BAB II LANDASAN TEORI
A. Kajian Pustaka
1. Karakter
(motivations), dan keterampilan (skills) yang dimilikinya dengan
mencerminkan moralitas dan budi pekerti yang dapat terbentuk melalui lingkungan.
2. Pendidikan Karakter merupakan pendidikan yang sengaja dibuat untuk peserta didik dengan tujuan mengajarakan, menanamkan, mengembangkan dan mempraktikkan dalam kehidupannya tentang akhlak dan etika, sehingga ketika peserta didik dalam memaknai hidupnya diharapkan mampu menghasilkan sebuah keputusan yang bijak atas pertimbangan dari modal pendidikan yang diterima maupun dipelajarinya.
3. Program Penguatan Pendidikan Karakter merupakan program pendidikan yang dibentuk oleh pemerintah dengan berlandaskan pada pancasila yang dilaksanakan melalui satuan pendidikan dengan tujuan untuk memberikan
pedoman pada peserta didik ketika mengembangkan dirinya dalam berkarakter dengan mengintegrasikan nilai-nilai karakter yang termuat di dalamnya.
4. Program Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Kelas adalah salah satu program yang direncanakan dengan tujuan penanaman dan penguatan pendidikan karakter dengan memanfaatkan segala jalur yang berkaitan dengan kelas seperti pengelolaan kelas, penggunaan metode pembelajaran, proses pembelajaran di dalam kelas, pembiasaan literasi, dan layanan bimbingan dan konseling.
5. Program Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Budaya Sekolah merupakan program penguatan pendidikan karakter melalui jalur yang terfokus pada pembentukan iklim dan lingkungan sekolah, dengan tujuan untuk menimbulkan dampak positif bagi peserta didik dalam mengembangkan pendidikan karakter di tingkat satuan pendidikan.
6. Program Penguatan Pendidikan Karakter Masyarakat perencanaan program dalam bidang pendidikan yang melibatkan kerjasama dari pihak sekolah dengan pihak masyarakat atau pihak diluar sekolah yang memuat aktifitas dalam rangka memfasilitasi peserta didik untuk mengembangankan nilai-nilai karakter.
7. Sekolah Dasar adalah jenjang paling dasar pada pendidikan formal yang ditempuh dengan jenjang waktu enam tahun, mulai kelas I sampai dengan kelas VI.
8. Kecamatan Umbulharjo adalah salah satu kecamatan yang ada di kota Yogyakarta dengan ketinggian 113 meter dari permukaan laut, dengan luas wilayah +811,4800 Ha yang terletak di sisi selatan Kota Yogyakarta dan berbatasan dengan Kecamatan Mergangsan, Kecamatan Pakualaman, Kecamatan Kotagede, Kecamatan Bantul, dan Kecamatan Gondokusuman.
15 BAB II LANDASAN TEORI
Di dalam Bab II ini akan dibahas mengenai kajian pustaka, hasil penelitian yang relevan, kerangka berpikir, dan pertanyaan penelitian. Bagian-bagian tersebut akan dijabarkan sebagai berikut.
A. Kajian Pustaka 1. Karakter
Maksudin (2013: 3) berpendapat bahwa karakter adalah ciri khas setiap individu berkenaan dengan jati dirinya (daya qalbu), yang merupakan saripati kualitas batiniah/rohaniah, cara berpikir, cara berperila ku (sikap dan perbuatan lahiriah) hidup seseorang dan bekerja sama baik dalam keluarga, masyarakat, bangsa maupun Negara. Sedangkan Zuchdin (2013: 167) memahami bahwa karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang universal yang meliputi seluruh aktifitas manusia, baik dalam rangka berhubungan dengan Tuhannya, dengan dirinya, dengan sesama manusia, maupun dengan lingkungannya, yang terwujud dalam pikiran, perasaan, dan perkataan serta perilaku sehari-hari berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata karma, budaya, dan adat istiadat.
Sementara Koesoma (2010: 80) memahami bahwa karakter sama dengan kepribadian. Kepribadian dianggap sebagai ciri, atau karakteristik, atau gaya, atau sifat khas dari diri seorang yang bersumber dari
bentukan-bentukan yang diterima dari lingkungan, misalnya keluarga pada masa kecil, juga bawaan sejak lahir.
Dari pendapat para ahli di atas mengenai karakter, maka dapat disimpulkan bahwa karakter merupakan sebuah identitas atau ciri pada manusia yang mengacu secara rinci pada serangkaian sikap (attitudes), perilaku (behavior), motivasi (motivations), dan keterampilan (skills) yang dimilikinya dengan mencerminkan moralitas dan budi pekerti yang dapat terbentuk melalui lingkungan.
a. Hubungan Karakter dan Kepribadian
Florence (2006: 38) memaparkan bahwa kepribadian adalah keseluruhan perilaku seorang individu dengan sistem kecenderungan tertentu yang berinteraksi dengan serangkaian situasi. Maka dari itulah situasi diciptakan dalam pembelajaran harus diseimbangkan dengan kebiasaan dan tindakan seorang anak, sehingga terdapat perasaan yang memaksa atau tertekan dalam diri anak. Hal ini selaras dengan pendapat Gregory (dalam Sjarkawi, 2006: 13) yang mendefinisikan kepribadian adalah sebuah kata yang menandakan ciri pembawaan dan pola kelakuan seseorang yang khas bagi pribadi itu sendiri.
Dari pendapat para ahli di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa kepribadian yang dimiliki individu dapat mempengaruhi karakter yang dibentuk. Adanya perilaku yang sering dilakukan dalam kehidupan sehari-hari membuat kepribadian individu satu dengan yang lain tidaklah selalu sama. Individu yang memiliki kepribadian yang baik
akan memiliki peluang untuk membentuk karakter yang baik juga begitu pula sebaliknya.
b. Hubungan Karakter dan Moral
Sudarsono (1993: 159) mendefinsikan moral sebagai sesuatu yang berhubungan dengan norma-norma perilaku yang baik/benar dan salah menurut keyakinan-keyakinan etis pribadi atau kaidah-kaidah sosial, ajaran mengenai baik perbuatan dan kelakuan. Hal ini juga selaras dengan pendapat Megawangi (2007: 83) yang menjelaskan bahwa moral mengacu pada pengetahuan seseorang terhadap baik atau buruk sedangkan karakter lebih mengacu pada tabiat (kebiasaan) seseorang yang didorong langsung oleh otak.
Selain itu Ali & Asrori (2012: 136) juga memaparkan mengenai moral yang pada dasarnya berasal dari kata Latin mores yang artinya tata cara dalam kehidupan, adat istiadat, kebiasaan. Moral pada dasarnya merupakan rangkaian nilai tentang berbagai macam perilaku yang harus dipatuhi. Moral merupakan kaidah norma dan pranata yang mengatur perilaku individu dalam hubungannya dengan kelompok sosial dan masyarakat. Moral merupakan standar baik-buruk yang ditentukan bagi individu nilainilai sosial budaya dimana individu sebagai anggota sosial. Moralitas merupakan aspek kepribadian yang diperlukan seseorang dalam kaitannya dengan kehidupan sosial secara harmonis, adil, dan seimbang. Perilaku moral diperlukan demi
terwujudnya kehidupan yang damai penuh keteraturan, ketertiban, dan keharmonisan.
Dari pendapat para ahli di atas dapat ditarik kesimpulkan bahwa moral adalah sesuatu yang berhubungan dengan kebiasaan pada suatu lingkungan atau adat yang memuat tata cara perilaku kehidupan manusia yang baik dan buruk. Dengan adanya moral dapat mengajarkan manusia dalam berperilaku yang tidak merugikan orang lain karena moral memiliki sifat mengedepankan hak-hak manusia atau menghargai manusia sebagai ciptaan Tuhan yang memiliki akal budi maupun ahklak.
c. Hubungan Karakter dan Nilai
Isna (2001: 98) mendefiniskan nilai sebagai sesuatu yang bersifat abstrak, ideal, nilai bukan benda konkrit, bukan fakta, tidak hanya persoalan benar dan salah yang menuntut pembuktian empirik, melainkan sosial penghayatan yang dikehendaki, disenangi, dan tidak disenangi. Sedangkan Sjarkawi (2006: 29) menjelaskan nilai sebagai suatu “keharusan” yang mencerminkan kualitas terhadap suatu hal sehingga dapat menjadikan objek yang disukai, diinginkan, berguna, dan dihargai. Hal ini selaras dengan pendapat Wahana (2004: 84) yang memaparkan nilai sebagai daya tarik yang mempunyai peranan sebagai pendorong dan pengarah bagi pembentukan diri manusia melalui tindakan-tindakannya
Dalam kehidupan manusia, perilaku yang diciptakan individu satu dengan yang lainnya tidaklah selalu sama, hal ini disebabkan karena masing-masing individu memiliki pandangan dan tujuan sendiri-sendiri berdasarkan apa yang akan mereka capai. Untuk mengetahui makna dari perilaku-perilaku tersebut, manusia dapat menghubungkan suatu fenomena dengan fenomena lainnya atau suatu ilmu dengan ilmu lainnya yang selanjutnya diambil keputusan hal ini sering disebut dengan menilai. Nilai memiliki pengaruh pada pemikiran yang dibangun oleh individu terhadap pembentukan diri melalui penghayatan keyakinan yang mendasar pada pilihannya. Jika individu mampu memahami nilai dengan melibatkan ilmu mengenai kemanusiaan seperti moral, budi pekerti atau ilmu-ilmu yang berkaitan dengan sikap dan perilaku manusia, maka karakter individu yang terbentuk akan mencerminkan pada cara berpikir dan berperilaku yang berkualitas dengan mununjukan manusia yang memiliki hubungan pada Tuhannya, diri sendiri, sesama manusia, maupun lingkungannya.
2. Pendidikan Karakter
Pendidikan karakter adalah suatu proses pendidikan yang holistik yang menghubungkan dimensi moral dengan ranah sosial dalam kehidupan peserta didik sebagai pondasi bagi terbentuknya generasi yang berkualitas yang mampu hidup mandiri dan memiliki prinsip suatu kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan (Rahar jo, 2010: 233). Sedangkan menurut
Zubaedi (2011: 31) pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti
plus, yang intinya merupakan program pengajaran yang bertujuan
mengembangkan watak dan tabiat peserta didik dengan cara menghayati nilai-nilai dan keyakinan masyarakat sebagai kekuatan moral dalam hidupnya melalui kejujuran, dapat dipercaya, disiplin, dan kerja sama yang menekankan ranah afektif (perasaan/sikap) tanpa meninggalkan ranah kognitif (berpikir rasional), dan ranah skill (keterampilan, terampil mengolah data, mengemukakan pendapat, dan kerja sama). Sementara Megawangi (2004: 95) memahami bahwa pendidikan karakter merupakan sebuah usaha untuk mendidik anak-anak agar dapat mengambil keputusan dengan bijak dan mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga mereka dapat memberikan kontribusi yang positif kepada lingkungannya.
Dari pendapat para ahli di atas mengenai pendidikan karakter, maka dapat disimpulkan bahwa pendidikan karakter merupakan pendidikan yang sengaja dibuat untuk peserta didik dengan tujuan mengembangkan watak dan tabiat, sehingga ketika peserta didik dalam memaknai hidupnya diharapkan mampu menghasilkan sebuah keputusan yang bijak atas pertimbangan dari modal pendidikan yang diterima maupun dipelajarinya. 3. Program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK)
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa (Fathurrohman , Fatriany &
Suryana, 2013: 7). Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 17 tahun 2010 tentang Pengelolaan Penyelenggaraan Pendidikan pada Pasal 17 ayat (3) menyebutkan bahwa, pendidikan dasar, termasuk sekolah bertujuan: membangun landasan bagi berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang: (a) beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Mahasa Esa; (b) berakhlak mulia, dan berkepribadian luhur; (c) berilmu, cakap, kritis, kreatif, dan inovatif; (d) sehat, mandiri, dan percaya diri; (e) toleran, peka sosial, demokratis, dan bertanggung jawab. Dari penjabaran teori para ahli di atas, dapat diperjelas bahwa pendidikan nasional yang selalu ditekankan di negara Indonesia juga menitikberatkan pada aspek karakter khususnya pembentukan karakter peserta didik yang sedang berkembang di semua jenjang satuan pendidikan.
Demi kepentingan masa depan bangsa Indonesia, bahkan sejak sekarang perlu dilakukan pemusatan (centering) pendidikan karakter dalam penyelenggaraan pendidikan nasional Indonesia. Kesadaran sekaligus usaha pemusatan pendidikan karakter di jantung pendidikan nasional semakin kuat ketika pada tahun 2010 pemerintah Indonesia mencanangkan sekaligus melaksanakan ke bijakan Gerakan Nasional Pendidikan Karakter berlandaskan Rencana Aksi Nasional (RAN) Pendidikan Karakter Bangsa. Hal tersebut perlu dilanjutkan, dioptimalkan, diperdalam, dan bahkan diperluas sehingga diperlukan penguatan pendidikan karakter bangsa. Untuk itu, sejak sekarang perlu dilaksanakan
Gerakan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) dengan mengindahkan asas keberlanjutan dan kesinambungan (Hendarman, dkk, 2017: 5).
Penguatan pendidikan karakter merupakan gerakan pendidikan di sekolah untuk memperkuat karakter melalui proses pembentukan, transformasi, transmisi, dan pengembangan potensi peserta didik dengan cara harmonisasi olah hati (etik dan spiritual), olah rasa (estetik), olah pikir (literasi dan numerasi), dan olah raga (kinestetik) sesuai falsafah hidup pancasila (Hendarman, dkk, 2017: 17). Hal ini juga selaras dengan teori yang dipaparkan oleh Ki Hajar Dewantara (dalam Elvira, 2017: 10) mengenai nilai-nilai karakter dalam individu memiliki integrasi yang berkesinambungan dalam empat aspek. Aspek tersebut secara ringkas ditunjukkan dalam gambar 2.1 berikut inI.
Gambar 2.1 Filosofi Pendidikan Karakter Ki Hajar Dewantara
Sumber: dari buku yang berjudul Gerakan Penguatan Pendidikan
Gambar 2.1 menunjukkan bahwa setiap aspek memiliki keterkaitan terhadap aspek-aspek lainnya. Harmonisasi yang diciptakan dari empat aspek tersebut terdiri dari nilai-nilai karakter yang berbeda-beda. Pada aspek olah hati memiliki nilai karakter yaitu: beriman dan bertaqwa, jujur, amanah, adil, bertanggung jawab, berempati, berani mengambil resiko, pantang menyerah, rela berkorban, dan berjiwa patriotik. Sedangkan aspek olah pikir memiliki nilai karakter yaitu: cerdas, kritis, kreatif, inovatif, ingin tahu, berpikir terbuka, produktif, berorientasi IPTEKS, dan reflektif. Selain itu aspek olah karsa memiliki nilai karakter siantaranya: ramah, saling menghargai, toleran, peduli, suka menolong, gotong royong, nasionalis, kosmopolit, mengutamakan kepentingan umum, bangga menggunakan Bahasa dan produk Indonesia, dinamis, kerja keras, dan beretos kerja. Dan pada aspek olah raga memiliki nilai karakter yaitu: bersih dan sehat, disiplin, sportif, tangguh, andal, berdaya tahan, bersahabat, kooperatif, determinatif, kompetitif, ceria, dan gigih (Samani dan Hariyanto, 2012: 24-25).
Penguatan pendidikan karakter merupakan gerakan pendidikan di sekolah untuk memperkuat karakter melalui proses pembentukan, transformasi, transmisi, dan pengembangan potensi peserta didik dengan cara harmonisasi olah hati (etik dan spiritual), olah rasa (estetik), olah pikir (literasi dan numerasi), dan olah raga (kinestetik) sesuai falsafah hidup pancasila (Hendarman, dkk, 2017: 17). Program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) merupakan lanjutan dari program sebelumnya yang
memberikan solusi terhadap turunnya moral anak bangsa, karena menurut Kemendikbud (2017) salah satu urgensi PPK adalah “Keterampilan abad 21 yang dibutuhkan siswa guna mewujudkan keunggulan bersaing Generasi Emas 2045: Kualitas Karakter, Literasi Dasar, Kompetensi 4 C
(Critical Thinking, Problem Solving, Creativity, Communication Skills, dan Ability to Work Collaboratively (Andiarini, Arifin, & Nurabadi. 2018:
239).
Dari pendapat para ahli di atas mengenai Program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK), maka dapat disimpulkan bahwa Program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) merupakan program pendidikan yang dibentuk oleh pemerintah dengan berlandaskan pada pancasila yang dilaksanakan melalui satuan pendidikan dengan tujuan untuk memberikan pedoman pada peserta didik ketika mengembangkan dirinya dalam berkarakter dengan mengintegrasikan nilai-nilai karakter yang termuat di dalamnya.
Gerakan Penguatan Pendidikan Karakter memiliki tujuan sebagai berikut (Hendarman,dkk, 2017: 16):
a. Mengembangkan platform pendidikan nas ional yang meletakkan makna dan nilai karakter sebagai jiwa atau generator utama penyelenggaraan pendidikan.
b. Membangun dan membekali Generasi Emas Indonesia 2045 menghadapi dinamika perubahan di masa depan dengan keterampilan abad 21.
c. Mengembalikan pendidikan karakter sebagai ruh dan fondasi pendidikan melalui harmonisasi olah hati (etik dan spiritual), olah rasa (estetik), olah pikir (literasi dan numerasi), dan olah raga (kinestetik).
d. Merevitalisasi dan memperkuat kapasitas ekosistem pendidikan (kepala sekolah, guru, siswa, pengawas, dan komite sekolah) untuk mendukung perluasan implementasi pendidikan karakter.
e. Membangun jejaring pelibatan masyarakat (publik) sebagai sumbersumber belajar di dalam dan di luar sekolah.
f. Melestarikan kebudayaan dan jati diri bangsa Indonesia dalam mendukung Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM).
Dari pendapat di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa tujuan adanya program PPK adalah untuk membantu peserta didik dalam mengembangkan nilai-nilai karakter yang mampu diwujudkan dalam perilaku maupun tindakan sehari-hari. Hal ini sesuai dengan teori yang dinyatakan oleh Hendarman, dkk (2017: 7) bahwa program PPK ingin memperkuat pembentukan karakter siswa yang selama ini sudah dilakukan di banyak sekolah
a. Nilai Karakter dalam Program Penguatan Pendidikan Karakter
Pendidikan karakter dilakukan melalui pendidikan nilai-nilai atau kebijakan yang menjadi nilai dasar karakter bangsa. Kebajikan yang menjadi atribut suatu karakter pada dasarnya adalah nilai. Oleh karena itu, pendidikan karakter pada dasarnya adalah pengembangan nilai-nilai
yang berasal dari pandangan hidup atau ideologi bangsa Indonesia, agama, budaya, dan nilai-nilai yang terumuskan dalam tujuan pendidikan nasional (Zubaedi, 2011: 72). Hal ini diperkuat oleh pendapat dari Kurniawan (2013: 41) yang memaparkan bahwa nilai-nilai dalam pendidikan karater dapat dirangkum menjadi 18 kriteria diantaranya: religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab.
Hendarman, dkk (2017: 8) memaparkan bahwa gerakan PPK menempatkan nilai karakter sebagai dimensi terdalam pendidikan yang membudayakan dan memberadabkan para pelaku pendidikan. Terdapat lima nilai utama karakter yang saling berkaitan membentuk jejaring nilai yang perlu dikembangkan sebagai prioritas Gerakan PPK.
Seiring berjalannya waktu pembahasan dan pembaruan mengenai nilai-nilai karakter mengalami perubahan, namun penafsiran makna nilai karakter ini tetap berpedoman pada ideologi bangsa Indonesia yaitu Pancasila. Lima nilai utama karakter dalam PPK sekarang merupakan kristalisasi dari berbagai nilai-nilai karakter yang sudah ada dan dikembangkan sebelumnya. Berikut ini merupakan lima nilai utama karakter dalam program PPK berdasarkan Hendarman, dkk (2017: 8-10).
1) Religius
Nilai karakter religius mencerminkan keberimanan terhadap Tuhan yang Maha Esa yang diwujudkan dalam perilaku melaksanakan ajaran agama dan kepercayaan yang dianut, menghargai perbedaan agama, menjunjung tinggi sikap toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama dan kepercayaan lain, hidup rukun dan damai dengan pemeluk agama lain. Subnilai religius antara lain cinta damai, toleransi, menghargai perbedaan agama dan kepercayaan, teguh pendirian, percaya diri, kerja sama antar pemeluk agama dan kepercayaan, antibuli dan kekerasan. Persahabatan, ketulusan, tidak memaksakan kehendak, mencintai lingkungan, dan melindungi yang kecil dan tersisih. Kata religiusitas merupakan istilah baru untuk religius yang telah direvisi dalam Permendikbud Nomor 20 Tahun 2018.
2) Nasionalis
Nilai karakter nasionalis merupakan cara berpikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa, menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya. Subnilai nasionalis antara lain apresiasi budaya bangsa sendiri, menjaga kekayaan budaya bangsa, rela berkorban, unggul, dan berprestasi, cinta tanah air, menjaga lingkungan, taat hukum,
disiplin, menghormati keragaman budaya, suku, dan agama. Kata nasionalisme merupakan istilah baru untuk nasionalis yang telah direvisi dalam Permendikbud Nomor 20 Tahun 2018.
3) Mandiri
Nilai karakter mandiri merupakan sikap dan perilaku tidak bergantung pada orang lain dan mempergunakan segala tenaga, pikiran, waktu untuk merealisasikan harapan, mimpi dan cita-cita. Subnilai mandir antara lain etos kerja (kerja keras), tangguh tahan banting, daya juang, profesional, kreatif, keberanian, dan menjadi pembelajar sepanjang hayat. Kata kemandirian merupakan istilah baru untuk mandiri yang telah direvisi dalam Permendikbud Nomor 20 Tahun 2018.
4) Gotong Royong
Nilai karakter gotong royong mencerminkan tindakan menghargai semangat kerjasama dan bahu membahu menyelesaikan persoalan bersama, menjalin komunikasi dan persahabatan, memberi bantuan/ pertolongan pada orang-orang yang membutuhkan. Subnilai gotong royong antara lain menghargai, kerja sama, inklusif, komitmen atas keputusan bersama, musyawarah mufakat, tolong-menolong, solidaritas, empati, anti diskriminasi, anti kekerasan, dan sikap kerelawanan. Kata gotong royong tidak mengalami perubahan istilah baru dalam Permendikbud Nomor 20 Tahun 2018.
5) Integritas
Nilai karakter integritas merupakan nilai yang mendasari perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan, memiliki komitmen dan kesetiaan pada nilai-nilai kemanusiaan dan moral (integritas moral). Hal ini meliputi sikap tanggung jawab sebagai warga negara, aktif terlibat dalam kehidupan sosial, melalui konsistensi tindakan dan perkataan yang berdasarkan kebenaran. Subnilai integritas antara lain kejujuran, cinta pada kebenaran, setia, komitmen moral, anti korupsi, keadilan, tanggung jawab, keteladanan, dan menghargai martabat individu (terutama penyandang disabilitas). Kata integritas tidak mengalami perubahan istilah baru dalam Permendikbud Nomor 20 Tahun 2018.
Berdasarkan penjelasan para ahli di atas, maka dapat disimpulkan bahwa program PPK mampu memberikan landasan pendidikan berupa penerapan 5 nilai utama karakter kepada peserta didik yang berfungsi untuk memberikan pemahaman mengenai bagaimana cara mengembangkan potensi pada diri masing-masing individu dengan memanfaatkan akhlak maupun budi pekerti.
b. Prinsip-prinsip Pengembangan dan Implementasi PPK
Gerakan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) dikembangkan dan dilaksanakan dengan menggunakan prinsip-prinsip sebagai berikut (Hendarman, dkk, 2017: 10).
1) Nilai-nilai Moral Universal
Program PPK menggunakan prinsip nilai-nilai moral universal yang berarti adalah meyakin dan mengharagai adanya nilai moral dalam macam-macam latar belakang agama, keyakinan, kepercayaan, sosial, dan budaya.
2) Holistik
Holistik yang dimaksud dalam prinsip Program PPK adalah pengembangan fisik (olah raga), intelektual (olah pikir), estetika (olah rasa), etika dan spiritual (olah hati) dilakukan secara bersama -sama, berkaitan dan tidak menitik beratkan pada salah satu aspek saja, baik melalui proses pembelajaran intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler.
3) Terintegrasi
Program PPK dilaksanakan secara terintegrasi artinya pendidikan yang dilaksanakan dilakukan dengan cara memadukan, dan menghubungkan berbagai elemen pendidikan yang mendasarinya.
4) Partisipatif
Melalui prinsip partisipatif akan membantu terwujudnya progam PPK yang bermakna dan meningkatkan sosialitas yang tinggi. Partisipatif dalam hal ini adalah mengikutsertan seluruh elemen pendidi yang membantu dan mengayomi berlangsungnya jalannya Program PPK.
5) Kearifan Lokal
Pengimplementasian program PPK juga diharapkan bisa mengedepankan dan mengembangkan kearifan lokal nusantara sehingga dapat memberi indentitas atau jati diri pada setiap keberagaman yang dimiliki peserta didik namun tetap sebagai bangsa Indonesia yang utuh dan bersatu.
6) Kecakapan Abad XXI
Gerakan PPK mengembangkan kecakapan-kecakapan yang dibutuhkan oleh peserta didik untuk hidup pada abad XXI, antara lain kecakapan berpikir kritis (critical thinking), berpikir kreatif (creative thinking), kecakapan berkomunikasi (communication skill), termasuk penguasaan bahasa internasional, dan kerja sama dalam pembelajaran (collaborative learning).
7) Adil dan Inklusif
Dalam pengimplementasian program PPK juga selalu mengedepankan keadilan, keberagaman, menghargai kebhinekaan dan perbedaan (inklusif).
8) Selaras dengan Perkembangan Peserta Didik
Gerakan PPK direncanakan, dikembangkan, dan dilaksanakan berdasarkan pada perkembangan peserta didik baik perkembangan biologis, psikologis, maupun sosial, agar tingkat relevansi dapat dinilai tinggi dan maksimal. Oleh karena itu segala bentuk upaya dalam pengembangan maupun perencanaan program adalah hal yang penting dan utama,
9) Terukur
Program PPK dikembangkan dan dilaksanakan berlandaskan prinsip keterukuran dengan tujuan agar dapat diamati dan diketahui proses dan hasilnya secara objektif. Dalam hubungan ini komunitas sekolah mendeskripsikan nilai-nilai utama karakter yang menjadi prioritas pengembangan di sekolah dalam sebuah sikap dan perilaku yang dapat diamati dan diukur secara objektif; mengembangkan program-program penguatan nilai-nilai karakter bangsa yang mungkin dilaksanakan dan dicapai oleh sekolah; dan mengerahkan sumber daya yang dapat disediakan oleh sekolah dan pemangku kepentingan pendidikan.
c. Basis Gerakan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK)
Albertus (dalam Hendarman, dkk, 2017: 15) berpendapat bahwa gerakan PPK dapat dilaksanakan dengan berbasis struktur kurikulum yang sudah ada dan mantap dimiliki oleh sekolah, yaitu pendidikan