BAB I PENDAHULUAN
E. Keaslian Penelitian
Berdasarkan hasil penelusuran yang dilakukan di Fakultas Magister Ilmu Hukum diseluruh Universitas yang ada di Indonesia, baik secara fisik maupun online judul tesis yang berjudul “Kendala Pengajuan Klaim Asuransi Jiwa Disebabkan Kelalaian Pihak Pemegang Polis terkait dengan Kewajiban Pemberitahuan (Studi Putusan Arbitrase / Mediasi Penyelesaian Sengketa Konsumen Nomor : 005/BPSK-TT/KEP/IV/2016)” belum pernah dilakukan.
Namun ada beberapa penelitian sebelumnya terkait judul tersebut antara lain :
1. Dudi Badruzaman. Program Studi Hukum Ekonomi Syariah, STAI Sabili Bandung dengan judul, “Perlindungan Hukum Tertanggung Dalam Pembayaran Klaim Asuransi Jiwa”. Adapun perumusan masalahny sebagai berikut :
a. Bagaimana perlindungan hukum tertanggung dalam pembayaran klaim asuransi jiwa?
b. Bagaimana tanggung jawab perusahaan asuransi dalam pembayaran klaim asuransi jiwa?
c. Bagaimana penyelesaian sengketa dan perbedaan unsur premi asuransi syari’ah dengan dan konvensional?
2. Panji Adhisetiawan. Program Studi Hukum Ekonomi Fakultas Hukum Program Pasca Sarjana Program Studi Ilmu Hukum, Universitas Indonesia dengan judul “Analis Yuridis Terhadap Penyelesaian Sengketa Klaim Asuransi
Diamond Investa antara PT Asuransi Jiwa Bakrie dengan Tertanggung”.
Adapun perumusan masalahnya sebagai berikut :
a. Apakah jenis produk asuransi “diamond investa” yang diterbitkan oleh PT.
Asuransi Jiwa Bakrie?
b. Bagaimana bentuk pelanggaran yang terjadi pada penempatan investasi yang dilakukan oleh Bakrie Life berdasarkan ketentuan Keputusan Menteri Keuangan (KMK) Nomor 424/KMK.06/2003 Jo. Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No. 158/PMK/010/2008?
c. Bagaimana upaya hukum atas penyelesaian klaim asuransi “Diamond Investa” yang dapat dilakukan oleh pihak tertanggung pada kasus ini?
3. Eti Andriani. Program Studi Hukum Keperdataan Fakultas Hukum Universitas Syah Kuala dengan judul, “Pelaksanaan Kewajiban Pemberitahuan Tentang Objek Oleh Tertanggung Kepada Penanggung Pada Asuransi Kendaraan Bermotor”.
Adapun perumusan masalahnya sebagai berikut :
a. Bagaimana pelaksanaan kewajiban pemberitahuan oleh pihak tertanggung terhadap objek yang diasuransikan?
b. Bagaimana penerapan ganti rugi pada asuransi kendaraan bermotor yang disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas?
c. Apakah penyebab penolakan klaim asuransi pada PT.Asuransi Ramayana Tbk Cabang Banda Aceh?
4. Nur Eka Pradata. Program Studi Hukum Bisnis, Fakultas Hukum Reguler, Universitas Indonesia dengan judul, “Analisis Yuridis Dampak Penerbitan Polis Terhadap Pengajuan Klaim Oleh Tertanggung Dalam Asuransi Kesehatan”.
Adapun perumusan masalahnya sebagai berikut :
a. Bagaimana kedudukan polis dalam asuransi kesehatan menurut peraturan perundang-undangan?
b. Bagaimana tanggung jawab penanggung dan tertanggung dalam asuransi kesehatan apabila polis belum terbit?
c. Bagaimana dampak yang ditimbulkan akibat belum diterbitkannya polis terkait pengajuan klaim oleh tertanggung dalam asuransi kesehatan?
5. Komang Ayu Devi Natasia . Program Studi Hukum Bisnis, Universitas Udayana dengan judul, “Upaya Hukum terhadap Penolakan Klaim Asuransi Jiwa oleh PT Prudential Life Assurance Cabang Gatsu”. Adapun perumusan masalahnya sebagai berikut :
a. Bagaimana prosedur pengajuan klaim dan faktor-faktor yang menyebabkan klaim ditolak oleh PT.Prudential Life Assurance Cabang Gatsu?
b. Apa faktor yang menyebabkan klaim ditolak oleh PT Prudential Life Assurance Cabang Gatsu?
c. Upaya hukum atas penolakan klaim dalam pelaksanaan Asuransi Jiwa pada PT Prudential Life Assurance Cabang Gatsu?
Setelah melakukan screening mengenai kesamaan atau telah dilakukannya penelitian sebelumnya mengenai hambatan pengajuan klaim asuransi jiwa disebabkan kelalaian pihak Pemegang Polis, tidak ada satupun penelitian yang membahas dan mendekati hal tersebut. Maka daripada itu, penelitian ini sangat orisinil keasliannya dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dikarenakan penelitian yang baru dan belum ada yang menyinggung atau meneliti hal tersebut.
Adapun perbedaan antara penelitian yang sudah ada dengan penelitian yang akan dibahas yaitu pada rumusan masalah yang terdapat pada penelitian-penelitian di atas, yang hanya sekedar membahas peran dan tanggung jawab setiap pihak-pihak yang terlibat dalam perjanjian asuransi jiwa khususnya dalam pelaksanaan pencairan klaim asuransi jiwa, sedangkan pada penelitian ini lebih spesifik membahas tentang hambatan-hambatan yang terjadi pada pengajuan klaim asuransi jiwa (klaim meninggal dunia) yang disebabkan adanya kelalaian Pihak Pemegang Polis terkait kewajiban pemberitahuan riwayat kesehatannya. Selain itu, perbedaan yang terdapat pada penelitian yang akan dibahas yaitu adanya kronologi permasalahan atau alur cerita yang terdapat pada Putusan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen Nomor : 005/BPSK-TT/KEP/IV/2016 dimana terdapat ketidaksesuaian isi putusan dengan kronologi kasus yang terjadi dan tertulis dalam isi putusan tersebut.
F. Kerangka Teori dan Kerangka Konsep
1. Kerangka Teori
Teori diartikan sebagai suatu sistem yang berisikan proposisi-proposisi yang telah diuji kebenarannya, berpedoman pada teori maka akan dapat menjelaskan, aneka macam gejala sosial ang dihadapi, walau hal ini tidak selalu berarti adanya perpecahan terhadap masalah yang dihadapi, suatu teori juga mungkin memberikan pengarahan pada aktivitas penelitian yang dijalankan dan memberikan taraf pemahaman tertentu.16
Suatu penelitian diperlukan adanya landasan teoritis. Landasan teoritis merupakan “kerangka pemikiran atau butir-butir pendapat, teori, asas maupun konsep yang relevan digunakan untuk mengupas suatu permasalahan.”17 Untuk meneliti mengenai suatu permasalahan hukum, maka pembahasan yang relevan untuk menjawab permasalahan yang muncul dalam suatu penelitian hukum. 18
Teori hukum merupakan “cabang ilmu hukum yang menganalisis secara kritis dalam perspektif interdisipliner, dari berbagai aspek perwujudan (fenomena) hukum secara tersendiri atau menyeluruh, baik dalam konsepsi
16 Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, (Jakarta : Universitas Indonesia, 2003), hlm.6.
17 M.Solly Lubis dan Salim,HS, Perkembangan Teori Dalam Ilmu Hukum, (Jakarta : Rajawali Pers, 2010), hlm.54.
18 M.Solly Lubis, Filsafat Ilmu dan Penelitian, (Bandung : Mandar Majur, 1994), hlm.80.
teoritis maupun dalam pelaksanaan praktis dengan tujuan memperoleh pengetahuan yang lebih baik dan uraian yang lebih jelas tentang bahan-bahan yuridis ini.”19
Adapun kerangka teori yang akan dijadikan landasan untuk menjawab rumusan masalah dalam penulisan tesis ini adalah teori kepastian hukum, teori perjanjian, teori perlindungan hukum dan teori perlindungan konsumen.
a. Teori Kepastian Hukum
Bagir Manan berpendapat bahwa :
“kepastian hukum tidak selalu sama dengan keadilan, bahkan ada kemungkinan saling bertolak belakang dengan keadilan, tetapi tanpa kepastian akan menjadi sangat menjadi subyekif karena sepenuhnya terantum pada si pembuat ketentuan atau yang mengendalikan kepastian.
Keadilan yang seperti ini dapat melahirkan ketidakadilan”20 Berbeda dengan pendapat Gustav Redbruch, kepastian hukum merupakan salah satu nilai dasar dari hukum. Mengenai kepastian hukum yang paling penting adalah peraturannya, terlepas peraturan itu adil atau tidak adil dan bermanfaat bagi masyarakat atau tidak.21
Van Apeldorn mengemukakan dua pengertian tentang kepastian hukum, seperti berikut :
1) Kepastian hukum berarti dapat ditentukan hukum apa yang berlaku untuk masalah-masalah kongkrit. Dengan dapat ditentukan masalah-masalah
19 Bani Affan, “Analisis yuridis atas hak dan kewajiban para pihak dalam perjanjian antara driver/ pemilik kendaraan dengan perusahaan penyedia jasa aplikasi transportasi online”, Jurnal Hukum, hlm.13.
20 Farida Fitriyah, Hukum Pengadaan Tanah Transmigrasi, (Malang : Setara Press,2016), hlm 37-38.
21 Ibid.
konkrit, pihak-pihak yang berperkara sudah dapat mengetahui sejak awal ketentuan-ketentuan apakah yang akan dipergunakan dalam sengketa tersebut.
2) Kepastian hukum berarti perlindungan hukum, dalam hal ini pihak ang bersengketa dapat dihindari dari kesewenang-wenangan penghakiman. 22 Menurut Sudikno Mertukusumo, kepastian hukum merupakan “sebuah jaminan bahwa hukum tersebut harus dijalankan dengan cara yang baik.”
Kepastian hukum menghendaki adanya upaya pengaturan hukum dalam perundang-undangan yang dibuat oleh pihak yang berwenang dan berwibawa, sehingga aturan-aturan itu memiliki aspek yuridis yang dapat menjamin adanya kepastian bahwa hukum berfungsi sebagai suatu peraturan yang harus ditaati.23
Teori Kepastian Hukum mengandung 2 (dua) pengertian, yaitu :
1) Adanya aturan yang bersifat umum membuat individu mengetahui perbuatan apa yang boleh atau tidak boleh dilakukan;
2) Keamanan hukum bagi individu dari kesewenangan pemerintah karena dengan adanya aturan hukum yang bersifat umum itu individu dapat mengetahui apa saja yang boleh dibebankan ataudilakukan oleh negara terhadap individu.24
Teori kepastian hukum menegaskan bahwa tugas hukum itu menjamin kepastian hukum dalam hubungan-hubungan pergaulan kemasyarakatan.
Terjadi kepastian yang dicapai “oleh karena hukum”. Dalam tugas itu
22 Peter Mahmud Marzuki I, Penelitian Hukum, (Jakarta : Kencana, 2005), hlm.59-60 (untuk selanjutnya disebut Peter Mahmud Marzuki II).
23 Asikin zainal, Pengantar Tata Hukum Indonesia, (Jakarta : Rajawali Pres, 2012), hlm.4
24 Peter Mahmud Marzuki I, Op.cit, hal.137.
tersimpul dua tugas lain yakni hukum harus menjamin keadilan maupun hukum harus tetap berguna.25
Kepastian hukum menunjuk kepada pemberlakuan hukum yang jelas, tetap, konsisten dan konsekuen yang pelaksanaannya tidak dapat dipengaruhi oleh keadaan-keadaan yang sifatnya subjektif. Kepastian dan keadilan bukanlah sekedar tuntutan moral, melainkan secara factual mencirikan hukum. Suatu hukum yang tidak pasti dan tidak mau adil bukan sekedar hukum yang buruk.26
Hubungan yang dikaitkan dengan penelitian ini yaitu untuk menjawab permasalahan no.1 tentang bagaimana hukum tertulis yang paling tepat dan pasti untuk menjelaskan peraturan kewajiban pemberitahuan khususnya pemberitahuan riwayat kesehatan dalam asuransi jiwa.
Pengaturan disebut sebagai nilai dasar hukum yang mengikatnya. Adanya nilai dasar hukum tesebut dapat menjadi informasi dan aturan mengikat diantara kedua belah pihak yaitu Pemegang Polis dan Perusahaan Asuransi untuk melaksanakan itikad baiknya dengan menjelaskan riwayat kesehatan Pemegang Polis dengan sejujur-jujurnya sehingga Perusahaan Asuransi
25 M. Solly Lubis, Diktat Teori Hukum, Program Pasca Sarjana Ilmu Hukum, USU Medan, 2007, hlm. 43.
26 Cst Kansil, Christine, Engelien R, Palandeng dan Godlieb N Mamahit, Kamus Istilah Hukum, (Jakarta : Jala Permata Aksara, 2009), hlm. 385.
dapat menentukan jenis polis yang paling tepat untuk kebutuhan kesehatan Pemegang Polis.
b. Teori Kesepakatan
Kesepakatan atau kata sepakat merupakan bentukkan atau merupakan unsur dari suatu perjanjian (Overeenkomst) yang bertujuan untuk menciptakan suatu keadaan dimana pihak-pihak yang mengadakan suatu perjanjian mencapai suatu kesepakatan atau tercapainya suatu kehendak.27
Kata sepakat sendiri bertujuan untuk menciptakan suatu keadaan dimana pihak-pihak yang mengadakan suatu perjanjian mencapai suatu kehendak. 28
Menurut Riduan Syahrani bahwa :
“Sepakat mereka yang mengikatkan dirinya mengandung bahwa para pihak yang membuat perjanjian telah sepakat atau ada persetujuan kemauan atau menyetujui kehendak masing-masing yang dilakukan para pihak dengan tiada paksaan, kekeliruan dan penipuan”.29
27 Pasal 1320 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.
28 Ibid.
29 Riduan Syahrani, Seluk Beluk dan Asas-asas Hukum Perdata, (Bandung : Alumni, 2000), hlm. 214.
Menurut Van Dunne, yang diartikan dengan perjanjian, adalah : “Suatu hubungan hukum antara dua pihak atau lebih berdasarkan kata sepakat untuk menimbulkan akibat hukum.”30
Kesepakatan berarti “ada persesuaian kehendak yang bebas antara para pihak mengenai hal-hal pokok yang diinginkan dalam perjanjian.” Dalam hal ini, antara para pihak harus mempunyai kemauan yang bebas (sukarela) untuk mengikatkan diri, di mana kesepakatan itu dapat dinyatakan secara tegas maupun diam-diam. Bebas di sini artinya adalah “bebas dari kekhilafan (dwaling, mistake), paksaan (dwang, dures), dan penipuan (bedrog, fraud).” Secara a contrario, berdasarkan Pasal 1321 KUHPerdata, perjanjian menjadi tidak sah, apabila kesepakatan terjadi karena adanya unsur-unsur kekhilafan, paksaan, atau penipuan.31
Suatu perjanjian dianggap lahir atau terjadi, pada saat dicapainya kata sepakat antara para pihak yang mengadakan perjanjian. Kata sepakat atau consensus mengandung pengertian bahwa para pihak saling menyatakan
kehendaknya masing-masing untuk menutup sebuah perjanjian dan kehendak yang satu sesuai secara timbal balik dengan pihak yang lain.
Pernyataan kehendak tersebuat selain dapat dinyatakan secara tegas dengan
30 Salim H.S, Perkembangan Hukum Kontrak Innominaat di Indonesia, (Jakarta : Sinar Grafika, 2008), hlm.16.
31 Shanti Rachmadsyah., Hukum Perjanjian, diakses dari www. hukumonline.com pada tanggal 25 April 2020 pukul 12.00 WIB.
kata-kata juga dapat dilakukan dengan perbuatan atau sikap yang mencerminkan adanya kehendak untuk mengadakan perjanjian.32
Berdasarkan penjelasan di atas alasan penggunaan teori kesepakatan adalah teori ini sangat relevan untuk menjawab permasalahan no.2 dalam penelitian yang membahas tentang kendala yang akan terjadi dalam pengajuan klaim asuransi jiwa jika pihak pemegang polis melakukan kelalaian terkait dengan kewajiban pemberitahuan.
Perusahaan asuransi dengan tegas akan menjelaskan kepada calon nasabah yang disebut dengan “Pemegang Polis” tentang bagaimana isi polis atau hal-hal yang akan disepakati atau diperjanjikan selama polis asuransi bersifat aktif. Setiap pernyataan akan meimbulkan dampak positif dan negatif bagi kedua belah pihak.
Pengajuan klaim dapat dilakukan jika polis asuransi dalam keadaan aktif.
Pengajuan klaim merupakan hak dari Pemegang Polis maupun Penerima Manfaat yang sudah ditunjuk oleh Pemegang Polis pada saat awal pembentukan perjanjian asuransi.
Teori ini dapat membantu dalam memperoleh jawaban dalam penelitian ini terkait apa saja kendala atau dampak yang akan terjadi dalam pengajuan
32 Shanti Rachmadsyah., Hukum Perjanjian, diakses dari www. hukumonline.com pada tanggal 25 April 2020 pukul 12.00 WIB.
klaim yang dilakukan Penerima Manfaat asuransi, jika pada awal pembuatan polis pihak Pemegang Polis tidak menjalankan itikad baik dalam kesepakatan, yaitu tidak menjelaskan riwayat kesehatan pribadinya dengan jujur atau disebut dengan istilah tidak melaksanakan “kewajiban pemberitahuan” dalam asuransi jiwa.
c. Teori Keadilan
Keadilan berasal dari kata adil, menurut Kamus Bahasa Indonesia adil adalah "tidak sewenang-wenang, tidak memihak, tidak berat sebelah.” Adil terutama mengandung arti bahwa “suatu keputusan dan tindakan didasarkan atas norma-norma objektif.”33 Keadilan pada dasarnya adalah “suatu konsep yang relatif, setiap orang tidak sama, adil menurut yang satu belum tentu adil bagi yang lainnya, ketika seseorang menegaskan bahwa ia melakukan suatu keadilan, hal itu tentunya harus relevan dengan ketertiban umum dimana suatu skala keadilan diakui. Skala keadilan sangat bervariasi dari satu tempat ketempat lain, setiap skala didefinisikan dan sepenuhnya ditentukan oleh masyarakat sesuai dengan ketertiban umum dari masyarakat tersebut.”34
Indonesia menggambarkan keadilan dalam Pancasila sebagai dasar negara, yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Dalam sila kelima tersebut terkandung nilai-nilai yang merupakan tujuan dalam hidup
34 Hyronimus Rhiti, Filsafat Hukum Edisi Lengkap (Dari Klasik ke Postmodernisme), Ctk.Kelima, Universitas Atma Jaya, Yogyakarta, 2015, hlm. 241.
bersama. Adapun keadilan tersebut didasari dan dijiwai oleh hakikat keadilan kemanusiaan yaitu keadilan dalam hubungannya manusia dengan dirinya sendiri, manusia dengan manusia lainnya. manusia dengan masyarakat, bangsa, dan negara, serta hubungan manusia dengan Tuhannya.35
Teori Keadilan Thomas Hobbes ialah “suatu perbuatan dapat dikatakan adil apabila telah didasarkan pada perjanjian yang telah disepakati.” Dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa keadilan atau rasa keadilan baru dapat tercapai saat adanya kesepakatan antara dua pihak yang berjanji.
Perjanjian disini diartikan dalam wujud yang luas tidak hanya sebatas perjanjian dua pihak yang sedang mengadakan kontrak bisnis, sewa-menyewa, dan lain-lain. Melainkan perjanjian disini juga perjanjian jatuhan putusan antara hakim dan terdakwa, peraturan perundang-undangan yang tidak memihak pada satu pihak saja tetapi saling mengedepankan kepentingan dan kesejahteraan publik.36
Roscoe Pound melihat keadilan dalam hasil-hasil konkrit yang bisa diberikannya kepada masyarakat. Ia melihat bahwa hasil yang diperoleh itu hendaknya berupa pemuasan kebutuhan manusia sebanyak-banyaknya dengan pengorbanan yang sekecil-kecilnya. Pound sendiri mengatakan, bahwa ia sendiri senang melihat:
35 Ibid, 242.
36 Ibid.
“semakin meluasnya pengakuan dan pemuasan terhadap kebutuhan, tuntutan atau keinginan-keinginan manusia melalui pengendalian sosial; semakin meluas dan efektifnya jaminan terhadap kepentingan sosial; suatu usaha untuk menghapuskan pemborosan yang terus-menerus dan semakin efektif dan menghindari perbenturan antara manusia dalam menikmati sumber-sumber daya, singkatnya social engineering semakin efektif”.37
Teori Keadilan Hans Kelsen adalah “suatu tertib sosial tertentu yang dibawah lindungannya usahqqa untuk mencari kebenaran dapat berkembang dan subur”. Karena keadilan menurutnya adalah keadilan kemerdekaan, keadilan perdamaian, keadilan demokrasi–keadilan toleransi.38
Keadilan hukum bagi masyarakat tidak sekedar keadilan yang bersifat formal-prosedural, keadilan yang didasarkan pada aturan-aturan normatif yang rigid yang jauh dari moralitas dan nilai-nilai kemanusiaan. Lawan dari keadilan formal-prosedural adalah keadilan substantif, yakni keadilan yang ukurannya bukan kuantitatif sebagaimana yang muncul dalam keadilan formal, tetapi keadilan kualitatif yang didasarkan pada moralitas publik dan nilai-nilai kemanusiaan dan mampu mermberikan kepuasan dan kebahagiaan bagi masyarakat.39
Hukum nasional hanya mengatur keadilan bagi semua pihak, oleh karenanya keadilan didalam perspektif hukum nasional adalah keadilan yang menserasikan atau menselaraskan keadilan-keadilan yang bersifat umum
37 Muhammad Syukri Albani Nasution, Hukum dalam Pendekatan Filsafat, Ctk. Kedua, (Jakarta : Kencana, 2017), hlm. 217-218.
38 Ibid, hlm.219
39 Umar Sholehudin, Hukum dan Keadilan Masyarakat, (Surabaya : Setara Press,2017), hlm.43.
diantara sebagian dari keadilan-keadilan individu. Dalam keadilan ini lebih menitikberatkan pada keseimbangan antara hak-hak individu masyarakat dengan kewajiban-kewajiban umum yang ada didalam kelompok masyarakat hukum.40
Alasan penggunaan teori ini adalah untuk menjawab permasalahan no. 3 dalam penelitian ini, yaitu bagaimana lembaga BPSK memutuskan gugatan perkara yang disampaikan oleh pihak ahli waris terhadap Perusahaan Asuransi PT. Lembaga BPSK menggunakan teori keadilan untuk menilai sikap dan putusan bagaimana yang paling tepat agar bersifat adil di kedua belah pihak sehingga memutuskan untuk membatalkan surat penolakan klaim yang dilakukan oleh Perusahaan Asuransi PT.Squislife terhadap pengajuan klaim meninggal dunia yang dilakukan oleh ahli waris pemegang polis.
2. Kerangka Konseptual
Kerangka konseptual adalah “hasil penalaran dari pengusul proposal yang berisi penjelasan tentang hubungan atau kaitan antara konsep satu terhadap konsep yang lainnya dari masalah yang ingin diteliti.” Kerangka konseptual ini pada dasarnya merupakan alur pikir yang memberikan arah bagi jalannya penelitian secara konseptual. Kerangka konseptual disusun dengan memperhatikan
40 Mochtar Kusumaatmadja dan B. Arief Sidharta, Pengantar Ilmu Hukum, Suatu Pengenalan Pertama Ruang Lingkup Berlakunya Ilmu Hukum, (Bandung, Alumni, 2000), hlm.30.
konsep hukum yang terkandung dalam kerangka teoritis yang dipergunakan sebagai pisau analisis penelitian.41
Kerangka konsep dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : a. Asuransi Jiwa
Asuransi jiwa adalah “sebuah layanan asuransi yang digunakan sebagai bentuk perlindungan terhadap timbulnya kerugian finansial atau hilangnya pendapatan seseorang atau keluarga akibat adanya kematian anggota keluarga (tertanggung) yang biasanya menjadi sumber nafkah bagi keluarga tersebut”.42
b. Manfaat Asuransi
Asuransi jiwa berguna untuk menanggulangi kerugian finansial yang tidak terduga akibat risiko kematian atau risiko hidup terlalu lama. Hal ini membantu para nasabah asuransi jiwa untuk mengcover biaya hidup keluarga yang ditinggalkan atau bahkan membiayai dirinya sendiri di masa tua. Uang Pertanggungan ialah bentuk tanggung jawab dari pihak penanggung atau “ganti rugi” apabila terjadi sesuatu terhadap hal yang ditanggungkan (pihak tertanggung). Hal inilah disebut dengan manfaat asuransi.43
c. Keadaan Evenement
Dalam Pasal 304 KUHD yang mengatur tentang isi polis, tidak ada ketentuan keharusan mencantumkan evenement dalam polis asuransi jiwa berbeda dengan asuransi kerugian, Pasal 256 ayat (1) KUHD mengenai isi polis mengharuskan Pencantuman bahaya-bahaya yang menjadi beban penanggung.
41 Pedoman penulisan tesis magister ilmu hukum, op.cit. hlm.7.
42 Deny Guntara, Asuransi dan ketentuan-ketentuan hukum yang mengaturnya, Jurnal Justisi Ilmu Hukum, Universitas Buana Perjuangan Karawang, Vol 1, No 1, 2016, hlm. 29.
43 https://www.pfimegalife.co.id/, Proteksi, Manfaat Asuransi yang Wajib diketahui, di akses pada tanggal 2 Juli 2020 pukul 13.00 WIB.
Dalam asuransi jiwa yang dimaksud dengan bahaya adalah meninggalnya orang yang jiwanya diasuransikan. Meninggalnya seseorang itu merupakan hal yang sudah pasti, setiap makhluk bernyawa pasti mengalami kematian. Akan tetapi kapan meninggalnya seseorang tidak dapat dipastikan. lnilah yang disebut peristiwa tidak pasti (evenement) dalam asuransi jiwa. Evenement ini hanya 1 (satu), yaitu ketidakpastian kapan meniggalnya seseorang sebagai salah satu unsur yang dinyatakan dalam definisi asuransi jiwa. Karena evenement ini hanya 1 (satu), maka tidak perlu di cantumkan dalam polis. 44
d. Klaim Asuransi
Klaim asuransi adalah “sebuah permintaan resmi kepada perusahaan asuransi, untuk meminta pembayaran berdasarkan ketentuan polis asuransi.”45
e. Pemegang Polis
Pemegang polis adalah “pihak yang memiliki wewenang untuk memegang polis yang disetujui sekaligus pembayar premi”.46
f. Penerima Manfaat
Penerima manfaat dalam asuransi jiwa adalah “ahli waris yang ditunjuk oleh pemegang polis untuk menerima uang pertanggungan dan namanya disebutkan dalam polis asuransi jiwa.”47
44 Henky K. V. Paendong, “Perlindungan Pemegang Polis Pada Asuransi Jiwa dikaitkann dengan Nilai Investasi”, Vol.1, No.6, Juli 2020.
45 Sri Handayani, Pengaruh Penyelesaian Klaim Asuransi Terhadap Pencapaian Target Penjualan Produk Asuransi AJB Bumiputera 1912 Cabang Bengkulu, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Dehasen Bengkulu, hlm. 79.
46 Ibid.
47 Allianz Indonesia, Siapa Saja yang Dapat Menjadi Penerima Manfaat dalam Asuransi Jiwa ? diakses oleh www.allianz.co.id pada tanggal 27 Februari 2020.
g. Ahli Waris
Ahli waris adalah “seseorang atau beberapa orang yang ditunjuk oleh Pemegang Polis dan menurut hukum yang berlaku adalah sah dan dibuktikan dengan dokumen yang sah menurut ketentuan yang berlaku di Republik Indonesia, sebagaimana tertera dalam Halaman Data Polis, untuk menerima manfaat Asuransi jika Tertanggung meninggal dunia.” 48
h. BPSK
BPSK adalah “suatu Badan/Lembaga independent, badan publik yang mempunyai tugas dan wewenang antara lain melaksanakan penanganan dan penyelesaianan sengketa konsumen secara Konsiliasi, Mediasi dan Arbitrase, memberikan konsultasi perlindungan konsumen, melakukan pengawasan terhadap pencantuman klausula baku, melaporkan kepada penyidik umum, menerima pengaduan baik tertulis maupun tidak tertulis, memanggil pelaku
BPSK adalah “suatu Badan/Lembaga independent, badan publik yang mempunyai tugas dan wewenang antara lain melaksanakan penanganan dan penyelesaianan sengketa konsumen secara Konsiliasi, Mediasi dan Arbitrase, memberikan konsultasi perlindungan konsumen, melakukan pengawasan terhadap pencantuman klausula baku, melaporkan kepada penyidik umum, menerima pengaduan baik tertulis maupun tidak tertulis, memanggil pelaku