• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kemampuan menyatakan ulang sebuah konsep

Dalam dokumen Gabungan Pembelajaran yang Menyenagkan (Halaman 117-124)

PENERAPAN MODEL DISCOVERY LEARNING UNTUK MELATIH PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIS SISWA DI KELAS VII SMP NEGERI

1. Kemampuan menyatakan ulang sebuah konsep

93% Sangat Baik 2.

Kemampuan Mengklasifikasikan objek-objek menurut sifat-sifat

tertentu (sesuai dengan konsepnya) 94%

Sangat Baik 3.

Kemampuan memberikan contoh dan noncontoh dari konsep

87% Baik

4.

Kemampuan menyajikan konsep dalam berbagai bentuk representasi

matematis 91% Sangat

Baik

5.

Kemampuan mengembangkan syarat perlu atau syarat cukup suatu konsep

93% Sangat Baik

6.

Kemampuan menggunakan, memanfaatkan, dan memilih prosedur atau operasi tertentu

65% Cukup

7.

Kemampuan mengaplikasikan konsep atau algoritma pemecahan

masalah 59% Cukup

Tabel 4 menunjukkan bahwa indikator 1 yakni Kemampuan menyatakan ulang sebuah konsep, mencapai kategori sangat baik dengan persentase 93%, indikator 2 yakni emampuan mengklasifikasikan objek-objek menurut sifat-sifat tertentu (sesuai dengan konsepnya), mencapai kategori sangat baik dengan persentase 94%, indikator 3 yakni memberikan contoh dan noncontoh dari konsep , mencapai kategori baik dengan persentase 87%, indikator 4 yakni menyajikan konsep dalam berbagai bentuk representasi matematis, mencapai kategori kategori sangat baik dengan persentase 91%, indikator 5 yaitu mengembangkan syarat perlu atau syarat cukup suatu konsep, mencapai kategori sangat baik dengan persentase 93%, indikator 6 yaitu menggunakan, memanfaatkan, dan memilih prosedur atau operasi tertentu, mencapai kategori cukup dengan persentase 65% dan indikator terakhir yaitu mengaplikasikan konsep atau algoritma pemecahan masalah, mencapai kategori cukup dengan persentase 59%. Hal Ini dikarenakan sebagian besar siswa masih bingung jika mengerjakan soal yang berupa soal pemecahan masalah dan salah memilih prosedur dalam menyelesaikan permasalahan.

2. Deskripsi data observasi

Data observasi diambil dari lembar observasi yang dilaksanakan selama tiga pertemuan. Observasi dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung dalam 3 kali pertemuan (6 x 40 menit). Selama tiga kali penelitian, peneliti dibantu oleh dua observer untuk mengobservasi selama pembelajaran menggunakan penerapan model discovery learning yaitu Rully Aprina dan Mitra Afria Deni. Lembar observasi terdiri dari 6 indikator dan masing-masing indikator terdiri dari 2 deskriptor. Hasil observasi yang dilakukan selama 3 kali pertemuan seperti pada Tabel 5

Penerapan Model Discovery Learning … Nurma Lestari, dkk Tabel 5

Nilai Aktivitas Siswa dengan Model Discovery Learning

Nilai Siswa Nilai Akhir Kategori f % 81 - 100 12 37.5% Sangat Baik 61 - 80 16 50% Baik 41 - 60 4 12.5% Cukup 21 – 40 0 0% Kurang 0 – 20 0 0% Sangat Kurang Jumlah 32 100%

Dari Tabel 5 terlihat bahwa ada 12 siswa yang mendapatkan kategori sangat baik, ada 16 siswa yang mendapat kategori baik dan 4 siswa mendapat kategori cukup serta tidak ada siswa yang mendapatkan kategori kurang dan sangat kurang. Dan jika berdasarkan frekuensi kumulatif maka sebanyak 37.5% siswa yang aktivitasnya terkategori sangat baik, 87.5% siswa yang aktivitasnya terkategori sangat baik dan baik, serta 100% siswa yang aktivitasnya terkategori sangat baik, baik dan cukup.

PEMBAHASAN

Model discovery learning memiliki 6 tahapan yaitu stimulasi (pemberian rangsangan), identifikasi masalah, pengumpulan data, pengolahan data, pembuktian dan yang terakhir generalisasi atau menarik kesimpulan.

Pada pertemuan pertama, proses pembelajaran dengan model discovery learning terlaksana dengan kategori cukup baik walaupun masih banyak terjadi kesalahan seperti kebingungan siswa dengan strategi belajar yang digunakan peneliti. Pada pertemuan ini, persentase tahapan-tahapan model discovery learning yang terlaksana yaitu sebesar 76.81%.. Ada dua tahapan yang sudah sangat baik yaitu stimulasi dan identifikasi masalah, kedua tahapan ini sering digunakan oleh guru pada umumnya sehingga siswa sudah terbiasa. Ada dua tahapan yang sudah tergolong baik yaitu pengolahan data dan menarik kesimpulan, tahap pengolahan data sering dilakukan siswa dalam proses pembelajaran, namun sedikit kebingungan yang terjadi karena soal-soal yang ada di LKS sedikit berbeda dengan soal-soal yang sering mereka kerjakan, sedangkan menarik kesimpulan terkategori baik hal itu karena siswa menarik kesimpulannya secara berkelompok dan bimbingan guru. Terakhir, ada dua tahapan yang terkategori cukup yaitu pengumpulan data dan pembuktian, penyebab rendahnya persentase tahap pengumpulan data karena siswa kurang memiliki sumber belajar lain selain buku yang mereka gunakan dan juga tidak semua siswa mempunyai Handphone (HP) yang canggih untuk membuka internet, dan penyebab rendahnya persentase tahap pembuktian karena kurangnya waktu untuk melaksanakan tahap tersebut. Adapun salah satu kesimpulan siswa dari pertemuan kesatu seperti pada Gambar 1

Nurma Lestari, dkk Penerapan Model Discovery Learning … Pada pertemuan kedua, proses pembelajaran dengan model discovery learning berlangsung lebih baik dari yang pertama dengan persentase sebesar 81.66%, pada pertemuan kedua ini terjadi peningkatan pada tahap pengolahan data dan generalisasi, hal ini terjadi karena peningkatan keaktifan belajar siswa, ada beberapa siswa yang pada hari pertama tidak terlalu mengikuti proses pembelajaran namu pada pertemuan kedua ini mereka sudah mengikuti proses pembelajaran dengan baik. Namun terdapat dua tahapan yang menurun yaitu tahap pengumpulan data dan pembuktian, hal ini terjadi karena siswa tidak bisa mengatur waktu yang diberikan oleh peneliti. Adapun salah satu kesimpulan siswa dari pertemuan kedua seperti pada Gambar 2

Gambar 2. Temuan Siswa pada Pertemuan Kedua

Pada pertemuan ketiga, proses pembelajaran dengan model discovery learning berlangsung lebih baik dari pertemuan kedua dengan persentase 83.53%, pada pertemuan ketiga ini, terjadi peningkatan pada tahapan pengumpulan data dan pembuktian, hal tersebut dikarenakan siswa sudah mulai mencari data dari sumber lain dan bisa mengolah waktu lebih baik untuk melaksanakan tahap pembuktian. Adapun rincian dari keenam tahapan dari ketiga pertemuan yaitu yaitu : tahap stimulasi sebesar 100%, tahap identifikasi masalah sebesar 100%, tahap pengumpulan data sebesar 52%, tahap pengolahan data 90%, tahap pembuktian sebesar 59%, dan tahap generalisasi sebesar 83%. Adapun salah satu kesimpulan siswa dari pertemuan ketiga seperti pada Gambar 3

Gambar 3. Temuan Siswa pada Pertemuan Ketiga

Dari Tabel 3 terlihat bahwa persentase pemahaman konsep matematis siswa yang tergolong sangat baik mencapai 28%. Siswa yang dalam kategori ini menyelesaikan permasalahan dengan baik dan benar serta semua indikator pemahaman konsep terpenuhi dengan baik yaitu kemampuan menyatakan ulang sebuah konsep, kemampuan mengklasifikasikan objek-objek menurut sifat-sifat tertentu (sesuai dengan konsepnya), memberikan contoh dan noncontoh dari konsep, menyajikan konsep dalam berbagai bentuk representasi matematis, mengembangkan syarat perlu atau syarat cukup suatu konsep, menggunakan, memanfaatkan, dan memilih prosedur atau operasi tertentu, dan mengaplikasikan konsep atau algoritma pemecahan masalah. Berikut ini adalah salah satu contoh jawaban siswa yang tergolong sangat sangat baik ditunjukkan pada Gambar 4 dan Gambar 5

Penerapan Model Discovery Learning … Nurma Lestari, dkk

Gambar 4. Jawaban Siswa pada Soal nomor 6 yang Benar

Gambar 5. Jawaban Siswa pada Soal nomor 7 yang Benar

Bagi siswa yang tergolong kategori baik sudah mencapai 56.3%. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar siswa sudah menguasai materi dengan baik dan sudah memunculkan indikator pemahaman konsep walaupun tidak semua indikator terpenuhi, sehingga memperoleh nilai yang baik. Gambar 6 dan Gambar 7 adalah contoh jawaban siswa yang kurang tepat.

Gambar 6. Jawaban Siswa pada Soal nomor 6 yang Setengah Benar dan Setengah Salah Siswa dapat memilih prosedur dalam

menyelesaika masalah (indikator 6)

Siswa dapat menggunakan konsep dalam pemecahan masalah (indikator 7)

Siswa keliru dalam memilih prosedur dalam menyelesaiakan maslaah (indikator 6)

Nurma Lestari, dkk Penerapan Model Discovery Learning …

Gambar 7. Jawaban Siswa pada Soal nomor 7 yang Setengah Benar dan Setengah Salah Sedangkan untuk kategori cukup mencapai nilai persentase 9.4% dan kategori kurang mencapai nilai persentase 6.3%. Sebagian siswa yang masuk dalam kategori ini adalah siswa yang tidak menguasai materi yang telah dipelajari, sehingga soal tes pemahaman konsep tidak dapat diselesaikan dengan baik dan benar. Hal tersebut dikarenakan siswa yang sering bermain selama proses pembelajaran berlangsung seperti bercerita dengan temannya tentang bukan materi yang sedang dipelajari, melakukan pekerjaan lain yang tidak ada hubungannya dengan materi pembelajaran dan memang ada beberapa siswa yang daya tangkapnya kurang sehingga kurang cocok dengan model discovery learning dan harus dengan metode ceramah.

Selanjutnya dari tabel 4 menunjukkan bahwa indikator 7 yaitu mengaplikasikan konsep atau algoritma pemecahan masalah memiliki skor terendah dengan persentase sebesar 59%. Hal ini dikarenakan sebagian siswa masih kurang terbiasa mengerjakan soal yang berupa soal pemecahan masalah. Seperti pada Gambar 8 dan Gambar 9

Gambar 8. Jawaban Siswa pada Soal nomor 6 yang Salah Siswa keliru dalam menggunakan

konsep (indikator 7)

Kesalahan salah dalam menjawab soal nomor 6 (indikator 6)

Penerapan Model Discovery Learning … Nurma Lestari, dkk

Gambar 9. Jawaban Siswa pada Soal nomor 7 yang Salah

Berdasarkan contoh jawaban siswa pada soal nomor 7 seperti Gambar 9, terdapat kurang lebih 14 orang siswa yang menjawab salah. Hal tersebut dikarenakan siswa tidak terbiasa mengerjakan soal yang sulit, maka dari itu sebaiknya siswa sering diberikan soal yang sedikit sulit atau terkategori soal pemecahan masalah agar ketujuh indikator pemahaman konsep matematis siswa bisa tercapai. Tapi secara keseluruhan, siswa sudah mampu menyelesaikan soal berdasarkan indikator pemahaman konsep matematis dengan baik, hal itu terlihat dari nilai tes akhir siswa dengan persentase sebesar 84.4% siswa terkategori sangat baik dan baik.

KESIMPULAN

Pemahaman konsep matematis siswa di Kelas VII.2 SMP Negeri 2 Palembang pada materi garis dan sudut setelah menggunakan model discovery learning dikategorikan sangat baik dan baik dengan persentase sebesar 84.3%, dan pelaksanaan pembelajaran dengan model discovery learning di kelas VII.2 SMP Negeri 2 Palembang tergolong ke dalam kategori sangat baik dan baik dengan persentase sebesar 87.5%. Jadi dapat disimpulkan secara keseluruhan bahwa model discovery learning cocok digunakan untuk pemahaman konsep matematis siswa.

Saran

Ada dua saran dari peneliti yaitu :

1. Guru bisa menggunakan model discovery learning untuk pemahaman konsep matematis siswa namun sebaiknya sebelum diterapkan guru diharapkan terlebih dahulu melihat kesiapan belajar siswa, jika siswanya memiliki tingkat kesiapan belajar yang tinggi maka model discovery learning bisa digunakan.

2. Bagi peneliti lain yang ingin meneliti model discovery learning, sebaiknya sebelum memulai penelitian atau pembelajaran dengan model discovery learning harus diperkenalkan terlebih dahulu tahapan-tahapannya agar siswa bisa menerapkan modelnya dengan baik dan tidak merasa bingung.

DAFTAR PUSTAKA

Arinawati, dkk. Pengaruh Model Pembelajaran Discovery Learning Terhadap Hasil Belajar Matematika

Ditinjau dari Motivasi Belajar. Tersedia di

http://jurnal.fkip.uns.ac.id/index.php/pgsdsolo/article/view/3634 , diakses pada tanggal 3 Februari 2015. Budiningsih, A. 2012. Belajar & Pembelajaran. Jakarta: Renika Cipta.

Kesalahan salah dalam menjawab soal nomor 7 (indikator 7)

Nurma Lestari, dkk Penerapan Model Discovery Learning …

Darma, dkk. 2013. Pengaruh Pendidikan Matematika Realistik Terhadap Pemahaman Konsep dan Daya Matematika Ditinjau dari Pengetahuan Awal Siswa SMP Nasional Plus Jembatan Budaya. Jurnal Program Pasca Sarjana, Volume 2 Tahun 2003. Tersedia di https://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1&ved=0CBsQFjAA&url=htt p%3A%2F%2Fpasca.undiksha.ac.id%2Fe-

journal%2Findex.php%2FJPM%2Farticle%2Fdownload%2F906%2F660&ei=6nJHVdLlK83iuQSh6Y GgDQ&usg=AFQjCNFNkqg9asBEcX9h1_cBx6CPrSKajQ&sig2=BPH05UJEz3oX9YKSLUNFuA&b vm=bv.92291466,d.c2E&cad=rja, diakses pada tanggal 2 Oktober 2014.

Depdiknas. 2006. Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 Tentang Standar Isi Sekolah Menengah Pertama. Jakarta: Depdiknas.

Hallat, E., et al. 2007. Reform-based Curriculum and Motivation in Geometry. Eurasia Journal of Mathematics, Science & kchnologt Education, 4(3), 285-292. Tersedia di http://www.ejmste.com/v4n3/EURASIA_v4n3_Halat.pdf, diakses pada tanggal 1 Mei 2015.

Hasugian, Halomoan. 2013. Meningkatkan Hasil Belajar Siswa dalam Pembelajaran Matematika dengan Metode Discovery Learning Pada Anak Kelas VI Sekolah Dasar Negeri 02 Sejaruk Param. Tersedia di http://jurnal.untan.ac.id/index.php/jpdpb/article/viewFile/3305/3311, diakses pada tanggal 3 Februari 2015.

Herawati, dkk. 2010. Pengaruh Pembelajaran Problem Posing Terhadap Kemampuan Pemahaman konsep matematika Siswa Kelas XI IPA SMA Negeri 6 Palembang. Jurnal Pendidikan Matematika, Volume 4 No.1 Juni 2010. Tersedia di http://eprints.unsri.ac.id/836/1/5_okti_70-80.pdf, diakses pada tanggal 2 Oktober 2014.

Jihad, Asep. Abdul Haris. 2012. Evaluasi Pembelajaran. Yogyakarta: Multi Pressindo.

Kanzunnudin, dkk. 2013. Peranan Metode Guided Discovery Learning Berbantuan Lembar Kegiatan Siswa Dalam Peningkatkan Prestasi Belajar Matematika. Tersedia di http://eprints.umk.ac.id/3504/3/ARTIKEL_PROSIDING_2013.pdf, diakses pada tanggal 31 Januari 2015

Kemendikbud. 2013. Model Pembelajaran Penemuan (Discovery Learning). Tersedia di http://www.slideshare.net/DIKPORABANJARMANGU/pembelajaran-discovery-learning, diakses pada tanggal 3 Februari 2015.

Kilpatrick, J., Swafford, J., & Findell, B. (Eds.). (2001). Adding it Up: Helping Children Learn Mathematics. Washington, DC: National Academy Press.

NRC (1989). Everybody Counts. A Report to the Nation on the Future of Mathematics Education. Washington DC: National Academy Press. Tersedia di http://www.nap.edu/catalog/1199/everybody-counts-a-report- to-the-nation-on-the-future, diakses pada tanggal 1 Mei 2015.

Roestiyah. 2012. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Renika Cipta.

Dalam dokumen Gabungan Pembelajaran yang Menyenagkan (Halaman 117-124)