BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian dan Pengembangan
4.1.2 Kualitas Alat Peraga
4.1.2.2 Hasil Validasi RPP
Validasi dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kelayakan perangkat pembelajaran yang telah dibuat. Terdapat beberapa aspek yang dinilai meliputi (1) identitas RPP, (2) perumusan tujuan pembelajaran dan indikator, (3) media pembelajaran, (4) model pembelajaran, (5) kegiatan pembelajaran, (6) bahan ajar/materi, (7) kesesuaian alat peraga dengan tujuan pembelajaran, (8) alat peraga mengatasi kesulitan siswa, (9) LKPD, (10) penilaian, (11) evaluasi. Instrumen validasi memakai skala likert yang rentangnya antara 1-4. Instrumen tersebut terdiri dari dua bagian yaitu instrumen tertutup yang dilakukan dengan hanya mencentang aspek skala pilihan 1-4 dan instrumen terbuka dilakukan dengan memberikan kritik dan saran yang berkaitan dengan RPP. Berikut akan ditampilkan hasil validasi RPP
Tabel 4.3 Hasil Validasi RPP
Indikator Deskripsi Validator
Rerata
1 2
RPP 1. Identitas RPP 4 4 4
2.Perumusan tujuan pembelajaran
dan indikator 4 4 4
3. Media Pembelajaran 4 3 3,5
4. Model pembelajaran 2,5 3 2,7
5. Kegiatan pembelajaran 3 3 3
6. Bahan ajar/materi 4 4 4
Alat Peraga 7.Kesesuaian alat peraga dengan
tujuan pembelajaran 4 4 4
81 8. Alat peraga mengatasi kesulitan
siswa 4 4 4
LKPD 9. Lembar kerja peserta didik 4 3,7 3,8
Penilaian 10. Penilaian 4 4 4
Rerata Skor 3,7 3,6 3,7
3,6
Berdasarkan tabel 4.3 di atas dapat dilihat bahwa penelitian dari para ahli dengan menggunakan acuan skala 4 dapat diketahui bahwa indikator identitas RPP mendapatkan rata-rata nilai 4 baik dari validator pertama dan validator kedua, dengan kategori “sangat baik”. Indikator kedua yaitu permusuan tujuan dan indikator yang mendapatkan rata-rata nilai 4 baik dari validator pertama dan validator kedua, dengan kategori“sangat baik”. Selanjutnya indikator ketiga yaitu media pembelajaran mendapatkan rata-rata nilai 3,5 dari validator pertama dan 3 dari validator kedua, dengan kategori “sangat baik”. Indikator keempat yaitu model pembelajaran yang mendapatkan rata-rata nilai 2,7 dari validator pertama dan validator kedua, dengan kategori “baik”. Indikator yang kelima yaitu kegiatan pembelajaran mendapatkan rata-rata nilai 3 baik dari validator pertama dan validator kedua, dengan kategori “baik”. Indikator yang keenam, bahan ajar/materi mendapatkan rata-rata nilai 4 baik dari validator pertama dan validator kedua, dengan kategori “sangat baik”.
Indikator ketuju, kesesuaian alat peraga dengan tujuan pembelajaran yang mendapatkan rata-rata nilai 4 dari validator pertama dan validator kedua, dengan kategori “sangat baik”. Indikator kedelapan, alat peraga mengatasi kesulitan siswa yang mendapatkan rata-rata nilai 4 dari validator pertama dan validator kedua, dengan kategori “sangat baik”. Indikator kesembilan, lembar kerja peserta didik yang mendapatkan rata-rata nilai 4 dari validator pertama dan 3,8 dari validator kedua, dengan kategori “sangat baik” dari validator pertama. Indikator kesepuluh, penilaian dan evaluasi yang mendapatkan rata-rata nilai 4 dari validator pertama dan 4 dari validator kedua, dengan kategori “sangat baik”.
Berdasarkan hasil validasi, kualitas RPP dari validator pertama mendapat skor rata-rata 3,7 dari skala 4,00 dan dari validator kedua mendapatkan skor sebesar 3,6 dari skala 4,00. Hal ini membuktikan bahwa validasi RPP yang dilakukan oleh validator pertama dan validator kedua dikategorikan “sangat baik”. Dengan demikian dosen ahli alat peraga dan wali kelas IV SD mengemukakan bahwa RPP
82
sebagai pedoman penggunaan alat peraga yang dikembangkan oleh peneliti sudah baik dan layak untuk digunakan uji coba terbatas dengan revisi.
Berikut rata-rata hasil penilaian validasi RPP oleh validator pertama dan validator kedua yang disajikan ke dalam diagram batang
Gambar 4.8 Diagram Rata-rata Hasil Validasi RPP
Dengan demikian, ahli alat peraga dan wali kelas IV mengemukakan bahwa RPP yang dibuat oleh peneliti sudah selayaknya untuk diuji di lapangan dengan revisi. Selain itu para ahli juga memberikan catatan penting, catatan tersebut berupa saran dan komentar. Saran tersebut bermanfaat bagi perbaikan RPP, sehingga layak untuk dilakukan uji coba kepada siswa. Berikut di bawah ini akan dipaparkan saran dan komentar dari Ibu IK dan Ibu R dan disertai dengan RPP yang sudah direvisi oleh peneliti.
Tabel 4.4 Hasil Revisi RPP
Sebelum Revisi/Saran dan Komentar Setelah Revisi Perlu ada penjelasan mengenai RPP luring atau
daring
Perbaikan: Menambahkan keterangan RPP luring
Jika luring, berapa banyak media/alat peraga yang disediakan?
Perbaikan : Menambahkan keterangan media dan alat peraga yang dibutuhkan secara detail Apakah waktu yang disedikan di RPP cukup
dengan kegiatan yang dirancang?
Perbaikan : Menambahkan alokasi waktu yang semula 150 menit menjadi 180 menit agar waktu cukup dan mencakup keseluruhan kegiatan pembelajaran
Untuk penilaian sikap ada baiknya dikaitkan dengan aktivitas yang dilakukan (misalnya percobaan yang dilakukan dan juga tugas-tugas lainnya)
Mengganti dan menambahkan instrumen penilaian sikap yang sesuai dengan aktivitas yang dilakukan
4.1.2.3 Hasil Uji Coba Terbatas
Setelah peneliti melaksanakan uji coba pembelajaran menggunakan alat peraga kotak sifat cahaya, peneliti mengajak siswa untuk mengerjakan soal tes yang terdiri dari 15 soal pilihan ganda dan 5 soal tes menjodohkan yang bertujuan untuk
Validator
Rata-rata Hasil Validasi RPP
83
mengetahui sejauh mana kemampuan dan pemahaman siswa terkait materi sifat-sifat cahaya setelah menggunakan alat peraga kotak sifat-sifat cahaya. Berikut ini adalah hasil tes dari sepuluh siswa tersebut
Tabel 4.5 Nilai Tes
No. Nama Nilai
1. Siswa A 80
2. Siswa B 75
3. Siswa C 85
4. Siswa D 90
5. Siswa E 80
6. Siswa F 95
7. Siswa G 80
8. Siswa H 100
9. Siswa I 85
10. Siswa J 100
Rata-rata 87
Berdasarkan data hasil tes tersebut, nilai yang paling tinggi diperoleh oleh siswa H dan siswa J yaitu dengan nilai 100 sedangkan nilai terendah diperoleh oleh siswa B dengan nilai 75. Ada satu orang siswa memperoleh 75, tiga orang siswa mendapatkan nilai 80, dua orang mendapatkan nilai 85, satu orang siswa mendapatkan nilai 90, satu orang mendapatkan nilai 95, dan dua orang siswa mendapatkan nilai 100. KKM mata pelajaran IPA di SD Negeri Ngijon 1 yaitu 75, berdasarkan hal tersebut maka dapat dikatakan bahwa sepuluh siswa yang telah melaksanakan uji coba menggunakan alat peraga kotak sifat cahaya dinyatakan tuntas karena mencapai KKM dan hal ini menunjukkan bahwa alat peraga kotak sifat cahaya dapat membantu siswa dalam memahami pelajaran IPA materi sifat-sifat cahaya. Berikut hasil nilai tes yang disajikan ke dalam diagram batang
84
Gambar 4.9 Diagram Hasil Nilai Tes 4.1.2.4 Hasil Observasi
Observasi yang dilakukan penilti selama kegiatan belajar berlangung mencakup dua hal yaitu observasi penilaian sikap dan observasi penilaian keterampilan. Observasi bertujuan untuk meninjau kemampuan siswa baik soft skill maupun hard skill ketika menggunakan alat peraga kotak sifat cahaya. Berikut peneliti akan jabarkan dan jelaskan hasil observasi
4.1.2.4.1 Hasil Observasi Penilaian Sikap
Selama kegiatan uji coba berlangsung menggunakan alat peraga kotak sifat cahaya, peneliti mengobservasi, mencatat, mengamati kegiatan-kegiatan siswa, serta mengisi lembar observasi yang meliputi aspek sikap diantaranya kerja sama, tanggung jawab, dan ketelitian.
Tabel 4.6 Hasil Observasi Penilaian Sikap (Soft Skill)
Nama Siswa
Aspek Penilaian
Total Skor Rata-rata Kerja Sama Tanggung Jawab Ketelitian
Siswa A 3 4 4 11 3,6
85 Total
Berdasarkan data kemampuan soft skill dilihat sikap siswa menggunakan alat peraga kotak sifat cahaya, Jumlah perolehan skor siswa A dari ketiga aspek adalah 11 dengan nilai rata-rata 3,6 dari skala 4,00 mendapat kategori “sangat baik”.
Jumlah perolehan skor siswa B dari ketiga aspek adalah 9 dengan nilai rata-rata 3 dari skala 4,00 mendapat kategori “baik”. Jumlah perolehan skor siswa C dari ketiga aspek adalah 9 dengan nilai rata-rata 3 dari skala 4,00 mendapat kategori
“baik”. Jumlah perolehan skor siswa D dari ketiga aspek adalah 11 dengan nilai rata-rata 3,6 dari skala 4,00 mendapat kategori “sangat baik”. Jumlah perolehan skor siswa E dari ketiga aspek adalah 9 dengan nilai rata-rata 3 dari skala 4,00 mendapat kategori “baik”. Jumlah perolehan skor siswa F dari ketiga aspek adalah 10 dengan nilai rata-rata 3,3 dari skala 4,00 mendapat kategori “baik”. Jumlah perolehan skor siswa G dari ketiga aspek adalah 10 dengan nilai rata-rata 3,3 dari skala 4,00 mendapat kategori “baik”. Jumlah perolehan skor siswa H dari ketiga aspek adalah 12 dengan nilai rata-rata 4 dari skala 4,00 mendapat kategori “sangat baik”. Jumlah perolehan skor siswa I dari ketiga aspek adalah 9 dengan nilai rata-rata 3 dari skala 4,00 mendapat kategori “baik”. Jumlah perolehan skor siswa J dari ketiga aspek adalah 11 dengan nilai rata-rata 3,6 dari skala 4,00 mendapat kategori
“sangat baik”.
Berdasarkan tabel diatas mengenai hasil observasi penilaian sikap dari kesepuluh siswa bahwa aspek kerja sama mendapat skor total 31 dengan nilai rata-rata 3,1 dari skala 4,00 mendapat kategori “baik” artinya rata-rata-rata-rata siswa menunjukkan empat dari lima indikator yaitu memberikan jawaban dari pertanyaan dalam kelompok dengan bahasa yang jelas dan sopan, dalam diskusi kelompok terlibat aktif, mendengarkan dan menghargai pendapat temannya, saling membantu saat mengalami kesulitan, menyelesaikan masalah dengan baik. Aspek tanggung jawab mendapat skor 39 dengan nilai rata-rata 3,9 dari skala 4 mendapat kategori
“sangat baik” artinya rata-rata siswa menunjukkan seluruh kegiatan diantaranya mengerjakan tugas individu dengan baik, mengerjakan tugas kelompok sesuai pembagiannya, menerima resiko atas perbuatan yang dilakukannya. Aspek ketelitian mendapat skor total 32 dengan nilai rata-rata 3,2 dari skala 4,00 mendapat kategori “baik” artinya rata-rata siswa menunjukkan tiga dari empat indikator mengerjakan tugas dengan teliti dan berhati-hati, mencek kembali hasil
86
percobaan/tugas sebelum dikumpulkan, konsentrasi ketika bekerja, tidak tergesa-gesa dalam menyelesaikan tugas. Dari hasil observasi terkait kemampuan soft skill siswa ketika menggunakan alat peraga kotak sifat cahaya diperoleh rerata skor sebesar 3,4 dengan kategori ‘sangat baik’. Berikut hasil observasi penilaian sikap yang disajikan dalam bentuk diagram batang.
Gambar 4.10 Diagram Hasil Observasi Penilaian Sikap
Berdasarkan paparan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa penggunaan alat peraga kotak sifat cahaya yang telah di uji cobakan kepada sepuluh siswa kelas IV SD Negeri Ngijon 1 didapatkan hasil kategori baik pada aspek kerja sama dan ketelitian serta kategori sangat baik pada aspek tanggung jawab, selain itu dapat meningkatkan karakter anak dalam bersikap dan meningkatkan motivasi dalam belajar.
4.1.2.4.2 Hasil Observasi Penilaian Keterampilan
Aspek keterampilan juga diobservasi oleh peneliti diantaranya mengobservasi, penerapan konsep, mengkomunikasikan, dan menyimpulkan.
Penilaian keterampilan bertujuan untuk meninjau kemampuan siswa berkaitan dengan keterampilan proses sains. Berikut merupakan data hasil observasi mengenai penilaian keterampilan (hard skill)
Kerja Sama Ketelitian Tanggung Jawab
Aspek Sikap 3,1 3,2 3,9
0 1 2 3 4 5
Aspek Sikap
87
Tabel 4.7 Hasil Observasi Penilaian Keterampilan (hard skill)
Nama Siswa
Aspek Penilaian
Total Rata-rata
Mengobservasi Penerapan Konsep Mengkomunikasikan Menyimpulkan
Siswa A 4 3 4 4 15 3,75
Berdasarkan data kemampuan hard skill dilihat dari keterampilan siswa menggunakan alat peraga kotak sifat cahaya, jumlah perolehan skor siswa A dari keempat aspek adalah 15 dengan nilai rata-rata 3,75 dari skala 4,00 mendapat kategori “sangat baik”. Jumlah perolehan skor siswa B dari keempat aspek adalah 14 dengan nilai rata-rata 3,5 dari skala 4,00 mendapat kategori “baik”. Jumlah perolehan skor siswa C dari keempat aspek adalah 15 dengan nilai rata-rata 3,75 dari skala 4,00 mendapat kategori “sangat baik”. Jumlah perolehan skor siswa D dari keempat aspek adalah 13 dengan nilai rata-rata 3,25 dari skala 4,00 mendapat kategori “baik”. Jumlah perolehan skor siswa E dari keempat aspek adalah 16 dengan nilai rata-rata 4 dari skala 4,00 mendapat kategori “sangat baik”. Jumlah perolehan skor siswa F dari keempat aspek adalah 13 dengan nilai rata-rata 3,25 dari skala 4,00 mendapat kategori “baik”. Jumlah perolehan skor siswa G dari keempat aspek adalah 15 dengan nilai rata-rata 3,75 dari skala 4,00 mendapat kategori “sangat baik”. Jumlah perolehan skor siswa H dari keempat aspek adalah 12 dengan nilai rata-rata 3 dari skala 4,00 mendapat kategori “baik”. Jumlah perolehan skor siswa I dari keempat aspek adalah 13 dengan nilai rata-rata 3,25 dari
88
skala 4,00 mendapat kategori “baik”. Jumlah perolehan skor siswa J dari keempat aspek adalah 15 dengan nilai rata-rata 3,75 dari skala 4,00 mendapat kategori
“sangat baik”.
Berdasarkan tabel diatas mengenai hasil observasi penilaian keterampilan dari kesepuluh siswa bahwa aspek mengobservasi mendapat skor total 34 dengan nilai rata-rata 3,4 dari skala 4,00 mendapat kategori “sangat baik” artinya rata-rata siswa melakukan percobaan/pengamatan dengan mengunakan sebagian prosedur yang ada. Aspek penerapan konsep mendapat skor total 37 dengan nilai rata-rata 3,7 dari skala 4,00 mendapat kategori “sangat baik” artinya rata-rata siswa menunjukkan bukti dari apa yang dipahami tentang materi yang telah dipelajari.
Aspek mengkomunikasikan mendapat skor total 33 dengan nilai rata-rata 3,3 dari skala 4,00 mendapat kategori “sangat baik” artinya rata-rata siswa menyampaikan hasil percobaan dengan jelas serta objektif serta didukung sebagian data pendukung. Aspek menyimpulkan mendapat skor total 37 dengan nilai rata-rata 3,7 dari skala 4,00 mendapat kategori “sangat baik” artinya rata-rata siswa menyimpulkan sesuai dengan hasil percobaan, menulis kesimpulan secara lengkap dan jelas, merangkum point penting dalam percobaan, dan tidak bertele-tele. Dari hasil observasi terkait kemampuan hard skill siswa ketika menggunakan alat peraga kotak sifat cahaya diperoleh rerata skor sebesar 3,5 dengan kategori ‘sangat baik’.
Berikut hasil observasi penilaian keterampilan yang disajikan dalam bentuk diagram batang.
Gambar 4.11 Diagram Hasil Observasi Penilaian Keterampilan
3,1 3,2 3,3 3,4 3,5 3,6 3,7 3,8
Aspek Keterampilan
Aspek Keterampilan
89
Berdasarkan uraian paparan tersebut dapat diberi simpulan bahwa penggunaan alat peraga kotak sifat cahaya yang telah di uji cobakan kepada sepuluh siswa kelas IV SD Negeri Ngijon 1 didapatkan hasil kategori sangat baik pada aspek penerapan konsep dan menyimpulkan serta kategori baik pada aspek mengobservasi dan mengkomunikasikan.
4.2 Pembahasan
4.2.1 Prosedur Pengembangan Alat Peraga
Alat peraga kotak sifat cahaya yang dikembangkan ini menggunakan model pengembangan ADDIE. Tahap ADDIE yang pertama yaitu analyze, peneliti melakukan analisis kebutuhan dengan cara melakukan wawancara bersama dengan Ibu R selaku wali kelas IV SD Negeri Ngijon 1 dan analisis kebutuhan berupa kuisioner bersama dengan seluruh siswa kelas IV SD Negeri Ngijon 1. Analisis kebutuhan bertujuan untuk mengumpulkan informasi atau data dan mengidentifikasi masalah tentang materi IPA yang sulit bagi siswa yang akan dijadikan pertimbangan dalam pembuatan alat peraga. Hasil wawancara bersama Ibu R yaitu ketersediaan dan penggunaan alat peraga dalam pembelajaran IPA masih sangat terbatas karena keterampilan guru dalam membuat alat peraga yang masih kurang dan mengalami kesulitan dalam menemukan alat peraga yang tepat.
Selain itu, Ibu R dalam kegiatan belajar mengajar menggunakan metode konvensional yang bersifat satu arah, materi yang dikuasai siswa sebagai hasil dari ceramah akan terbatas pada apa yang dikuasai guru, sehingga siswa kurang mampu memahami dan mendalami materi secara jelas yang diajarkan oleh guru. Peneliti melakukan penyebaran kuisioner tindak lanjut kepada seluruh siswa kelas IV yang bertujuan untuk mendapatkan informasi mendalam terkait materi IPA yang sulit bagi swa. Dari hasil kuisioner yang telah dilakukan dua kali, disimpulkan bahwa materi IPA yang sulit bagi siswa adalah tentang sifat-sifat cahaya.
Setelah mendapatkan informasi awal mengenai materi IPA yang sulit bagi siswa, langkah selanjutnya pada tahap design peneliti mencari dan mengumpulkan referensi yang akan digunakan dalam pengembangan alat peraga. Desain alat peraga yang dibuat peneliti adalah berdasarkan dan mengacu pada teori Carol Nancarrow (2008) karakteristik alat pembelajaran yang berkualitas adalah Growth-Oriented, Transferable, Time-Efficient, Results-Growth-Oriented, Essential, Feasible,
90
Engaging, dan Functional. Siswa kelas IV berada pada tahap operasional konkret (9-11 tahun) dimana memiliki sikap aktif, rasa keingintahuan yang kuat, imajinasi tinggi, suka bermain, selalu ingin menjadi juara, serta menyukai hal-hal yang baru dan menantang. Berdasarkan karakteristik tersebut, alat peraga yang dibuat peneliti berpusat pada karakteristik siswa kelas IV SD dan menekankan untuk berpikir kritis, aktif, membutuhkan benda-benda konkret untuk konsep yang abstrak, dan selalu mengembangkan kemampuannya melalui percobaan-percobaan tertentu. Hal ini sesuai dengan kriteria alat peraga menurut Carol Nancarrow yaitu Growth-Oriented. Desain atau sketsa alat peraga peneliti buat pada selembar kertas HVS yang kemudian di konsultasikan kepada dosen pembimbing 1 dan dosen pembimbing 2 sampai akhirnya peneliti membuat desain alat peraga menggunakan aplikasi photoshop.
Langkah selanjutnya, peneliti menentukan tema dan subtema sesuai materi sifat-sifat cahaya berdasarkan permasalahan siswa kelas IV SD Negeri Ngijon 1.
Peneliti menentukan sisem pembelajaran yang disesuaikan dengan KI dan KD sekaligu sub temanya. Kemudian peneliti Menyusun indikator pencapaian dan tujuannya. Langkah berikutnya peneliti merancang Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). RPP yang disusun memuat satu pelajaran yaitu IPA karena peneliti akan fokus pada alat peraga yang dibuat untuk mengatasi kesulitan siswa dalam memahami materi sifat-sifat cahaya. RPP bertujuan sebagai pedoman dalam penggunaan alat peraga sehingga kegiatan pembelajaran terarah, teratur, dan sistematis sesuai dengan langkah-langkah pembelajaran untuk mencapai kompetensi dasar. Pedoman alat peraga kotak sifat cahaya juga dibuat yang bertujuan untuk memberikan petunjuk penggunaan dan langkah kerja dari alat peraga kotak sifat cahaya. Pedoman alat peraga kotak sifat cahaya berisi materi sifat-sifat cahaya, pengenalan alat peraga, bagian-bagian alat peraga, langkah kerja alat peraga, dan sumber referensi.
Pada tahap development, peneliti mewujudnyatakan alat peraga secara nyata menjadi barang, alat peraga yang dibuat menggunakan bahan dasar dari triplek kayu yang berbentuk seperti kotak/box dengan sisi depan dan sisi atas yang terbuka.
Ukuran alat peraga yaitu 25 cm × 30cm × 25 cm yang terdiri dari empat sisi. Alat peraga kotak sifat cahaya yang dikembangkan peneliti berdasarkan hasil analisis
91
kebutuhan, bertujuan untuk mengenalkan suatu konsep pada materi sifat-sifat cahaya. Hal ini sesuai dengan kriteria alat peraga menurut Carol Nancarrow (2008) yaitu Results-Oriented. Alat peraga kotak sifat cahaya juga bermanfaat karena dapat mengatasi mata pelajaran IPA materi sifat-sifat cahaya yang dirasa sulit bagi siswa.
Hal ini sesuai dengan kriteria alat peraga menurut Carol Nancarrow (2008) yaitu Essential. Penggunaan alat peraga kotak sifat cahaya melibatkan lebih dari satu panca indera yaitu indera penglihatan dan indera peraba. Ukuran dan berat alat peraga kotak sifat cahaya disesuaikan dengan siswa kelas IV SD dan guru, yaitu alat peraga mudah dibawa kemana-mana dan mudah digunakan oleh guru dan siswa. Selain itu alat peraga kotak sifat cahaya dapat digunakan diberbagi macam suasana kelas dan dapat digunakan berulang-ulang. Hal ini sesuai dengan kriteria alat peraga menurut Carol Nancarrow yaitu transferable. Karena mudah digunakan oleh guru dan siswa, maka alat peraga kotak sifat cahaya tidak memerlukan waktu yang lama untuk mengoperasikannya pada materi sifat-sifat cahaya. Hal ini sesuai dengan kriteria alat peraga menurut Carol Nancarrow yaitu time-efficient.
Peneliti membuat alat peraga kotak sifat cahaya dengan bentuk yang dapat membuat siswa penasaran sehingga tertarik ingin mencoba alat peraga tersebut.
Selain itu peneliti juga memperhatikan warna yang dipilih dalam pembuatan alat peraga kotak sifat cahaya. Hal ini sesuai dengan kriteria alat peraga menurut Carol Nancarrow yaitu engaging. Pembuatan alat peraga kotak sifat cahaya mengunakan bahan yang mudah didapatkan di sekitar lingkungan, memanfaatkan benda-benda di sekitar lingkungan yang tidak terpakai, biaya yang terjangkau, sehingga orang dapat dengan mudah menemukannya. Alat peraga juga didesain dengan aman tanpa menggunakan benda dan bahan yang berbahaya untuk menjaga keselamatan siswa ketika menggunakannya. Hal ini sesuai dengan kriteria alat peraga menurut Carol Nancarrow yaitu feasible. Komponen-komponen yang ada di dalam alat peraga kotak sifat cahaya sangat sederhana sehingga dapat dengan mudah dipahami oleh anak untuk setiap bagian-bagiannya. Hal ini sesuai dengan kriteria alat peraga menurut Carol Nancarrow yaitu functional.
Alat peraga dan RPP yang telah dikembangkan kemudian divalidasi oleh dua validator yaitu ahli alat peraga sekaligus sebagai dosen PGSD dan guru kelas IV SD. Berdasarkan saran dan komentar dari kedua validator, peneliti memperbaiki
92
alat peraga dan RPP agar siap untuk diimplementasikan
Pada tahap implementasi, peneliti melakukan uji coba terbatas pada 10 peserta didik kelas IV SD Negeri Ngijon 1 yang teridi dari 4 siswa perempuan dan 6 siswa laki-laki. Uji coba dilaksanakan pada hari Jumat, 14 Januari 2022 yang dilaksankan pukul 07.30 – 10.30. Pengembangan alat peraga kotak sifat cahaya dalam proses pembelajaran IPA bertujuan untuk mengatasi kesulitan siswa dalam memahami konsep yang asbtrak yaitu sifat-sifat cahaya menjadi konsep yang konkrit yang dipahami oleh siswa. Pada pembelajaran IPA yang berlangsung selama 3 jam menggunakan alat peraga kotak sifat cahaya terdiri dari langkah-langkah pembelajaran, diantaranya (1) salam pembuka dan doa, (2) presensi, (3) apersepsi, (4) motivasi, (5) menggali pemahaman siswa dengan tanya jawab/critical thinking, (6) merumuskan hipotesis, (7) pembagian kelompok, LKPD, buku pedoman, teks cerita, (8) pengamatan siswa dengan alat peraga, (9) setiap kelompok maju satu per satu secara bergantian untuk mempraktikkan dan melakukan percobaan menggunakan alat peraga, (10) mengerjakan LKPD, (11) membandingkan hasil percobaan LKPD dengan hipotesis yang telah dirumuskan, (12) mempresentasikan hasil percobaan dan LKPD, (13) penguatan dan penjelasan oleh guru, (14) kesimpulan, (15) mempertegas konsep, (16) refleksi, (17) salam penutup dan doa.
Beberapa hal yang harus diperhatikan siswa ketika praktik berlangsung, diantaranya adalah penggunaan senter yang harus dibawa dengan erat dan hati-hati agar senter tidak jatuh, karena jika jatuh maka senter akan mati dan peneliti hanya membawa satu senter. Selanjutnya adalah air yang berada di dalam gelas harus
Beberapa hal yang harus diperhatikan siswa ketika praktik berlangsung, diantaranya adalah penggunaan senter yang harus dibawa dengan erat dan hati-hati agar senter tidak jatuh, karena jika jatuh maka senter akan mati dan peneliti hanya membawa satu senter. Selanjutnya adalah air yang berada di dalam gelas harus