• Tidak ada hasil yang ditemukan

4) Teori upacara sesaji Smith

2.2.8 Kearifan Lokal

Upacara adat merupakan sistem pemenuhan kebutuhan yang meliputi seluruh anasir kehidupan seperti: agama, pengetahuan adat istiadat, kerja keras, organisasi sosial, kesenian, dan identitas masyarakat adat. Upacara adat seharusnya terus dipertahankan dan dikembangkan karena mampu mengatur tata cara yang kehidupan bermasyarakat sehingga tatanan masyarakat lokal lebih terib dan teratur. Upacara adat pada setiap komunitas memiliki nilai-nilai kearifan lokal sebagai pengetahuan yang diperoleh dari satu generasi ke generasi berikutnya. Kearifan lokal tersebut dijadikan pedoman atau acuan oleh masyarakat dalam bertindak atau berperilaku dalam praksis kehidupannya.

Kearifan lokal sebagai pengetahuan yang diperoleh dengan berbagai strategi yang dilakukan secara turun temurun yang diwujudkan dalam aktifitas keseharian oleh masyarakat lokal untuk menghadapi persoalan kehidupan dan memenuhi berbagai masalah dalam kehidupan sehari-hari. Kearifan setempat yang dianggap sebagai pengetahuan setempat dalam menjawab berbagai persoalan

kehidupan bermasyarakat sering disebut dengan“lokal wisdom” atau pengetahuan setempat “lokal knowledge”atau kecerdasan setempat “lokal genious”.

Menurut Avonina (2006) kearifan lokal yaitu segala sesuatu yang terkait dengan bentuk-bentuk tradisional sebagai suatu berdasarkan budaya tertentu. Kearifan lokal diperoleh dalam berinteraksi dengan komunitas adat sehingga terciptalah kedamaian rasa tenteram dalam interaksi dengan interaksi itu diperoleh nilai-nilai kebaikan, sehingga tercipta kepribadian yang santun sebagai cermin nilai-nilai adat yang teratur.

Di sisi yang lain, pada tradisi lisan terkandung nilai-nilai kearifan lokal, yang dapat dimanfaatkan untuk mengatur tatanan kehidupan masyarakat secara arif dan bijaksana yang pada gilirannya membentuk karakteristik etnik yang berkepribadian budaya lokal. Sehingga, dengan pengetahuan lokal dapat mengatur tatanan kehidupan masyarakat yang terbias pada nilai-nilai luhur yang dapat cerminkan nilai-nilai budaya. The lokal wisdom is the community‟s wisdom or lokal genius deriving from the lofty value of cultural tradition in order to manage

the community‟s social order or social life.

Kearifan lokal memiliki elan vital karena berkaitan kebiasaan, suatu tradisi budaya sehingga menjadi tuntunan yang tidak tertulis tetapi tertanam serta diikuti oleh anggota masyarakat suatu komunitas. Hal ini ditegaskan oleh Rahyono (2009:4-11) kearifan akan menghasilkan nilai-nilai dan norma-norma yang luhur untuk kepentingan hidup bersama. Pada tahap penerapan, kearifan akan mengarahkan penerapan nilai-nilai dan norma-norma tersebut dalam wujud perilaku secara benar, bukan menyimpangkan atau membelokkan nilai ataupun norma tersebut untuk kepentingan individual.

Kearifan lokal atau lokal genius sebagai kecerdasan etnik yang dimiliki oleh komunitas yang diperoleh melalui pengalaman hidup sebagai ciri-ciri budaya etnik. Dengan kata lain, seorang anggota masyarakat budaya menjadi cerdas berkat pengalaman hidup yang dihayatinya. Ia memiliki kecerdasan karena proses belajar yang dilakukannya dalam perjalanan pengalaman hidup. Kearifan budaya selayaknya dihayati dan diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat secara berkesinambungan. Kearifan secara terus-menerus diterapkan dalam kehidupan akan meningkatkan martabat komunitas adat.

Pada hakikinya, nilai yang terkandung pada tradisi lisan sebagai sesuatu yang menyangkut baik dan buruk, sedangkan norma adalah sesuatu yang menyangkut benar dan salah. Oleh sebab itu, segala sesuatu yang baik dan buruk dapat disebut sebagai nilai dan sesuatu yang benar dan salah disebut norma. Nilai dan norma budaya merupakan pedoman atau prinsip umum yang dianut oleh setiap anggota masyarakat terutama dalam bersikap, berperilaku, dan juga menjadi patokan untuk mengevaluasi dan mencermati bagaimana individu dan kelompok bertindak dan berperilaku. Sistem nilai dan norma pada umumnya begitu kuat meresap dan berakar di dalam jiwa masyarakat sehingga menjadi bagian dari keyakinannya. Karena telah berakar, maka sistem nilai dan norma itu sulit berubah dalam waktu yang singkat. (Sibarani 2012: 179). Nilai dan norma budaya yang dapat digunakan untuk menata kehidupan manusia itulah yang disebut dengan kearifan lokal.

Nilai-nilai yang terkandung dalam kearifan lokal dapat tercermin dalam kehidupan sehari-hari. Adapun kearifan lokal yang mencerminkan nilai budaya diantaranya adalah kesejahteraan, kerja keras, disiplin, pendidikan, kesehatan,

gotong-royong, pengelolaan gender, pelestarian dan kreativitas budaya, peduli lingkungan, kedamaian, kesopansantunan, kejujuran, kesetiakawanan sosial, kerukunan dan penyelesaian konflik, komitmen, pikiran positif, dan rasa syukur (Sibarani 2012:133-134) yang dikelompokkan menjadi kearifan lokal inti yakni kearifan lokal kesejahteraan dan kearifan lokal kedamaian.

Pada masing-masing kearifan lokal terdapat kearifan lokal tambahan (sebagai penunjang) sehingga terdapat beberapa jenis kearifan lokal yaitu kearifan lokal inti (core lokal wisdoms) kesejahteraan yang meliputi budaya kerja atau etos kerja, disiplin, pendidikan, kesehatan, gotong-royong, pengelolaan gender, pelestarian dan kreativitas budaya, peduli lingkungan serta kearifan lokal inti (core lokal wisdoms) kedamaian yang meliputi kesopansantunan, kejujuran, kesetiakawanan sosial, kerukunan dan penyelesaian konflik, komitmen, pikiran positif dan rasa bersyukur

Pengkajian tradisi lisan dalam masyarakat perlu dilakukan, sehingga transformasi budaya sehingga paradigma dan sikap masyarakat harus diubah yang menganggap tradisi lisan itu kuno, ketinggalan zaman. Yang berdampak pada ketidak pedulian bahkan yang lebih parah lagi dengan membiarkan serta menelantarkan tradisi lisan. Oleh karena itu, perlu menjaga tradisi lisan dalam bentuk pendokumentasian yang berfungsi untuk mencegah dan atau memperlambat terjadinya proses kepunahan.

Pengkajian yang dilakukan pada tradisi lisan, dapat bermanfaat untuk memahami unsur-unsur kearifan lokal ditemukan dalam tradisi lisan mangupa horja godang adat Angkola yang sarat dengan aturan-aturan dan seremonial adat mangupa horja godang yang mengadung nilai-nilai kekeluargaan, nilai gotong

royong, kerukunan, nilai falsafah kerukunan, nilai keikhlasan bekerja, nilai identitas Dalihan na tolu sebagai penguat identitas, nilai estetis nasihat, sehingga nilai-nilai kearifan lokal upacara mangupa horja godang dapat memiliki penghargaan yang tinggi.

Dengan pengkajian tradisi mangupa horja godang akan lebih menghargai nilai-nilai kearifan lokal yang terstruktur akan mengoptimalkan cultural identity, yaitu suatu identitas/ kepribadian budaya bangsa yang menyebabkan sebuah bangsa mampu menyerap dan mengolah kebudayaan daerah sesuai watak dan identitas budaya setempat yang telah berlangsung secara turun temurun dari generasi ke generasi.

Salah satu butir Agenda Pembangunan Jangka Pembangunan Menengah Nasional Tahun 2004-2009 pada program 100 Hari Kabinet Indonesia Bersatu adalah, revitalisasi nilai-nilai kearifan lokal sebagai salah satu dasar pengembangan etika pergaulan sosial untuk memperkuat identitas nasional; serta meningkatkan kecintaan masyarakat terhadap budaya dan produk-produk dalam negeri. (Agenda Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2004-2009, Program 100 Hari Kabinet Indonesia Bersatu, 2004:11) dalam sinar (2011:168).

Padahal sejatinya elan vital nilai-nilai budaya lokal perlu tereksplorasi sebagai muatan dasar kurikulum pendidikan yang mampu menyerap nilai-nilai kebudayaan lokal. Sehingga nilai-nilai kearifan lokal dapat terakomodir pada kurikulum pendidikan yang mengembangkan nilai-nilai budaya lokal secara terencana dan berkesinambungan pada kurikulum pendidikan, agar pendidikan berkarakter kultur Angkola (Tapanuli) yang memiliki kemampuan memfilter dan berkemampuan bertahan terhadap budaya luar.

Tradisi mangupa horja godang Angkola merupakan sumber kearifan lokal yang memerlukan perhatian agar tidak mati, karena semuanya merupakan kenyataan hidup (living reality) yang tidak dapat dihindari dari manifestasi gagasan dan nilai-nilai kearifan lokal sehingga saling menguatkan dan untuk meningkatkan wawasan dalam saling mengapresiasi. Sehingga menjadi bahan perbandingan untuk menemukan persamaan pandangan hidup yang berkaitan dengan nilai kebajikan dan kebijaksanaan (virtue and wisdom).

Kearifan lokal (lokal wisdom) merupakan bagian dari sistem budaya yang biasanya yang mengatur hubungan sosial kemasyarakatan. Setiap masyarakat diharapkan mengembangkan kearifan lokal sesuai dengan kondisi lingkungan sosialnya maupun lingkungan alamnya serta sistem pengetahuan adat istiadat yang dimilikinya.

Dokumen terkait