• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teori

2.1.1 Kemandirian Keuangan Daerah

Pemerintah telah menyiapkan piranti yuridis dalam penerapan akuntansi untuk mewujudkan good governance berupa Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. Bastian (2006 : 14) menyatakan ada 4 prinsip dasar pengelolaaan keuangan negara yang telah dirumuskan dalam 3 paket undang-undang bidang keuangan negara, yaitu :

1. Akuntabilitas berdasarkan hasil atau kinerja;

2. Keterbukaan dalam setiap transaksi pemerintah;

3. Pemberdayaan manajer profesional;

4. Adanya lembaga pemeriksa ekternal yang kuat, profesional dan mandiri serta penghindaran terhadap terjadinya duplikasi dalam pelaksanaan pemeriksaan.

Disamping itu Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah dengan Daerah menjadi pedoman dan pijakan dalam pengelolaan keuangan daerah. Devas (1989 : 279) menjelaskan bahwa tujuan utama pengelolaan keuangan pemerintahan daerah adalah sebagai berikut :

1. Pertanggungjawaban (Accountability). Pemerintah daerah harus mempertanggungjawabkan tugas keuangan kepada lembaga atau orang yang berkepentingan. Unsur tanggung jawab ini adalah meliputi keabsahan dengan berpangkal pada ketentuan hukum dan perundang-undangan yang berlaku, sedangkan pengawasan merupakan tata cara yang efektif untuk menjaga kekayaan uang dan barang, mencegah penghamburan dan penyelewengan, dan memastikan bahwa semua sumber pendapatan dan penggunaannya adalah tepat dan sah;

2. Mampu memenuhi kewajiban keuangan. Keuangan daerah harus dikelola sedemikian rupa sehingga mampu melunasi semua ikatan keuangan, baik jangka pendek maupun jangka panjang;

3. Kejujuran. Urusan keuangan harus diserahkan kepada pegawai yang jujur dan kesempatan untuk berbuat curang dipersempit;

4. Efisiensi dan efektivitas. Tata cara mengurus keuangan daerah harus menggunakan manajemen pengawasan yang baik. Sehingga memungkinkan program dapat direncanakan dan dilaksanakan untuk mencapai tujuan pemerintah daerah dengan biaya seefisien mungkin dan memerlukan jangka waktu pelaksanaan yang seefektif mungkin;

5. Pengendalian. Petugas keuangan daerah, DPRD, dan petugas pengawas harus melakukan pengendalian agar semua tujuan yang direncanakan bisa tercapai. Untuk itu semua pihak yang berkepentingan dalam pengawasan ini harus mengusahakan agar selalu mendapatkan informasi yang diperlukan untuk memantau pelaksanaan penerimaan dan pengeluaran keuangan daerah sesuai dengan rencana dan sasaran.

Tentunya hal ini berhubungan dengan konstruksi otonomi dan desentralisasi dengan pemberian kekuasaan, kewenangan dan keleluasaan kepada pemerintah daerah untuk mengatur dan menentukan penggunaan dana untuk melaksanakan urusan daerahnya. Mardiasmo (2002) memberikan penjelasan bahwa salah satu dampak otonomi daerah dan desentralisasi fiskal adalah perlunya dilakukan reformasi manajemen keuangan daerah.

Keberhasilan keuangan daerah ditunjukkan oleh kemampuan daerah dalam meningkatkan penerimaan daerah secara berkesinambungan seiring dengan perkembangan perekonomian tanpa memperburuk faktor-faktor produksi dan keadilan. Musgrave (1993 : 237) menyebutkan bahwa asal usul prinsip kemampuan keuangan adalah muncul dari prinsip manfaat. Dengan demikian

16

prinsip kemampuan keuangan berorientasi pada penerimaan dan masalah pendistribusian kembali penerimaan pajak dan retribusi. Disamping itu juga penelitian Haryanto (2006) yang menitikberatkan kemandirian keuangan daerah menyimpulkan antara lain :

1. Esensi utama dari pelaksanaan otonomi daerah yang sudah berjalan selama 4 tahun adalah mewujudkan kemandirian daerah.

2. Selama ini kemandirian daerah yang kuat diukur dari struktur PAD yang antara lain terdiri dari pajak daerah, retribusi daerah dan BUMD.

3. Muncul permasalahan variabel apakah yang sebetulnya juga dapat mempengaruhi kemandirian daerah diluar struktur PAD yang sudah ada. Pada intinya variabel yang kita ajukan haruslah suatu variabel yang benar-benar dapat mencerminkan kemampuan daerah dalam menggali semua potensi yang mereka miliki.

4. Sebagai model awal kemudian diajukan suatu persamaan yang dapat mencerminkan kemandirian suatu daerah. Sebagai proxy dari kemandirian daerah digunakan variabel kapasitas fiskal daerah sedangkan variabel independen yang digunakan adalah pajak daerah, retribusi daerah, PDRB jasa dan Bagi Hasil daerah.

Ketentuan hukum dalam Pasal 1 angka 6 Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah menegaskan bahwa Keuangan Daerah adalah semua hak dan kewajiban dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan di daerah yang dapat dinilai dengan uang termasuk di dalamnya semua bentuk kekayaan yang berhubungan dengan hak dan kewajiban daerah tersebut.

Halim (2007) mengutarakan bahwa pada prinsipnya kemandirian daerah otonom sangat tergantung dari dua hal, yakni kemampuan keuangan daerah dalam menggali sumber‐sumber keuangan yang ada serta ketergantungan daerah terhadap bantuan dari pemerintah pusat. Daerah dinyatakan mampu untuk melaksanakan otonomi jika mempunyai ciri‐ciri sebagai berikut : 1) Kemampuan Keuangan Daerah yaitu daerah mempunyai kewenangan dan kemampuan menggali sumber-sumber keuangan yang cukup untuk membiayai jalannya

pemerintahan 2) Ketergantungan kepada bantuan pusat harus diminimalisir, sehingga PAD menjadi sumber keuangan terbesar pemerintah daerah.

Kemandirian keuangan daerah (otonomi fiscal) menunjukkan kemampuan pemerintah daerah dalam membiayai sendiri kegiatan pemerintahannya.

Kemandirian keuangan daerah ditunjukkan oleh besar kecilnya PAD dibandingkan dengan Total Pendapatan Daerah. Rasio kemandirian dapat diformulasikan sebagai berikut :

Rasio Kemandirian = Pendapatan Asli Daerah (PAD)

x 100%

Total Pendapatan Daerah

Semakin tinggi rasio kemandirian, berarti tingkat ketergantungan daerah terhadap bantuan pihak ekstern (terutama pemerintah pusat dan Propinsi) semakin rendah, demikian pula sebaliknya.

Rasio kemandirian juga menggambarkan tingkat partisipasi masyarakat dalam pembangunan daerah. Semakin tinggi rasio kemandirian, semakin tinggi partisipasi masyarakat dalam membayar pajak dan retribusi daerah yang merupakan komponen utama pendapatan asli daerah. Semakin tinggi masyarakat membayar pajak dan retribusi daerah menggambarkan bahwa tingkat kesejahteraan masyarakat semakin tinggi (Mahmudi, 2010 : 142).

Tolak ukur rasio kemandirian keuangan daerah dapat dijelaskan dengan menggunakan skala seperti dalam Tabel 2.1 berikut :

18

Tabel 2.1

Skala Interval Rasio Kemandirian Keuangan Daerah Kemampuan Keuangan

Daerah RKKD Pola Hubungan

Rendah Sekali 0,00% - 25,00% Instruktif

Rendah 25,01% - 50,00% Konsultatif

Sedang 50,01% - 75,00% Partisipatif

Tinggi 75,01% - 100% Delegatif

Sumber : Halim 2004 : 186

Jika rasio kemandirian keuangan daerah menurun, maka hal ini menunjukkan kemandirian keuangan daerah cenderung menurun walaupun pendapatan asli daerah meningkat, sebab peningkatannya lebih lambat dibandingkan dengan peningkatan bantuan dan sumbangan. Semakin sedikit sumbangan dari pusat, semakin tinggi derajat kemandirian suatu daerah yang menunjukkan bahwa daerah tersebut semakin mampu membiayai pengeluarannya sendiri tanpa bantuan dari pemerintah pusat.

Pola hubungan keuangan daerah tersebut dapat diinterpretasikan sebagai berikut: 1) Pola hubungan instruktif dimana peranan pemerintah pusat lebih dominan, dianggap daerah tidak mampu melaksanakan otonomi daerah 2) Pola hubungan konsultatif yaitu pemerintah pusat sudah berkurang campur tangannya 3) Pola hubungan partisipasif yang mana peranan pemerintah pusat semakin berkurang 4) Pola hubungan delegatif, daerah benar-benar telah mampu mandiri karena campur tangan pemerintah pusat tidak ada (Halim, 2012).

Dokumen terkait