• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV KRITERIA OVERMACHT TERHADAP KEPEMILIKAN

PERJANJIAN RUMAH SUSUN

D). Berdasarkan ruang lingkupnya

2.3.3. Jenis-Jenis Perikatan dan/atau Perjanjian

Jenis-jenis perikatan oleh CST Kansil dibedakan menjadi (enam) jenis, yaitu:

(1). Perikatan Sipil (Civile Verbentenissen) atau Perikatan Wajar (Natuurlijke Verbentennissen).

(2). Perikatan yang dapat dibagi (deelbare verbintenissen) dan Perikatan yang tak dapat dibagi (ondeelbare verbintenissen);

(3). Perikatan Pokok (Principale atau hoofdverbintenissen) dan Perikatan Tambahan (Accessoire atau Nevenverbintenissen);

(4). Perikatan Spesifik (Spesifieke Verbintenissen) dan Perikatan Generik (Genericke Verbintenissen);

(5). Perikatan Sederhana (Eenvoudige Verbintenissen) dan Perikatan Jamak (Meervoudige Verbintenissen) ;

(6). Perikatan Murni (Zuivere Verbintenissen) dan Perikatan Bersyarat

(Voorwaardelijk Verbintenis).138

Yahya Harahap membedakan perjanjian menjadi sembilan (9) jenis, meliputi:

1. Perjanjian Positif dan Negatif

2. Perjanjian Sepintas lalu (voorbygaande) dan berlangsung terus (voortdurende)

3. Perjanjian Alternatif (Alternatif Verbintenis )

137

Pembedaan overmacht berdasarkan ruang lingkupnya merupakan pembedaan yang diberikan oleh Mariam Darus Badrulzaman. (Mariam Darus Badrulzaman et.al,op.cit,hal.28).Berbeda dengan Mariam Darus Badrulzaman, Munir Fuady menggunakan istilah force majeure untuk menerjemahkan overmacht. Oleh Munir Fuady, force majeure terhadap suatu kontrak dapat dibedakan menjadi: 1). Dilihat dari segi sasaran yang terkena force majeure, dibedakan menjadi: (a). Force Majeure Objektif disebut juga dengan physical impossibility dan (b).Force Majeure Subyektif; (2). Dilihat dari segi kemungkinan pelaksanaan prestasi dalam kontrak, force majeure dibedakan atas: (a). Force Majeure Absolut atau sering disebut dengan impossibility dan (b). Force Majeure Relatif atau sering disebut dengan impracticality; dan (3). Dilihat dari segi jangka waktu berlakunya force majeure dibedakan atas: (a). Force Majeure Permanen dan (b). Force Majeure Temporer. Munir Fuady I, op.cit, hal. 114-117.

138

4. Perjanjian Kumulatif atau Konjungtif (cumulatieve of conjungtieve) 5. Perjanjian Fakultatif

6. Perjanjian Generik dan Spesifik

7. Perjanjian yang dapat dibagi dan tidak dapat dibagi (deelbare en ondeelbare verbintenisen)

8. Perjanjian hoofdelijke atau solider

9. Perjanjian bersyarat (voorwaardelijke verbintenis).139

Perikatan-perikatan tersebut oleh Tan Thong Kie dibedakan menjadi dua kelompok yaitu:

(1). Jenis Perikatan berdasarkan Prestasi, dibagi menjadi; a. Perikatan dengan Prestasi Positif dan Prestasi Negatif.

b. Perikatan dengan Prestasi yang memakan waktu tidak lama atau prestasi terus-menerus.

c. Perikatan dengan prestasi sederhana dan prestasi kompleks.

d. Perikatan dengan prestasi yang dapat dibagi dan prestasi yang tidak dapat dibagi.

e. Perikatan dengan Prestasi yang ditentukan atau Prestasi yang tidak ditentukan. Prestasi yang tidak ditentukan dibedakan menjadi Perikatan Alternatif dan Perikatan Generik.

f. Perikatan dengan Prestasi Prinsipal atau Assesor. (2). Jenis Perikatan Berdasarkan waktu prestasi

a. Perikatan Bersyarat

Syarat dalam ilmu hukum dibedakan menjadi: 1. Syarat positif dan syarat negatif;

2. Syarat yang bergantung pada salah satu pihak; 3. Syarat menangguhkan dan syarat batal.

b. Perikatan dengan atau tanpa ketentuan waktu140

Berbeda dengan Tan Thong Kie, R.Setiawan membedakan perikatan menjadi 3 kelompok yaitu:

1). Isi daripada prestasinya

a). Perikatan positif dan negatif.

b). Perikatan sepintas lalu dan berkelanjutan. c). Perikatan alternatif.

d). Perikatan fakultatif.

e). Perikatan generik dan spesifik.

f). Perikatan yang dapat dibagi dan tidak dapat dibagi. 2). Subyek-subyeknya

a). Perikatan solider atau tanggung renteng.

139

Yahya Harahap, 1986, Segi-segi Hukum Perjanjian, Alumni, Bandung, hal.34-45.

140

b). Perikatan principle atau accessoire. 3). Mulai berlakunya dan berakhirnya perikatan

a). Perikatan bersyarat dan

b). Perikatan dengan ketetapan waktu.141

Adapun menurut Mariam Darus Badrulzaman, et.al, membedakan perikatan dalam empat kelompok, yaitu:

(1). Berdasarkan obyeknya (prestasinya), perikatan dibagi menjadi: (a). Perikatan untuk memberikan sesuatu;

(b). Perikatan untuk berbuat sesuatu; (c). Perikatan untuk tidak berbuat sesuatu; (d). Perikatan mana suka (alternatif); (e). Perikatan fakultatif;

(f). Perikatan generik dan spesifik;

(g). Perikatan yang dapat dibagi (deelbaar) dan yang tidak dapat dibagi (ondeelbaar);

(h). Perikatan yang sepintas lalu (voorbijkgaande) dan terus menerus (voortdurende).

(2) Berdasarkan subyeknya, perikatan dibedakan menjadi:

(a). Perikatan tanggung-menanggung (hooflijk atau solider); dan (b). Perikatan pokok (principle) dan perikatan tambahan (accessoir). (3) Berdasarkan daya kerjanya, perikatan dibedakan menjadi:

(a). Perikatan dengan ketetapan waktu; dan (b). Perikatan bersyarat.

(4) Berdasarkan Undang-Undang, perikatan dibedakan menjadi:

(a). Perikatan untuk memberikan sesuatu, berbuat sesuatu, dan tidak berbuat sesuatu;

(b). Perikatan bersyarat;

(c). Perikatan dengan ketetapan waktu; (d). Perikatan manasuka (alternatif); (e). Perikatan tanggung-menanggung;

(f). Perikatan yang dapat dibagi dan tidak dapat dibagi; dan (g). Perikatan dengan ancaman hukuman.142

Bertolak dari pembedaan penggolongan perikatan dari para ahli, pada dasarnya pandangan para ahli terhadap perikatan tersebut tidak jauh berbeda karena substansi dari perikatan itu diatur dalam KUHPerdata, berikut uraian dari perikatan-perikatan yang dimaksud, antara lain:

141

R.setiawan, op.cit, hal.34. 142

1. Perikatan untuk memberikan sesuatu.

Mengenai perikatan untuk memberikan sesuatu, Undang-Undang tidak merumuskan gambaran yang sempurna. Pasal 1235 KUH Perdata, menyatakan bahwa tiap-tiap perikatan untuk memberikan sesuatu adalah termaktub kewajiban diberi utang untuk menyerahkan kebendaan yang bersangkutan dan untuk merawatnya sebagai seorang bapak rumah yang baik, sampai pada saat penyerahan. Dari ketentuan ini dapat disimpulkan bahwa perikatan untuk memberikan sesuatu adalah perikatan untuk menyerahkan (leveren) dan merawat benda (prestasi), sampai pada saat penyerahan dilakukan.143

2. Perikatan untuk berbuat sesuatu

Debitor bertanggung jawab atas perbuatannya yang tidak sesuai dengan ketentuan yang diperjanjikan, sebagaimana ditentukan dalam Pasal 1239 KUH Perdata bahwa tiap-tiap perikatan untuk berbuat sesuatu, atau tidak berbuat sesuatu, apabila si berutang tidak memenuhi kewajibannya, mendapatkan penyelesaiannya dalam kewajiban, memberikan penggantian biaya, rugi dan bunga. Selanjutnya Pasal 1240 KUHPerdata menyatakan:

Pada saat itu si berpiutang adalah berhak menuntut akan penghapusan segala sesuatu yang telah dibuat berlawanan dengan perikatan dan bolehlah ia minta supaya dikuasakan oleh Hakim untuk menyuruh menghapuskan segala sesuatu yang telah dibuat tadi atas biaya si berutang dengan tidak mengurangi hak menuntut penggantian biaya, rugi dan bunga jika ada alasan untuk itu.144

143

Titik Triwulan Tutik II, op.cit, hal. 210. 144

Pasal 1240 KUHPerdata mengandung pedoman untuk melakukan eksekusi riel pada perjanjian untuk tidak berbuat sesuatu. Mariam Darus Badrulzaman, op.cit, hal.15-16. Lihat Pula Titik Triwulan Tutik II, op.cit, hal.211-212

3. Perikatan untuk tidak berbuat sesuatu

Tidak berbuat sesuatu artinya tidak melakukan perbuatan seperti yang telah diperjanjikan, sebagaimana disebutkan pada Pasal 1242 KUH Perdata bahwa jika perikatan itu bertujuan untuk tidak berbuat sesuatu, maka pihak yang manapun jika yang berbuat berlawanan dengan perikatan, karena pelanggaran itu dan karena itupun saja, berwajiblah ia akan penggantian biaya, rugi dan bunga.145

4. Perikatan Murni (zuivere verbintenis) dan Perikatan Syarat (Voorwaardelijke Verbintenissen).

Perikatan Murni yaitu Perikatan yang pemenuhan prestasinya tidak digantungka pada suatu syarat (condition) dan seketika itu juga wajib dipenuhi,146 sedangkan perikatan syarat147 dalam Hukum Perikatan adalah suatu peristiwa yang belum terjadi tetapi akan mungkin terjadi, yang menentukan apakah perikatan itu dapat diterima atau tidak.

Syarat dalam beberapa ilmu hukum harus memenuhi beberapa ketentuan, yaitu:

a. Harus mengenai suatu peristiwa yang belum terjadi b. Peristiwa itu harus belum tentu terjadi

c. Harus mungkin tidak bertentangan dengan kesusilaan, tidak bertentangan dengan undang-undang

d. Tidak boleh semata-mata tergantung pada kemauan seorang yang terikat148

145

Mariam Darus Badrulzaman, op.cit, hal. 18, Lihat pula Titik Triwulan Tutik, op.cit, hal.212.

146

Titik Triwulan Tutik II, op.cit, hal.208 dan 213. Lihat pula C.S.T Kansil, op.cit, hal. 248.

147

Yahya Harahap, op.cit, hal.45. Lihat pula diantaranya: Tan Thong Kie, op.cit, hal.375, C.S.T Kansil, op.cit, hal.248, R.Setiawan, op.cit, hal.44.

148

Tan Thong Kie, op.cit, hal.376. Bandingkan pula dengan Yahya Harahap, op.cit, hal. 47.

Menurut Setiawan, perikatan bersyarat dapat digolongkan kedalam:

1). Perikatan bersyarat yang menangguhkan, perikatan baru berlaku setelah syaratnya dipenuhi, diatur dalam ketentuan Pasal 1268 KUHPerdata.

2). Perikatan bersyarat yang menghapuskan, diatur dalam ketentuan Pasal 1265 KUHPerdata, perikatan hapus jika syaratnya dipenuhi: a). Keadaan akan dikembalikan seperti semula seolah-olah tidak

terjadi perikatan

b). Hapusnya perikatan untuk waktu selanjutnya149

5. Perikatan Sederhana (Eenvoudige verbintenissen) dan Perikatan Jamak (meervoudige Verbintenissen).

Perikatan sederhana yaitu, perikatan yang hanya ada satu prestasi yang harus dipenuhi oleh debitor. Adapun perikatan jamak yaitu perikatan yang pemenuhannya oleh debitor lebih dari satu macam prestasi. Perikatan jamak dibagi menjadi antara lain:

(a). Perikatan kumulatif atau konjungtif (cumulatieve verbintenissen atau kumulatieve of conjunctieve )yaitu perikatan bersusun atau prestasi yang dibebankan terhadap debitur terdiri dari bermacam-macam jenis.

(b) Perikatan boleh pilih/Manasuka/Perikatan alternative (Alternatieve Verbintenis)

Perikatan alternatif adalah suatu perikatan dimana debitur berkewajiban melaksanakan satu dari dua atau lebih prestasi yang dipilih baik menurut pilihan debitur, kreditur atau pihak ketiga dengan pengertian bahwa pelaksanaan daripada salah satu prestasi mengakhiri perikatan.150

(c). Perikatan Fakultatif (facultatieve verbintenissen) yaitu perikatan yang telah ditentukan prestasinya, akan tetapi jika karena sesuatu sebab tidak dapat dipenuhi, maka debitor berhak memberi prestasi yang lain.Suatu perikatan fakultatif adalah suatu perikatan yang obyeknya hanya berupa suatu prestasi dimana debitur dapat menggantikan dengan prestasi lain. Perjanjian fakultatif hanya mempunyai satu objek prestasi151

149

R.Setiawan,op.cit hal.44-45. Lihat pula diantaranya Yahya Harahap,op.cit, hal.47-48, Titik Triwulan Tutik, op.cit,hal.208-209, Tan Thong Kie, op.cit, hal.376, Mariam Daruz Badrulzaman, et.al, op.cit, hal.36-42.

150

Lihat diantaranya R.Setiawan, op.cit, hal.35, Yahya Harahap, op.cit, hal.35.

151

6. Perikatan dengan ketetapan waktu (verbintenis met tijdsbepaling)

Menurut Pasal 1268 KUH Perdata, bahwa suatu ketetapan waktu tidak menangguhkan perikatan, melainkan hanya menangguhkan pelaksanaannya. Perikatan dengan ketetapan waktu, mengakibatkan kreditor tidak berhak untuk menagih pembayaran sebelum waktu yang diperjanjikan itu tiba, tetapi apa apa yang telah dibayar sebelum waktunya tiba tidak dapat dimintakan kembali.152 Perikatan dengan ketetapan waktu, dibedakan menjadi:

a). Ketentuan waktu yang menangguhkan, diatur dalam Pasal 1268 sampai dengan 1271 KUHPerdata .

b).Mengenai ketentuan waktu yang menghapuskan tidak/diatur oleh masing-masing secara umum. Dengan dipenuhinya ketentuan waktu, maka perikatan menjadi hapus. Perikatan dengan ketentuan waktu yang menghapuskan tidak berlaku surut. Jika waktunya telah dipenuhi maka debitur tidak lagi terikat akan tetapi prestasinya pada waktu yang lalu tidak perlu dikembalikan.153

7. Perikatan sepintas lalu (Voorbygaande) dan berkelanjutan/ berlangsung terus (Voortdurende)

Perikatan sepintas lalu yaitu dalam pemenuhan perikatan cukup hanya dilakukan dengan satuperbuatan saja dan dalam waktu yang singkat tujuan perikatan telah tercapai sedangkan perikatan berkelanjutan yaitu prestasinya bersifat terus menerus dalam jangka waktu tertentu.Disebut perjanjian sepintas lalu, apabila pemenuhan prestasi berlangsung sekaligus dalam waktu yang singkat dan dengan demikian perjanjianpun berakhir.Lain halnya pada

152

Lihat diantaranya Titik Triwulan Tutik, op.cit, hal.216 dan Abdulkadir Muhammad, op.cit, hal.46.

153

Lihat diantaranya R.Setiawan, op.cit, hal.47-48 dan Abdulkadir Muhammad, op.cit, hal.45.

perjanjian yang berlangsung terus. Disini kewajiban pemenuhan dan pelaksanaan prestasi berlangsung dalam jangka waktu yang lama.154

8. Perikatan Pokok (Principale, atau Hoofdverbintenissen) dan Perikatan Tambahan (accessoire atau nevenverbintenissen).

Perikatan Pokok, yaitu perikatan yang dapat berdiri sendiri tidak bergantung pada perikatan-perikatan lainnya; misal, jual beli, sewa menyewa sedangkan Perikatan Tambahan, yaitu perikatan yang merupakan tambahan dari perikatan lainnya dan tidak dapat berdiri sendiri.155

9. Perikatan spesifik (spesifieke verbintenissen) dan Perikatan Generik (genericke verbintenissen).

Perjanjian generik atau soort-verbintenis ialah perjanjian yang hanya menentukan jenis dan jumlah voorwerp atau benda/barang yang harus diserahkan debitur seperti yang diatur dalam Pasal 1392 KUHPerdata. Sesuai dengan ketentuan pasal diatas; pada perjanjian generikdebitur dalam memenuhi kewajibannya guna membebaskan dirinya atas pemenuhan prestasi. Lain halnya dengan perikatan spesifik (Pasal 1391KUHPerdata). Apabila benda yang menjadi objek perjanjian yang ditentukan hanya ciri-ciri khususnya saja, maka dinamakan perjanjian spesifik. Dengan kata lain Perikatan spesifik adalah perikatan yang secara khusus ditetapkan macamnya prestasi. 156

154

Lihat diantaranya R.setiawan, op.cit,hal.34, Yahya Harahap, op.cit, hal.34-35, Tan Thong Kie,op.cit, hal.369.

155

C.S.T Kansil, op.cit, hal.248. 156

Ibid,Lihat juga diantaranyaYahya Harahap, op.cit, hal.36-37. R.Setiawan, op.cit,hal.37.

10. Perikatan yang dapat dibagi (deelbare verbintenissen) dan Perikatan yang tidak dapat dibagi (ondeelbare verbintenissen).

Perikatan yang dapat dibagi (deelbabhre verbintenissen), yaitu perikatan yang menurut sifat dan maksudnya dapat dibagi-bagi dalam memenuhi prestasinya. Adapun Perikatan yang tidak dapat dibagi (ondeelbare verbintenissen) yaitu perikatan yang menurut sifat dan maksudnya tak dapat dibagi-bagi dalam melaksanakan prestasinya.157

Perjanjian dikatakan sebagai perjanjian yang tidak dapat dibagi disebabkan oleh dua hal :

1. Menurut Pasal 1296 KUH Perdata, bahwa perikatan tidak dapat dibagi-bagi, jika obyek dari pada perikatan tersebut yang berupa penyerahan sesuatu barang atau perbuatan dalam pelaksanaannya tidak dapat dibagi-bagi, baik secara nyata ataupun secara perhitungan.Oleh karena "sifat" prestasi tidak dapat dibagi-bagi dan objek prestasi mutlak tidak terbagi, maka sifat ondeelbare yang demikian dinamakan absolut ondeelbare atau individuitas necessaria 2. Berdasar kekuatan tujuan/maksud penjanjian.

Penjanjian ondeelbare yang didasarkan atas kekuatan tujuan atau maksud (strekking) disebut ondeelbar relative dan sering juga disebut individuitas obligatione. Untuk menentukan tujuan/maksud tadi dapat dilihat dari tiga segi yaitu dari maksud/tujuan para pihak sendiri, dari penentuan yang jelas dalam perjanjian dan dari hakekat perjanjian itu benar-benar tidak mungkin dibagi-bagi. Ondeelbare relatif yang didasarkan pada tujuan ini diatur dalam Pasal 1297 KUHPerdata.158 11. Perikatan Solider atau Tanggung Renteng (perjanjian Hoofdelijke/ solidary

obligation)

Perikatan tanggung renteng dapat terjadi apabila seorang debitur berhadapan dengan beberapa orang kreditor atau seorang kreditor beberapa

157

C.S.T Kansil, op.cit, hal.247. 158

Yahya Harahap, op.cit, hal.38-40. Bandingkan dengan R.Setiawan, op.cit, hal.39, Abdulkadir Muhammad, op.cit, hal.53, Titik Triwulan Turik, op.cit, hal.219-220, dan Subekti II, op.cit, hal.9.

orang debitor dalam hal ini setiap kreditor berhak atas pemenuhan prestasi seluruh utang dan jika prestasi tersebut sudah dipenuhi debitor dibebaskan dari utangnya dan perikatan hapus. Berdasarkan hal tersebut, maka perikatan tanggung renteng dibedakan menjadi:

a).Tanggung renteng aktif, yaitu setiap kreditur dari dua atau lebih kreditur-kreditur dapat menuntut keseluruhan prestasi dari debitur dengan pengertian bahwa pemenuhan terhadap seorang kreditur dapat menuntut keseluruhan prestasi dari debitur dengan pengertian bahwa pemenuhan terhadap seorang kreditur membebaskan debitur dari kreditur-kreditur lainnya .

b).Tanggung renteng Pasif, yaitu setiap debitur dari dua atau lebih debitur, debitur berkewajiban terhadap kreditur atas keseluruhan prestasi.Dengan dipenuhinya prestasi oleh seorang debitur, membebaskan debitur debitur lainnya.159

Dari uraian diatas, jika dicermati maka nampaknya terdapat perbedaan mendasar antara hoofdelijke dan ondeelbare, oleh Yahya Harahap perbedaan tersebut secara garis besar terbagi atas:

(1). Hoofdelijk bersumber dari persetujuan (overeenkomst) atau oleh karena ketentuan undang-undang; Ondeelbare bersumber dari sifat prestasi atau objek perjanjian.

(2). Hoofdelijk terletak pada subjeknya sedang pada ondeelbare terletak pada objeknya

(3).Sifat perjanjian hoofdelijk/solider adalah perjanjian yang berbentuk beberapa orang subjek. Setiap kreditur berhak menagih/menuntut pelaksanaan pemenuhan prestasi secara keseluruhan pada hoofdelijk aktif, dan pada hoofdelijk pasif setiap debitur berkewajiban memenuhi tagihan/tuntutan pelaksanaan prestasi perjanjian.160

12. Perikatan dengan Ancaman Hukuman

Ancaman hukuman dijelaskan dalam Pasal 1304 KUH Perdata bahwa ancaman hukuman itu ialah untuk melakukan sesuatu apabila perikatan tidak

159

R.Setiawan, loc.cit. Bandingkan dengan Yahya Harahap, op.cit, hal.43. 160

Yahya Harahap, op.cit, hal.41-42, Bandingkan dengan Tan Thong Kie, op.cit, hal.374.

dipenuhi, sedangkan penetapan hukuman menurut Pasal 1307 KUH Perdata adalah sebagai ganti kerugian karena tidak dipenuhinya prestasi. Pada dasarnya perikatan dengan ancaman hukuman memuat suatu ancaman terhadap debitor apabila ia lalai, tidak memenuhi kewajibannya. Syarat ancaman hukum (penal caluse) memiliki dua maksud, yaitu: (1) untuk memberikan suatu kepastian atas pekaksanaan isi perjanjian seperti yang telah ditetapkan dalam perjanjian yang dibuat para pihak; dan (2) sebagai usaha untuk menetapkan jumlah ganti kerugian jika betul-betul tejadi wanprestasi.161

Selain perikatan tersebut diatas terdapat juga pembedaan atas jenis-jenis persetujuan Obligatoir, diantaranya:

1. Persetujuan sepihak dan timbal-balik

Persetujuan merupakan perbuatan hukum bersegi dua atau jamak. Persetujuan timbal-balik adalah persetujuan yang menimbulkan kewajiban pokok kepada kedua belah pihak. Persetujuan sepihak adalah persetujuan dimana hanya terdapat kewajiban pada salah satu pihak saja.

2. Persetujuan dengan Cuma-cuma atau atas beban

Persetujuan atas beban adalah persetujuan dimana terhadap prestasi pihak yang satu terhadap prestasi pihak lain, antara kedua prestasi tersebut terdapat hubungan hukum satu dengan lainnya. Persetujuan dengan Cuma-cuma adalah persetujuan dimana salah satu pihak mendapatkan keuntungan dari pihak lain secara Cuma-cuma.

3. Persetujuan konsesuil, Riil dan formil

Persetujuan konsesuil adalah persetujuan yang terjadi dengan kata sepakat. Persetujuan riil adalah persetujuan, dimana selain diperlukan kata sepakat juga diperlukan penyerahan barang.

4. Persetujuan bernama, tidak bernama dan campuran

Persetujuan bernama adalah persetujuan-persetujuan dimana oleh undang-undang telah diatur secara khusus dalam Bab V s/d XVIII KUHPerdata, sedangkan persetujuan tidak bernama adalah persetujuan tidak diatur secara khusus.162

161

Mariam Darus Badrulzaman et.al, op.cit, hal.60, Titik Triwulan Tutik, op.cit, hal.220.

162