• Tidak ada hasil yang ditemukan

Siswa bisa menyatakan hasil dengan benar dan menarik

Dalam dokumen Gabungan Pembelajaran yang Menyenagkan (Halaman 155-160)

Penerapan Model Problem Based Learning … Amalia Ansari, dkk Dari Tabel 4.2 di atas apat dilihat bahwa persentase hasil belajar keseluruhan siswa dengan kategori sangat baik dan baik sebesar 84,62%. Dari data aktivitas dan hasil belajar siswa maka dapat disimpulkan bahwa penerapan model PBL pada pembelajaran matematika pokok bahasan bangun ruang sisi datar prisma tergolong baik dengan persentase sebesar 84,62%.

Terdapat 15 orang yang termasuk dalam kategori sangat baik, 7 orang yang termasuk dalam kategori baik, 2 orang termasuk dalam kategori cukup dan 2 orang termasuk ke dalam kategori kurang. Salah satu siswa yang termasuk dalam kategori sangat baik adalah FM. FM merupakan salah satu siswa yang melksanakan kegiatan pembelajaran PBL dengan cukup baik. Akibatnya, nilai FM termasuk dalam salah satu siswa yang berkategori sangat baik. Kemudian salah satu siswa yang termasuk ke dalam kategori kurang ini berinisial MF. MF memperoleh nilai terendah dibandingkan dengan teman-temannya. MF juga satu-satunya siswa yang termasuk dalam kategori kurang.

Dilihat dari hasil jawaban MF pada soal tes, MF hanya dapat mengerjakan 1 soal dengan tepat. Selebihnya ada satu soal yang kurang tepat dan dua soal sisanya sama sekali tidak tepat. Dilihat dari hasil observasi pada pertemuan pertama MF kurang mengikuti kegiatan pembelajaran PBL degan baik. MF hanya melihat guru dan aktivitas temannya di kelas dan kurang berpartisipasi dalam pembelajaran. Hal ini disebabkan karena kelompok 4 (kelompok MF) pada saat pembelajaran berlangsung semua anggota duduk memanjang sehingga mengakibatkan MF sulit mengikuti kegiatan diskusi kelompok.

Pada pertemuan pertama materi yang diajarkan hanya pengenalan bangun prisma, unsur-unsur prisma, serta jaring-jaringnya saja. Pada umumnya sebagian siswa telah mengenal prisma pada pelajaran sebelumnya sehingga sebagian besar siswa tidak mengalami kesulitan. Karena ada satu kelompok yang tidak beraktivitas dengan baik, maka pada akhir pembelajaran guru menekankan pada siswa bahwa untuk pertemuan selanjutnya semua kelompok harus mengikuti kegiatan pembelajaran dengan baik dan berdiskusi bersama teman sekelompoknya untuk menyelesaikan permasalahan yang diberikan guru.

Pada pertemuan kedua sebelum pelajaran dimulai terlihat semua kelompok telah duduk bersama anggotanya masing-masing sesuai dengan instruksi guru sebelumnya. Kelompok 4 juga sudah melaksanakan kegiatan pembelajaran sesuai dengan model PBL termasuk MF. Pada saat proses pembelajaran berlangsung, MF tidak terlalu mengalami kesulitan yang berarti. Begitu juga pada pertemuan yang ketiga. MF melaksanakan kegiatan pembelajaran seperti teman-temannya yang lain.

Untuk soal tes sebenarnya kompetensi dasar dan indikator pencapaian yang hendak dicapai adalah menentukan luas permukaan dan volume prisma. Dilihat dari kegiatan belajar MF, walaupun pada pertemuan pertama MF tidak melaksanakan kegiatan PBL itu seharusnya tidak terlalu berpengaruh terhadap hasil belajarnya karena semua soal tes yang dibuat hanya mencakup luas permukaan dan volume. Sementara pada saat pembelajaran luas permukaan dan volume (pertemuan 2 dan 3) MF telah melaksanakan kegiatan pembelajaran berdasarkan model PBL. Akan tetapi hasil belajar yang didapat masih kurang memusakan. Ini memperlihatkan bahwa kemampuan individu siswa juga dapat mempengaruhi hasil belajar mereka. Untuk lebih jelasnya berikut ditampilkan jawaban dari soal tes FM dan MF.

Gambar 4.8 Jawaban Soal Nomor 1

(1) (2)

Pada soal nomor 1 MF tidak dapat mengidentifikasi permasalahn dngan benar. Soal seharusnya mencari luas sebuah bangun prisma segitiga. Akan tetapi MF malah menjawab dengan menggunakan rumus volume prisma. Ini memperlihatkan bahwa MF mengalami kesulitan dalam menganilis soal.

Amalia Ansari, dkk Penerapan Model Problem Based Learning … Jawaban dari MF ini dikatakan tidak tepat karena MF menjawab soal yang seharusnya luas permukaan menjadi volume. Soal nomor 1 merupakan soal yang membutuhkan kecermatan dan analisis yang tepat. Akan tetapi MF sama sekali tidak mengerti maksud dari soal.

a) Soal Nomor 2

Gambar 4.9 Jawaban Soal Nomor 2

(1) (2)

Jawaban MF pada soal nomor 2 ini juga tidak tepat. Sama halnya dengan soal nomor 1, MF tidak mengerti maksud dari soal. Selain itu, MF tidak bisa mengidentifikasi soal tersebut memakai rumus luas permukaan atau volume. Alhasil MF menjawab soal yang seharusnya menggunakan rumus luas permukaan dengan rumus volume. Akibatnya secara keseluruhan jawaban MF pada soal nomor 2 sama sekali tidak

tepat.

b) Soal Nomor 3

2. Masya memiliki kaleng biskuit bekas seperti pada gambar 2. Masya ingin membuat celengan dari kaleng tersebut dengan membalut seluruh permukaan kaleng dengan kain flannel. Berapakah luas kain flannel yang dibutuhkan Masya?

3. Petani Frank ingin membangun kolam pemancingan di atas tanah miliknya seperti gambar 3. Frank ingin mengisi ¾ kolam tersebut dengan air. Jika 1 bak penampungan air berukuran 3m x 3m x 2m, berapa kali pengisian bak penampungan yang dibutuhkan untuk mengisi kolam tersebut?

Sama seperti pada soal nomor 1, MF lagi-lagi menjawab soal yang seharusnya menggunakan rumus luas permukaan dengan rumus volume. Nampaknya pada soal kedua ini MF juga mengalami kesulitan dalam mengidentifikasi masalah serta menentukan langkah penyelesaian permasalahan tersebut.

Penerapan Model Problem Based Learning … Amalia Ansari, dkk Gambar 4.10

Jawaban MF Soal Nomor 3

(1) (2)

Jawaban MF pada soal ketiga termasuk ke dalam kategori cukup. Dikatakan cukup karena siswa sebenarnya sudah mampu menghitung volume pada prisma. Hanya saja siswa kurang bisa mengidentifikasi permasalahan soal dengan benar. Dapat dilihat pada gambar 4.10 bahwa siswa hanya bisa menghitung volume dari ¾ air kolam dan volume air dalam bak penampungan saja. Selebihnya siswa tidak tahu langkah apalagi yang harus diambil untuk menyelesaikan soal tersebut. Ini memperlihatkan bahwa MF kurang memiliki kemampuan dalam menganalis soal.

Dari beberapa jawaban pada tes akhir yang dikerjakan MF di atas, maka dapat kita lihat bahwa salah satu kelemahan siswa adalah kurangnya kemampuan siswa dalam mengidentifikasi permasalahan yang terdapat pada soal. Selain itu siswa juga kurang bias menentukan langkah apa yang harus diambil untuk menyelesaikan permaslahan tersebut. Padahal, secara umum sebetulnya siswa sudah bias menghitung volume prisma dengan benar.

Siswa yang hasi belajarnya sangat baik dan baik, saat mengerjakan soal di LKS secara berkelompok siswa dapat bekerja sama memecahkan permasalahan dan mencari solusi dari permasalahan tersebut sehingga siswa terlatih untuk mengerjakan soal-soal yang berbasis masalah. Dalam hal ini siswa terlatih untuk mengidentifikasi masalah dan menentukan langkah-langkah penyelesaian yang sesuai. Selain itu, siswa yang mengerjakan LKS dengan baik juga bisa mengerjakan soal latihan dan PR yang diberikan guru, sehingga ini menambah kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal yang berbasis masalah yang pada akhirnya pada saat mengerjakan soal tes iswa tidak mengalami kesulitan.

Adapun faktor yang menyebabkan hasil belajar siswa cukup dan kurang adalah: (1) siswa pasif dan terkadang kurang berkontribusi pada saat proses pembelajaran berlangsung. Siswa kurang bekerjasama dalam kelompok, hanya duduk diam melihat temannya bekerja dan kurang memperhatikan pada saat diskusi dan proses evaluasi. (2) Ada siswa yang walaupun telah melaksanakan kegiatan PBL tetapi hasil tesnya tetap termasuk dalam kategori cukup dan kurang. Ini menunjukkan bahwa kurangnya kemampuan individu siswa dapat berpengaruh terhadap hasil belajar mereka, seperti dalam menganalisis soal-soal yang berbasis masalah yang dapat membuat siswa mengalami kesulitan dalam mengerjakan soal tes dan hasil belajar yang diperoleh pun kurang memuaskan.

KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa:

1. Hasil belajar siswa setelah diterapkan model PBL pada pembelajaran matematika di kelas VIII.4 SMP Negeri 9 Palembang dikategorikan sangat baik dan baik dengan persentase sebesar 84,62%.

Adapun beberapa saran yang dapat peneliti berikan sebagai berikut: Pada soal nomor 3 MF sudah bisa

menjawab sebagian langkah penyelesaian dari soal, yaitu mencari ¾ volume air kolam.

MF bisa menghitung volume air bak yang diminta pada soal.

Amalia Ansari, dkk Penerapan Model Problem Based Learning … 1. Siswa, pada saat proses pembelajaran berlangsung diharapkan siswa lebih berani

mengemukakan pendapat serta mau bekerjasama jika belajar dalam kelompok.

2. Peneliti, sebagai referensi dan masukan bagi peneliti lain sebelum melakukan penelitian penerapan model PBL pada materi prisma.

DAFTAR PUSTAKA

Chiu, M., Klassen R. M., 2008. Relations Of Mathematics Self-Concept And Its Calibration

With Mathematic Achievement: Cultural Differences Among Fifteenyear- Olds In 34 Countries, Science Direct Learnig And Instruction.

Hasratuddin. 2012. Membangun Karakter Melalui Pembelajaran Matematika. Singosari: Jurnal pendidikan matematika. Volume 6, Nomor 2, Desember 2012, ISSN: 197-8002. Medan: Universitas Negeri Medan.

Kurniasih dan Sani, 2014. Sukses Mengimplementasikan Kurikulum 2013. Memahami Marsigit, 2013. Berbagai Metode Pembelajaran yang Cocok untuk Kuriklum 2013. Jakarta. Meidawati, 2014. Pengaruh Pendekatan Pembelajaran Inkuiri Tebimbing Terhadap

Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa SMP. Jurnal Pendidikan dan Keguruan Vol. 1 No. 2, 2014, artikel 1. ISSN : 2356-3915.

Rusman, 2012. Model-Model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme Guru. Edisi Kedua. Jakarta: Rajagrafindo Persada.

Siregar dan Nara, 2010. Teori Belajar dan Pembelajaran.

Somakim, 2003. Pengruh Penerapan Teori Belajar Gegne Dalam Pembelajaran Matematika. Forum kependidikan, Vol.23, No.1 September 2003. Palembang: FKIP Unsri. Tandongan and Arinoglu. 2006. The Effects Of Problem Based Active Learning In Sentence

Education On Student, Academic Achievement, Attitude And Concept Learning. Eurasia Journal of Mathematic, Science and Technologi education, 2007. Turkey: Marmam University, Istanbul.

Tatag, Y dkk., 2004. Penerapan Pendekatan Pembelajaran Konstektual untuk Mengatasi

Kesulitan Siswa dalam Belajar Materi Bangun Ruang Sisi Tegak di Kelas I SLTP Negeri 6 Sidoarjo. Konferensi Nasional Matematika XII, Universitas Udayana , Denpasar, Bali. 23-27 July 2004.

Trianto, 2009. Mendesain Model Pembelajaran Inovati-Progresif. Jakarta: KENCANA. Wati dan Rahman. 2013. Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa dengan Model

Pembelajaran Berbasis Masalah dalam Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di Kelas VII-A SMP Negeri 2 Lamongan. Kajian moral dan kewarganegaraan Nomor 1, Volume 1. Tahun 2013. Zulkardi, 2006. RME Suatu Inovasi dalam Pendidikan Matematika di Indonesia. Suatu

PENGGUNAAN MODUL DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA

Dalam dokumen Gabungan Pembelajaran yang Menyenagkan (Halaman 155-160)