• Tidak ada hasil yang ditemukan

Konsep Mekanisme Koping .1 Pengertian Koping .1 Pengertian Koping

TINJAUAN PUSTAKA

2.10 Konsep Mekanisme Koping .1 Pengertian Koping .1 Pengertian Koping

Koping adalah perubahan kognitif dan prilaku secara konstan dalam upaya untuk mengatasi tuntutan internal dan eksternal yang khusus yang melelahkan atau melebihi sumber individu (Folkman, S & Lazarus, R.S, 1985). Koping juga dapat digambarkan sebagai sesuatu yang berhubungan dengan masalah dan situasi, atau menghadapinya dengan berhasil/sukses (Kozier,2004). Sedangkan koping menurut Rasmun (2004) adalah proses yang dilalui oleh individu dalam menyelesaikan situasi

stressfull. Koping tersebut merupakan respon individu terhadap situasi yang mengancam dirinya baik fisik maupun psikologis.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa koping adalah mekanisme untuk mengatasi perubahan yang dihadapi atau beban yang diterima. Apabila mekanisme ini berhasil,

seseorang akan dapat beradaptasi terhadap perubahan atau beban tersebut. Efektifitas koping memiliki kedudukan sangat penting dalam ketahanan dan daya penolakan tubuh terhadap gangguan, jadi ketika terdapat stressor yang lebih berat (dan bukan yang biasa diadaptasi), individu secara otomatis melakukan mekanisme koping yang sekaligus memicu perubahan neurohormonal. Kondisi ini yang terbentuk akhirnya menyebabkan individu mengembangkan dua hal yang baru, yaitu perubahan prilaku dan perubahan jaringan organ.

2.10.2 Pengertian Mekanisme Koping

Mekanisme koping adalah cara yang dilakukan individu dalam menyelesaikan masalah, menyesuaikan diri dari perubahan, serta respon terhadap situasi yang mengancam (Keliat, 1998) jika individu berada pada kondisi stress ia akan menggunakan berbagai cara untuk mengatasinya. Individu dapat menggunakan satu atau lebih sumber koping yang tersedia. Sedangkan Stuart (2001) mekanisme koping dapat digunakan untuk mengatasi stress.

Seorang ahli medis bernama Zj. Lipowski dalam penelitiannya memberikan definisi mekanisme koping sebagai berikut, semua aktivitas kognitif dan motorik yang dilakukan oleh seseorang yang sakit untuk mempertahankan intergritas tubuh dan psikisnya. Memulihkan fungsi yang rusak, dan membatasi adanya kerusakan yang tak bisa dipulihkan.

2.10.3 Penggolongan Mekanisme Koping

Kozier (2004) membedakan mekanisme koping menjadi dua tipe, yaitu ; 1) Mekanisme koping berfokus pada penyelesaian masalah, meliputi usaha untuk

memperbaiki suatu situasi dengan membuat perubahan atau mengambil beberapa tindakan dan usaha segera untuk mengatasi ancaman pada dirinya. Contohnya adalah negosiasi, konfrontasi atau meminta nasehat. ; 2) Mekanisme koping berfokus pada emosi, meliputi usaha-usaha dan gagasan yang mengurangi distress emosional. Mekanisme koping berfokus pada emosi tidak memperbaiki situasi tetapi seseorang merasa lebih baik.

Mekanisme koping juga dilihat sebagai mekanisme koping jangka panjang dan mekanisme koping jangka pendek. Mekanisme koping jangka panjang merupakan cara konstruktif dan realistik. Sebagai contoh, dalam situasi tertentu berbicara dengan orang lain tentang masalah dan mencoba untuk menemukan informasi yang lebih banyak tentang situasi. sedangkan mekanisme koping jangka pendek, cara yang digunakan untuk mengatasi stress bersifat sementara tetapi merupakan cara yang kurang efektif untuk menghadapi masalah.

Sedangkan metoda koping menurut Folkman & Lazarus; Folkman et al, adalah ; 1) Planfull Problem Solving (Problem Focused), yaitu individu berusaha menganalisa situasi untuk memperoleh solusi dan kemudian mengambil tindakan langsung untuk menyelesaikan masalah ; 2) Confrontatif Coping (Problem Focused), yaitu individu mengambil tindakan asertif yang sering melibatkan kemarahan atau mengambil resiko untuk mengubaah situasi ; 3) Seeking Social Support (Problem or Emotion Focused), yaitu individu berusaha untuk memperoleh dukungan emosional

atau dukungan informasional ; 4) Distancing (Emotion Focused), yaitu usaha kognitif untuk menjauhkan diri sendiri dari situasi atau menciptakan pandangan positif

terhadap masalah yang dihadapi ; 5) Escape-Advoidanceting (Emotion Focused), yaitu menghindar masalah dengan cara berkhayal atau berpikir dengan penuh harapan tentang situasi yang dihadapi atau mengambil tindakan untuk menjauhi masalah yang dihadapi ; 6) Self Control (Emotion Focused) adalah usaha individu untuk menyesuaikan diri dengan perasaan ataupun tindakan dalam hubungannya dengan masalah ; 7) Accepting responsibility (emotion fokcused), yaitu mengakui peran diri sendiri dalam masalah dan berusaha untuk memperbaikinya ; 8) Positive Reappraisal (Emotion Focused) adalah usaha individu untuk menciptakan arti yang positif dari situasi yang dihadapi.

2.10.4 Respon Koping

Respon koping sangat berbeda antar individu dan sering berhubungan dengan persepsi individual dari kejadian yang penuh stress. Koping dapat diidentifikasi melalui respon, manifestasi, dan pernyataan klien dalam wawancara. Koping dapat dikaji melalui berbagai aspek, yaitu fisiologis dan psikososial. Reaksi fisiologis merupakan indikasi individu dalam keadaan stress.

Mekanisme koping berdasarkan penggolongannya dibagi menjadi dua (Stuart & Laraisa, 2001) yaitu mekanisme koping yang adaptif dan mekanisme

maladaptif. Mekanisme adaptif adalah mekanisme koping yang mendukung fungsi integrasi, pertumbuhan, belajar dan mencapai tujuan. Katagorinya adalah berbicara dengan orang lain, memecahkan masalah dengan efektif, tehnik relaksasi, latihan seimbang dan aktivitas konstruktif. Sedangkan mekanisme koping maladaptif adalah mekanisme koping yang menghambat fungsi integrasi, memecah pertumbuhan,

menurunkan otonomi dan cenderung menguasai lingkungan. Katagorinya adalah makan berlebihan atau tidak makan, bekerja berlebihan atau menghindar.

Koping dapat diidentifikasi melalui berbagai aspek, yaitu fisiologis dan psikososial (Keliat, 1999) reaksi fisiologis merupakan reaksi tubuh terhadap stress ; 2) reaksi psikososial terkait dengan beberapa aspek, antara lain ; a) Reaksi yang berorientasi pada ego yang sering disebut sebagai mekanisme pertahanan mental, seperti Denial, Projeksi, Displacement, Isolasi, dan Supresi. ; b) Reaksi yang berkaitan dengan respon verbal seperti menangis, tertawa, teriak, memukul dan menyepak, menggenggam, mencerca. ; c) Reaksi yang berorientasi pada penyelesaian masalah.

Jika mekanisme pertahanan mental dan respon verbal tidak menyelesaikan masalah secara tuntas, karena itu perlu dikembangkan kemampuan penyelesaian masalah, dalam hal ini koping merupakan hal yang perlu dipertimbangkan, yaitu meliputi berbicara dengan orang lain tentang masalahnya dan mencari jalan keluar dari informasi orang lain. Mencari tahu lebih banyak tentang situasi yang dihadapi melalui buku, media, atau orang ahli, berhubungan denga supranatural, melakukan ibadah secara teratur, percaya diri bertambah, pandangan positif berkembang, melakukan penangan stress misalnya latihan pernafasan, meditasi, visualisasi, stop berpikir, membuat berbagai alternatif tindakan dalam menangani situasi, belajar dari pengalaman lalu, tidak mengulangi kegagalan yang sama.

2.10.5 Sumber Koping

Sumber koping berupa pilihan atau strategi yang membantu untuk menetapkan apa yang dapat dilakukan sebagaimana yang telah ditetapkan Lazarus (1985) dalam Rasmun (2004), mengidentifikasi lima sumber koping yang dapat membantu individu beradaptasi dengan stressor yaitu, ekonomi, ketrampilan dan kemampuan, tehnik pertahanan, dukungan sosial dan motivasi.

Kemampuan menyelesaikan masalah termasuk kemampuan untuk mencari informasi, identifikasi masalah, mempertimbangkan alternatif dan melaksanakan rencana. Social skill memudahkan penyelesaian masalah. Aset materi mengacu pada keuangan, pada kenyataannya sumber keuangan meningkatkan pilihan koping sesorang dalam banyak situasi stress. Pengetahuan dan intelegensia adalah sumber koping lainnya yang dimiliki individu uantuk mengatasi stress. Di samping itu, sumber yang lain dapat berupa ; kekuatan identitas ego, komitmen untuk jaringan sosial, stabilitas kultural, suatu sistem yang stabil dari nilai dan keyakinan, orientasi pencegahan kesehatan dan genetik atau kekuatan konstitusional (Stuart & Laraisa, 2001).

BAB 3

METODE PENELITIAN