Intelijen Damai Intelijen Perang
Jenis Informasi Umum dan
biasanya didapat dari sumber informasi yang
terbuka untuk publik
Lebih spesifik untuk mencegah serangan
mendadak
29 Cogan melihat bahwa saat ini Amerika Serikat dapat dikategorikan dalam kondisi perang
terutama dalam kaitannya dengan perlawanan terhadap terorisme. Lihat Cogan, Charles, Op.cit., hlm. 157.
Aktivitas Normal dan tidak diperbolehkan terjadi pelanggaran terhadap aturan apapun
Ofensif dan besar kemungkinan terjadi
pelanggaran aturan
Organisasi Demokratik
lebih dominan daripada efektif
Efektif jauh lebih dominan daripada
demokratik
Secara sederhana intelijen pada masa damai adalah intelijen yang menjalankan aktivitasnya sesuai dengan aturan dan norma yang berlaku, berada dalam sebuah kerangka kerja organisasi negara yang demokratik yang bertugas mencari informasi yang berfungsi sebagai instrumen pendukung perwujudan kepentingan nasional bangsa yang bersangkutan. Sementara itu, intelijen dalam masa perang adalah intelijen yang aktivitasnya kemungkinan besar melanggar aturan aturan yang telah disepakati, berada dalam kerangka organisasi yang mementingkan efektivitas dan memiliki tugas mencari informasi yang spesifik guna dapat mewujudkan tujuan perang yaitu memenangkan peperangan.
Setelah kejadian tanggal 11 September 2001, yang selalu di- klaim dilakukan oleh sekelompok teroris, Amerika Serikat pun mengobarkan perang terhadap terorisme. Dalam rangka mewu- judkan kemenangan terhadap terorisme, Amerika Serikat meng- gunakan hampir seluruh badan intelijennya secara lebih maksimal. Setidaknya terdapat dua kasus utama yang melibatkan badan intelijen luar negeri Amerika Serikat (Central Intelligence Agency
– CIA) selama tahun 2006 ini. Kasus pertama adalah ketika di bulan Januari 2006, badan intelijen di bawah pemerintahan Presiden George Bush terbukti melakukan penyadapan terhadap warga negaranya dan warga negara lain di dalam negeri30. Kasus ini secara
jelas menjadi ilustrasi aktivitas intelijen yang melanggar aturan karena dilakukan tanpa adanya otorisasi dari pemegang kekuasaan judikatif Amerika Serikat31. Selain itu, kasus ini juga merupakan
contoh dari dominasi etos efektivitas kerja intelijen yang melanggar prinsip demokrasi, hak sipil dan hak asasi manusia.
Kasus kedua adalah kasus penjara penjara bayangan yang digunakan oleh CIA untuk menampung para tersangka dalam kasus terorisme32. Kasus ini sekali lagi merupakan ilustrasi bagai-
mana pelanggaran dilakukan oleh badan intelijen Amerika Serikat. Pelanggaran ini dijustifikasi oleh kondisi perang melawan terorisme yang dicanangkan oleh Presiden Bush. Oleh karena itu aktivitas intelijen dalam hal ini dilakukan dalam rangka mencari informasi yang dibutuhkan untuk menangani masalah terorisme dalam kerangka organisasi yang mengutamakan efektivitas dan mengesampingkan prinsip demokrasi dan hak asasi manusia.
Kondisi yang kurang lebih sama juga terjadi di Indonesia. Secara historis, tahun 1945 sampai tahun 1960-an masih merupakan periode awal kemerdekaan di mana Indonesia masih dapat dikatakan dalam situasi perang melawan kekuatan kekuatan kolonialis. Oleh karena itu menjadi wajar apabila Indonesia menerapkan logika perang dalam setiap perencanaan dan pelaksanaan aksi intelijen negaranya. Salah satu contoh yang cukup signifikan dalam periode ini adalah pembentukan Badan Rahasia Negara Indonesia (Brani)
30 ”Penyadapan Warga Harus Seijin Pengadilan”, Kompas, 9 Januari 2006, 31 Loc.cit
32 Baca ”AS ‘Meminjam Tangan’ untuk Menyiksa Tahanan” Kompas, 25 Januari 2006 dan
pada 7 Mei 1946. Pada awal pembentukannya, Brani memiliki setidaknya empat kelompok kecil33. Kelompok pertama bertugas
untuk memburu kelompok simpatisan Belanda. Kelompok kedua dikenal sebagai kelompok yang melakukan penginderaan dan mempersiapkan kondisi lapangan baik di Jawa, Bali, Kalimantan, Maluku, Nusa Tenggara, Sulawesi dan Sumatera. Kelompok ketiga adalah kelompok yang bertugas menjalankan fungsi intelijen luar negeri dan kelompok keempat adalah kelompok yang bertugas mencari pendanaan operasi intelijen, misalnya dengan menangkap peredaran opium oleh Belanda dan kemudian mengedarkannya kepada pedagang Cina34. Dapat disimpulkan bahwa selama pe-
riode ini, intelijen Indonesia masih mengutamakan efektivitas dibandingkan nilai-nilai yang demokratik dengan tujuan spesifik mengalahkan kekuatan kolonialis asing dan tanpa ragu ragu melakukan aktivitas yang bersifat ofensif.
Dalam periode berikutnya, sekali lagi Indonesia masih mene- rapkan logika intelijen perang karena selama periode ini intelijen Indonesia masih tetap mengutamakan efektivitas serta melakukan tindakan tindakan ofensif. Hal ini dapat dilihat misalnya dalam pembentukan Badan Pusat Intelijen (BPI) yang melakukan operasi intelijen di Papua, Malaysia, Singapura dan Timor bagian Timur yang saat itu masih dikuasai oleh Portugis35.
Periode Suharto dimulai ketika beliau menjadi kepala Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib). Kop- kamtib mengepalai satu satuan tugas intelijen, Satuan Tugas Intelijen (STI) yang dirancang untuk menjadi pasukan investigasi bersenjata36. Selain itu Kopkamtib juga mengepalai satu institusi
33 Conboy, Ken, Intel :Inside Indonesia’s Intelligence Service, Jakarta: Equinox, 2004, hlm. 18. 34 Loc.cit.
35 Ibid., hlm. 31 – 40. 36 Ibid., hlm. 49.
intelijen strategik yang lebih dikenal dengan nama Komando Intelijen Negara (KIN). Institusi ini bertugas untuk memberikan laporan atas keadaan keamanan nasional dan internasional termasuk di dalamnya mengenai isu politik, ekonomi, sosial serta militer dalam dan luar negeri37. Periode intelijen berikutnya di Indonesia ternyata
tetap menggunakan logika yang sama walaupun organisasi intelijen di Indonesia berkembang silih berganti. Ken Conboy, Stanley, Otto Pratama dan Danang Widoyoko menggambarkan dengan lebih rinci bagaimana intelijen Indonesia bergerak dengan kerangka organisasi yang mengutamakan efektivitas, melaksanakan operasi operasi ofensif dan eksesif serta cenderung mengesampingkan nilai-nilai yang demokratis.38
Sementara itu, di sisi lain, harusnya intelijen juga harus dapat menjalankan fungsinya di masa damai. Selama masa damai, inte- lijen harusnya bergerak dalam kerangka demokratis dengan akti- vitas normal yang tidak melanggar aturan aturan yang berlaku. Salah satu mekanisme yang dapat dijadikan ilustrasi penggunaan intelijen dalam masa damai adalah President’s Daily Brief (PDB)39
yang dilakukan oleh Amerika Serikat. Mekanisme ini adalah meka- nisme pertemuan harian antara presiden Amerika Serikat dengan direktur intelijen nasional (Director of National Intelligence) yang se- cara strategis mengkoordinasikan seluruh institusi intelijen Amerika Serikat dan membawahi seluruh pusat pelaksana aktivitas intelijen Amerika Serikat. Tetapi secara lebih rinci ilustrasi intelijen masa damai ternyata lebih sulit ditemukan karena intelijen masa damai
37 Loc.cit.
38 Ken Conboy dapat lebih lanjut dibaca dalam dua bukunya mengenai Kopassus dan intelijen
Indonesia dalam Conboy, Intel: Inside Indonesia’s Intelligence Service, Jakarta: Equinox, 2004 dan Conboy, Kopassus: Inside Indonesia’s Special Forces, Jakarta: Equinox, 2003, sementara Stanley, Danang dan Otto dapat dibaca dalam bab lain di buku ini.
39 Traverton, Gregory F., The Next Steps in Reshaping Intelligence, Virginia: RAND Corporation,
akan melakukan tugasnya dengan normal, tanpa pelanggaran ter- hadap aturan apapun, mengutamakan prinsip prinsip hak asasi manusia serta bergerak dalam kerangka organisasi yang demokratik. Operasi intelijen dengan karakteristik ini secara logis tidak akan menimbulkan ekses negatif dan konsekuensi lebih lanjutnyanya ada- lah tidak akan ada pemberitaan yang dapat diungkap oleh publik.
Berdasarkan penjelasan penjelasan di atas, jelas bahwa situasi damai dan perang akan membutuhkan intelijen yang berbeda secara karakteristik. Tetapi, memiliki intelijen yang terpisah – untuk masa damai dan masa perang, dalam satu negara juga bukanlah hal yang tanpa masalah. Oleh karena itu, harus dipikirkan untuk dapat mempertemukan kedua karakter intelijen yang berbeda namun tetap dapat memenuhi kebutuhan intelijen selama masa damai dan dalam masa perang.
Kebutuhan untuk memiliki intelijen yang dapat diandalkan baik dalam kondisi damai maupun selama masa perang adalah kebutuhan vital bagi sebuah negara. Oleh karena itu setiap negara harus merancang intelijennya masing masing seideal mungkin. Intelijen ideal adalah intelijen yang mampu menggabungkan penghargaan terhadap nilai nilai demokratis sekaligus mampu memastikan efektivitas intelijen tersebut. Secara realistis, dilema ini adalah hal yang tidak mudah untuk diselesaikan.
Apabila diteliti lebih lanjut, faktor organisasi merupakan fak- tor yang sifatnya lebih permanen, sementara faktor efektivitas me- rupakan faktor yang memiliki banyak variabel independen yang mempengaruhinya. Oleh karena itu, bagi sebuah negara akan lebih mudah untuk menyiapkan sebuah mekanisme organisasi dan kemudian berusaha memperoleh efektivitas melalui variabel lain dibandingkan harus menyiapkan lebih dari satu mekanisme organisasi intelijen. Dengan demikian jelas bahwa untuk dapat mengatasi dilema antara nilai demokratik dan nilai efektivitas negara harus dapat menciptakan intelijen melalui organisasi yang
demokratik dan dapat memastikan efektivitas dalam periode yang bersamaan.
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, salah satu pem- beda kondisi perang dan damai adalah faktor waktu. Namun apabila waktu yang dimiliki negara menjadi terbatas, seharusnya penegasian terhadap mekanisme demokratik tidaklah menjadi alternatif jawaban. Salah satu alternatif yang dapat dilakukan untuk mengatasi dilema ini adalah mempercepat proses berlangsungnya mekanisme yang demokratik ini. Misalnya, apabila negara dalam kondisi normal atau damai pertemuan antara kepala intelijen negara dengan para pembuat kebijakan dilakukan satu kali dalam sehari maka dalam kondisi tidak normal, krisis dan bahkan perang maka pertemuan tersebut harus dirancang untuk dilakukan lebih dari satu kali dalam sehari. Dengan demikian jelas bahwa mekanisme intelijen demokratik dapat dipertahankan dan pada saat bersamaan efektivitas intelijen juga dapat dimaksimalkan.
IV. Penutup
Karakteristik intelijen yang rahasia dan tertutup tentu saja akan berhadapan secara diametral dengan prinsip penadbiran yang baik, nilai-nilai demokrasi serta kebebasan sipil lainnya. Kondisi ini juga menjadi semakin rumit apabila dikaitkan dengan kebutuhan terhadap intelijen selama masa perang dan damai mengingat adanya perbedaan mendasar antara perang dan damai.
Perang memiliki atmosfer krisis dan secara otomatis menuntut respon tepat dengan keterbatasan waktu. Hal ini tentu akan mengakibatkan munculnya kemungkinan proses tata negara yang ideal tidak dapat berjalan. Sementara itu kondisi damai harusnya membuka kemungkinan proses kehidupan bernegara yang ideal dapat berlangsung dengan kerangka waktu yang normal.
Berdasarkan berbagai penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa intelijen adalah salah satu instrumen penting bagi pemegang kekuasaan tertinggi dalam suatu negara. Intelijen dapat digunakan sebagai alat untuk mengurangi kekhawatiran terhadap ancaman bangsa dan negara, tetapi di saat yang bersamaan intelijen juga dapat digunakan sebagai alat untuk melindungi kepentingan pribadi sang penguasa. Oleh karena itu, pengelolaan sistem intelijen yang efektif, profesional dalam tatanan yang demokratis merupakan kondisi wajib bagi sebuah negara. Tuntutan terhadap efektivitas seringkali mengalahkan kebutuhan terhadap penegakan hak asasi manusia, nilai-nilai sipil dan prinsip-prinsip demokratis lainnya.
Prinsip kerja demokratis dalam sistem intelijen negara da- pat dilihat dari beberapa pengaturan dasar. Pertama, intelijen harus ditempatkan sebagai institusi sipil dan menjadi bagian dari sistem keamanan nasional. Kedua, Adanya mekanisme per- tanggungjawaban dan pertanggunggugatan yang akuntabel un- tuk memastikan penggunaan intelijen secara proporsional dan mencegah akumulasi kekuasaan. Ketiga, adanya mekanisme peng- awasan untuk memastikan keberlangsungan sistem checks and balances.
Di sisi lain, prinsip efektivitas juga dipengaruhi oleh beberapa elemen penting. Pertama, efektivitas kerja intelijen akan dipengaruhi oleh kecepatan dan ketepatan dalam bertindak. Kedua, efektivitas kerja intelijen akan dipengaruhi sistem pendukung kerja intelijen berupa sumber daya yang profesional serta perkembangan tek- nologi yang memadai.
Perbedaan situasi perang dan damai diasumsikan akan meng- geser sistem manajemen intelijen negara. Pergeseran ini akan bergerak dalam spektrum di antara dua titik ekstrim, nilai demokratis dan nilai efektif. Indonesia terbukti masih mengandalkan logika perang dalam pemanfaatan institusi intelijennya. Beberapa ilustrasi menunjukkan bahwa Indonesia masih mengutamakan prinsip efek-
tivitas yang menjustifikasi pelanggaran hak asasi manusia selama berdirinya negara ini. Hal ini secara logis membawa kesimpulan bahwa Indonesia selalu berada dalam kondisi perang.
Berdasarkan penjelasan penjelasan di atas, maka dapat disim- pulkan beberapa hal penting. Pertama, Selain dari hal-hal di atas, negara juga akan mengalami kesulitan untuk dapat mengembangkan dua sistem manajemen intelijen yang dapat digunakan dalam kondisi damai dan perang secara terpisah. Hal ini dialami oleh Indonesia yang masih dalam proses pembangunan bangsa dan negara (nation and state building). Kondisi ini membuat penguasa Indonesia selalu menggunakan intelijen dengan kerangka kondisi perang dan membuat justifikasi terhadap terhambatnya proses pembangunan intelijen damai. Tetapi seharusnya negara dapat mengembangkan satu sistem manajemen intelijen demokratik yang memiliki satu satuan khusus dan dapat digunakan untuk kondisi perang dengan berbagai aturan khusus dan sistem pengawasan yang secara langsung melekat ketika satuan ini digunakan. Kedua, kebutuhan terhadap faktor efektivitas yang meningkat dalam situasi perang dapat diatasi bukan dengan cara menegasikan sistem yang berdasar pada prinsip demokratis tetapi dengan mengefektifkan waktu, sumberdaya serta meningkatkan profesionalitas dan ke- mampuan teknologi intelijen sebuah negara. Dengan demikian diharapkan baik dalam kondisi damai maupun perang, negara tetap dapat menjalankan sistem intelijen yang demokratis sekaligus efektif dalam pencapaian tujuan keamanan nasionalnya. ***
REFERENSI Buku
Burchill, Scott & Linklater. 1996. Theories of International Relations..
Macmillan Press. UK.
Conboy, Ken. 2003. Kopassus: Inside Indonesia’s Special Forces. Equinox. Jakarta
Conboy, Ken. 2004. Intel: Inside Indonesia’s Intelligence Service. Equinox. Jakarta.
Gray, Colin S. 2005. Another Bloody Century: Future Warfare.
Weidenfeld & Nicholson. London.
Huntington, Samuel P. 1957. The Soldier and the State: The Theory and Politics of Civil-Military Relations. Harvard University Press. Cambridge.
Keegan, John, 2004. Intelligence in War. Vintage Books. New York. Lund, Michael S. 1996. Preventing Violent Conflicts: A Strategy for
Preventive Diplomacy. United States Institute of Peace Press,. Washington D.C.
Nugroho, Yanusa. 2004. Manyura. Kompas. Jakarta.
Pendit, Nyoman S. 2003. Mahabharata. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Sawyer, Ralph D. 2004. The Tao of Spycraft: Intelligence Theory and Practice in Traditional China. Westview Press. Colorado:. Scott, L.V. & Jackson, Peter. 2004. Understanding Intelligence in the
Twenty-First Century. Routledge. London.
Shulsky, Abram N. & Schmitt, Gary J. 2002. Silent Warfare: Understanding the World of Intelligence, 3rd edition. Brassey’s
SIPRI Yearbook 2005: Armaments, Disarmaments and International Security. 2005.
Oxford University Press. Oxford.
Traverton, Gregory F. 2005. The Next Steps in Reshaping Intelligence. RAND Corporation. Virginia.
Widjajanto, Andi (ed.). 2005. Reformasi Intelijen Negara. Pacivis. ,
Jakarta.
Jurnal
Arreguín-Toft, Ivan, ”How the Weak Win Wars: A Theory of Asymmetric Conflict”, International Security, Volume 26, No.1, (Summer, 2001).
Artikel Media Massa
”Penyadapan Warga Harus Seijin Pengadilan”. Kompas. 9 Januari 2006.
”AS ‘Meminjam Tangan’ untuk Menyiksa Tahanan” . Kompas. 25
Januari 2006.
”Ada Bukti Tahanan Alami Penyiksaan”. Media Indonesia. 25 Januari 2006.
Internet
http://www.unescap.org/huset/gg/governance.htm. http://en.wikipedia.org/wiki/Prehistoric_warfare. http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_wars_before_1000.