• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENERAPAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING PADA MATERI PRISMA DI KELAS VIII SMP NEGERI 9 PALEMBANG

Dalam dokumen Gabungan Pembelajaran yang Menyenagkan (Halaman 150-154)

Amalia Ansari, Somakim, dan Indaryanti

Mahasiswa S1 Pendidikan Matematika Universitas Sriwijaya, Dosen Pendidikan Matematika Universitas Sriwijaya, Pendidikan Matematika Universitas Sriwijaya

E-mail: [email protected], [email protected], [email protected]

ABSTRAK

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat hasil belajar siswa setelah diterapkan model pembelajaran problem based learning. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif untuk mendeskripsikan suatu keadaan dengan menggunakan alat ukur yang berupa lembar observasi dan hasil tes akhir. Subjek dari penelitian ini adalah siswa kelas VIII.4 SMP Negeri 9 palembang yang berjumlah 30 orang siswa. Pengumpulan data dengan menggunakan observasi dan tes. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa model problem based learning baik untuk diterapkan dalam proses pembelajaran siswa.

Kata-kata kunci: problem based learning, hasil belajar matematis.

PENDAHULUAN

ational Research Council (NRC) dari Amerika Serikat telah menyatakan: “Mathematics is the key to opportunity.” Matematika adalah kunci ke arah peluang-peluang keberhasilan. Bagi seorang siswa, keberhasilan mempelajarinya akan membuka pintu karir yang cemerlang. Sinaga (Meidawati, 2014) mengatakan bahwa:

“Matematika merupakan pengetahuan yang esensial sebagai dasar untuk bekerja seumur hidup dalam abad globalisasi. Karena itu penguasaan tingkat tertentu terhadap matematika diperlukan bagi semua peserta didik agar kelak dalam hidupnya memungkinkan untuk mendapatkan pekerjaan yang layak karena abad globalisasi, tiada pekerjaan tanpa matematika”.

Kutipan di atas memberi penekanan bahwa pembelajaran matematika menjadi fokus perhatian para pendidik dalam memampukan siswa mengaplikasikan berbagai konsep, prinsip matematika dalam kehidupan sehari-hari.

Rosyada (Hasratuddin, 2012) mengatakan bahwa sampai sekarang, kenyataan di lapangan, masih banyak para guru menganut paradigma transfer of knowledge (learning without heart) dalam pembelajaran dan lebih menekankan pada latihan mengerjakan soal-soal rutin dan drill. Kondisi ini menyebabkan hasil pendidikan sekolah kita hanya mampu menghasilkan insan-insan yang kurang memiliki kesadaran diri, kurang berpikir kritis, kurang kreatif, kurang mandiri, dan kurang mampu berkomunikasi secara luwes dengan lingkungan fisik dan sosial dalam kehidupan. Menurut Zulkardi (2006) pengajaran matematika di Indonesia masih menggunakan pendekatan traditional yang menekankan proses „drill and practice’, serta menggunakan rumus dan algoritma sehingga siswa dilatih mengerjakan soal seperti mekanik atau mesin dan bila mereka diberikan soal yang berbeda dengan soal latihan mereka akan membuat kesalahan. Mereka tidak terbiasa memecahkan masalah yang banyak di sekeliling mereka. Menurut Tatag dkk (2004) rumus-rumus seperti volume atau luas permukaan diberikan saja secara langsung atau dihapal tanpa proses menemukan sendiri sehingga pembelajaran tersebut tidak bermakna dan menyulitkan sisa untuk mengingat rumus-rumus tersebut.

Chiu, M., Klassen R. M. (2008) ternyata ditemukan bahwa siswa mengalami kesulitan belajar konsep dalam belajar bangun ruang. Menurut Somakim (2003) kesulitan mempelajari materi bangun ruang juga disebabkan oleh metode penyampaian guru dalam mengelola pembelajaran yang kurang efektif. Sehingga pembelajaran di sekolah belum bisa membuat siswa menjadi aktif di dalam kelas. Padahal keaktifan siswa dalam belajar merupakan kunci keberhasilan dalam belajar. Tujuan pembelajaran matematika dapat tercapai secara optimal, bila guru memberikan kesempatan kepada

N

Amalia Ansari, dkk Penerapan Model Problem Based Learning … siswa untuk mengembangkan segala potensinya, membangun sendiri pengetahuannya untuk memecahkan masalah matematika serta membuat pembelajaran lebih bermakna.

Berdasarkan permasalahan di atas, diperlukan beberapa upaya untuk mengatasinya. Salah satu upaya pertama yaitu dengan menerapkan kurikulum baru yaitu kurikulum 2013. Kurikulum 2013 menitik beratkan pada proses pembelajaran student center, dimana siswa aktif berperan dalam proses pembelajaran. Upaya yang kedua yaitu memilih dan menerapkan model pembelajaran yang cocok dengan kurikulum 2013.

Menurut Kurniasih dan Sani (2014), kurikulum 2013 menurut Permendikbud nomor 81a tahun 2013 tentang implementasi kurikulum, menganut pandangan dasar bahwa pengetahuan tidak dapat dipindahkan begitu saja dari guru ke peserta didik. Di dalam PBL pusat pembelajaran adalah peserta didik (student center), sementara guru berperan sebagai fasilitator yang memfasilitasi peserta didik untuk secara aktif menyelesaikan maalah dan membangun pengetahuannya secara berpasangan ataupun berkelompok (kolaborasi antar peserta didik). Menurut Marsigit (2013) model belajar yang cocok disesuaikan dengan kurikulum 2013 adalah model belajar problem based learning (PBL). Menurut Tan (Rusman, 2012) model PBL merupakan inovasi dalam pembelajaran karena dalam PBL kemampuan berpikir siswa betul-betul dioptimalisasikan melalui proses kerja kelompok atau tim yang sistematis sehingga siswa dapat mengembangkan kemampuan berpikirnya secara berkesinambungan.

Model pembelajaran ini dapat digunakan pada siswa dengan tingkatan yang beragam, sehingga tidak perlu memisahkan siswa beradasarkan tingkat kemampuannya. Model PBL juga bisa diterapkan disetiap jenjang pendidikan. Menurut Wati dan Rahman (2013), PBL tidak hanya sebatas pada tingkat pengenalan, namun juga melatih siswa agar dapat menganalisis suatu permasalahan dan memecahkan permasalahn tersebut.

PBL adalah salah satu bentuk pembelajaran yang berlandaskan pada paradigma konstruktivisme, yang berorientasi pada proses belajar siswa (student-centered learning). PBL merupakan model pembelajaran yang sangat populer dalam dunia kedokteran sejak 1970-an. PBL berfokus pada penyajian suatu permasalahn (nyata atau simulasi) kepada siswa, kemudian siswa diminta mencari pemecahannya melalui serangkaian penelitian dan investigasi berdasarkan teori, konsep, prinsp yang dipelajarnya dari berbagai bidang ilmu.Permasalahan menjadi fokus, stimulus, dan pemandu proses belajar. Sementara, guru menjadi fasilitator dan pembimbing (Siregar & Nara, 2010).

Model PBL merubah siswa dari penerima informasi pasif menjadi aktif, pelajar yang mandiri dan pemecah masalah. Model ini memungkinkan siswa untuk memperoleh pengetahuan baru dengan menghadapkan mereka pada suatu permasalahan yang harus diselesaikan, tanpa harus terbebani, (Çuhadaroğlu et al.¸ 2003, (Akınoğlu & Tandoğan, 200θ)).

Menurut Arends, PBL merupakan suatu pendekatan pembelajaran di mana siswa mengerjakan permasalahan yang autentik dengan maksud untuk menyusun pengetahuan mereka sendiri, mengembangkan inkuiri dan keterampilan berpikir, mengembangkan kemandirian, dan percaya diri (Trianto, 2009). Barrows and Tamblyn (Baden and Major, 2004) mengungkapkan berikut ini merupakan definisi awal dari PBL yang memiliki karakteristik sebagai berikut: (1) Sesuai dengan situasi nyata yang penyelesaian masalahnya tidak hanya satu karena pembelajaran fokus terhadap proses pembelajaran, (2) Siswa bekerja dalam kelompok untuk memecahkan suatu permasalahan, (3) Siswa memperoleh informasi baru meskipun belajar mandiri, (4) Guru hanya sebagai fasilitator, (5) Permasalahan mengarah kepada kemampuan pemecahan masalah.

Dari karakteristik di atas terlihat jelas bahwa problem based learning (PBL) diawali dengan pemberian masalah autentik kepada siswa, kemudian siswa mencoba untuk menyelesikan permasalahan yang diberikan secara berkelompok, kemudian mencatat hasil diskusi dalam bentuk laporan dan menyajikannya. Kemudian siswa mengevaluasi hasil diskusi dan menyimpulkan pembelajaran yang telah diperoleh.

Menurut Ibrahim (Trianto, 2009) langkah-langkah dari problem based learning (PBL) adalah: (1) Orientasi siswa pada masalah, (2) Mengorganisasikan siswa untuk belajar, (3) Membimbing penyelidikan individu maupun kelompok, (4) Mengembangkan dan menyajikan hasil karya, (5) Menganalisi dan mengevaluasi proses pemecahan masalah.

Dari beberapa pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa penerapan model PBL cocok untuk melihat proses dan hasil belajar siswa. Selain itu terdapat hubungan antara proses dan hasil belajar siswa pada pembelajaran matematika menggunakan model PBL yang akan merujuk pada

Penerapan Model Problem Based Learning … Amalia Ansari, dkk keoptimalan hasil belajar siswa. Dalam penelitian ini telah diterapkan model pembelajaran PBL tersebut pada materi bangun ruang sisi datar prisma di kelas VIII.4 SMP Negeri 9 Palembang. Materi ini dirasa sangat cocok untuk dikaitkan dengan PBL mengingat bangun ruang sisi datar banyak sekali dapat ditemui dalam kehidupan disekitar siswa. Peneliti berharap dengan menerapkan model pembelajaran PBL ini dapat menciptakan lingkungan belajar yang aktif, kreatif dan menyenangkan dengan memberikan kesempatan kepada peserta didik aktif akan mendorong kreatifitas peserta didik dalam menyelesaikan permasalahan nyata.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat (1) Aktivitas belajar siswa yaitu kegiatan yang dilakukan siswa sesuai dengan langkah- langkah pembelajaran pada model PBL selama pembelajaran berlangsung, (2) Hasil belajar siswa yang diperoleh melalui tes tertulis setelah diterapkannya model pembelajaran PBL.

A. Tempat dan Subjek Penelitian

Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMP Negeri 9 Palembang pada semester genap tahun ajaran 2014-2015 yang berjumlah 30 orang terdiri dari 13 orang laki-laki dan 17 orang perempuan.

B. Variabel dan Definisi Operasional

Variabel dalam penelitian ini adalah aktivitas belajar siswa dan hasil belajar siswa setelah diterapkannya model pembelajaranPBL di kelas VIII SMP Negeri 9 Palembang. Definisi operasioanl variable dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui hasil belajar siswa setelah diterapkannya model pembelajaran PBL yang berupa nilai akhir siswa setelah mengerjakan soal tes tertulis.

C. Teknik Pengumpulan dan Analisis Data

Pengambilan data dilakukan di SMP Negeri 9 Palembang dan teknik pengumpulan data menggunakan observasi dan tes.

Analisis data observasi dan tes adalah sebagai berikut:

1) Memberikan tanda centang pada setiap aktivitas yang muncul dan tertera pada lembar observasi sesuai dengan apa yang dilakukan oleh guru dan siswa.

2) Pada lembar aktivitas observasi guru dan siswa skor dikonversikan menjadi nilai dengan rentang 0% sampai 100%.

Analisis data tes adalah sebagai berikut: 1) Mengkonversikan skor ke dalam nilai

Memberi nilai jawaban siswa tersebut sesuai dengan rumus nilai akhir rentang 0-100 sebagai berikut :

2) Menentukan hasil belajar siswa setelah mendapat hasil tes.

Pengkategorian aktivitas dan hasil belajar siswa dibuat berdasarkan berdasarkan Tabel 2 . Tabel 2

Kategori Penilaian Siswa Skor Observasi Kategori 90 - 100 Sangat Baik 80 - 89 Baik 60 - 79 Cukup 40 - 59 Kurang 0 - 39 SangatKurang

Amalia Ansari, dkk Penerapan Model Problem Based Learning … HASIL DAN PEMBAHASAN

Data hasil observasi didapatkan dari pengamatan yang dilakukan oleh seorang observer yaitu teman sejawat. Lembar observasi terdiri dari 5 tahapan PBL dengan jumlah keseluruhan deskriptor 12 deskriptor. Observasi dilakukan sebanyak 3 kali peretmuan, pada pertemuan pertama jumlah siswa yang hadir 24 orang, pertemuan kedua jumlah siswa yang hadir 27 orang, dan pada pertemuan ketiga jumlah siswa yang hadir 29 orang. Data aktivitas belajar siswa selama tiga kali pertemuan akan disajikan dalam Tabel 3.

Tabel 3

Nilai Aktivitas Belajar Siswa pada Setiap Pertemuan Nilai

Aktivitas Belajar Siswa

Predikat

Pertemuan 1 Pertemua2 Pertemuan3

Frek % Frek % Frek %

90-100 9 37,5 9 33,33 8 27,59 SB 80-89 4 16,67 5 18,52 14 48,27 B 60-79 3 12,5 12 44,45 7 24,14 C 40-59 7 29,16 1 3,70 0 0 KB 0-39 1 4,17 0 0 0 0 SK Jumlah 24 100 27 100 29 100 Keterangan:  SB : Sangat Baik  B : Baik  C : Cukup  KB : Kurang Baik  SK : Sangat Kurang

Pada Tabel 4.1 di atas dapat dilihat bahwa secara keseluruhan persentase aktivitas belajar siswa dengan model PBL dengan kategori sangat baik dan baik sebesar 75,86%.

Siswa yang aktivitas belajarnya dikategorikan sangat baik ada sekitar 8 orang, 14 orang yang dikategorikan baik, dan 7 orang yang dikategorikan cukup. Siswa yang dikategorikan sangat baik dapat terlihat dengan jelas, dimana hampir setiap deskriptor pada pembelajaran dengan model PBL terlaksana dengan baik. Tahap orientasi siswa pada masalah semuanya muncul hampir pada setiap siswa. Pada tahap ini siswa mendengarkan tujuan pembelajaran dan permasalahan/fenomena yang disampaikan guru. Semua siswa fokus pada guru dan ikut berinteraksi pada permasalahan yang diberikan oleh guru. Siswa menyampaikan pendapatnya tentang penyelesaian masalah.

Pada tahap kedua yaitu mengorganisasi siswa untuk belajar, dimana guru membantu siswa mendefinisikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut. Disini siswa menyimak penjelsan dan arahan yang diberikan oleh guru baik secara individu maupun kelompok.Selain itu, siswa bisa mengidentifikasikan masalah yang sedang dihadapi dan menyelesaikannya sesuai dengan langkah-langkah yang tertera pada LKS. Tahap ketiga yaitu membimbing penyelidikan individual maupun kelompok. Pada tahap ini siswa mendengarkan arahan dari guru dan mengumpulkan informasi yang sesuai dengan permasalahan yang sedang dihadapi baik dari buku maupun pengetahuan yng telah mereka miliki sebelumnya. Dan jika diperlukan, siswa bersama teman sekelompoknya dibimbing guru melakukan eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah.

Selanjutnya pada tahap keempat yaitu mengembangkan dan menyajikan hasil karya. Pada tahap ini beberapa siswa menyiapkan hasil karya yang akan ditampilkan pada saat diskusi. Pada saat diskusi, kelompok penyaji mempresetasikan hasil karyanya dan peserta diskusi menyimak paparan dari kelompok penyaji. Beberapa kelompok yang memiliki pendapat berbeda dengan penyaji mengajukan pertanyaaan sehingga terjadilah proses diskusi dan tanya jawab. Yang terakhir yaitu menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah. Pada proses ini guru bersama-sama siswa mengevaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan.

Penerapan Model Problem Based Learning … Amalia Ansari, dkk Aktivitas belajar siswa yang berkategori baik tidak jauh berbeda dengan aktivits siswa yang berkategori sangat baik. Hanya saja pada kategori ini beberapa tahapan pada PBL kurang terlihat dengan jelas. Biasanya siswa yang dikategorikan baik ini kekurangannya adalah mereka kebanyakan pasif dan jarang mengemukakan pendapat. Mereka hanya mendengarkan tanpa memberikan pertanyaan ataupun tanggapan.

Sedangkan pada aktivitas belajar siswa untuk kategori cukup, pada saat pembelajaran berlangsung terdapat beberapa tahapan yang terlaksana dengan baik. Biasanya tahapan yang terlaksana dengan baik siswa pada kategori ini adalah tahapan 1 dan 5. Pada tahap 1 yaitu guru meberikan apersepsi, menjelaskan tujuan pembelajaran dan memberikan permasalahan yang akan dibahas. Siswa pada kategori ini tetap antusias mendengarkan permasalahan yang diberikan guru serta mengungkapkan pendapatnya. Pada tahap 5 yaitu guru mengevaluasi bersama-sama siswa tentang proses yang mereka gunakan pada proses pemecahan masalah. Siswa dengan kategori ini juga mendengarkan guru dan pendapat teman lainnya. Sedangkan pada tahap pengerjaan LKS, pengumpulan informasi atau pun penyajian hasil karya beberapa siswa dalam kategori ini bersikap pasif dan kurang memberikan kontribusi teradap kelompoknya.

Siswa yang aktivitas belajarnya kurang dan sangat kurang, hanya sedikit aspek dari langkah- langkah pembelajaran PBL yang terlihat. Siswa hanya mendengarkan penjelasan guru pada tahap 1. Pada penegrjaan LKS dan proses pengumpulan informasi, siswa mersikap acuh tak acuh. Pengerjaaan LKS hanya diserahkannya pada teman sekelompoknya. Selebihnya Ia hanya sibuk bermain dan mengerjakan hal lain. Selanjutnya pada tahap 4 yaitu penyiapan dan penyajian hasil karya, siswa ini kurang memberikan kontribusi dalam menyiapkan laporan. Pada tahap diskusi siswa dalam kategori ini kurang memperhatikan dan besikap pasif. Tidak mau bertanya dan tidak mau mengungkapkan pendapat. Akibatnya, siswa yang termasuk dalam kategori ini pada saat diberikan latihan dengan soal yang tidak dilengkapi dengan langkah-langkah penyelesaian, mereka kurang bisa mengerjakannya. Pada akhir pembelajaran pun siswa dalam kategori ini hanya mendengarkan kesimpulan yang disampaikan oleh beberapa teman dan gurunya

secara bersama-sama. Berikut ditampilkan beberapa jawaban LKS siswa dengan PBL pada materi prisma.

Masalah 1

Liza ingin memberikan adiknya kado berupa coklat yang dibungkus dengan kertas kado.

Dalam dokumen Gabungan Pembelajaran yang Menyenagkan (Halaman 150-154)