MODAL SAHAM DAN LABA DITAHAN
A. Modal Saham Biasa Defisini Ekuitas
Ekuitas atau modal pemegang saham (pemilik) pada perseroan terbatas (PT) terdiri atas saham-saham. Terdapat dua jenis saham—saham biasa dan saham prioritas. Saham prioritas mempunyai keunggulan di atas saham biasa dalam hal memperoleh bagian laba lebih dahulu. Namun, tidak seperti saham biasa, saham prioritas tidak memiliki hak suara (voting interest) dalam rapat umum pemegang saham (RUPS). Modal saham merupakan modal yang disetor oleh para pemilik atau pemegang saham. Dalam perjalanan hidup perusahaan, perusahaan dapat memperoleh tambahan modal dari hasil usaha, yakni laba. Laba yang belum dibagikan kepada pemegang saham merupakan bagian dari modal (tetapi bukan yang disetor oleh pemegang saham) dan diberi nama laba ditahan. Penjelasan berikut membahas modal saham biasa dan laba ditahan sebagai dua pos penting dalam modal pemegang saham sebuah perseoran terbatas.
Mengeluarkan Saham Biasa
Aliran kas masuk ke perusahaan dari saham biasa hanya terjadi ketika perusahaan mengeluarkan saham baru di pasar perdana. Pasar perdana adalah pasar pertama kali perusahaan menjual sahamnya ke publik melalui pasar modal. Setelah saham berada di publik, terjadilah pertukaran saham antarinvestor di bursa efek. Pertukaran saham
di bursa efek—yang disebut pasar sekunder—tidak mengalirkan kas sama sekali ke perusahaan. Oleh karena itu, akuntansi hanya dilakukan ketika perusahaan melakukan initial public offerings (IPO) di pasar perdana.
Berbeda dari obligasi, saham biasa tidak memiliki tanggal jatuh tempo. Artinya, saham biasa tidak dilunasi pada tanggal tertentu. Sebagaimana obligasi, saham biasa juga dapat laku di pasar perdana dengan harga sebesar nilai nominal, lebih besar daripada nilai nominal, atau lebih kecil daripada nilai nominal. Prosedur akuntansi dijelaskan berikut ini.
Harga Sama dengan Nilai Nominal. Penjualan saham biasa dengan harga sebesar nilai nominalnya dicatat dalam buku jurnal dengan mengkredit akun "Modal Saham Biasa" sebesar nilai nominalnya. Sebagai contoh, misalnya PT. PASAR KEMBANG pada 1 Januari 2007 mengeluarkan 1.000.000 lembar saham biasa dengan nilai nominal per lembar Rp500. Seluruh saham laku terjual tunai pada tanggal tersebut dengan harga sama sebesar nilai nominalnya. Transaksi ini dicatat sebagai berikut.
Jan. 1 Kas 500.000.000
Modal Saham Biasa - 500.000.000
Harga di Atas Nilai Nominal. Saham yang laku dijual di atas nilai nominalnya, pencatatannya diletakkan pada dua pos : Modal Saham Biasa dan Agio Modal Saham Biasa. Andaikan contoh sebelumnya menunjukkan bahwa saham terjual dengan harga Rp750 per lembar, maka jurnal untuk mencatatnya adalah sebagai berikut.
Jan. 1 Kas 750.000.000
Modal Saham Biasa - 500.000.000
Agio Modal Saham Biasa - 250.000.000
Akun Agio Modal Saham Biasa merupakan adjunct account yang dilaporkan di neraca sebagai penambah akun Modal Saham Biasa. Berbeda dari agio utang obligasi, agio modal saham biasa tidak diamortisasi sebab modal saham biasa tidak memiliki tanggal jatuh tempo.
Harga di Bawah Nilai Nominal. Jika saham dijual dengan harga di bawah nilai nominalnya, maka selisih antara nilai nominal dan harga jual dicatat dalam akun Disagio Modal Saham Biasa. Andaikan contoh di atas menunjukkan bahwa saham biasa laku terjual tunai dengan harga per lembar Rp400, maka jurnal yang dibuat adalah sebagai berikut :
Jan. 1 Kas 400.000.000
Disagio Modal Saham Biasa 100.000.000
Modal Saham Biasa - 500.000.000
Akun Disagio Modal Saham Biasa adalah contra account bagi akun Modal Saham Biasa. Berbeda dari disagio utang obligasi, disagio modal saham biasa tidak diamortisasi sebab modal saham biasa tidak memiliki tanggal jatuh tempo.
Menjual Saham Biasa Berdasarkan Pesanan
Saham biasa boleh jadi dipesan oleh calon pemegang saham dengan uang muka dan angsuran jangka pendek. Jika saham biasa dijual dengan cara ini, maka dibentuk akun Piutang kepada Pemesan Saham Biasa dan Modal Saham Biasa Dipesan. Agio ataupun disagio yang timbul segera diakui pada saat menerima pesanan. Sebagai contoh, misalnya PT. BAKTI PERSADA pada 1 Januari 2007 menerima pesanan 100.000 lembar saham biasa, nominal per lembar Rp1.000, harga jual per lembar Rp1.400. Uang muka diterima 20% dan sisanya dibayar pada saat saham diserahkan, yaitu pada 31 Januari 2007. Transaksi ini dicatat sebagai berikut.
Jan. 1 Piutang kepada Pemesan Saham Biasa 140.000.000 Modal Saham Biasa Dipesan - 100.000.000
Agio Modal Saham Biasa - 40.000.000
(mencatat penerimaan pesanan saham)
Kas (20% x Rp 140.000.000) 28.000.000
Piutang kepada Pemesan Saham Biasa - 28.000.000 (mencatat penerimaan uang muka pesanan
saham)
Jan. 31 Kas (80% x Rp 140.000.000) 112.000.000 Piutang kepada Pemesan Saham Biasa - 112.000.000 (mencatat penerimaan pelunasan pesanan
Modal Saham Biasa Dipesan 100.000.000
Modal Saham Biasa - 100.000.000
(mencatat penyerahan saham)
Pemesan Membatalkan Pesanannya (Gagal Melunasi)
Adalah mungkin pemesan saham pada akhirnya tidak atau gagal membayar jumlah yang tersisa dan kemudian membatalkan pesanannya. Apabila hal ini terjadi, maka terdapat 4 (empat) alternatif tindakan yang mungkin dilakukan perusahaan penerbit saham (issuing company):
1. Perusahaan mengembalikan seluruh kas yang telah diterimanya kepada pemesan. 2. Perusahaan mengembalikan kas yang telah diterimanya setelah memotongnya
sebagai ganti kerugian ataupun biaya penjualan kembali saham yang gagal dipesan.
3. Perusahaan tidak mengembalikan seluruh kas yang telah diterimanya.
4. Perusahaan mengeluarkan saham kepada pemesan setara dengan jumlah kas yang telah diterimanya.
Sebagai contoh, misalnya pemesan saham —pada contoh sebelumnya— yang memesan 10.000 lembar saham dan telah membayar uang muka (20%) Rp2.800.000 ternyata gagal membayar sisanya pada 31 Januari 2007. Jadi, pesanan saham yang dibatalkan adalah 10% (= 10.000 lembar/100.000 lembar). Oleh karena itu Modal Saham Biasa Dipesan sebesar nilai nominal Rp 10.000.000 (= 10% x Rp100.000.000) dan Agio Modal Saham Biasa sebesar Rp 4.000.000 (= 10% x Rp40.000.000) harus dibatalkan. Demikian pula Piutang kepada Pemesan Saham Biasa yang gagal dibayar sebesar Rp11.200.000 (= 80% x 10.000 x Rp1.400) juga dibatalkan. Sedangkan uang muka yang telah diterima Rp2.800.000 diperlakukan sesuai dengan alternatif yang dipilih oleh perusahaan, yang akan dijelaskan sebagai berikut.
Alternatif pertama, perusahaan mengembalikan seluruh kas yang telah diterimanya yakni uang muka Rp2.800.000 kepada pemesan dan jurnal pencatatannya adalah :
Jan. 31 Modal Saham Biasa Dipesan 10.000.000
Agio Modal Saham Biasa 4.000.000
Piutang kepada Pemesan Saham Biasa - 11.200.000
Kas - 2.800.000
Alternatif kedua, perusahaan mengembalikan kas yang telah diterimanya setelah memotongnya sebagai ganti kerugian ataupun biaya penjualan kembali saham yang gagal dipesan. Misalnya dalam contoh ini, perusahaan pada 5 Pebruari 2008 menerbitkan 10.000 lembar saham yang dibatalkan dengan harga Rp1.350 per lembar (turun Rp50 per lembar) atau total Rp13.500.000. Namun, pada saat menerbitkan 10.000 lembar saham yang dibatalkan, agio modal saham akan tetap diakui sebesar Rp4.000.000. Oleh karena itu kas yang dikembalikan kepada pemesan hanya sebesar Rp2.300.000 (= Rp2.800.000 – Rp500.000) dan jurnalnya :
Jan. 31 Modal Saham Biasa Dipesan 10.000.000
Agio Modal Saham Biasa 4.000.000
Piutang kepada Pemesan Saham Biasa - 11.200.000 Hutang dari Pemesan Saham - 2.800.000 (mencatat pembatalan pesanan saham)
Peb. 5 Kas (10.000 x Rp 1.350) 13.500.000
Hutang dari Pemesan Saham (10.000 x Rp 50) 500.000
Modal Saham Biasa - 10.000.000
Agio Modal Saham Biasa - 4.000.000
(mencatat penerbitan kembali saham yang telah dibatalkan)
Hutang dari Pemesan Saham 2.300.000
Kas (Rp 2.800.000 – Rp 500.000) - 2.300.000
(mencatat pengembalian kas kepada pemesan yang batal)
Alternatif ketiga, perusahaan tidak mengembalikan seluruh kas yang telah diterimanya. Dalam hal ini uang muka Rp2.800.000 yang tidak dikembalikan dicatat dalam akun “Tambahan Modal Disetor dari Denda Pembatalan Pesanan Saham” dan jurnal pencatatannya:
Jan. 31 Modal Saham Biasa Dipesan 10.000.000
Agio Modal Saham Biasa 4.000.000
Piutang kepada Pemesan Saham Biasa - 11.200.000 Tambahan Modal Disetor dari Denda
Pembatalan Pesanan Saham - 2.800.000
Alternatif keempat, perusahaan mengeluarkan saham kepada pemesan setara dengan jumlah kas yang telah diterimanya, yakni uang muka Rp2.800.000 (20%). Jadi, perusahaan mengeluarkan saham kepada pemesan sebanyak 2.000 lembar (= 20% x 10.000 lembar). Oleh karena itu Agio Modal Saham Biasa yang dibatalkan hanya 80%, yaitu Rp3.200.000 (= 80% x Rp4.000.000) dan jurnal pencatatannya adalah :
Jan. 31 Modal Saham Biasa Dipesan 10.000.000 -
Agio Modal Saham Biasa 3.200.000 -
Piutang kepada Pemesan Saham Biasa - 11.200.000
Modal Saham Biasa (2.000 x Rp 1.000) - 2.000.000
Jumlah saham biasa sebanyak 8.000 lembar sisanya tentu saja akan perusahaan terbitkan dan dicatat seperti telah dijelaskan di atas.
Menjual Saham Biasa Secara Borongan (Lump-Sum)
Menjual saham secara borongan adalah menjual saham biasa dan saham prioritas dengan total harga borongan. Sebagai contoh, misalnya PT. RIZKILLAH pada 1 Januari 2007 menerbitkan 100.000 lembar saham biasa bernominal Rp500 per lembar dan 50.000 lembar saham prioritas bernominal Rp1.300 per lembar dengan harga total Rp128.000.000. Oleh karena akuntansi menghendaki catatan terpisah antara saham biasa dan saham prioritas, maka harga jual borongan harus dialokasikan ke saham biasa dan saham prioritas, dimana dapat digunakan metode Harga Pasar Relatif. Misalnya diketahui pada saat ini harga pasar saham biasa Rp700/lembar atau total Rp70.000.000 dan saham prioritas Rp1.800/lembar atau total Rp90.000.000, maka harga jual borongan dapat dialokasikan dengan cara sebagai berikut:
Jenis Saham Harga Pasar % Perhitungan Alokasi Harga
Biasa Rp70.000.000 43,75% 43,75% x Rp 128 juta Rp56.000.000
Prioritas 90.000.000 56,25% 56,25% x Rp 128 juta 72.000.000
Rp160.000.000 100% Rp128.000.000
Jurnal pencatatannya adalah sebagai berikut :
Jan. 1 Kas 10.000.000
Modal Saham Biasa (100.000xRp 500) - 50.000.000
Agio Modal Saham Biasa - 6.000.000
Modal Saham Prioritas (50.000xRp 1.300) - 65.000.000 Agio Modal Saham Prioritas - 7.000.000
Saham Tresuri
Meskipun tidak memiliki tanggal jatuh tempo, saham biasa yang sudah beredar dapat ditarik kembali oleh perusahaan penerbit (issuing company). Saham yang ditarik kembali mungkin tidak akan dijual kembali dan mungkin pula akan dijual kembali ke publik. Saham yang dijelaskan terakhir ini disebut saham tresuri (treasury stock). Saham treasuri ketika ditarik kembali dapat didebit (1) sebesar harga penarikan kembali (reacquisition cost) dan diperlakukan sebagai pengurang modal disetor dan laba ditahan di neraca — disebut cost method (metode harga perolehan), atau (2) sebesar nilai nominal dan diperlakukan hanya sebagai pengurang modal saham — disebut par method (metode nilai nominal). Metode kos banyak digunakan dan, oleh karena itu, metode inilah yang akan dijelaskan berikut ini.
Sebagai contoh, misalnya PT. MAJU TERUS pada 30 November 2007 menarik kembali 100.000 lembar saham, nominal Rp500 per lembar, dengan kurs 130. Jadi,
reacquisiton cost adalah 100.000 x Rp500 x 130% = Rp65.000.000 atau per lembarnya Rp650. Transaksi ini dijurnal sebagai berikut :
Nov. 30 Saham Tresuri 65.000.000 -
Kas - 65.000.000
Selisih lebih antara harga jual kembali dan reacquisition cost dicatat dalam akun Agio dari Saham Tresuri sebelah kredit. Jika sebaliknya, maka akun tersebut didebit. Sebagai contoh, misalnya pada 15 Desember 2007 perusahaan menjual kembali 60.000 lembar saham tresuri di atas dengan kurs 140. Penjualan kembali saham tresuri ini dijurnal sebagai berikut.
Des. 15 Kas (60.000 x Rp500 x 140%) 42.000.000 -
Saham Tresuri (60.000 x Rp500 x 130% - 39.000.000
Agio dari Saham Tresuri - 3.000.000
Stock Splits-up
Sebagaimana telah dijelaskan di pokok bahasan investasi, stock splits-up adalah pemecahan nilai nominal tiap lembar saham, tanpa mengubah nilai nominal saham secara keseluruhan. Saham dengan nilai nominal sebelumnya yang sudah beredar segera ditarik dan diganti dengan saham yang baru. Dengan demikian, maka yang bertambah adalah jumlah lembar sahamnya saja. Perubahan nilai nominal per lembar akibat stock splits–up tidak perlu dicatat dalam buku jurnal.