Kegagalan pasar (market failure): suatu keadaan (hipotetis) dimana pasar tidak memberikan respon apapun atas suatu produk saat terjadi over supply atau
demand. Harga tidak mampu berperan membatasi demand juga tidak bisa memicu
peningkatan supply sehingga tidak terjadi alokasi sumberdaya secara optimal. Contoh: pada saat menghadapi eksternalitas negatif, common resources, public
goods, dan property rights, monopoli
Kebanyakan keadaan inefisiensi dan salah urus dalam pemanfaatan sumberdaya alam dan lingkungan hidup dapat ditelusuri penyebabnya yang kebanyakan disebabkan karena tidak berfungsinya atau terjadinya penyimpangan dalam sistem ekonomi pertukaran (exchange economy). Dalam keadaan ini sistem pasar tidak berdayanya dalam melaksanakan fungsinya, sehingga sistem tersebut tidak mampu bekerja sama sekali.
Harga-harga yang diturunkan oleh sistem pasar yang demikian tidak lagi mencerminkan biaya dan manfaat sosial yang sebenarnya dari penggunaan sumberdaya yang bersangkutan. Melainkan harga-harga tersebut pada keadaan itu hanya akan memberi informasi yang salah yang menyangkut kelangkaan sumberdaya dan tidak akan memberi perangsang kepada sistem pengelolaan yang baik dan tidak efisien dalam pemanfaatan dan meningkatkan kegunaan sumberdaya alam yang bersangkutan (seperti banyak terjadi pada sumberdaya hutan, air, lahan, minyak, udara).
Unsur-unsur kegagalan pasar yang penting adalah :
1. Tidak jelasnya pengukuhan atas hak-hak (property righti). Hak-hak individual terhadap sumberdaya sering keadaanya tidak jelas atau menghadapi
ketidakpastian, bahkan hak-hak tersebut sama sekali tidak ada. Padahal ketegasan mengenai hak-hak tersebut merupakan persyaratan pokok untuk berlangsungnya operasi sistem ekonomi (pertukaran) pasar yang efisien.
2. Tipisnya atau tidak bekerjanya sistem pertukaran pasar. Keadaan pasar yang tipis yang bersangkutan atau keadaan pasar demikian rupa sehingga orang tidak menghargai lagi sumber daya yang langka itu. Dalam keadaan ini sebenarnya tidak terdapat pasar yang mampu mempertukarkan nilai-nilai sumberdaya (alam). Pasar yang tipis disebabkan karena penawaran yang kecil dan hanya dapat diatasi dengan perbaikan yang melalui konservasi atau mencari substitusinya.
3. Terjadinya externalities yang meluas. Terjadinya externalities merupakan beban masyarkat yang tidak diperhitungkan pada kalkulus mengambil keputusan pihak individual swasta. Dampak spill over yang terjadi atau keterkaitan antar sektor yang bekerja, terjadi malah berjalan di luar sistem ekonomi pasar. Faktor yang mempertajam terjadinya perbedaan (divergence) antara penilaian (valuation) dari pihak swasta (private) dan masyarakat luas (social) akan mengarah kepada penentuan harga yang tidak efisien. Hal ini disebabkan karena terjadinya biaya eksternal atau yang disebut dampak spill
over yang secara umum disebut externalities.
4. Terjadinya biaya transaksi yang tinggi. Biaya transaksi yang tinggi sering menghambat terjadinya pertukaran yang bermanfaat dan yang memungkinkan penghematan sumber daya untuk memperbaiki kesejahteraan masyarakat. Ke dalam biaya transaksi ini termasuk biaya informasi, biaya negoisasi, biaya monitoring dan biaya enforcement.
5. Kenyataan terdapatnya barang umum (public good). Ketersediaan dan pemeliharaan publik good tidak dapat atau tidak mungkin disediakan oleh sektor swasta melalui sistem pasar karena ketidakmampuannya untuk mengeluarkan free-riders. Juga kesulitan untuk menanggung biaya penyediaan karena upaya eksklusif tersebut sulit dilaksanakan secara teknis atau bahkan tindakan pemisahan yang dipaksakan akan mengakibatkan berkurangnya kesejahteraan masyarakat. Public good sebenarnya terjadi hanya dalam keadaan eksternalitas yang ekstrim, joint impact good, dimana opportunity cost konsumsinya menjadi nol karena tidak dapat memisahkan (secara eksklusif) antara konsumen satu dengan yang lainnya dalam menikmati barang tersebut. 6. Terjadinya kekurangan persaingan pasar. Kekurangan persaingan dalam sistem
pasar, khususnya yang menyangkut kekurangan persaingan dalam bentuk seperti terjadinya struktur monopoli lokal lokal, oligopoli dan pasar tersekat-sekat (segmented market) mengarah kepada misalokasi sumberdaya.
7. Sikap miopia (myopic) : sikap penglihatan jangka pendek dan sempit yang berarti pendeknya lawas cakupan perencanaan (planning horizon) atau terlalu tingginya tingkat diskonto waktu yang dapat disebabkan oleh kemiskinan, kekurangsabaran, dan terdapatnya resilo atau ketidaktentuan yang mempengaruhi individual, tetapi tidak mempengaruhi masyarakat secara keseluruhan.
8. Terdapat unsur resiko dan ketidaktentuan (risk and uncertainty). Keadaan ekonomi yang menghadapi resiko dan ketidakpastian yang besar, menyebabkan masyarakat tidak tenang. Oleh karena itu, banyak anggota masyarakat tidak senang pada resiko (risk aversion) yang akan mengarah bukan hanya terjadinya
diskonto yang tinggi, tetapi juga tidak mau untuk melakukan investasi yang sebenarnya mungkin menguntungkan, tetapi karena besarnya ragam pendapatan yang diharapkan, maka hal tersebut menjadi penyebabb terhambatnya usaha investasi.
9. Terjadinya irriversibility. Irriversibility terjadi pada keadaan dimana keputusan pasar yang menghadapi ketidakpastian mengarah kepada hasil-hasil yang
irreversible, maka pasar akan gagal untuk mengalokasikan sumberdaya secara
cermat.
Eksternalitas menyebabkan pasar mengalami inefisiensi, kondisi ini disebut sebagai kegagalan pasar (market failure). Ketika kegagalan pasar terjadi, pasar menghasilkan terlalu banyak barang dan jasa tertentu, dan terlalu sedikit menghasilkan barang dan jasa yang lain. Kesimbangan pasar menunjukkan keadaan permintaan sama dengan penawaran, dimana kerelaan membayar dari pembeli marginal barang (marginal benefit) yang ditunjukkan oleh permintaan sama dengan tambahan biaya (marginal cost) untuk barang tersebut yang ditunjukkan oleh penawaran. Dengan kata lain pada kondisi ini terjadi alokasi sumberdaya yang efisien. Pada saat terjadi eksternalitas positif, misalnya adanya perbaikan teknologi, adanya perbaikan tersebut masyarakat memperoleh kemudahan tanpa ikut menanggung biayanya. Keadaan ini menyebabkan, manfaat marginal tidak sama dengan biaya marginal untuk menghasilkan barang tersebut. Demikian pula dengan eksternalitas negatif, penggunaan kendaraan bermotor oleh seorang individu akan memberikan mafaat bagi pengguna, namun polusi yang dikeluarkan dari penggunaan kendaraan tersebut berdampak buruk bagi kesehatan pengguna jalan yang tidak memperoleh manfaat dari kendaraan tersebut. Artinya
terjadi perbedaan marginal benefit dan marginal cost sebagai hasil dari kegiatan tersebut.
EKSTERNALITAS
1. Eksternalitas Teknis (Technical Externalities)
Eksternalitas teknis timbul apabila kurva biaya rataan jangka panjang (long run average cost, LAC) mengalami penurunan dalam kisaran output sampai satu titik, dimana semua permintaan dicukupi. Keadaan menurunnya kurva LAC menunjukkan bahwa telah terjadi skala ekonomi (economic of scale) dalam produksi. Dalam keadaan kurva LAC menurun, yaitu pada keadaan dimana harga sama dengan biaya marjinal (p = LAC), akan menyebabkan terjadinya kerugian kepada perusahaan, karena biaya rataan untuk memproduksikan barang dan jasa terletak di atas keuntungan rata-rata atau harga pasar. Keadaan tersebut akan mengarah kepada suatu keadaan monopoli alami (natural monopoly), jika barang dan jasa tersebut disediakan oleh sektor swasta. Oleh karena suatu perusahaan monompoli dapat mengendalikan dan menentukan besarnya tingkat produksi yang akan dipasarkan dengan mempersamakan biaya marjinal sama dengan penerimaan marjinal (LMC = Mri), kemudian perusahaan juga akan menentukan tingkat harga sesuai dengan fungsi permintaannya. Pada keadaan ini, harga pasar akan terletak diatas biaya marjinal, sehingga keadaan ini akan menyebabkan alokasi sumberdaya yang tidak efisien (inefficient resource allocation.
Oleh karena monopoli mengarah kepada inefficiency, maka beroperasinya perusahaan monopoli dalam pasar akan menimbulkan kerugian kepada masyarakat (dead weight loss). Keadaan ini oleh karenanya akan mengundang campur tangan oleh pemerintah. Bentuk campur tangan pemerintah yang umum
berupa pengaturan oleh pemerintah (government regulation). Pengaturan yang dilakukan terhadap perusahaan swasta atau perusahaan milik negara (BUMN) yang berkaitan dengan utilitas publik merupakan cara-cara yang biasa dilakukan untuk mencegah meningkatnya harga-harga kepada tingkat harga monopoli. Dalam keadaan ini perbedaan antara harga dan biaya marjinal dapat diterima, dimana pengaturan harga-harga tersebut pada tingkat dimana perusahaan-perusahaan dapat menutupi biaya-biaya tetap (average fixed cost, AFC), tetapi perusahaan masih dapat memperoleh keuntungan normal. Keuntungan normal ini nilainya harus setaraf dengan pendapatan dari usaha-usaha lain yang terdapat dalam ekonomi.
Pendekatan lainnya adalah melalui penyediaan utilitas publik oleh pemerintah. Dalam kasus ini barang atau jasa disediakan oleh pemerintah pada situasi ini harga disamakan dengan biaya marjinal disertai dengan menggunakan pajak-pajak ‘lum sum’ (lump sum taxes) untuk nantinya dapat membayar biaya-biaya tetap yang berkaitan dengan penyediaan barang dan jasa. Pajak-pajak tersebut umpamanya dipergunakan untuk membangun jalan, jembatan dimana sama sekali jembatan dan jalan tersebut dibuat, biaya marjinal untuk kendaraan dapat berjalan dan menyeberang jembatan, pada dasarnya bernilai nol (sekurang-kurangnya sampai kepada titk kongesti) dengan penentua besarnya pembayaran tersebut sama dengan nol).
2. Eksternalitas Barang Publik (Public Good Externalities)
Bentuk kedua dari jenis eksternalitas terdapat pada barang publik (public
goods). Suatu barang publik merupakan sesuatu yang apabila barang tersebut
keperluan konsumsi bagi orang-orang lain. Dengan demikian semua orang dapat memperoleh ‘akses’ kepada barang publik yang dalam waktu yang sama tidak seorang pun dapat dikucilkan (excluded) dari kegiatan konsumsi, sekali barang tersebut disediakan. Contoh-contoh dari barang-barang publik adalah cahaya matahari, udara bersih, pertahanan negara, dan pemandangan yang menimbulkan kesenangan (amenity). Tetapi sebenarnya hanya sedikit saja yang betul-betul merupakan ‘barang publik murni (pure public good), karena kebanyakan unsur-unsur swasta (priveteness) juga terdapat didalamnya.
Barang publik merupakan bentuk eksternalitas, karena pada barang tersebut tidak mengandung insentif ekonomi bagi individual (private) untuk menyediakannya. Pihak swasta baru mau menyediakan sesuatu barang apabila seluruh manfaat dari penyediaannya dapat ditangkap olehnya sendiri. Pada keadaaan barang publik tidak memungkinkan adanya hak-hak swasta (private
property right) yang melekat atau terkait dengan barang-barang publik tersebut.
Oleh karena itu, sebagai akibatnya maka pemerintahlah yang harus menyediakannya, karena pada keadaan ini tidak ada individu atau perusahaan swasta yang mau menyediakan jasa semacam pertahanan negara umpamanya. 3. Eksternalitas Teknologikal (Technological Externality) atau Eksternalitas
Kepemilikan (ownership Externality)
Jenis eksternalitas penting yang lain menyangkut apa yang disebut ‘eksternalitas teknologikal (technological externality). Jenis eksternalitas ini terjadi apabila tindakan yang dilakukan oleh salah satu pelaku ekonomi dampaknya dirasakan oleh pelaku ekonomi lain (external agent), tetapi dampak ini tidak termasuk ke dalam perhitungan biaya-biaya atau keuntungan dari pelaku
eksternal menanggung beban (biaya) atau menerima manfaat (keuntungan), sebagai akibat dari tindakan pelaku pertama, tetapi dampak-dampaknya tidak masuk diperhitungkan oleh pelaku ekonomi pertama. Jadi,sementara dalam proses ekonomi secara fisik mempunyai keterkaitan yang erat (physically linked), namun dampak ekonominya bersifat terpisah.
Meskipun ada cara untuk mengurangi tingkat eksternalitas dari jenis ini, namun untuk menghilangkan sama sekali semua eksternalitas teknologikal (technological externalities) tidaklah mungkin. Tetapi yang lebih penting adalah bagaimana caranya kita dapat menemukan tingkat jumlah eksternalitas yang optimal, yaitu tingkat pencemaran yang masih diizinkan, namun tujuan agar tingkat kesejahteraan masyarakat keseluruhan dapat meningkat. Oleh karena itu, diperlukan adanya pemberian dan penegasan hak-hak (property right assignment) yang akan memegang peranan dalam mengatasi terjadinya eksternalitas tersebut. 4. Ekternalitas Financial (Pecuniary Externality)
Suatu jenis eksternalitas lain yang sering mengaburkan dalam penentuan kebijaksanaan sumber daya alam adalah dampak finansial (pecuniary effects) dari kejadian eksternalitas, dibanding dengan dampak eksternalitas yang sifatnya riil/ dampak finansial (pecuniary effects) sebenarnya memperhatikan terjadinya transfer pendapatan. Eksternalitas finansial timbul sebagai akibat apabila tindakan salah satu pelaku ekonomi mempengaruhi pelaku yang lain dengan melalui proses tranksaksi melalui sistem pasar.
Adalah kerugian atau keuntungan-keuntungan yang diderita atau dinikmati pelaku ekonomi karena tindakan pelaku ekonomi lain. Diseconomies externality adalah tindakan pelaku ekonomi yang satu merugikan yang lain. Economies
externality atau benefit externality adalah tindakan pelaku ekonomi yang satu menguntungkan yang lain.
merugikan menyebabkan pasar tidak bisa efisien.
Contoh
Eksternalitas Negatif
menyebabkan resiko kesehatan bagi yang menghirup.
Polusi dan titik optimalnya bagi masyarakat
negatif, seperti polusi, biaya sosial suatu barang melebihi biaya swastanya. Jumlah yang optimal, Qoptimum lebih kecil daripada jumlah keseimbangannya, Qmarket
Eksternalitas Positip
semua orang. Pendidikan akan meningkatkan produktivitas sehingga akan meningkatkan pendapatan.
externality atau benefit externality adalah tindakan pelaku ekonomi yang satu menguntungkan yang lain. Eksternalitas yang menguntungkan maupun yang merugikan menyebabkan pasar tidak bisa efisien.
Eksternalitas Negatif: Polusi pabrik aluminium. Polusi pabrik akan menyebabkan resiko kesehatan bagi yang menghirup.
olusi dan titik optimalnya bagi masyarakat. Dengan adanya eksternalitas negatif, seperti polusi, biaya sosial suatu barang melebihi biaya swastanya. Jumlah yang optimal, Qoptimum lebih kecil daripada jumlah keseimbangannya, Qmarket
Eksternalitas Positip: Pendidikan. Pendidikan akan menguntungkan b semua orang. Pendidikan akan meningkatkan produktivitas sehingga akan meningkatkan pendapatan.
externality atau benefit externality adalah tindakan pelaku ekonomi yang satu ngkan maupun yang
Polusi pabrik akan menyebabkan resiko kesehatan bagi yang menghirup.
Dengan adanya eksternalitas negatif, seperti polusi, biaya sosial suatu barang melebihi biaya swastanya. Jumlah yang optimal, Qoptimum lebih kecil daripada jumlah
Pendidikan akan menguntungkan bagi semua orang. Pendidikan akan meningkatkan produktivitas sehingga akan
Pendidikan dan titik optimalnya bagi masyarakat
eksternalitas positip, niali sosial suatu barang melebihi nilai swastanya. Jumlah yang optimal, Qoptimum lebih besar dari pada jumlah keseimbangannya, Qmarket.
PENUTUP
Soal Perlatihan
1. Jelaskan unsur-unsur kegagalan pasar? 2. Jelaskan pengertian eksternalitas?
Daftar Bacaan Anwar, Affendi. 1997.
dengan Hak-hak Kepemilikan, Kegagalan Pasar dan Eksternalitas.
Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Fauzi, Akhmad. 2006. Ekonomi Sumber Daya Alam dan Lingkungan Pustaka Utama, Jakarta.
Yakin, Addinul. 2004.
Kebijaksanaan Pembangunan Berkelanjutan
Jakarta.
endidikan dan titik optimalnya bagi masyarakat. Dengan adanya eksternalitas positip, niali sosial suatu barang melebihi nilai swastanya. yang optimal, Qoptimum lebih besar dari pada jumlah keseimbangannya, Qmarket.
unsur kegagalan pasar? Jelaskan pengertian eksternalitas?
Anwar, Affendi. 1997. Analisis Ekonomi Sumber Daya Alam Sehubungan
hak Kepemilikan, Kegagalan Pasar dan Eksternalitas.
Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Ekonomi Sumber Daya Alam dan Lingkungan
Pustaka Utama, Jakarta.
2004. Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan Teori
Kebijaksanaan Pembangunan Berkelanjutan. Akademika Presindo,
Dengan adanya eksternalitas positip, niali sosial suatu barang melebihi nilai swastanya. yang optimal, Qoptimum lebih besar dari pada jumlah
Analisis Ekonomi Sumber Daya Alam Sehubungan hak Kepemilikan, Kegagalan Pasar dan Eksternalitas. Ekonomi Sumber Daya Alam dan Lingkungan. Gramedia Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan Teori
BAB VII
EKONOMI EKSTERNAL DAN DISEKONOMI EKSTERNAL