AKTIVA TETAP : PEMANFAATAN
B. Metode Depresiasi
1. Metode Garis Lurus (Atas Dasar Waktu)
Metode Garis Lurus (Straight Line) menghitung biaya depresiasi untuk masing-masing periode dengan jumlah yang sama. Rumusnya adalah sebagai berikut :
Kos – Taksiran Nilai Residu Depresiasi per Tahun = ————————————
Taksiran Umur Ekonomis
Sebagai contoh, misalnya kendaraan dibeli pada 1 Januari 2007 dengan harga perolehan (acquisition cost) Rp 160.000.000, ditaksir mempunyai umur
ekonomis 5 tahun, dan nilai residu Rp 10.000.000. Maka depresiasi per tahun adalah :
Rp 160.000.000 – Rp 10.000.000
–––––––––––––––––––––––––––– = Rp 30.000.000 5
Tabel depresiasi kendaraan di atas dengan metode Garis Lurus adalah sebagai berikut.
Tabel Depresiasi Kendaraan Metode Garis Lurus Tahun Nilai Buku Awal
Tahun Biaya Depresiasi Tahun Akumulasi Depresiasi Sampai Dengan
Akhir Tahun Nilai Buku Akhir Tahun
(a) (b) (c)
= (c) + (b) (d) = (a) – (b) atau Kos – (c) 2007 Rp 160.000.000 Rp 30.000.000 Rp 30.000.000 Rp 130.000.000
2008 130.000.000 30.000.000 60.000.000 100.000.000
2009 100.000.000 30.000.000 90.000.000 70.000.000
2010 70.000.000 30.000.000 120.000.000 40.000.000
2011 40.000.000 30.000.000 150.000.000 10.000.000
Perhitungan yang mudah merupakan kebaikan metode Garis Lurus. Metode ini cocok untuk aktiva tetap seperti gedung kantor yang pola penggunaannya relatif sama dari tahun ke tahun.
2. Metode Jumlah Menurun
Dasar pemikiran metode ini adalah bahwa biaya yang berkaitan dengan penggunaan aktiva tetap sebagian besar disebabkan oleh biaya pemeliharaan dan depresiasi. Biaya pemeliharaan pada tahun-tahun pertama cenderung kecil dan pada tahun-tahun berikutnya cenderung besar. Metode ini merencanakan agar biaya periodik selama umur ekonomisnya dari tahun ke tahun selalu relatif sama besar. Untuk mengimbangi biaya pemeliharaan yang semakin lama semakin besar, maka biaya depresiasi pada tahun-tahun pertama dihitung lebih besar daripada tahun-tahun berikutnya. Yang termasuk metode jumlah menurun adalah metode Jumlah Angka Tahun dan metode Saldo Menurun. Berikut
penjelasannya.
a. Metode Jumlah Angka Tahun.
Metode Jumlah Angka Tahun (Sum-of-the-Years’-Digits) menghitunga biaya depresiasi dengan cara : (1) memberi bobot masing-masing tahun sebesar sisa umur aktiva pada tahun yang bersangkutan, (2) menjumlahkan angka-angka tahun pada umur ekonomis aktiva, misalnya yang umur ekonomis aktiva 3 tahun : 3 + 2 + 1 = 6, dan (3) mengalikan proporsi bobot tahun relatif terhadap jumlah angka tahun dengan kos yang didepresiasi (depreciable cost). Proporsi untuk tahun pertama dengan contoh di atas adalah 3/6, tahun ke-2 adalah 2/6, dan tahun ke-3 adalah 1/6. Depreciable cost adalah acquisition cost dikurangi taksiran nilai residu.
Sebagai contoh, misalnya kendaraan diperoleh pada 1 Januari 2007 dengan harga perolehan mula-mula Rp 160.000.000, ditaksir umur ekonomisnya 3 tahun, dan nilai residunya Rp 10.000.000. Jadi, depresiasi tahun pertama sampai tahun ke-3 adalah :
Tahun I : 3/6 x (Rp 160.000.000 – Rp 10.000.000) = Rp 75.000.000 Tahun II : 2/6 x (Rp 160.000.000 – Rp 10.000.000) = Rp 50.000.000 Tahun III : 1/6 x (Rp 160.000.000 – Rp 10.000.000) = Rp 25.000.000
Tabel depresiasi kendaraan di atas dengan metode Jumlah Angka Tahun adalah sebagai berikut :
Tabel Depresiasi Kendaraan Metode Jumlah Angka Tahun
Tahun Nilai Buku Awal Tahun Biaya Depresiasi Tahun Akumulasi Depresiasi Sampai Dengan Akhir Tahun
Nilai Buku Akhir Tahun
(a) (b) (c)
= (c) + (b) (d) = (a) – (b) atau Kos – (c) 2007 Rp 160.000.000 Rp 75.000.000 Rp 75.000.000 Rp 85.000.000
2008 85.000.000 50.000.000 125.000.000 35.000.000
b. Metode Saldo Menurun.
Metode Saldo Menurun (Declining Balance) menggunakan tarif dengan kelipatan tertentu dari metode garis lurus. Misalnya, kalau umur ekonomis aktiva tetap 5 tahun, maka tarif depresiasi untuk metode garis lurus adalah 1/5 atau 20%. Metode saldo menurun merupakan kelipatan tertentu dari 20%. Contoh metode yang menggunakan metode saldo menurun adalah metode Saldo Menurun Ganda (Double Declining Balance) yang kelipatannya adalah 2 kali tarif metode garis lurus = 2 x 20% = 40%. Untuk tahun pertama, tarif ini dikalikan dengan nilai buku awal tahun yang dari tahun ke tahun menurun nilai jumlahnya. Dalam menghitung jumlah yang akan didepresiasi, metode saldo menurun tidak memasukkan taksiran nilai residu.
Sebagai contoh, misalnya kendaraan dibeli pada 1 Januari 2007 dengan harga perolehan (acquisition cost) Rp 160.000.000, ditaksir umur ekonomisnya 3 tahun, dan nilai residunya Rp 10.000.000. Sebagaimana penjelasan sebelumnya, tarif depresiasi untuk aktiva dengan umur ekonomis 5 tahun adalah 20% jika metode garis lurus digunakan, sehingga tarifnya menjadi 40% dengan metode saldo menurun ganda. Maka tabel depresiasinya sebagai berikut :
Tabel Depresiasi Kendaraan Metode Saldo Menurun Ganda
Tahun Nilai Buku Awal Tahun Biaya Depresiasi Tahun Akumulasi Depresiasi Sampai Dengan Akhir Tahun Nilai Buku Akhir Tahun (a) (b) (c)
= (c) + (b) (d) = (a) – (b) atau Kos – (c) 2007 Rp160.000.000 Rp64.000.000 Rp64.000.000 Rp96.000.000
2008 96.000.000 38.400.000 102.400.000 57.600.000
2009 57.600.000 23.040.000 125.440.000 34.560.000
2010 34.560.000 13.824.000 139.264.000 20.736.000
3. Metode Atas Dasar Prestasi
Metode atas dasar prestasi mendasarkan depresiasi pada kinerja aktiva tetap. Salah satunya adalah metode Output Produktif (Production-Units). Metode ini menghitung depresiasi berdasarkan pada argumen bahwa aktiva tetap diperoleh untuk jasa yang disediakannya dalam bentuk hasil produksi. Menurut metode ini, perlu ditaksir lebih dahulu total satuan hasil produksi aktiva. Kemudian dihitung tarif depresiasi per satuan hasil produksi dengan cara membagi depreciable cost dengan taksiran total satuan hasil tersebut. Terakhir, dihitung depresiasi untuk masing-masing tahun dengan mengalikan tarif depresiasi per satuan hasil produksi dengan jumlah satuan output yang dihasilkan oleh masing-masing tahun tersebut.
Sebagai contoh, misalnya sebuah mesin dengan kos Rp21.000.000 ditaksir mampu memproduksi 100.000 unit produk selama kurun waktu 5 tahun. Taksiran nilai residu Rp1.000.000. Maka biaya depresiasi untuk setiap unit produk yang dihasilkan adalah:
Rp21.000.000 – Rp1.000.000
–––––––––––––––––––––––––––– = Rp200 100.000
Jika satuan hasil tahun pertama, misalnya, sebanyak 15.000 unit produk, maka biaya depresiasi untuk tahun pertama tersebut adalah sebesar Rp3.000.000(= 15.000 x Rp200). Jika satuan hasil tahun kedua sebanyak 20.000 unit produk, maka biaya depresiasi untuk tahun kedua adalah sebesar Rp4.000.000 (= 20.000 x Rp200). Begitu seterusnya, bergantung pada jumlah satuan hasil di tahun-tahun berikutnya.
Depresiasi Bagian dari Tahun
Bagian ini membahas depresiasi yang mendasarkan pada waktu (misalnya metode garis lurus) ketika aktiva tetap diperoleh dan mulai aktif dioperasikan tidak pada awal periode akuntansi, tetapi, misalnya, pada pertengahan tahun (1 Juli). Oleh karena depresiasi aktiva tetap dihitung setelah aktiva tetap aktif dioperasikan, maka depresiasi untuk tahun pertama adalah setengah tahun.
Andaikan sebuah aktiva tetap mulai digunakan 1 Juli 2006, kos perolehan Rp18.000.000, taksiran umur ekonomis 3 tahun, tanpa nilai residu, dan disusut dengan metode garis lurus. Maka depresiasi per tahun = (18.000.000 – Rp0)/3 = Rp6.000.000. Dengan demikian depresiasi tahun 2006 adalah sebesar Rp3.000.000 (= Rp6.000.000 x 6/12). Depresiasi tahun 2007 dan 2008 masing-masing adalah sebesar Rp6.000.000, sedangkan depresiasi tahun 2009 adalah Rp3.000.000 (= Rp6.000.000 x 6/12).
Bila aktiva tetap mulai digunakan pada selain pertengahan tahun, maka depresiasi dihitung dengan dasar kebijakan manajemen. Misalnya, kalau aktiva tetap mulai dipakai 1 Mei 2007, maka depresiasi untuk tahun 2007 terhitung mulai 1 Mei tersebut. Jadi, untuk tahun 2007 depresiasinya adalah untuk aktivitas 7 bulan. Kalau aktiva tetap mulai dipakai pada tanggal 10 Mei 2007, maka depresiasi untuk tahun 2007 dapat didasarkan pada waktu 6,5 bulan ataupun 7 bulan tergantung kebijakan manajemen.