• Tidak ada hasil yang ditemukan

Putusan Hakim BPSK

Dalam dokumen OLEH : NANDA LUCYA GULTOM (Halaman 106-0)

BAB IV PERTIMBANGAN HUKUM BADAN PENYELESAIAN

A. Putusan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen

4. Putusan Hakim BPSK

a. Menetapkan, Memutuskan, Mengabulkan sebahagian permohonan tuntutan ;

b. Menghukum asuransi jiwa Sequis Life untuk membatalkan Surat No.

78,79 & 80 /k/m/sq/ atas penolakan sepihak atas Polis Nomor 00308667-5 ;

c. Menghukum asuransi jiwa Sequis Life untuk membayar santunan sebesar Rp. 300.000.000,- (Tiga Ratus Juta Rupiah) kepada Ahli Waris berdasarkan Polis Nomor : 300308667-5 ;

d. Menolak tuntutan Ahli Waris untuk ganti rugi sebesar Rp. 500.000.000,- (Lima Ratus Juta Rupiah).

B. Analisis Pertimbangan Hukum BPSK No : 005 / BPSK-TT / KEP/ IV / 2016

Berdasarkan Putusan BPSK No : 005 / BPSK-TT / KEP/ IV / 2016 terdapat tiga hal yang merupakan ketidaksesuaian isi Putusan dengan Fakta dan Pertimbangan Hukum Hakim yang merugikan Pihak Perusahaan Asuransi PT.Sequislife, yaitu pertimbangan hukum poin ke-1, fakta hukum poin ke-5 dan fakta hukum poin ke-3. Terdapat kekeliruan yang dilakukan oleh Hakim BPSK pada saat mempertimbangkan putusan berdasarkan penelusuran fakta hukum dari kronologi kasus yang dicantumkan oleh pihak Penggugat. Hal ini menjadi alasan putusan no 1 dan 2 seharusnya tidak dicantumkan pada putusan tersebut.

Pertama, pada bagian pertimbangan hukum hakim poin ke -1, merujuk pada perihal duduknya perkara oleh Pemohon poin 3, yaitu :

“Bahwa dalam kolom pengisian formulir tentang riwayat kesehatan Tan Lie Lie cukup sehat dan tidak ada cacat badan dan mental serta penyakit akut yang dideritanya. (Fotokopi isian formulir terlampir)” dan pada perihal duduknya perkara poin ke-5 yaitu, “Bahwa tanggal 24 September 2015, Tan Lie Lie meninggal dunia di RSU. Sri Pamela Tebing Tinggi karena sakit yang dideritanya sesuai dengan Surat Kematian dari dokter yang merawatnya pada RSU. Sri Pamela (copy terlampir).” menunjukkan adanya ketidaksesuaian pernyataan dengan fakta yang terjadi.

Tan Lie Lie selaku Pemegang Polis telah resmi menjadi Pemegang Polis pada tanggal 07 Mei 2015. Jangka waktu peresmian dan kematian Pemegang Polis adalah 4 bulan lamanya. Dalam penjelasannya juga diterangkan bahwa Pemegang Polis meninggal dikarenakan penyakit yang dideritanya (tidak dijelaskan jenis penyakit secara detail).

Perusahaan Asuransi melakukan penelusuran dengan melakukan wawancara dan konsultasi berdasarkan dokumen klaim yang diajukan oleh pihak keluarga Pemegang Polis dan riwayat penyakit Pemegang Polis semasa hidupnya, maka diperolehnya data sebagai berikut :

1. Bahwa Tertanggung meninggal dunia pada tanggal 24 September 2015 di RS Sri Pamela Tebing Tinggi dengan diagnosa kematian adalah CKD (Chronic Kidney Disease).

2. Dari hasil penelusuran yang dilakukan kepada pihak medis diketahui bahwa Tertanggung mempunyai riwayat perawatan sebagai berikut:

a. Rawat jalan tanggal 20 Oktober 2014 diagnosa Hipertensi, Dsislipidemia, Hiperuricemia.

b. Rawat jalan tanggal 18 November 2014 diagnosa Hipertensi, Dislipidemia, Hiperuricemia.

e. Riwayat Penyakit Dahulu tanggal 23 Maret 2015 diagnosa Cardiomegali, tanggal 29 Oktober 2014 dengan diagnosa Hipertensi 180/110 mmHg, tanggal 11 Februari 2015 diagnosa Gagal Ginjal Kronis, tanggal 29 Oktober 2014 diagnosa Dislipidemia.

3. Bahwa pada saat pengisian Surat Permintaan Asuransi tanggal 20 Mei 2015 atas pertanyaan bagian :

a. Bagian X.5 tentang Riwayat Kesehatan Calon Tertanggung yaitu, “Dalam lima tahun terakhir ini, pernahkah Calon Tertanggung dan atau Pemegang Polis : Butir (b) “Melakukan pemeriksaan kesehatan seperti : “….., Sinar X (rontgen), laboratorium, …”, Tertanggung menjawab, “TIDAK”,

Butir (c), “ Mendapatkan ….., rawat inap di rumah sakit dan atau untuk perawatan / pengobatan lainnya?, Tertanggung menjawab, “TIDAK”.

b. Bagian X.9 tentang Riwayat Kesehatan Calon Tertanggung yaitu, “ Apakah calon Tertanggung dan atau Pemegang Polis pernah/sedang/pernah diberitahukan menderita/mendapat perawatan untuk penyakit atau gejala-gejala dari yang tersebut di bawah ini :

Butir (c), “….,TBC,…..”,Tertanggung menjawab, “TIDAK”, Butir (d) “ Tekanan darah tinggi, …. Anemia, kelainan jantung”, Tertanggung menjawab, “TIDAK”,

Butir (f), “.., peningkatan… dan kolesterol,….”, Tertanggung menjawab, “TIDAK”, Butir (h), “ Gangguan salurah kemih dan kelamin meliputi : ….., ginjal, …”, Tertanggung menjawab “TIDAK”.

4. Dengan demikian jelaslah bahwa pada saat pengisian Permintaan Asuransi Jiwa Tertanggung telah mengetahui dan menyadari mempunyai riwayat penyakit ginjal, TBC, anemia, kholestrol dan tekanan darah tinggi,namun ternyata Tertanggung tidak menyatakan/memberitahukan hal-hal tersebut dengan benar.176

176 Surat Pembatalan Permohonan Klaim No.78,79&80 / k / MC-SQ/I/2016.

Berdasarkan hasil penelusuran Perusahaan Asuransi, Tan Lie Lie atau Pemegang Polis meninggal dunia pada tanggal 24 September 2015 di RSU Sri Pamela Tebing Tinggi dengan diagnosa kematian adalah CKD (Chronic Kidney Disease) atau disebut dengan Gagal Ginjal Kronik.

Gagal ginjal kronik, atau chronic kidney disease (CKD), merupakan “suatu kondisi kesehatan di mana terlihat adanya penurunan bertahap dari fungsi ginjal.”

Gagal ginjal kronik dapat disebabkan oleh kondisi kesehatan lain yang membebani ginjal dan dapat merupakan akibat dari beberapa penyakit. Beberapa kondisi kesehatan yang dapat menyebabkan penyakit ginjal kronik adalah:

1. Tekanan darah tinggi, yang seiring dengan berjalannya waktu dapat menambahkan beban pada ginjal dan menghambat fungsi normal dari ginjal.

2. Diabetes, karena jumlah gula yang melebihi batas normal dalam darah dapat menyebabkan kerusakan pada filter yang ada di ginjal.

3. Kolesterol tinggi, yang dapat menyebabkan penumpukan deposit lemak di pembuluh darah yang memberikan pasokan darah ke ginjal.

4. Infeksi pada ginjal.

5. Penghambat aliran urine, seperti batu ginjal atau pembesaran prostat.

6. Pengunaan obat-obat tertentu dalam jangka panjang.177

Berdasarkan ciri-ciri penyebab terjadinya Gagal Ginjal Kronik di atas mencerminkan kondisi kesehatan tubuh Tan Lie Lie atau disebut Pemegang Polis berdasarkan pernyataan dari saksi Termohon (Perusahaan Asuransi Squislife), yaitu Dr. Inggrawati (Dokter Praktek Umum pada saat Tan Lie Lie / Pemegang Polis di rawat inap di RSU Dr.H.Kumpulan Pane Kota Tebing Tinggi) yang menyatakan bahwa :

177 Gagal Ginjal Kronis diakses oleh www.klikdokter.com pada tanggal 11 April 2021 pukl 11.30 WIB.

1. Bahwa Ibu Tan Lie Lie tidak ada mengidap penyakit TBC ;

2. Yang bersangkutan mempunyai gejala penyakit ginjal yang ditandai dengan pembengkakan pada kaki Tan Lie Lie ;

3. Yang Bersangkutan mempunyai penyakit anemia ; 4. Yang Bersangkutan mempunyai kolestrol tinggi ; 5. Yang Bersangkutan mempunyai hypertensi.

Penyakit kronis merupakan “jenis penyakit degeneratif yang berkembang atau bertahan dalam jangka waktu yang sangat lama, yakni lebih dari enam bulan.”178 Tan Lie Lie (Pemegang Polis) resmi menjalankan Asuransi Squislife selama kurang lebih 4 bulan lamanya, serta Tan Lie Lie keluar dari RSU H.Kumpulan dinyatakan “sembuh atau pulih” oleh Syahruddin (Dokter Spesialis Penyakit Dalam) pada tanggal 5 Maret 2015 (peristiwa sebelum menjadi nasabah resmi Asuransi Squislife). Hal ini tidak dijelaskan secara detail dan terbuka oleh Pemegang Polis pada saat penulisan SPAJ (Surat Permintaan Asuransi Jiwa) yang dibuktikan dengan pilihan jawaban “TIDAK” pada pertanyaan-pertanyaan yang mengarah tentang adanya pemeriksaan penyakit dalamnya seorang calon Pemegang Polis di atas. Hal ini menunjukkan itikad buruk dari seorang calon

178 I Wayan Wahyu Pratama, “Pengaruh Telenursing terhadap Perawatan Diri pada Pasien dengan Penyakit kronis di Ruang Ratna dan Ruang Mawar RSUP Sanglah Denpasar”, Fakultas Kedokteran,Ilmu Keperawatan, Univeristas Udayana, hlm.70.

nasabah / Pemegang Polis yang melanggar aturan pada pasal 251 KUHD yaitu kewajiban Pemegang Polis dalam hal Pemberitahuan Riwayat Kesehatannya.

Menurut Smeltzer & Bare ada 9 fase dalam penyakit kronis, yaitu sebagai berikut : 179

1. Fase pra-trajectory adalah “risiko terhadap penyakit kronis karena faktor-faktor genetik atau perilaku yang meningkatkan ketahanan seseorang terhadap penyakit kronis”

2. Fase trajectory adalah “adanya gejala yang berkaitan dengan penyakit kronis.”

Fase ini sering tidak jelas karena sedang dievaluasi dan sering dilakukan pemeriksaan diagnostik.

3. Fase stabil adalah “tahap yang terjadi ketika gejala-gejala dan perjalanan penyakit terkontrol.” Aktivitas kehidupan sehari-hari tertangani dalam keterbatasan penyakit.

4. Fase tidak stabil adalah “periode ketidakmampuan untuk menjaga gejala tetap terkontrol atau reaktivasi penyakit.” Terdapat gangguan dalam melakukan aktivitas sehari-hari.

5. Fase akut adalah “fase yang ditandai dengan gejala-gejala yang berat dan tidak dapat pulih atau komplikasi yang membutuhkan perawatan di rumah sakit untuk penanganannya.”

6. Fase krisis merupakan “fase yang ditandai dengan situasi kritis atau mengancam jiwa yang membutuhkan pengobatan atau perawatan kedaruratan.”

7. Fase pulih adalah “keadaan pulih kembali pada cara hidup yang diterima dalam batasan yang dibebani oleh penyakit kronis.”

8. Fase penurunan adalah “kejadian yang terjadi ketika perjalanan penyakit berkembang disertai dengan peningkatan ketidakmampuan dan kesulitan dalam mengatasi gejala-gejala.”

9. Fase kematian adalah “tahap terakhir yang ditandai dengan penurunan bertahap atau cepat fungsi tubuh dan penghentian hubungan individual.”

Berdasarkan fase-fase di atas, penyakit kronis tidak dapat disembuhkan.

Penyakit kronis dapat terlihat sembuh dan akan kembali muncul atau disebut kambuh dan akan berujung kematian (Fase 7 – 9). Hal inilah yang dialami oleh

179 Ibid, hlm. 8-9.

Pemegang Polis. Pemegang Polis dinyatakan sembuh / pulih pada tanggal 5 Maret 2015 dan meninggal pada tanggal 24 September 2015 dan dapat disimpulkan dengan jelas bahwa Pemegang Polis meninggal dunia disebabkan terkena penyakit kronis yang diderita dalam jangka waktu yang tidak singkat.

Medical check-up dilakukan pada tahap awal pembuatan asuransi jiwa. Hal ini dilakukan jika pada saat pengisian SPAJ (Surat Permintaan Asuransi Jiwa) yang disimpulkan bahwa calon nasabah/Pemegang Polis dicurigai atau mencerminkan adanya penyakit yang harus diperiksa lebih mendalam melalui medical-check up yang dibiayai oleh Perusahaan Asuransi tersebut.180

Perusahaan Asuransi tidak mewajibkan pelaksanaan medical check-up jika pada saat pengisian SPAJ (Surat Permintaan Asuransi Jiwa) calon nasabah dalam keadaan sehat atau tidak pernah mengalami penyakit yang kronis atau penyakit-penyakit yang telah ditentukan oleh setiap ketentuan Perusahaan Asuransi Jiwa.

Maka sangat dibutuhkannya itikad baik dari Pemegang Polis yaitu bersikap jujur tentang riwayat kesehatannya agar mempermudah Agen Asuransi mengambil langkah-langkah yang tepat dalam pembuatan perjanjian asuransi jiwa tersebut.181

Jika Pemegang Polis dalam pembuatan SPAJ (Surat Permintaan Asuransi Jiwa) menyatakan dirinya sehat sempurna dan dalam waktu kurang dari 2 tahun

180 Hasil wawancara dengan Linawati (Deputy Regional Vice President Sequislife) pada tanggal 12 April 2020 di Kantor Sequislife Cabang Jalan Gatot Subroto No.15 Medan.

181 Hasil wawancara dengan Linawati (Deputy Regional Vice President Sequislife) pada tanggal 12 April 2020 di Kantor Sequislife Cabang Jalan Gatot Subroto No.15 Medan.

resminya perjanjian (Polis berumur kurang dari 2 tahun) terdapat permohonan klaim meninggal dunia dari pihak keluarga Pemegang Polis /Penerima Manfaat Asuransi, maka pihak Perusahaan Asuransi wajib melakukan investigasi mengenai riwayat kesehatan Pemegang Polis tersebut.182

Jika terdapat ketidakjujuran dan ketidaksesuaian data antara keterangan SPAJ (Surat Permohonan Asuransi Jiwa) dengan riwayat kesehatan Pemegang Polis yang sebenarnya, maka klaim meninggal dunia tersebut di tolak.

Tertanggung yang telah melakukan kecurangan dan penyembunyian fakta dalam pengisian data tentang riwayat kesehatannya dengan maksud ingin mengambil keuntungan dan manfaat dari asuransi maka perusahaan asuransi tidak akan mengabulkan klaim asuransi tersebut.183

Ada 4 (empat) faktor yang mendasari tertanggung melakukan pelanggaran prinsip itikad baik yaitu :

1. Misrepresentation

Tertanggung memberikan pernyataan atau keterangan yang keliru atau tidak benar yang biasanya ketika merespon pertanyaan dari penanggung.

2. Concealment

Kesengajaan tertanggung untuk tidak mengungkapkan atau menginformasikan suatu fakta material dengan maksud untuk menyembunyikan.

3. Non- disclosure

Tertanggung tidak mengungkapkan suatu informasi atau fakta yang disebabkan oleh anggapan tertanggung bahwa fakta tersebut tidak penting.

4. Moral Hazard

182 Hasil wawancara dengan Lundu Simanjuntak (Associate Agency Director (AAD)) pada tanggal 12 Desember 2020 di Kantor Prudential, Hotel J.W.Marriot Lt.8 Medan.

183 Jurnal Krtha Bhayangkara, Volume 12 No. 1, Juni 2018, hlm.126.

Terdapatnya moral hazard dari tertanggung yang dapat merugikan penanggung berupa kecurangan dan tidak jujur dalam pengisian data tertanggung.

5. Kurang memahami isi polis asuransi

Dalam hal ini, tertanggung sebagai pengguna jasa asuransi jiwa kurang berhati-hati dan kurang memahami isi dari polis asuransi. Sehingga menyulitkan dalam mengajukan klaim karena isi dari polis ternyata tidak sesuai dengan apa yang diajukan dalam permohonan klaim tertanggung tersebut. Perjanjian asuransi merupakan perjanjian baku atau standar. Di dalam perjanjian baku isi perjanjian telah disusun secara terperinci dalam polis asuransi.

Berdasarkan 4 kategori di atas, maka Tan Lie-Lie / Pemegang Polis sekaligus Tertanggung termasuk melakukan Moral Hazard.184

Hal ini sesuai dengan pelaksanaan prosedur yang telah dijelaskan oleh bab sebelumnya mengenai langkah-langkah prosedur pencairan dana klaim meninggal dunia, yaitu: “memeriksa penutupan asuransi (melihat apakah klaim tersebut dinilai sudah memenuhi syarat dan prosedur atau sebaliknya) ; melakukan penyelidikan klaim (memastikan bahwa adanya suatu kerugian, menentukan apakah tindakan tertanggung dapat membatalkan klaimnya)”.

Perusahaan Asuransi melakukan investigasi secara professional dan melewati langkah-langkah berdasarkan SPAJ (Surat Permintaan Asuransi Jiwa) dan dokumen-dokumen yang diajukan oleh Penerima Manfaat atau pihak keluarga Pemegang Polis. Perusahaan Asuransi Sequislife melakukan investigasi kepada Dokter Umum Praktek yang juga turut merawat Pemegang Polis selama di RSU Sri Pamela Tebing Tinggi. Menurut kesaksiannya yang tertuang pada perihal saksi

184 Ibid, hlm. 127.

dari pihak Termohon dalam Putusan tersebut, Pemegang Polis memiliki riwayat penyakit kronis dengan ditandainya gejala-gejala seperti yang disebutkan pada paragraf sebelumnya.

Hal tersebut merupakan bukti kuat adanya ketidakbenaran Pemegang Polis dalam keadaan sehat pada saat mencalonkan diri sebagai nasabah / Pemegang Polis PT.Asuransi Jiwa Sequislife dan adanya itikad tidak baik dalam hal kewajiban pemberitahuan riwayat kesehatan. Hal ini telah melanggar aturan yang tercantum pada Pasal 251 Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (KUHD), yaitu:185

“Semua pemberitahuan yang keum atau tidak benar, atau semua penyembunyian keadaan yang diketahui oleh tertanggung, meskipun dilakukannya dengan itikad baik, yang sifatnya sedemikian, sehingga perjanjian itu tidak akan diadakan, atau tidak diadakan dengan syarat-syarat yang sama, bila penanggung mengetahui keadaan yang sesungguhnya dari semua hal itu, membuat pertanggungan itu”.

Kedua, pada fakta hukum yang tertulis dalam putusan yaitu pada poin ke-5,

“Menimbang bahwa azas dan tujuan Pasal 2 dan 3 UU No.8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen, yaitu : “Perlindungan Konsumen berdasarkan manfaat keadilan keseimbangan, keamanan dan keselamatan konsumen serta kepastian hukum” tidak tepat dijadikan sebagai bahan pertimbangan hukum hakim pada kasus ini.

185 Pasal 251 Kitab Undang-Undang Hukum Dagang.

Perlindungan konsumen dibutuhkan untuk menciptakan rasa aman bagi para konsumen dalam melengkapi kebutuhan hidup. Kebutuhan perlindungan konsumen juga harus bersifat tidak berat sebelah dan harus adil. Sebagai landasan penetapan hukum, asas perlindungan konsumen diatur dalam Pasal 2 UUPK 8/1999, dengan penjelasan sebagai berikut:

1. Asas Manfaat

Konsumen maupun pelaku usaha atau produsen berhak memperoleh manfaat yang diberikan. Tidak boleh bersifat salah satu dari kedua belah pihak, sehingga tidak ada salah satu pihak yang merasakan manfaat ataupun kerugian.

2. Asas Keadilan

Konsumen dan produsen/pelaku usaha dapat berlaku adil dengan perolehan hak dan kewajiban secara seimbang atau merata.

3. Asas Keseimbangan

Sebuah keseimbangan antara hak dan kewajiban para produsen dan konsumen dengan mengacu pada peraturan hukum perlindungan konsumen.

4. Asas Keamanan dan Keselamatan

Sebuah jaminan hukum bahwa konsumen akan memperoleh manfaat dari produk yang dikonsumsi/dipakainya dan sebaliknya bahwa produk itu tidak akan mengganggu keselamatan jiwa dan harta bendanya.

5. Asas Kepastian Hukum

Sebuah pemberian kepastian hukum bagi produsen maupun konsumen dalam mematuhi dan menjalankan peraturan hukum dengan apa yang menjadi hak dan kewajibannya. Hal ini dilakukan tanpa membebankan tanggung jawab kepada salah satu pihak, serta negara menjamin kepastian hukum. 186

Berdasarkan landasan hukum tersebut, konsumen berhak memperoleh keadilan,keseimbangan,keamanan dan kepastian hukum akan perlindungan data diri konsumen yang pada pembahasan ini mengenai riwayat kesehatan Pemegang Polis. Namun, hal ini tidak sesuai dengan apa yang terjadi berdasarkan kronologi kasus dan ketentuan pada prosedur pencairan klaim asuransi jiwa.

Perusahaan Asuransi dalam mengajukan permohonan pemberian rekam medis dari rumah sakit harus melalui persetujuan dari keluarga yang bersangkutan.

186 “Perlindungan Konsumen Aman oleh UU Perlindungan Konsumen” diakses oleh www.dslalawfirm.com pada tanggal 2 Agustus 2020 Pukul 17.08 WIB.

Persetujuan pembacaan dan penelusuran rekam medis dari pihak keluarga Tertanggung merupakan salah satu syarat dari Pengajuan Klaim Meninggal dunia.187

Maka hal ini tidak menjadi permasalahan bagi keluarga Tertanggung jika Perusahaan Asuransi menelusuri dan meminta informasi mengenai riwayat kesehatan Pemegang Polis selama hidupnya baik dari Rumah Sakit Umum maupun dari sumber informasi lainnya yang mendukung pelaksaaan investigasi riwayat kesehatan Pemegang Polis.

Ketiga, pada fakta hukum bagian ke- III, “Dasar Penolakan Klaim Asuransi berdasarkan surat keterangan dokter umum praktek point ke-5, yaitu, “ Bukti-bukti jawaban dari dokter praktek tidak dapat dijadikan dasar penolakan pembayaran klaim asuransi jiwa dan tidak dapat dijadikan alasan penolakan asuransi jiwa karena kompetensinya tidak ada, maka majelis Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen Kota Tebing Tinggi berpendapat bahwa Resume Inggriwati sebagai Dokter Praktek Umum telah terjawab oleh resume medis yang dikeluarkan RSU H.Kumpulan Pane yang ditandatangani oleh Syahruddin, sebagai Dokter Spesialis Penyakit Dalam” merupakan fakta yang tidak benar dan layak untuk dijadikan sebagai bahan pertimbangan hukum hakim.

187 Hasil wawancara dengan Lundu Simanjuntak (Associate Agency Director (AAD)) pada tanggal 12 Desember 2020 di Kantor Prudential, Hotel J.W.Marriot Lt.8 Medan.

Jika ditelaah dengan seksama, langkah yang dilakukan oleh Perusahaan Asuransi sangat tepat. Perusahaan Asuransi menelaah pada peristiwa terakhir yang terjadi pada Pemegang Polis selama hidupnya sebagai bentuk acuan utama dalam melakukan penelitian riwayat kesehatan Pemegang Polis.

Inggriwati merupakan dokter praktek yang merawat Pemegang Polis selama beberapa hari sebelum kematiannya. Sedangkan Syahruddin, merupakan dokter spesialis bagian dalam pada RSU H.Kumpulan Pane yang merupakan rumah sakit yang pernah merawat Pemegang Polis sebelum Pemegang Polis resmi menjadi Pemegang Polis Asuransi Sequislife. Perusahaan Asuransi sangat tepat menjadikan resume Inggriwati sebagai dasar penolakan klaim meninggal dunia, karena beliau

merupakan dokter yang menangani Pemegang Polis sebelum meninggal dunia.

Artinya, bahwa penyebab utama kematian Pemegang Polis disebabkan oleh peristiwa / riwayat kesehatannya yang terakhir. Namun, Perusahaan Asuransi juga harus menjadikan resume medis Syahruddin, sebagai resume penunjang penelusuran riwayat kesehatan Pemengang Polis dalam pelaksaan investigasi.

Pasal 46 ayat (1) UU Praktik Kedokteran menegaskan bahwa, “dokter dan dokter gigi wajib membuat rekam medis.” Setelah memberikan pelayanan praktik kedokteran kepada pasien, dokter dan dokter gigi segera melengkapi rekam medis

dengan mengisi atau menulis semua pelayanan praktik kedokteran yang telah dilakukannya.188

Pihak institusi atau pihak asuransi tidak dapat meminjam rekam medis. Pihak asuransi hanya dapat meminjam resume medisnya saja dan harus ada surat pengantar dan izin tertulis kepada pimpinan sarana pelayanan kesehatan. Dalam hal ini informasi tentang identitas, diagnosa, riwayat penyakit, riwayat pemeriksaan dan riwayat pengobatan dapat dibuka dengan catatan tidak menyebutkan identitas pasien dan tetap harus melakukan izin tertulis kepada pimpinan sarana pelayanan kesehatan.189

Berdasarkan paparan diatas dapat diambil simpulan untuk alur peminjaman rekam medis belum optimal, prosedur peminjaman rekam medis dari pihak ke-3 harus ada surat pengantar dan disertai keterangan untuk meminjam, sedangkan untuk keperluan asuransi hanya memperbolehkan meng-copy resume karena berkas rekam medis milik rumah sakit dan isinya milik pasien, untuk kasus tersebut pihak asuransi harus membuat surat permintaan tertulis, untuk kasus hukum rekam medis dapat dipinjam dikarenakan rekam medis dijadikan sebagai bukti dan harus ada surat pengantar permintaan dari pengadilan.190

188 Kerahasiaan rekam medis di Rumah Sakit Aveciena Medika Martapura, Nina

Rahmadiliyani,1STIKes Husada Borneo, Program Studi D3 Rekam Medis dan Informasi Kesehatan STIKes Husada Borneo,hlm.73.

189 Ibid.

190 Ibid, hlm.74.

Pasal 12 ayat (4) Permenkes 269/2008 tentang Rekam Medis dijelaskan bahwa,

“Ringkasan rekam medis sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat diberikan.

dicatat, atau dicopy oleh pasien atau orang yang diberi kuasa atau atas persetujuan tertulis pasien atau keluarga pasien yang berhak untuk itu.”191

Dari bunyi pasal Pasal 12 ayat (4) Permenkes 269/2008 dapat diketahui bahwa yang berhak mendapatkan ringkasan rekam medis adalah:

a. Pasien

b. Keluarga pasien

c. Orang yang diberi kuasa oleh pasien atau keluarga pasien

d. Orang yang mendapat persetujuan tertulis dari pasien atau keluarga pasien.192

Berdasarkan penjelasan di atas, Perusahaan Asuransi telah melakukan investigasi dengan melakukan wawancara terhadap dokter Inggriwati berdasarkan bacaan rekam medis dan riwayat perawatan yang dilakukan oleh dokter terhadap Pemegang Polis selama akhir hidupnya di rumah sakit.

Pada kasus putusan ini lebih memfokuskan kepada perihal kelayakan pencairan dana klaim. Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan dan fakta-fakta hukum yang terdapat dalam putusan, maka seharusnya Hakim tidak memutuskan posita no.2 yaitu, “menghukum asuransi jiwa Sequislife untuk membatalkan surat

191 Hak Pasien atas Isi Rekam Medis Kedokteran, Tri Jata Ayu Pramesti, diakses oleh www.hukumonline.com pada hari Senin, 02 Agustus 2021 pukul 19.00 WIB.

192 Hak Pasien atas Isi Rekam Medis Kedokteran, Tri Jata Ayu Pramesti, diakses oleh www.hukumonline.com pada hari Senin, 02 Agustus 2021 pukul 19.00 WIB.

penolakan klaim No.78.79 &80 / k/m/sq atas penolakan sepihak”, karena hal tersebut sudahlah tepat dan sudah terbukti bahwa Pemegang Polis tidak melakukan itikad baik dalam menjalankan kewajiban pemberitahuan riwayat kesehatannya sehingga juga mencabut posita no.3 yaitu, “Menghukum asuransi jiwa Sequislife untuk membayar santunan sebesar Rp. 300.000.000,- (Tiga ratus juta rupiah) kepada ahli waris berdasarkan polis nomor 300308667-5” karena permohonan pencairan klaim dari pihak Penerima Manfaat tidak memenuhi syarat.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

1. Pengaturan tentang Kewajiban Pemberitahuan dalam Asuransi terdiri dari dua bagian, yaitu “Kewajiban Pemberitahuan tentang Prosedur Pencairan

1. Pengaturan tentang Kewajiban Pemberitahuan dalam Asuransi terdiri dari dua bagian, yaitu “Kewajiban Pemberitahuan tentang Prosedur Pencairan

Dalam dokumen OLEH : NANDA LUCYA GULTOM (Halaman 106-0)