• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGEMBANGAN ALAT PERAGA KOTAK SIFAT CAHAYA MATERI SIFAT-SIFAT CAHAYA TEMA 5 SUBTEMA 1 PADA SISWA KELAS IV SEKOLAH DASAR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PENGEMBANGAN ALAT PERAGA KOTAK SIFAT CAHAYA MATERI SIFAT-SIFAT CAHAYA TEMA 5 SUBTEMA 1 PADA SISWA KELAS IV SEKOLAH DASAR"

Copied!
228
0
0

Teks penuh

(1)

i

PENGEMBANGAN ALAT PERAGA KOTAK SIFAT CAHAYA MATERI SIFAT-SIFAT CAHAYA TEMA 5 SUBTEMA 1

PADA SISWA KELAS IV SEKOLAH DASAR

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Oleh :

Maria Avista Avegracia NIM : 181134022

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA 2022

(2)

ii SKRIPSI

PENGEMBANGAN ALAT PERAGA KOTAK SIFAT CAHAYA MATERI SIFAT-SIFAT CAHAYA TEMA 5 SUBTEMA 1

PADA SISWA KELAS IV SEKOLAH DASAR

Oleh

Maria Avista Avegracia NIM : 181134022

Telah disetujui oleh :

Pembimbing 1

Kintan Limiansih, S,Pd., M.Pd. Tanggal 5 April 2022

Pembimbing II

Dr. Ignatius Edi Santosa, M.S. Tanggal 5 April 2022

(3)

iii SKRIPSI

PENGEMBANGAN ALAT PERAGA KOTAK SIFAT CAHAYA MATERI SIFAT-SIFAT CAHAYA TEMA 5 SUBTEMA 1

PADA SISWA KELAS IV SEKOLAH DASAR

Dipersiapkan dan ditulis oleh:

Maria Avista Avegracia NIM : 181134022

Telah dipertahankan di depan Panitia Penguji pada tanggal 21 April 2022

dan dinyatakan telah memenuhi syarat

Susunan Panitia Penguji

Nama Lengkap Tandatangan

Ketua Kintan Limiansih, S.Pd., M.Pd. ...

Sekretaris Dr. Rusmawan, M.Pd. ...

Anggota Kintan Limiansih, S.Pd., M.Pd. ...

Anggota Dr. Ignatius Edi Santosa, M.S. ...

Anggota Drs. Albertus Hartana SJ., M.Pd. ...

Yogyakarta, 21 April 2022

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma

Dekan,

Drs. Tarsisius Sarkim, M.Ed., Ph.D.

(4)

iv

PERSEMBAHAN

Skripsi ini peneliti persembahkan kepada :

1. Tuhan Yesus Kristus dan Bunda Maria sebagai sumber kekuatan dan pengharapan

2. Kedua orang tercinta, Bapak Andrianus Winaryo dan Ibu Magdalena Litaningsih yang selalu mendukung, mendoakan, dan memberi semangat sampai skripsi ini selesai

3. Dosen pembimbing Kintan Limiansih, S.Pd., M.pd. dan Dr. Ign. Edi Santosa, M.s. yang telah membimbing saya sehingga skripsi ini dapat terselesaikan

4. Wali kelas IV dan seluruh siswa kelas IV SD Negeri Ngijon 1 sebagai tempat penelitian yang telah membantu dan mendukung sehingga skripsi ini dapat berjalan dengan lancar dan selesai

5. Teman-teman perjuangan sepayung dan teman-teman kelas 8B PGSD yang menjadi pendukung sekaligus healing di sela-sela mengerjakan skipsi 6. Para dosen PGSD Universitas Sanata Dharma

7. Almamater tercinta Universitas Sanata Dharma

(5)

v MOTTO

“ Nasib memang diserahkan kepada manusia untuk digarap, tetapi takdir harus ditandatangani di atas materai dan tidak boleh digugat kalau nanti terjadi apa-apa,

baik atau buruk. “

( Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono )

“ Hidup yang tidak teruji adalah hidup yang tidak layak untuk dihidupi. Tanda manusia masih hidup adalah ketika ia mengalami ujian, kegagalan, dan

penderitaan.”

( Socrates )

“ Don’t be insecure, hanya ada satu Anya Geraldine di dunia, dan hanya ada satu orang seperti kamu di dunia. Buatlah diri kamu menjadi versi terbaik untuk dirimu

sendiri.”

(Unknown)

(6)

vi

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.

Yogyakarta, 21 April 2022

Penulis,

Maria Avista Avegracia

(7)

vii

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN

PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma:

Nama : Maria Avista Avegracia

Nomor Induk Mahasiswa : 181134022

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya berjudul:

PENGEMBANGAN ALAT PERAGA KOTAK SIFAT CAHAYA MATERI SIFAT-SIFAT CAHAYA TEMA 5 SUBTEMA 1

PADA SISWA KELAS IV SEKOLAH DASAR

beserta perangkat yang diperlukan. Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan, dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, tanpa perlu meminta ijin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan saya sebagai penulis.

Demikian pernyataan ini yang saya buat dengan sebenarnya Dibuat di Yogyakarta

Pada tanggal 21 April 2022 Yang menyatakan

Maria Avista Avegracia

(8)

viii ABSTRAK

PENGEMBANGAN ALAT PERAGA KOTAK SIFAT CAHAYA MATERI SIFAT-SIFAT CAHAYA TEMA 5 SUBTEMA 1

PADA SISWA KELAS IV SEKOLAH DASAR Maria Avista Avegracia

Universitas Sanata Dharma 2022

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan alat peraga IPA pada materi sifat-sifat cahaya yang membantu guru dalam menyampaikan materi pelajaran.

Tujuan dari penelitian ini untuk : (1) mengembangkan alat peraga kotak sifat cahaya dan (2) mengetahui kualitas alat peraga kotak sifat cahaya.

Jenis penelitian ini adalah Research and Development (R&D) dengan menggunakan model ADDIE. Subyek penelitian ini adalah sepuluh siswa kelas IV SD Negeri Ngijon 1 tahun ajaran 2021/2022. Objek dalam penelitian ini adalah alat peraga kotak sifat cahaya yang dapat membentuk keterampilan proses sains, dikembangkan, dan dimodifikasi untuk pembelajaran IPA materi sifat-sifat cahaya.

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu, wawancara, kuisioner, observasi, dan tes.

Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) pengembangan alat peraga kotak sifat cahaya menggunakan langkah-langkah ADDIE yaitu analyze, design, development, implementation, evaluate; (2) Alat peraga kotak sifat cahaya memiliki kualitas yang sangat baik dengan hasil validasi rata-rata skor sebesar 3,7. Selain itu alat peraga kotak sifat cahaya memenuhi delapan karakteristik alat peraga yang berkualitas menurut Carol Nancarrow (2008) meliputi Growth-Oriented, Transferable, Time-Efficient, Results-Oriented, Essential, Feasible, Engaging, dan Functional. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa alat peraga kotak sifat cahaya memiliki kualitas yang sangat baik, layak digunakan, dan dapat membantu siswa memahami materi IPA sifat-sifat cahaya. Hasil uji coba terbatas sebanyak 10 siswa memperoleh nilai diatas KKM dengan rata-rata 87. Dengan demikian, alat peraga kotak sifat cahaya membantu siswa memahami materi sifat-sifat cahaya.

Kata Kunci: Penelitian dan pengembangan, Model ADDIE, Alat peraga IPA, Sifat- sifat cahaya.

(9)

ix ABSTRACK

THE DEVELOPMENT OF BOX PROPS OF LIGHT CHARACTERISTICS LIGHT CHARACTERISTICS MATERIAL THEME 5 SUBTHEME 1

ON ELEMENTARY STUDENTS GRADE 1V Maria Avista Avegracia

Sanata Dharma University 2022

The research is conducted as the necessity of Science Course props in light characteristics material in order to assist the teachers in delivering the learning materials. The aim of this research are : (1) develop the box props of light characteristics and (2) to know the quality of box props of light characteristics.

The type of the research is Research and Development (R&D) utilizing ADDIE models. The research subjects are the ten students in Ngijon 1 Elementary School from grade IV 2021/2022 school year. The research object is the box props of light characteristics could establish skills on science process, develop, and modify the learning material in Science Course on light characteristics. The techniques in gathering the research data are by doing interviews, questionnaires, observations, and tests.

The research shows that (1) the development of box props of light characteristics uses ADDIE models which is analyze, design, development, implementation, evaluate; (2) The box props of light characteristics has an excellent quality for having validation result 3.7 in score. Furthermore, the box props of light characteristics fulfil the eight good characteristics of learning props according to Carol Nancarrow (2008) that covers Growth-Oriented, Transferable, Time-Efficient, Results-Oriented, Essential, Feasible, Engaging, dan Functional.

In a nutshell, the box props of light characteristics has an excellent quality, proper to be used, and could help students in comprehending the light characteristics on Science Course. The findings of the short experiment as many as 10 of students scored above the KKM obtained an average score of 87. Thus, the box props of light characteristics help students understand the material of single substances and mixtures.

Key Words: Research and Development, ADDIE Models, Science Course Learning Props, Characteristics of Light.

(10)

x

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur peneliti panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan karunia-Nya sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi ynag berjudul

“PENGEMBANGAN ALAT PERAGA KOTAK SIFAT CAHAYA MATERI SIFAT-SIFAT CAHAYA TEMA 5 SUBTEMA 1 PADA SISWA KELAS IV SEKOLAH DASAR” dengan lancar dan tepat waktu. Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Sanata Dharma.

Peneliti menyadari bahwa dalam menyelesaikan skripsi ini, banyak pihak yang telah memberikan dukungan dan bantuan. Maka pada kesempatan ini peneliti akan menyampaikan ucapan terima kasih kepada :

1. Drs. T. Sarkim, M.Ed., Ph.D. selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma

2. Kintan Limiansih, S.Pd., M.Pd., selaku Ketua Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

3. Dr. Rusmawan, S.Pd., M.Pd., selaku Wakil Ketua Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Sanata Dharma Yogyakarta 4. Kintan Limiansih, S.Pd., M.Pd., selaku dosen pembimbing I yang telah

membimbing, membantu, dan mengarahkan untuk menyelesaikan skripsi ini dengan baik.

5. Dr. Ignatius Edi Santosa, M.S., selaku dosen pembimbing II yang telah membimbing, membantu, dan mengarahkan untuk menyelesaikan skripsi ini dengan baik.

6. Irine Kurniastuti, S.Psi., M.Psi., selaku validator pakar alat peraga kotak fungsi sifat-sifat cahaya yang telah memberikan bantuan dalam melakukan validasi produk penelitian

7. Rosalia Derita Murdijanie, S.Pd.SD selaku validator pakar alat peraga kotak fungsi sifat-sifat cahaya yang telah memberikan bantuan dalam melakukan validasi produk penelitian dan selaku wali kelas IV SD Negeri Ngijon 1 yang menjadi narasumber serta membantu dengan senang hati penelitian berlangsung

(11)

xi

8. Siswa kelas IV SD Negeri Ngijon 1 yang telah membantu dan ikut berperan serta selama penelitian berlangsung

9. Sekretariat PGSD Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang telah membantu proses perizinan implementasi skripsi

10. Kedua orang tercinta, Bapak Andrianus Winaryo dan Ibu Magdalena Litaningsih yang selalu mendukung, mendoakan, dan memberi semangat sampai skripsi ini selesai

11. Sahabat sekaligus teman-teman payung alat peraga IPA, Elizabeth Daniar Ratih, Amalia Titisari, Klara Galuh, yang turut memberi semangat dan masukan dalam penyusunan skripsi

12. Semua pihak yang telah membantu menyelesaikan skripsi ini yang tidak dapat disebutkan satu per satu

Peneliti menyadari bahwa skripsi ini belum sempurna, karena keterbatasan kemampuan peneliti. Maka dari itu, peneliti membutuhkan segala kritik dan saran yang membangun untuk skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat dan menginspirasi bagi penelitian selanjutnya.

Yogyakarta, 21 April 2022 Penulis,

Maria Avista Avegracia

(12)

xii DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

PERSEMBAHAN ... iv

MOTTO... v

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS ... vii

ABSTRAK ... viii

ABSTRACK ... ix

KATA PENGANTAR ... x

DAFTAR ISI ... xii

DAFTAR TABEL ... xvi

DAFTAR GAMBAR ... xvii

DAFTAR LAMPIRAN ... xviii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang Masalah ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 7

1.3 Tujuan Penelitian ... 7

1.4 Manfaat Penelitian ... 7

1.5 Definisi Operasional... 8

1.6 Spesifikasi Produk ... 9

BAB II LANDASAN TEORI ... 12

2.1 Kajian Pustaka ... 12

2.1.1 Teori-teori yang Mendukung ... 12

2.1.1.1 Pembelajaran IPA di SD ... 12

2.1.1.1.1 Pengertian IPA ... 14

2.1.1.1.2 Tujuan Pembelajaran IPA ... 15

2.1.1.1.3 Karakteristik IPA ... 16

2.1.1.2 Tahap Perkembangan Kognitif ... 21

(13)

xiii

2.1.1.3 Alat Peraga ... 23

2.1.1.3.1 Pengertian Alat Peraga ... 23

2.1.1.3.2 Manfaat Alat Peraga ... 24

2.1.1.3.3 Kriteria Alat Peraga ... 25

2.1.1.4 Sifat-sifat Cahaya ... 27

2.1.2 Penelitian Yang Relevan ... 32

2.2 Kerangka Berpikir ... 37

2.3 Pertanyaan-pertanyaan Penelitian ... 38

BAB III METODE PENELITIAN... 39

3.1 Jenis Penelitian ... 39

3.1.1 Tahap Analyze ... 40

3.1.2 Tahap Design ... 41

3.1.3 Tahap Development ... 41

3.1.4 Tahap Implementation ... 41

3.1.5 Tahap Evaluate ... 41

3.2 Setting Penelitian ... 42

3.2.1 Tempat Penelitian ... 42

3.2.2 Subyek Penelitian ... 42

3.2.3 Objek Penelitian ... 42

3.2.4 Waktu Penelitian ... 42

3.3 Prosedur Pengembangan ... 43

3.3.1 Tahap Analyze ... 43

3.3.2 Tahap Design ... 44

3.3.3 Tahap Development ... 45

3.3.4 Tahap Implementation ... 45

3.3.5 Tahap Evaluate ... 46

3.4 Teknik Pengumpulan Data ... 46

3.4.1 Wawancara ... 46

3.4.2 Kuisioner ... 47

3.4.3 Observasi ... 48

3.4.4 Tes ... 48

3.5 Instrumen Penelitian... 49

(14)

xiv

3.5.1 Pedoman Wawancara ... 49

3.5.2 Pedoman Kuisioner ... 50

3.5.2.1 Pedoman Kuisioner dengan Wali Kelas IV ... 50

3.5.2.2 Pedoman Kuisioner dengan Siswa Kelas IV ... 50

3.5.2.3 Pedoman Kuisioner Validasi Alat Peraga ... 51

3.5.2.4 Pedoman Kuisioner Validasi RPP ... 52

3.5.3 Pedoman Observasi ... 52

3.5.4 Soal Tes ... 54

3.6 Teknik Analisis Data ... 55

3.6.1 Data Kualitatif ... 55

3.6.2 Data Kuantitatif ... 56

3.6.2.1 Analisis Data Kuantitatif pada Hasil Validasi ... 56

3.6.2.2 Analasis Data Kuantitatif pada Hasil Tes ... 57

3.6.2.3 Analisis Data Kuantitatif pada Hasil Observasi ... 58

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 59

4.1 Hasil Penelitian dan Pengembangan ... 59

4.1.1 Prosedur Pengembangan Alat Peraga... 59

4.1.1.1 Tahap Analyze ... 59

4.1.1.1.1 Hasil Wawancara dengan Wali Kelas IV... 60

4.1.1.1.2 Hasil Kuisioner dengan Wali Kelas IV ... 64

4.1.1.1.3 Hasil Kuisioner dengan Siswa Kelas IV ... 65

4.1.1.2 Tahap Design ... 68

4.1.1.3 Tahap Development ... 71

4.1.1.3.1 Alat Peraga ... 71

4.1.1.3.2 Pedoman Penggunaan Alat Peraga ... 72

4.1.1.4 Tahap Implementation ... 74

4.1.1.5 Tahap Evaluate ... 77

4.1.2 Kualitas Alat Peraga ... 77

4.1.2.1 Hasil Validasi Alat Peraga ... 77

4.1.2.2 Hasil Validasi RPP ... 81

4.1.2.3 Hasil Tes ... 84

4.1.2.4 Hasil Observasi ... 85

(15)

xv

4.1.2.4.1 Hasil Observasi Penilaian Sikap ... 85

4.1.2.4.2 Hasil Observasi Penilaian Keterampilan ... 87

4.2 Pembahasan ... 90

4.2.1 Pengembangan Alat Peraga ... 90

4.2.2 Kualitas Alat Peraga ... 95

BAB V KESIMPULAN ... 99

5.1 Kesimpulan ... 99

5.2 Keterbatasan Penelitian ... 99

5.3 Saran ... 99

DAFTAR REFERENSI ... 101

LAMPIRAN ... 105

CURICULUM VITAE... 208

(16)

xvi

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Waktu Penelitian ... 43

Tabel 3.2 Pedoman Wawancara Analisis Kebutuhan ... 49

Tabel 3.3 Pedoman Kuisioner Analisis Kebutuhan Wali Kelas IV ... 50

Tabel 3.4 Pedoman Kuisioner Analisis Kebutuhan Siswa Kelas IV ... 51

Tabel 3.5 Kisi-kisi Kuisioner Validasi Alat Peraga ... 51

Tabel 3.6 Kisi-kisi Kuisioner Validasi RPP ... 52

Tabel 3.7 Rubrik Peniliaian Sikap ... 53

Tabel 3.8 Rubrik Peniliaian Keterampilan ... 53

Tabel 3.9 Kisi-kisi Soal ... 54

Tabel 3.10 Konversi Data Kualitatif ke Kuantitatif ... 57

Tabel 3.11 Konversi Kompetensi Keterampilan dan Sikap ... 58

Tabel 4.1 Hasil Validasi Alat Peraga ... 78

Tabel 4.2 Hasil Revisi Alat Peraga & Revisi Pedoman ... 80

Tabel 4.3 Hasil Validasi RPP ... 82

Tabel 4.4 Hasil Revisi RPP ... 83

Tabel 4.5 Nilai Tes ... 84

Tabel 4.6 Hasil Observasi Penilaian Sikap ... 85

Tabel 4.7 Hasil Observasi Penilaian Keterampilan... 88

(17)

xvii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Pemantulah Cahaya pada Permukaan Rata ... 28

Gambar 2.2 Pemnatulan Cahaya pada Permukaan Tidak Rata ... 28

Gambar 2.3 Hukum Pemantulan Cahaya ... 29

Gambar 2.4 Arah Pembiasan Cahaya... 31

Gambar 2.5 Literature Map ... 36

Gambar 3.1 Bagan Metode Penelitian ADDIE ... 40

Gambar 4.1 Diagram Hasil Kesulitan Siswa Memahami Materi IPA ... 67

Gambar 4.2 Sketsa Alat Peraga ... 69

Gambar 4.3 Gambar Alat Peraga Tampak dari Depan ... 69

Gambar 4.4 Gambar Alat Peraga Tampak dari Atas... 70

Gambar 4.5 Alat Peraga ... 72

Gambar 4.6 Desain Pedoman Penggunaan Alat Peraga... 73

Gambar 4.7 Diagram Rata-rata Hasil Validasi Alat Peraga ... 80

Gambar 4.8 Diagram Rata-rata Hasil Validasi RPP ... 83

Gambar 4.9 Diagram Hasil Tes ... 85

Gambar 4.10 Diagram Hasil Observasi Penilaian Sikap ... 87

Gambar 4.11 Diagram Hasil Observasi Penilaian Keterampilan ... 89

Gambar 4.12 Siswa Mempraktikkan Sifat Cahaya Diuraikan ... 94

Gambar 4.13 Kegiatan Siswa Berdisukusi ... 95

(18)

xviii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1.1 Surat Izin Penelitian... 106

Lampiran 2.1 Surat Izin Analisis Kebutuhan ... 107

Lampiran 3.1 Surat Izin Validasi Produk ... 108

Lampiran 4.1 Surat Telah Melaksanakan Penelitian... 109

Lampiran 5.1 Lembar Wawancara Analisis Kebutuhan ... 110

Lampiran 6.1 Lembar Kuisioner Analisis Kebutuhan ... 112

Lampiran 6.1.1 Lembar Kuisioner Siswa ... 112

Lampiran 6.1.2 Lembar Kuisioner Guru ... 113

Lampiran 7.1 Instrumen Validasi ... 115

Lampiran 7.1.1 Instrumen Validasi Alat Peraga ... 115

Lampiran 7.1.2 Instrumen Validasi RPP... 118

Lampiran 8.1 RPP ... 121

Lampiran 9.1 Hasil Analisis Kebutuhan ... 153

Lampiran 9.1.1 Hasil wawancara ... 153

Lampiran 9.1.2 Hasil Kuisioner Siswa ... 158

Lampiran 9.1.3 Hasil Kuisioner Guru ... 159

Lampiran 10.1 Hasil Validasi ... 160

Lampiran 10.1.1 Hasil Validasi Alat Peraga Validator 1... 160

Lampiran 10.1.2 Hasil Validasi RPP Validator 1 ... 163

Lampiran 10.1.3 Hasil Validasi Alat Peraga Validator 2... 167

Lampiran 10.1.4 Hasil validasi RPP Validator 2 ... 169

Lampiran 11.1 Hasil Evaluasi ... 171

Lampiran 11.1.1 Hasil Evaluasi Tes ... 171

Lampiran 11.1.2 Hasil Evaluasi LKPD... 181

Lampiran 11.1.3 Hasil Siswa Mengerjakan Soal Cerita ... 194

Lampiran 12.1 Hasil Observasi ... 198

Lampiran 12.1.1 Observasi Penilaian Sikap ... 198

Lampiran 12.1.2 Observasi Penilaian Keterampilan... 198

Lampiran 13.1 Buku Pedoman Penggunaan Alat Peraga ... 200

Lampiran 14.1 Foto-foto Kegiatan ... 207

(19)

xix

Lampiran 14.1 Curiculum Vitae ... 208

(20)

1 BAB 1 PENDAHULUAN

BAB 1 ini membahas mengenai (a) latar belakang masalah, (b) rumusan masalah, (c) tujuan penelitian, (d) manfaat penelitian, (e) definisi operasional, dan (f) spesifikasi produk yang dikembangkan.

1.1 Latar Belakang Masalah

Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) adalah standar minimum yang harus dicapai siswa dan menjadi patokan dalam pengembangan kurikulum di setiap satuan pendidikan secara nasional, yang mencakup pengetahuan, sikap, dan keterampilan (Permendikbud Nomor 22 Tahun 2006). . Pemberdayaan peserta didik untuk membangun kemampuan, bekerja ilmiah, dan pengetahuan sendiri yang difasilitasi oleh guru didasarkan untuk mencapai SK dan KD. Muatan pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) diberikan di tingkat Sekolah Dasar (SD) dalam rangka membantu manusia dalam pemenuhan kebutuhan sehari- hari melalui masalah-masalah. Pendidikan sains tidak hanya memahami konsep- konsep ilmiah dan fakta-fakta tetapi juga proses penemuan yang dilakukan melalui percobaan-percobaan serta membentuk nilai-nilai perkembangan suatu masyarakat di masa yang akan datang (Depdiknas, 2006).

Pembelajaran IPA dipandang sebagai pembelajaran yang cukup aktif karena didasari keinginan dan kebutuhan peserta didik dengan menekankan bagaimana gaya siswa belajar (Samatowa, 2011:11). Di dalam pembelajaran IPA terdapat aspek-aspek penting seperti mempunyai rasa ingin tahu akan pengetahuan yang baru, menyadari adanya batasan pengetahuan, sehingga dapat mengamalkannya pada aktivitas kehidupan nyata sehari hari mereka (Sujalu, dkk., 2021:4). Hal tersebut sangat didukung dengan bagaimana perkembangan dan peningkatan kemampuan peserta didik baik itu bagaimana mengelola informasi, memanfaatkan rasa keingintahuan, membuat keputusan, dan bagaimana bentuk penerapannya di dalam hidup bermasyarakat. Pembelajaran IPA yang mengarah ke sebuah tujuan macam itu, maka pendidikan IPA dapat menyumbangkan sesuatu hal yang nyata.

Oleh sebab itu keterampilan proses serta sikap ilmiah dalam pengembangan dan penggunaannya ditekankan dalam pengalaman pembelajaran secara langsung yang dilaksanakan pada pembelajaran IPA di SD/MI.

(21)

2

Dalam upaya menggapai tujuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi secara global, pelaksanaan pembelajaran IPA seyogyanya dapat memberikan kenyamanan bagi siswa dengan menyediakan wahana belajar yang ramah untuk dapat belajar tentang fenomena alam di sekitar dan dirinya sendiri sehingga dapat berlanjut pada bagaimana peserta didik itu dapat mengaplikasikannya di dalam realitas kehidupan nyata sehari-hari. Peserta didik diberi pengalaman langsung selama proses pembelajaran agar mereka mampu mengembangkan potensi dan kompetensi dalam memahami fenomena alam di sekitarnya secara ilmiah. Pemupukan rasa keingintahuan peserta didik dapat tumbuh melalui pembelajaran IPA di kelas.

Siswa akan mengembangkan kemampuan bertanya dan mencari jawaban dengan cara berpikir secara ilmiah atas fenomena alam yang dipelajari.

Sekolah Dasar (SD) seharusnya menjadi wadah bagi siswa untuk terlibat aktif dalam mencari, menemukan, menggali, serta menyelesaiakan persoalan yang sedang dihadapi. Kemampuan siswa sekolah dasar dibidang IPA yang mencakup pengetahuan, sikap, dan keterampilan masih rendah, hal ini ditunjukkan dengan fakta hasil survei World Competitiveness Yearbook 2021 terhadap 64 negara yang disurvei, Indonesia menempati urutan ke-37. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2019), Program for International Student Assessment (PISA), dan Trends in International Mathematics Science Research (TIMSS) yang diikuti oleh berbagai negara di dunia untuk memantau kemajuan pengetahuan setiap empat tahun sekali dan dipantau secara berkala. Menurut hasil survei PISA 2018 yang dirilis oleh OECD, Indonesia menempati posisi 74 dalam urusan membaca, dengan perolehan poin sebesar 371 dengan nilai rata-rata 487. Dalam bidang matematika Indonesia bertengger dengan perolehan nilai sebesar 379 dengan nilai rata-rata skor OECD sebesar 487. Selanjutnya untuk sains rata-rata skor mencapi 389 dengan skor rata-rata OECD yakni 489. Berdasarkan hasil survei PISA dan TIMSS (2018) yang dirilis oleh Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD) ketiga kategori tes tersebut menempatkan Indonesia pada urutan 74 dari 78 negara. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia perlu mencari solusi atas berbagai permasalahan ini, terkhusunya masalah sumber daya manusia (SDM) yang ada di satuan pendidikan.

Pada dunia pendidikan, siswa wajib mempelajari semua muatan pelajaran

(22)

3

di sekolah. Kewajiban tersebut dibutuhkan agar siswa mampu menemukan passion yang sinkron dengan dirinya, baik terkait dengan bidang seni, linguistik, bahasa, eksperimen. Anak sekolah dasar sedang berada pada tahap middle childhood atau kanak-kanak tengah yang tebilang cukup untuk menggali terus kemampuan belajarnya dalam menyerap dan menerima ilmu dengan baik. Krakteristik siswa SD yang diungkapkan oleh Jacka Bassett, dan Logan (dalam Sumantri dan Permana, 2001:11) 1) anak mempunyai rasa kuriositas yang kuat, 2) suka bermain sambil belajar, 3) mengatasi dirinya sendiri dalam berbagai hal, 4) termotivasi untuk mengejar prestasi, 5) belajar dengan efektif saat anak merasa puas, 6) bekerja, mengobservasi, berinisiatif, saling menolong, adalah cara anak belajar. IPA merupakan suatu ilmu pengetahuan yang didasarkan pada objek-objek alam, hukum alam, fenomena yang terjadi pada alam dan bertumbuh melalui penemuan melalui metode ilmiah (Suryandari, 2014:20). IPA tidak hanya berkaitan dengan konsep, fakta, teori, tetapi proses penemuan yang melibatkan inovasi dan keaktifan siswa.

Oleh karena itu, IPA selalu dituntut untuk melakukan metode ilmiah melalui observasi dan eksperimen yang didukung oleh teori-teori maupun spekulasi tanpa dukungan teori lainnya sehingga dapat dibuktikan kebenarannya.

Dengan melakukan observasi dan ekperimen menggunakan suatu bahan atau alat, maka siswa akan mengalami, membuktikan, mengatasi, sesuatu yang dipelajari secara mandiri sehingga pelajar atau siswa dapat mengerti dan memahami pelajaran IPA tersebut. Pembelajaran di SD dirancang dan terstruktur secara aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAKEM) agar siswa tidak bosan (Sagita, 2018:115). Belajar melalui benda-benda konkret melalui observasi dan eksperimen yang disesuaikan dengan karakteristik siswa, maka siswa akan lebih mudah memahami dan menemukan konsep-konsep abstrak. Cara yang menyenangkan untuk mengamati dan bereksperimen adalah dengan menggunakan alat peraga. Alat peraga yang digunakan guru harus disesuaikan dengan kebutuhan siswa dan mata pelajaran sehingga mereka termotivasi agar membantu mereka belajar dan memahami pelajaran. Alat peraga diartikan sebagai perangkat yang fungsinya mempermudah dan menyampaikan informasi (Musa, 2018:1). Dalam dunia pendidikan, dapat juga dimengerti sebagai alat yang memiliki peran untuk mendukung proses pembelajaran, memungkinkannya menerima sepenuhnya

(23)

4

pelajaran yang disampaikan, dan mengembangkan efektifitas dan efesiensi pembelajaran.

Kriteria yang harus dipenuhi dalam menggunakan alat peraga menurut Carol Nancarrow (2008) adalah (1) Growth-Oriented ( alat pembelajaran mengarah pada pertumbuhan yang signifikan menuju hasil belajar atau keterampilan belajar), (2) Transferable (alat pembelajaran fleksibel sehingga digunakan diberbagai macam suasana dan digunakan berulang-ulang), (3) Time-Efficient (waktu menggunakan alat pembelajaran sangat produktif dan terstruktur), (4) Results- Oriented (alat pembelajaran merupakan sarana untuk mencapai tujuan), (5) Essential (Alat ini memenuhi kebutuhan nyata siswa), (6) Feasible (alat pembelajaran dibuat dengan biaya yang murah dan bahan yang ramah lingkungan), (7) Engaging (alat pembelajaran menyenangkan dan bermanfaat untuk digunakan), (8) Functional (alat pembelajaran dirancang dengan elegan sehingga hasilnya mudah dicapai).

Manfaat dari penggunaan alat peraga dalam pembelajaran, yaitu 1) proses pembelajaran lebih efektif dan efisien; 2) dapat memberi dorongan kepada siswa saat kegiatan belajar-mengajar; 3) materi pembelajaran yang didapatkan dari pendidik dapat memberikan kemudahan kepada peserta didik untuk memahami materi tersebut (Musa, 2018:1). Bangkitnya motivasi dan semangat belajar juga dipengaruhi oleh penggunaan alat peraga. Dengan menggunakan alat peraga akan membantu peserta didik memahami suatu konsep yang bersifat abstrak, menciptakan pembelajaran efektif dan efisien, meningkatkan daya pikir, dan kreatifitas anak. Penggunaan alat peraga bagi siswa SD sangat sentral perannya untuk membantu siswa memahami pembelajaran khususnya IPA. Sehingga tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengembangkan alat peraga siswa SD terkhususnya kelas IV SD. Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah bagaimana mengembangkan alat peraga untuk materi sifat-sifat cahaya pada siswa kelas IV sekolah dasar.

Tercapainya tujuan pembelajaran dalam pendidikan merupakan salah satu penentu keberhasilan pendidikan dan pembelajaran. Salah satu keberhasilan dalam mencapai tujuan pembelajaran adalah gaya mengajar guru. Dalam gaya ini, guru harus inovatif memperbaharui metode pengajaran, salah satunya adalah

(24)

5

menggunakan alat peraga untuk memudahkan siswa memahami materi dengan cara memperagakan konsep abstrak. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan tanggal 24 Agustus 2021 pada wali kelas IV SD Negeri Ngijon 1, yaitu Bu R diperoleh informasi bahwa alat peraga yang digunakan dan diperlukan oleh guru dalam pembelajaran IPA masih sangat kurang dan sangat terbatas, karena kurangnya keterampilan guru dalam membuat alat peraga. Ketika pembelajaran daring, Ibu R meminta anak-anak untuk melakukan eksperimen. Beberapa materi IPA yang dilaksanakan melalui praktik dan percobaan ketika daring, yaitu mengamati metamorfosis nyamuk, mengidentifikasi bagian tumbuhan, perubahan wujud benda, album daur hidup hewan.

Kelemahan dari percobaan praktik secara daring adalah guru tidak dapat memantau secara langsung ketika siswa melakukan eksperimen, selain itu siswa berisiko tinggi mengalami kesalahan di beberapa titik selama melakukan eksperimen sehingga hasilnya tidak sesuai apa yang diharapkan. Peneliti mencoba terus menggali lebih jauh materi IPA yang dianggap sulit bagi siswa sehingga mendapatkan informasi yang lebih spesifik dan detail. Sebanyak 39,3 % siswa kesulitan dalam menemukan perbedaan kelima sifat-sifat cahaya, Kesulitan tersebut disebabkan oleh siswa yang tidak memahami konsep sehingga mengalami salah pengertian dan kegagalan dalam pembelajaran terkait dengan pelajaran cahaya dan sifat-sifatnya..

Dalam pembelajaran, guru menjelaskan materi menggunakan metode ceramah yang bersifat satu arah yaitu penyampaian informasi dilakukan oleh guru tanpa adanya timbal balik antara guru dan siswa sehingga siswa menjadi pasif, mendengarkan penjelasan guru, dan mencatat tanpa aktivitas positif yang lain.

Dengan demikian untuk mengatasi persoalan seperti itu diperlukan sebuah solusi konstruktif agar siswa dapat mengikuti dengan aktif. Persoalan itu harus ditemukan solusinya, yakni dengan membuat alat peraga kotak sifat cahaya. Alat peraga yang dikembangkan oleh peneliti bernama kotak sifat cahaya, kotak sifat cahaya adalah kotak yang berfungsi sebagai tempat sifat-sifat cahaya dengan menggunakan bahan-bahan di sekitar lingkungan yang mudah ditemukan untuk menunjukkan dan membuktikan sifat-sifat cahaya, dapat bias, dapat urai, menembus benda bening, dapat dipantulkan, dan cahaya merambat lurus.

(25)

6

Alat peraga kotak sifat cahaya dirancang khusus untuk membuat lima sifat cahaya berada dalam 1 kotak sehingga siswa akan mudah memahami sifat-sifat cahaya. Alat peraga dimaksudkan agar siswa mengaitkan materi pembelajaran dengan aplikasi nyata menggunakan benda-benda yang konkret. Cahaya bersifat abstrak karena kita tidak dapat melihat secara langsung dengan mata telanjang bagaimana cara jalannya sinar cahaya tersebut sebagai gelombang elektromagnetik hingga sampai ke permukaan bumi, untuk itu diperlukan alat peraga dimana materi sifat-sifat cahaya yang bersifat abstrak akan diubah ke dalam konsep yang konkret.

Penelitian terdahulu yang berkaitan dengan muatan pelajaran IPA materi sifat- sifat cahaya sudah dikembangkan. Penggunaan media dan eksperimen terhadap cahaya dan sifat-sifatnya sudah cukup optimal dan layak dalam meningkatkan efektifitas, efisien, dan daya tarik siswa dalam pembelajaran IPA. Hal ini ditunjukkan oleh penelitian Rohmaddi, Chandra Ertikanto, Suwarjo (2017) meneliti pengembangan lembar kerja siswa (LKS) model inkuiri terbimbing pelajaran IPA materi sifat-sifat cahaya tema pahlawanku kelas IV SD. Lange, A. Alissa, Erin Rice, Noell Howe, and Qiuju Tian (2021) meneliti mengenai tantangan eksperimen melalui jalur rintangan menggunakan senter. Selain itu alat peraga yang terbuat dari bahan bekas pakai layak dan efektif untuk digunakan dalam meningkatkan pemahaman siswa dan menanamkan karakter peduli lingkungan, hal ini ditunjukkan oleh penelitian Sari, Aulia Mutiara dan Arif Widiyatmoko (2014) yang meneliti pengembangan alat peraga pemanasan global berbahan bekas pakai untuk menanamkan karakter peduli lingkungan. Peningkatan hasil belajar dalam pembelajaran IPA menggunakan alat peraga sudah sangat efektif hal ini ditunjukkan oleh penelitian Hutauruk, Pindo dan Rinci Simbolon (2018) yang meneliti peningkatan hasil belajar menggunakan alat peraga pada pelajaran IPA materi rangka manusia dan fungsinya pada siswa kelas IV SDN No 14 Simbolon Purba. Pengembangan video animasi pembelajaran materi sifat-sifat cahaya yang menunjukkan bahwa media pembelajaran video animasi layak digunakan dalam media pembelajaran di sekolah dasar dan sangat efektif, hal ini ditunjukkan oleh penelitian cahaya Isti, Laila Arditya, Agustiningsih, Arik Aguk Wardoyo (2020).

Penelitian ini dibatasi untuk mengembangkan alat peraga kotak sifat cahaya dalam materi sifat-sifat cahaya untuk siswa kelas IV SD dengan menggunakan jenis

(26)

7

penelitian research and development (R&D) dan pengembangan alat peraga IPA yang dapat membantu guru atau fasilitator dalam membentuk keterampilan proses sains. Alat peraga yang dibuat peneliti dikembangkan berdasarkan delapan indikator menurut Carol Nancarrow (2008) yaitu 1) Growth-Oriented, 2) Transferable, 3) Time-Efficient, 4) Results-Oriented, 5) Essential, 6) Feasible, 7) Engaging, 8) Functional.

Peneliti akan melaksanakan penelitian tentang alat peraga IPA dengan tujuan untuk mengembangkan alat peraga kotak sifat cahaya untuk menjawab kesulitan siswa dalam mengikuti mata pelajaran IPA khususnya materi sifat-sifat cahaya di kelas IV SD Negeri Ngijon 1. Oleh karena itu, peneliti memutuskan untuk melakukan penelitian dengan judul “ Pengembangan Alat Peraga Kotak Sifat Cahaya Materi Sifat-sifat Cahaya Tema 5 Subtema 1 Pada Siswa Kelas IV Sekolah Dasar”.

1.2 Rumusan Masalah

1.2.1 Bagaimana prosedur pengembangan alat peraga kotak sifat cahaya materi sifat- sifat cahaya untuk siswa kelas IV di Sekolah Dasar?

1.2.2 Bagaimana kualitas alat peraga kotak sifat cahaya materi sifat-sifat cahaya untuk siswa kelas IV di Sekolah Dasar?

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Mengembangkan alat peraga kotak sifat cahaya materi sifat-sifat cahaya untuk siswa kelas IV di Sekolah Dasar

1.3.2 Mengetahui kualitas alat peraga kotak sifat cahaya materi sifat-sifat cahaya untuk siswa kelas IV di Sekolah Dasar

1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Bagi Sekolah

Meningkatkan kemampuan peserta didik, dalam hal peningkatan kualitas pendidik dalam mengajar khususnya menggunakan pembelajaran inovatif yang dapat diterapkan dalam proses pembelajaran.

1.4.2 Bagi Guru

Dengan diterapkannya alat peraga kotak sifat cahaya sebagai alat peraga untuk memahami sifat-sifat cahaya, dapat memberikan alternatif metode pembelajaran. Mendorong dan memotivasi guru dalam menciptakan metode

(27)

8

dan alat peraga pembelajaran materi sifat-sifat cahaya yang lebih kreatif lagi 1.4.3 Bagi Siswa

Dengan diterapkannya alat peraga kotak sifat cahaya sebagai alat peraga untuk memahami sifat-sifat cahaya, dapat memberikan pengetahuan baru dan pengalaman bagi siswa. Selain itu agar siswa memperhatikan pelajaran dengan baik dan mendorong siswa lebih aktif dalam pembelajaran IPA 1.4.4 Bagi peneliti

Dengan menerapkan alat peraga kotak sifat cahaya sebagai alat peraga untuk memahami sifat-sifat cahaya, dapat menambah pengalaman yang bermakna dan pengetahuan baru dalam membuat alat peraga pembelajaran kotak sifat cahaya. Hasil penelitian ini juga dapat menjadi bahan acuan bagi penelitian- penelitian selanjutnya, terutama dalam menciptakan alat peraga yang lebih baik lagi.

1.5 Definisi Operasional 1.5.1 Alat peraga

Alat peraga adalah alat bantu yang digunakan untuk memperagakan dan memperjelas suatu materi agar siswa mendapatkan pengalaman konkret, mampu mempelajari sesuatu bidang yang dipelajari, lebih cepat memahami dan mengerti, dan lebih efektif serta efisien.

1.5.2 IPA

IPA adalah suatu ilmu pengetahuan yang didasarkan pada objek-objek alam, hukum alam, gejala-gejala alam, dimana disusun berdasarkan langkah- langkah secara sistematis menggunakan metode ilmiah. Di dalam pembagian hakikat IPA dibagi menjadi tiga, diantaranya IPA sebagai produk, IPA sebagai proses, IPA sebagai sikap ilmiah.

1.5.3 Kotak Sifat Cahaya

Kotak sifat cahaya adalah kotak yang berfungsi sebagai tempatt pembuktian sifat-sifat cahaya dimana alat peraga berbentuk balok tanpa tutup dan salah satu sisi terbuka yang digunakan untuk mengenali dan memahami pelajaran IPA khususnya pada materi sifat-sifat cahaya.

1.5.4 Sifat-sifat cahaya

Sifat-sifat cahaya adalah kemampuan cahaya untuk merambat lurus,

(28)

9

menembus benda bening, memantulkan, pembiasan, penguraian.

1.6 Spesifikasi Produk

Produk yang akan dikembangkan bernama kotak sifat cahaya. Sesuai dengan namanya kotak fungsi cahaya ini berkaitan dengan materi pelajaran IPA yaitu sifat- sifat cahaya. Tujuan praktis dari alat peraga kotak sifat cahaya adalah membantu guru dalam menjelaskan sifat-sifat cahaya dari yang tampak abstrak menjadi lebih konkret sehingga mudah dimengerti oleh pelajar. Tujuan fungsional yaitu mengatasi kesulitan siswa dalam memahami materi sifat-sifat cahaya khususnya menemukan perbedaan dari kelima sifat-sifat cahaya. Berikut merupakan spesifikasi dari alat peraga kotak sifat cahaya yang dikembangkan oleh peneliti

1. Pengembangan alat peraga kotak sifat cahaya yang dikembangkan menggunakan materi kelas IV tema 5 subtema 1 tentang sifat-sifat cahaya.

2. Alat peraga kotak sifat cahaya berbentuk kotak karena kotak merupakan bangun yang sesuai, praktis, dan efesien untuk dapat dijadikan sebagai media dalam membuktikan sifat-sifat cahaya

3. Alat peraga kotak sifat cahaya membantu siswa dalam memahami materi IPA sifat-sifat dan membentuk kemampuan keterampilan proses sains antara lain mengobservasi, penerapan konsep, mengkomunikasikan, dan menyimpulkan.

4. Alat peraga kotak sifat cahaya dikembangkan dengan menggunakan indikator alat peraga yang berkualitas menurut Carol Nancarrow (2008) yaitu 1) Growth-Oriented, 2) Transferable, 3) Time-Efficient, 4) Results- Oriented, 5) Essential, 6) Feasible, 7) Engaging, 8) Functional.

5. Pembuatan dan perancangan kotak sifat cahaya ini menggunakan alat dan bahan yang sangat ramah lingkungan dan mudah ditemukan di sekitar lingkungan

6. Kotak sifat cahaya berbentuk kotak dimana sisi depan dan sisi atasnya terbuka, hal ini berguna untuk memudahkan siswa dalam mengamati, menganalisis, dan memahami bagaimana sifat-sifat cahaya bekerja

7. Alat peraga kotak sifat cahaya dapat digunakan secara berkelompok 4-5 orang

8. Alat peraga kotak sifat cahaya terbuat dari triplek kayu berukuran 25 cm ×

(29)

10

30 cm × 25 cm. Pada bagian dalam kotak ini terdiri dari 2 bagian kotak persegi berukuran 20 cm × 16 cm yang terbuat dari triplek kayu yang berjarak 10 cm.

9. Alat peraga kotak sifat cahaya memiliki alat-alat yang mendukung untuk mrmbuktikan 5 sifat cahaya. Terdapat 2 buah triplek kayu pada bagian dimana bagian tengah dilubangi dengan ukuran yang searah dan besarnya sama yang berfungsi sebagai tempat pembuktian sifat cahaya dapat merambat lurus. Pada bagian belakang tertempel sebuah kaset CD untuk membuktikan cahaya dapat diuraikan. Pada kotak cahaya juga terdapat gelas yang berisi air dan pensil membuktikan cahaya dapat dibiaskan.

Cermin berukuran kecil yang diletakkan di sebelah kiri sisi dalam kotak membuktikan cahaya dapat dipantulkan. Terdapat mika bening untuk membuktikan cahaya dapat menembus benda bening.

10. Pengembangan alat peraga kotak sifat cahaya dilengkapi dengan buku pedoman penggunaan alat yang berisi tentang materi sifat-sifat cahaya, langkah-langkah, serta pengenalannya yang dicetak dengan ukuran 18 cm × 13 cm menggunakan kertas ivory dengan bentuk booklet.

11. Terdapat LKPD dan soal-soal yang dapat mengukur kemampuan siswa selama mengikuti pelajaran IPA tentang sifat-sifat cahaya.

12. Alat peraga kotak sisfat cahaya bersifat 5 in 1 yang artinya 5 sifat-sifat cahaya yang berada pada 1 kotak, alat-alat yang ada di dalam kotak ini mendukung adanya pembuktian sifat-sifat cahaya.

13. Alat peraga kotak sifat cahaya dirancang dengan bentuk, gambar, warna yang menarik, dan tidak membutuhkan waktu lama untuk mengoperasikannya, sehingga membuat siswa tertarik dan termotivasi untuk belajar.

14. Penggunaan lem, paku, dan berbahan dasar triplek kayu dalam pembuatan alat peraga kotak sifat cahaya membuat alat peraga ini cukup kuat dan tahan lama sehingga dapat digunakan berulang-ulang dalam jangka waktu yang lama.

(30)

11 BAB II

LANDASAN TEORI

Pada bab ini, berisi kajian teori, penelitian yang relevan, kerangka berpikir, dan pertanyaan penelitian

2.1 Kajian Pustaka

2.1.1 Teori-teori yang Mendukung 2.1.1.1 Pembelajaran IPA di SD

Pembelajaran adalah suatu proses yang melibatkan siswa dan guru dalam aktivitas komunikasi timbal balik yang bermuatan materi dengan tujuan mencapai sebuah target tertentu (Kelana dan Duhita, 2021:1). Faktor utama yang mempengaruhi keberhasilan pembangunan bangsa adalah pembelajaran yang mengalami peningkatan kualitas pendidikan yang sesuai dengan keterampilan yang dipunyai. Sebuah lembaga pendidikan dapat dikatakan berkualitas dilihat dari proses dan hasil belajar yang diraih, maka sangat penting untuk merancang dan membangun pembelajaran yang memiliki daya tarik dan berorientasi kepada siswa terutama pada pembelajaran IPA. Dalam pembelajaran IPA, mendapatkan pengetahuan bukan hal yang semata-mata menjadi tujuan utama, melainkan proses yang pembelajaran yang merangsang siswa untuk terlibat dalam pelajaran untuk menemukan suatu hal yang baru. Agar pembelajaran IPA lebih menyenangkan dan tidak monoton maka guru perlu mempersiapkan penggunaan media, bahan, model, dan metode pembelajaran. Guru dapat melakukan inovasi pada semua komponen tersebut kemudian hasil inovasi akan diterapkan pada proses pembelajaran. Inovasi dalam tujuan pembelajaran dilaksanakan dengan cara menyusun rumusan dari tujuan pembelajaran tersebut yang meliputi semua aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik (Sujana dan Wahyu, 2020:12).

Pembelajaran inovatif adalah pembelajaran yang dilaksanakan oleh pendidik yang dirancang secara efektif, efisien, dan menarik sehingga tujuan pembelajaran tercapai (Sujana dan Wahyu, 2020:19). Menurut Darmadi (2017), pembelajaran inovatif yang dilakukan dengan cara memanfaatkan perkembangan teknologi guna memadukan pembelajaran yang interaktif dan menuntut siswa bertindak kreatif dalam pembelajaran sehingga otak kiri dan kanan dapat bekerja secara seimbang. Sebuah pembelajaran yang inovatif idealnya membangkitkan

(31)

12

daya pikir kreatif dan kritis siswa dengan jernih sehingga dapat membuat keputusan yang matang dan terhitung. Wahyuari (2012) menguraikan ciri-ciri pembelajaran inovatif yakni: 1) perilaku siswa dimodifikasi dengan berdasar kepada prosedur yang sistematik; 2) perilaku positif siswa menandai hasil belajar siswa yang telah ditentukan; 3) lingkungan belajar yang khusus dan sekondusif mungkin ditetapkan;

4) keberhasilan siswa diukur setelah pembelajaran dilalui oleh siswa sehingga kriteria keberhasilan dapat ditetapkan dalam proses pembelajaran; 5) siswa didorong untuk berinteraksi dengan lingkungan.

Kelebihan pembelajaran inovatif adalah antara lain (Ismail, 2003):

1) siswa berlatih untuk menemukan sebuah penemuan sehingga memunculkan ide-ide baru yang positif;

2) guru dituntut untuk kreatif dalam pengajaran;

3) hubungan guru dan siswa terjalin dengan baik guna saling membangun dan saling belajar;

4) dalam memecahkan masalah, perkembangan siswa dirangsang untuk membentuk kemampuan berfikir siswa

5) Pendidikan sekolah dibuat hubungan yang relevan dengan kehidupan seperti dunia kerja;

6) Siswa dapat belajar melalui proses pembelajaran yang telah dirancang, disusun, dan dikondisikan sedemikian rupa.

Sehingga diharapkan guru dapat dan mampu menerapkan pembelajaran yang inovatif agar dapat menyesuaikan karakteristik dan gaya belajar siswanya, khususnya dalam pembelajaran IPA. Tujuannya adalah pelajar atau siswa dapat mengerti dan memahami konsep IPA, memiliki rasa kuriositas yang tinggi untuk mengenal alam sekitar, membentuk keterampilan proses sehingga mampu memecahkan masalah, mempunyai keterampilan menerapkan konsep yang terkandung di dalam pembelajaran IPA dalam realitas kehidupan sehari-hari.

Keterampilan proses IPA pada anak usia sekolah dasar harus dirubah dan dibuat sesederhana mungkin yang sesuai dengan tahap perkembangan kognitifnya (Wedyawati dan Yasinta, 2019:3).

Dalam perkembangan belajarnya, anak-anak SD cenderung belajar dengan cara konkret, yakni meyakini segala sesuai yang dipandang dan dipelajari sebagai

(32)

13

integral yang terpadu dengan proses manipulatif. Siswa SD pada mata pelajran IPA diberi pembelajaran secara langsung untuk membantu siswa mempelajari fenomena alam secara ilmiah. Pembelajaran IPA harus mampu menyediakan jawaban atas peristiwa atau gejala alam yang terjadi setiap saat dan berubah-ubah, siswa harus melaksanakan aktivitas pengamatan terhadap fenomena alam yang terdekat guna dianalisis dan dibuat simpulan atas kejadian tersebut(Samatowa, 2006).

Berpijak dari pernyataan definisi dan pengertian para ahli di atas, dapat dibuat simpulan bahwa pelajaran IPA di SD harus disesuaikan antara kondisi dan situasi belajar peserta didik dengan kondisi realitas kehidupan di sekitar lingkungan dan masyarakat. Para pelajar diberi kesempatan untuk mengeksplorasi bahan dan alat yang terdapat di sekitarnya untuk digunakan sebagai bahan belajar untuk bisa diterapkan dalam praktik kehidupan sosial sehari-hari. Muatan pembelajaran IPA di SD tidak selalu tentang mengajarkan penguasaan deretan fakta-fakta sains, konsep materi, dan prinsip mengenai alat melainkan juga mengajarkan cara untuk pemecahan masalah, melatih meningkatkan kemampuan berpikir, melaksanakan eksperimen menggunakan metode ilmiah, mengambil kesimpulan, melatih bersikap objektif, dan bekerja sama dalam kelompok. Oleh itu, seorang guru diharapkan mampu melaksanakan pembelajaran yang inovatif agar dapat menyesuaikan karakteristik dan gaya belajar siswanya

2.1.1.1.1 Pengertian IPA

Ilmu Pengetahuan Alam adalah ilmu yang mempelajari tentang gelaja atau fenomena yang terjadi pada alam juga mempelajari makhluk hidup dan makhluk tidak hidup yang dilandaskan, diperoleh, dan dikembangkan pada penelitian untuk menjawab pertanyaan “apa?”, “mengapa?” dan “bagaimana?”dalam kehidupan sehari-hari (Suryandari, 2014:20). IPA dalam pembelajarannya memberikan kesempatan kepada siswa untuk merasakan langsung dalam memahami kejadian- kejadian alam yang terjadi di sekitar. Ilmu Pengetahuan Alam merupakan cabang ilmu yang didasari penelitian langsung dan melalui klarifikasi terhadap data yang ditemukan. Data tersebut kemudian dibuktikan oleh hukum-hukum bersifat kuantitatif yang meliputi pikiran secara sistematis dan analisis data terhadap gejala- gejala alam (Hisbullah, 2018:1). Secara umum, kegiatan IPA menggunakan eksperimen, namun bisa juga pemikiran para ahli terhadap IPA tanpa harus

(33)

14

melakukan observasi sendiri. IPA adalah ilmu pengetahuan yang bertujuan untuk membuat siswa memiliki kemampuan kognitif, konsep, dan gagasan sistematis mengenai alam, didapatkan melalui pengalaman secara langsung dengan cara yang ilmiah seperti ekplorasi, penelitian, penyampaian gagasan-gagasan, dan penyusunan (Iskandar, 2001:2). Siswa dapat menjadikan pelajaran IPA sebagai wahana untuk dapat menjelajahi atau mengeksplorasi alam secara ilmiah yang bermanfaat bagi keberlangsungan kehidupannya.

Dapat diringkas bahwa IPA adalah suatu ilmu pengetahuan yang didasarkan pada objek-objek alam, hukum alam, gejala-gejala atau fenomena alam, dimana dapat berkembang dengan cara ilmiah dan penemuan yang dilakukan secara langsung menggunakan eksperimen, penelitian, eksplorasi yang bertujuan untuk memecahkan suatu masalah, meningkatkan kemampuan kognitif, mendapatkan pengalaman-pengalaman ilmiah.

2.1.1.1.2 Tujuan Pembelajaran IPA

Siswa dapat dilibatkan dalam berbagai ranah dalam rangka pembelajaran, seperti ranah psikomotorik, afektif, dan kognitif. Melalui penyelidikan, peserta didik dapat membangun relasi antar pengetahuan yang ia miliki dengan pengetahuan yang ia dapatkan melalui percobaan dan berbagai sumber, siswa mengaplikasikan pembelajaran IPA untuk mengajukkan pertanyaan, menggunakan pemikirannya secara logis untuk memecahkan masalah, berdiskusi dalam kelompok, siswa mendapatkan assessment yang tidak berubah dengan suatu pendekatan aktif untuk belajar (Hisbullah, 2018:4).

Berbagai alasan menyebutkan bahwa IPA dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah dengan tujuan pembelajaran IPA sebagai berikut (Samatowa, 2010:9)

1) IPA sangat bermanfaat untuk kesejahteraan materil suatu negara bangsa karena IPA dipandang sebagai landasan perkembangan bidang teknologi dan sains, dapat juga disebut sebagai tulang puggung ilmu pengetahuan;

2) IPA bila diajarkan dengan tepat sesuai dengan pedoman dan ketentuan yang berlaku maka ia akan menjadi pelajaran yang membentuk dan mengembangkan berpikir kritis dengan cara atau metode ‘menemukan sendiri’;

3) IPA tidak bersifat hayalan saja bila diajarkan dengan cara melakukan

(34)

15

percobaan dan penemuan sendiri oleh siswa;

4) Mata pelajaran IPA berperan sebagai pembentuk kepribadian anak secara menyeluruh.

Memahami alam semesta bukan satu-satunya tujuan utama pembelajaran IPA. Melalui pelajaran IPA peserta didik diharapkan dapat 1) menumbuhkan pemahaman sisswa dan pengetahuan siswa akan konsep-konsep sains yang termuat di dalam pembelajaran IPA yang dapat berguna bagi kehidupan; 2) membantu menumbuhkembangkan rasa keingintahuan siswa, sikap yang positif siswa, dan keterkaitan adanya hubungan konsep-konsep, menemukan solusi, dan menarik kesimpulan; 3) meningkatkan kesadaran dalam menjaga, memelihara, dan merawat lingkungan alam (Wijayama, 2019:12).

Dengan demikian dapat diringkas bahwa tujuan pembelajaran IPA adalah membuat peserta didik untuk menguasai konsep-konsep IPA yang abstrak dengan melakukan suatu percobaan untuk membuktikannya dan memecahkan masalah menggunakan metode ilmiah dengan pemikiran yang logis, mengembangkan rasa keingintahuan, berdiskusi, mengenai gejala dan fenomena alam untuk memahami alam sekitar secara lebih mendalam.

2.1.1.1.3 Karakteristik IPA

Berkembangnya proses berpikir melewati beberapa tahap daur belajar sehingga mendukung perkembangan berpikir dedukatif, objek IPA yang dianalisis anak dimulai dari pemahaman umum sampai pemahaman khusus (Samatowa, 2010:7).

1) Tahap ekplorasi adalah awal daur belajar dimana guru berperan sebagai pengamat yang mempunyai beberapa pertanyaan dan membantu siswa secara individu maupun berkelompok. Siswa pada tahap ini relatif aktif karena materi yang didapatkan dari guru dimanipulasi dan terlibat dalam berbagai kegiatan

2) Tahap pengenalan konsep dimana guru menyatukan informasi-informasi yang berasal dari siswa berdasarkan pengalaman dalam eksplorasi. Tahap ini berguna bagi siswa untuk menyusun perbendaharaan kata.

3) Tahap penerapan konsep dimana guru memiliki masalah yang harus dicari solusinya melalui pengalaman dalam menjelajah atau mencari dengan

(35)

16 tujuan menemukan sesuatu (eksplorasi)

Menurut Randall dan Bucker (dalam Sadullah, 2014:79) mengemukakan beberapa karakteristik IPA sebagai berikut :

1) Hasil IPA adalah kepunyaan bersama dan bersifat akumulatif, artinya hasil IPA yang didapat pada masa lampau dimanfaatkan sebagai penemuan dan penyelidikan dalam menentukan hal-hal baru

2) Hasil IPA kebenarannya tidak mutlak dan mungkin menimbulkan kekeliruan karena manusialah yang menyelidiki sendiri sehingga metode yang digunakan salah

3) IPA bersifat objektif dimana cara kerja dan metode yang digunakan tidak selalu bergantung pada pemahaman individu manusia

Hubungan antara produk pengetahuan, metode ilmiah dan sikap merupakan cerminan dari pembelajaran IPA. Pelajaran IPA adalah proses kegiatan dalam rangka mendapatkan pengetahuan dan sikap terhadap aktivitas tersebut (Bunddu, 2006). Hakikat IPA sejalan dengan pernyataan di atas yakni bukan sekadar kumpulan fakta, tetapi ada sebuah proses yang terjadi dalam rangka menemukan, serta menggunakan pikiran dan sikap dalam pembelajarannya. Karakteristik IPA terbagi menjadi tiga bagian sebagai berikut (Kelana, 2019:16)

1) IPA sebagai Produk

IPA melakukan kajian terhadap apa saja yang berhubungan dengan perisitiw yang berkaitan dengan alam yang terjadi di sekitar. Hasil dari kajian tersebut akan menghasilkan prinsip-prinsip sains, teori, dan fakta-fakta.

2) IPA sebagai Proses

Keterampilan proses merupakan bentuk produk yang dihasilkan melalui IPA.

Dalam proses ini siswa diajak untuk bertindak selayaknya para ahli, seperti melalukan pengamatan, melakukan perencanaan, percobaan, menarik kesimpulan, menafisrkan, serta mengomunikasikannya.

3) IPA sebagai Sikap Ilmiah

Berarti sikap yang dilakukan untuk memperoleh, mengembangkan, dan menerapkan ilmu pengetahuan. Adapun sikap yang menjadi dasar dalam proses pembelajaran IPA ialah, disiplin, objektif dalam melihat, jujur, kritis berpikir, terliti, dan sebagainya.

(36)

17

Hakikat IPA memiliki ciri khas yang berbeda dari ilmu lain (Hisbullah, 2018:2).

1) IPA mempunyai nilai ilmiah yang artinya pembuktian dan kebenarannya semua orang dapat membuktikannya sendiri dengan metode ilmiah serta prosedur yang telah dilakukan penemunya;

2) IPA ialah kumpulan peengetahuan tersusun secara sistematis;

3) IPA ialah pengetahuan yang berisi teori-teori pasti yang disusun secara khas serta khusus (observasi, ekperimen, penyimpulan, penyusunan teori);

4) IPA ialah konsep-konsep yang dirangkai dan bertali-temali satu sama lain;

5) IPA memiliki empat unsur yaitu, sikap, proses, aplikasi, dan produk Pendapat para ahli di atas dapat diringkas bahwa karakteristik IPA adalah objek konkret dan kajian IPA berasal dari alam dan nyata, segala sesuatu yang dihasilkan disusun dengan langkah-langkah secara sistematis menggunakan metode ilmiah (observasi, ekperimentasi, penyimpulan, penyusunan teori), Ilmu Pengetahuan Alam melatih untuk berketerampilan proses, berpikir kritis dan logis, analitis.

Setelah manusia terlahir di muka bumi ini secara langsung bersentuhan dengan alam yang membuat manusia menimbulkan pengalaman. Alam memberikan stimulus kepada manusia melalu panca indra. Semakin berkembang dan bertumbuhnya manusia maka semakin bertambah pula pengalamannya, hal itu terjadi karena manusia mempunyai rasa kuriositas untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang hakiki. Pengalaman inilah yang mengakibatkan terjadinya pengetahuan, yakni sekumpulan fakta, objek, atau “the bundle of fact” yang akan bertambah terus. Hal itu terjadi karena manusia sebagai makhluk hidup yang dapat berpikir, berbudi, dan berperasaan. Dorongan tersebutlah yang menumbuhkan pengetahuan yang disebut ilmu murni dan ilmu pengetahuan. Powler (dalam Samatowa, 2006) menjelaskan IPA sebagai ilmu yang berlaku umum tentang gejala alam dan benda di sekitar yang disusun secara sistematis melalui konsep dan teori yang sudah dirangkai.

Keterampilan proses sains adalah keterampilan yang terbentuk dan berkembang menggunakan suatu proses ilmiah melalui pendekatan-pendekatan tertentu (Septantiningtyas, 2020:16). Dalam pembelajaran sains inilah proses ilmiah dibentuk menjadi pengalaman siswa yang bermakna. Proses untuk mendapatkan konsep sangatlah penting mengembangkan kemampuan kognitif

(37)

18

siswa, sehingga pemahaman konsep tidak fokus terhadap hasil (produk).

Keterampilan proses sains merupakan pendekatan belajar yang berperan sebagai penggerak penemuan untuk membentuk dan mengembangkan fakta dan konsep sehingga membangun pengembangan sikap dan nilai (Suryandari, 2014:21).

Keterampilan proses sains adalah pendekatan keterampilan-keterampilan tertentu yang tersemat di dalam pribadi peserta didik untuk membantu membentuk tumbuh dan kembangnya agar mampu memperoleh dan mengolah informasi fakta, pengembangan konsep, maupun nilai. Terdapat beberapa indikator keterampilan proses sains yaitu mengamati, mengkalsifikasikan, mengukur, memprediksi, mengkomunikasikan, menyimpulkan (Septantiningtyas, 2020:25).

Keterampilan proses sains meliputi 1) mengamati, 2) memahami apa yang akan diamati, 3) memanfaatkan pengetahuan baru untuk memprediksi apa yang akan terjadi, 4) menguji prediksi dan hipotesis untuk melihat apakah prediksi dan hipotesis itu benar (Samatowa, 2011:4). Pendekatan keterampilan proses sains lebih memfokuskan pada pemerolehan pengetahuan, penyimpulan, dan mengkomunikasikan hasilnya melalui keterampilan proses. Proses pembelajaran IPA menjadi tempat melatih keterampilan proses yang perlu ditingkatkan melalui kompetensi dasar yang telah ditentukan untuk mendapatkan sikap ilmiah dan keterampilan mengatasi dan memecahkan persoalan, saehingga menumbuhkan sikap pribadi yang positif seperti kritis, kompetitif, kreatif, dan inovatif dalam persaingan di masyarakat (Turiman, dkk., 2012:112).

Keterampilan proses sains bertujuan untuk (Suyandari, 2014:21)

1) Menumbuhkan motivasi belajar karena siswa terlibat aktif dalam melakukan penemuan secara mandiri,

2) Lebih menekankan pada konsep, pengertian, dan fakta yang dipelajari yang diperoleh melalui pengalaman secara langsung,

3) Pengetahuan teori yang didapat akan sesuai dengan penerapan kehidupan sehari-hari secara nyata,

4) Persiapan dan latihan dalam menempuh kenyataan hidup untuk mengembangkan berpikir kritis, logis, dan sistematis,

5) Membentuk sikap bertanggung jawab, percaya diri, setia kawan dalam sosialisasi untuk menghadapi permasalahan

(38)

19

Manfaat dari pendekatan keterampilan proses sains adalah 1) pendekatan keterampilan proses membuat siswa memahami fakta dan konsep ilmu pengetahuan sehingga mengembangkan hakikat ilmu pengetahuan, 2) keterampilan proses sains memberikan keleluasaan bagi pelajar untuk melakukan pekerjaan dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan, tidak sekedar bercerita atau mendengarkan, 3) keterampilan proses dimanfaatkan sebagai belajar proses sekaligus produk.

Berbagai jenis keterampilan proses merupakan keterampilan dasar (basic skill) dan keterampilan terintegrasi (integrated skills) (Septantiningtyas, 2020:18).

Keterampilan dasar yang dimaksud adalah 1) Mengamati (observation)

Adalah respon kita melalui panca indra yaitu penglihatan, penciuman, peraba, pengecap, dan pendengar terhadap objek-objek dan peristiwa alam sehingga kesadaran dan kepekaan terhadap segala hal terus berkembang. Dalam tahap mengamati ini kita mndapatkan ilmu pengetahuan dan hal terpenting dalam membentuk keterampilan proses yang lain. Pada saat melakukan observasi terdapat hal-hal yang perlu diperhatikan yaitu indera-indera yang digunakan tidak hanya penglihatan, pengelompokan objek-objek berdasarkan klasifikasi tertentu, mengidentifikasi sifat-sifat, melakukan observasi kualitatif, melakukan observasi kuantitatif (Trianto, 2012;144)

2) Mengklasifikasikan (classification)

Adalah keterampilan proses untuk menyeleksi dan membedakan objek-objek peristiwa berdasarkan sifat-sifat khusunya sehingga mendapatkan golongan/kelompok sejenis yang dimaksud (Dimyati dan Mudjiono, 2006:142).

Pengelompokan adalah pemilihan objek-objek atau gejala-gejala sesuai dengan persamaan atau perbedaan serta ciri-ciri dari suatu objek atau gejala tersebut (Samatowa, 2006:95).

3) Mengukur (measurement)

Adalah membandingkan ukuran dengan satuan ukuran tertentu yang sudah ditetapkan. Objek tersebut dibandingkan dengan suatu satuan pengukuran (Trianto, 2012:146) misalnya, massa satuan daun buah jeruk adalah 5 gram dan mempunyai panjang 5 cm, dll

4) Meramal (prediction)

(39)

20

Adalah perkiraan-perkiraan kejadian yang diamati di waktu yang akan datang.

Perkiraan/prediksi tersebut mengenai hubungan antara kejadian-kejadian yang telah diamati atau diobservasi. Meramal adalah pengungkapan hasil-hasil dari suatu proses pengamatan (Trianto, 2010:145)

5) Menyimpulkan (inference)

Merupakan beberapa pertanyaan dan pernyataan yang dibuat untuk menghasilkan fakta, konsep, dan prinsip dari hasil pengamatan yang dikehendaki.

Kesimpulan ini berdasarkan pendapat seseorang yang telah melaksakan obervasi atau pengamatan terhadap sesuatu objek.

Keterampilan terintegrasi meliputi 1) mengidentifikasi variabel yang sangat mempengaruhi hasil penelitian, 2) melakukan penyelidikan, 3) menganalisis data hasil penyelidikan, 4) merumuskan hipotesis secara induktif dan deduktif dalam bentuk pernyataan, 5) mendefinisikan variabel secara operasional, 6) melakukan ekpserimen.

Berdasarkan pengertian para ahli, dapat diringkas bahwa keterampilan proses sains merupakan serangkaian keterampilan berpikir untuk mengolah informasi, mengolah kinerja siswa menggunakan ilmu pengetahuan (performance skill), memahami fakta dan konsep ilmu pengetahuan, melakukan penemuan ilmiah. Keterampilan proses sains melatih anak untuk mengembangkan proses berpikir menjadi rapi dan runtut serta mendapatkan dan mengembangkan sebuah pengetahuan secara mandiri. Indikator keterampilan sains yang digunakan peneliti untuk mengembangkan alat peraga kotak sifat cahaya adalah mengobservasi, penerapan konsep, menyimpulkan, dan mengkomunikasikan.

2.1.1.2 Tahap Perkembangan Kognitif

Keterampilan proses sains berperan sentral dalam upaya meningkatkan marwah dan kualitas pendidikan, khususnya dalam membentuk anak untuk mampu berpikir kritis, memecahkan masalah yang dihadapi melalui proses sains, memanfaatkan alam, dan meningkatkan perkembangan kognitif. Menurut Piaget setiap individu yang dilahirkan hingga dewasa mengalami perkembangan kognitif yang berbeda-beda. Jean Piaget menjabarkan tahap perkembangan kognitif dilalui melalui empat tahap sebagai berikut (Trianingsih, 2018:8)

a. Tahap sensorimotor (0-2 tahun)

(40)

21

Tahap ini merupakan tahap yang paling awal yang dimulai dari lahir hingga umur 2 tahun. Pada tahap perkembangan kognitif sensorimotor ini, anak masih beradaptasi dengan lingkungannya serta belajar mengenai lingkungan sekitarnya dengan reflek dan rangsangan berdasarkan inderanya, seperti meraba, melihat, mendengar, mencium, dan lain-lain. Perkembangan pengetahuan anak didapatkan dari interaksi fisik, baik dengan objek atau orang. Skema-skema baru berbentuk refleks-refleks sederhana seperti menggenggam atau menghisap (Sulyandari, 2021:13)

b. Tahap pra-operasi (2-7 tahun)

Pada tahap ini pemikiran anak bersifat simbolis dan intuitif. Hal tersebut membuat anak dapat mengembangkan bahasa secara sederhana, seperti mampu mengumpulkan benda-benda berdasarkan kriteria. Pada tahap ini juga memunculkan sifat bermain anak seperti mencoret-coret benda sesuai dengan imajinasinya, seperti menggambar pemandangan dengan memberi warna warni sesuai pengamatannya. Selain itu, anak sudah dapat yakin dengan apa yang mereka ketahui tanpa disadari apa yang sebenarnya mereka butuh dan inginkan.

Anak sudah bisa merekayasa sesuatu hal yang di sekitarnya. Konteks ini dinyatakan dengan peniruan yang tertahan dalam imajinasi yang bermain pura- pura (Susanto, 2011:50)

c. Tahap operasional konkret (7-11 tahun)

Tahap ini pemikiran anak cukup matang mencakup potensi membaca dan matematika, serta penalaran logika yang walaupun hanya untuk objek fisik yang ada saat ini. Potensi dan kerampilan untuk memilah sesuatu sudah ada, tetapi dalam urusan konsep atau persoalan yang abstrak masih belum bisa dijangkau.

Daya ingat dan pemikiran logis anak meningkat, tetapi masih terbatas pada memahami masalah yang berdasarkan kenyataaan saja. Objek fisik membantu mereka menyelesaikan persoalan yang ada ataupun tugas seperti permasalahan logika, tetapi tanpa objek fisik mereka kesulitan mengerjakannya (Jarvis, 2011:149)

d. Tahap operasional formal (11-15 tahun)

Naik pada satu tahap, konsep-konsep abstrak sudah dapat dipikirkan menggunakan daya akal, serta sudah bisa membayangkan idealism, dan logika

(41)

22

yang konkret. Dalam pemecahan masalah dimanfaatkan kualitas abstrak suatu konsep pesoalan yang sudah tampak jelas dalam urusan verbal. Anak mulai memikirkan spekulai antara dirinya dengan orang lain, mampu menarik kesimpulan dari informasi yang di dapatnya. Pada tahap ini seseorang sudah dapat mengonstruksikan pemikiran yang abstrak dan dapat memberikan pemecahan masalah dengan melakkukan pengujian terhadap alternatid yang ada tanpa harus menggunakan benda-benda konkret (Sulyandari, 2021:14). Peralihan dari remaja menuju dewasa sangat terbantukan oleh kemampuan yang dimiliki seorang pada tahap ini.

Berdasarkan penjelasan di atas, bahwa struktur kognitif anak sangat beragam satu dengan anak yang lain. Berdasarkan hal tersebut, maka sesuai dengan subyek penelitian ini adalah siswa kelas IV yang secara perkembangan kognitifnya masih berada pada tahap operasional konkret, yang mana pemikiran anak cukup matang mencakup penggunaan operasi membaca dan matematika, serta penalaran logika tetapi belum bisa memecahkan problem-problem abstrak. Oleh karena itu, peneliti merancang pembelajaran inovatif yang disesuaikan dengan karakteristik dan gaya belajar khusunya untuk memecahkan problem-problem abstrak salah satunya dalam pembelajaran IPA. Peneliti mengembangkan alat peraga pembelajaran yang dapat memahamkan konsep dan materi abstrrak kepada siswa menggunakan benda-benda yang konkret.

2.1.1.3 Alat Peraga

2.1.1.3.1 Pengertian Alat Peraga

Alat peraga adalah alat yang dibuat untuk memperagakan dan membantu guru agar pelajar atau siswa dapat mengerti dan memahami suatu materi yang dapat ditangkap oleh mata dan telinga sehingga pembelajaran menjadi efektif dan efesien (Sudjana, 2008:59). Alat peraga merupakan alat atau benda yang dipakai untuk menghadirkan bentuk abstrak ke dalam bentuk fakta, konsep, prinsip, atau prosedur sehingga tampak lebih nyata atau konkrit (Rohadi, 2003:10). (Sundayana, 2016:26) menekankan bahwa alat peraga ialah segala hal yang dapat mempengaruhi siswa dalam hal berpikir, motivasi serta perasaan yang memicu terjadinya proses belajar dengan materi yang sudah dikonversi menjadi tampak nyata. Alat peraga sangat berguna dan bermanfaat untuk mengembangkan derajat pendidikan. Alat peraga

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini dimaksudkan untuk mendeskripsikan hasil pengembangan dan ketercapaian pelaksanaan perangkat pembelajaran matematika berbasis pemanfaatan lingkungan dan alat peraga

Penggunaan Alat Peraga Akuarium Bilbul Untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Bilangan Bulat Pada Mata Pelajaran Matematika Kelas Iv Sekolah Dasar (Penelitian Tindakan Kelas Di Sd Negeri

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan media poster yaitu pelestarian makhluk hidup sebagai media pembelajaran sebagai bahan ajar atau alat peraga yang

Guru kelas IV juga menyatakan bahwa jika terdapat alat peraga untuk materi penjumlahan dan pengurangan bilangan desimal, maka alat peraga tersebut dapat menjadi

Akan tetapi dari hasil observasi dan wawancara di lapangan, guru masih minim menggunakan alat peraga dan media sejenisnya. Akibatnya hasil belajar siswa tidak

Hasil penilaian pakar materi menunjukkan bahwa alat peraga pemisahan campuran masuk dalam kriteria sangat layak dengan presentase kelayakan sebesar 96,25% dan

Penggunaan metode mengajar yang sesuai dengan konteks dan materi pembelajaran diikuti dengan pemanfaatan alat peraga pembelajaran akan menjadikan proses belajar mengajar hidup,

Hasil dari penelitian dan pengembangan ini adalah sebuah produk media pembelajaran video animasi materi sifat-sifat cahaya dalam pembelajaran IPA di sekolah dasar melalui penelitian dan