• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jimat Kakek Lockyanto

Dalam dokumen Ketika Metta Memilih ebook (Halaman 76-83)

Temannya yang sesama penarik becak, berjalan mendekat dan ikut membaca selebaran yang tertempel di gerobak rokok itu.

“Betul Jay. Kayaknya dia pakai dukun tuh...,” kata tukang becak yang lain. “Kalau tahu tempat dukunnya, pasti saya samperin. Saya mau minta jimat keberuntungan, biar nama saya juga bisa muncul di kertas pengumuman pemenang undian seperti ini,” lanjutnya penuh semangat.

“Ya, nggak usah capek-capek narik becak, tinggal pasang togel atau kirim undian,” lanjut tukang becak yang dipanggil Jay oleh temannya itu.

Ibu tua pemilik gerobak rokok melongokkan kepala dari gerobak rokoknya, “Hei..., kalian berdua jangan asal fitnah ya? Kalian anak kemarin sore. Mangkal di sini baru seumur jagung, asal njeplak saja,” kata ibu tua pemilik gerobak rokok agak sewot.

“Mulut kamu harus disekolahin tuh.... Jangan sembarangan bilang Kakek Lockyanto pakai dukun, pakai jimat!” tambahnya.

78 Ketika Metta Memilih

kirim undian, nggak pernah dapet hadiah. Apa namanya kalau bukan pakai dukun atau pakai jimat keberuntungan?” kilah Si Jay.

Seorang anak laki-laki berseragam SD yang sedari tadi berdiri menanti angkot ikut mendengarkan percakapan dua tukang becak dan ibu tua pemilik gerobak rokok.

“Kalau kamu mau tahu cerita sebenarnya tentang Kakek Lockyanto, tanya kakek anak ini!” kata ibu tua pemilik gerobak rokok sambil menunjuk.

“Lho emangnya siapa anak ini? Cucu si kakek atau cucu dukun?” tanya Si Jay.

“Masih aja asal njeplak! Kakek anak itu salah satu orang lama di kompleks ini. Pasti dia tahu semua cerita tentang Kakek Lockyanto!” kata ibu tua pemilik gerobak rokok.

***

“Kek, Adi mau tanya. Kakek kenal nggak dengan Kakek Lockyanto yang tinggal di kompleks perumahan kita?” tanya Adi.

“Kenal, memang kenapa?” tanya Kakek Adi.

“Tadi siang waktu akan berangkat ke sekolah, Adi denger pembicaraan dua tukang becak dan ibu pemilik gerobak rokok di dekat gerbang kompleks perumahan. Kata tukang becak, Kakek Lockyanto itu sakti, sering dapet hadiah undian. Mungkin Kakek Lockyanto pakai jimat dari dukun. Si ibu marah dan bilang jangan asal fitnah. Kalau ingin tahu cerita sebenarnya tentang Kakek Lockyanto, tanya kakek Adi,” Adi menceritakan peristiwa tadi siang.

“Oh ya Kek, kok ibu itu kenal Adi dan kakek?” tanya Adi penasaran.

“Oh itu Ibu Kokom. Dulu ia jualan rokok di dalam kompleks, letaknya di ujung sana,” Kakek Adi menunjuk ke arah barat. “Waktu Adi masih kecil, saat sore, Kakek sering menggendong Adi keliling kompleks. Pas lewat gerobak rokok Ibu Kokom, Adi minta dibelikan permen atau makanan ringan lain. Dari sanalah Ibu Kokom kenal kita berdua. Namun karena sepi pembeli, akhirnya Ibu Kokom pindah jualan ke depan, dekat gerbang kompleks perumahan,” kata Kakek sambil menerawang jauh.

80 Ketika Metta Memilih

“Di dunia ini, banyak orang seperti dua tukang becak tadi. Susah melihat orang senang dan senang melihat orang susah. Melihat orang-orang mendapat kebahagiaan, jadi iri lalu menebar fitnah. Dalam ajaran Buddha, kamma-vipaka atau akibat perbuatan kita, bukan jatuh dari langit secara tiba-tiba. Adi tentu pernah mendengar ungkapan: apa yang kita tanam, itu yang akan kita petik. Pernah denger belum?” tanya Kakek Adi.

“Pernah Kek. Guru sekolah minggu juga pernah bilang seperti itu,” kata Adi.

“Nah... Kakek Lockyanto adalah orang yang sangat rajin menanam kebajikan. Beliau ini dokter. Semasa masih sehat dan praktik, beliau tidak pernah memasang tarif kepada pasiennya. Jika mampu, silakan bayar seikhlasnya. Jika tidak mampu, tak usah bayar. Bahkan obat pun diberikan secara gratis,” cerita Kakek Adi.

“Kakek Lockyanto dan istrinya tidak punya anak. Sekarang, Kakek Lockyanto dan istrinya hidup dari uang sewa ruang garasi mobil di sebelah rumahnya. Tapi hidup mereka tidak pernah kekurangan. Selalu saja ada bantuan yang datang pada saat dibutuhkan. Ada mantan pasien yang rutin mengirimkan uang untuk biaya hidup mereka. Ada tetangga

yang sering memberikan makanan buat mereka. Rumah orang pernah kemalingan, tapi rumah mereka aman-aman saja,” Kakek berhenti sejenak.

“Kakek ingat dulu waktu musim kemarau panjang. Pemerintah sudah mencoba hujan buatan. Cuaca sudah mendung beberapa hari, tapi di daerah sini tidak juga turun hujan. Siang itu cuaca mulai mendung, lalu kami warga kompleks dikejutkan dengan teriakan adanya kebakaran. Di blok tempat Kakek Lockyanto tinggal terjadi kebakaran. Warga mencoba memadamkan api sebisanya dan ada yang menelepon dinas pemadam kebakaran. Ajaibnya siang itu turun hujan deras. Berkat hujan deras dan bantuan dari mobil pemadam kebakaran, dua rumah menjelang rumah Kakek Lockyanto, api akhirnya berhasil dipadamkan. Rumah Kakek Lockyanto tidak terbakar.”

“Begitu juga saat terjadi kerusuhan Mei 1998. Saat itu banyak rumah orang keturunan Tionghoa dijarah, rumah mereka juga aman dari penjarahan karena dijaga warga sekitar,” cerita Kakek Adi.

“Adi, ketika kita mendengar sebuah kabar, apakah kabar baik atau kabar buruk, jangan cepat mengambil kesimpulan. Harus diteliti dulu. Asal ngomong dan mengeluarkan kata

82 Ketika Metta Memilih

bohong yang mengarah ke fitnah, itu menanam karma buruk. Meski tidak diucapkan pun, jika kita berpikir buruk tentang seseorang, kita menanam karma buruk lewat pikiran. Segala keberuntungan yang diterima Kakek Lockyanto bukanlah hal yang ajaib. Semua itu proses yang alami. Ibarat petani, Kakek Lockyanto telah banyak menanam padi, sekarang padinya sudah menguning, tinggal memanen. Dan... hebatnya, kebajikan Kakek Lockyanto tidak pernah berhenti. Beliau selalu ingat untuk menanam kebajikan setiap saat,” Kakek Adi mengisahkan.

“Kalau diperhatikan, nama awal beliau: Locky, mirip dengan kata Lucky, yang dalam bahasa Indonesianya berarti keberuntungan. Tapi itu bukanlah rahasia keberuntungan beliau. Jika ingin punya jimat keberuntungan seperti Kakek Lockyanto, caranya mudah saja. Selalu melakukan kebajikan, itulah rahasia jimat keberuntungan,” Kakek Adi mengakhiri ceritanya.

***

Catatan:

Cerpen ini terinspirasi dari kisah Dokter Lo Siauw Ging di Solo (bisa dibaca: http://rekor.blogspot.com/2013/11/dokter-lo- siauw-ging-mengabdi-tanpa.html) atau tautan singkatnya di: http://goo.gl/kHm5Pe

Bangunan ini besar dan kokoh, halamannya luas, lantainya cukup bersih. Jika ini rumah, pasti akan jadi tempat tinggal yang menyenangkan. Sayangnya ini adalah panti wreda atau orang awam lebih sering menyebutnya panti jompo. Tempat para lansia yang “dibuang” oleh keluarganya. Bisa jadi karena anak yang tak mau repot “mengurus” orangtuanya yang sudah tak berdaya atau mereka punya cukup banyak uang tapi tinggal sendirian tanpa sanak saudara. Di sinilah mereka berkumpul.

Dalam dokumen Ketika Metta Memilih ebook (Halaman 76-83)

Dokumen terkait