• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB VI PENUTUP

Bagan 2. 6 Kerangka Berpikir Penelitian

Sistem Proses

Manajemen Kasus

- Kontak Awal dan Identifikasi Kasus - Asesmen

- Perencanaan Intervensi - Pelaksanaan

Intervensi - Monitoring dan

Evaluasi - Terminasi

- Dasar Hukum dan Standar Pelayanan - SDM dan Supervisi - KPM

75 BAB III

Profil Jakarta Timur Dan Manajemen Kasus pada Program Keluarga Harapan

A. Kondisi Objektif Wilayah Jakarta Timur

Gambar 3. 1 Peta Administrasi Kota Jakarta Timur

sumber: Google

1. Letak Geografis Jakarta Timur

Sesuai dengan data Badan Pusat Statistik (BPS) dalam Buku Kota Jakarta Timur Dalam Angka 2020, Kota Jakarta Timur merupakan bagian wilayah Provinsi DKI Jakarta yang terletak antara 106049’35” Bujur Timur dan 06010’37” Lintang Selatan, memiliki luas wilayah 188,03 Km2. Luas wilayah itu merupakan 28,39 persen wilayah Provinsi DKI Jakarta yang sebesar 662,33 Km2, terdiri atas 10 kecamatan dan 65 kelurahan. Penduduk yang menghuni wilayah ini sekitar 2.937.859 jiwa.

76 Pemerintahan Kota Administrasi Jakarta Timur dibagi ke dalam 10 Kecamatan, yaitu Kecamatan Pasar Rebo (12,975 Km2), Ciracas (16,0803 Km2), Cipayung (28,4479 Km2), Makasar (21,8531 Km2), Kramatjati (13,0006 Km2), Jatinegara (10,2524 Km2), Duren Sawit (22,6535 Km2), Cakung (42,278 Km2), Pulogadung (15,6071 Km2) dan Matraman (4,8836 Km2) (Jakarta 2018).

Wilayah Kota Jakarta Timur memiliki perbatasan sebelah utara dengan Kota Jakarta Utara dan Jakarta Pusat, sebelah timur dengan Kabupaten Bekasi (Provinsi Jawa Barat), sebelah selatan Kabupaten Bogor (Provinsi Jawa Barat), dan sebelah barat dengan Kota Jakarta Selatan.

2. Demografis Jakarta Timur

Tercatat hingga akhir tahun 2018, jumlah penduduk di Provinsi DKI Jakarta yang teregistrasi di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil sebanyak 10.344.018 jiwa dengan jumlah penduduk berjenis kelamin laki-laki sebanyak 5.230.298 jiwa dan jumlah penduduk berjenis kelamin perempuan sebanyak 5.113.720 jiwa yang seluruhnya berstatus sebagai Warga Negara Indonesia (WNI).

Dari enam wilayah kabupaten/kota di provinsi DKI Jakarta, Jakarta Timur mempunyai jumlah penduduk WNI tertinggi dari tahun 2016 - 2018. Pada tahun 2018, jumlah penduduk WNI di Jakarta Timur sebanyak 2.946.594 jiwa.

77 Jumlah ini naik sebesar 0,78% atau sebanyak 23.092 jiwa dari tahun 2016–2018.

Jakarta Timur merupakan kota dengan jumlah penduduk wajib KTP tertinggi bila dibandingkan dengan kabupaten/kota lainnya yakni sebesar 2.168.897 jiwa, dengan jumlah laki-laki sebesar 1.088.490 jiwa dan perempuan sebesar 1.080.407 jiwa.

B. Program Keluarga Harapan (PKH) 1. Latar Belakang dan Pengertian PKH

Dalam rangka percepatan penanggulangan kemiskinan sekaligus pengembangan kebijakan di bidang perlindungan sosial, sejak tahun 2007 Pemerintah Indonesia telah melaksanakan Program Bantuan Tunai Bersyarat (BTB) yang saat ini dikenal dengan nama Program Keluarga Harapan (PKH). Program BTB ini telah dilaksanakan di beberapa negara yang dikenal dengan Conditional Cash Transfers (CCT) dan cukup berhasil dalam penanggulangan kemiskinan. PKH berbeda atau bukan lanjutan dari program Bantuan Langsung Tunai (BLT). PKH lebih dimaksudkan sebagai upaya membangun sistem perlindungan sosial kepada masyarakat miskin dalam rangka mempertahankan dan meningkatkan kesejahteraan sosial penduduk kurang mampu sekaligus upaya memangkas rantai kemiskinan yang terjadi selama

78 ini (Pedoman Umum Program Keluarga Harapan (PKH) 2011).

PKH merupakan program bantuan dan perlindungan sosial yang termasuk dalam kluster pertama. Program ini merupakan bantuan tunai bersyarat yang berkaitan dengan persyaratan pendidikan dan kesehatan. Setidaknya ada lima komponen MDGs (Millenium Development Goals) yang didukung melalui PKH, yaitu pengurangan penduduk miskin ekstrem dan kelaparan, pencapaian pendidikan dasar, kesetaraan gender, pengurangan angka kematian bayi dan balita, dan pengurangan kematian ibu melahirkan.

Dengan PKH diharapkan Keluarga Penerima Manfaat (KPM) memiliki akses yang lebih baik untuk memanfaatkan pelayanan sosial dasar, yaitu: kesehatan, pendidikan, pangan dan gizi termasuk menghilangkan kesenjangan sosial, ketidakberdayaan dan keterasingan sosial yang selama ini melekat pada diri warga yang kurang atau sangat tidak mampu. PKH akan memberi manfaat jangka pendek dan panjang. Untuk jangka pendek, PKH akan memberikan income effect kepada KPM melalui pengurangan beban pengeluaran rumah tangga. Untuk jangka panjang, memutus rantai kemiskinan antar generasi melalui peningkatan kualitas kesehatan atau nutrisi, pendidikan dan kapasitas pendapatan anak di masa depan (price effect anak dari keluarga kurang mampu); serta memberikan kepastian kepada anak akan masa depannya

79 (insurance effect) (Pedoman Umum Program Keluarga Harapan (PKH) 2011).

Dari sisi kebijakan sosial, PKH merupakan cikal bakal pengembangan sistem perlindungan sosial, khususnya bagi keluarga kurang atau tidak mampu. PKH yang mewajibkan KPM memeriksakan kesehatan ibu hamil dan memberikan imunisasi serta pemantauan tumbuh kembang anak, termasuk menyekolahkan anaknya, akan membawa perilaku KPM untuk melihat pentingnya kesehatan dan pendidikan. Perubahan perilaku juga diharapkan berdampak pada berkurangnya anak usia sekolah. Disamping itu, hal ini menjadi tantangan utama bagi pemerintah, baik pusat maupun daerah, untuk meningkatkan pelayanan pendidikan dan kesehatan bagi keluarga kurang mampu dimanapun mereka berada (Pedoman Umum Program Keluarga Harapan (PKH) 2011).

Pada akhirnya, implikasi positif dari pelaksanaan PKH harus mampu dibuktikan secara empiris, sehingga pengembangan PKH memiliki bukti nyata yang dapat dipertanggungjawabkan. Dengan demikian, pelaksanaan program ini juga diikuti dengan monitoring dan evaluasi yang optimal (Pedoman Umum Program Keluarga Harapan (PKH) 2011).

80 2. Tujuan PKH

Di dalam Pedoman Umum Program Keluarga Harapan (2011), tujuan umum PKH sendiri untuk mengurangi angka dan memutus rantai kemiskinan, mengingkatkan kualitas SDM, serta merubah perilaku KPM yang relative kurang mendukung peningkatan kesejahteraan. Tujuan tersebut sebagai upaya mempercepat pencapaian target MDGs.

Sedangkan, secara khusus, tujuan PKH antara lain:

a. Meningkatkan status sosial ekonomi KPM;

b. Meningkatkan kualitas kesehatan dan gizi pada ibu hamil, ibu nifas, balita dan anak usia 5-7 tahun yang belum masuk sekolah dasar dari KPM;

c. Meningkatkan akses dan kualitas pelayanan pendidikan dan kesehatan, khususnya bagi anak-anak KPM; dan d. Meningkatkan taraf pendidikan dari anak-anak KPM.

3. Sasaran PKH

Sasaran PKH merupakan keluarga yang miskin dan rentan serta terdaftar dalam data terpadu program penanganan fakir miskin, memiliki komponen kesehatan, pendidikan, dan/atau kesejahteran sosial.

4. Ketentuan Peserta PKH

Peserta PKH adalah rumah tangga yang kurang atau tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari yang sesuai dengan kriteria BPS dan memenuhi satu atau beberapa kriteria program, antara lain:

81 1. Memiliki ibu hamil atau nifas;

2. Memiliki balita atau anak usia 5-7 tahun yang belum masuk Sekolah Dasar; dan

3. Memiliki anak usia SD atau SMP dan anak usia 15-18 tahun yang belum menyelesaikan pendidikan dasar.

Setiap KPM PKH diberikan kartu peserta PKH sebagai bukti kepesertaan dengan atas nama perempuan dewasa (ibu/nenek/bibi) yang mengurus KPM. Dan kartu tersebut dipergunakan untuk menerima bantuan PKH (Pedoman Umum Program Keluarga Harapan (PKH) 2011).

5. Hak dan Kewajiban KPM PKH

a. KPM dalam PKH berhak untuk mendapatkan:

1) menerima bantuan sosial;

2) pendampingan sosial;

3) pelayanan di fasilitas kesehatan, pendidikan dan kesejahteraan sosial; dan

4) program bantuan komplementer di bidang pangan, kesehatan, pendidikan, subsidi energi, ekonomi, perumahan, aset kepemilikan tanah dan bangunan, dan pemenuhan kebutuhan dasar lainnya.

b. Sesuai dengan Peraturan Menteri Sosial Nomor 1 Tahun 2018 tentang Program Keluarga Harapan Pasal 3, 4 dan 5 dan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 39 Tahun 2016 kewajiban anggota keluarga penerima manfaat PKH adalah:

82 1) anggota keluarga memeriksakan kesehatan pada fasilitas pelayanan kesehatan sesuai dengan protokol kesehatan bagi ibu hamil/menyusui dan anak berusia 0 (nol) sampai dengan 6 (enam) tahun;

2) anggota keluarga mengikuti kegiatan belajar dengan tingkat kehadiran paling sedikit 85%

(delapan puluh lima persen) dari hari belajar efektif bagi anak usia sekolah wajib belajar 12 (dua belas) tahun;

3) anggota keluarga mengikuti kegiatan di bidang kesejahteraan sosial sesuai kebutuhan bagi keluarga yang memiliki komponen lanjut usia mulai dari 60 (enam puluh) tahun dan/atau penyandang disabilitas berat; dan

4) KPM hadir dalam pertemuan kelompok atau Pertemuan Peningkatan Kemampuan Keluarga (P2K2) setiap bulan.

6. Besar Bantuan Dana PKH

Bantuan sosial PKH pada tahun 2019 terbagi menjadi dua jenis, yaitu Bantuan Tetap dan Bantuan Komponen yang diberikan dengan ketentuan sebagai berikut:

a. Bantuan Tetap untuk Setiap Keluarga:

Reguler : Rp. 550.000,- / keluarga / tahun PKH AKSES : Rp. 1.000.000,- / keluarga / tahun b. Bantuan Komponen untuk Setiap Jiwa dalam Keluarga

PKH:

Ibu hamil : Rp. 2.400.000,- Anak usia dini : Rp. 2.400.000,-

83 SD : Rp. 900.000,-

SMP : Rp. 1.500.000,- SMA : Rp. 2.000.000,- Disabilitas berat : Rp. 2.400.000,- Lanjut usia : Rp. 2.400.000,-

Bantuan komponen diberikan maksimal untuk 4 jiwa dalam satu keluarga. (Data ini diperoleh melalui https://pkh.kemsos.go.id)

7. Kelembagaan PKH

Sesuai dengan Pedoman Pelaksanaan Program Keluarga Harapan, tahun 2019, kelembagaan PKH terdiri atas Tim Koordinasi Nasional, Tim Koordinasi Teknis, dan Pelaksana Program Keluarga Harapan (Pelaksana PKH) yang dibentuk di tingkat Pusat, Provinsi, Kabupaten/Kota dan Kecamatan.

a. Kelembagaan di Tingkat Pusat 1) Tim Koordinasi Nasional

Pengarah : Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan

Ketua : Menteri Sosial

Anggota Tim Koordinasi Nasional terdiri dari pejabat eselon I kementerian/lembaga yang membidangi urusan pengentasan kemiskinan, pendidikan, kesehatan, anak, keluarga,

84 disabilitas, lanjut usia, data, komunikasi, sebagai berikut:

a) Kementerian Sosial

b) Kementerian PPN/Bappenas c) Kementerian Kesehatan

d) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan e) Kementerian Agama

f) Kementerian Dalam Negeri g) Kementerian Keuangan

h) Kementerian Komunikasi dan Informatika i) Badan Pusat Statistik

Tim Koordinasi Nasional PKH ditetapkan dengan Keputusan Menteri Sosial, dan tim ini bertugas:

a) melakukan kajian pelaksanaan, mekanisme, hasil audit dan evaluasi;

b) memberikan solusi atas permasalahan lintas sektor; dan

c) menyetujui perubahan pelaksanaan program.

2) Tim Koordinasi Teknis Pengarah: Menteri Sosial

Ketua: Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial

Sekretaris: Direktur Jaminan Sosial Keluarga

85 Tim Koordinasi Teknis PKH Pusat terdiri dari pejabat eselon II wakil kementerian/

lembaga terkait.

Tim Koordinasi Teknis Pusat bertugas:

a) mengkaji berbagai rencana operasional yang disiapkan oleh Direktorat Teknis Pelaksana PKH;

b) melakukan koordinasi lintas sektor terkait agar tujuan PKH dapat berjalan baik;

c) membentuk Tim Lintas Sektor yang terdiri dari perwakilan kementerian/lembaga terkait;

d) Tim Lintas Sektor bertugas menentukan sasaran KPM PKH; dan

e) melakukan pengawasan pelaksanaan PKH.

Tim Koordinasi Teknis Pusat ditetapkan dengan Keputusan Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial.

3) Pelaksanaan PKH di Pusat

Pelaksana Program Keluarga Harapan pusat adalah Direktorat Jaminan Sosial Keluarga, Direktorat Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial, Kementerian Sosial Republik Indonesia.

Tugas Pelaksana PKH Pusat:

a) melaksanakan seluruh kebijakan pelaksanaan PKH meliputi penetapan

86 sasaran, validasi, terminasi, bantuan sosial, kepesertaan dan sumber daya;

b) memastikan pelaksanaan PKH sesuai dengan rencana;

c) menyelesaikan permasalahan dalam pelaksanaan PKH;

d) membangun jejaring dan kemitraan dengan berbagai pihak untuk perluasan dan penyempurnaan program;

e) melakukan pemantauan dan pengendalian kegiatan PKH;

f) menyusun dan menyampaikan laporan pelaksanaan kegiatan PKH kepada Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial.

b. Kelembagaan PKH di Daerah

Kelembagaan PKH di daerah terdiri dari Tim Koordinasi Teknis Provinsi, Tim Koordinasi Teknis Kabupaten/Kota, Pelaksana PKH Kabupaten/Kota, dan Pelaksana PKH Kecamatan.

1) Tim Koordinasi Teknis PKH Provinsi a) Susunan Tim Koordinasi Teknis PKH

Provinsi terdiri atas:

Ketua: Kepala Dinas/Instansi Sosial Provinsi

Sekretaris: Kepala Bidang Urusan Bantuan dan Jaminan Sosial

87 b) Tim Koordinasi Teknis PKH Provinsi

ditetapkan dengan Keputusan Gubernur c) Tim Koordinasi Teknis PKH Provinsi

bertugas:

(1) menyusun program dan rencana kegiatan PKH;

(2) memastikan komitmen penyediaan anggaran penyertaan kegiatan PKH; dan (3) melakukan koordinasi dengan satuan kerja perangkat daerah terkait dan instansi/lembaga vertikal di provinsi.

2) Tim Koordinasi Teknis PKH Kabupaten/

Kota

a) Susunan Tim Koordinasi Teknis PKH Kabupaten/Kota terdiri atas:

Ketua: Kepala Dinas/Instansi Sosial Kabupaten/Kota

Sekretaris: Kepala Bidang Perlindungan Jaminan Sosial

b) Tim Koordinasi Teknis PKH kabupaten/kota ditetapkan dengan Keputusan Bupati/Walikota

c) Tim Koordinasi Teknis PKH Kabupaten/Kota bertugas:

(1) menyusun program dan rencana kegiatan PKH Kabupaten/Kota;

88 (2) komitmen penyediaan anggaran

penyertaan kegiatan PKH;

(3) penyediaan fasilitas layanan pendidikan dan kesehatan;

(4) melakukan koordinasi dengan satuan kerja perangkat daerah terkait dan instansi/lembaga vertikal di kabupaten/kota;

(5) melakukan pemantauan dan pengendalian kegiatan PKH;

(6) menyelesaikan masalah yang timbul dalam pelaksanaan PKH dilapangan;

dan

(7) menyusun dan menyampaikan laporan pelaksanaan kegiatan PKH kepada kepala daerah, kepada pelaksana PKH provinsi dan pelaksana PKH Pusat.

3) Pelaksanaan PKH di Daerah

Pelaksana PKH daerah dilakukan oleh dinas/instansi sosial tingkat provinsi dan kabupaten/kota yang membidangi bantuan sosial, perlindungan dan jaminan sosial.

Pelaksana PKH Daerah terdiri atas Pelaksana PKH Provinsi, Pelaksana PKH Kabupaten/Kota, dan Pelaksana PKH Kecamatan.

89 a) Pelaksana PKH Provinsi

(1) Pelaksana PKH Provinsi adalah Dinas/Instansi Sosial terdiri atas:

Ketua: Kepala Bidang Urusan Bantuan dan Jaminan Sosial

Sekretaris: Kepala Seksi Bantuan dan Jaminan Sosial

(2) Pelaksana PKH Provinsi bertugas:

(a) bertanggung jawab dalam penyediaan informasi dan sosialisasi PKH di kabupaten/kota;

(b) melakukan supervisi, pengawasan, dan pembinaan terhadap

pelaksanaan PKH di

kabupaten/kota;

(c) memastikan pelaksanaan PKH sesuai dengan rencana;

(d) menyelesaikan permasalahan dalam pelaksanaan PKH;

(e) membangun jejaring dan kemitraan dengan berbagai pihak dalam pelaksanaan PKH; dan

(f) melaporkan secara berkala capaian pelaksanaan PKH di kabupaten/kota kepada pelaksana Pusat.

b) Pelaksana PKH Kabupaten/Kota

90 (1) Pelaksana PKH Kabupaten/Kota adalah

Dinas/Instansi Sosial terdiri atas:

Ketua: Kepala Bidang Urusan Bantuan dan Jaminan Sosial

Sekretaris: Kepala Seksi Bantuan dan Jaminan Sosial

(2) Pelaksana PKH Kabupaten/Kota bertugas:

(a) bertanggung jawab dalam penyediaan informasi dan sosialisasi PKH di kecamatan;

(b) melakukan supervisi, pengawasan, dan pembinaan terhadap pelaksanaan PKH di kecamatan;

(c) memastikan pelaksanaan PKH sesuai dengan rencana;

(d) menyelesaikan permasalahan dalam pelaksanaan PKH;

(e) membangun jejaring dan kemitraan dengan berbagai pihak dalam pelaksanaan PKH; dan

(f) melaporkan pelaksanaan PKH kabupaten/kota kepada pelaksana PKH pelaksana Pusat dengan tembusan kepada Pelaksana PKH provinsi.

c) Pelaksana PKH Kecamatan

91 Pelaksana PKH Kecamatan adalah Pendamping PKH yang bertugas di kecamatan dan berkoordinasi dengan camat. Jika dalam satu wilayah kecamatan terdapat lebih dari satu pendamping, maka wajib ditunjuk salah seorang dari pendamping untuk menjadi Koordinator Pendamping tingkat kecamatan.

Pelaksana PKH Kecamatan bertugas:

(1) bertanggung jawab dalam penyediaan informasi dan sosialisasi PKH di kelurahan/desa/nama lain;

(2) melakukan kegiatan pendampingan PKH di kelurahan/desa;

(3) memastikan pelaksanaan PKH sesuai dengan rencana;

(4) menyelesaikan permasalahan dalam pelaksanaan PKH;

(5) membangun jejaring dan kemitraan dengan berbagai pihak dalam pelaksanaan PKH; dan

(6) melaporkan pelaksanaan PKH kepada pelaksana PKH kabupaten/kota.

8. Pengelolaan Sumber Daya

a. Kode Etik SDM PKH dan Komisi Etik

92 Kode etik merupakan norma atau nilai yang mengatur tentang sikap, perilaku, dan tindakan seseorang yang berada dalam lingkungan kehidupannya, baik lingkungan kerja, organisasi, dan profesi. Khusus untuk lingkungan kerja, Kode Etik merupakan salah satu pilar dalam mengupayakan atmosfir kerja yang kondusif tugas dan fungsi yang menjadi tanggungjawab setiap individu.

Kode etik Sumber Daya Manusia Program Keluarga Harapan (SDM PKH) merupakan pedoman berisikan nilai-nilai yang mengatur sikap, perilaku, dan tindakan SDM PKH yang disahkan secara hukum dengan Peraturan Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial Nomor 01 Tahun 2018 Tentang Kode Etik Sumber Daya Manusia Program Keluarga Harapan.

1) Kode Etik SDM PKH

Kode etik SDM PKH tertuang pada Peraturan Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial Nomor 01/LJS/08/2018 tentang Kode Etik Sumber Daya Manusia Program Keluarga Harapan meliputi kewajiban, larangan, dan etika hubungan yang didasari oleh nilai-nilai santun, integritas, dan profesional. Santun merupakan sikap, perilaku, dan tindakan yang menghormati dan menghargai harkat dan martabat KPM, Rekan Sejawat, Penanggung Jawab PKH dan Mitra kerja. Integritas merupakan

93 sikap, perilaku, dan tindakan yang konsisten dan selaras tercermin dalam komitmen, jujur dan tanggung jawab terhadap PKH. Profesional merupakan sikap, perilaku, dan tindakan yang bertanggung-jawab, berdisiplin, taat asas, dan berkompeten dalam melaksanakan tugas dan kewajiban untuk mencapai hasil kerja yang terbaik.

2) Komisi Etik

Sebagai upaya untuk melakukan pencegahan dan penanganan pelanggaran kode etik SDM PKH, maka dibentuk Komisi Etik tujuan:

a) Terlaksananya pembinaan etik, penegakan disiplin dan penyelesaian pelanggaran secara cepat, tepat, efektif dan berkeadilan.

b) Terlindunginya hak-hak KPM, SDM dan Penanggung Jawab PKH. Untuk mendukung terlaksananya tugas tersebut anggota Komisi Etik terdiri dari latar belakang yang beragam, rekam jejak integritas, kredibilitas, moralitas serta didukung oleh pengalaman yang mumpuni terkait dengan Kode Etik namun tetap dalam satu koridor pelaksanaan Program Keluarga Harapan.

Penyelenggaraan kode etik dijelaskan lebih rinci pada Pedoman Penyelenggaraan Kode Etik.

b. Peningkatan Kapasitas SDM

94 PKH melaksanakan peningkatan kapasitas SDM pelaksana PKH dalam bentuk Bimbingan Teknis (Bimtek), dan Bimbingan Pemantapan sesuai kebutuhan program. Sementara Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) diselenggarakan oleh Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial dan Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial.

Mekanisme pelaksanaan kegiatan peningkatan kapasitas SDM PKH diatur lebih lanjut dalam petunjuk pelaksanaan pengelolaan SDM.

9. Monitoring dan Evaluasi a. Monitoring

Monitoring dilaksanakan secara terus menerus, baik dalam proses perencanaan maupun pelaksanaan kegiatan. Monitoring dapat dilaksanakan pada saat kegiatan sedang berlangsung atau dengan cara menganalisis laporan dan perkembangan pelaksanaan PKH dalam waktu tertentu melalui pengumpulan data dan informasi tentang implementasi program.

Indikator yang digunakan dalam pelaksanaan monitoring PKH terdiri dari indikator masukan dan indikator keluaran. Kedua kategori ini akan diperoleh dari hasil analisis data MIS (Management Information System) PKH secara berkala.

1) Tujuan Monitoring

95 Secara umum monitoring PKH bertujuan untuk:

a) Mengetahui dan memastikan pelaksanaan kegiatan PKH berjalan dengan baik.

b) Memastikan jadwal PKH yang telah disusun satu tahun anggaran dilaksanakan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan.

c) Memberikan masukan kepada penanggungjawab PKH mengenai upaya perbaikan dalam perancanaan maupun dalam pelaksanaan PKH.

2) Pelaksanaan Monitoring a) Monitoring oleh Pemerintah

Pemerintah pusat, provinsi, kabupaten/kota, dan kecamatan bertanggung jawab terhadap pelaksanaan PKH serta pencapaian target sesuai dengan mekanisme yang telah ditetapkan.

Untuk kepentingan tersebut Pemerintah melakukan monitoring secara berkala agar pelaksanaan PKH sesuai rencana dan mekanisme yang ditetapkan, seperti ketersediaan layanan pendidikan dan kesehatan.

b) Monitoring oleh pemangku kepentingan terkait Kegiatan monitoring PKH juga dilakukan oleh pemangku kepentingan terkait, seperti:

Kementerian PPN/Bappenas, Kementerian Kesehatan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Tim Nasional Percepatan

96 Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K), dan lembaga lainnya.

c) Monitoring dengan partisipasi masyarakat Monitoring oleh masyarakat melibatkan warga masyarakat secara luas dalam pengawasan dan pemantauan kegiatan/program. Dalam PKH ada kelompok ibu yang dipilih dan ditugaskan untuk memastikan pelaksanaan PKH: apakah itu pemutakhiran data, kondisi KPM PKH, dan bantuan yang diterima KPM PKH.

3) Pengumpulan Data dan Analisis

Pengumpulan data dilakukan oleh tenaga lapangan dan manjemen data dilakukan oleh tim MIS (Management Information System) PKH.

Analisis data monitoring secara rutin dilakukan oleh Pelaksana PKH Pusat.

b. Evaluasi

Evaluasi adalah kegiatan mengukur keberhasilan atau kegagalan dari pelaksanaan PKH dengan menggunakan indikator dan instrumen yang dapat digunakan untuk mengetahui faktor penyebab keberhasilan atau kegagalan dari seluruh tahapan pelaksanaan program. Kegiatan evaluasi didasarkan atas hasil dan dampak pelaksanaan PKH.

Untuk menjamin pengukuran yang akurat diperlukan survei dasar (baseline survey) yang menjadi

97 titik tolak dari pemantauan dan evaluasi terhadap pelaksanaan PKH.

1) Tujuan Evaluasi

a) Mengidentifikasi tingkat pencapaian tujuan yang telah disusun dalam rencana kerja tahunan;

b) Mengetahui dan menganalisa hal-hal lain yang mungkin timbul di luar yang telah rencana; dan c) Memberikan masukan kepada penanggungjawab PKH mengenai upaya perbaikan dalam perancanaan maupun dalam pelaksanaan PKH.

2) Cakupan Evaluasi

Berdasarkan tujuan dan keluaran program yang ingin dicapai, diperlukan indikator kinerja program untuk mengukur pencapaian program selama kurun waktu satu tahun. Pengukuran indikator kinerja program dilakukan secara berkala dan dikoordinasikan dengan pihak-pihak terkait secara berjenjang. Secara umum evaluasi pelaksanaan PKH meliputi substansi dan pendukung program yang dilakukan secara berkala.

3) Penyajian Hasil

Hasil dari proses monitoring dan evaluasi disajikan dalam bentuk laporan yang dapat digunakan sebagai rekomendasi dan rumusan kepada pemangku kepentingan.

98 10. Jumlah SDM dan KPM PKH

Di bawah ini disajikan jumlah Sumber Daya Manusia dan juga Keluarga Penerima Manfaat PKH di Wilayah Jakarta Timur tahun 2019 hasil dari studi dokumentasi yang didapatkan dari Supervisor PKH, antara lain:

a. Jumlah Sumber Daya Manusia PKH

Tabel 3. 1 Jumlah SDM PKH Per Januari 2020

Jabatan Jumlah

Koordinator Kota 1

Peksos Supervisor 2

Pendamping Sosial 29

Jumlah Keseluruhan 32

Sumber: Studi Dokumentasi PKH Jakarta Timur Tahun 2020

b. Jumlah Keluarga Penerima Manfaat PKH Tabel 3. 2 Jumlah KPM PKH Tahun 2019

No Kecamatan Jml Pendamping

Jumlah KPM

Total Jml Kelompok

FDS

1 Ciracas 4 1156 39

2 Cipayung 5 1255 46

3 Pasar Rebo 4 1248 44

4 Makasar 4 919 32

5 Cakung 12 3711 122

Sumber: Studi Dokumentasi PKH Jakarta Timur Tahun 2019

99 C. Manajemen Kasus pada PKH

Terdapat beberapa bentuk permasalahan yang paling sering ditemukan oleh Pendamping Sosial dan juga Supervisor PKH, antara lain:

Tabel 3. 3 Bentuk Permasalahan pada KPM PKH No Bentuk Permasalahan

1 Kekerasan Dalam Rumah Tangga 2 Putus Sekolah

3 Penyalahgunaan Kartu PKH oleh Oknum Ketua Kelompok

4 Penyalahgunaan Kartu PKH oleh Keluarga 5 Penyalahgunaan Dana Bansos

Sumber: Studi Dokumentasi PKH Jakarta Timur

Melihat macam-macam bentuk permasalahan pada KPM PKH seperti dalam table 3.3 di atas, maka di dalam Program Keluarga Harapan (PKH), metode manajemen kasus mulai diberlakukan pada tahun 2018, diawali dengan adanya Pekerja Sosial (Peksos) yang bertugas sebagai Supervisor PKH berdasarkan SK Direktur Jaminan Sosial Keluarga pada 5 Januari 2018, dengan jumlah sebaran sebagai berikut:

Tabel 3. 4 Jumlah Peksos Supervisor PKH Tahun 2018

No Provinsi Jml Peksos

Supervisor 1 Prov. Nanggroe Aceh Darussalam 3

2 Prov. Sumatera Utara 35

3 Prov. Sumatera Barat 11

4 Prov. Riau 1

5 Prov. Jambi 6

100

22 Prov. Kalimantan Selatan 4

23 Prov. Kalimantan Timur 1

24 Prov. Sulawesi Utara 5

24 Prov. Sulawesi Utara 5