IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1.4. Penentuan Prioritas Jenis Terpilih
4.2.1.5. Kawasan Perluasan TNGGP
Sejarah TNGGP mempunyai posisi yang penting dalam sejarah konservasi Indonesia. Sejarah konservasi kawasan TNGGP diawali dengan Cagar Biosfer Cibodas oleh UNESCO melalui Program Man and Biosphere tahun 1977 dan
TNGGP sebagai zona inti Cagar Biosfer. Dilanjutkan dengan deklarasi Menteri Pertanian pada tanggal 6 Maret 1980 bahwa kawasan TNGGP ditetapkan sebagai kawasan Pelestarian Alam TNGGP dengan luas 15.196 hektar. Kemudian pada tahun 1995 ditetapkan sebagai Sister Park. Melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 174/Kpts-II/2003, tanggal 10 Juni 2003, luas kawasan TNGGP diperluas menjadi kurang lebih 21.975 hektar yang merupakan perluasan area eks Perum Perhutani. Kemudian atas dasar Berita Acara Serah Terima Pengelolaan Nomor002/BAST-HUKAMAS/III/2009 Nomor 1237/II-TU/2//2009 tanggal 6 Agustus 2009 dari Perum Perhutani Unit III Jawa Barat dan banten Kepada BB TNGGP, luas kawasan yang diserahkan adalah seluas 7.655,030 hektar. Dengan Demikian total luas TNGGP adalah 22.851,030 hektar.
Gambar 20 Peta luas pemilikan/penguasaan lahan rata-rata masyarakat di desa- desa sekitar kawasan hutan TNGGP
Permasalahan yang terjadi di kawasan perluasan TNGGP berkaitan erat dengan perubahan status dan fungsi kawasan hutan dari kawasan hutan produksi dan hutan lindung yang dikelola oleh Perum Perhutani menjadi kawasan
hutan konservasi (taman nasional) yang dikelola oleh Dephut, c.q. Ditjen PHKA. Perubahan status dan fungsi kawasan hutan tersebut juga secara langsung menyebabkan perubahan prinsip-prinsip pengelolaan hutan di kawasan perluasan TNGGP tersebut. Adapun beberapa permasalahan yang terjadi di kawasan perluasan TNGGP, yaitu berupa gangguan terhadap kawasan perluasan TNGGP, seperti terjadinya pengambilan kayu bakar, pengambilan kayu pertukangan (terutama di Resort Nagrak), pengambilan hasil hutan nonkayu, dan perambahan lahan oleh penggarap, Permasalahan berupa gangguan hutan di kawasan perluasan TNGGP dapat menyebabkan terjadinya kerusakan hutan di kawasan hutan tersebut. Peta kerusakan hutan di kawasan hutan TNGGP, terutama kawasan perluasan TNGGP, disajikan pada Gambar 21 berikut ini. Secara keseluruhan, persentase luas kerusakan hutan di kawasan hutan TNGGP adalah sebesar 8,9%.
Gambar 21 Peta luas kerusakan hutan di kawasan hutan TNGGP
Permasalahan lainnya yang terjadi di kawasan perluasan TNGGP adalah terdapatnya hutan tanaman terutama jenis pohon eksotik. Keberadaan hutan tanaman dengan jenis pohon eksotik di kawasan hutan konservasi tersebut tidaklah sesuai dengan kaidah-kaidah konservasi. Adapun peta sebaran jenis
pohon eksotik dan asli di kawasan perluasan TNGGP berdasarkan data yang diolah dari BB TNGGP dan citra landsat TM 7 disajikan pada Gambar 22.
Gambar 22 Peta sebaran jenis tumbuhan eksotik dan asli di kawasan perluasan TNGGP
Hutan tanaman dengan jenis pohon eksotik di kawasan perluasan TNGGP terdiri atas jenis pinus, damar, dan eucalyptus. Sebaran hutan tanaman dengan jenis pohon eksotik, sebagian besar terdapat di wilayah Sukabumi. Sedangkan hutan tanaman dengan jenis pohon asli di kawasan perluasan TNGGP terdiri atas jenis puspa dan rasamala.
4.2.2. Kategori Prioritas Restorasi TNGGP
Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan penilaian terhadap kondisi nilai variabel penilaian yang dimiliki oleh kawasan TNGGP sesuai dengan model yang telah dirumuskan dapat diketahui bahwa kawasan TNGGP memiliki nilai aspek tingkat kepentingan (importance) suatu kawasan hutan konservasi sebesar 4,427 dan aspek tingkat kemendesakan (urgency) suatu kawasan hutan konservasi untuk direstorasi sebesar 2,546 (Tabel 6). Secara detail, variabel penilaian kategori prioritas restorasi TNGGP disajikan pada Lampiran 14.
Tabel 6 Penilaian kategori prioritas restorasi TNGGP
No. Uraian kriteria kawasan hutan konservasi yang perlu segera direstorasi
Bobot Intensitas Skala Skor
I
Aspek tingkat kepentingan (importance) suatu kawasan hutan konservasi
1 Keberadaan jenis langka dan dilindungi 0,310 5 1,550 2 Keanekaragaman tipe ekosistem 0,181 4 0,724 3 Potensi keanekaragaman jenis 0,142 5 0,710 4
Ekosistem penting sebagai penyedia air dan
pengendalian banjir 0,127 3 0,381
5 Pemanfaatan SDA secara lestari oleh stakeholders 0,122 5 0,610 6 Lansekap atau ciri geofisik sebagai obyek wisata alam 0,050 5 0,250
7 Tempat peninggalan budaya 0,035 2 0,070 8 Logistik bagi penelitian dan pendidikan 0,033 4 0,132
Total skor aspek tingkat kepentingan: 1 4,427
II
Aspek tingkat kemendesakan (urgency)
suatu kawasan hutan konservasi untuk direstorasi
1
Akibat yang ditimbulkan dari kerusakan hutan di suatu
kawasan hutan konservasi 0,287 1 0,287
2
Besarnya kepedulian stakeholders sebagai penerima
manfaat kawasan hutan konservasi 0,182 5 0,910
3
Bentuk dan sebaran kerusakan hutan di suatu kawasan
hutan konservasi 0,162 1 0,162
4
Persentase kerusakan hutan di suatu kawasan hutan
konservasi 0,132 2 0,264
5
Macam aktivitas masyarakat sekitar di suatu kawasan
hutan konservasi 0,106 5 0,530
6 Luasan suatu kawasan hutan konservasi 0,069 3 0,207
7
Keberadaan hutan miskin jenis di suatu kawasan hutan
konservasi 0,062 3 0,186
Total skor aspek tingkat kemendesakan: 1 2,546
Titik koordinat (4,427; 2,546) yang merupakan hasil penilaian prioritas kawasan hutan konservasi yang perlu segera direstorasi yang diterapkan/ diujicobakan pada kawasan hutan TNGGP terletak pada kuadran III (Gambar 23).
Posisi kategori prioritas restorasi yang terletak pada kuadran III tersebut tergolong ke dalam Prioritas III. Hal tersebut memberikan arti bahwa kawasan TNGGP memiliki tingkat kepentingan (importance) suatu kawasan hutan konservasi yang tergolong tinggi, namun memiliki tingkat kemendesakan (urgency) suatu kawasan hutan konservasi untuk direstorasi yang tergolong rendah.
Gambar 23 Posisi kuadran kategori prioritas kawasan TNGGP untuk direstorasi
Kawasan TNGGP memiliki tingkat kepentingan (importance) suatu kawasan hutan konservasi yang cenderung tinggi dikarenakan kawasan tersebut memang memiliki peranan yang cukup penting bagi lingkungan di sekitarnya, terutama dalam mengatur fungsi hidroorologi, menjaga keanekaragaman hayati, dan menghasilkan jasa-jasa lingkungan lainnya. Sedangkan tingkat kemendesakan suatu kawasan hutan konservasi untuk direstorasi yang dimiliki kawasan TNGGP yang cenderung rendah dapat disebabkan oleh karena kawasan TNGGP dijaga dengan baik ataupun gangguan alam yang terjadi sedikit.
4.2.3. Penentuan Lokasi/Bagian TNGGP yang Perlu Segera Direstorasi
Penentuan lokasi/bagian TNGGP yang perlu segera direstorasi memerlukan beberapa data berupa penutupan lahan, kekayaan jenis tumbuhan, sebaran satwaliar langka atau dilindungi, lereng (slope), elevasi/ketinggian, jenis tanah, intensitas hujan, luas kerusakan kawasan hutan konservasi, kepadatan penduduk di desa-desa sekitar kawasan hutan konservasi, dan luas pemilikan/ penguasaan lahan rata-rata masyarakat di desa-desa sekitar kawasan hutan konservasi. Untuk memperoleh data penutupan lahan dilakukan melalui
2 1 4 5 2 3 1 4 5 Tingkat kemendesakan Rendah Tinggi T i n g k a t k e p e n t i n g a n Rendah Tinggi Kuadran I (Prioritas I) Kuadran II (Prioritas II) Kuadran III (Prioritas III) Kuadran IV (Prioritas IV)
Posisi prioritas restorasi (4,427; 2,546)
interpretasi citra landsat, sedangkan untuk memperoleh data lainnya dilakukan melalui pengumpulan data sekunder/studi literatur.
4.2.3.1. Penutupan Lahan di Kawasan TNGGP
Penutupan lahan merupakan kenampakan yang ada di permukaan bumi (Lillesand et al., 1990). Adapun penutupan lahan di kawasan TNGGP pada tahun 2010 berdasarkan citra landsat TM 7 dan hasil interpretasi citra landsat tersebut dapat dilihat pada Gambar 24 – Gambar 25 berikut ini.
Gambar 24 Citra landsat kawasan TNGGP tahun 2010
Hasil penelitian (Tabel 7) menunjukkan bahwa penutupan lahan yang dominan di kawasan TNGGP pada tahun 2010 adalah berupa hutan sekunder, yaitu seluas 9.752 ha atau 40%. Tipe ini merupakan tipe penutupan yang dominan di kawasan ini.
Kawasan TNGGP memiliki penutupan hutan primer dengan kondisi yang cukup baik. Hutan primer di kawasan ini memiliki luasan sekitar 25% dari total luas kawasan TNGGP. Hutan primer di TNGGP menempati wilayah pegunungan (1.500 – 2.400 m dpl) hingga wilayah sub-alpin (2.400 - 3.019 m dpl).
Gambar 25 Penutupan lahan hasil interpretasi citra landsat di kawasan hutan TNGGP tahun 2010
Tabel 7 Luas penutupan lahan kawasan TNGGP tahun 2010 (dalam ha) Penutupan Lahan Tahun 2010
Belukar 1.090
Hutan primer 6.267
Hutan sekunder 9.752 Hutan tanaman 4.055 Pertanian campur semak 503
Perkebunan 1.046
Pemukiman 116
Pertanian lahan kering 272
Sawah 734
Lahan terbuka 24
Badan air 12
Awan 465
Total 24.336
Sumber: Citra satelit Landsat 7 tahun 2010
Di sekitar bagian terluar kawasan TNGGP tersebar hutan tanaman eks Perum Perhutani yang terdiri dari jenis pinus dan damar. Kedua jenis tumbuhan
ini merupakan tumbuhan jenis eksotik yang ditanam pada saat kawasan tersebut masih dikelola oleh Perum Perhutani sebagai hutan produksi. Persentase hutan tanaman di kawasan TNGGP pada tahun 2010 mencapai 16,6% dari total wilayah dengan sebaran meliputi bagian barat, tenggara, dan timur kawasan TNGGP.
Belukar menempati posisi tipe penutupan lahan keempat terluas di kawasan TNGGP. Belukar di kawasan ini memiliki luasan hingga 4,5% dari total luas kawasan TNGGP. Karena struktur vegetasi yang hampir sama, vegetasi eidelweis di TNGGP diidentifikasi oleh citra landsat sebagai belukar, lokasi vegetasi khas ini dijumpai di bagian puncak kawasan TNGGP. Di luar tipe vegetasi alami, belukar merupakan indikator yang menunjukkan terganggunya suatu kawasan hutan. Pada kawasan TNGGP ini tipe belukar banyak bersanding dengan tipe pertanian lahan kering dan pertanian campur semak. Hal tersebut mengindikasikan bahwa sebaran belukar dipengaruhi oleh tekanan penduduk dan kebutuhan akan lahan pertanian.
Peningkatan kepadatan penduduk di sekitar kawasan hutan TNGGP, memberikan dampak tidak langsung berupa peningkatan kebutuhan lahan-lahan pertanian masyarakat sekitar. Hal tersebut dikarenakan matapencaharian utama masyarakat sekitar kawasan hutan TNGGP pada umumnya masih didominasi jenis matapencaharian berupa pertanian dan perkebunan. Peningkatan kebutuhan lahan pertanian memberikan tekanan tersendiri bagi kawasan hutan TNGGP dan perlahan tapi pasti perluasan lahan pertanian di luar kawasan hutan TNGGP terus terjadi seiring dengan peningkatan jumlah pemukiman di daerah tersebut.
Untuk mengukur keakuratan hasil interpretasi citra landsat tersebut telah dilakukan uji akurasi klasifikasi dengan nilai akurasi sebesar 88,71%. Nilai uji akurasi klasifikasi tersebut menunjukkan bahwa hasil interpretasi citra landsat cukup akurat karena memiliki nilai ≥ 85%. Secara lengkap hasil uji akurasi klasifikasi tersebut dapat dilihat pada Lampiran 15.
Hasil penelitian menunjukkan (Gambar 26) bahwa berdasarkan pemberian skala intensitas sesuai kondisi variabel penilaian pada kriteria penutupan lahan dalam menentukan lokasi/bagian kawasan TNGGP yang perlu segera direstorasi, maka dapat diketahui bahwa kawasan TNGGP pada umumnya memiliki skala intensitas variabel penilaian pada kriteria penutupan lahan yang
cenderung rendah di bagian terdalam/tengah kawasan hutan dan cenderung tinggi di bagian terluar/tepi kawasan hutan.
Hal tersebut memberikan arti bahwa kondisi penutupan lahan di bagian terdalam/tengah kawasan TNGGP cenderung lebih baik apabila dibandingkan dengan kondisi penutupan lahan di bagian terluar/tepi kawasan TNGGP. Pada bagian terluar/tepi kawasan TNGGP, terutama pada kawasan perluasan TNGGP eks kawasan hutan produksi Perum Perhutani, pada umumnya banyak mengalami gangguan sebagai akibat dari berbagai aktivitas masyarakat sekitar yang memanfaatkan sumberdaya alam yang terdapat di sekitarnya.
Gambar 26 Peta skala intensitas variabel penilaian pada kriteria penutupan lahan di kawasan TNGGP
4.2.3.2. Kondisi Kriteria Lainnya di Kawasan TNGGP
Selain kriteria berupa penutupan lahan, terdapat 9 (sembilan) kriteria lainnya dalam menentukan lokasi/bagian kawasan TNGGP yang perlu segera direstorasi, yaitu: kekayaan jenis tumbuhan, sebaran satwaliar langka atau dilindungi, lereng (slope), elevasi/ketinggian, jenis tanah, intensitas hujan, luas kerusakan kawasan hutan konservasi, kepadatan penduduk di desa-desa sekitar
kawasan hutan konservasi, dan luas pemilikan/penguasaan lahan rata-rata masyarakat di desa-desa sekitar kawasan hutan konservasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan pemberian skala intensitas sesuai kondisi variabel penilaian pada 9 (sembilan) kriteria tersebut, maka dapat diketahui bahwa peta skala intensitas variabel penilaian pada 9 (sembilan) kriteria tersebut dalam menentukan lokasi/bagian kawasan TNGGP yang perlu segera direstorasi adalah sebagai berikut:
1. Kekayaan jenis tumbuhan
Hasil penelitian (Gambar 27) menunjukkan bahwa kawasan hutan TNGGP pada umumnya memiliki skala intensitas variabel penilaian pada kriteria kekayaan jenis tumbuhan yang cenderung rendah di bagian terdalam/tengah kawasan hutan dan cenderung tinggi di bagian terluar/tepi kawasan hutan. Hal tersebut memberikan arti bahwa kondisi kekayaan jenis tumbuhan di bagian terdalam/tengah kawasan hutan TNGGP cenderung lebih tinggi apabila dibandingkan dengan kekayaan jenis tumbuhan di bagian terluar/tepi kawasan hutan TNGGP. Secara umum, pada bagian terluar/tepi kawasan hutan TNGGP kekayaan jenis tumbuhannya lebih rendah dikarenakan kawasan tersebut sebelumnya merupakan kawasan hutan produksi eks Perum Perhutani yang memiliki jenis-jenis tumbuhan yang sedikit.
2. Sebaran satwaliar langka atau dilindungi
Hasil penelitian (Gambar 28) menunjukkan bahwa kawasan hutan TNGGP pada umumnya memiliki skala intensitas variabel penilaian pada kriteria sebaran satwaliar langka atau dilindungi yang cenderung rendah di bagian terdalam/tengah kawasan hutan, kecuali di bagian puncak gunung skala intensitas variabel penilaiannya cenderung tinggi. Sedangkan skala intensitas variabel penilaian pada kriteria sebaran satwaliar langka atau dilindungi di bagian terluar/tepi kawasan hutan TNGGP cenderung tinggi. Hal tersebut memberikan arti bahwa kondisi sebaran satwaliar langka atau dilindungi di bagian terdalam/tengah kawasan hutan TNGGP, kecuali di bagian puncak gunung, cenderung lebih tinggi apabila dibandingkan dengan sebaran satwaliar langka atau dilindungi di bagian terluar/tepi kawasan hutan TNGGP.
Gambar 27 Peta skala intensitas variabel penilaian pada kriteria kekayaan jenis tumbuhan di kawasan TNGGP
Gambar 28 Peta skala intensitas variabel penilaian pada kriteria sebaran satwaliar langka atau dilindungi di kawasan TNGGP
3. Lereng (slope)
Hasil penelitian (Gambar 29) menunjukkan bahwa kawasan TNGGP pada umumnya memiliki skala intensitas variabel penilaian pada kriteria lereng (slope) yang cenderung tinggi di semua bagian kawasan hutan dan hanya sedikit bagian kawasan hutan yang memiliki skala intensitas variabel penilaian pada kriteria lereng (slope) yang rendah, yaitu pada umumnya terdapat di bagian terluar/tepi kawasan hutan. Hal tersebut memberikan arti bahwa kondisi lereng (slope) di semua bagian kawasan hutan TNGGP cenderung memiliki lereng yang curam dan hanya sedikit saja bagian kawasan hutan TNGGP yang memiliki lereng yang landai, yaitu pada umumnya terdapat di bagian terluar/tepi kawasan hutan.
Gambar 29 Peta skala intensitas variabel penilaian pada kriteria lereng (slope) di kawasan TNGGP
4. Elevasi/ketinggian
Hasil penelitian (Gambar 30) menunjukkan bahwa kawasan hutan TNGGP pada umumnya memiliki skala intensitas variabel penilaian pada kriteria elevasi/ ketinggian yang cenderung tinggi di bagian utara dan timur kawasan hutan yang mendekati puncak gunung dan cenderung rendah di bagian barat
dan selatan kawasan hutan yang menjauhi puncak gunung. Hal tersebut memberikan arti bahwa kondisi elevasi/ketinggian di bagian utara dan timur kawasan hutan TNGGP cenderung memiliki elevasi/ketinggian yang tinggi dan kondisi elevasi/ketinggian di bagian barat dan selatan kawasan hutan TNGGP cenderung memiliki elevasi/ketinggian yang rendah.
Gambar 30 Peta skala intensitas variabel penilaian pada kriteria elevasi/ ketinggian di kawasan TNGGP
5. Jenis tanah
Hasil penelitian (Gambar 31) menunjukkan bahwa kawasan hutan TNGGP pada umumnya memiliki skala intensitas variabel penilaian pada kriteria jenis tanah yang cenderung tinggi di bagian timur kawasan hutan, terutama yang mendekati puncak gunung dan cenderung rendah di bagian barat kawasan hutan. Hal tersebut memberikan arti bahwa kondisi jenis tanah di bagian timur kawasan hutan TNGGP, terutama yang mendekati puncak gunung cenderung memiliki jenis tanah yang peka dan jenis tanah di bagian barat kawasan hutan TNGGP cenderung memiliki jenis tanah yang kurang peka.
Gambar 31 Peta skala intensitas variabel penilaian pada kriteria jenis tanah di kawasan TNGGP
6. Intensitas hujan
Hasil penelitian (Gambar 32) menunjukkan bahwa kawasan hutan TNGGP pada umumnya memiliki skala intensitas variabel penilaian pada kriteria intensitas hujan yang cenderung tinggi di bagian timur dan selatan kawasan hutan dan cenderung rendah di bagian utara kawasan hutan. Hal tersebut memberikan arti bahwa kondisi intensitas hujan di bagian timur dan selatan kawasan hutan TNGGP cenderung memiliki intensitas hujan yang tinggi dan intensitas hujan di bagian utara kawasan hutan TNGGP cenderung memiliki intensitas hujan yang lebih rendah.
7. Luas kerusakan kawasan hutan konservasi
Hasil penelitian (Gambar 33) menunjukkan bahwa kawasan TNGGP pada umumnya memiliki skala intensitas variabel penilaian pada kriteria luas kerusakan kawasan hutan konservasi yang cenderung tinggi di bagian terluar/tepi kawasan hutan dan cenderung rendah di bagian terdalam/tengah kawasan hutan. Hal tersebut memberikan arti bahwa kondisi luas kerusakan kawasan hutan konservasi di bagian terluar/tepi kawasan TNGGP cenderung
memiliki luas kerusakan kawasan hutan yang lebih besar apabila dibandingkan dengan kondisi luas kerusakan kawasan hutan di bagian terdalam/tengah kawasan TNGGP.
Gambar 32 Peta skala intensitas variabel penilaian pada kriteria intensitas hujan di kawasan TNGGP
8. Kepadatan penduduk di desa-desa sekitar kawasan hutan konservasi
Hasil penelitian (Gambar 34) menunjukkan bahwa kawasan TNGGP pada umumnya memiliki skala intensitas variabel penilaian pada kriteria kepadatan penduduk di desa-desa sekitar kawasan hutan konservasi yang cenderung tinggi di bagian utara, timur, dan selatan kawasan hutan (wilayah Bogor dan Cianjur) dan cenderung lebih rendah di bagian barat kawasan hutan (wilayah Sukabumi). Hal tersebut memberikan arti bahwa kondisi kepadatan penduduk di desa-desa sekitar kawasan hutan konservasi di bagian utara, timur, dan selatan kawasan TNGGP (wilayah Bogor dan Cianjur) cenderung memiliki kepadatan penduduk yang lebih tinggi apabila dibandingkan dengan kondisi kepadatan penduduk di bagian barat kawasan TNGGP (wilayah Sukabumi).
Gambar 33 Peta skala intensitas variabel penilaian pada kriteria luas kerusakan hutan di kawasan TNGGP
Gambar 34 Peta skala intensitas variabel penilaian pada kriteria kepadatan penduduk di desa-desa sekitar kawasan TNGGP
9. Luas pemilikan/penguasaan lahan rata-rata masyarakat di desa-desa sekitar kawasan hutan konservasi
Hasil penelitian (Gambar 35) menunjukkan bahwa kawasan TNGGP pada umumnya memiliki skala intensitas variabel penilaian pada kriteria luas pemilikan/penguasaan lahan rata-rata masyarakat di desa-desa sekitar kawasan hutan konservasi yang cenderung tinggi di bagian utara, timur, dan selatan kawasan hutan (wilayah Bogor dan Cianjur) dan cenderung lebih rendah di bagian barat kawasan hutan (wilayah Sukabumi). Hal tersebut memberikan arti bahwa kondisi luas pemilikan/penguasaan lahan rata-rata masyarakat di desa-desa sekitar kawasan hutan konservasi di bagian utara, timur, dan selatan kawasan hutan TNGGP (wilayah Bogor dan Cianjur) cenderung memiliki luas pemilikan/penguasaan lahan rata-rata yang lebih kecil apabila dibandingkan dengan kondisi luas pemilikan/penguasaan lahan rata-rata di bagian barat kawasan hutan TNGGP (wilayah Sukabumi).
Gambar 35 Peta skala intensitas variabel penilaian pada kriteria luas pemilikan/ penguasaan lahan rata-rata masyarakat di desa-desa sekitar kawasan TNGGP
4.2.3.3. Lokasi/Bagian TNGGP yang Perlu Segera Direstorasi
Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan pembobotan dan overlay
terhadap peta-peta kriteria untuk menentukan lokasi/bagian TNGGP yang perlu segera direstorasi, maka dapat diketahui prioritas lokasi restorasi di kawasan TNGGP (Prioritas I, Prioritas II, Prioritas III, dan Prioritas IV) seperti terlihat pada Gambar 36.
Rumus yang digunakan dalam menentukan lokasi/bagian TNGGP yang perlu segera direstorasi adalah sebagai berikut:
∑
= = n i i ixS B Y 1dimana: Y = Nilai prioritas lokasi/bagian kawasan hutan konservasi yang perlu segera direstorasi
Bi = Bobot kriteria ke-i
Si = Skala intensitas kriteria ke-i
Adapun penentuan panjang selang interval untuk tiap kategori penilaian ditentukan dengan rumus:
P = ∑ - n Ymin Ymax Dimana:
P = Panjang selang interval tiap kategori penilaian Ymax = Nilai maksimum
Ymin = Nilai minimum
n = Jumlah kategori penilaian
Kategori penilaian untuk merumuskan lokasi/bagian kawasan hutan konservasi yang perlu segera direstorasi adalah sebagai berikut:
(5) Prioritas I (Prioritas Sangat Tinggi), nilai selang interval: >4 – 5 (6) Prioritas II (Prioritas Tinggi), nilai selang interval: >3 – 4 (7) Prioritas III (Prioritas Sedang), nilai selang interval: >2 – 3 (8) Prioritas IV (Prioritas Rendah), nilai selang interval: 1 – 2
Untuk kawasan hutan konservasi yang berupa hutan tanaman dengan tegakan penyusunnya jenis eksotik secara otomatis dimasukkan ke dalam kategori Prioritas I, karena menurut kaidah konservasi terdapatnya keaslian di suatu kawasan hutan konservasi merupakan hal yang mutlak.
Gambar 36 Peta prioritas lokasi restorasi di kawasan TNGGP
Berdasarkan peta prioritas lokasi restorasi di kawasan TNGGP tersebut dapat diketahui bahwa Prioritas I dan Prioritas II lokasi restorasi banyak terdapat di bagian terluar/tepi kawasan hutan TNGGP, sedangkan Prioritas III dan Prioritas IV lokasi restorasi banyak terdapat di bagian terdalam/tengah kawasan TNGGP. Sesuai dengan urutan prioritasnya, maka Prioritas I dan Prioritas II lokasi restorasi ini merupakan prioritas lokasi yang perlu diutamakan/didahulukan upaya restorasinya apabila dibandingkan dengan prioritas lokasi lainnya, yaitu Prioritas III dan Prioritas IV lokasi restorasi.
Prioritas I dan Prioritas II lokasi restorasi kawasan TNGGP ini pada umumnya terdapat di kawasan perluasan TNGGP, yaitu kawasan yang mengalami alih fungsi dari kawasan hutan produksi eks Perum Perhutani menjadi kawasan hutan konservasi yang kini dikelola sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kawasan TNGGP. Pada lokasi kawasan perluasan TNGGP ini memang banyak mengalami gangguan akibat berbagai aktivitas yang terjadi di kawasan tersebut, seperti: penebangan liar, pengambilan hasil hutan nonkayu, pengambilan kayu bakar, perambahan lahan, dan aktivitas penyadapan getah damar dan pinus serta kegiatan tumpangsari yang masih belum berhenti setelah
terjadinya alih fungsi kawasan hutan tersebut. Berbagai gangguan yang terjadi di kawasan hutan tersebut dapat menyebabkan kerusakan kawasan hutan.
Selain itu, pada lokasi kawasan perluasan TNGGP ini juga dapat dijumpai jenis-jenis tumbuhan yang tergolong eksotik berupa hutan tanaman miskin jenis. Keberadaan jenis-jenis tumbuhan eksotik di suatu kawasan hutan konservasi tidak sesuai dengan kaidah-kaidah konservasi yang mensyaratkan terjaganya keaslian jenis tumbuhan di kawasan hutan konservasi tersebut, sehingga untuk mengatasi keberadaan hutan miskin jenis dengan jenis-jenis tumbuhan eksotik di dalamnya tersebut harus direstorasi dengan menggunakan jenis-jenis tumbuhan asli agar dapat kembali seperti kondisi hutan/ekosistem awal yang diketahui.
Berbeda dengan Prioritas I dan Prioritas II lokasi restorasi, Prioritas III dan