Kebebasan atau kesetaraan? Mengapa memilih?
BANYAK yang percaya bahwa liberalisasi dan pertumbuhan ekonomi menumbuhkan kesenjangan di masyarakat. Sekali lagi, saya ingin menunjukkan bahwa ini bukanlah hal yang terpenting. Jika standar hidup yang lebih baik layak diperjuangkan, maka yang penting adalah seberapa baik hidup Anda, titik. Bukan seberapa baik hidup Anda dalam perbandingan dengan hidup orang lain. Yang penting adalah bagi sebanyak mungkin orang standar hidup menjadi lebih baik, dan bahwa standar hidup semua orang dalam semua tingkatan dan seluruh golongan masyarakat tidak memburuk hanya karena peningkatan dan perbaikan standar hidup sebagian orang terjadi lebih cepat dari yang lain.
Namun demikian, memang ada beberapa alasan mengapa kesenjangan layak dituju. Pertama, sebagian besar kita mungkin percaya bahwa seharusnya kesenjangan dalam memulai perjalanan kehidupan tidak terlalu timpang. Adalah penting bahwa setiap orang memiliki kesempatan yang sama—memang tidak sedemikian penting sehingga kita harus mengurangi kesempatan orang lain agar sesetara mungkin, tetapi cukuplah penting untuk membuat kita menyadari bahwa kesenjangan sosial yang hebat adalah sebuah persoalan. Dengan demikian, hal ini merupakan keberatan yang penting untuk dicermati.
Alasan lainnya adalah bahwa pada kenyataannya kesetaraan itu merangsang pertumbuhan; ini lumayan bertentangan dengan klaim yang sering kita dengar. Benar, di masyarakat miskin sedikit ketimpangan mungkin diperlukan agar setiap orang dapat mulai menabung dan menanam modal; tetapi banyak penelitian telah menunjukkan bahwa masyarakat dengan tingkat kesetaraan yang tinggi berhasil mencapai rerata pertumbuhan ekonomi yang lebih
besar dibandingkan dengan masyarakat yang tidak setara, khususnya jika kesenjangan ini berupa ketimpangan dalam hal kepemilikan tanah. Satu alasan di balik kaitan ini adalah bahwa masyarakat dengan kesetaraan yang lebih tinggi dapat diperkirakan memiliki stabilitas yang lebih besar dan guncangan politik yang lebih kecil. Kesenjangan dapat menimbulkan konflik atau tuntutan untuk meningkatkan pajak dan redistribusi, yang merupakan ancaman bagi pertumbuhan.
Namun, ada alasan lain yang lebih penting. Orang harus memiliki asset dasar—hal-hal seperti tanah di wilayah ekonomi yang belum berkembang dan pendidikan di wilayah ekonomi modern—untuk dapat bekerja dengan efektif. Dengan demikian, yang penting adalah tingkat kesetaraan dalam hal asset dasar tersebut dan bukan apa yang biasanya dimaksudkan dalam perdebatan politis—kesetaraan pendapatan dan keuntungan. Reformasi yang krusial di negara- negara berkembang berstruktur feodal kuno dan tidak adil di mana kepemilikan tanah dikuasai oleh segelintir elit, adalah reformasi tanah; sehingga lebih banyak orang akan memiliki bagian lahan dan dengan demikian akan dapat berpartisipasi dalam perekonomian. Hal yang juga penting adalah bahwa seluruh masyarakat memeroleh pendidikan dan memiliki kesempatan untuk meminjam uang ketika mereka memiliki gagasan untuk proyek bisnis. Tak seorangpun boleh didiskriminasikan dan dikesampingkan, atau dicegah melalui persyaratan perizinan, larangan, dan pemberkahan hak-hak istimewa secara legal terkait persaingan untuk posisi dan pendapatan. Kesetaraan seperti ini mendorong pertumbuhan ekonomi, sedangkan realokasi pendapatan justru menguranginya oleh karena pendidikan, pekerjaan, dan pengenalan gagasan baru menjadi kurang menguntungkan.
Untuk sedikit menyederhanakan permasalahan, hal yang penting adalah kesetaraan kesempatan, bukan kesetaraan hasil. Tujuannya
Kebebasan atau kesetaraan? Mengapa memilih? 81
adalah agar orang memiliki kesempatan dasar tertentu dan kemudian bebas menjelajahi jalan usahanya ke depan dan mencapai hasil yang berbeda. Ini dua sisi dari uang logam yang sama: orang mempunyai kesempatan untuk bekerja dan mencoba hal baru, serta hak untuk menerima keuntungan dari hasil usahanya, jika berjalan dengan baik. Ini akan menghasilkan masyarakat yang mendorong mobilitas sosial dan menghargai inisiatif dan usaha—dan, sebagai konsekuensinya, kesejahteraan yang lebih besar. Bukanlah perbedaan pendapatan itu sendiri yang membahayakan perkembangan, melainkan diskriminasi dan hak-hak istimewa yang ikut menimbulkan perbedaan pendapatan di negara-negara yang tidak demokratis. Kenyataan bahwa kaitan antara kesenjangan dan pertumbuhan tampak amat jelas di negara- negara yang tidak demokratis tetapi tidak tampak di negara-negara liberal modern, adalah buktinya.40)
Tetapi dapatkah efek sebaliknya juga terjadi? Benarkah bahwa peningkatan pertumbuhan memperbesar kesenjangan seperti yang umumnya dipercaya? Ekonom kadang-kadang merujuk pada “Kurva U terbalik Kuznets”, atas dasar artikel ekonom Simon Kuznets, yang pada 1955 menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi di dalam masyarakat pada awalnya meningkatkan ketimpangan yang pada suatu saat kelak akan berkurang. Oleh banyak pihak pandangan ini dianggap sebagai kebenaran dan kadang disalahgunakan untuk mendiskreditkan gagasan pertumbuhan atau paling tidak untuk menuntut kebijakan redistribusi. Kuznets sendiri tidak menarik kesimpulan sedrastis itu. Sebaliknya, ia menyatakan dengan gamblang bahwa artikelnya
40) Mengenai kesetaraan asset vs. kesetaraan pendapatan, lihat Klaus Deininger dan P. Olinto, “Asset Distribution, Inequality, and Growth”, Policy Research Paper World Bank no. 2375 (Washington: World Bank, 2000). Untuk kaitannya dengan demokrasi, lihat Klaus Deininger dan Lyn Squire, “New Ways of Looking at the Old Issues: Asset Inequality and Growth,“ Journal of Development Economics 57 (1998): 259-87.
tersebut ditulis berdasarkan “barangkali 5 persen informasi empiris dan 95 persen spekulasi,” dan menambahkan bahwa “asalkan ini [artikel ini] dianggap sebagai kumpulan firasat yang masih perlu diteliti lebih lanjut dan bukan seperangkat kesimpulan yang telah teruji, [kesimpulan awal ini] tidak ada salahnya dan mungkin ada baiknya.”41)
Jika kita menuruti rekomendasi Kuznets dan menyelidiki apa yang telah terjadi sejak 1950-an, kita dapat melihat bahwa kesimpulan awalnya tidak sahih secara universal. Benar, bahwa pertumbuhan pada awalnya dapat menimbulkan ketimpangan, tetapi kaitannya tidak berlaku umum. Ada negara-negara yang telah mengalami pertumbuhan tinggi yang diikuti dengan pengurangan perbedaan pendapatan, seperti Indonesia, Malaysia, Taiwan, Korea Selatan, dan Mauritius; ada pula negara-negara seperti Cina, Thailand, Pakistan, dan Brazil yang pertumbuhan ekonominya semakin memperbesar perbedaan pendapatan. Dengan cara serupa, telah terjadi pula perubahan ke arah yang berbeda di negara-negara dengan pertumbuhan yang rendah atau negatif. Kesetaraan telah meningkat di Kuba, Kolombia, dan Maroko, tetapi menurun di Kenya, Etiopia, dan Meksiko selama periode 1980-an dan di Rusia pada 1990-an. Distribusi bergantung pada faktor-faktor lain, seperti posisi awal dan kebijakan domestik suatu negara. Bank Dunia menyimpulkan:
“Data yang ada menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang stabil antara pertumbuhan dan kesenjangan. Secara rata-rata, ketimpangan pendapatan di masing-masing negara tidak menurun
41) Simon Kuznets, “Economic Growth and Income Inequality“ (American Economic Review 45 (Maret 1955): 26.
Kebebasan atau kesetaraan? Mengapa memilih? 83 dan tidak juga meningkat dalam 30 tahun terakhir.”42)
Pertumbuhan ekonomi tidak meningkatkan kesenjangan
Korelasi pertumbuhan ekonomi dan ketimpangan di 80 negara) Sumber: David Dollar and Aart Kraay, Growth is Good for the Poor (Washington:
World Bank, April 2001)
42) World Bank, Income Poverty: Trends in Inequality (Washington: World Bank, 2000) http://www.worldbank.org/poverty/data/trends/inequal/htm. Data yang membantah Kuznets dipaparkan di Deininger dan Squire, h. 259-287. Untuk ulasan penelitian tersebut, lihat Arne Bigsten dan Jorgen Levin, Tillvaxt, inkomstfördelning och fattignom i u-länderna (Stockholm: Globkom, September 2000), http://www.globkom.net/rapporter.phtml. -2 0 5 10 -1 0 1 2 -5 Perubahan tahunan—kesenjangan
Melalui penelitiannya di 70 negara, ekonom G. W. Scully menemukan bahwa pendapatan terdistribusi lebih merata di negara- negara yang menganut ekonomi liberal, pasar terbuka, dan hak kepemilikan. Ini terutama karena pendapatan kelas menengah di ekonomi bebas lebih besar daripada di ekonomi yang tidak bebas; dan pendapatan kelas atas di ekonomi bebas lebih kecil daripada di ekonomi tidak bebas. Bagian pendapatan nasional yang jatuh ke tangan terkaya kelima dari populasi adalah 25 persen lebih rendah di ekonomi “paling bebas” daripada di ekonomi paling “tidak bebas”. Proporsi yang jatuh ke tangan termiskin kelima dalam masyarakat tidak terpengaruh oleh kebebasan ekonomi, tetapi pendapatan sebenarnya jauh lebih besar di ekonomi liberal.43)
43) G. W. Scully, Constitutional Environments and Economic Growth (Princeton, N.J.: Princeton University Press, 1992).
Kebebasan atau kesetaraan? Mengapa memilih? 85
Kebebasan ekonomi meningkatkan kesetaraan
(Pendapatan seperlima terkaya lebih tinggi berkali-kali lipat daripada seperlima termiskin, di berbagai negara)
Negara-negara dunia, yang dibagi ke dalam lima tingkat kebebasan ekonomi
Sumber: James Gwartney, Robert Lawson, dan Dexter Samida, peny., Kebebasan Ekonomi Dunia 2000 (Vancouver: Institut Fraser, 2000)
Jadi, bertentangan dengan anggapan populer, tingkat liberalisme yang lebih tinggi terlihat menunjukkan kesetaraan ekonomi yang lebih tinggi. Tetapi bagaimana dengan dampak peralihan ke ekonomi liberal? Apakah liberalisasi yang cepat berdampak negatif terhadap kesetaraan? Di sini, juga, akan muncul jawaban: tidak. Ekonom Swedia Niclas Berggren telah menyelidiki bagaimana pertumbuhan kebebasan ekonomi mempengaruhi kesetaraan ekonomi. Di negara yang telah meliberalisasi perekonomiannya sejak 1985, kesetaraan telah meningkat, sedangkan negara yang telah menghentikan
5 0
5 4 3 2 1
32.49
15.67
(Paling tidak bebas) (Paling bebas) 10 15 20 25 30 35 12.41 20.07 14.37 Persentase kesetaraan
liberalisasi perekonomiannya mengalami kemandekan atau penurunan dalam hal kesetaraan. Kesetaraan tumbuh paling pesat di negara-berkembang miskin yang mereformasi perekonomiannya dengan cepat. Temuan Berggren mengindikasikan bahwa terdapat dua penentu utama kesetaraan dalam masyarakat: kebebasan perdagangan internasional dan kebebasan pergerakan-internasional modal—dua jenis reformasi yang paling “mengglobal.”44)
Pola ini didukung oleh pengklasifikasian yang berbeda terhadap negara-negara, yang mengukur seberapa “global” mereka. Majalah
Foreign Policy dan perusahaan konsultan A. T. Kearny telah mencoba merancang “indeks globalisasi,” sebuah estimasi tentang seberapa besar penduduk suatu negara berbelanja, menanamkan modal, berkomunikasi, dan melakukan perjalanan ke luar negeri. Di negara- negara yang telah mengglobal, menurut temuan Kearny, kesenjangan sama sekali tidak meningkat. Sebaliknya,
“[p]ola umum berupa globalisasi yang lebih tinggi dan kesetaraan pendapatan yang juga lebih besar terjadi di banyak negara, baik di perekonomian yang matang maupun di pasar yang berkembang.”45)
Orang-orang yang berhaluan kiri sering mengatakan bahwa kebebasan individu dan kesetaraan ekonomi itu saling bertentangan; ini menjelaskan mengapa mereka merasa harus menentang salah
44) Niclas Berggren, “Economic Freedom and Equality: Friends or Foes? Public Choice”, vol 100 (September 1999): h. 203-23.
45) “Measuring Globalization,“ Foreign Policy, Januari/Februari 2001. Menurut edisi ketiga indeks ini, negara-negara yang paling mengglobal adalah Irlandia dan Swiss. AS berada di urutan ke-11, tetapi ini agak mengecoh karena AS begitu besar sehingga negara ini mengakomodasi perjalanan jarak-jauh, perdagangan dan komunikasi yang lebih panjang di dalam batas-batas negara itu sendiri daripada negara-negara yang kecil.
Kebebasan atau kesetaraan? Mengapa memilih? 87
satu dari kedua nilai yang dihargai secara luas tersebut. Mereka mungkin benar dalam pengertian bahwa para legislator harus memutuskan mana yang harus difokuskan dalam permusyawaratan mereka, tetapi tidak benar jika kedua nilai tersebut dikatakan saling bertentangan. Sebaliknya, kesetaraan kebebasan juga mendorong terjadinya kesetaraan ekonomi. Hak kepemilikan, kebebasan berusaha, perdagangan bebas, dan inflasi yang berkurang memberikan pertumbuhan dan kesetaraan secara sekaligus.