• Tidak ada hasil yang ditemukan

Karakteristik Masyarakat Miskin menurut Pekerjaan

Dalam dokumen POLA KOMUNIKASI MASYARAKAT MISKIN (Halaman 120-124)

PENYAJIAN DAN ANALYSIS DATA

3.2 Karakteristik Masyarakat Miskin Kelurahan Kalianyar

3.2.2 Karakteristik Masyarakat Miskin menurut Pekerjaan

Masyarakat miskin yang tinggal dipinggir rel kereta dan sekitar TPS

dilihat dari pekerjaan tergolong masyarakat yang ulet bekerja. Karena

mereka harus bertahan untuk memenuhi kebutuhan hidup, sehingga

dituntut untuk memiliki pekerjaan. Karena jika tidak, mereka tidak akan

bisa memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Mata pencaharian sangat

penting untukkarena berkaitan dengan kelangsungan hidup mereka. Untuk

membayar kontrakan rumah saja, seorang supir bajai harus menyisihkan

sebagian penghasilannya perhari untuk kemudian ditabung dan dijumlah

ketika akhir bulan. Tujuannya untuk membayar sewa kontrakan yang

harganya terbilang sedikit besar untuk mereka.

Tabel 3.3

Jenis Pekerjaan Responden

Sumber : Data hasil wawancara dan observasi peneliti Maret 2011

No. Nama Responden Jenis Pekerjaan Tempat tinggal

1. Pak Tugiono Pedagang Dipinggir Rel kereta

2. Mas Selamet Penjual Nasi Goreng Dipinggir Rel kereta 3. Ibu Romdayanih Ibu Rumah Tangga Dipinggir Rel kereta

4. Siti Ibu Rumah Tangga Dipinggir Rel kereta

5. Ibu Ruminingsih Ibu Rumah Tangga Dipinggir Rel kereta

6. Ibu Eci Ibu Rumah Tangga Dipinggir Rel kereta

7. Ibu Suminem Ibu Rumah Tangga Dipinggir Rel kereta

8. Ibu Saoni Ibu Rumah Tangga Dipinggir Rel kereta

9. Pak Udin Petugas Kebersihan Disekitar TPS

10. Pak Otang Petugas Kebersihan Disekitar TPS

11. Pak Asep Petugas Kebersihan Disekitar TPS

12. Pak Dul Effendi Buruh Konveksi Disekitar TPS

13. Pak Sutarjo Supir Bajaj Disekitar TPS

14. Ibu Supriyati Pedagang kue keliling Disekitar TPS

commit to user

100

Keterangan :

Pedagang : 3 orang

Ibu Rumah Tangga : 7 orang Petugas Kebersihan : 3 orang

Buruh : 1 orang

Supir : 1 orang

Dari data diatas dapat kita lihat bahwa, pada masyarakat yang tinggal

dipinggir rel kereta api, sebagaian besar adalah terdiri dari ibu rumah

tangga, kemudian profesi lain adalah pedagang. Dan pada masyarakat

yang tinggal disekitar TPS, sebagian besar bekerja sebagai petugas

kebersihan, kemudian ada pula yang berprofesi sebagai buruh konveksi,

supir bajaj, dan pedagang. Kebutuhan hidup mereka harus tercukupi

dengan penghasilan mereka selama bekerja dalam sehari. Misalnya saja

penghasilan Mas Selamet (penjual nasi goreng keliling) dihitung perbulan

yaitu Rp. 950.000. Hasil tersebut diputar untuk kebutuhan pokok

sehari-hari, uang belanja, sewa kontrakan, kebutuhan sekolah anak, dan lain-lain.

Penghasilan mereka rata-rata Rp. 900.000 – Rp. 1.200.000, dibawah

UMR (Upah Minimum Regional) yaitu Rp.1.200.000. Ironis memang

berada ditengah kota besar dengan pekerjaan seadanya masyarakat miskin

yang tinggal di pinggir rel dan di sekitar TPS harus tetap betahan hidup

dengan penghasilan pas-pasan. Penghasilan itu pun tak cukup sebenarnya

untuk menutupi kekurangan dari kebutuhan lain. Seorang warga yang

memiliki anak misalnya, harus menyisihkan penghasilannya juga untuk

kebutuhan sekolah anak. Mulai dari seragam sekolah, buku pelajaran, buku

commit to user

101

kecil seperti alat tulis sekolah anak, jika tidak memiliki pun akan menjadi

kendala dalam kehidupan sekolah anak.

Kemudian ada pula yang sudah lama sekali berprofesi menjadi

petugas kebersihan setempat, menjadi warga yang tinggal disekitar TPS

dan juga sebagai petugas kebersihan setempat. Rata-rata warga masyarakat

berprofesi sebagai petugas kebersihan,mereka mengaku bekerja hingga 24

jam mengurusi sampah.Bagaimana penanggulanagnnya dan merapihkan

tempat akhir pembuangan sampah tersebut hingga sedemikian rupa.

Terlihat mudah memang, namun tidak seperti itu karena yang mereka

lakukan pun semata-mata untuk kebersihan warga setempat dan tentunya

untuk mencari nafkah keluarga.

Selain itu pekerjaan yang dilakukan warga masyarakat yang tinggal

dipinggir rel kereta api dan di sekitar TPS tak hanya pekerjaan laki-laki

saja. Namun ada pula perempuan terutama ibu-ibu rumah tangga yang

profesinya beragam. Mulai dari penjual kue keliling, sebagai pedagang

warung makan, hingga yang hanya menjadi ibu rumah tangga saja. Kaum

perempuan pun tak kalah ulet dan gigih dalam menjalankan pekerjannya.

Misalnya saja sebagai Ibu Supriyati (45), yang berprofesi sebagai penjual

kue. Ia menjajakan dagangannya berkeliling sekitar gang-gang tak jauh

dari rumahnya. Selain itu juga ia menerima pesanan untuk acara-acara

tertentu. Itu dilakukan semata-mata untuk menambah penghasilan

commit to user

102

Tak mau kalah dengan ibu-ibu yang berprofesi sebagai pedagang,

ibu-ibu rumah tangga pun tetap menjalankan pekerjaannya sebagaimana

mestinya. Ibu rumah tangga biasanya bertugas mengurus anak, menjaga

rumah, membersihkan rumah, memasak, dan mengurusi suami mereka

masing-masing,pekerjaan tersebut terlihat sepele, namun sebenarnya harus

dilakukan dengan penuh cekatan.

Ada pula potret kehidupan sisi lain dari masyarakat yang tinggal

dipinggir rel kereta api dan di sekitar TPS. Kehidupan masyarakat miskin

yang tinggal dipinggir rel kereta api dan di sekitar TPS tak jauh berbeda.

Yang terlihat berbeda hanya dari segi lokasinya saja, namun sepintas tak

terlihat berbeda. Namun mata pencaharian mereka bisa dibilang tak jauh

berbeda.Mereka sehari menghabiskan waktu untuk bekerja dari pagi

hingga sore hari. Mata pencahariannya beragam dari mulai yang

menjajakan kue dagangan, petugas kebersihan sampah, buruh konveksi,

dan sebagainya. Penghasilan mereka rata-rata di bawah UMR (Upah

Minimum Regional) Jakarta. Salah satunya adalah Pak Otang yang bekerja

commit to user

103

Gambar 3.2

Kegiatan membersihkan sampah

Kehidupan mereka harus tercukupi sehari-harinya, ada yang bekerja

hingga tak kenal waktu hampir 24 jam harus selalu berada dilapangan dan

hanya dengan bekerja maka mereka bisa mendapatkan penghsilan rata-rata

Rp. 1.000.000 per bulannya. Namun itupun termasuk dalam kategori

pas-pasan dan sebenarnya kurang, untuk mencukupi kebutuhan hidup

sehari-hari yang semakin bertambah.

Dalam dokumen POLA KOMUNIKASI MASYARAKAT MISKIN (Halaman 120-124)