• Tidak ada hasil yang ditemukan

Karakteristik Kewajiban Dan Klasifikasinya

Dalam dokumen BAB I PENGANTAR. A. Informası Akuntansı (Halaman 109-116)

KEWAJIBAN LANCAR

A. Karakteristik Kewajiban Dan Klasifikasinya

Karakteristik utama kewajiban adalah (1) keharusan perusahaan saat ini, (2) untuk menyerahkan aktiva atau menyediakan jasa kepada pihak lain di masa mendatang, (3) sebagai akibat dari transaksi atau kejadian di masa lamapu. Pokok bahasan ini menjelaskan kewajiban lancar, yakni kewajiban yang harus dilunasi dalam waktu maksimum satu tahun sejak tanggal neraca. Kewajiban jangka panjang — pokok bahasan berikutnya — adalah kewajiban yang pelunasannya lebih dari satu tahun sejak tanggal neraca. Namun, kewajiban jangka panjang yang jatuh tempo dalam tahun berjalan diklasifikasi ke dalam kewajiban lancar jika akan dilunasi dengan menggunakan aktiva lancar.

Jenis-jenis kewajiban lancar meliputi, antara lain utang usaha (utang dagang), utang wesel, utang dividen, utang pajak penghasilan (PPh), utang pajak penghasilan karyawan, dan pendapatan belum terhimpun. Beberapa jenis kewajiban lancar dijelaskan di pokok bahasan ini.

Dari pandangan kepastian timbulnya, kewajiban dibedakan menjadi kewajiban pasti (determinable liability) dan kewajiban kontinjen (contingent liability). Kewajiban pasti adalah kewajiban yang eksistensinya sudah pasti, tidak bergantung pada kondisi di masa mendatang. Jumlahnya ada yang sudah pasti dan ada yang perlu ditaksir lebih dahulu. Kewajiban kontinjen adalah kewajiban yang keberadaannya masih bergantung pada terjadi atau tidaknya suatu peristiwa di masa mendatang. Misalnya, kewajiban yang mungkin timbul dari tuntutan oleh pihak lain dalam perkara pelanggaran hak cipta.

Utang Wesel (Usaha)

Utang wesel bisa berasal dari kegiatan normal perusahaan, misalnya dari pembelian bahan baku atau barang dagangan, dan bisa pula berasal dari penarikan pinjaman bank. Jika berasal dari pembelian barang dagangan, maka jurnalnya adalah debit Pembelian atau Persediaan12 dan kredit Utang Wesel. Pada saat pelunasan, Utang Wesel didebit dan Kas dikredit. Bila weselnya berbunga, maka debitnya Utang Wesel dan Biaya Bunga, sedangkan kreditnya adalah Kas. Bagaimana menghitung bunga sudah dijelaskan di pokok bahasan lain.

Utang Wesel Bank

Utang wesel bank timbul dari kejadian penarikan pinjaman jangka pendek dari bank dengan menandatangani wesel (promes atau aksep). Wesel ada yang berbunga dan ada pula yang tanpa bunga. Wesel tak berbunga dibayar oleh bank di bawah nilai nominalnya, sedangkan wesel berbunga dibayar sebesar nilai nominalnya.

Wesel Berbunga. Sebagai contoh, misalnya PT. LOUBENA JAYA pada tanggal 1

Nopember 2007 menarik utang wesel jangka pendek dari bank, nilai nominal Rp10.000.000, bunga 12%, jangka waktu 3 bulan. Jurnal untuk mencatat penarikan utang wesel adalah sebagai berikut :

Nov. 1 Kas 10.000.000

Utang Wesel - 10.000.000

Jika tahun buku adalah tahun kalender, maka dibuat jurnal penyesuaian pada akhir tahun 2007 untuk mengakui biaya bunga selama 2 bulan (1 Nopember - 31 Desember) sebagai berikut :

Des. 31 Biaya Bunga (Rp 10 juta x 12% x 2/12) 200.000

Utang Bunga - 200.000

Di neraca per 31 Desember 2007, utang wesel berbunga beserta utang bunganya disajikan sebagai berikut :

Kewajiban Lancar :

Utang Wesel Rp 10.000.000

Ditambah : Utang Bunga 200.000

Rp 10. 200.000 Jurnal penyesuaian yang dibuat pada akhir tahun 2007 dibalik pada awal tahun 2008 dengan mendebit Utang Bunga dan mengkredit Biaya Bunga sebesar Rp200.000. Kemudian, pada saat pelunasan 1 Februari 2008 dibuat jurnal sebagai berikut.

Peb. 1 Utang Wesel 10.000.000

Biaya Bunga (Rp 10 juta x 12% x 3/12) 300.000

Kas - 10.300.000

Wesel Tanpa Bunga. Sebagai contoh, misalnya PT. PRADHANA pada tanggal 1

Nopember 2007 menarik utang wesel jangka pendek dari bank, nilai nominal Rp10.000.000, jangka waktu 3 bulan, tidak disebutkan tingkat bunga secara eksplisit. Namun, bank hanya membayar Rp9.700.000. Jurnal untuk mencatat penarikan utang wesel adalah sebagai berikut.

Nov. 1 Kas 9.700.000

Diskonto Utang Wesel 300.000

Utang Wesel - 10.000.000

Jika tahun buku adalah tahun kalender, maka dibuat jurnal penyesuaian pada akhir tahun 2007 untuk mengamortisasi diskonto dan mengakuinya sebagai biaya bunga selama 2 bulan (1 Nopember - 31 Desember) sebagai berikut.

Des. 31 Biaya Bunga (Rp 300.000 x 2/3) 200.000

Di neraca per 31 Desember 2007, utang wesel tanpa bunga eksplisit disajikan sebagai berikut.

Kewajiban Lancar :

Utang Wesel Rp 10.000.000

Ditambah: Diskonto Utang Wesel 100.000

Rp 9.900.000

Jurnal penyesuaian yang dibuat pada akhir tahun 2007 tidak dibalik pada awal tahun 2008. Kemudian, pada tanggal 1 Februari 2008 dilakukan penjurnalan untuk amortisasi diskonto selama 1 bulan dan penjurnalan untuk pelunasan utang wesel sebagai berikut.

Peb. 1 Biaya Bunga (Rp 300.000 x 1/3) 100.000 -

Diskonto Utang Wesel - 100.000

Utang Wesel 10.000.000 -

Kas - 10.000.000

Utang Dividen Tunai

Dividen tunai adalah laba perseroan terbatas yang dibagikan dalam bentuk kas kepada pemegang saham. Utang dividen tunai terjadi pada saat pengumuman pembagian dividen. Sebagai contoh, misalnya PT. SERUNAI MERDU pada 31 Desember 2007 mengumumkan pembagian dividen tunai sebesar Rp 100 untuk satu lembar saham yang akan dibayar tanggal 10 Januari 2008. Jika jumlah saham yang beredar adalah 1.000.000 lembar, maka jurnal untuk mencatat pengumuman dividen tunai dan pembayarannya adalah sebagai berikut.

Des. 31 Laba Ditahan 100.000.000

Utang Dividen - 100.000.000

Jan. 1 Utang Dividen 100.000.000

Utang PPh Karyawan

Subyek pajak penghasilan (PPh) karyawan adalah karyawan perusahaan. Artinya, karyawanlah yang menanggung PPh tersebut, meskipun perusahaan juga diperbolehkan untuk ikut menanggungnya. Perusahaan sebagai pembayar upah karyawan diwajibkan oleh pemerintah untuk menghitung, memungut, menyetor, dan melaporkan pajak atas gaji dan upah karyawan.

Jumlah penghasilan kena pajak (PKP) adalah penghasilan bruto minus pengurangan yang diperbolehkan oleh undang-undang. Jumlah pengurangan itu disebut penghasilan tidak kena pajak (PTKP). Sebagai contoh, misalnya pada 1 Juli 2007, Ibu Nimmie Fadhillah, seorang karyawan tetap, tidak kawin, dan tidak punya tanggungan, bekerja pada PT. OASE SEMBADA dengan penghasilan setiap bulan Rp2.800.000. Jika tarif pajaknya adalah 10% dan PTKP Rp2.400.000 per bulan, maka pajak yang harus dipotong dari gajinya adalah Rp40.000, yakni 10% x (Rp2.800.000 – Rp2.400.000). Anggaplah PPh harus disetor tiap tanggal 10. Jurnal untuk mencatat pemotongan gaji, pembayaran gaji, dan pembayaran PPh ke Kas Negara adalah sebagai berikut.

Jul. 1 Gaji dan Upah 2.800.000

Utang Gaji dan Upah - 2.760.000

Utang PPh Karyawan - 40.000

Utang Gaji dan Upah 2.760.000

Kas - 2.760.000

Jul. 10 Utang PPh Karyawan 40.000

Kas - 40.000

Pendapatan Belum Terhimpun

Pendapatan belum terhimpun (unearned revenue) adalah kenaikan aktiva yang dibarengi dengan kewajiban untuk menyerahkan barang atau jasa kepada pelanggan. Hal ini terjadi sebagai akibat dari penerimaan uang muka untuk penjualan barang/jasa perusahaan, pendapatan sewa, dan lain-lain. Pendapatan belum terhimpun (unearned revenues) sering disebut juga pendapatan diterima di muka,

uang muka, dan istilah lain yang menunjukkan adanya kewajiban untuk menyerahkan barang/jasa kepada pelanggan. Utang pendapatan ini menjadi lunas ketika perusahaan menyerahkan barang/jasa kepada pelanggan.

Pendapatan Jasa Diterima di Muka. Sebagai contoh, misalnya pada 1 Juli 2007

sebuah perusahaan penerbangan menjual tiket kepada 100 orang untuk penerbangan Jakarta-Jogja dengan menerima uang tunai Rp42.500.000. Semua penumpang telah menerima jasa penerbangan Jakarta-Jogja tersebut pada 7 Juli 2007. Jurnal-jurnal untuk mencatat penerimaan uang tunai dan pengakuan pendapatan adalah sebagai berikut.

Jul. 1 Kas 42.500.000

Pendapatan Jasa Diterima di Muka - 42.500.000

Jul. 7 Pendapatan Jasa Diterima di Muka 42.500.000

Pendapatan Jasa - 42.500.000

Pendapatan Sewa Diterima di Muka. Sebagai contoh, misalnya PT. NANARIA

pada 1 Oktober 2005 menerima uang tunai Rp15.000.000 dari Tuan Mulyanto sebagai uang sewa ruangan kantor selama 2 tahun atau Rp7.500.000 per tahun. Jurnal untuk mencatat penerimaan uang tunai dan pengakuan pendapatan belum terhimpun adalah sebagai berikut.

Okt. 1 Kas 15.000.000

Pendapatan Sewa Diterima di Muka - 15.000.000

Jika tahun buku adalah tahun kalender, maka dibuat jurnal penyesuaian pada akhir tahun 2005 untuk mengakui pendapatan selama 3 bulan (1 Oktober – 31 Desember 2005), pada akhir tahun 2006 untuk mengakui pendapatan selama 1 tahun (1 Januari – 31 Desember 2006), dan pada 1 Oktober 2007 untuk mengakui pendapatan selama 9 bulan (1 Januari – 1 Oktober 2007) sebagai berikut.

2005

Des. 31 Pendapatan Sewa Diterima di Muka 1.875.000 Pendapatan Sewa (3/12 x Rp 7,5 juta) - 1.875.000

2006

Des. 31 Pendapatan Sewa Diterima di Muka 7.500.000

Pendapatan Sewa - 7.500.000

2007

Okt. 1 Pendapatan Sewa Diterima di Muka 5.625.000 Pendapatan Sewa (9/12 x Rp 7,5 juta) - 5.625.000

Kewajiban Kontinjen

Sebagaimana telah dijelaskan di awal pokok bahasan ini, kewajiban ada yang bersifat kontinjen (contingent liabilities). Kewajiban kontinjen didefinisikan sebagai berikut (PSAK No. 57, par. 11):

1. kewajiban potensial yang timbul dari peristiwa masa lalu dan keberadaannya menjadi pasti dengan terjadi atau tidak terjadinya suatu peristiwa atau lebih pada masa datang yang tidak sepenuhnya berada dalam kendali perusahaan; atau 2. kewajiban kini yang timbul sebagai akibat peristiwa masa lalu, tetapi tidak diakui

karena:

a. tidak terdapat kemungkinan besar (not probable) perusahaan mengeluarkan sumber daya yang mengandung manfaat ekonomis untuk menyelesaikan kewajibannya; atau

b. jumlah kewajiban tersebut tidak dapat diukur secara andal.

Sebagai contoh, misalnya, pada saat ini PT. MULTI SPEKULASI digugat oleh perusahaan lain dengan jumlah gugatan ganti rugi Rp 100 juta atas pelanggaran hak cipta yang dituduhkannya. Menurut pengacara perusahaan, adalah besar kemungkinannya bahwa di masa mendatang keputusan pengadilan akan mengabulkan gugatan tersebut. Namun, jumlah gugatan yang dikabulkan belum dapat ditaksir secara layak. Nyatalah dari contoh ini, bahwa perusahaan memiliki kewajiban kontinjen karena timbulnya kewajiban untuk membayar ganti rugi masih bergantung pada keputusan pengadilan. IAI, dalam PASK No. 57 (par. 28), melarang perusahaan untuk mencatat dan melaporkan kewajiban kontinjen. Namun, kewajiban kontinjen harus diungkapkan, kecuali apabila probabilitas aliran keluar (kos atau aktiva lain) di masa depan adalah kecil.

B. Penyajian Di Neraca

Di neraca, kewajiban lancar disajikan lebih dahulu sebelum kewajiban jangka panjang. Urutan masing-masing jenis kewajiban lancar itu mengikuti urutan likuiditasnya. Pos yang lebih likuid (lancar) disajikan lebih dahulu. Logisnya mendahulukan kewajiban yang jatuh temponya relatif lebih pendek. Untuk kemudahan, kewajiban lancar diurutkan berdasarkan urutan jumlahnya. Namun, utang wesel umumnya dilaporkan paling atas tanpa mengindahkan jumlahnya, kemudian utang dagang dan utang-utang lainnya. Berikut adalah contohnya :

Kewajiban Lancar

Utang Wesel Rp13.000.000

Utang Dagang 42.000.000

Utang Gaji dan Upah 17.000.000

Utang PPh Karyawan 3.000.000

Utang Jangka Panjang jatuh tempo tahun ini 6.000.000 Rp81.000.000* *)Jumlah ini belum termasuk kewajiban kontinjen. Perusahaan pada saat ini sedang digugat untuk membayar ganti rugi Rp5.000 kepada PT KLM atas tuduhan pelanggaran hak cipta. Pengacara perusahaan memperkirakan probabilitasnya 51 persen bahwa perusahaan akan dinyatakan kalah oleh pengadilan.

C. Latihan Soal

Dalam dokumen BAB I PENGANTAR. A. Informası Akuntansı (Halaman 109-116)