BAB 5. PEMBAHASAN
5.2 Kecukupan Infrastruktur untuk Kesiapan dalam Menghadapi
5.2.3 Kecukupan Obat Rumah Sakit
Dalam pelaksanaan kegiatan pelayanan selama ini kebutuhan obat ada disediakan melalui APBD walau dirasa kurang cukup, bisa dikarenakan dana terbatas atau manajemen perencanaannya yang tidak baik. Di era JKN ini, kebutuhan obat terutama bagi peserta JKN dapat diproses dengan berpedoman pada e-catalog. Hasil penelitian kecukupan obat untuk kesiapan dalam menghadapi era JKN di BLUD RSU Tgk Chik Ditiro Sigli masih kurang untuk jenis obat yang tidak tercantum di e-catalog. Sehingga bila obat yang dibutuhkan pasien tidak ada, terpaksa dibeli dari
apotik lain di luar rumah sakit. Ada kalanya, pasien/keluarga pasien dianjurkan untuk membeli menggunakan biaya sendiri dan akan diganti pada saat klaim.
Untuk itu, bila ditinjau dari meningkatnya jumlah pasien pengguna kartu BPJS di era JKN ini, ke depannya perlu pengadaan obat sesuai kebutuhan. Untuk itu pihak Instalasi Farmasi telah menyusun permintaan kebutuhan obat ke instansi atasan dan meningkatkan pengawasan penggunaan obat.
Dari hasil pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa secara umum ditinjau dari kecukupan infrastruktur yaitu kecukupan prasarana rumah sakit, kecukupan sarana peralatan medis, dan kecukupan obat untuk kesiapan dalam menghadapi era JKN di BLUD RSU Tgk Chik Ditiro Sigli sudah memenuhi standar minimal namun perlu peningkatan dan pengadaan beberapa sarana dan prasarana.
Pengadaan sarana dan prasana yang diperlukan seperti AC/ ventilasi udara di ruang tunggu, peralatan medis ct-scan dan rongent panoromik. Sedangkan yang perlu ditingkatkan adalah jumlah ruang rawat inap untuk pasien JKN khususnya di Kelas III dan di Poli Kebidanan. Masih kurangnya infrastuktur ini memberi dampak pada adanya pasien JKN yang ditempatkan sementara di lorong ruang rawat inap menunggu tempat tidur dan kamar rawat inap kosong.
Kondisi masih kurangnya infrastruktur di BLUD RSU Tgk Chik Ditiro Sigli, dibuktikan di Harian Serambi pada tanggal 1 Desember 2014 bahwa ada 7 pasien yang dirawat di lorong di BLUD RSU Tgk Chik Ditiro Sigli. Pada saat itu, terlihat para pasien di lorong ada yang terbaring, ada yang duduk bersandar dengan tangan
Berita lainnya menurut Kepala Bidang Pelayanan Medis BLUD RSU Tgk Chik Ditiro Sigli bahwa jumlah pasien JKN di rumah sakit ini meningkat hingga 270 pasien pada tanggal 1 Desember 2014, sementara kapasitas tempat tidur hanya 239. Menyikapi kondisi ini, selain ditempatkan di lorong, pada kamar yang biasanya berisi 5 tempat tidur dipadatkan menjadi 7 tempat tidur (Nurhayati, 2014).
Kecukupan infrastruktur rumah sakit dalam penelitian ini dimaksudkan untuk kesiapan rumah sakit di era JKN. Menurut Desplaces (2005) definisi kesiapan diawali dari kesiapan secara individu yaitu: kesiapan individu untuk menghadapi perubahan akan menjadi daya pendorong yang membuat perubahan itu akan memberikan hasil yang positif. Beberapa kajian terbaru tentang konstruk variabel kesiapan untuk berubah menjelaskan bahwa sesungguhnya kesiapan individu untuk berubah dapat diidentifikasi dari sikap positif individu terhadap perubahan, persepsi dari keseluruhan warga organisasi untuk menghadapi perubahan, dan rasa percaya individu dalam menghadapi perubahan.
Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian Thalib pada tahun 2009 tentang studi pelaksanaan jaminan kesehatan masyarakat di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Buton, bahwa pelaksanaan Jamkesmas di RSUD Kabupaten Buton yang ditinjau dari berbagai aspek diperoleh hasil yaitu untuk aspek kepesertaan, pelayanan kesehatan dan pendanaan di RSUD Kab. Buton sudah terlaksana sesuai dengan pedoman pelaksanaan jaminan kesehatan masyarakat namun dalam pelaksanaannya belum maksimal dan masih terdapat masalah dalam
pelaksanaannya baik dari pihak rumah sakit, pemerintah setempat maupun dari pemerintah pusat.
Hasil penelitian ini juga didukung oleh hasil penelitian Dewi pada tahun 2010 menunjukkan efektivitas program JKBM (Jaminan Kesehatan Bali Mandra) di Kecamatan Gianyar sebesar 93,75% yang berarti tingkat efektivitas Program JKBM di Kecamatan Gianyar Kabupaten Gianyar masuk dalam kategori sangat efektif.
Selain itu keberhasilan Program JKBM dapat disimpulkan bahwa Program JKBM dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat di Kecamatan Gianyar. Manfaat paling besar yang dirasakan pengguna JKBM adalah mengurangi pengeluaran biaya kesehatan mereka. Terdapat hubungan yang signifikan antara karakteristik responden dengan persepsinya terhadap manfaat Program JKBM.
Dari hasil pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa secara umum BLUD RSU Tgk Chik Ditiro Sigli ditinjau dari kecukupan infrastruktur sudah benar-benar siap memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat di Era JKN. Walau dalam hal persediaan obat khususnya pada akhir bulan sering kurang, namun pihak manajemen rumah sakit selalu memberikan jalan keluar. Hal ini lebih dibuktikan dengan tingkat efektivitas BLUD RSU Tgk Chik Ditiro Sigli dinilai dari Bed Occupancy Ratio (BOR) sudah melebihi target nasional (BOR ideal: 60-85%) yaitu sebesar 96,54%.
BAB 6
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian serta pembahasan yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan:
1. Ketersediaan tenaga kesehatan untuk kesiapan menghadapi era JKN di BLUD RSU Tgk Chik Ditiro Sigli sebagian sudah memenuhi kebutuhan sesuai kelas B dan sebagian masih kurang, dengan rincian sebagai berikut:
a. Ketersediaan dokter spesialis masih perlu penambahan karena belum ada dokter spesialis bedah saraf dan subspesialis.
b. Ketersediaan dokter umum sudah melebihi jumlah yang dibutuhkan.
c. Ketersediaan dokter gigi belum memenuhi kebutuhan karena belum ada dokter spesialis gigi dan subspesialis.
d. Ketersediaan perawat belum memenuhi kebutuhan rumah sakit sementara bidan sudah memenuhi.
e. Ketersediaan apoteker belum memenuhi kebutuhan rumah sakit sedangkan tenaga asisten apoteker sudah melebihi.
f. Ketersediaan tenaga kesehatan masyarakat sudah memenuhi kebutuhan rumah sakit namun belum dimaksimalkan pemberdayaannya.
g. Ketersediaan tenaga gizi belum memenuhi kebutuhan rumah sakit.
h. Ketersediaan tenaga keterapian medis sudah memenuhi kebutuhan rumah sakit.
i. Ketersediaan tenaga keteknisian medis sudah memenuhi kebutuhan rumah sakit, namun perlu peningkatan secara kualitas.
2. Kecukupan infrastruktur untuk kesiapan menghadapi era JKN di BLUD RSU Tgk Chik Ditiro Sigli sebagian sudah memenuhi kebutuhan sesuai kelas B dan sebagian masih kurang, dengan rincian sebagai berikut:\
a. Ruang tunggu di poli rawat jalan masih perlu pengadaan AC, gedung rawat inap untuk Poli Kebidanan masih perlu penambahan dan depo obat masih terisi di Instalasi Farmasi saja namun belum ada di tiap ruang perawatan.
b. Peralatan medis berupa ct-scan dan rongent panoramik untuk mengetahui keadaan gigi pada saluran akar gigi belum ada.
c. Kecukupan obat masih terbatas pada daftar obat yang ada di e-catalog.
6.2 Saran
Berdasarkan kesimpulan di atas maka diajukan beberapa saran sebagai berikut:
1. Kepada Rumah Sakit
Dengan baru beralihnya status kelas BLUD RSU Tgk Chik Ditiro Sigli jadi kelas B dan melihat lokasi rumah sakit di jalan lintas Sumatera dan kasus-kasus pasien rumah sakit yang tinggi (BOR 96,54%) disarankan:
73
a. Rumah sakit mengusulkan penambahan tenaga ahli sesuai standar rumah sakit kelas B (seperti dokter spesialis dan perawat).
b. Mengingat rumah sakit ini berada di jalan lintas perlu diusulkan penambahan peralatan seperti CT scan.
c. Rumah sakit perlu mengusulkan penambahan ruang perawatan dengan peralatannya mengingat BOR > 95%.
d. Perlu penambahan infrastruktur lainnya untuk kenyamanan seperti ruang tunggu yang nyaman, dan halaman parkir yang luas.
e. Mengusulkan penambahan tenaga subspesialis sesuai kebutuhan seperti ahli gigi, ahli jantung dan sebagainya.
f. Mengembangkan program pelatihan untuk tenaga yang diperlukan (seperti perawat, tenaga administrasi dan sebagainya) sesuai dengan kebutuhan.
g. Rumah sakit membuat rencana kerja dan rencana kebutuhan dana untuk diusulkan ke pusat dalam rangka meningkatkan kinerja rumah sakit.
h. Diperlukan tambahan insentif tenaga spesialis dalam meningkatkan kinerja dan menghindari turn over.
2. Kepada Pemerintah Kabupaten Pidie
a. Mengusulkan penambahan ruang perawatan dan tempat tidur khusus untuk ruang rawat inap di BLUD RSU Tgk Chik Ditiro Sigli.
b. Menyalurkan tambahan anggaran di APBD Rumah Sakit untuk biaya beasiswa bagi tenaga kesehatan melanjutkan pendidikannya khususnya dokter spesialis di BLUD RSU Tgk Chik Ditiro Sigli.
c. Menempatkan formasi tenaga kesehatan dan non kesehatan PNS yang diusulkan oleh BLUD RSU Tgk Chik Ditiro Sigli.
d. Penambahan tenaga administrasi terutama keuangan/akuntansi dan tenaga-tenaga yang dibutuhkan sesuai struktur BLUD RSU Tgk Chik Ditiro Sigli kelas B.
DAFTAR PUSTAKA
Adisasmito, W. 2009. Sistem Manajemen Rumah Sakit. PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Ady, 2014. Ini Strategi Rumah Sakit Swasta Hadapi JKN.
http://www.hukumonline.com.
Agustino, Leo. 2006. Dasar-dasarKebijakan Publik. Bandung: Alfabeta.
Azwar, Azrul. 2010. Pengantar Administrasi Kesehatan. Binarupa Aksara, Tangerang.
Balai Pustaka. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi ke-3. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta.
Bungin, Burhan. 2007. Metode Penelitian Kuantitatif. Prenada Media, Jakarta.
Citra, Indri. 2015. Indikator Ketersediaan SDM dan Sarana-Prasarana di Rumah Sakit, http://www.academia.edu/5374617/.
Creswell, John W. 1994. Research Design: Qualitative and Quantitative Approaches.
SAGE Publications, Inc, California.
Depkes RI, 2005. Indikator Kinerja Rumah Sakit, Direktorat Jenderal Pelayanan Medik, Jakarta.
Depkes RI, 2012. Sistem Kesehatan Nasional (SKN). Jakarta.
Desplaces, D. 2005. “A Multilevel Approach to Individual Readiness to Change,”
Volume 7.
Dewi, I.A. Candrika, 2012. Analisis Perencanaan Sistem Program Jaminan Kesehatan Bali Mandra (JBKM). Tesis Fakultas Ekonomi Program Magistes Perencanaan dan Kebijakan Publik. UI, Jakarta.
Direktorat Bina Upaya Kesehatan. 2012. Pedoman Teknis Bangunan Rumah Sakit Kelas B. Kemenkes RI, Jakarta.
Djatmiko, Ario. 2014. MEA, IDI dan Kehidupan Berbangsa. Halo Internis: Edisi November 2014., www.pbpapdi.org.
Fajrin, Febri. 2013. Implementasi Kebijakan Pelayanan Jaminan Kesehatan Kota (Jamkesko)- Studi Kasus di Kecamatan Pontianak Selatan, Kota Pontianak Propinsi Kalimantan Barat. Jurnal Tesis. Universitas Tanjung Pura Pontianak.
Geswar, Rezky Kurnia. 2014. Kesiapan Stakeholder dalam Pelaksanaan Program Jaminan Kesehatan Nasional di Kabupaten Gowa. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin, Makassar.
Grigg, Neil. 1988. Infrastructure Engineering And Management. John Wiley and Sons.
HealthyEnthusiast. 2015. Menghitung BOR, ALOS, TOI dan BTO.
http://www.healthyenthusiast.com.
Ilyas, Yaslis. 2012. Kinerja, Teori, Penilaian & Penelitian. FKM-UI, Jakarta.
Kemenkes RI, 2012. Kesiapan Pemerintah Dalam Implementasi UU SJSN Menuju Universal Health Coverage, Naskah dipresentasikan dalam Seminar National Input For Achieving Universal Health Coverage, Yogyakarta.
________, 2013. Buku Pegangan Sosialisasi Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dalam Sistem Jaminan Sosial Nasional, Kementerian Kesehatan RI, Jakarta.
________, 2013. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor. 71 Tahun 2013 tentang Tarif Pelayanan Kesehatan Pada JKN, Kementrian Republik Indonesia, Jakarta.
________, 2013. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor. 326/Menkes/SK/IX/2013 tentang tarif Penyiapan Kegiatan penyelenggaraan Jaminan Kesehatan Nasional. Kementrian kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.
Kodoatie, Robert J. Pengantar Manajemen Infrastruktur. Pustaka Pelajar, Yogjakarta.
Lehman, Glen. 2005. A Critical Perspective on the Harmonisation of Accounting In A Globalising World. Critical Perspectives on Accounting. Vol. 16, halaman 975-92.
Nadar, Muhammad 2015. Ruang Tunggu RSU Sigli Panas. Harian Serambi Indonesia tanggal 23 Mare 2015.
Nurhayati, 2014. Pasien RSUD Sigli Tidur di Lorong-Ruang Rawat Inap Minim.
Harian Serambi Indonesia, tgl. 1 Desember 2014.
Peraturan Menteri Kesehatan R.I Nomor: 262/Men.Kes./Per/VII/1979 tentang Standarisasi Ketenagaan Rumah Sakit.
Peraturan Menkes RI No. 228/Menkes/SK/III/2002 tentang Penyusunan Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit yang Wajib Dilaksanakan Daerah.
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 340/MENKES/PER/III/2010 tentang Klasifikasi Rumah Sakit Berdasarkan Fasilitas dan Kemampuan Pelayanan.
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 71 Tahun 2013 tentang Pelayanan Kesehatan pada JKN.
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 56 Tahun 2014 tentang Klasifikasi dan Perizinan Rumah Sakit.
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 59 Tahun 2014 tentang Standar Tarif Pelayanan Kesehatan Dalam Penyelenggaraan Program Jaminan Kesehatan.
Peraturan Presiden Nomor 12 tahun 2013 tentang Jaminan Kesehatan.
PPM Riset, 2008. Outsourcing. Jakarta. http://www.ppm-manajemen.ac.id.
Purwoko, 2012. Konsepsi Pengawasan Operasional Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN) terhadap kegiatan Operasional Badan Penyelenggaraan Jaminan Sosial (BPJS). Dalam Jurnal Legislasi Indonesia Vol. 9 No. 2, Jakarta.
Rivai, V & Mulyadi, D. 2009. Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi.
PT.Rajagrafindo Persada, Jakarta.
Rivany, Ronnie. 2010. Quo Vadis Undang-Undang Sistem Jaminan Sosial Nasional?.
Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Volume 13 No. 03 September 2010.
Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Depok.
RSU BLUD Tgk Chik Ditiro Sigli, 2012. Profil RSU BLUD Tgk Chik Ditiro Sigli Kabupaten Pidie.
Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Pendidikan-Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D, Cetakan ke 7. Penerbit Alfabeta, Jakarta.
Surat Keputusan Menteri Kesehatan No. 129/Menkes/SK/2008 tentang Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit.
Thabrany, Hasbullah. 2014. Jaminan Kesehatan Nasional. PT. RajaGrafindo Persada, Jakarta.
Thalib, Jamaluddin, 2009. Studi Pelaksanaan Jaminan Kesehatan Masyarakat di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Buton, FKM Universitas Hasanuddin, Semarang.
Wikipedia. 2015. Infrastruktur. http://id.wikipedia.org/wiki.
Winarno, Budi, 2007, Teori Dan Proses Kebijakan Publik, Yogjakarta: Madia Pressindo.
Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN).
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan.
KARAKTERISTIK INFORMAN
Ketersediaan Tenaga Kesehatan dan Kecukupan Infrastruktur untuk Kesiapan dalam Menghadapi Era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)
Di BLUD Rumah Sakit Umum (RSU) Tgk Chik Ditiro Sigli Kabupaten Pidie
Petunjuk Pengisian:
Isilah titik-titik di bawah ini sesuai keadaan Bapak/Ibu yang sebenarnya.
No. Informan : ……(diisi oleh peneliti) Tgl. Wawancara : ………..
Tmp. Wawancara : ………..
Umur Informan : ………tahun
Jenis Kelamin : ………..
Pendidikan : ………..
Jabatan : ………..
Tempat Tugas/Ruangan : ………..
PANDUAN WAWANCARA
Ketersediaan Tenaga Kesehatan dan Kecukupan Infrastruktur untuk Kesiapan dalam Menghadapi Era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)
Di BLUD Rumah Sakit Umum (RSU) Tgk Chik Ditiro Sigli Kabupaten Pidie
A. Tenaga Kesehatan
1. Bagaimana menurut Bapak/Ibu kondisi tenaga kesehatan yang tersedia di rumah sakit ini baik secara kuantitas (jumlah) maupun kualitas (keterampilan) mencakup:
a. Dokter spesialis b. Dokter umum c. Dokter gigi d. Perawat
e. Teknisi kefarmasian
f. Tenaga Kesehatan Masyarakat g. Tenaga Gizi
h. Tenaga keterapian medis i. Tenaga keteknisian medis.
B. Kecukupan Infrastruktur Rumah Sakit
1. Bagaimana menurut Bapak/ibu kondisi bangunan rumah sakit ini?
2. Bagaimana menurut Bapak/ibu kondisi ruangan mencakup ruang tunggu, ruangan rawat jalan dan rawat inap di rumah sakit ini?
3. Bagaimana menurut Bapak/ibu fasilitas/peralatan pendukung di setiap ruangan di rumah sakit ini?