HASIL PENELITIAN
4.4. Pengalaman Penulis dengan Subjek
4.4.1. Kasus Nora
Subjek ini bernama samaran Nora, berumur 18 tahun dengan tinggi kurang lebih 150 cm dan berat badan 45 kilogram. Nora tinggal di sebuah rumah yang sederhana yaitu tempat tinggal kedua orang tua kandungnya, bersama bapak, ibu, dan adik laki-laki yang masih sekolah SD kelas empat. Nora anak pertama dari dua bersaudara, saat ini sudah menyelesaikan sekolah menengah atas dan berharap dapat melanjutkan ke Perguruan Tinggi. Ayah dan ibu (nora dan adiknya memanggilnya mamak) nora berjualan Pisang Molen (pisang yang dibaluri tepung lalu digoreng) dan minuman ringan di salah satu tempat rekreasi masyarakat Kota Langsa. Nora adalah remaja putri yang memiliki wajah yang cantik dan kulit sawo matang, untuk kalangan remaja Nora termasuk gadis yang menjadi idola teman-temanya. Nora mempunyai kepribadian yang fleksibel dan mudah bertema dengan siapa saja, menurut pengakuannya, Nora juga sering dijadikan tempat temanya curhat (berkeluh kesah) tentang apa saja, namun karena orang tuanya membatasi pergaulannya dengan cara mengharuskan Nora membantu orang tuanya berjualan setelah pulang sekolah, akhirnya Nora membatasi bermain dengan teman-temanya dan menjadi pribadi yang agak tertutup. Nora adalah tipikal remaja yang cenderung mudah panik bila menghadapi suatu masalah yang menimpanya, berusaha menyelesaikan sendiri masalahnya atau bahkan sering membiarkan masalah tanpa penyelesaian yang tuntas,
karena menurutnya seiring dengan berjalannya waktu maka masalah itu akan berlalu dengan sendirinya. Hal ini terungkap ketika penulis mencoba menggali bagaimana cara Nora menyelesaikan masalah yang dihadapi dalam kehidupannya sehari-hari.
Perkenalan Nora dengan Rizal (nama samaran) berawal ketika Rizal dan temanya datang untuk sekedar nongkrong (duduk-duduk) di warung orang tua Nora, ternyata Rizal tertarik dan menyukai Nora, Rizal adalah seorang pekerja swasta yang berumur 10 tahun di atas umur Nora, memiliki penghasilan lumayan, Rizal sebelumnya punya tunangan dan pernah melakukan hubungan seksual pranikah dengan tunangannya tersebut, namun hubungan mereka tidak sampai ke jenjang pernikahan dikarenakan perselingkuhan oleh tunangannya. Hal itu membuat Rizal putus asa dan tidak ingin menjalin cinta dengan gadis lain. Setelah bertemu Nora, Rizal mencoba menjalani hubungan dengan serius. Rizal adalah sosok laki-laki yang
perfeksionis (mengutamakan kesempurnaan dalam segala hal) temperamental (keras dan emosional yang meledak), mudah marah dan over protektive (perlindungan yang berlebihan), selama menjalin hubungan mereka sudah beberapa kali melakukan hubungan seksual pranikah, awalnya adalah atas permintaan Rizal selebihnya mereka tidak tahu siapa yang memulai. Hubungan seksual pranikah yang mereka lakukan berkisar pada aktivitas seperti berciuman bibir, berpelukan, meraba payudara dan alat kelamin, oral seks (melakukan aktivita seksual dengan menggunakan mulut ke kelamin atau sebaliknya) dan intercourse (bersetubuh). Mereka sering melakukannya di Mobil milik Rizal, menurut Nora, di rumah Kost Rizal tidak mungkin dilakukan karena masyarakat Kampung Mutia (lingkungan tempat tinggal Rizal) adalah tipe
masyarakat yang sedikit tegas terhadap peraturan pergaulan warganya. Nora mengungkapkan bahwa dirinya mencintai Rizal, hasrat dalam dirinya begitu menggebu, dorongan seksual yang dia rasakan cukup tinggi sehingga terkadang Nora merasa Rizal sebagai tempat yang tepat untuk penyalurannya. Ketika penulis mencoba menggali bagaimana perasaan Nora setelah melakukan hubungan seksual pranikahnya yang pertama, Nora mengungkapkan bahwa dirinya sangat takut dan merasa kesakitan, namun rasa takut yang lebih dirasakan saat itu, rasa takut yang diungkapkan bercapur dengan menyesal, merasa berdosa, dan takut ketahuan orang tuanya, terutama mamaknya (Nora menyebut Ibunya dengan sebutan Mamak), meskipun hubungan mereka berjalan dengan baik, pada kenyataanya mamaknya Nora masih berharap agar hubungan mereka tidak berjalan dengan mulus alias putus tanpa campur tangannya. Saat penulismenggali informasi pada mamaknya Nora terkait dengan persetujuannya terhadap hubungan mereka. Mamaknya Nora mengungkapkan bahwa sesungguhnya beliau tidak menyukai Rizal karena sifat Rizal agak keras, mamaknya Nora khawatir anaknya tidak bahagia nantinya, namun
mamaknya Nora tidak dapat menghambat hubungan mereka karena selama ini Rizal banyak membantu keuangan keluarga Nora, istilah utang budi (berhutang kebaikan) menjadi penyebab hubungan mereka disetujui dengan terpaksa. Sementara ayah Nora setuju saja dengan pilihan Nora, asalkan Nora bisa menjaga dirinya. Menurut ayah Nora, anak perempuannya itu anak yang baik, bertanggung jawab dan patuh pada keluarganya, saat ditanya pendapat ayah Nora tentang Rizal, menurutnya Rizal anak yang baik dan bertanggung jawab, Rizal jarang mengajak Nora jalan-jalan, atau
keluyuran (jalan-jalan tidak tentu arah tujuan), kalaupun Rizal ingin pergi selalu diberitahukan padanya. Ayah Nora yakin perbedaan umur mereka membuat Rizal lebih mengayomi (mendidik dan melindungi) Nora anaknya.
Di lain pihak Nora mengungkapkan bahwa dirinya sering dicemburui berlebihan oleh Rizal, bahkan Nora sering bertengkar dan memperoleh perlakuan dan perkataan kasar dari Rizal. pergaulan Nora terbatas pada apa yang ditentukan oleh Rizal. Namun dibalik sifatnya yang kasar Rizal juga menunjukkan rasa sayang yang menurut Nora tulus [perlu dipertanyakan] diberikan untuknya dan keluarganya. Ketika ditanyakan apa motivasi Nora mempertahankan hubungan mereka, Nora mengatakan masih mencintai Rizal dan berharap mereka akan menikah, untuk itu Nora rela mengubur cita-citanya melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah, karena Rizal tidak ingin Nora terlalu banyak interaksi dengan temanya atau orang lain.
Saat ditanya bagaimana pendapat Nora tentang Remaja yang melakukan Prilaku seksual Pranikah dan apakah arti keperawanan bagi seorang gadis, Nora berpendapat bahwa remaja dalam melakukan hubungan seksual sudah biasa, banyak teman-teman Nora yang melakukan itu, bahkan dirinya menjadi tempat mereka bercerita tentang pengalaman-pengalaman aktivitas seksual pranikah yang mereka lakukan. Keperawanan sudah tidak menjadi ukuran penting lagi bagi seorang gadis, walaupun Nora sangat tahu bahwa agama melarang hal tersebut, hal itulah yang sering menyebabkan Nora tertekan dan stress bila mengingat apa yang telah diperbuatnya, namun ketika hasrat yang dirasakan kembali menderanya, Nora tidak berdaya untuk menghindari apalagi Rizal sering memberikan stimulus-stimulus yang
menyebabkan Nora menginginkannya. Menurutnya boleh saja melakukan hubungan seksual pranikah dengan pasangannya asal pasangannya jelas masa depan dan bertanggung jawab. Saat ditanya lebih lanjut bagaimana seandainya Rizal tidak mau bertanggung jawab dan Nora hamil karenanya? Nora tampak sedikit panik dan tidak tahu harus menjelaskan apa. Nora mengatakan sering menangis dan takut bila membayangkan bila hal itu terjadi, karena selama ini hal itulah yang selalu menghantuinya, namun diyakininya bahwa semua ini akan berakhir ketika Rizal berjanji akan menikahinya. Penulis menanyakan apakah Nora mengetahui tentang kondisi organ reproduksi (rahim) yang masih muda dan tidak siap untuk dihamili, Nora mengatakan tidak tahu, namun menurutnya hal itu tidak akan ada masalah karena ada teman Nora yang sudah hamil dan akhirnya mereka menikah, Nora tidak menemukan ada masalah pada temannya itu. Nora juga menjelaskan bahwa dari informasi yang diperoleh di bagian Konseling di Puskesmas Langsa Timur, bahwa organ rahimnya belum siap untuk dibuahi dan akan membawa dampak tidak baik pada tubuhnya maupun proses kelahiran bayinya. Tapi menurut Nora, dirinya sudah 18 tahun dan dalam agama yang dianutnya tidak ada larangan untuk menikah ketika sudah balieq (akil baliq), begitu juga yang disampaikan oleh ayahnya Nora maupun Rizal!
Berdasarkan informasi dari Ani (nama samaran) salah satu petugas konseling di Puskesmas Langsa Timur, yang kebetulan tetangga Nora, beliau pernah diminta tolong diberikan penjelasan tentang obat pelancar haid dan contoh obat KB minum
tersebut, Nora hanya menjawab penasaran ingin tahu bagaimana cara kerja obat tersebut, dirinya sudah bertunangan kemungkinan akan segera menikah tapi Nora tidak ingin hamil segera, karena berencana ingin melanjutan kuliah. Petugas Ani akhirnya mengajak Nora ke Puskesmas untuk mendapatkan informasi tentang apa yang diinginkan dan mendapatkan konseling tentang kesehatan reproduksi remaja, namun Nora hanya berkunjung dua kali, selebihnya hanya konsultasi melalui telefon saja maupun pesan singkat yang dikirimkan Nora. Nora sering menanyakan bagaimana rasanya hamil, tanda-tandanya dan apa resikonya bagi dia yang masih muda. Menurut petugas Ani, Nora adalah anak yang baik, cantik dan pintar di sekolahnya. Dia kebanggaan keluarganya, namun sayang karena masalah keuangan, orang tua Nora tidak sanggup melanjutkan pendidikan untuk Nora sampai ke jenjang perkuliahan. Informasi terakhir, akan melaksanakan pesta pernikahan di bulan Agustus 2012.
4.4.2. Kasus Um
Subjek ini bernama Um (nama inisial) berusia sekitar 18 tahun, tinggi 156 cm dan berat badan 44 kg, berkulit putih, cantik dan tampak sedikit energik. saat ini tinggal bersama orang tuanya di Langsa Lama, ayah Um berprofesi sebagai guru di salah satu sekolah menengah di Kota Langsa, ibu Um sebagai ibu rumah tangga. Um adalah temaya Nora, saat pertama bertemu, Um sudah tampak mudah bergaul, Um bukan salah satu dari pasien remaja yang berkunjung ke Puskesmas Langsa Timur. Um hanya pernah mengenal petugas konseling remaja karena pernah berkunjung beberapa kali ke sekolahnya untuk memberikan penyuluhan tentang Narkoba, seks
bebas dan kesehatan reproduksi. Ketika di tanya pendapatnya tentang kesehatan organ reproduksi, Um mengatakan bahwa remaja sebaiknya tidak hamil, karena bisa merusak tubuhnya, tapi kalau sudah terlanjur hamil, harus menikah dan kalau melahirkan juga tidak apa-apa, karena ada juga yang selamat saat melahirkan di usia muda, akan tetapi sebaiknya pindah tempat tinggal saja, karena pasti malu di pandang hina oleh orang-orang sekitarnya.
Menurut Um, hubungan seksual pranikah adalah hal yang tidak asing lagi di kalangan kaum remaja seperti dirinya, “banyak teman Um yang pernah melakukan, dan mereka santai aja nampaknya” Um menceritakan kondisinya yang sempat stres dan terpuruk akibat pernah melakukan hubungan seksual pranikah dengan pacar pertamanya, saat itu mereka sedang camping sekolah untuk menyambut perpisahan dengan siswa kelas tiga yang di buat oleh organisasi sekolahnya, kebetulan Um adalah salah satu aktivis di organisasi tersebut. Um mengatakan hubungan seksual pranikah yang dilakukannya itu, terjadi hanya satu kali itu, kejadiannya begitu cepat dan di luar kendalinya, waktu itu Um terbawa emosi karena akan berpisah dengan Andi (nama samaran), kebetulan Andi saat itu adalah siswa kelas tiga yang akan berpisah sekolah dengannya. Andi, yang juga wakil ketua organisasi di sekolahnya adalah remaja laki-laki yang baik, cerdas, aktif dan sangat perhatian pada Um, menurut Um, mereka sudah saling menyukai sejak Um masih di kelas satu, namun Andi baru berani menyatakan cintanya saat Um sudah aktif di organisasi di sekolahnya, Um mengatakan Andi menyukainya karena menurut Andi Um adalah
gadis yang penuh semangat, dan lembut. Dan menurut Um mereka saling mencintai dan saling memberi semangat kalau ada masalah.
Saat ditanyakan bagaiamana cara menyelesaikan masalah yang dihadapi Um sehari-hari, Um mengatakan tidak suka menyimpan masalah terlalu lama, ingin cepat diselesaikan, biar plong (lega), namun pada masalah yang sangat pribadi Um memilih tema yang menurutnya dapat saling berbagi, salah satu teman dekat Um adalah Nora. Menurut Nora, pengalaman cinta Um tergolong unik dan seru, karena menurutnya sahabat ini sangat kuat dan tegar. Oleh karena itu Nora ingin mengenalkan penulis dengan Um. Saat berkunjung ke rumah Um, kami hanya bertemu dengan ibunya Um, ayah Um sedang ikut seminar di Banda Aceh. Menurut ibunya, Um adalah anak yang pintar dan berprestasi di sekolahnya. Ibu Um mengatakan mengenal teman dekat Um, baik itu Andi maupun Bola, karena mereka dan tema-tema Um yang lain sering belajar dan berkumpul di rumah Um kalau ada kegiatan-kegiatan di sekolahnya yang harus mereka persiapkan. Karena Ayah Um seorang guru, teman-teman Um juga sangat menghormati keluarga Um. saat ditanya apa saja yang dilakukan Um kalau lagi kesal atau marah ibunya Um mengatakan Um suka membanting pintu kamar, atau ngomel, tapi tidak lama kemudian sudah baik lagi dan minta maaf atas kelakuannya, hal ini menurut ibunya adalah karena ayah Um selalu mendidik anaknya untuk terbuka dengan orang tua. Saat ditanyakan apakah Um pernah menceritakan tentang kisahnya dengan Andi, menurut ibunya Um hanya menceritakan mereka sekedar pacaran biasa dan sekarang sudah putus. Dan ibu Um hanya mengenal Bola adalah adik kelas Um sekaligus sahabat anaknya karena ibu
Um mengenal almarhum abangnya Bola. Sementara pada Ayahnya Um tidak mungkin menceritakan hal itu karena ayah Um tidak mengizinkan anaknya pacaran.
Um juga mengatakan tentang pacaran menurutnya boleh-boleh saja asal bisa saling memberi semangat belajar, walaupun menurut ayahnya itu tidak benar. Um mengutarakan pendapatnya, kalau pacaran sudah dilewati dengan hubungan seksual pranikah maka semua cita cita akan hancur. Um tidak dapat menggambarkan apa yang terjadi pada organ reproduksinya seandainya hubungan seksual pranikah terjadi pada usia yang masih muda, karena informasi tentang perkembangan kesehatan organ reproduksi hanya sedikit yang diperoleh. Tentang perasaannya setelah melakukan hubungan seksual pranikah waktu itu, Um mengatakan sangat menyesal, karena Um merasa gagal menjadi anak, sedih membayangkan orang tuanya kecewa jika tahu apa yang dilakukannya. Um merasa kecewa dan sakit hati setelah setahun kemudian ternyata Andi berpaling darinya, Andi tergoda dengan tema kuliahnya dan akhirnya hubungan mereka putus dan menjalin hubungan dengan Bola (nama samaran)
Um mengatakan hubungan yang dijalaninya dengan Bola tanpa ada hubungan
intercourse, mereka hanya pernah melakukan ciuman, berpegangan tangan dan berpelukan. Saat penulis menanyakan tentang hasrat seksual yang dirasakan, Um mengungkapkan sering kesulitan mengendalikan keinginan untuk tidak melakukan aktivitas seksualnya meskipun hanya sebatas kendali yang menurut Um masih wajar, dan itu sering dilakukannya dengan Bola. Hal ini pernah Um tanyakan pada saat penyuluhan Kesehatan Reproduksi yang di laksanakan di sekolahnya, menurut informasi yang di peroleh adalah aktivitas positif seperti sanggar seni, olah raga dapat
dilakukan sebagai penyaluran hasrat yang cenderung menggebu yang dirasakan kaum remaja pada umumnya. Um setuju dengan pendapat tersebut, dan selalu berusaha untuk meningkatkan kegiatan kegiatan positif. Um selalu berusaha mengingatkan dirinya pada pengalaman masa lalunya, Um mengatakan trauma dan menyesal, berharap tidak mengulangi pengalaman pahitnya saat bersama Andi.
Saat ini Um tercatat sebagai mahasiswa semester pertama pada salah satu Sekolah Kesehatan di Kota Langsa.
4.4.3. Kasus Ek (Inisial)
Subjek ini, bernama Ek, berusia 19 tahun, bertempat tinggal di wilayah Langsa Timur, Ek tinggal dengan ibu dan dua saudara kandung, Ek anak ke dua dari tiga bersaudara, ibu dan ayah Ek sudah berpisah, saat ini ayah kandung Ek berada di Kota Medan. Ibu Ek bekerja di Pabrik Arang di Desa Sukarejo, masih Wilayah Langsa Timur. Menurut informasi dari petugas konseling yang menangani Ek selama ini, orang tua Ek berpisah karena tidak ada kecocokan sehingga sering bertengkar, saat ini ayah Ek sudah menikah lagi dan tinggal di Medan. Ek memiliki seorang kakak perempuan sebut saja Ros yang sebelumnya juga pernah menjadi pasien konseling kesehatan reproduksi remaja, Ros dulunya remaja dengan kehamilan yang tidak diinginkan, pernah berniat menggugurkan kandungannya namun tidak berhasil, Ros sempat menikah, namun terakhir di peroleh kabar bahwa suaminya pergi dan tak pernah kembali. Saat tiba waktunya Ros melahirkan bayi, namun tidak selamat karena bayinya mengalami infeksi dan meninggal setelah seminggu kelahirannya.
Saat ini Ros jarang berada di rumahnya, menurut Ek, kakaknya itu sering tinggal dengan saudaranya di Kuala Simpang sekitar 20 kilometer dari Kota Langsa.
Ek sudah menamatkan sekolah menengahnya dan tidak merencanakan pendidikan lanjutan. Saat ini Ek bekerja di sebuah Salon yang ada di kota Langsa. Penulis bertemu dengan Ek di Ruang Konseling Puskesmas Langsa Timur. Saat itu Ek datang dengan keluhan keputihan cenderung berbau, merasakan agak panas pada daerah kemaluan, Ek mengatakan sering mengalami gangguan siklus menstruasi. Informasi dari petugas konseling bahwa sudah sering melakukan aktivitas seksual pranikah dengan beberapa pasangan. Motivasinya adalah kebutuhan materi, Ek dapat memperoleh apa saja yang diinginkan sementara dari orang tuanya tidak dapat dipenuhi.