BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian dan Pengembangan
4.1.1 Prosedur Pengembangan Alat Peraga
Pada tahap atau langkah paling awal dalam penelitian ini adalah peneliti melakukan analisis kebutuhan terhadap dua pihak yakni guru dan siswa kelas IV SD. Adapun hal yang dianalisis adalah berkaitan dengan penggunaan alat peraga baik oleh guru maupun oleh siswa. Analisis kebutuhan yang dilaksankan disesuaikan dengan prosedur pengembangan yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya. Tujuan dari analisis kebutuhan agar dapat mengidentifikasi persoalan yang ada, mengetahui kebutuhan alat peraga siswa kelas IV SD Negeri Ngijon 1.
Adapun analisis kebutuhan tersebut antara lain: (1) melakukan wawancara dengan wali kelas IV SD Negeri Ngijon 1, (2) menyebar kuisioner untuk siswa kelas IV SD Negeri Ngijon 1, (3) menyebar kuisioner untuk wali kelas IV SD Negeri Ngijon 1.
Dalam melakukan analisis kebutuhan, peneliti Menyusun daftar pertanyaan dan pernyataan lalu dimuat di dalam aplikasi google form kemudian peneliti membagikan tautan google form tersebut kepada wali kelas IV dan siswanya untuk dikerjakan secara daring. Jadi peneliti tidak memberikan arahan atau penyerahan
59
secara langsung. Hasil analisis kebutuhan wawancara bersama Ibu R yaitu siswa kelas IV sulit untuk memahami materi khususnya IPA diantaranya rangka manusia, sifat-sifat cahaya, alat indera manusia, dan sumber energi. Tidak semua pembelajaran didukung oleh ketersediaan alat peraga, karena sekolah belum memiliki ketersediaan alat peraga yang cukup. Guru juga dianggap kurang terampil dalam membuat alat peraga. Sementara itu siswa mengalami kesulitan dalam memahami materi pelajaran IPA tentang sifat-sifat cahaya. Berikut akan peneliti jelaskan dan paparkan hasil analisis kebutuhan wawancara dan analisis kebutuhan kuisioner secara jelas.
4.1.1.1.1 Hasil Wawancara Analisis Kebutuhan Wali Kelas IV SD Negeri Ngijon 1
Wawancara dengan wali kelas IV di SD Negeri Ngijon 1 dilakukan pada hari Selasa, 24 Agustus 2021. Wawancara dilaksanakan dengan berdasarkan ketentuan dan pedoman yang telah disusun sebelumnya. Wawancara itu bertujuan untuk mendapatkan informasi yang peneliti anggap penting seperti apa saja persoalan yang dihadapi oleh guru saat pembelajaran berlangsung, bagaimana penggunaan alat peraga saat pembelajaran, kesulitan guru dan siswa dalam pembelajaran, serta bagaimana minat siswa terhadapt pembelajaran. Dalam hal ini adalah pembelajaran IPA terkhusus tentang sifa-sifat cahaya. Dari hasil wawancara yang dilakukan bersama Ibu R, Ibu R dalam pembelajaran menggunakan metode konvensional yaitu metode ceramah yang bersifat satu arah yaitu penyampaian informasi dilakukan oleh guru tanpa adanya timbal balik antara guru dan siswa sehingga siswa menjadi pasif, mendengarkan penjelasan guru, dan mencatat tanpa aktivitas positif yang lain.. Selain itu ketersediaan dan penggunaan alat peraga dalam pembelajaran IPA masih sangat terbatas. Berikut akan dipaparkan dan dijelaskan hasil wawancara.
Pertanyaan pertama mengenai metode mengajar yang sering guru gunakan saat pembelajaran. Guru memberikan jawaban bahwa selama pandemi, Ibu R menggunakan video youtube dan menggunakan video yang dibuat sendiri oleh Ibu R yang dikirimkan melalui Whatsapp Group, Ibu R menggunakan aplikasi zoom meeting dalam proses pembelajaran yang berlangsung selama 2 jam, google classroom sebagai tempat untuk penyampaian dan pengumpulan tugas, whatsapp
60
group untuk koordinasi dengan orangtua siswa serta pengumpulan tugas. Selama pembelajaran daring dan luring Ibu R menerapkan system pembelajaran yang sifatnya konvensional seperti metode ceramah. Dengan metode ceramah Ibu R memberikan pelajaran secara secara lisan dengan harapan siswa lebih memahami materi, mendengarkan dengan teliti, serta mencatat hal-hal penting yang dikemukakan. Diskusi kelompok juga sering digunakan dalam pelajaran tertentu saja, alasan Ibu R menggunakan metode ini adalah menarik karena dapat mendorong siswa untuk berinteraksi dan saling membantu memahami pendapat yang berbeda antar siswa yang dapat saja terjadi saat kegiatan pemelajaran berlangsung. Selain itu, metode eksperimen juga pernah digunakan Ibu R untuk mata pelajaran tertentu seperti IPA. Metode eksperimen digunakan agar siswa mendapat pengalaman mengksplorasi suatu fenomena atau obyek, menganalisis, membuktikan suatu fakta yang terdapat pada mata pelajaran.
Pertanyaan kedua difokuskan pada guru yang menggunakan alat peraga saat pembelajaran. Tidak semua pembelajaran memanfaatkan alat peraga sebagai alat untuk membantu guru karena alat peraga yang disediakan sekolah tidak cukup untuk mendukung setiap pembelajaran yang membutuhkan pendukung pembelajaran. Dalam pembelajaran IPA sendiri, tingkat penggunaan alat peraga sangat kurang dipakai oleh guru untuk menunjang materi yang abstrak. Guru kurang terampil dalam menggunakan alat peraga bahkan tidak mampu membuat alat peraga yang diperlukan selama pembelajaran IPA. Selama pandemi Ibu R menggunakan alat peraga berupa gambar untuk menjelaskan materi pelajaran dan membuat video, jika ada hal yang memerlukan alat peraga misalnya untuk pembelajaran IPA Ibu R sering memberikan ekperimen kepada siswa.
Pertanyaan ketiga berkaitan dengan pengalaman guru dalam menggunakan alat peraga yang pernah digunakan namun belum maksimal dan belum mencapai indikator sebagai target pembelajaran. Ketika pembelajaran daring, Ibu R sering meminta anak-anak untuk melakukan eksperimen di rumah masing-masing sehingga Ibu R tidak dapat memantau secara langsung ketika siswa melakukan eksperimen. Namun terdapat beberapa kendala yaitu siswa beresiko tinggi mengalami kesalahan di beberapa titik selama melakukan eksperimen sehingga hasilnya tidak sesuai apa yang ditentukan. Bisa saja terdapat factor lain yang
61
mempengaruhi proses tersebut yang jauh dari jangkauan. Alat peraga yang pernah Ibu R pakai dalam pembelajaran misalnya kincir air, magnet, album metamorfosis, kartu pecahan.
Pertanyaan keempat mengenai dalam pembelajaran khusunya IPA apakah memberikan materi menggunakan alat peraga. Ibu R menjawab tidak semua mata pelajaran IPA memanfaatkan alat peraga sebagai pendukung pembelajaran karena keterbatasan fasilitas. Selain itu para guru juga pernah menciptakan alat peraga sendiri yang mudah dalam pelajaran dan materi tertentu ynag dapat memudahkan siswa memahami materi pelajaran. Pertanyaan yang kelima berkaitan dengan lata peraga yang digunakan selama ini atau yang pernah digunakan. Ibu R memberi jawaban bahwa pernah menggunakan alat peraga berupa kincir air sederhana untuk materi sumber energi alternatif dan energi gerak, album metamorfosis untuk mempelajari bagian-bagian tubuhn hewan dari satu fase ke fase selanjutnya, menggunakan magnet untuk materi gaya magnet dan listrik menggunakan alat seperti sisir, balon, paku, baterai, dan kertas. Untuk pelajaran matematika, Ibu R juga menggunakan alat peraga seperti kartu pecahan agar siswa memahami jenis-jenis pecahan dan bagaimana mengubah pecahan-pecahan tersebut. Siswa juga dapat menyediakan alat peraga yang disiapkan di rumah sehingga tinggal membuatnya di sekolah bersama dengan kelompok dan juga dibimbing oleh Ibu R.
Sehingga guru tidak dibebankan sepenuhnya dalam kewajiban menyediakan alat peraga.
Pada pertanyaan keenam yakni tentang intensitas penggunaan alat peraga, Ibu R menjawab penggunaan alat peraga di kelas dapat dengan mudah mengarahkan peserta didik untuk mengalami langsung pelajaran yang diterima sehingga siswa dapat belajar secara langsung, bermakna dan nyata. Kemampuan dan pemahaman siswa dapat meningkat serta tujuan pembelajaran dapt tercapai dan keberlangsungan pembelajaran efektif. Ketika siswa menggunakan alat peraga, nyaman dan senang untuk mengalami langsung sifat sifat naturallisitk dari konsep pelajaran dengan terjun langsung meraba dan merasakan benda yang menjadi alat peraga pembelajaran. Ibu R mengatakan intensitas penggunaan alat peraga yang digunakan bergantung pada materi pelajaran. Bila sekolah dapat menyediakan fasilitas atau dapat dibuat sendiri alat peraga pada materi tersebut maka dapat
62
digunakan sebagaimana sesuai kebutuhan. Namun apabila sekolah tidak menyediakan fasilitas serupa atau guru tidak mampu merancang alat peraga maka pembelajaran berlangsung sesuai kondisi sedemikian adanya. Dengan demikian penggunaan alat peraga disesuaikan dengan ketersediaan fasilitas alat peraga yang ada di sekolah.
Pertanyaan ketujuh, materi apa yang sulit bagi siswa dalam pembelajaran IPA. Menurut Ibu R, IPA merupakan mata pelajaran yang dianggap sulit oleh peserta didik, terkhusus tentang materi rangka manusia, sifat-sifat cahaya, alat indera manusia, dan sumber energi. Banyak materi yang abstrak yang kurang dimengerti oleh peserta didik membutuhkan perangkat alat peraga untuk membantu siswa memahami materi pelajaran. Ibu R mengatakan bahwa pelajaran-pelajaran tersebut banyak teorinya, sehingga sulit bagis siswa untuk memahami. Alat peraga yang tidak tersedia adalah untuk materi rangka manusia, sifat-sifat cahaya, dan alat indera manusia, dan sumber energi, sehingga Ibu R menggunakan metode ceramah untuk menyampaikan pelajaran. Ibu R mendapati siswanya cenderung tidak bisa memfokuskan diri pada pelajaran saat di kelas. Alih-alih fokus, siswa justru sibuk dengan dirinya sendiri ataupun menggangu teman kelasnya yang lain. Mayoritas siswa kesulitan dalam memahami dan memberikan perbedaan sifat cahaya yang satu dengan sifat cahaya yang lainnya. Cahaya memiliki sifat dapat dibiaskan, cahaya dapat diuraikan, cahaya dapat menembus benda bening, cahaya dapat dipantulkan, dan cahaya merambat lurus. Alat indera manusia juga terasa sulit bagi siswa karena menggunakan bahasa asing dengan materi yang sangat banyak.
Pertanyaan kedelapan mengenai cara guru mengatasi kesulitan yang dialami peserta didik dalam memahami pelajaran khususnya materi IPA. Sebagai jawaban atas masalah tersebut, Ibu R akan mengajak siswanya untuk membentuk kelompok agar dapat berdiskusi secara berkelompok, memberikan kembali materi dalam bentuk ringkasan dan gambar, kemudian memberikan soal berupa pertanyaan-pertanyaan yang sesuai dengan materi. Ibu R juga membantu siswa dalam menghadapi masalah dengan cara melakukan pendekatan kepada siswanya.
Pertanyaan kesembilan mengenai apakah siswa lebih mengerti pelajaran dengan alat peraga daripada mendengarkan penjelasan guru. Ibu R mengakui bahwa siswa lebih dengan mudah memahami materi dengan alat peraga, karena siswa
63
sendiri yang praktik, menemukan masalah, dan mencari solusinya. Untuk penjelasan guru hanya sebagai fasilitator saja, agar siswa tidak miskonsepsi terhadap materi IPA.
Hasil wawancara menunjukkan bahwa penggunaan alat peraga dalam pembelajaran IPA di kelas masih sangat kurang karena ketersediaan fasilitas yang tidak cukup dan kemampuan guru dalam membuat alat peraga tidak mumpuni.
Pengetahuan yang diterima oleh siswa dari guru yang menggunakan metode ceramah yang bersifat satu arah dalam mengajar akan sangat terbatas, karena hanya sebatas penjelasan semata. Penggunaan alat peraga oleh guru pada mata pelajaran tertentu saja. Guru juga kurang terampil dalam merancang dan membuat alat peraga yang dibutuhkan dalam pembelajaran. Sehingga siswa mengalami kesulitan mengikuti alur pelajaran terlebih pembelajaran IPA tentang sifat-sifat cahaya.
4.1.1.1.2 Hasil Kuisioner Analisis Kebutuhan Wali Kelas IV SD Negeri Ngijon 1
Pengisian kuisioner analisis kebutuhan terhadap wali kelas IV SD Negeri Ngijon 1 dilaksanakan pada hari Selasa, 24 Agustus 2021 yang di share melalui aplikasi whatsapp pada jam 13.00 menggunakan google form. Pengisian kuisioner berlangsung selama 1 jam oleh Ibu R. Kuisioner yang peneliti lakukan kepada wali kelas IV SD Negeri Ngijon 1 memiliki tujuan yakni untuk mendapatkan informasi mengani bagaimana penggunaan alat peraga yang sudah dilaksanakan dalam pembelajaran IPA, bagaiman ciri alat peraga yang dapat menarik bagi karakteristik siswa SD, dan kesulitan yang dihadapi dalam membuat alat peraga. Data yang didapat dari pengisian kuisioner menunjukkan terdapat guru yang mengaku pernah menggunakan alat peraga saat pelajaran IPA yang bertujuan untuk memahamkan materi kepada siswa dengan baik. Ibu R merasa terbantu dalam menggunakan alat peraga untuk menjelaskan materi IPA dengan alasan melalui alat peraga materi yang tampak abstrak dapat dijelaskan menggunakan benda-benda tertentu yang sudah dirancang sedemikian rupa sesuai dengan kebutuhanmateri dapat membantu siswa dalam memahami pelajaran dengan baik dan juga membantu siswa untuk fokus dalam pembelajaran.
Ibu R sendiri pernah merancang dan membuat alat peraga dengan memanfaatkan bahan yang ada di sekitar, contoh alat peraganya adalah kincir air
64
dengan alat dan bahan seperti kertas bekas, bambu, tutup botol. Album metamorfosis menggunakan hewan animasi dan kertas. Gaya magnet dengan menggunakan magnet, peniti, kertas, paku, baterai, tembaga, sisir, dan kertas. Ibu R mengatakan kemenarikan alat peraga dilihat dari sejauh mana alat peraga tersebut memberi stimulus kepada pikiran siswa, perasaan keterampilan, kemauan, dan perhatian siswa sehingga proses belajra siswa dapat terdorong. Warna juga menjadi hal yang sangat penting dalam membuat alat peraga, Ibu R mengatakan bahwa dengan warna yang mencolok untuk membedakan hal-hal yang satu dengan yang lainnya sangat diperlukan, selain itu siswa menyukai benda atau barang dengan warna yang menarik. Ibu R mengalami kesulitan dalam membuat alat peraga karena keterampilan setiap guru yang kurang.
4.1.1.1.3 Hasil Kuisioner Analisis Kebutuhan Siswa Kelas IV SD Negeri Ngijon 1
Pengisian kuisioner analisis kebutuhan untuk siswa kelas IV SD Negeri Ngijon 1 dilakukan pada hari Selasa, 24 Agustus 2021 sampai Kamis, 26 Agustus 2021 selama dua hari. Kuisioner dibagikan kepada 28 siswa kelas IV SD Negeri Ngijon 1 melalui whatsapp group menggunakan google form. Kuisioner analisis kebutuhan bertujuan untuk untuk mengetahui proses pembelajaran IPA di kelas, kesulitan materi yang dialami dalam pembelajaran IPA, bagaimana pembelajaran IPA yang menyenangkan, dan bagaimana cara siswa memahami pembelajaran IPA.
Selain itu kuisioner ini bertujuan untuk melengkapi data hasil wawancara dan kuisioner wali kelas IV sehingga data yang diperoleh menjadi sinkron dan lengkap.
Kesulitan siswa pada mata pelajaran IPA terletak pada materi sifat-sifat cahaya, berikut akan dipaparkan dan dijelaskan hasil kuisioner analisis kebutuhan siswa.
Pertanyaan pertama mengenai proses pembelajaran IPA selama diajarkan oleh ibu guru, sebanyak 21 siswa menjawab bahwa pembelajaran IPA berlangsung dengan lancar, mudah, dan menyenangkan sehingga tidak ada kendala dalam pembelajaran IPA karena Ibu R mengirim gambar dan video melalui kanal youtube, 7 siswa mengatakan bahwa materi IPA sulit untuk dipahami karena pembelajaran online. Pertanyaan kedua mengenai perasaan siswa mengikuti proses pembelajaran IPA, seluruh siswa 28 anak mengatakan senang mengikuti pembelajaran IPA karena mudah dipahami, bisa mengetahui dan menambah pengetahuan mengenai
65
kehidupan alam sekitar. Pertanyaan ketiga mengenai materi pembelajaran IPA yang siswa senangi, 13 siswa menyukai materi sumber energi, 3 siswa menyukai materi bunyi dan bagian indra pendengaran, 6 siswa menyukai materi makhluk hidup (hewan dan tumbuhan), dan siswa yang lainnya menyukai materi siklus hujan dan pemeliharaan alat indra manusia.
Pertanyaan keempat mengenai kesulitan dalam memahami materi IPA, 15 siswa mengatakan tidak kesulitan dalam pembelajaran IPA karena materi yang diajarkan sudah ada di dalam buku, ada anggota keluarga yang membantu belajar, dan IPA sangat mudah dipahami. 13 siswa mengatakan kesulitan dalam memahami IPA karena materi dan teorinya banyak, selama online tidak bertemu guru secara langsung sehingga materi kurang dipahami, karena materi IPA menjadi satu dengan mata pelajaran lain. Pertanyaan kelima mengenai pembelajaran IPA seperti apa yang membuat siswa senang, siswa menjawab dengan beragam jawaban diantaranya adalah siswa senang pelajaran IPA yang menggunakan percobaan atau praktik, saat materi IPA berhubungan dengan kehidupan sehari-hari, terdapat pula siswa senang pelajaran IPA saat tatap muka secara langsung sehingga lebih mudah dipahami. Dengan menggunakan percobaan atau praktik, siswa mengatakan dengan metode tersebut dapat melihat secara langsung gambaran materi, dapat mengamati proses-prosesnya, dan bendanya lebih konkrit.
Pertanyaan keenam mengenai bagaimana cara pelajar atau siswa dapat mengerti dan memahami pembelajaran IPA, 11 siswa menjawab lebih mudah memahami IPA menggunakan penjelasan guru alasannya karena jika belum jelas bisa langsung bertanya pada guru dan lebih mudah dipahami, 2 siswa menyukai pelajaran IPA melalui permainan, 15 siswa mengatakan lebih mudah memahami IPA menggunakan alat peraga dengan alasan bisa mendapat gambaran secara nyata tidak terbayang-bayang, menyukai praktik, dan lebih mudah dipahami. Pertanyaan ketujuh mengenai materi apa yang tidak siswa senangi dalam pelajaran IPA, seluruh siswa menjawab pertanyaan dengan beragam jawaban yaitu tentang bunyi dan bagian indra pendengaran, siklus hujan, sifat-sifat benda, panca indra, organ gerak hewan, sifat-sifat cahaya, dan sumber energi.
Berdasarkan hasil kuisoner analisis kebutuhan terhadap siswa kelas IV SD Negeri Ngijon 1 dapat ditarik kesimpulan bahwa sebagian besar siswa kelas IV
66
mengalami kesulitan dalam memahami pelajaran IPA dan sebagian pelajar atau siswa dapat mengerti dan memahami pelajaran IPA menggunakan alat peraga.
Peneliti belum dapat menentukan dan menyimpulkan materi IPA yang dirasa sulit bagi siswa karena jawaban siswa yang sangat beragam, untuk itu peneliti membuat kuisioner analisis kebutuhan yang kedua kalinya bertujuan untuk mengetahui satu topik materi IPA yang dirasa sulit bagi siswa, selain itu untuk membuktikan dan menyamakan jawaban hasil wawancara antara wali kelas IV dengan siswa terkait materi yang sulit bagi siswa sesuai dengan kondisi situasi siswa terhadap pembelajaran IPA.
Peneliti memberikan pilihan beberapa topik materi IPA yang dirasa sulit bagi siswa berdasarkan hasil wawancara yaitu sumber energi, bunyi dan indra pendengaran, sifat-sifat cahaya, siklus hujan. Kuisioner dibagikan kepada siswa kelas IV SD Negeri Ngijon 1 melalui google form pada hari Jumat, 27 Agustus 2021, pengisian, dan pengumpulan jawaban oleh siswa berlangsung selama dua hari yaitu sampai hari Minggu, 29 Agustus 2021. Hasil dari kuisioner analisis kebutuhan disajikan dalam diagram berikut ini.
Gambar 4.1 Hasil Kesulitan Siswa dalam Memahami Materi IPA
Berdasarkan diagram kuisioner analisis kebutuhan mengenai satu topik yang dirasa sulit bagi siswa didapatkan bahwa sebanyak 39,3 % siswa memilih materi sifat-sifat cahaya, 25 % siswa memilih bunyi dan indera pendengaran, 17,9
% siswa memilih sumber energi, 17,9 % siswa memilih siklus hujan. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa siswa mengalami kesulitan dalam memahami
67
materi sifat-sifat cahaya yang diperoleh dengan angka 39,3 %.
4.1.1.2 Tahap Design
Berdasarkan hasil analisis kebutuhan yang telah didapatkan bahwa materi IPA yang sulit bagi siswa adalah materi sifat-sifat cahaya. Peneliti mencari berbagai referensi-referensi untuk mengatasi materi sifat-sifat cahaya yang sulit bagi siswa yang dituangkan dalam bentuk alat peraga. Desain alat peraga yang dibuat peneliti adalah berdasarkan dan mengacu pada teori Carol Nancarrow (2008) yang mengatakan bahwa karakteristik alat pembelajaran yang berkualitas adalah Growth-Oriented ( alat pembelajaran mengarah pada pertumbuhan yang signifikan menuju hasil belajar atau keterampilan belajar), Transferable (alat pembelajaran fleksibel sehingga digunakan diberbagai macam suasana dan digunakan berulang-ulang), Time-Efficient (waktu menggunakan alat pembelajaran sangat produktif dan terstruktur), Results-Oriented (alat pembelajaran merupakan sarana untuk mencapai tujuan), Essential (Alat ini memenuhi kebutuhan nyata siswa), Feasible (alat pembelajaran dibuat dengan biaya yang murah dan bahan yang ramah lingkungan), Engaging (alat pembelajaran menyenangkan dan bermanfaat untuk digunakan), Functional (alat pembelajaran dirancang dengan elegan sehingga hasilnya mudah dicapai).
Berdasarkan teori Carol Nancarrow (2008) peneliti mendesain bentuk alat peraga, memodifikasi, sesuai dengan materi sifat-sifat cahaya yaitu cahaya memiliki sifat dapat dibiaskan, cahaya dapat diuraikan, cahaya dapat menembus benda bening, cahaya dapat dipantulkan, dan cahaya merambat lurus. Selain itu peneliti juga membuat alat peraga untuk meningkatkan keterampilan sains dan soft skill yang dimiliki oleh siswa. Keterampilan proses sains yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah mengobservasi, penerapan konsep, menyimpulkan, dan mengkomunikasikan. Setelah mendapat gambaran mengenai alat peraga, peneliti membuat desain alat peraga yang dikombinasikan dengan materi sifat-sifat cahaya pelajaran IPA. Berikut merupakan sketsa yang dibuat oleh peneliti
68
Gambar 4.2 Sketsa Gambar Alat Peraga Kotak Sifat Cahaya
Alat peraga yang dibuat peneliti berbentuk balok dimana sisi bagian depan dan sisi bagian atas di buka, hal ini bertujuan agar siswa melihat secara jelas bagaimana langkah kerja dari sifat-sifat cahaya dan komponen di dalamnya. Bahan dan komponen yang digunakan dalam membuat alat peraga mengacu pada teori Carol Nancarrow (2008) mengenai alat pembelajaran berkualitas, peneliti membuat alat peraga menggunakan bahan yang ramah lingkungan dan berada di sekitar lingkungan. Bahan dan alat pendukung tersebut berupa triplek kayu, gelas plastik, cermin, mika bening, kaset CD, senter, papan kayu berlubang, air, pensil/bolpen.
Bahan-bahan tersebut sangat mendukung dan sesuai dengan materi sifat-sifat cahaya.
Sketsa gambar tersebut peneliti konsultasikan dengan dosen pembimbing selama kurang lebih 1 bulan, banyak saran dan masukan yang diberi oleh dosen pembimbing kepada peneliti mengenai alat peraga yang dibuat. Peneliti terus merevisi desain alat peraga yang dibuat sampai benar-benar tidak ada revisi. Setelah desain alat peraga sudah tidak ada revisi, maka peneliti membuat desain menggunakan aplikasi photoshop. Berikut desain alat peraga yang dibuat
Gambar 4.3 Gambar Alat Peraga Kotak Sifat Cahaya Tampak dari Depan
69
Gambar 4.4 Gambar Alat Peraga Kotak Sifat Cahaya Tampak dari Atas Alat peraga kotak cahaya terbuat dari triplek kayu berukuran 25 cm × 30 cm × 25 cm. Pada bagian dalam kotak ini terdiri dari 2 bagian kotak persegi berukuran 20 cm × 16 cm yang terbuat dari triplek kayu, antara 2 bagian kotak tersebut diberi jarak 10 cm dimana masing-masing kotak pada bagian tengah diberi
Gambar 4.4 Gambar Alat Peraga Kotak Sifat Cahaya Tampak dari Atas Alat peraga kotak cahaya terbuat dari triplek kayu berukuran 25 cm × 30 cm × 25 cm. Pada bagian dalam kotak ini terdiri dari 2 bagian kotak persegi berukuran 20 cm × 16 cm yang terbuat dari triplek kayu, antara 2 bagian kotak tersebut diberi jarak 10 cm dimana masing-masing kotak pada bagian tengah diberi