• Tidak ada hasil yang ditemukan

1.4 Manfaat Penelitian

2.1.7 Karakteristik siswa SD

Setiap individu berkembang menuju kedewasaaan dan mengalami adaptasi dengan lingkungannya. Perkembangan yang terjadi pada masing-masing individu berlangsung terus-menerus dengan diimbangi perubahan daya pikir dan kekuatan mental, individu yang berbeda usia akan berbeda pula cara pikir dan juga kekuatan mentalnya. Begitu pula hubungannya dengan motivasi dan aktivitas belajarnya. Tentunya setiap siswa juga memiliki motivasi dan aktivitas belajar yang berbeda. Karena masing-masing siswa memiliki ciri khas, yang menunjukan keunikan-kenunikan dari masing-masing individu.

Siswa merupakan subjek yang menjadi fokus utama dalam penyelenggaraan pendidikan dan pembelajaran. Sinolungan dalam Kurnia et al. (2007: 1.4) menyatakan bahwa peserta didik dalam arti luas adalah setiap orang yang terkait dengan proses pendidikan sepanjang hayat, sedangkan dalam arti sempit adalah setiap siswa yang belajar di sekolah. Dalam arti pendidikan sepenjang hayat, semua manusia atau individu yang mengalami proses belajar dikatakan sebagai peserta didik. Sedangkan Depdiknas menegaskan bahwa

peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan dirinya melalui jalur, jenjang, dan jenis pendidikan. Peserta didik usia sekolah dasar adalah semua anak yang berada pada rentang usia 6 - 12/13 tahun yang sedang berada dalam jenjang pendidikan sekolah dasar (Kurnia et al. 2007: 1.4).

Peserta didik merupakan bagian dari masyarakat, yang merupakan sebuah totalitas. Dikatakan sebagai totalitas karena peserta didik bukanlah boneka atau alat, namun merupakan sebuah individu yang utuh. Menurut Semiawan dalam Kurnia et al. (2007: 1.4), konsep peserta didik sebagai suatu totalitas sekurangnya mengandung tiga pengertian. Ketiga pengertian itu mencakup: (1) peserta didik adalah mahluk hidup (organisme) yang merupakan suatu kesatuan dari keseluruhan aspek yang terdapat dalam dirinya. Aspek fisik dan psikis tersebut terdapat dalam diri peserta didik sebagai individu yang berarti tidak dapat dipisahkan antara suatu bagian dengan bagian lainnya; (2) keseluruhan aspek fisik dan psikis tersebut memiliki hubungan yang saling terjalin satu sama lain. Jika salah satu aspek mengalami gangguan, maka emosinya juga terganggu; (3) peserta didik usia sekolah dasar berbeda dari orang dewasa bukan sekedar secara fisik, tetapi juga secara keseluruhan. Anak bukanlah miniatur orang dewasa, tetapi anak adalah anak yang dalam keseluruhan aspek dirinya berbeda dengan orang dewasa

Peserta didik dalam melakukan kegiatan belajar tergantung pada tahap perkembangannya. Peserta didik yang berbeda usia akan berbeda pula cara pikir dan juga kekuatan mentalnya. Piaget dalam Isjoni (2010: 36) membagi perkembangan kognitif manusia menjadi empat tahap yaitu: (1) Tahap sensorimotor (umur 0-2 tahun); (2) Tahap pra-operasional (umur 2-7 tahun); (3)

Tahap operasional konkret (umur 7-12 tahun); (4) Tahap operasional formal (umur 12-18 tahun).

Dilihat dari tahap perkembangan kognitif yang diutarakan Piaget, siswa sekolah dasar termasuk dalam tahap operasional konkret. Dalam tahap operasional konkret anak-anak mampu berpikir operasional. Mereka dapat mempergunakan berbagai simbol, melakukan berbagai bentuk operasional, yaitu kemampuan aktivitas mental sebagai kebalikan dari aktivitas jasmani yang merupakan dasar untuk mulai berpikir dalam aktivitasnya.

Rifa’i dan Anni (2009: 68) menyebutkan ciri-ciri usia sekolah dasar yaitu, orang tua menyebut masa ini sebagai usia yang menyulitkan karena anak pada masa ini anak lebih banyak dipengaruhi oleh teman-teman sebaya daripada oleh orang tuanya sehingga sulit bahkan tidak mau lagi menuruti perintah orang tuanya. Kebanyakan anak pada masa ini juga kurang memperhatikan terhadap pakaian dan benda-benda miliknya, sehingga orang tua menyebutnya usia tidak rapi. Anak tidak terlalu memperdulikan penampilannya. Mereka cenderung ceroboh, semaunya, dan tidak rapi dalam memelihara kamar dan barang-barangnya. Pada masa ini, anak juga sering kelihatan saling mengejek dan bertengkar dengan saudara-saudaranya sehingga orang tua menyebutnya sebagai usia bertengkar.

Para pendidik memberi sebutan anak usia sekolah dasar, karena pada rentang usia ini (6-12 tahun) anak bersekolah di sekolah dasar. Di sekolah dasar, anak diharapkan memperoleh dasar-dasar pengetahuan dan keterampilan yang dianggap penting untuk keberhasilan melanjutkan studi dan penyesuaian diri

dalam kehidupannya kelak. Para pendidik juga memandang periode ini sebagai usia kritis dalam dorongan berprestasi. Dorongan berprestasi membentuk kebiasaan pada anak untuk mencapai sukses ini cenderung menetap hingga dewasa.

Psikolog perkembangan anak memberi sebutan anak pada masa ini sebagai usia berkelompok. Pada usia ini perhatian utama anak tertuju pada keinginan diterima oleh teman-teman sebaya sebagai anggota kelompoknya. Oleh karena itu, anak ingin dan berusaha menyesuaikan diri dengan standar yang disepakati dan berlaku dalam kelompok sehingga masa anak ini disebut juga usia penyesuaian diri. Anak berusaha menyesuaikan diri dengan standar yang berlaku dalam kelompok, misalnya dalam berbicara, penampilan dan berpakaian, dan berperilaku. Periode ini juga disebut usia kreatif sebagai kelanjutan dan penyempurnaan perilaku kreatif yang mulai terbentuk pada masa anak awal. Kecenderungan kreatif ini perlu mendapat bimbingan dan dukungan dari guru maupun orang tua sehingga bekembang menjadi tindakan kreatif yang positif dan orisinal, tidak negatif dan sekedar meniru tindakan kreatif orang atau anak yang lain.

Menurut Sumantri dan Syaodih (2007: 6.3-6.4) karakteristik anak usia sekolah dasar yaitu; (1) senang bermain; (2) senang bergerak; (3) senang bekerja dalam kelompok; (4) senang merasakan atau melakukan sesuatu secara langsung. Karakteristik yang pertama yaitu senang bermain, hal ini menuntut guru sekolah dasar untuk melaksanakan kegiatan pendidikan yang bermuatan permainan, terutama pasa siswa kelas rendah. Guru hendaknya merancang model

pembelajaran yang memungkinkan adanya unsur permainan di dalamnya. Karakteristik yang kedua adalah senang bergerak, maka guru hendaknya merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak berpindah atau bergerak. Karakteristik yang ketiga ialah anak senang bekerja dalam kelompok. Dalam begaul dengan teman sebayanya, anak belajar aspek-aspek yang penting dalam proses sosialisasi, seperti belajar menemui aturan kelompok, belajar setia kawan, belajar untuk tidak bergantung pada orang dewasa, belajar bekerjasama, belajar menerima tanggung jawab, dll. Dengan karakteristik tersebut, seharusnya seorang guru merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak untuk bekerja atau belajar dalam kelompok. Karakteristik yang keempat adalah senang merasakan sesuatu atau memperagakan sesuatu secara langsung. bagi anak usia sekolah dasar, penjelasan guru tentang materi pelajaran kan lebih dipahami jika anak melaksanakan atau meraskan sendiri. Dengan demikian guru hendaknya merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak terlibat langsung dalam proses pembelajaran.

Dengan memahami karakteristik siswa, guru dapat menggunakan model pembelajaran yang tepat. Dalam penelitian ini memfokuskan pada karakteristik anak usia sekolah dasar yang suka bekerja dalam kelompok, senang melakukan secara langsung , sehingga guru menggunakan model pembelajaran kooperatif.dalam pembelajaran kooperatif mengedepankan interaksi antar siswa dalam kelompok, sehingga siswa turut aktif dalam pembelajaran dengan mengkonstruksi pengetahuan bersama teman-temannya dan diharapkan proses pembelajaran dapat berlangsung dengan efektif dan efisien, serta optimal.

Dokumen terkait