbah rumah tangga
(limbah domestik) yang sudah disaring (difilter). Proses filtrasi ini dilakukan dengan menggunakan kotak Tirta sakti, sebagai bagian integral dari SRTS. Dengan demikian SRTS dapat berfungsi sepanjang tahun, baik pada waktu musim hujan maupun musim kemarau, sehingga rongga-rongga dalam lapisan tanah yang tidak kedap air dan lapisan akifer selalu terisi pengganti air tanah (air tawar) yang hilang akibat pemompaan dan/atau penguapan.
Untuk menjamin agar air laut tidak mengisi rongga-rongga di dalam lapisan tanah tidak kedap air dan/atau lapisan akifer, rancangan SRTS yang dilengkapi dengan bak penampungan air tawar (yang telah difilter). Bak ini dimaksudkan agar dapat menampung sejumlah air dengan volume yang cukup besar sebelum mengalirkannya secara vertical melalui pipa yang diameternya jauh lebih lebih kecil dibandingkan dengan diameter bak penampung di atasnya. Hal ini dimaksudkan agar dihasilkan tekanan hidrostatik yang cukup tinggi pada lubang bukaan dan/atau ujung pipa yang berada pada lapisan tanah tidak kedap air dan/atau lapisan akifer di bawahnya. Tekanan ini diperoleh akibat gaya gravitasi yang berasal dari berat sendiri air dalam bak penampungan, yang besar tekanannya dapat dihitung dengan menggunakan rumus-rumus hidrolika. Akibat tekanan yang cukup besar tadi, maka tekanan air tawar ini akan berpengaruh hingga radius tertentu.
Mengingat rancangan SRTS mengacu pada kondisi setempat, maka untuk memperoleh pemanfaatan SRTS yang optimal diperlukan penyelidikan tanah (soil investigation tests). Dari hasil contoh tanah (boring log) dapat diketahui secara rinci jenis dan ketebalan lapisan tanah yang dibutuhkan untuk menentukan koefesien rembesan tanah (pada lapisan tidak kedap air) beserta kedalaman dan tebal lapisannya. Hal ini diperlukan untuk dapat menentukan kedalaman pipa yang perlu dipasang. dimensi pipa dan jumlah serta besaran lubang pada pipa Selanjutnya diperlukan data-data mengenai kebutuhan debit pasokan air, curah hujan rata-rata dan tingkat penguapan pada musim kemarau, untuk dapat menentukan volume bak penampungan. Kondisi limbah domestik, dalam hal ini yang sudah berupa grey water perlu dianalisis untuk menentukan rancangan kotak Tirta Sakti, baik dalam penentuan jumlah bilik, dimensi kotak dan bahan filter yang digunakan (Gambar
8.22). Kotak Tirta Sakti, seperti diuraikan sebelumnya, berfungsi sebagai tempat untuk menyaring air kotor/limbah rumah tangga (limbah domestik). Kotak ini terdiri dari beberapa sekat yang saling berhubungan dengan kapasitas kotak antara 15-20 m3. Pada kotak ini, akibat adanya reaksi dan proses un-aerob, terjadi akumulasi panas yang suhunya mencapai sekitar 50°C (thermophilic digestion). Pada suhu sekitar 50°C konsentrasi oksigen yang terlarut menjadi sangat rendah (5,6 ppm), dan dapat membunuh mahluk hidup, termasuk bakteri coli yang biasanya banyak terdapat dalam air limbah domestik.
Gambar 3.22: Sumur Resapan Tirta Sakti
Meskipun air hujan boleh secara langsung diserap ke dalam tanah, namun mengingat kota-kota besar yang penuh dengan kendaraan dan sampah berpotensi bagi pencemaran air hujan yang ada dalam selokan, maka aliran air hujan yang ada dalam selokan, jika hendak dialirkan ke dalam sumur resapan, perlu melalui proses penyaringan yang di-lakukan di dalam kotak Tirta Sakti, agar mutu air yang masuk ke dalam
tanah tidak tercemar. Pemeriksaan atas mutu air perlu dilakukan agar lapisan akifer tidak dicemari oleh unsur-unsur yang dapat menyebabkan terkontaminasinya sumber daya air. Pencemaran air pada lapisan akifer harus dihindarkan, mengingat kontaminasi air pada lapisan tanah ini dapat berdampak buruk di kemudian hari dan sangat sulit diperbaiki. Persyaratan mutu baku limbah cair didasarkan pada Surat Keputusan Gubemur Kepala Daerah Ibu Kota Jakarta No. 582 tahun 1995 (Baku Mutu Limbah Cair Industri/ Perusahaan/Badan) dan Peraturan Menteri Kependudukan dan Lingkungan Hidup No. 03/MENKLH/1991, sedang persyaratan air bersih yang digunakan adalah persyaratan yang dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan yang mengacu pada Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 416 tahun 1990 (Air Bersih). Pemeriksaan mutu air perlu dilakukan pada dua titik; pertama pada selokan sebelum air dialirkan ke dalam kotak Tirta Sakti (inlet), dan kedua pada bilik terakhir kotak Tirta Sakti (outlet) sebelum air tersebut dialirkan ke bak kedua, yang merupakan bak penampungan, sebelum air tersebut 'disuntikkan' ke dalam lapisan tidak kedap air dan/atau lapisan akifer.
3.1.6 Integrasi Pemipaan
Adakalanya mesin pendingin air yang biasa digunakan untuk sistem tata udara berfungsi pula sebagai pemanas air, khususnya yang menggunakan
Absorption Chiller/Heater.
Gambar berikut ini menunjukkan integrasi pemipaan yang digunakan untuk air dingin, air es, air hangat, air panas, pipa pembuangan, dan pemasok bahan bakar, serta cerobong asap (Gambar 3.21).
3.2 PERANCANGAN KEBUTUHAN AIR BERSIH
Perhitungan perkiraan kebutuhan air dimaksudkan untuk memperoleh gambaran mengenai volume tangki penyimpanan air yang perlu disediakan dalam suatu bangunan dan kapasitas pompa yang diperlukan.
3.2.1 Kebutuhan Keseharian
1) Jumlah standar pemakaian rata-rata per hari per unit (orang, tempat duduk atau tempat tidur, dan lain-lain), seperti terlihat pada Tabel 3.2. untuk air dingin dan Tabel 3.3. untuk kebutuhan air panas.
2) Jumlah dan jenis peralatan saniter yang digunakan (Tabel 3.5.) 3) Beban peralatan saniter (Tabel 3.6.)
Gambar 3.23: Integrasi Sistem Pemipaan Tabel 3.2: Kebutuhan Air Bersih (Air Dingin) per hari
Fungsi Bangunan Unit Kebutuhan (liter)
Apartemen Bioskop Orang Kursi 135 – 225 15
Hotell Orang 185 – 225 Kantor Restoran Rumah Sakit Orang Kursi Tempat tidur 45 – 90 80 280 – 470 Sekolah Tanpa asrama Dengan Asrama Murid Murid 45 – 90 135 – 225
Tabel 3.3: Kebutuhan Air Panas per hari
Fungsi Bangunan Unit Kebutuhan (liter)
Apartemen
Dengan’shower’
Dengan bak mandi
Orang Orang 45 135 Rumah Sakit Pasien Paramedis/dokter Pengunjung Laundry Orang Orang Orang Kg cucian 180 90 10 20**) Hotel Dengan’shower’
Dengan bak mandi Karyawan Pengunjung Kolam renang Restoran/Dapur Laundry Orang Orang Orang Orang Orang Orang Kg cucian 70 – 90 135 25 – 45 15 45 5*) 20**) Kantor Karyawan Pengunjung Orang Orang 45 5 – 10
Catatan: *) 3 x jumlah tempat tidur + 2 x jumlah kursi restoran **) 3 – 7 kg per tempat tidur (untuk rumah sakit)
3 – 5 kg per kamar (untuk hotel)
3.2.2 Kebutuhan Boiler
Jika kebutuhan akan air panas mencapai jumlah yang cukup besar. seperti pada hotel, maka air panas yang dihasilkan diperoleh dari Boiler, dengan kebutuhan air:
jam PK liter
Vairboiler 20/ / / Persamaan 3.5
Kebutuhan air dapat juga dihitung dengan pendekatan luasan bangunan, seperti tertera pada Tabel 3.4. berikut ini.
Tabel 3.4: Kebutuhan Air per m2Bangunan
Apartemen Hotel Kantor Pertokoan Rumah Sakit 20 30 10 5 15
Tabel 3.5: Jumlah Peralatan Saniter Minimum
Jenis Apartemen Kantor Hotel
Kloset 1 unit/keluarga < 10 orang = 1 unit 11 – 30 orang = 2 unit 31 – 50 orang = 3 unit 51 – 75 orang = 4 unit 76 – 105 orang = 5 unit 106 – 145 orang = 6 unit Dst. 1 unit untuk setiap tambahan 40 orang
1 unit/kamar
Wastafel 1 unit/keluarga < 20 orang = 1 unit 21 – 40 orang = 2 unit 41 – 60 orang = 3 unit 61 – 80 orang = 4 unit 81 – 100 orang = 5 unit 101 – 125 orang = 6 unit 126 – 150 orang = 7 unit 151 – 175 orang = 8 unit 176 – 205 orang = 9 unit Dst. 1 unit untuk setiap tambahan 30 orang
1 unit/kamar
Bak Mandi 1 unit/keluarga 2 unit/kantor 1 unit/kamar Shower 1 unit/keluarga 2 unit/kantor 1 unit/kamar Bak Cuci 1 unit/keluarga
(dapur)
1 unit/kantor 1 unit/lantai
Urinoir -- < 75 orang = 1 unit 76 – 185 orang = 2 unit 186 – 305 orang = 3 unit Dst. 1 unit untuk setiap tambahan 120 orang
--Bak Cuci (pakaian)
1 unit/keluarga --
--Tabel 3.6: Beban Peralatan Saniter
Jenis Peralatan Saniter Daya Buang Kebutuhan Air
Kloset Wastafel Bak Mandi Shower
Bak Cuci (dapur) Urinoir
Bak Cuci (pakaian) Bidet Pipa Tegak Diameter 1¼ inci Diameter 1½ inci Diameter 2 inci Diameter 2½ Inci Diameter 3 inci Diameter 4 inci 120 liter/menit 60 liter/menit 90 liter/menit 60 liter/menit 90 liter/menit 120 liter/menit 60 liter/menit 90 liter/menit 60 liter/menit 240 liter/menit 720 liter/menit 1260 liter/menit 1800 liter/menit 15000 liter/menit 10,0 liter/menit 5,0 liter/menit 7,5 liter/menit 5,0 liter/menit 7,5 liter/menit 10,0 liter/menit 5,0 liter/menit 7,5 liter/menit
Diameter 5 inci Diameter 6 inci Diameter 8 inci Diameter 10 inci Diameter 12 inci Hidran Diameter 3 inci Diameter 4 inci Diameter 5 inci Diameter 6 inci 33000 liter/menit 57000 liter/menit 108000 liter/menit 168000 liter/menit 252000 liter/menit 70 liter/menit 130 liter/menit 200 liter/menit 300 liter/menit
Atau kebutuhan dihitung berdasarkan pendekatan penggunaan peralatan saniter, maka kebutuhan air dapat ditentukan berdasarkan Tabel 3.7.
Tabel 3.7: Kebutuhan Air Peralatan Saniter
Jenis Bangunan penggunaan (liter)Volume air tiap
Kloset Wastafel Bak Mandi Shower
Bak Cuci (dapur) Urinoir
Bak Cuci (pakaian)
20 5 110 40 25 2 75
3.2.3 Kebutuhan Pencegahan dan Pengendalian Kebakaran
Sprinkler dan hidran membutuhkan cadangan air yang diperhitungkan untuk jangka waktu selama 30 menit. Selang waktu ini diambil dengan asumsi bahwa jika api belum juga padam, maka petugas pemadam kebakaran sudah tiba di lokasi.
liter sprinklerVairsprinkler 18 30 Persamaan 3.1
liter hidranVairhidran 400 30 Persamaan 3.2
3.2.4 Kebutuhan Tata Udara
Pada sistem tata udara, air diperlukan untuk air es yang disirkulasikan dari
chiller, AHU, cooling tower dan kembali lagi ke chiller. Di samping itu, air
juga dibutuhkan untuk menurunkan suhu air pada proses yang terjadi di
TR menit liter
Vairsirkulasi 813 / / Persamaan 3.3
sirkulasi air pendingin
air V
V 1,52% Persamaan 3.4
Tabel 3.8: Perkiraan Populasi
Fungsi Bangunan Unit Orang
Apartement Unit hunian 4,50 – 5,00
Kantor Karyawan Pengunjung M2 M2 0,10 – 0,15 0,01 – 0,015 Sekolah Murid Pengajar Karyawan Pengunjung -Murid Murid Murid
Sesuai dengan yang ada 0,05 0,01 0,02 – 0,05 Hotel Tamu Karyawan Restoran Pengunjung Tempat tidur Tempat tidur Kursi Tempat tidur 1,00 2,50 – 3,00 2,00 – 4,00 0,02 – 0,05 Rumah Sakit Pasien Paramedis/dokter Karyawan Pengunjung Tempat tidur Pasien Pasien Pasien 1,00 10 – 15 25 – 30 0,50 – 1,00
Jadi kebutuhan air bersih :
AC air kebakaran air keseharian air boiler air d V V V V q Persamaan 3.6
di mana : Vairkeseharian Vairdingin Vairpanas hidran air sprinkler air kebakaran air V V V pendingin air sirkulasi air AC air V V V
Dengan diketehuinya kebutuhan air, qd’ maka kapasitas tangki penampungan air dapat dihitung:
Volume tangki bawah tanah :
d
bt q
V 40% Persamaan 3.7
Volume tangki atas :
d
a q
Volume tangki penyimpanan air minimal 60 m3 dan volume tambahan tangki
penyimpanan air bawah tanah berdasarkan luas lantai bangunan dapat pula dilakukan sebagaimana yang terlihat pada Tabel 3.9.
Tabel 3.9: Perkiraan Volume Tambahan Tangki Bawah Tanah
Fungsi Bangunan X luas lantai bangunan(m3) Apartemen Hotel Perbelanjaan Perkantoran Rumah Sakit 0.012 – 0.015 0.015 – 0.020 0.005 – 0.006 0.008 – 0.010 0.015 – 0.020
Sedang kapasitas pompa diambil pada kebutuhan air pada waktu puncak (Qmax), yaitu : ) / (m menit T q c Qmaks d 3 Persamaan 3.9
di mana : T adalah waktu pemakaian air rata-rata per hari:
T = 8 – 10 jam untuk kantor, hotel, apartemen & rumah sakit T = 5 – 7 jam untuk restoran, sekolah & gedung pertemuan c adalah faktor pemakaian pada jam puncak (c = 1,5 – 2,0) Dan kapasitas pompa :
KW H Q P maks t air 0,163 1,2 Persamaan 3.10di mana: air adalah berat jenis air (= 1 kg/liter)
h adalah efisiensi motor pompa (h = 0,40 – 0,70)
Ht adalah tinggi angkat total
1,3 h n
Ht Persamaan 3.11
di mana: h adalah jarak dari lantai ke lantai
BAB IV
SPESIFIKASI SISTEM PENGKONDISIAN UDARA DAN
VENTILASI
4.1 MUTU UDARA DALAM BANGUNAN
Pada bangunan, ventilasi dan orientasi matahari adalah dua faktor utama yang terkait dengan kepedulian kita terhadap lingkungan, karena secara langsung hal ini berhubungan dengan tingkat kenyamanan. kesehatan, dan kenikmatan penghuni atau pengguna bangunan. Ventilasi dibuat demi menjamin tersedianya udara luar yang masuk ke dalam ruangan. sebab jika pertukaran udara cukup baik, penghawaan dan pengkondisian udara dalam bangunan tidak begitu diperlukan. Orientasi matahari berhubungan dengan cahaya yang dapat dimanfatkan dalam ruang, agar tidak diperlukan pencahayaan buatan. Namun perlu pula dipertimbangkan agar radiasi panas dapat dikurangi, sehingga suhu udara tidak meningkat, yang berakibat diperlukannya pengkondisian udara atau ventilasi mekanik.
Kedua faktor tersebut. ventilasi dan orientasi matahari, akan terkait pada rancangan bangunan. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana agar penggunaan energi untuk penghauaan/pengkondisian udara dan pencahayaan buatan dapat dibuat seefisien mungkin.
Dewasa ini perancangan dan penyelenggaraan bangunan yang dilakukan dengan pendekatan teknologi modern dimaksudkan untuk menghasilkan tingkat kenyamanan dan kenikmatan yang tinggi bagi pengguna atau penghuni bangunan. Namun demikian. tanpa disadari, bangunan modern juga mendatangkan permasalahan yang terkait dengan menurunnya mutu lingkungan.
Metode dan penggunaan bahan bangunan yang digunakan saat ini banyak yang dapat berdampak pada kesehatan manusia dan pencemaran lingkungan, mengingat bahwa sebagian besar bahan bangunan yang digunakan merupakan bahan buatan pabrik yang diolah dan dibuat dengan menggunakan
campuran bahan kimia atau menggunakan sumber daya alam secara tidak teratur dan tidak terencana.
Bangunan modern yang dirancang agar dapat melindungi manusia dari gangguan luar (ruaca, binatang dan kejahatan manusia), merupakan suatu wadah fisik yang terlindungi dari cuaca dengan atap yang tidak bocor, jendela yang tertutup agar tidak terkontaminasi dengan udara yang sudah tercemar, dan dilengkapi dengan penghawaan dan pencahayaan buatan serta diperindah dengan penutup lantai, dinding, dan plafon yang terbuat dari bahan-bahan sintetik. Tanpa disadari, bangunan modern seperti ini memberi peluang menurunnya mutu udara di dalam bangunan. akibat pertukaran udara yang kurang baik.
Mutu udara di dalam bangunan bertambah buruk dengan digunakannya obat pembasmi serangga (nyamuk, kecoa, dan serangga lainnya), tanaman bias di dalam ruangan, asap rokok dan debu, serta gas beracun lainnya yang berasal dari dapur dan garasi. Penurunan mutu udara di dalam ruangan menyebabkan meningkatnya jumlah anak yang terkena penyakit asma dan alergi. Hal ini disebabkan sebagian besar akitivitas manusia dilakukan di dalam ruangan (manusia menggunakan sekitar 90% waktunya di dalam ruangan, baik di rumah maupun di tempat kerja/kantor).
Penyebab menurunnya mutu udara di dalam bangunan yang dapat dikategorikan sebagai penyebab polusi udara dalam ruang adalah:
a. Campuran Bahan Organik yang mudah menguap
Ini terdiri atas bahan alamiah dan sintetik yang mengandung karbon hidrogen pada tingkat molekuler, baik berupa benda padat, cair maupun gas. Campuran ini mudah menguap pada temperatur kamar, seperti: gas methan, gas hidrokarbon, kapur barus, parafin, formaldehida, aseton, karbit, lilin, minuman keras, deterjen, cat dan serat sintetik. Campuran ini banyak ditemukan dalam bentuk kayu lapis, papan nartikel (particle board), perekat, cat, fiberglass, cairan pembersih, karpet, plastik dan tenunan.
b. Pestisida
Secara teknis, ada pestisida yang dapat dikategorikan sebagai bahan campuran organik yang mudah menguap, tetapi penggunaannya dapat membawa dampak yang lebih luas pada kesehatan manusia dan