POKOK-POKOK PEMIKIRAN PARA FILSUF ANALITIS
F. John Langshaw Austin (1911-1960)
1. Jenis Ucapan (Utterances)
Austin membedakan antara dua macam ucapan yang acapkali kita jumpai dalam bahasa pergaulan, yaitu ucapan konstatif (Constative Utterances) dengan ucapan performatif (Performative Utterances). Kedua ucapan itu bukan saja berbeda pada aspek pengucapannya, akan tetapi juga situasi, prasyarat, dan implikasi yang
ditimbulkannya. Masing-masing ucapan terletak pada situasi tertentu, mengandung prasyarat tertentu bagi pengucapannya, serta menimbulkan implikasi tertentu pula bagi si penutur dan pendengarnya. Hal yang dipentingkan Austin adalah adalah kekhasan masing- masing ucapan dengan berbagai konsekuensi yang terkandung di dalamnya. Penelitian dan penyelidikan atas ciri khas setiap ucapan tersebut, menimbulkan cara pandang baru dari aliran Filsafat Bahasa Biasa, yaitu menempatkan si penutur (subjek) pada kedudukan yang lebih istimewa.
Ucapan Konstatif (Constative Utterance) adalah ucapan atau tuturan yang dipergunakan manakala digambarkan suatu keadaan faktual, dalam batas ini pandangan Austin masih sejalan dengan faham Atomisme Logis dan Positivisme Logis. Ucapan konstatif masih senada dengan pemikiran Wittgenstein I dan Ayer yang memberlakukan prinsip verifikasi untuk menggambarkan benar atau salahnya suatu pernyataan. Setiap ucapan konstatif ini mengandung suatu pernyataan yang memungkinkan si pendengar untuk menguji kebenarannya secara empiris, atau berdasarkan
pengalaman baik secara langsung atau tidak. Istilah ‖konstatif‖ ini dipergunakan Austin untuk menggambarkan semua pernyataan yang dapat dinilai benar atau salahnya (Austin,1962 : 3). Sebuah pernyataan dikatakan konstatif apabila menggambarkan keadaan faktual atau peristiwa yang dapat diperiksa benar atau salahnya. Seseorang dapat membuktikan kebenaran ucpan seperti itu dengan melihat, menyelidiki, ataupun mengalami sendiri hal-hal yang telah diucapkan si penutur. Austin mendasarkan pandangannya bahwa ―pada hakikatnya ucapan konstatif itu berarti membuat pernyataan yang isinya mengandung acuan historis atau peristiwa nyata‖ (Austin, 1962 : 3).
Bahasa pergaulan menurut Austin tidak hanya meliputi ucapan konstatif, karena ada macam ucapan yang lain, yaitu ucapan performatif. Ucapan performatif ini tidak dapat diperiksa benar atau salahnya, hal ini belum disinggung dan dibahas secara rinci oleh para tokoh analitika bahasa sebelumnya, sebab ‖selama ini kebanyakan filsuf (para pengikut Atomisme Logis dan Positivisme Logis) mengandaikan begitu saja bahwa ucapan yang dapat dipastikan benar atau tidak benarlah
yang bermakna‖ (Bertens, 1981 : 58). Austin memperkenalkan ucapan performatif untuk menjernihkan kesalahpahaman yang mudah terjadi dalam penentuan konsep makna bagi suatu ucapan.
Ucapan Performatif (Performative Utterance) menurut Austin berbeda dengan ucapan konstatif yang dapat memeriksa benar atau salahnya, dan oleh karena itu pula dapat ditentukan kandungan makna dari ucapan tersebut. Ucapan performatif tidak dapat diperlakukan seperti itu, karena itulah Austin menegaskan bahwa ucapan performatif tidak dapat dikatakan benar atau salah seperti halnya ucapan konstatif, melainkan layak atau tidaknya (happy or unhappy) untuk diucapkan oleh seseorang (Austin, 1962: 53). Ucapan performatif menjadi tidak layak, bukannya tidak bermakna manakala diucapkan oleh sembarang orang yang tidak berwenang atau tidak berhak mengucapkannya, dan tidak pula layak untuk diucapkan dalam sembarang keadaan. Peranan si penutur di dalam ucapan performatif ini dengan berbagai konsekuensi yang terkandung dalam isi ucapannya sangat diutamakan. Penjelasan yang lebih rinci tentang keutamaan si penutur itu dalam ucapan
performatif ini, dapat dilihat dalam contoh di bawah ini yang menjelaskan pemikiran Austin.
a. ―Saya bersedia menerima wanita ini sebagai istri yang sah‖.
b. ―Saya namakan kapal ini Ratu Elizabeth‖.
c. ‖Saya memberikan dan mewariskan jam ini kepada saudara saya‖
d. ‖Saya berani bertaruh 6 dolar besok hari akan hujan‖ (Austin, 1962 : 5)
Berdasarkan contoh di atas dapat dilihat bahwa peranan si penutur (subjek) bertautan erat dengan apa yang diucapkannya. Ini berarti, masalah utama yang terkandung dalam ucapn performatif adalah, apakah si penutur mempuyai wewenang (kewajaran / kelayakan) untuk melontarkan ucapan seperti itu. Ucapan ―saya bersedia menerima wanita ini sebagai istri saya yang sah‖ hanya layak dilontarkan di depan penghulu bagi mereka yang menikah secara Islami, namun tidak layak diucapkan hanya berdua tanpa saksi, tanpa penghulu, tanpa wali nikah. Seseorang yang tidak punya saham apapun dalam pembuatan atau pembelian sebuah kapal, tidak pula layak untuk menamakan kapal yang dimaksud
sebagai ‖Ratu Elizabeth‖. Pernyataan berikutnya tentang seseorang yang tidak pernah memiliki sebuah jam, maka tidak layak pula untuk melontarkan ucapan ‖saya memberikan dan mewariskan jam tangan kepunyaan saya ini kepada saudara saya‖. Ucapan performatif menurut pandangan Austin dapat dikenali melalui ciri- ciri berikut:
1) Diucapkan oleh orang pertama (seperti: ‖saya menamakan‖saya bersedia‖, ‖saya bertaruh‖), 2) orang yang mengucapkannya hadir dalam situasi
tertentu,
3) bersifat indikatif (mengandung pernyataan tertentu), 4) orang yang mengucapkannya terlibat secara aktif dengan isi pernyataan tersebut‖. (Austin, 1962 : 56- 57)
Keempat ciri tersebut bisa saja dikenakan bagi ucapan konstatif, namun penekanan utama dalam ucapan konstatif tidak terletak pada si penutur (subjek), melainkan pada objek tuturan, dalam hal ini peristiwa faktual. Ucapan performatif memberi penekanan utama pada si penutur dengan kelayakan pengucapannya. Kendatipun demikian keempat ciri tersebut belumlah
menjamin kelayakan suatu ucapan performatif. Ada beberapa prasyarat yang dibutuhkan agar ucapan performatif layak untuk diucapkan. Prasyarat yang diajukan Austin itu adalah:
1). Harus mengikuti prosedur yang lazim berlaku atau sesuai dengan kesepakatan dalam suatu lingkungan tertentu yang menimbulkan akibat tertentu pula, yang meliputi pengucapan kata yang pasti oleh orang-orang tertentu dalam keadaan yang pasti. Austin menegaskan dalam pernyataan berikut:‖There must exist an accepted conventional procedure having a certain conventional effect, that procedure to include the uttering of certain words by certain circumstances, and further‖ (Austin, 1962:14). (‖Harus ada prosedur yang sudah disepakati yang mengandung akibat pasti yang sudah disepakati pula, bahwasanya prosedur itu mencakup pengucapan kata yang pasti berdasarkan keadaan yang pasti, dan selanjutnya‖).
2). Mereka yang terlibat dalam situasi yang melingkupinya (seperti; janji, sumpah, penganugerahan, dan lain-lain) memang sudah selayaknya atau berkepentingan untuk mengucapkannya sesuai dengan
prosedur yang ditempuhnya. Austin menegaskan bahwa di saat seseorang berada dalam suatu situasi tertentu, maka hendaklah orang tersebut mengikuti prosedur yang berlaku dalam situasi tersebut (Austin, 1962: 15).
3). Prosedur itu harus dilaksanakan oleh semua pihak yang terlibat secara tepat. Austin menegaskan bahwa seluruh prosedur haruslah dijalankan oleh semua yang terlibat secara tepat, ‖The procedure must be executed by all participants both correctly‖ (Austin, 1962: 15).
Apabila salah satu dari prasyarat tersebut tidak dipatuhi atau dilanggar, maka Austin tidak mengatakan ucapan performatif itu salah, melainkan tidak layak (unhappy) diucapkan. Ucapan performatif yang tidak layak itu menurut Austin telah mengalami kegagalan (infelicities). Austin mengatakan hal itu sebagai berikut:‖the utterance is then, we may say, not indeed false but in general unhappy. And for this reason we call the doctrine of the things that can be and go wrong on the occasion of such utterances, the doctrine of the infelicities‖(Austin, 1962: 14). (‖Tuturan ini tidak dapat dikatakan salah, tetapi secara umum dikatakan tidak
bahagia. Berdasarkan alasan ini, maka ajaran tentang sesuatu yang dikatakan salah itu dinamakan sebagai ajaran tentang kegagalan").
Sebuah ucapan performatif yang tidak layak, lantaran tidak mengikuti prosedur yang lazim berlaku dalam lingkungan masyarakat tertentu, tak ubahnya dengan ‖seseorang yang kawin dengan seekor monyet, atau seorang pendeta yang membaptis beberapa ekor burung penguin‖ (Austin, 1962 : 24). Orang lain tidak dapat menyalahkan apabila ada seseorang yang melangsungkan perkawinannya dengan seekor monyet atau pun tindakan si pendeta yang membaptis burung- burung penguin. Orang lain hanya dapat mengatakan tindakan seperti itu tidak patut atau tidak layak dilakukan, karena kedua perbuatan itu tidak lazim berlaku dalam masyarakat. Pembahasan Austin mengenai ucapan performatif ini tidak begitu terpaku pada analisis konsep filsafat semata, bahkan dapat pula dipergunakan untuk menganalisis berbagai ucapan dalam kehidupan manusia sehari-hari.