• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teknologi pendukung yang kurang mumpun

Dalam dokumen Negara, Intel, dan Ketakutan (Halaman 150-156)

Oleh: Otto Pratama

III. Kesiapan Humint dalam Konteks Indonesia

4. Teknologi pendukung yang kurang mumpun

Di Indonesia, penguasaan teknologi komunikasi masih terbatas pada soal penyadapan pembicaraan telepon. Sedangkan teknologi lain yang dapat digunakan sebagai sarana pendukung untuk operasi human intelligent, seperti pengolahan dan penyimpanan informasi masih lemah. Indonesia masih belum memiliki sistem infomasi kependudukan yang terpadu seperti Social Security Number

atau sistem lisensi mengemudi yang terpadu. Padahal dua sistem ini menjadi sangat penting sebagai penunjang bagi operasi human inteligent

Namun dengan adanya masalah dalam tubuh badan intelijen, setidaknya setelah kasus Bom Bali I, sudah ada beberapa langkah dalam konteks penangkalan terorisme. Yang pertama adalah berhasil menyeret hampir semua pelaku pelaku utama di balik peristiwa Bom Bali I di tahun 2002 hingga Bom Bali II di tahun 2005. Kedua

adalah keberhasilan pihak intelijen untuk mempersempit ruang

34 mparsial, Evaluasi Kinerja BIN di Masa Transisi dan Catatan untuk Reformasi BIN, Jakarta,

interaksi kelompok teroris dalam komunitas fundamentalis agama. Seperti pada isu mengenai pengawasan terhadap pesantren tertentu tidak menimbulkan reaksi negatif35.Walaupun kekhawatiran masih

tetap ada, seperti akan timbulnya represi dalam kegiatan pesantren.

Ketiga, indikator keberhasilan tersebut mungkin dapat terlihat dari adanya kesadaran bahwa semua gerakan fundamentalisme Islam merupakan kelompok garis keras agama yang tidak selalu identik dengan terorisme36

Membangun Humint yang Tangguh dalam Counter Terorisme

Kegiatan anti-terorisme selalu berhubungan dengan : (1) perun- dangan nasional, (2) keamanan internal (3) orang-orang asing (4) perjalanan dan kontrol perbatasan (5) soal keuangan (6) kerjasama internasional dan (7) ancaman senjata atom, biologis dan kimia. Kegiatan humint akan selalu berhubungan dengan tujuh wilayah kerja seperti yang disebutkan diatas.

Berbicara mengenai prospek pengembangan sumberdaya

humint di era transisi demokrasi, pengembangan sumberdaya

humint tidak bisa lepas dari reformasi dan reorganisasi badan intelijen yang ada sekarang. Tanpa melakukan dua proses tersebut untuk dapat melahirkan pengembangan humint yang mumpuni dalam menjalankan operasi counter terorisme menjadi sangat sukar direalisasi.

Dampak dari the politics of fear peninggalan jaman represi Orba memang masih membekas dalam memori warganegara. Hal ini pula yang memberikan halangan utama dalam prospek pengembangan intelijen terutama kaitannya dalam penanggulangan teroris, di-

35 ”Dari Mana Datangnya Pengawasan?”, Tempo, No. 43/XXXIV/19 - 25 Desember, 2005 36 Said As’ad Ali ,”Prospek Kelompok Islam Garis Keras dan Terorisme di Indonesia”, Jurnal

mana partisipasi dan kepatuhan sukarela warga negara sangat di- butuhkan. Kegiatan survaillance dalam kaitan dengan isu terorisme masih menimbulkan kecurigaan dan ketakutan bagi masyarakat.

Hal yang kedua adalah harus adanya perubahan paradigma dalam pengembangan intelijen. Jika prospek pengembangan in- telijen masih dikaitkan dengan nostaligia masa Orba, hasilnya adalah semacam pengembangan kembali dari struktur intelijen indonesia lampau, dan gejala itu terlihat dengan penggunaan ko- mando teritorial (koter) untuk menanggulangi terorisme atau dengan mengembangkan badan intelijen nasional (daerah). Proses pengembangan kembali ini selain hanya akan menuai kembali rasa takut dan kecurigaan dalam masyarakat juga tidak memberikan peningkatan kapasitas secara signifikat bagi keberadaan humint. Sederhana saja, makin besar dan lebar struktur dari organisasi intelijen, implikasinya adalah semakin besar biaya yang mesti dikeluarkan, sehingga menjadi sangat tidak efektif. Yang diper- lukan dalam era demokrasi sekarang ini adalah intelijen yang sangat ramping, efektif dan mobile, karena musuh atau ancamannya yang dihadapi selain kecil, juga sulit dideteksi. Investasi dalam hal pengembangan sumberdaya manusia menjadi hal yang sangat mutlak. Pengetahuan humaniora menjadi hal yang wajib dimiliki oleh seorang agen humint. Pengembangan seperti itulah mungkin yang saya harapkan dalam prospek pengembangan humanintelligent

indonesia yang masa datang.

Lain hal, penulis mengharapkan adanya suatu upaya dari kalangan intelijen untuk memutuskan rantai dengan masa lampau. Salah satu langkahnya adalah dengan proses deklasifikasi semua kasus yang pernah ditangani oleh intelijen semasa rejim Orba. Ini terjadi hampir di semua negara yang pernah mengalami masa represi deri rejim otoriter diktatorial. Dengan mengupayakan hal semacam itu bisa setidaknya kalangan intelijen dapat memulai membangun intelijen yang profesional.

Prospek humint intelijen yang mesti dikembangkan ke depan, adalah intelijen yang dapat bekerja sesuai dengan kaidah-kaidah dalam negara demokrasi. Agen/anggota intelijen harus memiliki wawasan mengenai negara demokrasi (paham HAM, dan norma demokratis lainnya). Anggota intelijen yang digagas dalam kon- sep reformasi intelijen anggota intelijen terdiri dari analis intelijen dan pelaksana operasi intelijen37. Analis intelijen menjalankan fung-

si klasifikasi, analisis, evaluasi, interpretasi dan menyusun reko- mendasi rekomendasi kebijakan. Pelaksana operasi intelijen men- jalankan fungsi pengumpulan informasi baik dari sumber-sumber terbuka maupun tertutup, maupun tak terduga dan melaksanakan tugas-tugas khusus sesuai dengan penugasan yang diberikan. De- ngan demikian pengerahan anggota intelijen untuk operasi counter

terorisme dapat selalu diawasi dengan baik dan kemungkinan pe- nyalahgunaan kewenangan yang sering terjadi dalam operasi coun- ter terorisme dapat dihindari.

REFERENSI :

Buku :

Conboy, Ken. 2006. The Second Front : Inside Asia’s Most Dangerous Terrorist Network. Equinox Publishing. Jakarta.

Cortwright, David. 2004. Terrorism Beyond the State : Dilemmas and Solutions.

Imparsial. 2005. Evaluasi Kinerja BIN di Masa Transisi dan Catatan untuk Reformasi BIN. Jakarta.

37 Lihat Naskah Akademik Rancangan Undang-undang tentang Intelijen Negara, PACIVIS,

Departemen Ilmu Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Indonesia, 2003.

Widjajanto, Andy, Cornelis Lay, & Makmur Keliat. 2006. Intelijen Velox et Exactus. Pacivis. Jakarta.

Artikel dalam Buku :

Bhakti, Ikrar Nusa. 2005. ”Intelijen dan Keamanan Negara”, dalam

ReformasiIntelijenNegara , Pacivis.

Cogan, Charles. 2004. ” Intelligence in the Twenty First Century ” dalam Understanding Intelligence in the Twenty First Century. Routledge.

Heymann, Philip B. 2003. Terorism Freedom and Security: Winning without War. MIT Press Cambridge. Massachussetts.

Isra, Saldi. 2003. ”JudicialReview atas Perpu Anti terorisme” dalam Terorisme: Definisi, Aksi & Regulasi. Imparsial. Jakarta. Scheirer, R Fred. 2005. ” Combatting Terrorism and Its Implication

for Intelligence”. dalam Combatting Terrorism and Its Impli- cation for the Security Sector. Swedish National Defence College. Stockholm.

Muchamad Ali Syafaat. 2003. ” Tindak Pidana Teror, Belenggu Baru bagi Kebebasan”, dalam Terorisme: Definisi, Aksi & Regulasi. Imparsial . Jakarta.

Jurnal :

Ali, Said As’ad ,”Prospek Kelompok Islam Garis Keras dan Terorisme di Indonesia”, Jurnal CSICI, No. 6 /Mei 2005

Artikel Media Massa:

BBCNewsUK. 18 September 2001

Gatra. Sabtu, 20 Februari 1999

Kompas. 11 Januari 2006

Kompas. 26 Desember 2002

Kompas. Kamis, 24 Juli 2003

Tempo. No. 43/XXXIV/19 - 25 Desember 2005

WashingtonTimes. 22 Juni 2001

Internet dan Publikasi Lainnya :

Annan, Kofi. ”A Global Strategy for Fighting Terrorism”. Madrid Spanyol, 10 Maret 2005

Staten, Clark. ”Carlos Captured; Revolutionary Terrorist”. dalam

Emergency Net News Service,10 Oktober 1994 http://en.wikipedia.org/wiki/Carlos_the_Jackal http://intelindonesia.blogspot.com

Menagih Pertanggungjawaban

Dalam dokumen Negara, Intel, dan Ketakutan (Halaman 150-156)