BAB III METODE PENELITIAN
3.6 Teknik Analisis Data
3.6.2 Data Kuantitatif
3.6.2.1 Analisis Data Kuantitatif pada Hasil Validasi
Hasil kuisioner validasi dan RPP mendapatkan teknis data kuantitatif.
Masing-masing hasil kuisioner validasi produk dan RPP dihitung total skor dari penilaian yang telah dihitung dengan melakukan penjumlahan nilai skor yang didapatkan dari pelbagai aspek. Kemudian rata-rata skor dengan cara membagi jumlah skor dengan jumlah aspek yang dinilai.
Nilai Rata-rata = π½π’πππβ ππππ πππ‘ππ π½π’πππβ ππππ’π πΌπ‘ππ
Hasil untuk menilai kelayakan produk alat peraga kotak sifat cahaya dan
56
RPP menggunakan skala likert yang dikonversikan dalam skala empat. Skala dan kriteria sebagai pedoman skoring kuisioner validasi dengan skala 1-4 yaitu sebagai berikut (4) sangat baik, (3) baik, (2) kurang baik, (1) sangat kurang baik. Berikut merupakan konversi data kualitatif ke data kuantitatif (Widoyoko, 2015:191).
Tabel 3.10 Konversi Data Kualitatif ke Kuantitatif
Interval Skor Kategori
3,25 < X β€ 4,00 Sangat Baik 2,50 < X β€ 3,25 Baik 1,75 < X β€ 2,50 Kurang Baik 1,00 < X β€ 1,75 Sangat Kurang Baik
Berdasarkan tabel 3.10 mengenai konversi data kualitatif ke kuantitatif dapat diketahui bahwa kategori sangat baik berada pada interval skor 3,25 sampai dengan 4,00, kategori baik berada pada interval skor 2,50 sampai dengan 3,25, kategori kurang baik berada pada interval skor 1,75 sampai dengan 2,50, kategori sangat kurang baik berada pada interval skor 1,00 sampai dengan 1,75. Setelah melakukan penghitungan terhadap nilai akhir validasi, peneliti kemudian melakukan penghitungan nilai rata-rata validasi yang didasari oleh hasil validasi dosen dan guru. Untuk menghitung rata-rata nilai validasi maka peneliti menggunakan rumus
Rata-rata Nilai Validasi = π΄+π΅
2
Keterangan :
A = Nilai Validasi Dosen
B = Nilai Validasi Wali Kelas IV
3.6.2.2 Teknik Analisis Data Kuantitatif pada Hasil Tes
Analisis data kuantitatif pada tes diperoleh dari nilai hasil tes yang dikerjakan oleh lima belas siswa kelas IV SD Negeri Ngijon 1 setelah menggunakan alat peraga kotak sifat cahaya. Tes bertujuan untuk mengetahui pemahaman siswa mengenai materi sifat-sifat cahaya setelah menggunakan alat peraga kotak sifat cahaya. Soal tes terdiri dari 20 soal pilihan ganda tentang sifat-sifat cahaya. Pada setiap butir soal diolah menjadi nilai masing-masing siswa. Nilai tes dihitung menggunakan rumus
Nilai = Jumlah Jawaban Benar
Jumlah seluruh soal Γ 100
57
3.6.2.3 Analisis Data Kuantitatif pada Hasil Observasi
Teknik analisis data kuantitatif diperoleh dari hasil observasi berdasarkan instrumen penilaian sikap dan penilaian keterampilan. Masing-masing nilai skor yang didapatkan setiap siswa dalam setiap aspek dihitung total skornya. Setelah mendapatkan skor total, maka langkah selanjutnya adalah membaginya dengan skor maksimal dan dibagi dengan jumlah skala perhitungan yang dipakai, peneliti menggunakan skala 1-4. Skor masimal diperoleh dari jumlah aspek yang akan dinilai dikalikan dengan jumlah skala yang digunakan.
Nilai Rata-rata per ranah = π½π’πππβ ππππ πππ‘ππ π½π’πππβ ππππ’π πΌπ‘ππ
Sesuai Pemendikbud N0. 81A Tahun 2013 terkait implementasi kurikulum, peraturan mengenai penilaian setiap pelajaran yang memuat berbagai kompetensi seperti, pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Kompetensi pengetahuan dan kompetensi keterampilan menggunakan skala 1-4 (kelipatan 0,33), sedangkan kompetensi sikap menggunakan skala Sangat Baik (SB), Baik (B), Cukup (C), dan Kurang (K), yang dapat dikonversi ke dalam predikat A-D seperti tabel 3.11 berikut ini
Tabel 3.11 Konversi Kompetensi Keterampilan dan Sikap
Interval Skor Kategori
3,33 < X β€ 4,00 Sangat Baik 2,33 < X β€ 3,33 Baik 1,33 < X β€ 2,33 Cukup 1,00 < X β€ 1,33 Kurang Baik
Berdasarkan tabel 3.11 mengenai konversi data kompetensi pengetahuan, keterampilan, dan sikap dapat diketahui bahwa kategori sangat baik berada pada interval skor 3,33 sampai dengan 4,00, kategori baik berada pada interval skor 2,33 sampai dengan 3,33, kategori cukup berada pada interval skor 1,33 sampai dengan 2,33, kategori kurang baik berada pada interval skor 1,00 sampai dengan 1,33.
58 BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Pada bab IV ini akan dibahas mengenai (a) hasil penelitian yang meliputi uraian tentang langkah-langkah penelitian dengan menggunakan tipe ADDIE, yakni Analyze, Desain, Develop, Impelementation, Evaluate dan pembahasan (b) mengenai hasil penelitian yang menguraikan tentang kualitas alat peraga menurut para ahli, kualitas RPP menurut para ahli, dan hasil observasi.
4.1 Hasil Penelitian Pengembangan
Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa penelitian ini berjenis Research and Development (R&D). Adapun produk yang dikembangkan dalam penelitian ini berupa alat peraga kotak sifat cahaya. Muatan hasil dari penelitian ini adalah produk berupa alat peraga pembelajaran IPA yakni, alat peraga kotak sifat cahaya, yang dikembangkan sedemikian rupa agar menghasilkan produk yang berkualitas dan bermanfaat. Tipe penelitian adalah ADDIE (Analyze, Desain, Develop, Impelementation, Evaluate). Berikut ini disajikan uraian penelitian sesuai tahapan.
4.1.1 Prosedur Pengembangan Alat Peraga Kotak Sifat Cahaya 4.1.1.1 Tahap Analyze
Pada tahap atau langkah paling awal dalam penelitian ini adalah peneliti melakukan analisis kebutuhan terhadap dua pihak yakni guru dan siswa kelas IV SD. Adapun hal yang dianalisis adalah berkaitan dengan penggunaan alat peraga baik oleh guru maupun oleh siswa. Analisis kebutuhan yang dilaksankan disesuaikan dengan prosedur pengembangan yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya. Tujuan dari analisis kebutuhan agar dapat mengidentifikasi persoalan yang ada, mengetahui kebutuhan alat peraga siswa kelas IV SD Negeri Ngijon 1.
Adapun analisis kebutuhan tersebut antara lain: (1) melakukan wawancara dengan wali kelas IV SD Negeri Ngijon 1, (2) menyebar kuisioner untuk siswa kelas IV SD Negeri Ngijon 1, (3) menyebar kuisioner untuk wali kelas IV SD Negeri Ngijon 1.
Dalam melakukan analisis kebutuhan, peneliti Menyusun daftar pertanyaan dan pernyataan lalu dimuat di dalam aplikasi google form kemudian peneliti membagikan tautan google form tersebut kepada wali kelas IV dan siswanya untuk dikerjakan secara daring. Jadi peneliti tidak memberikan arahan atau penyerahan
59
secara langsung. Hasil analisis kebutuhan wawancara bersama Ibu R yaitu siswa kelas IV sulit untuk memahami materi khususnya IPA diantaranya rangka manusia, sifat-sifat cahaya, alat indera manusia, dan sumber energi. Tidak semua pembelajaran didukung oleh ketersediaan alat peraga, karena sekolah belum memiliki ketersediaan alat peraga yang cukup. Guru juga dianggap kurang terampil dalam membuat alat peraga. Sementara itu siswa mengalami kesulitan dalam memahami materi pelajaran IPA tentang sifat-sifat cahaya. Berikut akan peneliti jelaskan dan paparkan hasil analisis kebutuhan wawancara dan analisis kebutuhan kuisioner secara jelas.
4.1.1.1.1 Hasil Wawancara Analisis Kebutuhan Wali Kelas IV SD Negeri Ngijon 1
Wawancara dengan wali kelas IV di SD Negeri Ngijon 1 dilakukan pada hari Selasa, 24 Agustus 2021. Wawancara dilaksanakan dengan berdasarkan ketentuan dan pedoman yang telah disusun sebelumnya. Wawancara itu bertujuan untuk mendapatkan informasi yang peneliti anggap penting seperti apa saja persoalan yang dihadapi oleh guru saat pembelajaran berlangsung, bagaimana penggunaan alat peraga saat pembelajaran, kesulitan guru dan siswa dalam pembelajaran, serta bagaimana minat siswa terhadapt pembelajaran. Dalam hal ini adalah pembelajaran IPA terkhusus tentang sifa-sifat cahaya. Dari hasil wawancara yang dilakukan bersama Ibu R, Ibu R dalam pembelajaran menggunakan metode konvensional yaitu metode ceramah yang bersifat satu arah yaitu penyampaian informasi dilakukan oleh guru tanpa adanya timbal balik antara guru dan siswa sehingga siswa menjadi pasif, mendengarkan penjelasan guru, dan mencatat tanpa aktivitas positif yang lain.. Selain itu ketersediaan dan penggunaan alat peraga dalam pembelajaran IPA masih sangat terbatas. Berikut akan dipaparkan dan dijelaskan hasil wawancara.
Pertanyaan pertama mengenai metode mengajar yang sering guru gunakan saat pembelajaran. Guru memberikan jawaban bahwa selama pandemi, Ibu R menggunakan video youtube dan menggunakan video yang dibuat sendiri oleh Ibu R yang dikirimkan melalui Whatsapp Group, Ibu R menggunakan aplikasi zoom meeting dalam proses pembelajaran yang berlangsung selama 2 jam, google classroom sebagai tempat untuk penyampaian dan pengumpulan tugas, whatsapp
60
group untuk koordinasi dengan orangtua siswa serta pengumpulan tugas. Selama pembelajaran daring dan luring Ibu R menerapkan system pembelajaran yang sifatnya konvensional seperti metode ceramah. Dengan metode ceramah Ibu R memberikan pelajaran secara secara lisan dengan harapan siswa lebih memahami materi, mendengarkan dengan teliti, serta mencatat hal-hal penting yang dikemukakan. Diskusi kelompok juga sering digunakan dalam pelajaran tertentu saja, alasan Ibu R menggunakan metode ini adalah menarik karena dapat mendorong siswa untuk berinteraksi dan saling membantu memahami pendapat yang berbeda antar siswa yang dapat saja terjadi saat kegiatan pemelajaran berlangsung. Selain itu, metode eksperimen juga pernah digunakan Ibu R untuk mata pelajaran tertentu seperti IPA. Metode eksperimen digunakan agar siswa mendapat pengalaman mengksplorasi suatu fenomena atau obyek, menganalisis, membuktikan suatu fakta yang terdapat pada mata pelajaran.
Pertanyaan kedua difokuskan pada guru yang menggunakan alat peraga saat pembelajaran. Tidak semua pembelajaran memanfaatkan alat peraga sebagai alat untuk membantu guru karena alat peraga yang disediakan sekolah tidak cukup untuk mendukung setiap pembelajaran yang membutuhkan pendukung pembelajaran. Dalam pembelajaran IPA sendiri, tingkat penggunaan alat peraga sangat kurang dipakai oleh guru untuk menunjang materi yang abstrak. Guru kurang terampil dalam menggunakan alat peraga bahkan tidak mampu membuat alat peraga yang diperlukan selama pembelajaran IPA. Selama pandemi Ibu R menggunakan alat peraga berupa gambar untuk menjelaskan materi pelajaran dan membuat video, jika ada hal yang memerlukan alat peraga misalnya untuk pembelajaran IPA Ibu R sering memberikan ekperimen kepada siswa.
Pertanyaan ketiga berkaitan dengan pengalaman guru dalam menggunakan alat peraga yang pernah digunakan namun belum maksimal dan belum mencapai indikator sebagai target pembelajaran. Ketika pembelajaran daring, Ibu R sering meminta anak-anak untuk melakukan eksperimen di rumah masing-masing sehingga Ibu R tidak dapat memantau secara langsung ketika siswa melakukan eksperimen. Namun terdapat beberapa kendala yaitu siswa beresiko tinggi mengalami kesalahan di beberapa titik selama melakukan eksperimen sehingga hasilnya tidak sesuai apa yang ditentukan. Bisa saja terdapat factor lain yang
61
mempengaruhi proses tersebut yang jauh dari jangkauan. Alat peraga yang pernah Ibu R pakai dalam pembelajaran misalnya kincir air, magnet, album metamorfosis, kartu pecahan.
Pertanyaan keempat mengenai dalam pembelajaran khusunya IPA apakah memberikan materi menggunakan alat peraga. Ibu R menjawab tidak semua mata pelajaran IPA memanfaatkan alat peraga sebagai pendukung pembelajaran karena keterbatasan fasilitas. Selain itu para guru juga pernah menciptakan alat peraga sendiri yang mudah dalam pelajaran dan materi tertentu ynag dapat memudahkan siswa memahami materi pelajaran. Pertanyaan yang kelima berkaitan dengan lata peraga yang digunakan selama ini atau yang pernah digunakan. Ibu R memberi jawaban bahwa pernah menggunakan alat peraga berupa kincir air sederhana untuk materi sumber energi alternatif dan energi gerak, album metamorfosis untuk mempelajari bagian-bagian tubuhn hewan dari satu fase ke fase selanjutnya, menggunakan magnet untuk materi gaya magnet dan listrik menggunakan alat seperti sisir, balon, paku, baterai, dan kertas. Untuk pelajaran matematika, Ibu R juga menggunakan alat peraga seperti kartu pecahan agar siswa memahami jenis-jenis pecahan dan bagaimana mengubah pecahan-pecahan tersebut. Siswa juga dapat menyediakan alat peraga yang disiapkan di rumah sehingga tinggal membuatnya di sekolah bersama dengan kelompok dan juga dibimbing oleh Ibu R.
Sehingga guru tidak dibebankan sepenuhnya dalam kewajiban menyediakan alat peraga.
Pada pertanyaan keenam yakni tentang intensitas penggunaan alat peraga, Ibu R menjawab penggunaan alat peraga di kelas dapat dengan mudah mengarahkan peserta didik untuk mengalami langsung pelajaran yang diterima sehingga siswa dapat belajar secara langsung, bermakna dan nyata. Kemampuan dan pemahaman siswa dapat meningkat serta tujuan pembelajaran dapt tercapai dan keberlangsungan pembelajaran efektif. Ketika siswa menggunakan alat peraga, nyaman dan senang untuk mengalami langsung sifat sifat naturallisitk dari konsep pelajaran dengan terjun langsung meraba dan merasakan benda yang menjadi alat peraga pembelajaran. Ibu R mengatakan intensitas penggunaan alat peraga yang digunakan bergantung pada materi pelajaran. Bila sekolah dapat menyediakan fasilitas atau dapat dibuat sendiri alat peraga pada materi tersebut maka dapat
62
digunakan sebagaimana sesuai kebutuhan. Namun apabila sekolah tidak menyediakan fasilitas serupa atau guru tidak mampu merancang alat peraga maka pembelajaran berlangsung sesuai kondisi sedemikian adanya. Dengan demikian penggunaan alat peraga disesuaikan dengan ketersediaan fasilitas alat peraga yang ada di sekolah.
Pertanyaan ketujuh, materi apa yang sulit bagi siswa dalam pembelajaran IPA. Menurut Ibu R, IPA merupakan mata pelajaran yang dianggap sulit oleh peserta didik, terkhusus tentang materi rangka manusia, sifat-sifat cahaya, alat indera manusia, dan sumber energi. Banyak materi yang abstrak yang kurang dimengerti oleh peserta didik membutuhkan perangkat alat peraga untuk membantu siswa memahami materi pelajaran. Ibu R mengatakan bahwa pelajaran-pelajaran tersebut banyak teorinya, sehingga sulit bagis siswa untuk memahami. Alat peraga yang tidak tersedia adalah untuk materi rangka manusia, sifat-sifat cahaya, dan alat indera manusia, dan sumber energi, sehingga Ibu R menggunakan metode ceramah untuk menyampaikan pelajaran. Ibu R mendapati siswanya cenderung tidak bisa memfokuskan diri pada pelajaran saat di kelas. Alih-alih fokus, siswa justru sibuk dengan dirinya sendiri ataupun menggangu teman kelasnya yang lain. Mayoritas siswa kesulitan dalam memahami dan memberikan perbedaan sifat cahaya yang satu dengan sifat cahaya yang lainnya. Cahaya memiliki sifat dapat dibiaskan, cahaya dapat diuraikan, cahaya dapat menembus benda bening, cahaya dapat dipantulkan, dan cahaya merambat lurus. Alat indera manusia juga terasa sulit bagi siswa karena menggunakan bahasa asing dengan materi yang sangat banyak.
Pertanyaan kedelapan mengenai cara guru mengatasi kesulitan yang dialami peserta didik dalam memahami pelajaran khususnya materi IPA. Sebagai jawaban atas masalah tersebut, Ibu R akan mengajak siswanya untuk membentuk kelompok agar dapat berdiskusi secara berkelompok, memberikan kembali materi dalam bentuk ringkasan dan gambar, kemudian memberikan soal berupa pertanyaan-pertanyaan yang sesuai dengan materi. Ibu R juga membantu siswa dalam menghadapi masalah dengan cara melakukan pendekatan kepada siswanya.
Pertanyaan kesembilan mengenai apakah siswa lebih mengerti pelajaran dengan alat peraga daripada mendengarkan penjelasan guru. Ibu R mengakui bahwa siswa lebih dengan mudah memahami materi dengan alat peraga, karena siswa
63
sendiri yang praktik, menemukan masalah, dan mencari solusinya. Untuk penjelasan guru hanya sebagai fasilitator saja, agar siswa tidak miskonsepsi terhadap materi IPA.
Hasil wawancara menunjukkan bahwa penggunaan alat peraga dalam pembelajaran IPA di kelas masih sangat kurang karena ketersediaan fasilitas yang tidak cukup dan kemampuan guru dalam membuat alat peraga tidak mumpuni.
Pengetahuan yang diterima oleh siswa dari guru yang menggunakan metode ceramah yang bersifat satu arah dalam mengajar akan sangat terbatas, karena hanya sebatas penjelasan semata. Penggunaan alat peraga oleh guru pada mata pelajaran tertentu saja. Guru juga kurang terampil dalam merancang dan membuat alat peraga yang dibutuhkan dalam pembelajaran. Sehingga siswa mengalami kesulitan mengikuti alur pelajaran terlebih pembelajaran IPA tentang sifat-sifat cahaya.
4.1.1.1.2 Hasil Kuisioner Analisis Kebutuhan Wali Kelas IV SD Negeri Ngijon 1
Pengisian kuisioner analisis kebutuhan terhadap wali kelas IV SD Negeri Ngijon 1 dilaksanakan pada hari Selasa, 24 Agustus 2021 yang di share melalui aplikasi whatsapp pada jam 13.00 menggunakan google form. Pengisian kuisioner berlangsung selama 1 jam oleh Ibu R. Kuisioner yang peneliti lakukan kepada wali kelas IV SD Negeri Ngijon 1 memiliki tujuan yakni untuk mendapatkan informasi mengani bagaimana penggunaan alat peraga yang sudah dilaksanakan dalam pembelajaran IPA, bagaiman ciri alat peraga yang dapat menarik bagi karakteristik siswa SD, dan kesulitan yang dihadapi dalam membuat alat peraga. Data yang didapat dari pengisian kuisioner menunjukkan terdapat guru yang mengaku pernah menggunakan alat peraga saat pelajaran IPA yang bertujuan untuk memahamkan materi kepada siswa dengan baik. Ibu R merasa terbantu dalam menggunakan alat peraga untuk menjelaskan materi IPA dengan alasan melalui alat peraga materi yang tampak abstrak dapat dijelaskan menggunakan benda-benda tertentu yang sudah dirancang sedemikian rupa sesuai dengan kebutuhanmateri dapat membantu siswa dalam memahami pelajaran dengan baik dan juga membantu siswa untuk fokus dalam pembelajaran.
Ibu R sendiri pernah merancang dan membuat alat peraga dengan memanfaatkan bahan yang ada di sekitar, contoh alat peraganya adalah kincir air
64
dengan alat dan bahan seperti kertas bekas, bambu, tutup botol. Album metamorfosis menggunakan hewan animasi dan kertas. Gaya magnet dengan menggunakan magnet, peniti, kertas, paku, baterai, tembaga, sisir, dan kertas. Ibu R mengatakan kemenarikan alat peraga dilihat dari sejauh mana alat peraga tersebut memberi stimulus kepada pikiran siswa, perasaan keterampilan, kemauan, dan perhatian siswa sehingga proses belajra siswa dapat terdorong. Warna juga menjadi hal yang sangat penting dalam membuat alat peraga, Ibu R mengatakan bahwa dengan warna yang mencolok untuk membedakan hal-hal yang satu dengan yang lainnya sangat diperlukan, selain itu siswa menyukai benda atau barang dengan warna yang menarik. Ibu R mengalami kesulitan dalam membuat alat peraga karena keterampilan setiap guru yang kurang.
4.1.1.1.3 Hasil Kuisioner Analisis Kebutuhan Siswa Kelas IV SD Negeri Ngijon 1
Pengisian kuisioner analisis kebutuhan untuk siswa kelas IV SD Negeri Ngijon 1 dilakukan pada hari Selasa, 24 Agustus 2021 sampai Kamis, 26 Agustus 2021 selama dua hari. Kuisioner dibagikan kepada 28 siswa kelas IV SD Negeri Ngijon 1 melalui whatsapp group menggunakan google form. Kuisioner analisis kebutuhan bertujuan untuk untuk mengetahui proses pembelajaran IPA di kelas, kesulitan materi yang dialami dalam pembelajaran IPA, bagaimana pembelajaran IPA yang menyenangkan, dan bagaimana cara siswa memahami pembelajaran IPA.
Selain itu kuisioner ini bertujuan untuk melengkapi data hasil wawancara dan kuisioner wali kelas IV sehingga data yang diperoleh menjadi sinkron dan lengkap.
Kesulitan siswa pada mata pelajaran IPA terletak pada materi sifat-sifat cahaya, berikut akan dipaparkan dan dijelaskan hasil kuisioner analisis kebutuhan siswa.
Pertanyaan pertama mengenai proses pembelajaran IPA selama diajarkan oleh ibu guru, sebanyak 21 siswa menjawab bahwa pembelajaran IPA berlangsung dengan lancar, mudah, dan menyenangkan sehingga tidak ada kendala dalam pembelajaran IPA karena Ibu R mengirim gambar dan video melalui kanal youtube, 7 siswa mengatakan bahwa materi IPA sulit untuk dipahami karena pembelajaran online. Pertanyaan kedua mengenai perasaan siswa mengikuti proses pembelajaran IPA, seluruh siswa 28 anak mengatakan senang mengikuti pembelajaran IPA karena mudah dipahami, bisa mengetahui dan menambah pengetahuan mengenai
65
kehidupan alam sekitar. Pertanyaan ketiga mengenai materi pembelajaran IPA yang siswa senangi, 13 siswa menyukai materi sumber energi, 3 siswa menyukai materi bunyi dan bagian indra pendengaran, 6 siswa menyukai materi makhluk hidup (hewan dan tumbuhan), dan siswa yang lainnya menyukai materi siklus hujan dan pemeliharaan alat indra manusia.
Pertanyaan keempat mengenai kesulitan dalam memahami materi IPA, 15 siswa mengatakan tidak kesulitan dalam pembelajaran IPA karena materi yang diajarkan sudah ada di dalam buku, ada anggota keluarga yang membantu belajar, dan IPA sangat mudah dipahami. 13 siswa mengatakan kesulitan dalam memahami IPA karena materi dan teorinya banyak, selama online tidak bertemu guru secara langsung sehingga materi kurang dipahami, karena materi IPA menjadi satu dengan mata pelajaran lain. Pertanyaan kelima mengenai pembelajaran IPA seperti apa yang membuat siswa senang, siswa menjawab dengan beragam jawaban diantaranya adalah siswa senang pelajaran IPA yang menggunakan percobaan atau praktik, saat materi IPA berhubungan dengan kehidupan sehari-hari, terdapat pula siswa senang pelajaran IPA saat tatap muka secara langsung sehingga lebih mudah dipahami. Dengan menggunakan percobaan atau praktik, siswa mengatakan dengan metode tersebut dapat melihat secara langsung gambaran materi, dapat mengamati proses-prosesnya, dan bendanya lebih konkrit.
Pertanyaan keenam mengenai bagaimana cara pelajar atau siswa dapat mengerti dan memahami pembelajaran IPA, 11 siswa menjawab lebih mudah memahami IPA menggunakan penjelasan guru alasannya karena jika belum jelas bisa langsung bertanya pada guru dan lebih mudah dipahami, 2 siswa menyukai pelajaran IPA melalui permainan, 15 siswa mengatakan lebih mudah memahami IPA menggunakan alat peraga dengan alasan bisa mendapat gambaran secara nyata tidak terbayang-bayang, menyukai praktik, dan lebih mudah dipahami. Pertanyaan ketujuh mengenai materi apa yang tidak siswa senangi dalam pelajaran IPA, seluruh siswa menjawab pertanyaan dengan beragam jawaban yaitu tentang bunyi dan bagian indra pendengaran, siklus hujan, sifat-sifat benda, panca indra, organ gerak hewan, sifat-sifat cahaya, dan sumber energi.
Berdasarkan hasil kuisoner analisis kebutuhan terhadap siswa kelas IV SD Negeri Ngijon 1 dapat ditarik kesimpulan bahwa sebagian besar siswa kelas IV
66
mengalami kesulitan dalam memahami pelajaran IPA dan sebagian pelajar atau siswa dapat mengerti dan memahami pelajaran IPA menggunakan alat peraga.
Peneliti belum dapat menentukan dan menyimpulkan materi IPA yang dirasa sulit bagi siswa karena jawaban siswa yang sangat beragam, untuk itu peneliti membuat kuisioner analisis kebutuhan yang kedua kalinya bertujuan untuk mengetahui satu topik materi IPA yang dirasa sulit bagi siswa, selain itu untuk membuktikan dan menyamakan jawaban hasil wawancara antara wali kelas IV dengan siswa terkait
Peneliti belum dapat menentukan dan menyimpulkan materi IPA yang dirasa sulit bagi siswa karena jawaban siswa yang sangat beragam, untuk itu peneliti membuat kuisioner analisis kebutuhan yang kedua kalinya bertujuan untuk mengetahui satu topik materi IPA yang dirasa sulit bagi siswa, selain itu untuk membuktikan dan menyamakan jawaban hasil wawancara antara wali kelas IV dengan siswa terkait