• Tidak ada hasil yang ditemukan

Karakteristik Masyarakat Miskin menurut Asal Daerah

Dalam dokumen POLA KOMUNIKASI MASYARAKAT MISKIN (Halaman 124-129)

PENYAJIAN DAN ANALYSIS DATA

3.2 Karakteristik Masyarakat Miskin Kelurahan Kalianyar

3.2.3 Karakteristik Masyarakat Miskin menurut Asal Daerah

Keberagaman budaya biasanya dapat kita jumpai di daerah-daerah

tertentunya saja. Tetapi sekarang, keragaman budaya pun dapat kita

temukan pada daerah padat penduduk di kota besar. Seperti pada

penelitian ini, peneliti menemukan banyak sekali warga masyarakat yang

bukan asli dari daerah itu sendiri. Dari data wawancara yang telah

dilakukan, hampir dari 60% responden yang dihadirkan adalah bukan

commit to user

104

Tabel 3.4

Asal Daerah Responden

Sumber : Data hasil Wawancara dan Observasi paneliti Maret 2011

Berdasarkan data diatas, masyarakat miskin yang tinggal dipinggir

rel kereta api dan yang tinggal disekitar TPS jika digabungkan, bisa dilihat

bahwa masyarakat dari luar jakarta sangat mendominasi jumlahnya.

Hal ini menjadi menarik karena para pendatangpun tak kalah banyak

jumlahnya dengan warga asli. Para pendatang sebagian besar berasal dari

daerah Jawa Tengah dan Jawa Barat. Tetapi ada pula perantau jauh dari

pulau sebarang. Keaneka ragaman masyarakat menjadi satu dalam suatu

kerukunan antar tetangga dan kerukunan antar warga.

Salah satu responden yang berasal dari luar Jakarta (pendatang)

adalah Ibu Suminen. Ibu Suminem berasal dari Wonogiri, Jawa Tengah.Ia

disana hidup menjanda dengan kedua anaknya. Untuk mempertahankan

hidup, ia bekerja dengan membuka warung (warteg) dan menjual

No. Nama Responden Asal Daerah Tempat tinggal

1. Pak Tugiono Pemalang Dipinggir Rel kereta

2. Mas Selamet Pemalang Dipinggir Rel kereta

3. Ibu Romdayanih Pandeglang – Banten Dipinggir Rel kereta

4. Siti Jakarta Dipinggir Rel kereta

5. Ibu Ruminingsih Jakarta Dipinggir Rel kereta

6. Ibu Eci Rangkas – Banten Dipinggir Rel kereta

7. Ibu Suminem Wonogiri Dipinggir Rel kereta

8. Ibu Saoni Garut Dipinggir Rel kereta

9. Pak Udin Banten Disekitar TPS

10. Pak Otang Tasikmalaya Disekitar TPS

11. Pak Asep Garut Disekitar TPS

12. Pak Dul Effendi Jakarta Disekitar TPS

13. Pak Sutarjo Tegal Disekitar TPS

14. Ibu Supriyati Kebumen Disekitar TPS

commit to user

105

makanan. Tidaklah mudah bagi para pendatang untuk bisa bertahan di

tengan kota Jakarta tanpa menghasilkan sesuatu. Oleh karena itu Ibu

Suminen membuka usaha warung makan sederhana. Kebutuhan hidup

semakin bertambah dan ia harus menafkahi kedua anaknya. Dengan cara

berdagang dan berjualan, ia pun mendapat keuntungan. Begitu pula Ibu

Suminem lain lagi dengan mas Slamet. Ia berasal dari Pemalang, Jawa

Tengah. Ia bekerja sebagai pedagang nasi goreng keliling. Ia menjajakan

dagangannya biasanya malam hari ke sekitar wilayah tempat tinggal.

Biasanya perbedaan tradisi dan kebiasaan terkadang menjadi satu

halangan, namun dengan berbaur dan mengerti antara satu dengan yang

lain, mereka pun dapat hidup berdampingan dengan baik.

Beberapa contoh cerita diatas adalah salah satu penemuan dari

penelitian yang telah dilakukan.Bahwa, para pendatang yang tinggal di

Jakarta jumlahnya pun tak kalah banyak dengan warga asli. Biasanya

alasan utama pendatang untuk melakukan hijrah ke Jakarta adalah untuk

mencari kerja, merubah nasib, dan mendapatkan hidup yang layak. Namun

tidak disadari bahwa, tidak mudah untuk bertahan hidup di kota besar

seperti Jakarta. Mereka bahkan sebagai pendatang, kerap menimbulkan

masalah baru, yaitu pertambahan penduduk.

Dampak negatif dari adanya para pendatang adalah masalah

kepadatan penduduk. Gambaran umum, berdasarkan sensus

penduduktahun 2010, jumlah penduduk Jakarta mencapai anagka

commit to user

106

mendiami Jakarta. Suku Jawa merupakan etnis terbesar dengan populasi

35,16% penduduk kota. Populasi orang Jawa melebihi suku Betawi yang

terhitung sebagai penduduk asli Jakarta. Orang Jawa banyak yang

berprofesi sebagai pegawai negeri, buruh pabrik, atau pembantu rumah

tangga. Etnis Betawi berjumlah 27,65% dari penduduk kota35. Mereka

pada umumnya berprofesi di sektor informal, seperti pengendara ojek, calo

tanah, atau pedagang asongan. Pembangunan Jakarta yang cukup pesat

sejak awal tahun 1970-an, telah banyak menggusur etnis Betawi ke

pinggiran kota. Tanah-tanah milik orang Betawi di daerah Kemayoran,

Senayan, Kuningan, dan Tanah Abang, kini telah terjual untuk

pembangunan sentral-sentral bisnis.

Disamping orang Jawa dan Betawi, orang Tionghoa yang telah hadir

sejak abad ke-17, juga menjadi salah satu etnis besar di Jakarta. Mereka

biasa tinggal mengelompok di daerah-daerah pemukiman mereka sendiri,

yang biasa dikenal dengan istilah Pecinan. Pecinan atau kampung Cina

dapat dijumpai di Glodok, Pinangsia, dan Jatinegara. Namun kini banyak

perumahan-perumahan baru yang mayoritas dihuni oleh orang Tionghoa,

seperti perumahan di wilayah Kelapa Gading, Pluit, dan Sunter. Orang

Tionghoa umumnya berprofesi sebagai pengusaha. Banyak di antara

mereka yang menjadi pengusaha terkemuka, menjadi pemilik perusahaan

manufaktur, perbankan, dan perdagangan ekspor-impor.

35

commit to user

107

Dari data yang diperoleh diatas, peneliti juga menjumpai etnsi

Thiong Hoa yang berdiam dan bermukim di Kelurahan Kalianyar.

Memang sudah tak mengherankan lagi, warga masyarakat disana pun juga

banyak yang berasal dari keturunan etnsi cina. Mereka merupakan

kelompok minoritas namun tetap berbaur seprti biasa dengan masyarakat

sekitar. Daerah Jakarta Barat memang merupakan salah satu tempat

bermukimnya warga keturunan Cina.

Diketahui bahwa pendatang di kota Jakarta pada tahun 2009

jumlahnya menurun dibandingkan tahun sebelumnya, yaitu dari 88.473

orang menjadi 69.000 orang. Data tersebut diperolah dari pencatatan di 29

titik seperti terminal, stasiun, bandara, hal tersebut diungkap oleh Kepala

Bidanag Penertiban dan Kerjasama Dinas Dukcapil DKI Jakarta Edison

sianturi (5/10).36

Dampak dari urbanisasi yang terlihat jelas pada daerah ini adalah

kepadatan jumlah penduduk, pemukiman padat, dan pengangguran. Dapat

dilihat dari jumlah angka pendatang pada masyarakat Kelurahan

Kalianyar, baik yang tinggal di pinggir rel maupun disekitar TPS

jumlahnya tidak sedikit, dibandingkan warga keturunan ataupun warga asli

Jakarta. Daerah ini menjadi padat penduduk akibat dari banyaknya urban

yang datang, begitu juga dengan warga asli. Mereka para urban, memiliki

keterampilan seadanya.

36

commit to user

108

Meskipun begitu, para urban atau pendatang tetap memanfaatkan

tenaga dan keterampilan mereka bersaing untuk betahan hidup di Ibu Kota.

Pekerjaan yang mereka lakukan biasanya seputar berdagang, menjadi

buruh pabrik ataupun usaha angkutan umum. Meskipun berbeda

kebudayaan, asal daerah dan kebiasaan, mereka tetap hidup berdampingan

dengan damai sebagai mana mestinya.

Dalam dokumen POLA KOMUNIKASI MASYARAKAT MISKIN (Halaman 124-129)