• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sumber Data

Dalam dokumen OLEH : NANDA LUCYA GULTOM (Halaman 46-0)

BAB I PENDAHULUAN

G. Metode Penelitian

2. Sumber Data

Sumber data yang digunakan pada penelitian ini adalah “data primer, data sekunder dan data tersier”.

53 Soerjono Soekanto dan Sri Mahmudji, Penelitian Hukum Normatif, Suatu Tinjauan Singkat, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2003), hlm. 13.

54 Ibid, hlm. 14

55 Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif, Kuantitatif dan R&D, (Bandung : Alfabeta, 2009), hlm.29.

a. Data primer adalah “data yang diperoleh terutama dari hasil penelitian empris, yaitu penelitian yang dilakukan langsung kepada narasumber.56 Bahan hukum primer berupa bahan hukum perundang-undangan yang berhubungan dengan materi penelitian yaitu:

1) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2014 tentang Perasuransian.

2) Kitab Undang-Undang Hukum Dagang

3) Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUH Perdata).

b. Bahan hukum sekunder yaitu:

“Bahan hukum yang memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer yang bersumber dari buku-buku, jurnal-jurnal hukum, pendapat para pakar hukum dan praktisi hukum, dan yurisprudensi yang berkaitan dengan penelitian ini”. Dalam penelitian ini, bahan hukum sekunder yang digunakan terdiri dari buku-buku, jurnal, hasil karya ilmiah dan berbagai makalah yang berkaitan dengan hukum asuransi.

c. Bahan Hukum Tersier

Bahan hukum tersier yaitu "bahan hukum yang memberikan petunjuk maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder seperti Kamus Besar Bahasa Indonesia, kamus hukum atau istilah hukum serta Buku Polis Asuransi Jiwa PT. Squislife.

56 Mukti Fajar dan Yulianto Achmad, Op.cit, hlm.156.

3. Teknik Pengumpulan Data a. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini dilakukan dengan 2 (dua) cara, yaitu :

1) Penelitian kepustakaan (library research), yaitu “penelitian hukum sebagai sebuah sistem norma, asas-asas, kaidah dari peraturan perundang-undangan, perjanjian, dll yang dimaksud untuk mendapatkan konsepsi, teori atau doktrin, pendapat atau pemikiran konseptual dari peneliti pendahulu yang berhubungan dengan objek telaahan peneliti.”57

Data yang diperoleh dari studi kepustakaan selanjutnya akan ditafsirkan atau diinterpretasikan untuk memperoleh kesesuaian penerapan peraturan perundang-undangan yang dihubungkan dengan permasalahan dalam penelitian ini.

2) Penelitian lapangan (field research) yaitu “penelitian yang dilakukan dengan mengumpulkan data dan informasi secara langsung di lapangan.”58 Penelitian ini dilakukan pada PT. Squislife cabang Medan.

b. Alat Pengumpulan Data

Alat pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini dilakukan dengan 2 (dua) cara sebagai berikut :

1) Studi dokumen yaitu dengan cara memperoleh data sekunder dengan membaca, mempelajari, meneliti, mengidentifikasi dan menganalisa data terhadap referensi hukum berupa buku-buku dan karya ilmiah

57 Mukti Fajar Nur Dewanta dan Yulianto Achmad, Op.cit, hlm. 34.

58 Moh.Nazir, Metode Penelitian, (Jakarta : Ghalia Indonesia, 2005), hlm.24.

lainnya serta melakukan penelurusan terhadap peraturan perundang-undangan, terutama berupa arsip-arsip dan termasuk juga buku-buku tentang pendapat, teori-teori, dalil atau hukum-hukum yang terkait dengan permasalahan yang diteliti.59

2) Pedoman wawancara merupakan “daftar pertanyaan yang disusun secara sistematis dan terstruktur untuk mencari jawaban atas rumusan masalah.”60 Kecakapan pewawancara dalam berinteraksi dengan narasumber juga ikut menentukan kualitas informasi yang diperlukan yang dalam hal ini telah ditentukan sebagai narasumber pada pegawai serta agen asuransi PT. Squislife cabang Medan sebanyak 3 (tiga) orang, Legal Officer PT.Squislife (melalui email) dan kuasa hukum yang

menangani perkara terdahulu yang dilakukan karena mereka mengetahui dan menguasai tentang permasalahan yang diangkat dalam tulisan tesis ini agar lebih terang dan jelas tujuan yang dimaksudkan.

4. Analisis Data

Keseluruhan data dalam penelitian ini dianalisis secara kualitatif. Analisis kualitatif ini “akan dikemukakan dalam bentuk uraian yang sistematis dengan menjelaskan hubungan antara berbagai jenis data.”61 Kemudian analisis dilakukan dengan memilih peraturan-peraturan hukum yang berkaitan dengan perlindungan

59 H. Zainuddin Ali, Metode Penelitian Hukum, (Jakarta: Sinar Grafika, 2009), Cetakan Pertama , hlm. 17.

60 Ibid, hlm.18.

61 Muslan Abdurrahman, Sosiologi dan Metode Penelitian Hukum, (Surabaya : UMM Press, 2009), hlm.121.

hukum dalam hal pengajuan klaim asuransi jiwa yang terhambat disebabkan oleh kelalaian pihak pemegang polis terkait dengan kewajiban pembeitahuan.

Penelitian hukum ini merupakan penelitian untuk menemukan bagaimana kendala pengajuan klaim asuransi jiwa disebabkan kelalaian pihak pemegang polis terkait dengan kewajiban pemberitahuan yang terjadi sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang ada. Hasil analisis bahan hukum akan dibahas dengan menggunakan metode deduktif yaitu “dari hal yang bersifat umum kemudian dikerucutkan ke hal yang bersifat khusus.” 62Kemudian akan dianalisis dan dituangkan dalam perspektif, sehingga dapat mencapai suatu kesimpulan terhadap permasalahan yang diteliti.

62 Sabian Utsman, Metodologi Penelitian Hukum Progresif, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2014), hlm. 7.

37 BAB II

PENGATURAN TENTANG KEWAJIBAN PEMBERITAHUAN RIWAYAT KESEHATAN DALAM ASURANSI JIWA

A. Prinsip–prinsip Perjanjian Asuransi dalam Peraturan Perundang-Undangan

Sistem asuransi mendasarkan pada beberapa prinsip dasar / asas. Adapun prinsip-prinsip adalah sebagai berikut:

1. Prinsip kepentingan yang dapat diasuransikan (insurable interest) Prinsip kepentingan yang dapat diasuransikan dijabarkan dalam pasal 250 KUHD yang menyatakan: “Bilamana seseorang yang mempertanggungkan untuk dirinya sendiri, atau seseorang, untuk tanggungan siapa untuk diadakan pertanggungan oleh orang lain, pada waktu diadakannya pertanggungan tidak mempunyai kepentingan terhadap benda yang dipertanggungkan, maka penanggung tidak berkewajiban mengganti kerugian.” Berdasarkan Pasal tersebut di atas, kepentingan yang diasuransikan itu harus ada pada saat ditutupnya suatu perjanjian asuransi. Apabila syarat ini tidak terpenuhi, maka penanggung akan bebas dari kewajibannya untuk membayar ganti kerugian. 63

Pada dasarnya sesuai dengan ketentuan Pasal 268 KUHD bahwa suatu kepentingan yang dapat diasuransikan adalah “semua kepentingan yang dapat dinilai dengan sejumlah uang, dapat diancam suatu bahaya dan tidak dikecualikan oleh Undang-Undang.”64

Unsur kepentingan merupakan hal pokok yang harus ada terlebih dahulu sebelum perjanjian asuransi dibuat. Jika suatu kerugian dapat menimbulkan kerugian atas seseorang maka berarti ia mempunyai suatu kepentingan yang dapat diasuransikan. Tanpa adanya unsur kepentingan yang dapat

63 Pasal 250 Kitab Undang-Undang Hukum Dagang.

64 Pasal 268 Kitab Undang-Undang Hukum Dagang.

diasuransikan, asuransi menjadi perjudian atau pertaruhan. Bersama asuransi, perjudian dan pertaruhan tersebut masuk dalam perjanjian untung-untungan.65

Prinsip ini dapat dijabarkan apabila seorang yang telah mengadakan pertanggungan untuk diri sendiri, atau apabila seorang yang untuknya telah diadakan suatu pertanggungan, pada saat diadakan pertanggungan itu tidak mempunyai kepentingan terhadap barang yang dipertanggungkan, itu maka Penanggung tidaklah diwajibkan memberikan gani-rugi. Apabila disimpulkan, maka ketentuan di atas mensyaratkan adanya kepentingan dalam mengadakan perjanjian asuransi dengan akibat batalnya perjanjian tersebut seandainya tidak dipenuhi. Hal itu karena Penanggung tidak diwajibkan untuk memberikan gantirugi. Jadi dalam setiap pertanggungan harus ada kepentingan atas benda yang dipertanggungkan.66

2. Prinsip indemnitas (indemnity)

Menurut H. Gunarto, prinsip indemnitas tersirat dalam Pasal 246 KUHD yang memberikan batasan perjanjian asuransi (yakni asuransi kerugian) sebagai perjanjian yang bermaksud memberikan penggantian kerugian, kerusakan atau kehilangan (yaitu indemnitas) yang mungkin diderita tertanggung karena menimpanya suatu bahaya yang pada saat ditutupnya perjanjian tidak dapat dipastikan.67

Menurut ketentuan pasal ini, jika benda sudah diasuransikan dengan nilai penuh, tidak boleh lagi diasuransikan untuk waktu yang sama dan atas evenemen yang sama. Jika masih diadakan asuransi yang kedua, maka asuransi kedua ini batal. Asuransi semacam ini disebut asuransi rangkap

65 Retno Wulansari , “Pemaknaan Prinsip Kepentingan dalam Hukum Asuransi di Indonesia, Jurnal Panorama Hukum, Vol. 2, No. 1, Juni 2017, ISSN : 2527-6654, hlm.7

66 Arsel Idrajad, dan Nico Ngani, Profil Hukum Perasuransian Di Indonesia, (Yogyakarta:

Liberti, 1985), hlm.19.

67 Retno Wulansari, Op.cit, hlm.8.

(double insurance), asuransi rangkap dengan nilai penuh dilarang oleh undang-undang.68

Untuk mencegah adanya penggantian kerugian yang melebihi dari kerugian yang diderita dan mengharuskan adanya keseimbangan antara penggantian kerugian dengan nilai benda yang diasuransikan. Oleh karena itu dalam penyelesaian klaim asuransi dasar yang digunakan adalah:69

a. Berapa biaya untuk mengganti barang-barang yang rusak atas dasar hari ini.

b. Apakah barang tersebut mengalami penyusutan sejak dibeli.

c. Karena itu, nilai ganti rugi adalah harga atas dasar hari ini. Pembelian barang yang sama untuk mengganti barang yang rusak dikurangi penyusutan.

Hasil perhitungan dalam perasuransian menunjukkan kerugian tertanggung yang sesungguhnya. Namun bagaimanapun juga penyelesaian klaim tidak boleh melebihi harta pertanggungan. Pentingnya prinsip ganti rugi ini terletak pada kenyataan bahwa pelaksanaannya mencegah orang mengambil keuntungan dari malapetaka yang terjadi. Andai kata ada kemungkinan menuntut barang baru sebagai pengganti barang lama, maka orang akan terjebak untuk atau dengan sengaja merusak atau menghancurkan harta miliknya.70

3. Prinsip iktikad baik (utmost good faith)

Berkaitan dengan prinsip kejujuran sempurna, Pasal 251 KUHD menyebutkan bahwa: “Setiap keterangan yang keliru atau tidak benar atau setiap tidak memberitahukan hal-hal yang diketahui oleh si tertanggung betapapun iktikad baik ada padanya, yang demikian sifatnya sehingga seandainya penanggung telah mengetahui keadaan yang sebenarnya,

68 Abdul Kadir Muhammad, Hukum Asuransi Indonesia, hlm.129.

69 Ibid, hlm 130.

70 Ibid.

perjanjian ini tidak akan ditutup atau ditutupnya dengan syarat-syarat yang sama, mengakibatkan batalnya pertanggungan.”71

Prinsip kejujuran merupakan asas bagi setiap perjanjian, oleh karenanya harus dipenuhi oleh semua pihak dalam perjanjian. Tidak dipenuhnya prinsip kejujuran dalam suatu perjanjian akan menyebabkan adanya “cacat kehendak”, sebagaimana makna dari seluruh ketentuan dasar yang ada dalam Pasal KUHPerdata. Perkembangan hukum kontrak, kewajiban pihak-pihak dalam perjanjian untuk menjelaskan mengenai segala informasi yang benar dan selengkapnya menjadi kewajiban iktikad baik bagi para pihak. Adapun kewajiban tersebut dikenal dengan kewajiban iktikad baik pra kontrak.72

Dalam perjanjian asuransi unsur saling percaya antara penanggung dan tertanggung itu sangat penting. Penanggung percaya bahwa tertanggung akan memberikan segala keterangannya dengan benar. Dalam tertanggung juga percaya bahwa kalau terjadi peristiwa, penanggung akan memberikan atau membayar ganti rugi. Saling percaya ini dasarnya adalah itikad baik. Prinsip itikad baik harus dilaksanakan dalam setiap perjanjian. 73

Demikian pula apabila terjadi perubahan pada sewaktuwaktu, tertanggung haruslah dengan secepatnya memberikan keterangan pada tertanggung tentang perubahan-perubahan terhadap obyek yang diasuransikan. Umpamanya, apabila dalam polis yang telah dikeluarkan, kelak terjadi

71 Pasal 251 Kitab Undang-Undang Hukum Dagang.

72 Retno Wulansari, Loc.it.

73 R. Surjatina Iar, Hukum Dagang I dan II, (Jakarta: Pradnya Paramita, 1976), hlm.141.

penyimpangan dan kenyataan-kenyataan yang sebenarnya, sehingga penyimpangan-penyimpangan itu merupakan dasar bagi penanggung untuk membatalkan perjanjian asuransi tidak berlaku lagi, meskipun sebenarnya di dalam praktik ketentuan itu tidak dilakukan sesempit itu. 74

4. Prinsip subrogasi bagi penanggung (subrogation)

Pasal 284 KUHD mengatur mengenai subrograsi yaitu sebagai berikut:

“Penanggung yang telah membayar kerugian dari suatu benda yang dipertanggungkan mendapat semua hak-hak yang ada pada si tertanggung terhadap orang ketiga mengenai kerugian itu; dan Tertanggung bertanggungjawab untuk setiap perbuatan yang mungkin dapat merugikan hak dari Penanggung terhadap orang-orang ketiga itu.”75

Kerugian yang diderita oleh pihak tertanggung dikarenakan oleh pihak ketiga karena suatu peristiwa yang tidak diharapkan terjadi, maka pihak tertanggung dapat menuntut kerugian kepada penanggung dan pihak ketiga tersebut. Penggantian kerugian oleh kedua belah pihak bertentangan dengan asas indemtitas dan larangan untuk memperkaya diri sendiri dengan memperkaya hukum. Untuk menghindari hal demikian itu, pihak ketiga yang bersalah tetap tetap dapat dituntut, hanya saja hak untuk menuntut itu dilimpahkan kepada pihak penanggung (subrogasi).76

74 Ibid.

75 Pasal 284 Kitab Undang-Undang Hukum Dagang.

76 Retno Wulansari, Loc.it.

Untuk mencegah terjadinya penyimpangan-penyimpangan sudah diatur dalam undang-undang bagi seorang Penanggung yang telah membayar kerugian sesuatu barang yang dipertanggungkan, menggantikan si Tertanggung dalam segala hak yang diperolehnya terhadap orang-orang ketiga berhubung dengan menerbitkan kerugian tersebut; dan si Tertanggung itu adalah bertanggung jawab untuk setiap perbuatan yang dapat merugikan hak si penanggung terhadap orang-orang ketiga. 77

Dengan adanya ketentuan demikian berarti apabila terjadi kerugian yang menimpa tertanggung oleh pihak ketiga, maka penanggung dapat menggantikan kedudukan tertanggung untuk melaksanakan hak-haknya terhadap pihak ketiga tersebut. Jadi subrogasi berdasarkan undang-undang ini hanya dapat diberlakukan apabila ada dua faktor, yaitu:

a. Apabila tertanggung disamping mempunyai hak-hak terhadap penanggung juga mempunyai hak-hak terhadap pihak ketiga.

b. Hak-hak itu adalah karena timbulnya kerugian. Dalam asuransi sejumlah uang itu tidak didasarkan pada gantirugi yang seimbang dengan kerugian yang diderita, maka uang santunan sudah ditetapkan sebelumnya.78

5. Prinsip Kontribusi (contribution)

KUHD mengatur mengenai prinsip kontribusi pada Pasal 278 yaitu sebagai berikut: “Bilamana dalam polis yang sama oleh berbagai penanggung, meskipun pada hari-hari yang berlainan, dipertanggungkan untuk lebih daripada harganya, maka mereka menandatangani, hanya memikul harga sesungguhnya yang dipertanggungkan. Ketentuan yang sama berlaku bilamana pada hari yang sama, mengenai benda yang sama, di dalam pertanggungan-pertanggungan yang berlainan.”79

77 Dina Afriana, “Kewajiban Penanggung dalam Asuransi Tanggung Gugat Umum dalam Menyelesaikan Klaim Tertanggung pada Polis Asuransi”, Fakultas Hukum, Universitas Sumatera Utara, hlm. 24.

78 Ibid, hlm. 25.

79 Pasal 278 Kitab Undang-Undang Hukum Dagang.

Prinsip kontribusi berlaku pada double insurance, yaitu apabila tertanggung menutup asuransi untuk benda yang sama terhadap resiko yang sama kepada lebih dari seorang penanggung dalam polis yang berlainan.80

6. Proximate Cause (kausa proksimal)

Apabila kepentingan yang diasuransikan mengalami musibah atau kecelakaan, maka pertama-tama kami akan dicari sebab-sebab yang aktif dan efisien yang menggerakkan suatu rangkaian peristiwa tanpa terputus sehingga pada akhirnya terjadilah musibah atau kecelakaan tersebut.81

Prinsip ini berkaitan erat dengan masalah terjadinya peristiwa-peristiwa yang dapat menimbulkan kerugian-kerugian bagi Tertanggung. Pergantian kerugian oleh Perusahaan Asuransi hanya akan dibayarkan apabila peristiwa yang efisien atau dominan menimbulkan kerugian itu termasuk dalam jaminan Polis Asuransi yang bersangkutan. Dalam praktek Asuransi, kadang-kadang sangat sulit menetapkan sesuatu peristiwa ang dianggap sebagai penyebab yang paling dominan atau paling efisien menimbulkan kerugian, karena adakalanya peristiwa tersebut tidak merupakan peristiwa tunggal, tetapi merupakan rangkaian peristiwa yang saling berkaitan. Karena hal itu, maka sering terjadi

80 Ridwan Khairandy, Pokok-Pokok Hukum Dagang Indonesia, (Yogyakarta : FH UII Press, 2014), hlm. 397.

81 Selvi Harvia Santri , “Prinsip Utmost Good Faith dalam Perjanjian Asuransi Kerugian”, Fakultas Hukum Universitas Islam Riau, Vol.01, No.01, Juli 2020, hlm.7.

kontroversi dan perdebatan-perdebatan dalam menetapkan kejadian utama penyebab kerugian.82

B. Prinsip Pemberitahuan dalam Asuransi Jiwa

1. Pemberitahuan oleh Pemegang Polis / Tertanggung tentang Riwayat Kesehatannya kepada Perusahaan Asuransi

a. Menurut Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (KUHD)

Perjanjian asuransi atau pertanggungan diatur hak dan kewajibannya bagi para pihak yang terlibat di dalamnya yaitu Perusahaan Asuransi dan Pemegang Polis.83

Sehubungan dengan hal ini H.M.N Purwusutjipto berpendapat bahwa hak dan kewajiban itu bersifat timbal balik antara Perusahaan Asuransi dan Pemegang Polis dengan perincian sebagai berikut :

1) Kewajiban membayar uang premi dibebankan kepada Pemegang Polis atau orang yang berkepentingan.

2) Kewajiban pemberitaan yang lengkap dan jelas dibebankan kepada Pemegang Polis.

3) Kesalahan-kesalahan yang tidak termasuk dalam kesalahan orang yang berkepentingan, tidak dapat dilimpahkan pada orang yang berkepentingan.

4) Pemegang Polis bukan orang yang berkepentingan dalam pertanggungan, tidak dibebani yang disebut dalam Pasal 283 KUHD yaitu berkewajiban mengusahakan segala sesuatu untuk mencegah dan mengurangi kerugian yang mungkin terjadi.

5) Pemegang Polis mempunyai hak untuk menuntut penyerahan polis, sedang orang yang berkepentingan mempunyai hak untuk menuntut ganti kerugian kepada Perusahaan Asuransi.84

82 LA Pusat Asuransi.com, Prinsip Asuransi – Proximate Cause dalam www.pusatasuransi.com diakses pada tahun 2020.

83 M. Isa Arif, Bidang Usaha Perasuransian, Pradnya Paramita ,Jakarta, 1987, hlm. 97.

84 Ibid.

Kewajiban Pemegang Polis adalah :85

1) Membayar premi kepada Perusahaan Asuransi (Pasal 246 KUHD).

2) Memberikan keterangan yang benar kepada Perusahaan Asuransi mengenai obyek yang diasuransikan (Pasal 251 KUHD).

3) Mencegah atau mengusahakan agar peristiwa yang dapat menimbulkan kerugian terhadap obyek yang diasuransikan tidak terjadi atau dapat dihindari;

apabila dapat dibuktikan oleh Perusahaan Asuransi, bahwa Pemegang Polis tidak berusaha untuk mencegah terjadinya peristiwa tersebut dapat menjadi salah satu alasan bagi Perusahaan Asuransi untuk menolak memberikan ganti kerugian bahkan sebaliknya menuntut ganti kerugian kepada Pemegang Polis (Pasal 283 KUHD).

4) Memberitahukan kepada Perusahaan Asuransi bahwa telah terjadi peristiwa yang menimpa obyek yang diasuransikan.

Kewajiban pemberitahuan adalah salah satu bentuk kewajiban dari pihak Pemegang Polis, yang tertuang dalam Pasal 251 Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (KUHD) dan merupakan kewajiban dari pihak Perusahaan Asuransi yang diatur pada Pasal 5 UU No.8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Akan tetapi, kewajiban yang dimaksud dalam asuransi jiwa lebih menitikberatkan pada kewajiban pemberitahuan riwayat kesehatan calon nasabah.86

Kewajiban pemberitahuan yang utama menyangkut fakta-fakta yang sudah diketahui oleh calon Perusahaan Asuransi atau fakta-fakta yang seharusnya diketahui oleh calon Perusahaan Asuransi tentang kesehatan calon Pemegang Polis. Selain itu Perusahaan Asuransi diwajibkan untuk memberitahukan kepada calon Pemegang Polis tentang adanya kewajiban untuk memberi keterangan lengkap mengenai risikonya. Perusahaan Asuransi yang tidak jelas mengingatkan

85 Man Suparman Sastrawidjaja, Aspek-Aspek Hukum Asuransi dan Surat Berharga, Bandung: Alumni. hlm. 185.

86 Pasal 251 Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (KUHD).

Pemegang Polis akan adanya kewajiban tersebut tidak berhak untuk menolak klaim berdasarkan misrepresentation/ non-disclosure, kecuali dalam hal misrepresentation/ non-disclosure tersebut telah dilakukan oleh Pemegang Polis

secara curang (Fraudulent).87

Ketentuan mengenai kewajiban pemberitahuan khususnya dalam asuransi berkenaan dengan riwayat kesehatan dapat diajukan pemegang polis kepada perusahaan asuransi yaitu mengenai :88

1) Apa yang benar.

2) Apa yang benar seluruhnya.

3) Hanya apa yang benar mengenai isi perjanjian saja.

Setiap calon Pemegang Polis, sebelum menutup perjanjian asuransi mempunyai kewajiban untuk memberitahukan kepada calon Perusahaan Asuransi semua fakta yang diketahuinya atau yang seharusnya diketahuinya, sehingga calon Perusahaan Asuransi dapat memutuskan apakah akan menutup perjanjian asuransi atau tidak.

Bahkan apakah calon Perusahaan Asuransi akan menutup dengan syarat-syarat yang sama atau tidak.89

Menurut Abdulkadir Muhammad, kewajiban pemberitahuan dalam KUHD Pasal 251 adalah “tidak bergantung pada ada itikad baik atau tidak dari Pemegang

87 Helena Primadianti Sulistyaningrum, “Prinsip Itikad Baik (Pasal 251 KUHD) dalam Hal Terjadinya Penolakan Klaim Asuransi Kepada Tertanggung sebagai Konsumen (Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen)”, Pengajar di Fakultas Hukum, Universitas Sriwijaya, hlm.7

88 Sri Rejeki Hartono, Hukum Asuransi dan Perusahaan Asuransi, (Sinar Grafika : Jakarta, 1991), hlm.7

89 Ibid, hlm 8.

Polis”. Apabila Pemegang Polis keliru memberitahukan, tanpa kesengajaan, juga mengakibatkan batalnya asuransi.90

Pasal 251 KUHD membedakan 3 hal yaitu :

1) Pemegang Polis memberikan keterangan yang keliru ;

2) Pemegang Polis memberikan keterangan yang tidak benar, atau;

3) Pemegang Polis tidak memberikan keterangan mengenai hal-hal yang diketahui. 91

Menurut Djoko Prakoso, Pasal 251 KUHD hanya mengenai salah paham serta diperdayanya asuradur (pihak Perusahaan Asuransi), serta tidak mengenai kekeliruan atau diperdayanya pihak Pemegang Polis.92

Jika kekeliruan atau diperdayanya pihak Pemegang Polis maka KUHPerdata Pasal 1322 dan Pasal 1328 dipergunakan untuk memperjelas hal tersebut.

Perjanjian asuransi merupakan perjanjian tertulis sebagaimana diatur dalam ketentuan KUHD Pasal 255 dan Pasal 258.93

Maka secara adil adalah kewajiban memberikan keterangan dan informasi sebagai pencerminan itikad baik yang sempurna itu harus dipenuhi oleh kedua belah pihak, baik pihak Perusahaan Asuransi maupun pihak Pemegang Polis/pengambil asuransi mempunyai beban kewajiban sama dan seimbang.

90 Abdulkadir Muhammad, Hukum Asuransi Indonesia, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 2002), hlm. 73.

91 Pasal 251 Kitab Undang-Undang Hukum Dagang.

92 Ibid.

93 Djoko Prakoso, dan I Ketut Murtika, Hukum Asuransi Indonesia, (Jakarta: Rineka Cipta, 2004), hlm. 176-177.

b. Menurut Pengaturan PT. Asuransi Jiwa Sequislife

Kewajiban Pemberitahuan merupakan hal yang sangat penting dalam perjanjian asuransi jiwa. Hal ini sebagai bentuk kepercayaan antara kedua belah pihak yaitu pihak Perusahaan Asuransi dan pihak Pemegang Polis.94

PT.Asuransi Jiwa Sequislife lebih mencerminkan kewajiban pemberitahuan kepada pihak Pemegang Polis. Kewajiban Pemberitahuan yang dimaksud adalah mengenai kondisi kesehatan. Pemegang Polis wajib memberitahukan bagaimana kondisi kesehatannya pada saat sebelum pembuatan polis asuransi, yaitu dengan menjawab beberapa pertanyaan dari pihak asuransi dalam yang disebut SPAJ (Surat Pembuatan Asuransi Jiwa).95

Salah satu contoh bentuk pertanyaannya ialah mengenai, “Apakah Anda dalam keadaan sehat ?”, maka tersedia pilihan jawaban “ya” atau “tidak”. Jika jawaban “tidak” maka akan diberikan beberapa pertanyaan yang mendalam mengenai penyakit yang diderita. Hal ini bertujuan agar Pihak Asuransi yang diwakili oleh Agen Asuransi dapat menentukan dan menyarankan jenis asuransi apa yang paling tepat untuk kebutuhan calon Pemegang Polis (jika pemegang polis adalah Pemegang Polis itu sendiri atau jiwa yang ditanggung dalam polis asuransi tersebut.96

94 Hasil wawancara dengan Linawati (Deputy Regional Vice President Sequislife) pada tanggal 12 April 2020 di Kantor Sequislife Cabang Jalan Gatot Subroto No.15 Medan.

95 Hasil wawancara dengan Linawati (Deputy Regional Vice President Sequislife) pada tanggal 12 April 2020 di Kantor Sequislife Cabang Jalan Gatot Subroto No.15 Medan.

96 Hasil wawancara dengan Linawati (Deputy Regional Vice President Sequislife) pada tanggal 12 April 2020 di Kantor Sequislife Cabang Jalan Gatot Subroto No.15 Medan.

Pihak Asuransi Sequislife Pusat akan menyarankan Pemegang Polis / Pemegang Polis untuk melakukan medical check-up yang dibiayai oleh Perusahaan Asuransi tersebut berdasarkan keterangan dalam SPAJ. Jika hasil medical check-up tidak layak standart, maka ada tambahan premi pada polis

asuransi. Apabila Pemegang Polis/Pemegang Polis keberatan dalam hal tersebut,

asuransi. Apabila Pemegang Polis/Pemegang Polis keberatan dalam hal tersebut,

Dalam dokumen OLEH : NANDA LUCYA GULTOM (Halaman 46-0)